April 22, 2026, oleh Humas Universitas

Nisrina Nabila Nasywa, mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022. (Foto: Istimewa)

Siapa sangka inovasi beras artifisial berbahan ekstrak daun bayam merah bisa menjadi tiket emas untuk lulus sarjana tanpa harus menyusun skripsi. Prestasi membanggakan inilah yang diraih oleh Nisrina Nabila Nasywa, mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022. Tak sekadar lulus melalui jalur ekuivalensi, inovasi yang ia buat terbukti nyata mampu menekan angka stunting di masyarakat.

Capaian gemilang mahasiswi asal Makassar ini berawal dari keaktifannya dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Riri sapaan akrabnya menginisiasi proyek bertajuk Stunting Free Zone with Gen Z yang berfokus pada pengentasan stunting di Kelurahan Tlogomas. Bersama timnya, ia menciptakan inovasi pangan berupa beras yang diperkaya dengan ekstrak bayam merah serta berbagai bahan alami kaya zat besi.

“Alhamdulillah, program kami tidak hanya sebatas riset di atas kertas, tapi membawa dampak yang sangat nyata. Dalam waktu empat bulan penerapan saja, angka stunting di wilayah tersebut berhasil menurun secara signifikan, dari yang awalnya 12 persen menjadi 6 persen,” ungkapnya.

Seakan tak pernah puas berkarya, ia kembali menorehkan prestasi di ajang PKM pada tahun berikutnya. Kali ini, ia menggagas proyek bertajuk Elder-Greens, Partisipasi Gen Z dalam Degradasi Stres Lansia dengan Pendekatan Hydroponic Serenity. Luar biasanya, program ini sukses menembus tingkat nasional dan berujung pada kerja sama resmi dengan Pemerintah Kota Batu untuk diimplementasikan di lingkungan pondok lansia hingga hari ini.

“Melalui keberhasilan dan keberlanjutan proyek Elder-Greens inilah, saya akhirnya mendapatkan ekuivalensi untuk lulus tanpa harus menulis skripsi. Rasanya sangat bangga bisa berkontribusi membantu menurunkan tingkat stres para lansia melalui kegiatan hidroponik,” tambahnya.

Di balik kesuksesan riset dan pengabdiannya, Riri adalah sosok yang dinamis. Ia dikenal pandai menyeimbangkan kehidupan akademis dengan berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan diri di kampus.

“Sejak semester dua, aku sudah bergabung di Humas sebagai Reporter. Aku juga aktif di BEMFA juga IMM. Selain itu aku juga pernah meraih Juara 1 dalam ajang National University Debating Championship (NUDC) 2023,” ujarnya.

Kepedulian sosial Riri juga tersalurkan melalui perannya sebagai relawan pendidikan. Ia rutin mengajar anak-anak dari kelompok marjinal, seperti anak pemulung dan kaum duafa, melalui program Sekolah Relawan. Agar materi lebih mudah dicerna, ia kerap menggunakan metode pembelajaran yang interaktif, salah satunya melalui teknik mendongeng.

Tak hanya jago di lingkungan kampus dan sosial, Riri juga membekali diri dengan pengalaman profesional lewat program magang di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta pada tahun 2025. Selama empat bulan, ia terlibat aktif dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) perusahaan.

“Walaupun 4 bulan tapi aku merasa banyak pengalaman yang berkesan. Di sini aku berkesempatan untuk memberi pelatihan kepada karyawan BUMN dengan psikotes training yang aku berikan,” ceritanya.

Bagi Riri, seluruh pengalaman yang ia kumpulkan selama masa kuliah menjadi bekal krusial untuk terus berkembang dan menebar manfaat bagi masyarakat luas. Menutup kisahnya, ia membagikan pesan inspiratif bagi rekan-rekan mahasiswa agar lebih berani mengeksplorasi potensi diri.

“Kalau ada kesempatan, langsung dijalankan saja asalkan konsisten dan percaya diri. Jangan ragu-ragu, kalau ada lomba atau kegiatan yang bisa menambah pengalaman ikutin aja, karena dari situ kita akan menemukan peluang,” tutupnya.(rik/faq)

 

Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman