Tampilkan Tari Menjeng, UMM Sukses Menangi Kompetisi Tari Nasional

Tak hanya meningkatkan prestasi internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga terus melestarikan budaya-budaya tradisional. Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sansekarta, UMM berhasil sabet juara tiga dalam perlombaan tari yang dilaksanaan oleh Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI). Perlombaan tersebut dilakukan secara daring pada Sabtu (05/06). Tim yang beranggotakan lima orang ini memilih tarian Menjeng asal Bayuwangi dalam kesempatan tersebut. Salah satu anggota tim, Karinadya Debi Fatika Azzarah berkata bahwa pemilihan tari Menjeng untuk lomba didasarkan pada gerak tari yang lincah dan rencak. Tari Menjeng juga memiliki banyak variasi tarian, sehingga tim ini dapat memilih banyak koreografi.“Musik pada tarian tersebut juga sangat meriah dan bersemangat. Di samping itu, kami ingin mencoba tari dari daerah lain selain Malang,” ungkap mahasiswa jurusan Ilmu Keperawatan tersebut. Debi, sapaan akrabnya berkata bahwa perlombaan itu berlangsung secara virtual. Latihan untuk perlombaan dilakukan dalam waktu yang cukup singkat, yaitu hanya satu minggu. Adapun proses latihan dilakukan secara terus menerus setiap hari selama satu minggu penuh. “Dengan waktu yang singkat, kami berusaha dengan sangat keras untuk menghafal koreografi. Kami juga harus mengambil video untuk keperluan lomba. Untungnya tim kami sangat kompak dan memiliki tekad yang kuat untuk meraih juara,” ujar mahasiswa kelahiran Malang itu. Di sisi lain, ketua UKM Sansekerta, Ikko Rahmatya mengungkapkan bahwa pemilihan penari untuk lomba ini cukup sulit. Hal itu karena harus menemukan anggota UKM yang bisa pergi ke Malang untuk latihan setiap hari. Dalam perlombaan ini, UKM Sansekerta juga memberika pendampingan pada para penari melalui tiga orang Liaison Officer (LO). “Ketiga LO ini yang akan mengurus keperluan serta jadwal penari. Mulai dari latihan hingga pengiriman video perlombaan,” kata Ikko. Selain Debi, empat orang penari lainnya yang tergabung dalam tim ini adalah Kalki Sonia Paksi, Lya Novitasari, Salsabiila Ghinantika, dan Shofa Julyta Normasari. Di akhir sesi wawancara Ikko mengaku senang pihak kampus memberikan informasi-informasi bermanfaat terkait perlombaan tari. “Setelah memenangkan kejuaraan ini, ke depannya saya ingin UKM Sansekerta dapat meningkatkan kualitas lagi. Tidak hanya di perlombaan level nasional saja, tapi juga internasional,” pungkasnya. (syi/wil)
Tingkatkan Kualitas, UMM Laksanakan Audit Mutu Internal

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai universitas Islam terbaik dunia terus menjaga kualitasnya. Salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan melaksanakan audit mutu internal bagi seluruh prodi dan Unit Pengelola Program Studi (UPPS). Adapun kegiatan itu dilaksanakan sejak tanggal 7 hingga 26 Mei 2021, bergantian di tiap UPPS. Dr. Muslimin Machmud, M.Si. selaku Kepala Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI) UMM menerangkan bahwa penjaminan mutu menjadi komponen yang menentukan pengelolaan Perguruan Tinggi (PT). Maka BPMI memiliki tugas untuk memastikan bahwa UMM sudah memenuhi seluruh standar yang ditentukan oleh negara, yakni Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN DIKTI). “Audit ini dilaksanakan di lingkungan prodi setahun sekali, sementara untuk tingkat perguruan tinggi kami langsungkan dua tahun sekali,” tegas Muslimin. Maka dari itu, menurut Muslimin, seluruh Prodi dan UPPS perlu untuk menyusun dokumen yang disebut dengan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Adapun dokumen tersebut terdiri dari dokumen kebijakan mutu, manual mutu, standar mutu serta prosedur mutu. Keempatnya menjadi satu kesatuan yang harus disiapkan dan dilaksanakan agar pengelolaan perguruan tinggi bisa berlangsung dengan lancar. Muslimin kembali menerangkan bahwa audit mutu internal ini juga bisa digunakan untuk kepentingan akreditasi, baik Prodi maupun perguruan tinggi. Di samping itu juga bermanfaat untuk melancarkan proses perubahan dalam instrumen suplemen konversi. “Yakni mengubah format akreditasi yang lama seperti A, B dan C menjadi format yang baru. Sebut saja akreditasi unggul, baik sekali maupun yang lainnya,” ujar Dosen Komunikasi tersebut. Lebih lanjut, demi menjadikan UMM sebagai kampus unggul maka BPMI melakukan audit dengan sungguh sungguh meski berada di level internal. Hal itu dilakukan agar pelaksanaan tridharma bahkan caturdharma bisa diimplementasikan sesuai dengan standar. “Standar yang kami gunakan yakni standar nasional SN DIKTI. Adapula standar pelampauan yang sudah ditetapkan oleh universitas mencakup tujuh hal. Dua di antaranya yakni Al-Islam dan Kemuhammadiyaan dan kerja sama serta sumber daya manusia,” ungkapnya. Dosen yang sempat menjadi General Manager Sengkaling mengatakan bahwa budaya mutu yang baik bisa terlaksana jika ada komitmen yang sama dari berbagai pihak. Kerja sama pimpinan, pelaksana, serta penjamin mutu menjadi unsur penting dalam pelaksanaan mutu di perguruan tinggi. “Tentu kami tidak hanya ingin mencapai hal yang bersifat kuantitas saja, tapi juga terus meningkatkan dari segi kualitas. Sehingga para stake holder dapat merasa puas, karena ukuran mutu itu kan kepuasan,” pungkasnya di akhir. (wil)
Gita Surya UMM Menangi Lomba Paduan Suara POSSE 2021

Kembali berprestasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menerus cetak mahasiswa bermental pemenang. Kali ini Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gita Surya UMM berhasil meraih juara satu lomba paduan suara kategori Group Pop tingkat Nasional. Perlombaan ini merupakan bagian dari Pekan Olahraga, Sains, dan Seni (POSSE) 2021 yang di adakan oleh Univeristas Muhammadiyah Riau (UMRI). Adapun kompetisi tersebut berlangsung sejak 5 Mei hingga 17 Juni 2021 dan berlangsung secara daring melalui platform Zoom. Muhammad Ichlasul Amal Haque, Ketua UKM Gita Surya menjelaskan bahwa informasi lomba paduan suara tersebut ia peroleh dari Kemahasiswaan UMM. Adapun mereka telah berlatih selama sebulan sebelum terjun dan memenangi kompetisi itu. “Kami memutuskan untuk mengirim 13 anggota yang kami miliki. Mereka didorong untuk terus berlatih dan memberikan yang terbaik saat lomba berlangsung,” tegasnya. Ichlas, panggilan akrabnya mengaku salah satu tantangan yang dihadapi adalah waktu berlatih. Mereka hanya memiliki waktu satu bulan untuk saling belajar dan menyatukan suara. Apalagi mereka harus melakukan latihan secara daring. “Biasanya kami menyiapkan diri tiga hingga empat bulan sebelum kompetisi. Jadi persiapan kali ini cukup menantang, ditambah lagi porsi latihan yang dilaksanakan secara online. Ini menjadi pengalaman baru yang menarik,” ungkap Ichlas. Ia mengungkapkan porsi latihan daring PSM Gita Surya UMM dibagi menjadi tiga sesi tiap harinya. ketika sudah selesai, mereka juga menyiapkan alat-alat audio untuk merekam. Di samping itu juga alat-alat video agar bisa menghasilkan video dengan gambar dan suara yang terbaik. Terakhir, mahasiswa kelahiran Malang ini berharap raihan yang sudah dicapai tidak membuat PSM Gita Surya besar kepala dan cepat puas. Menurutnya, capaian ini seharusnya menjadi motivasi besar untuk bisa memenangkan kompetisi lainnya. Dengan begitu, para anggota dapat terdorong untuk terus mengasah skill dan kemampuan. “ Saya juga ingin mengajak seluruh mahasiswa untuk mencetak berprestasi. Bukan hanya untuk mengharumkan nama UMM saja, tapi juga menjadi ukiran sejarah bagi diri sendiri,” pungkasnya. (haq/wil)