Menko PMK Ingatkan Pentingnya Karakter dan Moral Pada Wisudawan UMM

Gelaran wisuda ke-100 Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali digelar pada Jumat (2/7) lalu. Berlokasi di Dome UMM, acara tersebut menghadirkan Prof. Dr. Muhadjir Effendy selaku Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) serta Kepala LLDIKTi Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. Adapun gelaran itu menjadi penutup rangkaian wisuda UMM yang ke-100. Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM menjelaskan bahwa para wisudawan telah memiliki bekal secara institusional karena telah dilahirkan oleh UMM, kampus yang memperoleh banyak pengakuan internasional. Satu di antaranya diperoleh dari UniRank, lembaga survei yang berlokasi di Australia. UMM berhasil dinobatkan menjadi perguruan tinggi Islam terbaik di dunia. “Terbaru, kampus putih juga sukses meraih predikat kampus bintang tiga dari lembaga pemeringkatan QS Stars pada minggu lalu,” terang Fauzan. Dijelaskan Fauzan, Ada dua aspek yang meraih nilai sempurna lima bintang. Salah satunya adalah Employability, aspek yang memiliki peluang strategis bagi wisudawan. Hal itu membuktikan bahwa kompetensi dan kemampuan para wisudawan dapat dijadikan modal untuk bersaing di dunia kerja. Tidak hanya di lecel nasional tapi juga internasional. “Artinya modal untuk sukses secara institusional sudah diberikan oleh kampus. Tinggal bagaimana saudara memanfaatkan peluang yang ada. Saya yakin saudara memiliki energi positif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Teruslah optimis dalam menghadapi fase kehidupan selanjutnya,” tuturnya. Sementara itu, Muhadjir Effendy mengatakan bahwa para wisudawan yang akan meninggalkan kampus dan berkiprah di masyarakat merupakan fenomena yang mesti terjadi. Menurutnya, UMM sudah memberikan bekal yang cukup bagi mereka untuk mengarungi dan menghadapi dunia yang sebenarnya. “Satu di antaranya adalah pengalaman belajar. Bagaimana pengabdian para tenaga pengajar dalam mencerdaskan para wisudawan. Begitupun dengan fasilitas belajar yang memiliki andil besar dalam pembentukan aspek akademis dan intelektual,” jelas Muhadjir. Hal kedua yang UMM bekali adalah dari aspek pembentukan karakter. Bagaimana para wisudawan dibentuk agar bisa memiliki cara berpikir, sikap serta tindakan berdasarkan standar-standar UMM. Menurut Muhadjir, aspek inilah yang membuat keterserapan para alumni dalam dunia kerja cukup tinggi. “Tidak hanya unutk mendapatkan kerja, UMM juga memberikan bekal para alumni untuk bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas,” tegasnya melanjutkan. Ia juga tidak lupa memberi pesan kepada para wisudawan agar mengisi malam-malamnya untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Di samping itu juga mendorong mereka untuk berjalan di atas bumi dengan rendah hati serta tidak pongah dan menyombongkan diri. “Jika kita dilecehkan, jangan membalas dengan cara yang sama. Tapi doakan mereka agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan lupa juga untuk berinfak serta mendekatkan diri pada Allah. Karena jika kita dekat dengan Allah, Ia juga akan dekat dengan kita,” pungkas Muhadjir. Pada kesempatan yang sama, Kepala LLDIKTi Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. Menyebutkan bahwa ada dua syarat perguruan tinggi yang bagus. Hal pertama ialah dipenuhi atau tidaknya syarat formal. Beberapa diantaranya mencakup sarana prasana, akreditasi, bahkan juga dosen-dosennya. “ Saya rasa UMM sudah melebihi itu semua. Jumlah doktornya melimpah, pundengan profesornya. Akreditasi prodinya juga banyak yang A maupun B,” terangnya. Kemudian adapula syarat substansial, yakni bagaimana UMM menjalankan pembelajarannya. Jika dilihat dari capaian UMM yang meraih berbagai rekognisi internasional, maka UMM tentu sudah melewati standar-standar tersebut. Soeprapto, panggilan akrabnya juga berpesan agar para wisudawan terus berpikir kritis. Ditambah dengan kemampuan kreatif dalam menghadapi dunia yang semakin dinamis. Begitupun dengan aspek komunikasi. Menurutnya, para wisudawan tidak cukup jika hanya memiliki kemampuan bahasa Indoensia. Harus ada kemampuan bahasa internasional lainnya. Di samping itu, para wisudawan juga harus berkolaborasi dengan berbagai pihak. Tidak hanya terbatas apda teman saja, tapi juga mereka yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia, bahkan juga bangsa lain yang bisa diajak kolaborasi. “Terakhir, saya juga berpesan agar terus memperbaiki moral. Namun saya rasa UMM sudah sangat cukup membekali para wisudawan dalam berbagai aspek ini. Maka ketika semua aspek ini dimiliki, jalan kesuksesan akan mudah ditemui,” pungkasnya di akhir sambutan. (wil)
Mahasiswa UMM Rancang Teknologi Optimalisasi Budidaya Lobster

Budidaya lobster memiliki peluang yang besar di wilayah Indonesia. Tak hanya yang sudah dewasa, bayi lobster pun banyak diburu oleh masyarakat. Namun sampai saat ini budidaya lobster masih jarang dilakukan. Masyarakat masih mengandalkan hasil alam dalam memperoleh hewan laut satu ini. Dalam rangka meningkatkan komoditas lobser di Indonesia, tim mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rancang alat optimalisasi budidaya lobster air laut bernama Smart Pond. Dhia Balqis salah satu perwakilan tim berkata bahwa permasalahan utama dalam budidaya lobster di Indonesia adalah masalah marikultur. Sebut saja pemanfaatan potensi lahan perikanan budidaya yang belum optimal. Selain itu juga sistem produksi dan tracebility pembudidayaan lobster belum ditangani dengan baik. “Menurut kami, di kawasan budidaya lobster kurang tersedia infrastruktur yang mendukung. Beberapa permasalahan itu memicu adanya masalah baru seperti penjualan benih lobster secara ilegal dan korupsi terhadap penjualan maupun pembelian lobster,” ungkap mahasiswa asal Bekasi tersebut. Mengenai cara kerja Smart Pond, Dhia menjelaskan bahwa alat tersebut dapat mengondisikan kolam budidaya sesuai dengan habitat asli lobster di laut. Ketika dipasang, alat ini secara otomatis akan menyesuaikan indikator atau parameter kolam seperti di air laut. “Misalkan kolam memiliki pH 9 sementara lobster membutuhkan pH 7-8. Hal itu akan langsung diatur secara otomatis oleh alat tersebut. Selama dua setengah bulan perancangan alat ini, tim kami telah sampai pada perakitan sensor dan pemrograman Smart Pond,” kata Dhia. Menariknya, alat satu ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) dan berhasil lolos ke tahap pendanaan pada Mei lalu. Dalam perancangan Smart Pond, Dhia ditemani oleh empat anggota lainnya yaitu Zidni Ilman Nafian, Fia Sulis Setiani, Doliansyah, dan Andre Juan Pradipa. Saat ini mereka sedang menyelesaikan prototype dari Smart Pond. Kedepannya timnya berharap alat ini dapat membantu permasalahan dan kendala dalam meingkatkan budidaya lobster air laut. “Saya juga ingin agar nantinya inovasi ini dapat digunakan oleh semua kalangan masyarakat serta dapat mendongkrak perekonomian negara. Selain itu, saya juga berencana menyusun jurnal atau artikel untuk mempublikasikan Smart Pond dalam rangka mendukung penelitian penerapan teknologi di dunia pendidikan,” tandasnya. (syi/wil)
Bisnis Travel Alumni UMM Raih Penghargaan Terbaik se-Malang

Hobi traveling sejak kuliah mengatarkan Fikri Bagus Zakaria menjadi pemilik agen travel terbaik di Kota Malang. Alumni Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah mendirikan bisnis travelnya ‘Smartway.id’ sejak empat tahun yang lalu. Smartway.id miliknya berhasil terpilih menjadi agen travel terbaik se-Malang versi TripAdvisor Traveller’s Choice. Fikri, sapaan akrabnya bercerita bahwa ia mulai suka traveling ke dalam maupun luar negeri ketika masuk kuliah. Dari hobi tersebut ia berkeinginan untuk mendirikan bisnis travel sendiri. Berbekal ilmu soft marketing dari penjurusan Publik Relation (PR) Ikom UMM serta pengalaman dua tahunnya sebagai marketing BMW, Fikri mulai merintis bisnisnya. “Sebenarnya, keluarga saya memang sudah bergerak di bisnis Food And Beverage (F&B), jadi pemikiran untuk membuka bisnis sudah ada sejak lama. Meski memiliki keinginan untuk membuka bisnis, saya tidak tahu cara berjualan dan mau bisnis apa. Maka dari itu bekal penjurusan PR di UMM, pengalaman mengikuti komunitas, serta juga pengalaman kerja selama dua tahun benar-benar membuka wawasan saya serta menambah relasi bisnis,” ungkap Fikri. Anak ketiga dari empat bersaudara ini menceritakan perjuangan bisnisnya selama pandemi. Masuknya Covid-19 ke Indonesia benar-benar memukul sektor pariwisata. Hal tersebut juga berdampak pada jalannya bisnis Smartway.id. Namun dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ia dan bisnis agen travelnya mulai bangkit kembali. “Di masa yang serba sulit seperti ini, kita harus pintar-pintar mencari peluang. Sisi positifnya, kami dapat melakukan beberapa pengembangan di bidang-bidang yang dulu tidak terlalu diperhatikan. Kami juga menambah beberapa tim baru salah satunya adalah tim dokumentasi untuk mendukung proses bisnis,” kata Fikri. Di tengah-tengah kesulitan seperti ini, Fikri sangat bersyukur karena Smartway.id dinobatkan sebagai agen travel terbaik di Malang. Fikri berharap ke depannya keadaan akan segera membaik dan berjalan normal seperti sebelum pandemi. “Semoga pandemi segera berlalu, masyarakat juga segera divaksinasi, sehingga teman-teman dari sektor pariwisata dapat bangkit lebih baik daripada tahun sebelumnya,” pungkasnya. (syi/wil)
Dubes Indonesia untuk RRT Ajak Wisudawan UMM Ambil Peran di Ekonomi Digital

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan gelaran wisuda pada Selasa (29/6) lalu. Wisuda UMM yang ke-100 tersebut dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Djauhari Oratmangun dan juga Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Kunjung Masehat, S.H., MH. Adapun agenda ini dilangsungkan secara daring dan luring dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Mengawali agenda dengan sambutan, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM mengungkapkan bahwa reputasi UMM telah diakui dan mendapatkan rekognisi internasional. Terbukti dengan penetapan kampus putih sebagai kampus Islam terbaik dunia pada awal tahun 2021. Disusul dengan predikat kampus bintang tiga yang didapat dari lembaga pemeringkatan QS Stars. “Satu dari dua aspek UMM yang mendapat nilai sempurna yakni employability. Ini menunjukkan bahwa kompetensi yang dimiliki oleh alumni kampus putih ini layak untuk bersaing di nasional bahkan juga internasional,” tegasnya. Pada gelaran wisuda itu pula dilaksanakan penyerahan sertifikat kelayakan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UMM yang diserahkan oleh Kunjung Masehat selaku ketua BNSP. Usai penyerahan, Masehat dalam sambutannya mengatakan pengakuan yang didapat UMM dari berbagai lembaga internasional membuktikan, bahwa sistem yang berlaku di kampus putih ini bisa diterima dengan baik di dunia industri. Menurutnya, sistem tersebut juga sudah link dan match dengan kebutuhan dunia industri yang ada. “Bahkan tidak hanya disiapkan untuk bekerja, di sini para mahasiswa juga didorong dan dibekali kemampuan untuk creating the job, menciptakan lapangan pekerjaan,” tutur Masehat. Sementara itu, Djauhari Oratmangun yang hadir secara virtual dari Beijing mengawali orasi ilmiahnya dengan mengajak para wisudawan untuk membayangkan keadaan di 20 tahun yang akan datang. Momen di mana tongkat estafet sudah dipegang oleh mereka. “Pada 2045 nanti, saat NKRI memperingati 100 tahun kemerdakaan akan ada berbagai pertanyaan yang mendatangi saudara. Pertama adalah bagaimana kontribusi saudara terkait pembangunan manusia. Kemudian juga pembangunan ekonomi yang berkelanjutan serta pemerataannya. Lalu yang terakhir adalah pemantapan ketahanan nasional,” tuturnya. Djauhari juga menerangkan bahwa sebelum pandemi, perkenomian Indonesia terus berkembang. Terbukti dengan pertumbuhan ekonominya yang mencapai 5,02%. Namun sayang, pandemi datang disusul dengan resesi global yang mempengaruhi kinerja perekonomian Indonesia dengan kontraksi minus 2,07%. “Meski begitu, ada banyak perkembangan positif terkait kerjasama bilateral Indonesia. Terakhir, kedua negara sepakat untuk menjalin kerjasama kemitraan strategis komprehensif di berbagai bidang. Dirangkum dalam tiga pilar yaitu politik keamanan, politik ekonomi dan sosial budaya. Selain itu kedua negara juga melakukan sinergi program pembangunan bersama pada 2018 lalu,” lanjutnya. Menurut Djauhari, pandemi yang terjadi sama sekali tidak mengendorkan kerja sama keduanya, justru semakin erat dan baik. Kerja sama di berbagai bidang dilakukan hingga berdampak pada penyediaan lapangan kerja di Indonesia melalui pembukaan kawasan industri. “Secara khusus, saya melihat ada peluang besar di bidang ekonomi digital. Apalagi adanya daya tarik yang luar biasa dari generasi muda termasuk para wisudawan dan wisudawati yang hadir hari ini. Jika dilihat, Tiongkok merupakan negara ekonomi digital terbesar kedua dengan 162 unicorn serta transaksi e-commerce yang mencapai 2,4 triliun dollar US. Indonesia juga memiliki potensi yang luar biasa dengan lima unicorn dan satu decacorn serta transaksi e-commerce sebesar 44 miliar dolar US,” terangnya. Di samping itu, adapula kerja sama lain di bidang infrastuktur kesehatan. Sebut saja kerjasama produksi vaksin dan juga pelayanan kesehatan. Begitupun dengan pembangunan manusia. Djauhari mengatakan ada berbagai program yang memungkinkan warna negara Indonesia untuk mengembangkan potensinya. Disediakan berbagai beasiswa jenjang sarjana dan juga pendidikan vokasi bagi warga Indonesia. Maka dari itu, dijelaskan Djauhari, generasi muda termasuk wisudawan sebagai pengemban tongkat estafet selanjutnya harus memanfaatkan eratnya kerja sama kedua negara. Apalagi melihat ekonomi digital RRT yang harus dimanfaatkan dan menjadi pelecut agar mampu mengambil bagian serta menentukan arah positif bagi Indonesia. “Semua orang punya peran. Upaya positif apapun memiliki kontribusi bagi kejayaan bangsa yang kita cintai ini. Jadi teruslah berkarya dan bermanfaat bagi sesama. Sekali lagi selamat, semoga para wisudawan bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat dengan baik ke depannya,” pungkasnya dalam orasi. (wil)
Ini Rahasia Lovie Jadi Wisudawan Terbaik UMM

Mendapatkan nilai dan prestasi yang konsisten tidaklah mudah. Banyak usaha dan kedisiplinan yang dikerahkan untuk mencapai itu semua, hal itulah yang dialami oleh Lovie Kartika Sari. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris ini dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang ke-100 periode II tahun 2021. Lovie sapaan akrabnya bercerita bahwa menjaga prestasi dan nilai selama kuliah adalah tekadnya sejak menjadi mahasiswa baru. Baginya dimanapun ia berada, asal memiliki tekad yang kuat dan konsisten prestasi akan turut menyertai. “Saya sempat minder dengan teman-teman yang masuk PTN. Tapi saya mencoba untuk membuktikan bahwa prestasi bisa diperoleh dari mana saja. Karena itu, saya bertekad untuk selalu berprestasi baik secara akademik maupun non akademik,” kata mahasiswa asal Sidoarjo tersebut. Untuk mempertahankan konsistensi untuk menjadi yang terbaik, Lovie membagikan kiat-kiat belajarnya. Hal paling penting ketika memahami materi dosen adalah mendengarkan dengan baik dan mencatat setiap hal yang sudah dijelaskan. Selain itu, Lovie juga kerap merekam materi ketika dosen menerangkan. Selama proses kuliahnya di UMM, ia sangat menghindari tidur larut malam. “Kalau saya tidur larut malam, saya tidak bisa berkonsentrasi dengan maksimal ketika pagi hari. Maka dari itu, saya memilih untuk tidur cepat dan bangun lebih pagi. Selain itu, kebiasaan saya adalah membawa laptop ke manapun saya pergi. Jadi ketika nongkrong atau rapat tetap dapat mengerjakan tugas dan mengulang materi. Dalam mengerjakan tugas juga jangan pernah setengah-setengah. Mending sekalian capek tapi hasilnya memuaskan,” ungkap anak pertama dari dua bersaudara tersebut. Selain memperhatikan nilai akademik, Lovie juga ikut dalam berbagai non akademik. Terbaru, Lovie mengikuti program kampus merdeka untuk mengajar di SDN 2 Landungsari ketika masa pandemi. Lovie berkata jadwal harian membantunya untuk tetap imbang antara akademik dan organisasi. “Kalau ada jadwal harian serasa lebih tertata saja. Jam segini harus apa, jam segitu harus memulai apa. Adanya runtutan jadwal ini juga menjadi pengingat akan banyaknya tanggungan yang ada,” ujarnya menjelaskan. Ketika menerima kabar bahwa dirinya terpilih sebagai wisudawan terbaik, Lovie mengaku sangat tak menyangka. Pasalnya ia melihat banyak teman lain yang lebih berprestasi dan juga memiliki IPK yang sempurna. “Saya bersyukur kerja keras yang saya lakukan terbayar dengan baik. Saya harap kedepannya dapat lebih membanggakan orangtua dan mampu membagikan ilmu saya kepada masyarakat luas,” pungkasnya. (syi/wil)
UMM Jadi Satu-satunya Kampus Produsen Kentang Varietas Unggul

Kentang menjadi komoditi yang strategis di Indonesia karena sayuran ini dapat diolah menjadi beragam variasi makanan. Sayangnya, Indonesia masih belum bisa memenuhi produksi bibit kentang nasional. Melihat hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembangkan benih kentang unggulan. Produk ini telah diproduksi dan dipasarkan UMM secara mandiri sejak Rabu (23/06) lalu. Menariknya, UMM menjadi satu-satunya kampus yang memiliki delegasi legalitas untuk memproduksi kentang varietas unggul, yakni Granola Lembang dan Granola Kembang. Pengembang bibit kentang, Dr. Ir. Syarif Husen, MP., berkata bahwa sejak Rabu kemarin UMM telah menandatangai Memorandum Of Understanding (MOU) dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur. Dengan adanya MoU ini UMM dapat mengelola, memproduksi, serta memasarkan sendiri hasil bibit kentangnya kepada masyarakat. “Riset mengenai bibit kentang ini telah saya mulai sejak tahun 2015. Memasuki tahun ke 2018 benih kentang hasil riset akhirnya dapat diproduksi dan dipasarkan secara luas dengan bantuan Program Pengembangan Usaha Produk Inteektual Kampus (PPUPIK) dari Kemenristek. Adapun pada tahun 2021, UMM dapat memasarkan dua varietas bibit yaitu Granola Lembang, delegasi dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang dan varietas Granola kembang dari BPTP Jawa Timur,” ujar Syarif. Lebih lanjut, Dosen Fakultas Petarnian dan Perternakan tersebut menjelaskan bahwa bibit kentang yang UMM produksi ini memiliki beberapa keunggulan, salah satunya adalah bebas dari virus. Hal ini mengingat pengembangan bibit dengan menggunakan teknologi kultur in vitro. Proses ini menghasilkan benih dalam bentuk planlet dan teknologi aeroponik untuk mendaptkan benih kentang dalam bentuk umbi generasi nol (G0). “Varietas Granola ini juga memiliki potensi produksi 30-50 ton/hektar bila dilakukan dengan teknik budidaya yang baik dan benar,” kata Syarif. Saat ini UMM mampu memproduksi sebanyak 20.000 botol planlet melalui sistem pre-order. Untuk pemasarannya, kampus putih bekerjasama dengan jaringan alumni dan para petani bibit kentang di Jawa Timur. Syarif berkata dengan berbagai kemajuan yang diperoleh UMM dalam mengembangkan bibit kentang, membuktikan bahwa bibit-bibit yang UMM produksi memiliki kompetensi yang unggul. “Saya tentu berharap kesadaran konsumen dalam menggunakan benih berkualitas semakin meningkat. Hal ini juga akan berdampak pada perkembangan industri benih, khususnya kentang. Selain itu saya juga berharap adanya produksi benih unggulan ini akan membantu pemerintah dalam memenuhi kebutuhan bibit nasional,” pungkas Syarif. (syi/wil)
Dubes Indonesia untuk Jepang Dorong Wisudawan UMM Jadi Manusia Unggul

Menghadirkan Duta Besar Indonesia untuk Jepang merangkap Federasi Mikronesia, Heri Akhmadi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar wisuda yang ke 100 pada Sabtu (26/6) lalu. Agenda yang berlokasi di Dome UMM ini dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Mulai dari tes antigen, cek suhu hingga penggunaan masker. Adapun wisuda tersebut digelar secara kombinasi daring dan luring. Mengawali wisuda, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan UMM yang kembali mendapatkan rekognisi internasional. Setelah awal tahun ini ditetapkan sebagai perguruan tinggi Islam terbaik dunia versi UniRank, UMM juga dinobatkan sebagai kampus bintang tiga oleh QS Stars, lembaga yang berpusat di London, Inggris pada Kamis (24/6). “Ada dua variabel yang kita raih dengan nilai sempurna lima bintang, yakni employability dan fasilitas. Artinya, kompetensi yang dimiliki oleh alumni-alumni UMM sudah layak bersaing tidak hanya di level nasional, tapi juga di tingkat internasional,” tegasnya. Fauzan juga tidak lupa memberi selamat kepada para wisudawan yang telah berjuang menyelesaikan pendidikannya hingga akhirnya hari ini bisa dikukuhkan. Ia juga berharap berbagai ilmu yang didapat bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kebaikan bersama. “Tidak ada istilah tidak percaya diri karena saudara dilahirkan dari almamater yang memiliki reputasi internasional. Saya mendoakan para wisudawan agar bisa menjadi kebanggan keluarga dan bangsa dalam waktu dekat,” ungkap Fauzan. Sementara itu, Heri Akhmadi mengawali orasi ilmiahnya dengan memberi selamat kepada UMM. Menurutnya, raihan anugerah kampus Islam terbaik dunia dan rekognisi internasional lain yang dicapai merupakan hasil kinerja dan komitmen dari seluruh pimpinan dan civitas akademika yang ada. Di samping itu, ia mengatakan bahwa para wisudawan t idak hanya dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan saja, tapi juga harus melakukan penelitian. Tidak lain tidak bukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan itu pula. “Tidak cukup sampai di situ, saudara juga harus mengabdi kepada masyarakat. Ketiga poin inilah yang biasa kita sebut dengan Tridharma perguruan tinggi,” tutur Heri. Ia juga sempat menyinggung terkait Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Menurutnya, program tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar bagi dunia pendidikan. Satu di antaranya adalah memerdekakan kampus dari berbagai sekat yang selama ini membuat proses pendidikan terkesan lembam dan tidak inovatif. Selain itu, MBKM ini juga memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk menetapkan mata kuliahnya sendiri dengan pilihan yang luas. Tidak hanya di lingkup Prodinya saja, tapi juga berkesempatan untuk memperoleh mata kuliah dari Prodi lain. “Bahkan, mereka juga didorong untuk bisa mengambil mata kuliah di perguruan tinggi lain. Tidak terbatas pada perguruan tinggi level Indonesia saja, tapi juga bisa memperoleh suasana pembelajaran di luar negeri. Begitupun dengan pemberian kesempatan bagi peserta didik untuk merasakan atmosfer dunia kerja dengan sertifikat yang diakui,” lanjutnya menerangkan. Lebih lanjut, Heri juga menuturkan bahwa tujuan dari pembelajaran model ini adalah untuk membangun manusia yang unggul. Tidak hanya menjadi manusia yang merdeka, beriman, bertaqwa, berilmu dan berbudaya saja. Namun juga menjadi pribadi yang selalu berusaha mengabdi pada masyarakat dengan ide-ide terbaik dan inovatif. Terakhir, ia berharap kebijakan MBKM tidak hanya dipraktekkan ketika berkuliah, tapi juga bisa dilanjutkan setelah para wisudawan dikukuhkan. Sehingga akan terwujud manusia yang selalu belajar dan memperbaiki diri secara merdeka. “Pada 2045, Indonesia akan memasuki era emas. Tentu kita berharap akan ada manusia-manusia unggul yang muncul dengan kualifikasi yang sudah saya sampaikan tadi,” pungkas Heri pada orasinya. (wil)
UMM Raih Predikat Kampus Bintang Tiga Dunia

Dalam upaya memantapkan langkah internasionalisasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih predikat kampus bintang tiga dari lembaga QS Stars. Predikat tersebut berhasil diraih UMM pada Kamis (24/6) lalu. Raihan ini melengkapi rekognisi internasional yang sudah UMM dapatkan sebelumnya, seperti UniRank dan AUN-QA. Asisten Khusus Rektor Bidang Akreditasi Internasional UMM, Drs. Suparto M.Pd. menerangkan bahwa QS Stars merupakan publikasi tahunan peringkat universitas yang dilakukan oleh Quacquarelli Symonds (QS). Sistem penilaian QS terdiri dari keseluruhan aspek dan subyek peringkat global, bersama liga regional independen (Asia, Amerika Latin, Eropa dan Asia Tengah, Wilayah Arab, dan BRICS). Pemeringkatan ini adalah satu-satunya peringkat internasional yang telah menerima persetujuan dari lembaga ranking internasional dan berada dalam satu level dengan Academic Ranking of World Universities and Times Higher Education World University Rankings. Suparto menjelaskan, ada dua model penilaian QS Stars yakni rating dan ranking. Adapun bintang tiga yang diraih UMM kali ini merupakan hasil dari penilaian rating berdasarkan beberapa aspek. “Ada delapan aspek yang dilihat oleh lembaga ini. Mulai dari fasilitas, internasionalisasi, pengajaran, employability, teaching, academic development, program strength, social responsibility serta