Sambut Indonesia Emas 2025: Indonesia Butuh “New Collar Workers”

(Pidato Rektor pada Wisuda Ke-119 #4 Hall Dome September 2025)   Peristiwa unjuk rasa yang baru saja kita alami sebagai sebuah bangsa, menunjukkan semakin pentingnya menumbuhkan kesadaran akan makna strategis, dari kemampuan untuk memiliki empati dalam diri setiap insan Indonesia. Berempati memungkinkan seseorang secara sadar melihat kondisi di sekelilingnya. Hal ini membuatnya merasakan keadaan, perasaan, dan pengalaman orang lain. Terutama di tengah berbagai persoalan, tantangan, serta kesenjangan ekonomi dan sosial yang sedang dihadapi bangsa. Transformasi sumber daya insani Indonesia, sangat dibutuhkan untuk dapat menggapai dan mencapai Indonesia Emas tahun 2045. Ini dapat dicapai dengan proses pendidikan yang akan membawa generasi kita pada tantangan besar, yakni penciptaan lapangan kerja produktif di tengah perekonomian global – yang rentan terhadap kelesuan dan sangat volatile. Proses transformasi besar ini membutuhkan lulusan pendidikan tinggi yang memiliki empati kuat. Menumbuhkan empati merupakan proses berkelanjutan yang harus dipupuk dan dilatih secara terus-menerus, Agar seseorang memiliki kemampuan mengelola emosi diri – dalam dimensi makna yang luas dan mendalam, perlu proses untuk membentuk kapabilitas sosial dan emosionalnya. Berikutnya, dibutuhkan praktik-praktik yang tepat untuk melihat keberhasilan dalam membangun empati. Seperti sikap welas asih, menjalin persahabatan, serta budaya literasi yang terus dikembangkan di UMM. Program semacam pendidikan dan pengembangan kepribadian, serta kepemimpinan atau P2KK, Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, serta praktik-praktik pergaulan kampus lain yang menjadi proses interaksional antar sivitas akademika, diharapkan menjadi modal tumbuhnya empati tersebut. Apabila empati didukung oleh kemampuan adaptabilitas yang tinggi – sebagai sebuah kapasitas yang tidak hanya memuat unsur bekerja cerdas atau agile, didukung dengan organisasi yang memiliki sumber daya insani melek digital atau digital dexterity, serta kemampuan melihat perubahan sebagai peluang untuk menjadi bangsa yang lebih maju, maka proses kolaborasi akan dapat dijalankan dengan baik. Dengan demikian, kita dapat menjadi bangsa yang besar, yang kemajuannya tidak lekang oleh zaman dan waktu. Merujuk pada istilah CEO of IBM, Ginni Rometty, ia menyebut new collar workers bukanlah seseorang yang berkerah putih maupun biru, melainkan pembelajar yang tangguh, adaptif, kuat di lapangan, dan siap tumbuh bersama teknologi. Mereka inilah yang akan menjadi andalan bangsa Indonesia dalam menjalani proses transformasi penting menuju Indonesia Emas. Melalui wisuda hari ini, saya ingin mengingatkan kita semua untuk terus tanpa kenal lelah melahirkan alumni-alumni yang membanggakan – dengan kekhasan atau keunikan yang memiliki kemampuan empati dan adaptabilitas yang tinggi. Tentu saja, di luar itu yang terpenting adalah ketakwaan kepada Allah SWT sebagai ciri khas alumni Universitas Muhammadiyah Malang – yang harus senantiasa kita jaga. Demikian sambutan saya pada hari ini, Saya ucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati beserta segenap orang tua yang turut berbahagia.        

Bahlil Lahadalia Buka Tanwir ke-33 IMM, Dorong Anak Muda Punya Visi Bangsa

MALANG, MEMORANDUM.CO.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia membuka Tanwir ke-33 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bertema “Energi Kolektif untuk Negeri” di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu 29 Oktober 2025. Dalam sambutannya, Bahlil menegaskan bahwa negara membutuhkan anak muda yang memiliki visi dan keberanian mengambil keputusan. Bahlil menyebut masa depan bangsa berada di tangan anak muda yang menyiapkan diri secara serius untuk menjadi pemimpin. “IMM ini adalah kader yang kelak menjadi pemimpin negara. Jangan hanya berhenti pada wacana, tapi harus turun tangan mengeksekusi gagasan. Negara ini butuh anak muda yang punya visi dan keberanian mengambil keputusan,” ujar Bahlil Lahadalia. Ia menegaskan kebijakan energi difokuskan pada dua hal utama, yaitu kemandirian energi nasional dan transisi energi berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia tidak boleh bergantung pada impor bahan bakar karena dapat melemahkan kedaulatan ekonomi bangsa. “Kita tidak oplos bensin. Yang kami kembangkan adalah etanol energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong. Ini bukan akal-akalan, tapi langkah nyata agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor,” katanya. Pembukaan Tanwir IMM ke-33 ini dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua PP Muhammadiyah Dr Agung Danarto, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof Dr Muhadjir Effendy, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik, serta Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin. Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik mengapresiasi terselenggaranya Tanwir IMM di kampus UMM dan menyebut forum ini sebagai momentum meneguhkan peran mahasiswa. “Tanwir IMM bukan sekadar forum seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Kami berkomitmen mendukung lahirnya generasi muda yang berani, cerdas, dan siap memimpin,” jelasnya. Sementara itu, Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin mengajak seluruh kader IMM menjadikan Tanwir ke-33 sebagai momentum memperkuat semangat kebangsaan yang berlandaskan iman, ilmu, dan nilai-nilai Islam yang mencerahkan. (edr)

Di Tanwir XXXIII IMM, Ketua DPD RI Kenalkan Gagasan “Green Democracy” untuk Indonesia

Malang, Tugumalang.id – Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Sultan Baktiar Najamudin mendorong penerapan gagasan “Green Democracy” atau Demokrasi Hijau dalam sistem politik nasional. Menurutnya, pembangunan bangsa dan negara harus tetap mengedepankan keseimbangan ekologis agar kemajuan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Gagasan tersebut ia sampaikan saat menjadi keynote speaker pada pembukaan Tanwir XXXIII Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) yang digelar di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara digelar pada 29 – 31 Oktober 2025. Acara tersebut turut dihadiri jajaran anggota DPD RI, antara lain Ahmad Nawardi (Jawa Timur), Bustami Zainudin (Lampung), Zuhri Muhammad Syazali (Kepulauan Bangka Belitung), Ahmad Syauqi Suratno (DIY), Hasby Yusuf (Maluku Utara), Carel Simon Petrus Suebu (Papua), dan Sopater Sam (Papua Pegunungan). Demokrasi Hijau: Menyatukan Politik dan Ekologi Dalam pidatonya berjudul “Gerakan Mahasiswa, Etika Politik Muhammadiyah, dan Demokrasi Hijau: Menyalakan Energi Kolektif untuk Negeri,” Sultan memperkenalkan konsep Demokrasi Hijau, yakni politik yang menempatkan keseimbangan dan keberlanjutan sebagai inti demokrasi. “Green Democracy bukan sekadar soal lingkungan, tapi tentang jiwa bangsa yang hidup selaras dengan alam dan nilai. Ketika politik kehilangan nilai, yang lahir adalah kerakusan. Ketika pembangunan kehilangan keseimbangan, yang tumbuh bukan kemajuan, tapi kerusakan,” tegasnya. Menurut Sultan, Demokrasi Hijau adalah upaya memastikan sistem demokrasi berjalan dengan sejuk dan berkeadilan, dengan mengarusutamakan kesehatan lingkungan. DPD RI, kata dia, berkomitmen untuk mengimplementasikan konsep ini dalam kebijakan nasional. Ekonomi dan Ekologi Harus Berjalan Seimbang Sultan mengakui bahwa penerapan kebijakan berbasis ekologi tidak mudah. Namun, upaya menuju sistem demokrasi hijau harus terus dijaga agar bisa diterapkan hingga pemerintahan mendatang. “Menyiapkan generasi masa depan itu penting, tapi pada saat yang sama kita harus memastikan kebijakan negara tidak hanya fokus pada ekonomi, melainkan juga ekologi. Keduanya harus berjalan paralel,” ujarnya. Ia juga mengajak kader Muhammadiyah untuk menghidupkan kembali etika politik dan tanggung jawab moral dalam membangun bangsa. “Energi kolektif adalah gotong royong dalam makna paling mulia: kesadaran bahwa perubahan sejati lahir dari kerja bersama,” terang Sultan. DPD RI Tegaskan Komitmen Politik Etik dan Berkelanjutan Sultan menegaskan, DPD RI berkomitmen menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, sosial, dan ekologis. Sebagai lembaga perwakilan daerah, DPD RI memastikan kebijakan nasional berpihak pada rakyat serta menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal. “Itulah bentuk politik etik, politik yang sejalan dengan perjuangan Muhammadiyah — menegakkan amar ma’ruf nahi munkar melalui sistem, bukan sekadar slogan,” imbuhnya. Ia menambahkan, dalam mencetak pemimpin masa depan, penting menanamkan nilai, gagasan, dan tindakan yang membawa kehidupan. “Kader IMM harus menjadi generasi yang tidak hanya pandai berpolitik, tetapi juga berjiwa negarawan — pemimpin yang menyeimbangkan antara kekuasaan dan keberlanjutan,” ujarnya. Sultan mengajak seluruh kader IMM menjadikan Tanwir ke-33 IMM sebagai momentum memperkuat semangat kebangsaan yang berlandaskan iman, ilmu, dan nilai-nilai Islam yang mencerahkan. “Saya yakin dari Tanwir inilah akan lahir generasi pemimpin muda Indonesia yang menjaga keseimbangan antara idealisme dan tanggung jawab, antara keberanian dan kebijaksanaan. Itulah energi kolektif untuk negeri — makna sejati dari Green Democracy,” tutupnya.

