December 24, 2025, oleh Humas Universitas

May Lia Elfina, M.Psi., Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (Foto: Istimewa)

Isu skor IQ Indonesia yang disebut berada di angka 78 kembali ramai diperbincangkan publik. Angka tersebut memicu perbandingan antarnegeri hingga muncul narasi sensasional yang menyesatkan. Menanggapi hal itu, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), May Lia Elfina, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa skor IQ tidak bisa dimaknai secara sederhana, apalagi dijadikan label kecerdasan suatu bangsa.

May menjelaskan, IQ pada dasarnya merupakan indikator kemampuan kognitif umum, seperti penalaran, pemecahan masalah, pemahaman verbal, dan kemampuan belajar. Angka IQ diperoleh melalui tes psikologi standar dengan kerangka ukur tertentu. Karena itu, membahas IQ tanpa memahami konsep dan metodologinya berpotensi melahirkan kesimpulan keliru.

Perdebatan publik mencuat setelah data World Population Review tahun 2022 mencatat rata-rata IQ Indonesia di angka 78,49. Menurut May, data tersebut perlu dibaca dengan sangat hati-hati. “Menurut saya itu data yang tidak representatif, karena bisa jadi merupakan kompilasi dari berbagai sumber dengan metodologi, alat ukur, dan jumlah sampel yang berbeda-beda. Ini yang perlu ditinjau ulang,” jelasnya saat diwawancara tim Humas UMM, 18 Desember lalu.

Ia menambahkan, dalam kajian psikologi, kemampuan kognitif suatu bangsa tidak dapat direduksi menjadi satu angka agregat. Berbagai penelitian menunjukkan hasil yang beragam, mulai dari kisaran 70-an hingga di atas 90, tergantung alat tes dan konteks penelitian yang digunakan.

May juga menyoroti munculnya klaim bahwa IQ Indonesia mendekati IQ gorila. Menurutnya, perbandingan tersebut merupakan kesalahan interpretasi ilmiah yang serius. “Penelitian tentang kecerdasan gorila sendiri masih pro dan kontra. Gorila jelas bukan manusia, baik secara biologis maupun psikologis,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa skor IQ sangat dipengaruhi faktor lingkungan, terutama dalam konteks lintas budaya. Perbedaan bahasa, budaya, akses pendidikan, hingga kondisi kesehatan dapat memengaruhi hasil tes. Karena itu, IQ tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan struktural masyarakat.

May juga menolak anggapan bahwa IQ adalah penentu utama kesuksesan hidup. Menurutnya, keberhasilan seseorang lebih banyak dipengaruhi faktor lain, seperti motivasi, kepribadian, kecerdasan emosional dan sosial, kreativitas, serta lingkungan yang mendukung.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa IQ bukan vonis yang bersifat tetap. “IQ bisa berkembang jika lingkungannya mendukung,” ujarnya. Ia berharap publik lebih bijak memaknai kecerdasan dan mulai menaruh perhatian pada pemenuhan gizi, stimulasi dini, serta pemerataan pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi kualitas sumber daya manusia bangsa. (bil/faq)

 

Penulis: Zlatan Abil Ibrahim | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman