Dorong Internasionalisasi, Kemendiktisaintek Ajak PTMA Bangun Ekosistem Riset Global

PWMJATENG.COM, Surakarta – Upaya memperkuat posisi perguruan tinggi Indonesia di kancah global kembali menjadi perhatian serius pemerintah. Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) Mukhamad Najib menegaskan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi bukan sekadar soal peringkat dunia, melainkan tentang membangun ekosistem riset yang berdaya saing global dan berkelanjutan. Hal tersebut ia sampaikan dalam Annual Meeting Asosiasi Kantor Urusan Internasional (ASKUI) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) 2025 yang berlangsung di Hotel Alana, Senin–Rabu (20–22/10). Kegiatan ini dihadiri oleh delegasi dari 45 PTMA di seluruh Indonesia. Najib menjelaskan, jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai sekitar 4.300 institusi, jauh lebih banyak dibandingkan Tiongkok yang hanya memiliki sekitar 2.400. Namun, jumlah yang besar itu belum berbanding lurus dengan kualitas. “Kampus di Indonesia memang banyak, tapi yang masuk top dunia masih sangat sedikit. Ranking itu cerminan dari kualitas akademik dan riset,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa tujuan internasionalisasi bukan sekadar mengejar posisi di QS World University Rankings, melainkan bagaimana kampus mampu menarik talenta global dan memperkuat jaringan riset internasional. Menurutnya, indikator yang digunakan dalam pemeringkatan QS meliputi reputasi akademik, reputasi lulusan di dunia kerja, rasio dosen dan mahasiswa, jumlah dosen serta mahasiswa internasional, dan sitasi per fakultas. “Masalah kita ada pada tiga hal utama: rendahnya sitasi per publikasi, minimnya mahasiswa asing, dan terbatasnya jejaring riset internasional,” kata Najib. Ia mencontohkan, sitasi per kapita tertinggi di Indonesia hanya mencapai 2,6 dan dimiliki ITB, sedangkan universitas di Malaysia bisa mencapai angka 40. Malaysia, lanjutnya, sukses menarik ribuan mahasiswa asing karena ekosistemnya mendukung, termasuk penggunaan bahasa Inggris dalam perkuliahan. “Di sana, banyak kelas internasional yang membuat mahasiswa asing mudah beradaptasi. Di Indonesia, ini masih jadi tantangan,” tambahnya. Untuk memperbaiki hal tersebut, pemerintah kini memfasilitasi kolaborasi riset lintas negara dan membangun repositori nasional agar hasil penelitian dosen Indonesia dapat diakses secara luas. “Banyak penelitian kita bagus, tapi sulit ditemukan. Dengan repository ini, peneliti Indonesia bisa saling memperkuat,” jelasnya. Najib juga menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi negeri dan swasta, termasuk antar-PTS. “Kalau kita saling berkolaborasi, akan muncul ledakan inovasi besar. Bukan hanya dengan luar negeri, tapi juga antarpeneliti dalam negeri,” tuturnya. Dalam konteks internasionalisasi mahasiswa, Najib memaparkan dua program beasiswa yang kini dikelola pemerintah, yakni The Indonesian AID Scholarship (TIAS) dan Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Program tersebut bertujuan memperkuat kerja sama antarnegara dengan mengundang mahasiswa luar negeri belajar di Indonesia. “Saat ini, UMS dan Universitas Muhammadiyah Malang sudah bergabung dalam program itu,” katanya. Ia menegaskan bahwa arah internasionalisasi PTMA ke depan harus berorientasi pada kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). “Kita ingin kampus menjadi Kampus Berdampak. Ukuran keberhasilan bukan hanya riset, tapi juga kontribusi terhadap isu global seperti pengentasan kemiskinan dan peningkatan pendidikan,” ujarnya. Najib menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan riset kelas dunia karena banyak isu lokal yang bernilai global. “Kasus stunting, pemberdayaan ekonomi, hingga sistem sosial di desa bisa menjadi bahan riset kelas dunia. Kita hanya perlu mengemasnya secara ilmiah,” tuturnya. Menutup paparannya, Najib mengajak PTMA menjadikan internasionalisasi sebagai jalan dakwah Islam berkemajuan. “Internasionalisasi bukan hanya soal mahasiswa asing atau akreditasi, tapi bagaimana memperkenalkan Islam berkemajuan di tingkat dunia. Melalui kolaborasi riset dan mobilitas akademik, PTMA bisa menjadi jembatan peradaban global,” pungkasnya. Sementara itu, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Jamhari Makruf yang juga Wakil Ketua V Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, menambahkan bahwa untuk menjadi perguruan tinggi kelas dunia, ada tiga hal yang perlu dilakukan: meningkatkan peringkat, memperkuat internasionalisasi, dan memperluas kerja sama global. “Kalau ingin dikenal dunia, mau tidak mau kita harus masuk ekosistem global,” ujarnya. Jamhari juga menyoroti perlunya reformasi sistem riset nasional, terutama pada durasi dan pembiayaan penelitian. “Riset kita sering dibatasi oleh siklus APBN yang pendek. Penelitian yang bagus butuh waktu panjang dan ruang untuk gagal. Kalau gagal dianggap tidak berhasil, maka inovasi tidak akan pernah tumbuh,” tegasnya.
Abdul Mu’ti Revolusi Pendidikan Nasional, Kemendikdasmen dan PTMA Satukan Kekuatan Ubah Sekolah Indonesia

MELINTAS.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa kementerian yang dipimpinnya saat ini kini lebih terbuka dalam hal bekerja sama dengan berbagai pihak dan sektor Sikap ini menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam memastikan reformasi pendidikan nasional berjalan lebih terarah dan inklusif. Pernyataan ini disampaikan oleh Mu’ti saat menghadiri Rapat Kerja Nasional Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/10). Mu’ti menilai, percepatan kualitas pendidikan tidak bisa dikerjakan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan kemitraan strategis dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Karena itu, Mu’ti mengajak PTMA untuk ikut mengambil peran aktif dalam mengawal kemajuan pendidikan Indonesia. Fokus Kolaborasi dan Program Prioritas Dalam sambutannya, Mu’ti menguraikan sejumlah program prioritas Kemendikdasmen yang berpotensi dijalankan secara kolaboratif bersama PTMA. Salah satu di antaranya adalah revitalisasi satuan pendidikan. Bukan hanya pembenahan sarana dan prasarana, tetapi juga pembenahan tata kelola lembaga, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, dan penguatan manajemen pendidikan. Selain itu, penyusunan kurikulum berbasis kebutuhan zaman turut menjadi perhatian. Kurikulum ini tidak hanya menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan sosial, tetapi juga tetap menanamkan nilai karakter, etika, serta kebangsaan pada peserta didik. Kementerian ingin memastikan mutu pendidikan Indonesia mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Tanwir IMM XXXIII di Malang, Angkat Tema “Energi Kolektif untuk Negeri”

VISI.NEWS | MALANG – Tanwir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ke-XXXIII akan segera digelar di Kota Malang pada 28–31 Oktober 2025. Forum permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar ini akan dihadiri oleh ratusan peserta dari seluruh Indonesia, terdiri dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM se-Indonesia. Sekretaris Jenderal DPP IMM, M. Zaki Mubarak, menjelaskan bahwa Tanwir kali ini mengangkat tema “Energi Kolektif untuk Negeri.” Tema tersebut, katanya, merupakan hasil refleksi panjang terhadap kondisi sosial dan kebangsaan Indonesia saat ini. “Energi kolektif untuk negeri menekankan pentingnya kolektivitas dan solidaritas kader IMM sebagai kelompok strategis mahasiswa untuk menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa,” ujar Zaki, Kamis (23/10/2025). Zaki menambahkan bahwa Tanwir akan menjadi forum evaluasi atas pencapaian setengah periode kepemimpinan DPP IMM sekaligus ajang merancang strategi ke depan. “Tanwir juga akan meresmikan batik resmi organisasi dan mengesahkan beberapa pedoman penting, termasuk sistem perkaderan dan administrasi organisasi terbaru,” jelasnya. Menurutnya, sistem perkaderan terbaru yang akan disahkan merupakan hasil dari Simposium Perkaderan di Medan, sementara pedoman administrasi organisasi disusun berdasarkan masukan dari berbagai DPD untuk menyempurnakan tata kelola kelembagaan IMM. “Kami ingin memastikan semua regulasi organisasi bisa adaptif, relevan, dan responsif terhadap dinamika zaman,” katanya. Lebih lanjut, Zaki menegaskan bahwa Tanwir IMM 2025 akan menjadi momentum strategis yang mempertemukan ratusan kader dari berbagai daerah untuk membahas isu-isu aktual seperti pendidikan, sosial, dan transformasi digital dalam konteks keumatan dan kebangsaan. “Melalui forum ini, IMM diharapkan melahirkan gagasan konkret dan langkah sinergis untuk menjawab tantangan masyarakat modern,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Muh. Idil, menyebut bahwa kesiapan Tanwir telah mencapai 80 persen. Menurutnya, seluruh tim panitia bekerja lintas wilayah secara kolaboratif dan solid. “Kesiapan ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga spiritual dan ideologis. Tanwir menjadi momentum konsolidasi nasional kader IMM yang siap berkontribusi nyata untuk umat dan bangsa,” tuturnya. Lebih dari 300 peserta dari 34 provinsi telah dikonfirmasi hadir di Kota Malang. Mereka bukan hanya mewakili daerah masing-masing, tetapi juga membawa ide, semangat, dan arah strategis bagi masa depan gerakan mahasiswa Muhammadiyah. “Tanwir lebih dari sekadar forum musyawarah nasional. Ini titik tolak bagi gerakan kader Muhammadiyah dalam mewujudkan energi kolektif untuk negeri, sinergi gagasan, aksi, dan kepemimpinan muda untuk Indonesia yang berkemajuan,” ujar Idil. Sebagai penutup, Idil menyampaikan bahwa Tanwir IMM XXXIII akan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, M.Si, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, dan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Nazaruddin Malik, serta beberapa tokoh lain dari unsur akademisi dan pemerintah. “Kehadiran tokoh-tokoh ini menunjukkan dukungan dan perhatian besar terhadap peran strategis IMM sebagai bagian dari kekuatan muda bangsa,” pungkasnya.
Jejak Langkah Pembela Kreativitas: Menjadi Garda Depan Perlindungan Kekayaan Intelektual melalui Program COE UMM di Mavens IP

kompasiana Malang, 22 Oktober 2025 – Program Centre of Excellence (Pusat Keunggulan) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia kerja. Salah satu buktinya adalah pengalaman menarik Uwais, mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam yang berkesempatan mengikuti program magang di Mavens IP Consulting Service melalui program COE UMM. Imroatus Sholihah, S.Sy., S.H., M.H., Dosen Pembimbing Program COE Fakultas Hukum UMM, menjelaskan bahwa “Program COE UMM dirancang khusus untuk membekali mahasiswa dengan hard skills dan soft skills yang dibutuhkan industri. Kerjasama dengan Mavens IP Consulting melalui nota kesepahaman yang telah terjalin memungkinkan mahasiswa seperti Uwais mendapatkan pengalaman langsung di bidang kekayaan intelektual.” Pengalaman Nyata di Lapangan Selama tiga bulan menjalani program, Uwais terlibat aktif dalam berbagai kasus nyata perlindungan kekayaan intelektual. “Saya mendapatkan pengalaman langsung menangani pendaftaran merek, hak cipta, hingga membantu penyelesaian sengketa plagiarisme. Ini sangat relevan dengan konsentrasi Hukum Korporat yang saya ambil, meski latar belakang saya adalah Hukum Keluarga Islam,” tutur Uwais antusias. Manfaat dan Pembelajaran Adapun manfaat konkret yang diperoleh Uwais selama magang meliputi: Kemampuan melakukan pencarian merek dan analisis kebaruan karyaPenyusunan dokumen permohonan hak cipta dan merek Penanganan kasus pelanggaran hak cipta digital Konsultasi langsung dengan klien dari berbagai sektor industri Pemahaman praktis tentang UU Hak Cipta dan implementasinya Sinergi Akademi dan Industri Moh. Fahrial Amrulla, S.H., M.H., Pemilik Mavens IP Consulting, menegaskan bahwa “Program COE ini sangat sejalan dengan visi kami untuk membentuk generasi baru konsultan KI yang kompeten. Mahasiswa seperti Uwais membawa perspektif segar sekaligus mendapatkan bekal praktis yang tidak didapat di bangku kuliah biasa.” Sementara Adelia Anggita Priskilla, S.H., Manager Mavens IP, menambahkan bahwa “Uwais menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam menangani portofolio klien. Ia terlibat langsung dalam proses pendaftaran merek hingga penyelesaian sengketa, yang merupakan pengalaman berharga bagi calon konsultan hukum.” Nilai Tambah Program COE Program COE UMM sendiri merupakan jalur pendidikan alternatif di luar jalur reguler yang fokus pada penyiapan SDM unggul melalui kerjasama dengan mitra dunia usaha dan industri (DUDI). Keunikan program ini memungkinkan hasil kerja magang dapat dikonversi menjadi tugas akhir, memberikan efisiensi waktu dan relevansi yang tinggi bagi mahasiswa.
