Menko PMK Dorong Maba Berprestasi di Penutupan Pesmaba UMM

Tidak hanya pembukaannya saja yang meriah, penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga dipenuhi dengan penampilan yang atraktif. Mulai dari tari hingga menyanyi bersama membuat istimewa penutupan yang dilaksanakan di Hall Dome pada Sabtu (25/9) lalu ini. Turut hadir Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM sekaligus Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Prof. Dr. Muhadjir Effendy M.A.P. Ia berkesempatan untuk menutup gelaran tahunan penyambutan mahasiswa baru UMM tersebut. Penutupan Pesmaba dimulai dengan beragam highlight aktivitas mahasiswa baru, baik di tingkat universitas maupun fakultas. Ada flashmob joget yang menarik perhatian. Bersama dengan para tamu yang hadir, seluruh mahasiswa baru bersama-sama berjoget dengan asyik untuk memeriahkan penutupan ini. Suguhan tari-tarian kembali memberikan keunikan tersendiri. Mengkreasikan berbagai tarian nusantara, para penari yang tergabung di UKM Sangsekerta UMM ini tidak jarang mengundang decak kagum. Semangat para maba juga ditampilkan melalui atraksi-atraksi menarik. Bahkan, hashtag UMMCampus sempat menjadi trending topic di Twitter. Pada kesempatan tersebut, Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. tak lupa memberikan selamat kepada para maba yang sudah menyelesaikan prosesi Pesmaba dengan baik. Menurutnya, berbagai hak dan kewajiban tentu menyertai seiring predikat mahasiswa diperoleh. “UMM senantiasa berusaha agar para maba nantinya bisa kembali duduk di sini bersama orang tua dalam rentang waktu tiga setengah hingga empat tahun untuk diwisuda,” tegasnya. Fauzan, panggilan akrabnya ingin agar nantinya para maba bisa menjadi mahasiswa yang diperhitungkan melalui berbagai aktivitas. Pun ia ingin mereka mampu menjadi alumni yang juga diperhitungkan di masyarakat. Memberikan berbagai terobosan dan solusi untuk beragam masalah. Ia menyampaikan bahwa UMM telah menyiapkan bermacam-macam fasilitas dan ekosistem yang sesuai dengan passion mahasiswa. Hal itu dilakukan dalam rangka membentuk jiwa berprestasi dan melahirkan lulusan yang bermanfaat bagi keluarga, agama, nusa dan bangsa. “Berusahalah untuk menjadi orang-orang sukses baik dalam menempuh studi maupun kehidupan. Namun jangan pernah lupakan komitmen yang harus selalu dipegang teguh yakni senantiasa menghormati kedua orang tua. Selalu minta doa restu kepada mereka berdua agar perjalanan hidup kita selalu diberi kelancaran,” terangnya. Sementara itu, Muhadjir menuturkan bahwa para maba patut berbangga. Hal itu karena UMM merupakan salah satu universitas terbesar. Tidak hanya dilihat dari jumlah mahasiswa maupun besarnya gedung, tapi juga reputasi akademik yang luar biasa. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa para maba kini telah resmi menjadi bagian keluarga besar Kampus Putih. “UMM sekarang sudah menjadi almamater saudara. Berarti sudah menjadi rahim dan ibu kedua saudara setelah ibu kandung tercinta,” ungkapnya. Muhadjir menilai bahwa kini para peserta Pesmaba sudah bertransformasi dari anak sekolah menjadi seorang mahasiswa Universitaa Muhammadiyah Malang. Tidak hanya berubah dari segi fisik, tapi juga mental dan spiritual. Ia mengajak mereka untuk menanggalkan identitas lama dan segera mengenakan identitas, seragam dan pakaian baru yakni Jas Merah UMM. “Jadikan Kampus Putih UMM sebagai rumah kedua saudara. Sering-sering habiskan waktu di kampus dengan berdiskusi bersama teman, membaca buku, dan aktif di organisasi. Jangan lupa juga untuk senantiasa berkonsultasi dengan para dosen. Sekali lagi, saya ucapkan selamat belajar dan semoga bisa mencapai cita-cita diharapkan,” harap Muhadjir di akhir. (wil)

RSDC UMM Lahirkan Mekanik Handal dan Religius

Kontribusi nyata Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meliputi berbagai aspek. Salah satunya melalui pendidikan dan pelatihan otomotif Rinjani Skill Development Center (RSDC) yang telah mencapai angkatan XIV pada tahun ini. Adapun pelatihan ini dibuka pada Sabtu (18/9) lalu berlokasi di Bengkel Rinjani UMM dengan protokol kesehatan ketat. Eka Kadharpa Utama, S.E., M.M. selaku Direktur Bengkel Rinjani mengatakan bahwa RSDC ini telah berlangsung selama empat belas tahun. Ini adalah bentuk usaha dalam memberikan program dan inovasi bagi dunia otomotif. “Pada angkatan kali ini, kami menerima 16 peserta yang sudah dipilih dari puluhan pendaftar yang ada. Mereka tidak hanya berasal dari Jawa Timur saja, adapula yang berasal dari Aceh, Bima dan daerah lainnya,” tuturnya. Eka, panggilan akrabnya mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki sistem perekrutan dan kompetensi yang berbeda. Begitupun dengan kurikulum yang disiapkan. Dijelaskan olehnya, kurikulum tahun ini akan lebih fleksibel yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia otomotif yang ada. Satu hal yang akan lebih diperhatikan adalah aspek body repair yang banyak diperlukan. Ia juga menuturkan bahwa Bengkel Rinjani juga telah melebarkan sayap kerja samanya. Mitra dan kolega Bengkel Rinjani juga terus bertambah seperti Doktor Mobil, Bengkel Nasional, Toyota Makassar dan lainnya. “Bengkel Rinjani juga berusaha lebih mandiri lagi dengan membuat unit bisnis baru yang nantinya akan dikelola oleh para peserta,” tambahnya. Pada kesempatan yang sama, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. selaku Kepala Biro Administrasi Umum UMM menuturkan bahwa Kampus Putih telah melakukan berbagai macam kepedulian untuk memberdayakan para generasi dan umat di Indonesia. Hal itu sesuai dengan komitmen UMM yakni Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. “Kolega saya sekali waktu menelepon saya dan mengatakan bahwa salah satu lulusan RSDC kini telah membuka bengkel bersama teman-teman lainnya di Mojokerto. Harapan kami tidak muluk-muluk, yakni memberikan bekal keterampilan dan bekal untuk kehidupan,” ujarnya. Juanda menambahkan RSDC ini tidak hanya memberikan ilmu dan keterampilan otomotif saja. Lebih dalam yakni menyediakan pendidikan dan bekal untuk kehidupan para peserta nantinya. RSDC ini juga dikemas dengan menginapkan para peserta di tempat yang UMM sediakan. Kampus Putih telah menyediakan dan akan memberikan berbagai fasilitas serta logistik. “Jadikan kesempatan selama setahun ini dengan sebaik-baiknya. Semua pendidikan dan pelatihan memang seringkali tidak menyenangkan. Tapi saya yakin akan memberikan hasil yang luar biasa jika saudara benar-benar menjalankannya dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya mengakhiri. (wil)

Konferensi Internasional FH UMM Kaji Keadilan dan HAM

Kegiatan internasional senantiasa dilangsungkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kini giliran Fakultas Hukum (FH) yang menggelar 2nd International Conference on Law Reform (2nd INCLAR) dengan bertajuk “Narrating Law Reform in Asia: Between Fulfilling Human Rights and Restorative Justice”. Gelaran yang dilangsungkan secara daring dan luring pada Kamis (23/9) lalu ini, mengundang pemateri tidak hanya dari Indonesia saja tapi juga dari berbagai negara. Membuka gelaran konferensi, Asisten Rektor (Asrek) UMM bidang akreditasi internasional Drs. Soeparto, M.Pd. mengatakan bahwa keadilan menjadi dasar kehidupan bagi manusia. Maka perlu adanya regulasi jelas bagi semua pihak, tidak hanya dalam hal personal tapi juga sosial. “Justice atau keadilan itu berasal dari bahasa latin yang secara umum diterjemahkan dengan kata mengikat bersama. Pun juga dipahami sebagai sistem yang mengikat dan menggabungkan serta mengharmonisasikan nilai-nilai dan kebutuhan yang berbeda,” jelasnya. Soeparto menilai bahwa pengertian ini seakan-akan simpel dan mudah. Padahal, dalam kenyataannya konsep keadilan ini sukar untuk diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Ia mengatakan bahwa konferensi ini akan sangat bermanfaat tatkala bisa dilaksanakan dalam kehidupan, tidak hanya mengawang di wilayah teori. “Akan lebih baik pula jika bisa melibatkan berbagai pihak, tidak hanya dari akademisi saja,” tegasnya. Fitria Esfandiari, SH., M.H. selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa konferensi ini akan berkontribusi dalam pengembangan hukum. Utamanya melalui penegakan dan penguatan Hak Asasi Manusia (HAM). Di samping itu juga berusaha menyediakan ide-ide yang bisa digunakan untuk memformulasi hukum nasional serta internasional baik di tingkat Asia maupun global. “Konferensi ini tentu mencoba memberikan alternatif yang solutif untuk pelbagai permasalahan yang terjadi di penjuru wilayah dunia. Khusunya hal-hal yang berkaitan dengan hukum,” ungkapnya melanjutkan. Fitri, panggilan akrabnya menerangkan bahwa untuk menunjang konferensi tersebut, FH telah mengundang berbagai pemateri dari universitas beberapa negara. Ia berharap, gelaran internasional yang dilaksanakan ini akan memberikan manfaat serta dapat menelurkan gagasan-gagasan. Sehingga bisa melakukan penelitian-penelitian bagus lainnya di kemudian hari. Sementara itu, Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., LL.M., Ph.D yang didapuk menjadi salah satu pemateri menilai bahwa Indonesia kini telah berubah. Ada empat hal mendasar yang harus dipenuhi saat ini yakni pemenuhan Hak Asasi Manusia serta hukum. Di samping itu, perlu adanya usaha untuk memenuhi kebutuhan demokrasi serta suara-suara masyarakat. Meski begitu, ada berbagai tantangan yang perlu di hadapi oleh Indonesia saat ini. Satu diantaranya adalah sulitnya menyusun hukum mengingat Indonesia adalah negara yang besar. Menurutnya, hukum yang sesuai dengan Jakarta belum tentu cocok dengan wilayah lainnya karena perbedaan banyak hal. “Jika kita ingin menjalankan demokrasi dan kebebasan berpendapat maka perlu ada penegakan hukum yang tepat. Hal itu dilakukan agar masyarakat merasa nyaman saat menyuarakan pendapat dan menjalankan demokrasi,” tegasnya. Pada kesempatan yang sama, Dr. Petra Mahy dari Department of Business Law and Taxation, Monash University menjelaskan mengenai omnibus law dalam pemberian pekerjaan. Ia juga membahas terkait hierarki hukum dan respon akan yudisial review amandemen tenaga kerja. Menurutnya, pergeseran hierarki hukum menimbulkan beberapa kekhawatiran, khususnya tentang keseimbangan kekuasaan legislatif dan eksekutif. Ia juga menilai bahwa sebagian besar putusan Mahkamah Konstitusi ditanggapi oleh badan legislatif. Namun adapula beberapa anomali yang ia temukan. “Saya juga menemukan bahwa berbagai perkara konstitusi yang menggugat undang-undang Cipta Kerja masih dalam proses. Baik itu dalam tinjauan prosedural maupun substantif,” jelas Petra menuturkan. Terakhir, Dekan FH UMM Dr. Tongat, S.H., M.Hum. berharap seluruh partisipan bisa mendapatkan solusi untuk menghadapi masalah di masing-masing negara. Menurutnya, keaktifan yang diperlihatka  oleh para peserta membuat tujuan utama konferensi ini bisa terpenuhi dengan baik. “Saya juga berharap semua hal yang didapatkan dari agenda ini bisa bermanfaat bagi masa depan dan karir peserta yang hadir,” tuturnya. Tongat juga ingin agar kebersamaan yang ditemukan di 2nd INCLAIR Conference tidak berhenti setelah acara usai. Namun bisa terus tersambung melalui agenda-agenda lain. “Saya juga mengapresiasi kepada semua peserta yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berkontribusi dalam agenda ini,” pungkasnya sekaligus menutup konferensi internasional tersebut. (wil)

Susu Panggang, Ide Unik Mahasiswa UMM Ajak Masyarakat Mandiri

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kreasikan susu sapi perah menjadi produk camilan bernama susu sapi panggang. Bermitra dengan warga Desa Ngroto Pujon, inovasi ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM-PM) dan meraih pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Salah satu anggota tim, Cynthia Angelina, mengatakan bahwa Desa Ngroto Pujon merupakan desa yang terkenal akan produk susu sapi perah. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduknya bekerja sebagai peternak sapi. Sayangnya, ketika panen tiba selalu ada sisa susu yang tidak terjual. Meskipun mengalami kerugian, masyarakat tidak berupaya untuk mengolah sisa susu tersebut menjadi produk lain yang bernilai ekonomis. “Untuk memanfaatkan susu sisa tersebut kami membuat kreasi camilan baru nan unik yaitu susu sapi panggang. Dalam proses pembuatannya, kami bekerja sama dengan ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Produk camilan ini dapat bertahan selama satu minggu setelah proses pengolahan,” ungkap mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial tersebut. Dalam pembuatannya, ia menjelaskan bahwa camilan ini diawali demham memasak susu hingga setengah matang. Kemudian memasukkan bahan-bahan tambahan yang diaduk hingga tercampur dengan baik. Jika sudah mengental, adonan didiamkan lalu menyimpannya hingga bisa dibentuk dengan mudah. “Terakhir, kami tinggal memotong sesuai seleran dan memanggangnya,” tutur Angel. Tak hanya terbatas pada proses pembuatan camilan susu sapi panggang, dalam waktu tiga bulan masa PKM Angel dan tim juga mendampingi warga dalam pemasaran produk tersebut. Selain itu, tim PKM ini juga membantu pihak desa untuk mengurus perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). “Dengan diurusnya PIRT ini akan meningkatkan jaminan mutu dan nilai jual dari produk camilan ini,” ujar anak tunggal tersebut. Angel menceritakan bahwa di pertengahan masa PKM, program tersebut mengalami kendala karena adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Oleh karena itu ia dan tim mengubah sistem yang awalnya offline menjadi online dengan menggunakan Zoom. Dalam program ini, Angel ditemani oleh empat orang anggota yaitu Khairunnisa dan Nanda Fatika Ningrum dari Prodi Kesejahteraan Sosial, Desy Tania Fitriani dari Prodi Teknologi Pangan, serta Hima Ilda Imrotul Fauziyah dari Prodi Peternakan. “Kami berharap dengan adanya PKM ini dapat membantu perekonomian masyarakat. Tidak hanya itu kami juga berharap program ini bisa terus menjadi kegiatan berkelanjutan serta mampu menjadikan camilan ini sebagai suatu produk unggulan bagi Desa Ngroto,” pungkasnya. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Gaungkan Teknik Shaping untuk Terapi Anak Berkebutuhan Khusus

Berbeda dengan anak pada umumnya, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memerlukan pendidikan dan perlakuan yang khusus didesain untuk mereka. Melihat akan hal itu, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merekomendasikan teknik shaping untuk terapi pada ABK. Adapun gagasan ini dituangkan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa-Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) yang telah lolos tahap pendanaan di Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) pada Mei lalu. Nur Elizah Feby Aldiandari selaku ketua tim menjelaskan bahwa teknik shaping ini adalah sebuah terapi yang memang khusus diberikan bagi anak berkebutuhan khusus. Teknik ini memiliki tujuan untuk mengurangi perilaku agresi dari peserta didik. “Teknik ini adalah sebuah intervensi pada perilaku agar mereka dapat mereduksi perilaku agresi yang biasa muncul,” jelasnya melanjutkan. Adapun cara teknik shaping ini yaitu dengan melakukan penguatan perilaku berulang kepada anak berkebutuhan khusus. Sehingga mampu melatih fokus mereka dalam menekan perilaku agresi. Dalam satu kali pertemuan, durasi yang dilakukan untuk terapi ini adalah selama dua jam lamanya. Elizah, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia dan teman setim telah melakukan riset sejak bulan Juni lalu. Adapun riset tersebut dilangsung di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di daerah Joyogrand, Kota Malang. Meski sempat terkendala Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), ia dan tim tetap bisa melakukan pendampingan secara online melalui orang tua secara langsung. “Selama masa riset, seringkali kami terkendala PPKM yang membuat kami tidak bisa memberikan teknik shaping secara langsung. Tetapi kami senantiasa berinisiatif melakukan pendampingan secara online melalui orang tua, karena dari pihak SLB tidak menerima penelitian secara online,” imbuhnya. PKM dengan judul “Teknik Shaping Media Alat Musik Perkusi Untuk Melatih Fokus Autisme Upaya Mengurangi Perilaku Agresi” ini tidak dikerjakan sendiri oleh Nur Elizah Feby Aldiandari. Ia ditemani Regita Meidi Septias dan Nabila Marshintawati serta dibimbing oleh Ahmad Sulaiman, S.Pd., M.Ed. Mereka menjelaskan bahwa tujuan akhir dari PKM ini adalah bisa melakukan proses submit jurnal sehingga bisa menjadi rujukan untuk kemanfaatan bersama. Selain itu juga dapat terdaftar pada Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Mahasiswa Kelahiran Gresik ini berharap ide dari riset penelitian ini bisa menjadi pilihan teknik terapi bagi anak berkebutuhan khusus yang bisa di terapkan para orang tua. Menurutnya, ia dan tim tidak akan berhenti pada tahap ini saja. Mereka akan berusaha menelurkan ide-ide baru lainnua. “Kami akan terus-menerus meneliti dan menghasilkan penelitian yang bisa menjadi alternatif serta bermanfaat bagi bberbagai pihak,” pungkasnya melanjutkan. (haq/wil)

Menko PMK dan Ketum PP Muhammadiyah Bekali Maba UMM

Mahasiswa baru (Maba) dari beragam daerah Indonesia turut hadir dalam gelaran Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2021. Uniknya, event tahunan ini mengangkat tema Harmony in Diversity yang mendorong sivitas akademika untuk senantiasa menghargai berbagai keberagaman yang dimiliki oleh Nusantara. Menyuguhkan berbagai penampilan, Pesmaba 2021 dilangsungkan selama lima hari sejak Selasa (21/9) dengan format daring dan luring di Hall Dome UMM menggunakan protokol kesehatan ketat. Pada hari kedua pelaksanaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. selaku Menko PMK sekaligus Ketua BPH UMM memberi selamat kepada para maba yang sudah diterima di Kampus Putih. Ia mendorong para mahasiswa baru untuk segera beradaptasi karena telah berada di fase transformasi diri. Yakni dari seorang siswa sekolah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. “Saudara harus bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang Kampus Putih berikan. Jangan lewatkan satu detikpun untuk tidak belajar dan mencari pengalaman,” ungkapnya. Muhadjir juga sempat memberikan lima pesan bagi mahasiswa baru yang nantinya akan menjadi pemimpin masa depan. Pertama, ia berharap mereka memiliki kemampuan berpikir kritis melalui kegiatan-kegiatan yang UMM sediakan. Pun dengan sikap kreatif dan inovatif yang nantinya akan berguna saat menghadapi beragam permasalahan. “Saya juga ingin agar saudara mampu memiliki keterampilan berkomunikasi dan berkolaborasi. Tak lupa juga saudara harus menjadi insan yang percaya diri,” tutur Muhadjir melanjutkan. Sementara itu, Prof. Haedar Nashir, M.Si mengungkapkan bahwa era ini tidaklah mudah karena kehidupan multikulturalisme semakin kompleks. Ditandai dengan adanya demokrasi, hak asasi manusia (HAM), toleransi, pluralisme, serta hubungan antar kelompok, bangsa dan negara. Maka menurutnya, mahasiswa tidak bisa lagi menghindar. Mereka harus senantiasa mawas diri agar tidak terbawa arus dan menjadi objek multikulturalisme. Menurutnya, saat ini juga menjadi era revolusi digital dan informasi yang mana memberikan kemudahan dan kecepatan. Meski begitu, jika tidak berhati-hati maka anak muda akan menjadi objek hingga terjembab di kehidupan yang tidak baik. “Hal itu bisa terjadi karena kurangnya penguasaan Iptek berdasarkan ilmu, etika dan nilai. Maka perlu adanya peningkatan diri untuk menguasainya dengan baik,” tegasnya. Haedar juga menyebut bahwa era ini juga menjadi era media sosial sebagai konsekuensi revolusi digital. Selain manfaat yang diperoleh, ia juga menyebutkan pelbagai dampak buruknya seperti hoaks, kebencian, berleha-leha dan lainnya. “Selain sukses dalam belajar, ananda juga harus memiliki akhlak yang mulia, cerdas, berilmu dan berkualitas tinggi serta menjadi orang yang berguna agar bisa menghadapi ketiga era tersebut,” tutur Haedar. Kemudian Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. pada pembukaan Pesmaba menyampaikan bahwa gelaran ini merupakan event sakral untuk menyambut keluarga baru Kampus Putih, yakni para mahasiswa. Ia tak lupa memberikan selamat kepada maba karena mampu melanjutkan studi serta menjatuhkan pilihan tepat ke UMM. Fauzan menilai bahwa ketika sudah menginjak predikat mahasiswa, akan ada berbagai tanggung jawab yang harus dipikul. Pun dengan memberikan berbagai kontribusi dan manfaat bagi nusa dan bangsa. “UMM memiliki semboyan yang senantiasa terus menerus digaungkan yakni Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. Oleh karenanya, saudara tidak punya pilihan lain selain menempa dan menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan,” tegasnya. Di samping itu, Fauzan juga menyarankan para maba untuk menjadi aktivis kampus. Menurutnya, berkuliah tidak hanya cukup dengan mengejar nilai tetapi juga harus aktif di berbagai kegiatan. Sehingga mampu mendapatkan nilai-nilai kehidupan dan dapat menjadi sarjana harapan bangsa. Perubahan zaman yang cepat karena Covid-19 sempat disinggung oleh Rektor Fauzan. Keadaan ini dapat menjadi peluang yang besar untuk menegakkan tonggak sejarah. Perlu adanya pemantapan diri dan penentuan cita-cita sejak dini. “Memang tidak mudah, maka saudara harus segera memulai mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri agar mampu berjalan dengan lurus hingga menyelesaikan studi dengan baik,” ungkapnya. Terakhir, ia mengatakan bahwa para maba kini sudah menjadi bagian dari jas merah kampus putih. Maka semangat hidup mahasiswa harus terus menyala dan berapi-api. Dari hal itu, harapannya akan muncul para pemimpin masa depan sesuai passion dan karakter. “Kampus Putih telah menyiapkan kegiatan-kegiatan mahasiswa yang bisa saudara ikuti. Kami juga akan membekali saudara agar tahan banting dan tangguh dalam menghadapi segala situasi,” jelasnya di akhir. Selain itu beragam penampilan memeriahkan gelaran Pesmaba UMM tahun ini. Tarian Mahakarya Galuh Sinopatih pun menjadi daya tarik tersendiri. Koreografi yang unik dan hentakan tari yang asyik menjadi lambang semangat juang yang diperagakan oleh UKM Sangsekerta. Pakaian adat yang berbeda juga mengisyaratkan kerukunan dalam keberagaman. Adapula atraksi menghibur dari tim tapak suci UMM yang menyuguhkan gerakan-gerakan silat menghibur serta memancing decak kagum. Pesmaba UMM 2021 ini juga memberikan hal unik dan berbeda yakni virtual campus tour. Mahasiswa baru diajak menjelajahi sudut-sudut kampus melalui video atraktif dengan sudut pandang pertama. Para maba dibawa menjelajahi ke kampus I, II hingga III. Terbang menyusuri Dome UMM, Masjid AR. Facruddin, kemudian danau hingga stadion sepak bola. (wil)