inclusiveness,” terang Suparto. Menurutnya, predikat bintang tiga ini memiliki banyak manfaat bagi perguruan tinggi, utamanya UMM. Salah satunya sebagai standing academic UMM serta pengakuan di tingkat dunia. Di samping itu juga untuk memudahkan jalan kerjasama dengan universitas dan lembaga internasional lainnya.Pun dengan kemudahan untuk menggaet mahasiswa internasional. Suparto menilai, langkah ini sejalan dengan program internasional yang sudah UMM canangkan. Misalnya saja usaha UMM dalam meningkatkan akreditasi dan sertifikasi internasional, membangun kerja sama, pengabdian serta publikasi internasional. “Kini UMM kan berada di fase ketiga, yakni obtaining international recognition. Maka dari itu, kami akan terus bekerja keras agar bisa mencapai predikat world class university,” terang Suparto. Senada dengan Suparto, Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengungkapkan bahwa salah satu kerangka besar capaian UMM adalah internasionalisasi. Utamanya rekognisi yang diperoleh baik dari lembaga pemerintah, non-pemerintah, maupun kampus di level internasional. Begitupun dengan lembaga sertifikasi, pemeringkatan serta akreditasi. Syamsul menilai bahwa UMM memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan. Terhitung sudah hampir 60 tahun Kampus Putih berkecimpung untuk mencerdaskan bangsa. Menurut Syamsul, sudah waktunya UMM mendapat rekognisi di berbagai level, baik nasional maupun internasional. Menanggapi raihan bintang lima untuk sub kategori employability dan facilities, Syamsul menegaskan bahwa hal itu merupakan hasil dari proses panjang yang sudah dirancang sejak lama. Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Mendikbud juga turut mempercepat proses tersebut. “Sebagai universitas dengan predikat kampus Islam nomor satu dunia versi UniRank, UMM tentu memiliki ikhtiar kuat dalam menjalankan MBKM agar mampu mengantarkan lulusannya ke dunia kerja yang baik,” ungkapnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. bersyukur atas predikat bintang tiga yang diperoleh. Menurutnya, predikat ini sudah cukup bagus dan dapat menjadi rekognisi internasional yang strategis. Meski begitu, UMM masih akan terus memperbaiki berbagai aspek untuk bisa mendapat predikat bintang lima dalam waktu dekat. Fauzan juga mengungkapkan bahwa hasil ini merupakan bukti apresiasi QS Stars (lembaga yang berkantor di London, Inggris) atas berbagai perbaikan yang UMM lakukan di beberapa lini. Meski telah meraih bintang lima pada aspek fasilitas, UMM masih bertekad untuk terus membangun berbagai sarana pendukung lain yang berlandaskan pada asas fungsional. Sedangkan raihan predikat bintang lima pada aspek employability UMM, menurut Fauzan, hal ini tidak lepas dari iklim pembelajaran di UMM yang terus dikembangkan demi meningkatkan keterserapan. Sehingga para lulusan siap bersaing dalam dunia kerja yang lebih luas. “Keterserapan yang bagus akan semakin baik jika dibarengi dengan kecepatan yang baik pula,” pungkasnya. (wil)
Kesos UMM Ingatkan Pentingnya Pola Asuh Anak di Panti Asuhan

Tingkatkan pengetahuan pegawai panti asuhan, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar acara sosialisasi pola asuh anak dan standar pengelolaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Acara ini bertempat di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Kota Malang pada Sabtu (12/06). Adapun pelatihan tersebut memberikan pengetahuan terkait pola asuh dan pengelolaan panti asuhan agar bisa maksimal dalam implementasinya. Lebih lanjut, pada dasarnya gelaran ini merupakan rangkaian kegiatan dari Program Pengabdian oleh Mahasiswa (PMM) Prodi Kesejateraan Sosial. Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa juga menggaet beberapa dosen yang tergabung dalam Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) untuk membantu kelancaran salah satu proses Tri Dharma tersebut. Ketua tim pengabdian dosen, Dr. Oman Sukmana, M.Si., menyatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini penting untuk dilaksanakan. Hal itu tidak lepas dari fungsi utama panti asuhan, yakni melaksanakan pola pengasuhan yang baik dalam upaya meningkatkan kesejahteraan anak. “Pengelola panti hakikatnya menjadi pengganti orang tua bagi anak asuh. Maka sudah barang tentu mereka harus melakukan pengasuhan secara baik, sesuai dengan standar pengasuhan anak,” ujar Oman. Disisi lain, dalam materinya, Nandy Agustin, S.Psi., M.Si. menerangkan bahwa kesejahteraan anak bisa dilihat dari perilakunya. Mereka akan menunjukan perilaku yang positif, kondisi psikologis, fisik dan mental yang baik pula. Ketiganya merupakan tanda bahwa mereka berada di kondisi makmur serta sejahtera. “Pola asuh yang dilakukan dengan baik dan tepat akan memberikan pengaruh signifikan terhadap terbentuknya perilaku positif pada anak,” Nandy. Lebih lanjut, Nandy menjelaskan bahwa tak jarang anak asuh panti memiliki perilaku yang sulit dikendalikan. Dalam menghadapi fenomena itu, Nandy berkata bahwa LKSA dapat melakukan beberapa tips. “Cara yang dapat dilakukan LKSA adalah dengan bekerjasama dengan orang tua anak asuh, menghindari tindakan fisik, pemberian reward dan punishment pada anak,” ujarnya menjelaskan. Dalam kesempatan yang sama, Zaenal Abidin, S.Sos., M.Si. menyampaikan bahwa LKSA harus selalu meningkatkan dan mempertahankan akreditasinya sesuai standar nasional. Dalam mengembangkan kinerjanya, diharapkan setiap LKSA mampu mencapai taraf yang lebih baik. “Ada lima aspek yang perlu dipersiapkan yaitu legalitas, fasilitas fisik, pendanaan, jaringan kerja, SDM. Kinerja mereka dapat dikatakan memenuhi standar apabila sudah berjalan beriringan dengan pola asuh yang diterapkan setiap panti,” ungkapnya diakhir materi. (haq/wil)
Peduli Lingkungan, Dosen FEB UMM Gelar Pelatihan Eco-enzym

Peduli kelestarian lingkungan, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pengetahuan tentang pengolahan sampah rumah tangga. Melalui Program Pengabdian Fakultas, tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM melangsungkan pelatihan dengan tema “Gerakan Produktif Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga Melalui Eco-Enzym”. Adapun agenda ini dilaksanakan di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pada Jumat (18/6) lalu. Aktivitas pengabdian masyarakat itu diinisiasi oleh Dra. Dwi Susilowati, M.Si., Venus Kusuawardhana, SE., MM., dan Dhurotus Sangadah, SE., MM. Mereka bertiga tergabung dalam satu tim yang juga menggandeng kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai mitra. “Kami berusaha sebaik mungkin untuk berusaha meningkatkan produktifitas masyarakat setempat,” terang Dwi Susilowati. Dwi, panggilan akrabnya menjelaskan bahwa pelatihan itu dihadiri puluhan peserta dari kalangan ibu-ibu. Adapun narasumber yang disiapkan adalah mereka yang sudah ahli dan berpengalaman dalam bidang pengembangan eco-enzym. “Kami sengaja mengangkat eco-enzym karena berawal dari keprihatinan akan semakin rusaknya lingkungan,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan juga pengalaman baru, utamanya ibu-ibu PKK Desa Mulyoagung. Ia juga berharap agar apa yang didapat di agenda ini bisa disebarluaskan ke masyarakat lain sehingga manfaatnya bisa dirasakan di seluruh lapisan. Dhurotus Sangadah, salah satu pemateri memaparkan bahwa limbah rumah tangga bisa dimanfaatkan dengan baik melalui eco-enzym. Jika dilihat dari aspek ekonomi, bahan ini dapat menekan dan menghemat pengeluaran rumah tangga. Hal itu tidak lepas dari kegunaannya sebagai pengganti handsanitizer, sabun mandi, sabun cuci piring, bahkan juga pupuk alami. Sementara itu, pemateri lainnya, Gung Endah menerangkan bagaimana cara membuat eco-enzym dengan bahan-bahan yang mudah didapat. Beberapa di antaranya adalah sayur-sayuran, buah-buahan, air gula merah dan tetes tebu atau molase. Adapun persentase bahan itu terdiri dari tiga liter sayur dan buah, satu liter gula merah dan tetes tebu, dan yang terakhir adalah sepuluh liter air. Menariknya, pada pelatihan itu para peserta tidak hanya menerima gambaran teori saja. Mereka juga langsung mempraktekkan pembuatan eco-enzym dengan bimbingan para pemateri. “Proses yang digunakan dari bahan mentah menjadi eco-enzym memakan waktu sekitar tiga bulan. Setelah itu, bahan ini sudah bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Gung Endah. (haq/wil)