Pagelaran Budaya Matematika UMM Lestarikan Kearifan Lokal

PROGRAM Studi (Prodi) Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan pagelaran seni dan budaya di pelataran lantai 2,5 Gedung Kuliah Bersama (GKB) I, UMM. Pagelaran yang diselenggarakan rutin tiap tahun ini mengangkat tema “Eksistensi Budaya NKRI Berbasis Modal Kultural di Tengah Pasar Bebas ASEAN”. Ketua Pelaksana Kegiatan, Rahmad memaparkan, tema tersebut menyiratkan pesan pada generasi muda agar bisa melestarikan budaya nasional di era globalisasi, khususnya di kawasan ASEAN.  “Sayangnya, fenomena yang saat ini berkembang, generasi muda justru mulai meninggalkan, bahkan melupakan budaya sendiri dan malah mengadopsi budaya dari luar,” ujarnya. Mahasiswa asal Tarakan, Kalimantan Utara ini juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara besar yang memiliki keragaman seni dan budaya. “Tugas kita sebagai generasi muda wajib tahu, mempelajari, dan juga melestarikan budaya di Indonesia, setidaknya di daerah kelahirannya masing-masing,” urainya. Pada gelaran ini, berdiri stan-stan dari hampir seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Setiap stan menampilkan berbagai ciri khas dan kearifan lokal dari daerahnya masing-masing, mulai dari makanan, pakaian adat, hingga alat perang dan lainnya. Selain itu, ada juga pawai budaya dan talkshow yang mengundang ahli sejarah. Toraya, salah satu mahasiswa yang meramaikan gelaran ini merasa sangat antusias dengan diselenggarakannya kegiatan ini. Menurutnya, saat ini perlu adanya wadah bagi mahasiswa untuk memperkenalkan budaya dan kesenian dari daerahnya masing-masing. “Dengan cara ini, mereka bisa bangga dan mencintai daerah asalnya,” ujar mahasiswi asal Sampit, Kalimantan Tengah ini. Ia berharap, gelaran ini bisa membuat generasi muda, khususnya mahasiswa untuk selalu mencintai dan bisa melestarikan budaya Tanah Air. (gas/han)

PUSAM Gelar Kursus Internasional HAM dan Syariah

PUSAT Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Master Level Course (MLC/kursus tingkat master) tentang Syariah dan Hak Asasi Manusia (HAM) di Aula Ahmad Dahlan, Hotel UMM Inn, Senin-Jumat (30/5-3/6). Gelaran internasional ini merupakan hasil kerjasama UMM dengan Oslo Coalition, Norwegian Center for Human Rights, University of Oslo-Norwegia, Universitas Brigham Young University-Amerika Serikat dan The Asia Foundation. Direktur PUSAM, Prof. Syamsul Ariffin, M.Si memaparkan forum internasional yang diselenggarakan untuk keenam kalinya ini bertujuan membangun cara pandang yang lebih konstruktif tentang HAM dan Syariah. Menurutnya, HAM tidak seharusnya dipertentangkan dengan Syariah. “HAM dan Syariah memiliki bagian-bagian yang universal, yang penting keduanya itu harus berguna untuk kemanusiaan,” jelasnya. Syamsul mencontohkan salah satu isu yang diangkat dalam kegiatan ini, yaitu tentang hak kewarganegaraan dalam kebebasan beragama. “Dalam deklarasi universal HAM, ada jaminan bahwa setiap orang memiliki kemerdekaan dalam memeluk agama dan keyakinan. Syariah Islam juga sudah mengatur hal ini,” paparnya. Syamsul menambahkan, implementasi di lapangan selalu memunculkan persoalan. “Indonesia adalah negara yang menjadi sorotan dalam pelaksanaan kebebasan beragama ini,” imbuh pria yang menjabat sebagai Wakil Rektor I UMM ini. Kegiatan MLC menghadirkan sejumlah pakar internasional, di antaranya yaitu Prof. Mun’im Sirry, Ph.D (The University of Notre Dame, Amerika Serikat), Prof. Tore Lindholm (The University of Oslo, Norwegia), Prof. Brett Schraffs (Brigham Young University, Amerika Serikat), Lena Larsen, Ph.D (Director of Oslo Coalition, Norwegia), Prof. Jeroen Temperman (Erasmus University Rotterdam), Dr. Budhy Munawar Rachman (The Asia Foundation), Dr. Ahmad Nur Fuad (UIN Sunan Ampel Surabaya) dan Cekli Setya Pratiwi, SH.,LL.M (UMM). Mun’im Sirry mengatakan, pembatasan agama oleh pemerintah dapat memicu lebih banyak kekerasan. Dalam konteks ini, kata Mun’im, kebebasan beragama dapat mengurangi konflik dan meningkatkan rasa percaya pada pemerintah. “Lebih dari itu, kebebasan beragama dapat memperkuat partisipasi produktif dari seluruh elemen kelompok agama-agama,” paparnya. Mun’im yakin, prinsip tersebut akan menjadi modal sosial yang diperlukan bagi konsolidasi demokrasi dan pengembangan sosial-ekonomi. “Jadi, tidak ada sama sekali ruang untuk regulasi yang diskriminatif,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Pelaksana MLC, Muh. Hasyim Musthofa, menjelaskan ada tiga tahap penyelenggaran dalam kegiatan yang diikuti berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga aktivis setara master ini. Pertama yaitu in house training. “Pada tahap ini, peserta wajib mengikuti seminar, mulai hari pertama hingga hari terakhir,” paparnya. Kedua, peserta diajak untuk melakukan riset yang berhubungan dengan HAM dan Syariah selama satu bulan. Dan terakhir, setelah penelitiannya membuahkan hasil, peserta dipersilahkam untuk mempresentasikan hasil penelitiannya tersebut. “Salah satu peserta terbaik akan dikirim ke Norwegia mendapatkan kursus internasional tentang HAM dan Syariah ini,” paparnya. Ia berharap, dengan agenda yang digelar tiap tahunnya ini akan menjadikan UMM memiliki keunggulan dalam kajian HAM dan Syariah. “Untuk itu, Pascasarjana UMM dibuka konsentrasi HAM dan Syariah dimana sepuluh orang akan mendapatkan beasiswa dari Asia Foundation,” pungkasnya. (gas/han)

