July 9, 2026, oleh Humas Universitas

Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-122 Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (7/7). Dalam kesempatan itu, ia mengajak para lulusan menguasai bahasa asing dan meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing di pasar kerja global. (Humas UMM/Kllikmu.co)

KLIKMU.CO – Disrupsi teknologi, penetrasi Artificial Intelligence (AI), dan perubahan pasar kerja global menuntut perguruan tinggi tidak lagi sekadar mencetak lulusan dengan kompetensi akademik semata. Lulusan masa kini dituntut adaptif, tangguh, dan memiliki daya saing di tingkat internasional.

Hal tersebut menjadi sorotan dalam Wisuda ke-122 Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Hall Dome UMM, Selasa (7/7).

Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla dalam orasi ilmiahnya mengatakan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola komunikasi, cara bekerja, hingga kompetensi yang dibutuhkan dunia industri. Karena itu, lulusan perguruan tinggi harus terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung sangat cepat.

“Masa depan pekerjaan berubah total dengan adanya artificial intelligence. Cara bekerja tidak lagi sama, kompetensi yang dibutuhkan juga berbeda. Karena itu, bersyukurlah berada di kampus yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun resiliensi, daya tahan, fleksibilitas, dan kelincahan menghadapi perubahan,” ujar ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah itu.

Menurut Dzulfikar, peluang kerja di tingkat global kini semakin terbuka, terutama bagi tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan keterampilan sesuai standar internasional. Bonus demografi Indonesia pun hanya akan menjadi kekuatan ekonomi apabila didukung sumber daya manusia yang berkualitas.

Dia mendorong para lulusan untuk terus meningkatkan kemampuan, terutama dalam penguasaan bahasa asing dan keterampilan profesional.

“Jika tenaga kesehatan atau profesi lainnya menambah kompetensi bahasa dan keterampilan, kemudian masuk ke pasar Eropa atau Timur Tengah, pendapatan tahun pertama bisa mencapai sekitar Rp25 juta per bulan. Karena itu, jangan berhenti belajar setelah lulus,” pesannya.

Sementara itu, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menegaskan komitmen kampus dalam menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global melalui penguatan akademik dan kolaborasi dengan dunia industri.

Menurutnya, UMM mengembangkan program Center of Excellence (CoE) dan Excellent Solution Center (ESC) sebagai strategi untuk mengintegrasikan proses pembelajaran dengan inkubasi inovasi sehingga mahasiswa memiliki bekal yang kuat saat memasuki dunia kerja.

“Prestasi yang sesungguhnya adalah kemampuan alumni untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat. Pendidikan harus tumbuh bersama masyarakat, bukan berjalan terpisah dari persoalan yang mereka hadapi,” ungkapnya.

Nazaruddin menambahkan, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan alumninya menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat.

Momentum Wisuda ke-122 UMM menjadi pengingat bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi bukan satu-satunya penentu kesuksesan. Kemampuan beradaptasi, semangat belajar sepanjang hayat, penguasaan keterampilan baru, dan keberanian menghadapi persaingan global menjadi modal penting bagi lulusan untuk sukses di era transformasi yang terus berkembang.

(Faqih/AS)