July 8, 2026, oleh

Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, dalam orasi ilmiahnya mengatakan bahwa perubahan dunia berlangsung sangat cepat. Menurutnya, perkembangan AI telah mengubah pola komunikasi, cara bekerja, hingga kompetensi yang dibutuhkan berbagai sektor industri.
“Masa depan pekerjaan berubah total dengan adanya artificial intelligence. Cara bekerja tidak lagi sama, kompetensi yang dibutuhkan juga berbeda. Karena itu, bersyukurlah berada di kampus yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun resiliensi, daya tahan, fleksibilitas, dan kelincahan menghadapi perubahan,” tegasnya.
Ia menambahkan, lulusan perguruan tinggi harus terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu bersaing di tengah perubahan yang semakin dinamis.
Dzulfikar juga menyoroti semakin terbukanya peluang kerja di berbagai negara yang membutuhkan tenaga kerja terampil.
Menurutnya, bonus demografi Indonesia hanya akan menjadi kekuatan ekonomi apabila lulusan melengkapi diri dengan kompetensi tambahan, terutama penguasaan bahasa asing dan keterampilan yang sesuai standar internasional.
“Jika tenaga kesehatan atau profesi lainnya menambah kompetensi bahasa dan keterampilan, kemudian masuk ke pasar Eropa atau Timur Tengah, pendapatan tahun pertama bisa mencapai sekitar Rp25 juta per bulan. Karena itu, jangan berhenti belajar setelah lulus,” pesannya.
Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan komitmen kampus dalam menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan global melalui penguatan akademik dan kolaborasi bersama dunia industri.
Ia menjelaskan, UMM mengembangkan program Center of Excellence (CoE) dan Excellent Solution Center (ESC) sebagai strategi untuk mengintegrasikan pembelajaran dengan inkubasi inovasi sehingga mahasiswa lebih siap memasuki dunia kerja.
“Prestasi yang sesungguhnya adalah kemampuan alumni untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat. Pendidikan harus tumbuh bersama masyarakat, bukan berjalan terpisah dari persoalan yang mereka hadapi,” ungkapnya.
Momentum Wisuda ke-122 UMM menjadi pengingat bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Kemampuan beradaptasi, kemauan untuk terus belajar, penguasaan keterampilan baru, serta keberanian menghadapi persaingan global menjadi modal penting bagi setiap lulusan untuk sukses di era transformasi yang berkembang sangat cepat.
