Mahasiswa Asing UMM Disiapkan Jadi Duta Nusantara

MENINGKATNYA jumlah mahasiswa asing dari tahun ke tahun menuntut UMM lebih concern dalam hal pembinaan. Tahun ini saja UMM menerima 188 mahasiswa asing, meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu, UMM menerima 86 mahasiswa asing, lalu 78 orang di tahun 2014 dan 35 orang pada 2013. Sebagai kampus yang mendorong internasionalisasi bahasa Indonesia, UMM sejak awal mewajibkan seluruh mahasiswa asing yang belajar di UMM menguasai bahasa Indonesia dan menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari. Melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, kampus ini terus berupaya agar mahasiswa asing melekat dengan budaya dan bahasa Indonesia. Bahkan, BIPA menyusun program agar mahasiswa asing nantinya dapat menjadi duta nusantara setelah mereka kembali ke negaranya masing-masing. “Di samping belajar bahasa, mahasiswa asing juga akan belajar budaya dan kehidupan sosial di UMM dan Indonesia. Tak hanya di ruang kelas, nantinya akan ada program belajar di luar kelas,” kata kepala BIPA UMM, Dr Arif Budi Wurianto MSi. Bagi Arif Budi, pembelajaran di luar kelas dipandang perlu agar mahasiswa asing lebih memahami budaya sekaligus belajar bersosialisasi. “Puncaknya, nanti akan ada jelajah nusantara. Kami ajak mereka untuk mengetahui secara langsung budaya Indonesia, bisa ke Bali, Toraja, atau tempat lain,” tambahnya. Bahkan ada program di mana para mahasiswa asing memerankan diri sebagai duta nusantara bagi salah satu daerah di Indonesia dan kemudian mempresentasikan budaya, wisata dan kearifan lokal daerah tersebut dengan menggunakan bahasa Indonesia. “Sepuluh tahun ke depan, setelah mereka lulus UMM bisa saja mereka jadi duta besar ataupun konsulat jenderal bagi negaranya di Indonesia,” papar Arif. Karena itu, bagi mahasiswa asing yang memiliki keahlian khusus, seperti bernyanyi atau menari akan diarahkan agar mereka bisa menyanyikan lagu daerah atau menarikan tarian daerah. Mahasiswa UMM asal Bulgaria Georgi Panayotov misalnya, adalah seorang penari profesional yang pada akhirnya mendalami Topeng Malangan. Termasuk pada berbagai gelaran budaya UMM, semisal Malam Ekspresi Seni dan Budaya (Maksidaya), para mahasiswa asing diberi kesempatan untuk membawakan tarian khas salah satu daerah di Indonesia. Bahkan, pada momen formal seperti wisuda pun, UMM menghadirkan nuansa Bhineka Tunggal Ika di mana mahasiswa asing terlibat dengan mengenakan pakaian adat berbagai daerah di Indonesia. Sementara itu bagi mahasiswa asing beragama Islam, khususnya peraih beasiswa Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mereka dididik agar siap mengembangkan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di negaranya masing-masing. “Pembinaan akan dilakukan sebulan sekali melalui pendalaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) serta diskusi lintas budaya,” jelas Yasin Kusumo, staf International Relations Office (IRO) UMM. (ich/han)
Antropolog Jepang Apresiasi Kampung Wisata Jodipan

GURU Besar Antropologi Budaya Universitas Chiba Jepang Prof Aoki Takenobu PhD mengapresiasi keberadaan Kampung Wisata Jodipan (KWJ), terlebih kampung warna-warni itu merupakan inisiasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Apresiasi tersebut disampaikan Prof Aoki saat berkunjung ke KWJ, Jumat (9/8). KWJ merupakan salah satu alasan Prof Aoki mengunjungi Malang, selain ia memang memiliki kekaguman khusus pada Indonesia. Aoki mengakui bahwa Jepang memiliki keunggulan di bidang teknologi, namun memiliki kendala dalam hal pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat. “Saya tahu kampung ini dari media sosial. Ini hebat karena pelopornya adalah mahasiswa, apalagi ada unsur pemberdayaan masyarakat. Saya tertarik, ingin mengetahui lebih jelas bagaimana para mahasiswa ini bisa mengajak warga untuk mau merubah perilaku mereka,” tuturnya dalam bahasa Indonesia yang fasih. Aoki menambahkan, kemampuan mengelola masyarakat seperti ini perlu dipertahankan. Setelah pengecatan rumah berhasil, lanjut Aoki, tugas selanjutnya yaitu maintenance atau perawatan yang maksimal dari berbagai pihak. “Tidak bisa hanya satu pihak saja yang melanjutkan ini semua. Tapi perlu ada kerjasama antar lembaga formal ataupun lembaga non-formal,” jelasnya. Pakar Sosiologi Lingkungan UMM Rachmad K Dwi Susilo MA menyatakan, adanya KWJ ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perekonomian warga Jodipan. Namun tidak sesederhana itu, Rachmad melanjutkan bahwa perlu ada lembaga-lembaga turut membantu untuk keberlanjutan KWJ ini. “KWJ ini sudah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah maupun non-pemerintah harus mendukung penuh agar keberlanjutannya jelas,” jelas dosen Program Studi Sosiologi UMM ini. Di KWJ ini, kata Rachmad, juga ada fenomena yang menarik, yaitu letak Kelurahan Jodipan yang berada di bantaran sungai. Selanjutnya secara lingkungan, lanjutnya, keberadaan sampah di Kelurahan Jodipan awalnya sangat banyak namun dengan hadirnya kampung warna-warni ini dapat dengan mudah menggerakkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungannya sendiri. “Ini merupakan hal yang sangat menarik sehingga masyarakat mau dengan sendirinya bergerak demi kelestarian lingkungan mereka sendiri,” pungkasnya. Menindaklanjuti adanya kampung tematik di Kota Malang, UMM saat ini tengah melakukan pengukuran tanah di KWJ untuk dibangun jembatan yang saling menghubungkan antara KWJ dan Kampung Tridi. Pengukuran tanah dilakukan untuk mengukur dan menentukan kedalaman tanah yang akan digali dan sisi persis akan dibangunnya jembatan penghubung itu. (jal/han)