11 Dekan UMM Dilantik, Siap Jadi Penggerak Strategis

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi melantik 11 dekan baru untuk periode 2025–2029. Prosesi yang digelar di Aula BAU UMM pada Selasa, 30 September 2025 ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan kampus putih, menandai estafet kepemimpinan dari periode sebelumnya kepada generasi baru. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Tohir Luth, MA., menegaskan bahwa jabatan dalam Muhammadiyah tidak boleh dipandang sebagai kehormatan pribadi, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan. Seorang dekan tidak cukup hanya berbekal kemampuan akademik, tetapi juga integritas moral dan keberanian mengambil keputusan. Kepemimpinan kampus, menurutnya, harus memberi keteladanan nyata bagi sivitas akademika. “Kepemimpinan adalah medan perjuangan. Ia harus dijalankan dengan kerja cerdas, ikhlas, dan penuh integritas, karena yang diemban bukan sekadar urusan administrasi, melainkan tanggung jawab terhadap umat dan institusi. Pemimpin sejati adalah mereka yang menggerakkan orang lain menuju kebaikan,” ujarnya. Anggota Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si., memandang pergantian dekan sebagai siklus penyegaran yang memungkinkan fakultas lebih adaptif menghadapi tantangan zaman. Ia menekankan bahwa peran dekan tidak hanya administratif, tetapi juga strategis dalam menentukan arah pengembangan fakultas. “Mereka ini berperan sebagai motor penggerak pengembangan akademik, riset, dan pembinaan mahasiswa. Arah fakultas lima tahun ke depan sangat ditentukan oleh kepemimpinan para dekan baru,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menggarisbawahi prinsip dasar kepemimpinan Muhammadiyah yang berakar pada tiga pilar utama yaitu memperkuat iman dan takwa, mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan melalui kesederhanaan. Ia menilai tiga hal tersebut harus menjadi fondasi utama bagi para dekan dalam merumuskan kebijakan fakultas maupun membimbing sivitas akademika. “Pemimpin fakultas harus hadir sebagai penggerak, bukan pemberi masalah. Kita ingin UMM melahirkan generasi cendekia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap masalah kemanusiaan dan siap berkontribusi di tingkat global,” jelasnya. Deretan dekan baru membawa misi besar di bidang masing-masing. Fakultas Agama Islam (FAI) kini dipimpin Dr. Imamul Hakim, SE., M.Sh., dengan agenda memperkuat tradisi keilmuan Islam dan moderasi beragama. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dinakhodai Dr. Fauzik Lendriyono, S.Sos., M.Si., yang berfokus pada pengembangan riset kebijakan publik dan jejaring politik global. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dipimpin Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., dengan fokus pada inovasi pendidikan guru di era digital. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) kini di bawah kepemimpinan Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto, SE., M.E., Ph.D., yang menekankan kewirausahaan berbasis riset dan ekonomi kreatif. Pada bidang hukum, Prof. Dr. Tongat, SH., M.Hum., kembali dipercaya menakhodai Fakultas Hukum (FH) dengan komitmen pada hukum progresif yang berkeadilan. Fakultas Teknik (FT) dipimpin Dr. Ir. Sulianto, MT., dengan visi memperkuat kolaborasi industri dan daya saing teknologi global. Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) kini di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Ir. Warkoyo, MP., yang berfokus pada riset pangan, energi, dan ketahanan lingkungan berbasis kearifan lokal. Fakultas Psikologi dipimpin Dr. Rr. Siti Suminarti Fasikhah, M.Si., dengan agenda pengembangan psikologi lintas budaya serta kesehatan mental masyarakat. Untuk bidang kesehatan, Fakultas Kedokteran (FK) dinakhodai Dr. dr. Meddy Setiawan, Sp.PD. yang berkomitmen memperkuat pendidikan kedokteran dan riset klinis. Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dipimpin Dr. Hidajah Rachmawati, S.Si., Apt., Sp.FRS., dengan fokus pada farmasi dan kesehatan masyarakat. Terakhir, Fakultas Vokasi dipimpin Dr. Lailis Syafaah, M.T., dengan komitmen memperluas pendidikan vokasi berbasis praktik yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Melalui kepemimpinan baru ini, UMM meneguhkan tekadnya menjadi universitas yang adaptif, inovatif, dan kolaboratif. Pergantian dekan tidak hanya sekadar rotasi jabatan, melainkan momentum strategis untuk mengokohkan UMM sebagai pusat keilmuan dan pengabdian yang memberi kontribusi nyata bagi bangsa maupun dunia. (vin/wil)