UMM Siap Adakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Semester Ini

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sigap menyikapi peraturan terbaru dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tentang Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Kampus Putih telah menyiapkan skema pembelajaran baru untuk semester ganjil mendatang. Skema tersebut meliputi pelaksanaan pembelajaran secara daring-luring untuk para mahasiswa angkatan tahun 2020. Kepala Lembaga Informasi dan Komunikasi (Infokom), Ir. Suyatno, M.Si., mengatakan bahwa pelaksanaan PTMT ini dilakukan bagi para mahasiswa semester tiga yang sudah ada di Malang. Sementara bagi mereka yang berada di luar Malang dan terhalang untuk pergi ke kampus, akan tetap mengikuti pembelajaran secara online. “Ini merupakan salah satu upaya kami untuk membatasi kuota mahasiswa yang datang ke kampus. Selain itu, kami juga akan menentukan kuota maksimal untuk masing-masing kelas offline yang nantinya dilaksanakan,” ungkap dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) itu. Untuk mendukung skema baru tersebut, Suyatno mengatakan bahwa Infokom telah memfasilitasi para dosen dan mahasiswa dengan platform Learning Management System (LMS). Pembelajaran PTMT ini akan dibagi menjadi dua tipe yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pembelajaran langsung secara offline akan dilakukan di kampus dan secara online akan dilakukan dengan batuan zoom maupun google meet. “Sementara platform LMS berfungsi untuk pembelajaran tidak langsung seperti pemberian tugas, ujian, dan presensi mahasiswa. Terbaru, kami juga mengembangkan fitur baru yakni presensi untuk dosen dan durasi waktu mengajar ketika menggunakan LMS,” kata dosen asal Rembang tersebut. Disisi lain, Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., mengatakan bahwa skema ini akan dilakukan secara bertahap dengan tetap memantau perkembangan Covid-19 di Malang. Selain itu, dalam pelaksanaan program PTMT kampus, UMM akan memberlakukan syarat yang ketat seperti surat izin dari orang tua, sertifikat vaksin tahap kedua, dan beberapa lainnya. “Saat ini, kita prioritaskan angkatan 2020 dulu. Jika nanti hasilnya bagus dan perkembangan Covid-19 semakin turun, kami mungkin bisa melanjutkan skema tersebut ke angkatan 2021 setelah Ujian Tengah Semester (UTS),” ujar Syamsul. Syamsul mengatakan bahwa protokol kesehatan sangat diutamakan dalam pelaksanaan PTMT terkait. Terutama keterjagaan jarak antar masing-masing mahasiswa. “Pelaksanaan program ini akan berjalan secara fleksibel. Jadi semua komponen harus siap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi serta mendukung terlaksananya program ini. Kami tentu berharap PTMT ini dapat dijalankan dengan lancar dan pandemi ini dapat segera berakhir sehingga kita dapat beraktivitas secara normal kembali,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)

Harmony in Diversity Pesmaba UMM 2021

Mahasiswa baru (Maba) dari berbagai daerah Nusantara turut serta dalam gelaran Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Uniknya, event tahunan ini bertemakan Harmony in Diversity yang mengajak sivitas akademika untuk senantiasa menghargai berbagai keberagaman. Menyuguhkan beragam penampilan, Pesmaba 2021 dilangsungkan dengan format dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring) di Hall Dome UMM dengan protokol kesehatan ketat pada Selasa (21/9) lalu. Paduan suara PSM Gita Surya dan juga iringan musik dari band Follow Bee mengawali kemeriahan Pesmaba tersebut. Kemudian Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan bahwa gelaran ini merupakan event sakral untuk menyambut keluarga baru Kampus Putih, yakni para mahasiswa. Ia tak lupa memberikan selamat kepada maba karena mampu melanjutkan studi serta menjatuhkan pilihan tepat ke UMM. Fauzan menilai bahwa ketika sudah menginjak predikat mahasiswa, akan ada berbagai tanggung jawab yang harus dipikul. Pun dengan memberikan berbagai kontribusi dan manfaat bagi nusa dan bangsa. “UMM memiliki semboyan yang senantiasa terus menerus digaungkan yakni Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. Oleh karenanya, saudara tidak punya pilihan lain selain menempa dan menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan,” tegasnya. Di samping itu, Fauzan juga menyarankan para maba untuk menjadi aktivis kampus. Menurutnya, berkuliah tidak hanya cukup dengan mengejar nilai tetapi juga harus aktif di berbagai kegiatan. Sehingga mampu mendapatkan nilai-nilai kehidupan dan dapat menjadi sarjana harapan bangsa. Perubahan zaman yang cepat karena Covid-19 sempat disinggung oleh Rektor Fauzan. Keadaan ini dapat menjadi peluang yang besar untuk menegakkan tonggak sejarah. Perlu adanya pemantapan diri dan penentuan cita-cita sejak dini. “Memang tidak mudah, maka saudara harus segera memulai mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri agar mampu berjalan dengan lurus hingga menyelesaikan studi dengan baik,” ungkapnya. Terakhir, ia mengatakan bahwa para maba kini sudah menjadi bagian dari jas merah kampus putih. Maka semangat hidup mahasiswa harus terus menyala dan berapi-api. Dari hal itu, harapannya akan muncul para pemimpin masa depan sesuai passion dan karakter. “Kampus Putih telah menyiapkan kegiatan-kegiatan mahasiswa yang bisa saudara ikuti. Kami juga akan membekali saudara agar tahan banting dan tangguh dalam menghadapi segala situasi,” jelasnya di akhir. Selain itu beragam penampilan memeriahkan gelaran Pesmaba UMM tahun ini. Tarian Mahakarya Galuh Sinopatih pun menjadi daya tarik tersendiri. Koreografi yang unik dan hentakan tari yang asyik menjadi lambang semangat juang yang diperagakan oleh UKM Sangsekerta. Pakaian adat yang berbeda juga mengisyaratkan kerukunan dalam keberagaman. Adapula atraksi menghibur dari tim tapak suci UMM yang menyuguhkan gerakan-gerakan silat menghibur serta memancing decak kagum. Pesmaba UMM 2021 ini juga memberikan hal unik dan berbeda yakni virtual campus tour. Mahasiswa baru diajak menjelajahi sudut-sudut kampus melalui video atraktif dengan sudut pandang pertama. Para maba dibawa menjelajahi ke kampus I, II hingga III. Terbang menyusuri Dome UMM, Masjid AR. Facruddin, kemudian danau hingga stadion sepak bola. Tayangan ini menjadi upaya UMM untuk mengenalkan berbagai area yang dimiliki oleh Kampus Putih. Begitupun dengan suasana-suasana yang tidak bisa dirasakan oleh para mahasiswa baru. Apalagi di tengah pandemi yang membuat para mahasiswa luar Malang tidak bisa datang dan mengunjungi UMM. “Mungkin sebagian mahasiswa sudah mengetahui beberapa bagian dari wilayah Kampus Putih. Namun kami ingin lebih menunjukkan seluk-beluk dan berbagai laboratorium serta fasilitas yang ada di di tiga kampus UMM,” tutur Rino Anugrawan, sutradara video pengenalan kampus tersebut. (wil)

Gandeng FASI, UMM Kukuhkan UKM Biru Flying Club

Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti untuk mengembangkan potensi para mahasiswanya. Terakhir, UMM bersama pihak Landasan Udara Abd. Saleh serta Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) mengukuhkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Biru Flying Club. UKM ini merupakan tempat bagi para mahasiswa yang tertarik dengan dunia dirgantara. Adapun gelaran ini dilangsungkan di aula Binayudha Lanud Abd. Saleh pada Senin (20/9) lalu. Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM merasa bersyukur atas lahirnya Biru Flying Club. Nantinya UKM bidang dirgantara tersebut akan melengkapi 60 UKM yang telah dimiliki oleh Kampus Putih. Menurutnya, saat ini anak-anak muda memiliki passion yang bermacam-macam. Maka dari itu, UMM yang memiliki lebih dari 34 ribu mahasiswa merasa bertanggung jawab untuk memfasilitasinya. “Tentu UKM ini akan kami buka seluas-luasnya bagi siapapun yang berminat. Apalagi mengingat prinsip kami yang menganggap bahwa pemimpin lahir tidak hanya dari satu pintu saja. Tetapi bisa melalui berbagai pintu yang ada, salah satunya dengan Biru Flying Club,” tegasnya. Fauzan menilai Biru Flying Club adalah UKM yang mempunyai tantangan tersendiri. Perlu adanya mahasiswa dengan nyali yang kuat dan tangguh. Pun dengan mereka yang senantiasa bersemangat untuk menjalankan aktivitas UKM terkait. “UMM secara konsisten terus menghargai segala kreativitas dan prestasi sivitas akademikanya. Hal itu tidak lepas dari jargon kami yakni tiada hari tanpa prestasi dan tidak ada prestasi yang tidak dihargai,” pungkasnya. Pada kesempatan yang sama, Marsma TNI Zulfahmi, S.Sos., M.Han. selaku Komandan Lanud Abd. Saleh memberikan selamat kepada UMM, khususnya para anggota Biru Flying Club yang telah dikukuhkan. Ia menegaskan bahwa kegiatan yang akan dilakukan nanti memiliki berbagai resiko yang tinggi. Maka dari itu, akan ada banyak aturan dan batasan. “Hal ini tidak lain untuk menjaga dan menjamin keamanan bagi para anggota dan pelaku dirgantara lainnya,” tambahnya. Meski begitu, Zulfahmi yang juga menjabat sebagai Ketua FASI Jawa Timur mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan supervisi dan pengawasan dengan baik. Dengan begitu, beragam aktivitas Biru Flying Club akan lebih aman dan lancar. Pelaksanaan yang rinci dan teliti juga menjadi kunci keselamatan bagi para pihak yang bersangkutan. Ia menambahkan telah ada empat olahraga dirgantara yang dimiliki oleh Lanud Abd. Saleh. Di antaranya terjun payung, paralayang, aero modelling dan terbang layang. Dengan hadirnya Biru Flying Club, akan ada satu penambahan olahraga lain yakni paramotor. “Saya berharap, hadirnya UKM ini mampu meningkatkan minat masyarakat khususnya para mahasiswa dalam olahraga dirgantara. Di samping itu juga agar Lanud Abd. Saleh bisa lebih luas dikenal serta dapat mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa lainnya,” ungkap Zulfahmi melanjutkan. Ketua Biru Flying Club, Umar Faruq mengatakan bahwa antusiasme para mahasiswa akan UKM ini sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang sudah mendaftar. Terhitung, ada lebih dari 50 pendaftar yang ingin mengetahui lebih dalam terkait olahraga dirgantara. “Tentu kami akan menjalin komunikasi yang intens dengan pihak FASI dan Lanud Abd. Saleh agar kegiatan yang dilaksanakan bisa berjalan dengan aman dan lancar,” tuturnya. Umar, panggilan akrabnya berharap UKM tersebut bisa menemukan bibit-bibit berkualitas yang dapat mengembangkan olahraga dirgantara. Utamanya olahraga-olahraga yang akan disediakan oleh Biru Flying Club demi meningkatkan ketertarikan dan antuasiasme masyarakat untuk mendalami bidang ini. “Dengan meningkatnya ketertarikan mereka, akan besar pula kemungkinan untuk mengembangkan aktivitas ini,” pungkasnya mengakhiri. (wil)

