Festival Al-Quran UKM-K JF Warnai Gelaran Rector Cup

MEMERIAHKAN Ajang Rector Cup 2016, Unit Kegiatan Mahasiswa-Kerohanian Jamaah AR Fachruddin (UKM-K JF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Islamic Competition Festival (ICOMFEST). Tema yang diusung UKM JF dalam Rector Cup 2016 kali ini yaitu “Futuring Your Life with Al-Quran”. Ketua Umum JF Muhammad Kamal Hafidz mengatakan, dengan tema ini diharapkan mahasiswa UMM mampu merespon tantangan jaman serta berbagai persoalan kenegaraan dengan memaknai dan memperdalam keilmuan Al-Quran. “Sebagaimana semangat Ahmad Dahlan dalam membangun bangsa ini,” ujarnya. Perlombaan dibagi menjadi delapan cabang keilmuan, di antaranya musabaqoh tilawatil Qur’an (qori), musabaqoh khatil qur’an (kaligrafi), musabaqoh fahmil qur’an (cerdas cermat), lomba syahril quran (da’i), lagu religi (nasyid), musabaqoh tartil Qur’an, karya tulis ilmiah al-Quran dan musabaqoh hifdzil quran (hafalan). Kompetisi yang diikuti lebih dari 200 mahasiswa ini diladakan pada Senin-Kamis (28-31/03) Aula Masjid AR Fachruddin lantai 1 dan 2. Hafiz memaparkan, kedelapan bidang lomba ini disesuaikan dengan perlombaan di tingkat nasional. Para pemenang di masing-masing cabang lomba ini nantinya akan mewakili UMM ke kompetisi di tingkat nasional yang akan diselenggarakan Juni mendatang. “Sebelum itu, para delegasi akan kita bekali dulu selama dua bulan,” paparnya. Di puncak acaranya, JF akan mengadakan seminar akbar bertajuk “Peran Al-Quran dalam Membangun Peradaban” pada Sabtu (02/04) di Aula BAU UMM. Adapun tokoh yang akan menjadi pembicara dalam seminar tersebut adalah Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Mudhajir Effendy, MAP dan Founder Tahfizh Quran Tematik (TQT) Lailatul Fithriyah Azzakiyah SHI MPd. Dengan segala rangkaian kegiatan ini, Hafidz berharap UMM memiliki semakin banyak mahasiwa yang unggul di bidang keislaman dan mampu bersaing di kompetisi tingkat nasioanal. Selain itu, ia beritikad JF bisa menjadi wadah mahasiswa UMM untuk menyalurkan dan mengembangkan keilmuannya di bidang keislaman. “Sehingga bisa mensyiarkan Islam lebih dalam dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar,” pungkasnya. (gas/han)
Muhammadiyah, Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah Kota Malang Dilantik

TIGA pimpinan organisasi satu rumpun, yakni Muhammadiyah, Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah Kota Malang resmi dilantik, di UMM Dome, Minggu (27/3). Acara bertajuk Pelantikan Bersama Pimpinan Muhammadiyah Daerah (PDM), Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) dan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Malang itu dimeriahkan berbagai atraksi seni. Antara lain, atraksi Hisbul Wathan Matsamutu Kota Malang, Orkestra SMPM 1 Kota Malang, serta Pendekar Tapak Suci Kota Malang. Hadir dalam acara ini, Ketua PP Muhammadiyah, Dr. dr. Agus Taufikurrahman, MKes, Wakil Ketua PWM Jawa Timur Sulthon Amien, rektor UMM Fauzan, serta perwakilan pejabat Pemkot Malang. Ribuan warga Muhammadiyah, Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah juga menghadiri acara pelantikan bersama itu. Ketua PDM kota Malang, Dr Abdul Haris, MA, mengajak seluruh jajaran pimpinan yang dilantik siap lahir dan batin, siap menerima pekerjaan, siap menerima amanah. “Yang penting lagi adalah menata niat, karena diberi amanah itu bukan suatu yang ringan, tetapi juga bukan tidak menguntungkan,” katanya sembari mengutip hadits riwayat Muslim tentang kesungguh-sungguhan melaksanskan amanah. Untuk itu Haris berpesan agar menerapkan lima prinsip kerja. Yakni kerja ihlas, jerja cerdas, kerja keras dan tuntas, kerja bersama, dan kerja yang bermanfaat. Di Malang, kata Haris, pengurus PDM memiliki potensi yang luar biasa. Hal ini tidak akan berarti jika tidak dikelola dan dirancang secara cerdas dan matang. “Makna kerja cerdas itu adalah mengelola potensi tersebut untuk merancang program riil. Gerakan Muhammadiyah harus by design, dan dilakukan secara berjamaah sebagian amal soleh kita semua,” tukas dosen FAI UMM ini. Sementara itu Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Hj Rukmini, mengingatkan gerakan Muhammadiyah tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa dukungan Aisyiyah. Sejak awal KH Ahmad Dahlan sudah menyadari bahwa perlu melibatkan perempuan untuk berdakwah. “Muhammadiyah tidak bisa tanpa pasangannya. Mencegah kemungkaran, bertakwa pada Allah, taat pada rasul, butuh kebersamaan,” kata Rukmini. Ia berharap para suami yang istrinya aktif di Aisyiyah tidak kuatir. “Percayalah bapak-bapak, istri yang aktif di Aisyiyah akan aman. Sebab, kalau sudah di Aisyiyah mereka pasti berinfak untuk Islam, bukan untuk boros-borosan berbelanja,” pungkas Rukmini usai melantik kepengurusan PDA kota Malang, periode 2016-2021. Di sisi lain, Pemuda Muhammadiyah diminta memperhatikan literasi ilmu, politik dan ekonomi. Ketua PWPM Jatim, Pradana Boy, PhD, mendorong agar Pemuda Muhammadiyah mengambil peran sentral dalam tiga gerakan. Pertama, gerakan literasi ilmu, ekonomi dan politik. Kedua, gerakan untuk menangkal ekstrimisme beragama. Dan, ketiga, gerakan membangun sinergi organisasi. “Ketiganya memerlukan kekuatan penggerak dan sinergi,” ujar dosen Fakultas Agama Islam UMM ini usai melantik PDPM Kota Malang yang diketuai Ahmad Sobron Jamil. Dalam tausyiyahnya, Ketua PP Muhammadiyah, Agus Taufikurrahman, menganalogikan berkiprah di Muhammadiyah seperti kelapa. “Cara ngambilnya kasar, dengan dilempar atau dijatuhkan, setelah itu harus kuliti sabut kelapanya, kemudian dipecahkan batok kelapanya, setelah itu masih harus dicukil daging kelapanya.” Tak hanya itu, ternyata penderitaan kelapa tidak hanya sampai di situ. Si kelapa masih harus diparut dan kemudian diperas diambil santannya. “Tapi setelah santan dituangkan di makanan atau sayuran sehingga jadi enak, kelapa tidak pernah disebut-sebut,” tutur Agus menggambarkan betapa orang Muhammadiyah bekerja harus iklhas, tidak mencari nama dan keuntungan. Oleh karenanya, lanjut Agus, kalau tidak terpilih jadi pimpinan atau pengurus harus tetap bekerja karena tidak beorientasi nencari nama. “Bagaimana dengan makanan atau minuman yang menyebut kelapa dalam namanya, seperti es degan atau kelapa muda serta es kopyor?” tanya Agus. Katanya, itu artinya, kalau ada orang bermuhammadiyah demi nama dan untuk gagah-gagahan, berarti orang tersebut masih muda bermuhammadiyahnya atau malah sudah kopyor pikiranya. (nas)