July 9, 2026, oleh

elshintacom – Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, memuji keberadaan Migran Center Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai langkah strategis dalam mempersiapkan pekerja migran Indonesia (PMI) yang kompeten dan siap bersaing di pasar kerja internasional.
Pernyataan tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang untuk Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana yang berlangsung di Hall Dome UMM.
Menurut Dzulfikar, disrupsi teknologi, penetrasi Artificial Intelligence (AI), serta perubahan pasar kerja global telah mengubah kebutuhan kompetensi lulusan perguruan tinggi.
“Lulusan masa kini dituntut lebih adaptif, tangguh, dan memiliki daya saing di tingkat internasional,” ujarnya.
Dzulfikar menegaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah pola komunikasi, sistem kerja, hingga kebutuhan kompetensi di berbagai sektor industri. Karena itu, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki resiliensi, fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus meningkatkan kompetensi.
“Masa depan pekerjaan berubah total dengan adanya artificial intelligence. Cara bekerja tidak lagi sama, kompetensi yang dibutuhkan juga berbeda. Bersyukurlah berada di kampus yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun resiliensi, daya tahan, fleksibilitas, dan kelincahan menghadapi perubahan,” tegasnya.
Wamen P2MI juga menyoroti besarnya peluang tenaga kerja Indonesia di pasar internasional, terutama di kawasan Eropa dan Timur Tengah. Menurutnya, bonus demografi Indonesia hanya akan menjadi kekuatan ekonomi apabila lulusan memiliki kompetensi tambahan, khususnya kemampuan bahasa asing dan keterampilan sesuai standar internasional.
“Jika tenaga kesehatan atau profesi lainnya menambah kompetensi bahasa dan keterampilan, kemudian masuk ke pasar Eropa atau Timur Tengah, pendapatan tahun pertama bisa mencapai sekitar Rp25 juta per bulan. Karena itu, jangan berhenti belajar setelah lulus,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Dzulfikar memberikan apresiasi kepada UMM yang telah memiliki Migran Center sebagai pusat pembekalan calon pekerja migran Indonesia. Menurutnya, keberadaan Migran Center sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan sekitar 40 ribu pekerja migran Indonesia yang telah menjalani peningkatan keterampilan (upskilling).
“Migran Center menjawab tantangan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan 40 ribu PMI yang telah di-upskill. Keterlibatan perguruan tinggi sangat penting dalam memberikan pembekalan kepada pekerja migran Indonesia,” tandasnya.
Menanggapi tantangan tersebut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan komitmen kampus dalam menyesuaikan sistem pendidikan dengan perkembangan global melalui penguatan akademik dan kolaborasi bersama industri. UMM, kata Nazaruddin, mengembangkan program Center of Excellence (CoE) dan Excellent Solution Center (ESC) sebagai strategi menghasilkan lulusan yang inovatif dan siap menghadapi dunia kerja.
Program tersebut mengintegrasikan pembelajaran dengan inkubasi inovasi sehingga mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
“Prestasi yang sesungguhnya adalah kemampuan alumni untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat. Pendidikan harus tumbuh bersama masyarakat, bukan berjalan terpisah dari persoalan yang mereka hadapi,” ujar Nazaruddin.
Melalui penguatan kompetensi, inovasi, dan kolaborasi dengan dunia industri, UMM berkomitmen mencetak lulusan yang mampu menjawab tantangan era digital sekaligus memanfaatkan peluang kerja global, termasuk sebagai tenaga kerja profesional di berbagai negara.