Hobi Nur Latifa Koleksi Anggrek Hasilkan Bisnis Berbasis Riset

SUNGGUH menyenangkan, jika sesuatu yang kita sukai, yang kita koleksi, menjadi bahan riset yang berguna bagi karir akademik kita. Itulah yang dirasakan oleh Nur Latifa, lulusan terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,91. Kecintaannya pada anggrek membuat Latifa menjadikan bunga yang indah itu sebagai bahan riset hingga tugas akhir. Putri dari pasangan Bapak Husaini dan Ibu Siti Kholifa ini menulis skripsi berjudul “Pengaruh Penambahan Konsentrasi Jus Tomat pada Media Vacin dan Went (VW) terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Dendrobium conanthum secara In Vitro sebagai Sumber Belajar Biologi”. Sewaktu mengerjakan tugas akhir, Ifa menyambi berbisnis anggrek. “Awalnya, saya beli anggrek dewasa yang sudah berbunga. Setelah itu saya selfing (membuatnya kawin dengan dirinya sendiri), sehingga jadi buah. Karena saya belum punya green house , jadi bijinya saya setorkan ke tempat pembudidayaan anggrek, untuk dikultur,” paparnya. Sebelum berbisnis, Latifa memang telah lama menggeluti tanaman Anggrek. Hal ini dibuktikan banyaknya koleksi ragam jenis anggrek di rumahnya di Probolinggo. Diantara jenis yang ia koleksi yaitu phalaenopsis anabilis, dendrobium capra dan dendrium strepsiceros. Dendrobium disebut Latifa sebagai salah satu genus anggrek yang paling disukai konsumen. Seiring berjalannya waktu, tingkat permintaan anggrek kian meningkat. Untuk memenuhi permintaan tersebut, menurut Latifa, diperlukan tanaman anggrek dalam jumlah besar. Diakuinya, kendala budidaya anggrek adalah pertumbuhan planlet yang cukup lama. “Keberhasilan kultur secara in vitro sangat ditentukan media yang digunakan. Penambahan bahan organik ke dalam media banyak dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman yang dikultur,” terangnya. Diakuinya, penelitiannya tentang anggrek sangat menunjang bisnis yang ia jalani. Itu juga didukung kecakapannya di bidang riset dan sains. Bahkan, bibit itu sudah muncul saat SMP dulu, saat ia masuk lima besar se-Kota Probolinggo pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN). Itu pula yang pada akhirnya membuat Latifa memilih kuliah di jurusan Biologi UMM. Selain sukses di bidang akademik dan bisnis, Latifa juga ternyata cukup jago dalam hal menulis. Ia beberapa kali mengikuti kompetisi kepenulisan. Bahkan, tahun lalu, tulisannya berjudul “Hijrah di Jalan Cinta-Nya” terbit dalam buku antologi cerita mini Matahari. Ia juga banyak membuat prosa yang diunggahnya ke blog pribadinya. (can/han)
Peringati Hari Guru, Ratusan Mahasiswa UMM Nyanyikan Hymne Guru

ATMOSFER keharuan menyeruak di seantero Gedung Kuliah Bersama (GKB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (25/11) pagi. Pasalnya ratusan dosen dan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) secara bersamaan melantunkan hymne guru memperingati Hari Guru Nasional. Ratusan mahasiswa itu memadatiseluruh beranda gedung berlantai 6 tersebut. “Kita memberikan sentuhan kepada seluruh aspek masyarakat bahwa begitu pentingnya peranan guru untuk meningkatkan kualitas bangsa ini. Tanpa ada guru saya yakin tidak ada orang yang pintar. Tidak ada yang bisa menjadi pimpinan yang hebat kalau tidak ada guru yang hebat. Makanya kita harus mencetak guru-guru yang hebat,” terang Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr Poncojari Wahyono MKes saat ditemui usai acara. Disamping mencetak sarjana pendidikan, dijelaskan Poncojari, FKIP UMM juga diberi kesempatan untuk mencetak guru profesional. Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) yang diadakan oleh Program Sertifikasi Guru (PSG) di UMM sebagai Rayon 144. “Selain itu, kita juga membangun komunikasi dengan berbagai sekolah untuk melakukan pembinaan terhadap peningkatan kualitasnya, tidak hanya lewat pendidikan profesi,” terangnya. Di Indonesia, terdapat hanya 15 perguruan tinggi yang memiliki kewenangan menyelenggarakan program sertifikasi tersebut. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr Poncojari Wahyono M.Kes menjelaskan, UMM merupakan satu-satunya perguruan tinggi swasta (PTS) yang dipercaya Kemendikbud mengadakan PLPG. Selain UMM, 14 perguruan tinggi yang dimaksud yaitu Universitas Syah Kuala, Universitas Negeri Medan, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Sebelas Maret, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Jember, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Cendrawasih, dan Universitas Negeri Makasar. Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi juga turut memberikan sambutan. “Saya bisa melihat cakrawala dunia, karena saya bisa berdiri di para pundak-pundak raksasa. Dan para pundak raksasa itu adalah guru-guru kita. Kita yang hadir di sini, di masa yang akan datang, anda akan menjadi guru. Menjadi seorang guru adalah sebagai suatu panggilan, sebagai nurani, tidak ada paksaan. Di atas pundak-pundak kita akan berdiri murid-murid kita untuk melihat dunia,” pungkas Syamsul. (can/han)