UMM Luluskan 5680 Mahasiswa English for Specific Purpose

SEBANYAK 5680 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lulus program English for Specific Purpose (ESP). Pengukuhan gelar kelulusan dilakukan oleh Rektor UMM, Fauzan di hall UMM Dome, Minggu (29/5). Dalam sambutan pengukuhan, Fauzan memaparkan program ESP yang diselenggarakan Language Center (LC) UMM ini untuk mempersiapkan  mahasiswa UMM agar memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik. “Sehingga bisa mengambil peran penuh di era globalisasi saat ini,” ujarnya. Fauzan berharap, dengan kompetensi yang telah dimiliki mahasiswa UMM mampu difungsionalisasikan. Ia menjelaskan, bahasa merupakan kebiasaan dan keterampilan. “Jadi kalian harus menjalankan untuk mengimplementasikan keterampilan itu,” terangnya. Sementara itu, Kepala LC UMM, Dr. Masduki, M.Pd menerangkan, ESP merupakan program yang wajib ditempuh oleh mahasiswa UMM pada semester satu hingga semester tiga. Program ESP, lanjut Masduki merupakan proses pengayaan Bahasa Inggris yang mendukung keilmuan tertentu. “Jadi materi ESP ini disesuaikan dengan program studi masing-masing, sehingga membiasakan mahasiswa dalam menggunakan referensi Bahasa Inggris,” paparnya. Setelah dinyatakan lulus dalam menempuh ESP inu, mahasiswa akan memperoleh sertifikat Bahasa Inggris setara program Diploma I. “Dengan sertifikat ini nantinya mahasiswa UMM memiliki bukti standarisasi kemampuan Bahasa Inggris yang bisa digunakan untuk kepentingan kerja atau akademik,” jelas Masduki. Dalam prosesi ini juga diumumkan mahasiswa yang menjadi lulusan terbaik program ESP di tingkat universitas. Penilaian didasari raihan skor Test of Academic English Proficiency (TAEP). Peringkat pertama diraih atas nama Aditya Henerik Risamasu dari Fakultas Kedokteran dengan skor TAEP 455. Peringkat dua dan tiga berturut-turut diraih Nalurita Wahyuningtyas dari Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP).dengan skor TAEP 419 dan Frida Tia Rahma dari Fakultas Psikologi dengan skor TAEP 412. Peraih peringkat pertama mendapatkan apresiasi berupa uang pembinaan dan jalan-jalan ke Thailand. Selain itu, diumumkan juga peraih skor TAEP tertinggi di setiap fakultasnya. Untuk Fakultas Teknik (FT) diraih Abdul Rahman Fauzi dengan skor 377, Fakultas Hukum (FH) diraih Astri Cahyaning Arum dengan skor 322. Di Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) skor TAEP tertinggi diraih Bagas Ardian Rizkita dengan skor 397, Fakultas Agama Islam (FAI) diraih Muhammad Fikri dengan skor 293. Sementara untuk Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) ada nama Shella Viveronica Rapani dengan raihan skor TAEP 370, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) diraih Amalia Dini dengan skor 397 dan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) menempatkan Riswanda Aulia Ridwansyah dengan skor 372. (gas/han)