Cetak Profesional, Kelas Unggas UMM Berangkatkan Peserta ke Pelaku Industri

Kelas Profesional Unggas Fakultas Pertanian Peternakan (FPP)  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memberangkatkan 40 mahasiswanya untuk mengikuti magang profesi ke beberapa Dunia Industri (DUDI). Adapun pemberangkatan ini dimulai sejak 10 September lalu dan berlangsung selama enam bulan ke depan. Program ini menjadi bentuk komitmen UMM dalam menjalankan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Di samping itu juga bertujuan untuk menghasilkan alumni yang mempunyai kompetensi di bidang farm ayam petelur pullet dan layer. Koordinator Kelas Profesi, Dr. Ir. Abdul Malik, MP. IPU. mengatakan bahwa ada beberapa perbedaan antara magang pertama dengan yang kedua. Pada magang kali ini, para mahasiswa akan berada di lokasi industri selama enam bulan. “Kalau magang pertama dulu kan hanya tiga bulan. Untuk yang kedua ini akan berlangsung lebih lama,” tambahnya. Lebih lanjut, Malik menuturkan bahwa angkatan ini akan mendapatkan spesialisasi keahlian yang lebih banyak. Mereka diharapkan bisa memahami keahlian di bidang pengelolaan farm pullet (pembesaran ayam petelur) sistem close house dan keahlian di bidang manajerial  farm ayam petelur layer (produksi telur). “Jadi sepulang dari magang, mahasiswa diharapkan sudah memiliki dua kompetensi keahlian sehingga mereka bisa menjadi lebih kompetitif saat memasuki dunia kerja nanti,” ungkapnya. Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) PT Jatinom Indah Farm, Sigit Prastyo, SE. mengatakan bahwa pihaknya sudah siap menerima dan memperkuat kegiatan magang keals profesional unggas UMM. Mereka sudah menyiapkan sembilan lokasi dengan 20 kandang close house. Setengahnya akan digunakan untuk pembesaran ayam pullet, sementara yang lainnya untuk kandnag layer. Menurutnya, dengan mengikuti kegiatan magang ini, mahasiswa dapat langsung mengetahui bagaimana memanajemen pemeliharaan ayam. Tidak hanya secara teori saja, tapi juga langsung mengetahuinya di dunia nyata. “Para mahasiswa bisa belajar bagaimana berinteraksi, baik dengan karyawan lain maupun lingkungan masyarakat peternakan,” ujar Sigit. Terpisah, Apriliana Devi Agraini, S.Pt, M.Sc. selaku koordinator magang menjelaskan bahwa jadwal pemberangkatan serta penempatannya akan diserahkan sepenuhnya kepada pihak PT. Jatinom. Kedatangan mahasiswa akan disesuaikan dengan jadwal kedatangan ayam yang akan diurus. Dengan demikian, mereka akan bisa langsung dilibatkan sejak persiapan kandang, biosecurity serta manajemen produksi lanjutan. “Model penjadwalan seperti ini akan memudahkan mahasiswa dalam menyerap materi magang. Di samping itu juga mereka mampu mendapatkan kemampuan yang lebih lengkap dan siap menghadapi duni kerja nantinya. Program magang ini dijadwalkan akan selesai pada Maret 2022 nanti,” tambahnya. Terakhir, Suciyanti Fira, salah satu mahasiswa kelas unggas menyebutkan bahwa selama mengikuti program tersebut ia mendapatkan beragam pengalaman dan kemampuan. Padahal ia baru melaksanakan program magang selama delapan hari. “Ketika nanti masuk di dunia kerja, saya rasa kami tidak perlu lagi mengikuti training berkat program ini. Pengetahuan terkait persiapan kandang hingga cara mengaturnya sudah kami pahami ketika menyelesaikan magang nantinya,” pungkasnya mengakhiri. (*wil)