Dari Kampus ke Dunia Profesional: Tansformasi Mahasiswa CoE UMM Bersama MAVENS IP

kompasiana – Dunia akademik tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menuntut kemampuan menerapkan ilmu di lapangan. Hal inilah yang dirasakan oleh Bagus Adi Pratama, mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat menjalani magang di Mavens IP Consulting, sebuah lembaga konsultan yang bergerak di bidang Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP). Melalui program Center of Excellence (COE) UMM, Bagus mendapatkan kesempatan untuk bertransformasi dari pembelajar akademik menjadi memahami hukum dalam praktik nyata. Tugas dan Pengalaman Magang Selama magang, Bagus terlibat dalam berbagai kegiatan yang mencerminkan luasnya cakupan dunia hukum kekayaan intelektual. Ia bertanggung jawab dalam penyusunan berkas pendaftaran merek dagang, pengecekan dokumen hak cipta, serta pembuatan berkas pendaftaran desain industri dan paten. Selain itu, Bagus juga mempelajari prosedur penyelesaian sengketa HKI, mulai dari tahap mediasi hingga persiapan dokumen hukum. Dalam proses ini, ia harus memahami regulasi nasional serta ketentuan internasional seperti perjanjian TRIPs dan sistem Madrid Protocol. “Magang di Mavens memberikan pengalaman langsung tentang bagaimana perlindungan kekayaan intelektual dijalankan secara profesional, mulai dari proses administratif hingga aspek hukum yang lebih teknis,” jelas Bagus Adi Pratama. Manfaat dan Pembelajaran Melalui pengalaman ini, Bagus tidak hanya menguasai aspek hukum tertulis, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, ketelitian administrasi, dan tanggung jawab profesional. Ia belajar memahami bahwa setiap karya—baik berupa logo, desain, musik, maupun inovasi teknologi—memiliki nilai hukum dan ekonomi yang perlu dilindungi. “Dunia hukum kekayaan intelektual sangat dinamis. Saya belajar pentingnya ketepatan waktu, komunikasi dengan klien, serta kesesuaian dokumen dengan regulasi yang berlaku,” tambahnya. Adelia Anggita Priskilla, Manager Mavens IP Consulting, menyampaikan apresiasinya terhadap mahasiswa magang dari UMM. “Kami melihat potensi luar biasa dari mahasiswa COE. Mereka datang dengan semangat tinggi, dan kami berupaya memberikan pengalaman kerja yang nyata agar siap terjun ke dunia profesional,” ungkapnya. Dosen pembimbing, Imroatus Sholihah, juga menegaskan pentingnya sinergi akademik dan praktik. “Program COE UMM hadir untuk memberikan ruang bagi mahasiswa agar bisa belajar langsung dari praktisi. Kolaborasi dengan Mavens menjadi contoh nyata bagaimana kampus menyiapkan lulusan yang kompeten dan berintegritas,” jelasnya. Sinergi Kampus dan Industri Program magang ini menjadi bukti nyata keberhasilan sinergi antara COE UMM dan Mavens IP Consulting dalam membentuk ekosistem pembelajaran yang berorientasi pada dunia kerja. Melalui kemitraan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengenal realitas hukum kekayaan intelektual, berinteraksi dengan klien internasional, dan memahami tantangan industri hukum modern. Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran kampus dalam menghasilkan lulusan yang siap menghadapi era profesional, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan dunia hukum di Indonesia. Profil Institusi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) — Melalui program Center of Excellence (COE), UMM berkomitmen menyiapkan mahasiswa unggul dan siap kerja dengan menggabungkan pembelajaran akademik dan pengalaman profesional. Mavens IP Consulting — Lembaga konsultan hukum yang berfokus pada perlindungan kekayaan intelektual, meliputi merek, hak cipta, desain industri, paten, dan penyelesaian sengketa.
Ternyata Ekonomi Inklusif Pernah Diterapkan di Indonesia dan Saat Ini Belum Tercapai

voi – YOGYAKARTA Ekonomi inklusif di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan Purbaya mempresentasikan usulan anggaran Kemenkeu 2026 senilai Rp52 triliun di hadapan Komisi XI DPR RI. Visi transformasi ekonomi yang merata ini sebenarnya bukan konsep baru bagi Indonesia, melainkan cita-cita lama yang pernah diupayakan sejak era awal kemerdekaan namun hingga kini belum sepenuhnya terwujud. Menariknya, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menerapkan prinsip-prinsip ekonomi inklusif melalui berbagai kebijakan, mulai dari sistem ekonomi Pancasila hingga program-program pemerataan pembangunan di masa Orde Baru. Namun faktanya, kesenjangan ekonomi masih menjadi tantangan besar yang memerlukan pendekatan baru dan komitmen kuat untuk mencapai pemerataan sejati. Jejak Ekonomi Inklusif di Indonesia Dilansir dari laman Eprints Universitas Muhammadiyah Malang, pemikiran ekonomi inklusif mulai berkembang secara global pada 1990-an ketika Bank Dunia menyadari pentingnya partisipasi semua lapisan masyarakat dalam pembangunan. Barulah melalui laporan “Pertumbuhan Ekonomi Inklusif: Strategi untuk Meningkatkan Kesejahteraan” tahun 1995 menjadi tonggak awal, yang kemudian diperkuat dengan program khusus Bank Dunia pada 2011. Di Indonesia, konsep ini mulai diadopsi sejak awal 2000-an sebagai respons terhadap ketimpangan ekonomi yang disebabkan dominasi ekspor komoditas dan investasi asing. Pemerintah menginisiasi Program Keluarga Harapan (PKH) untuk membantu keluarga miskin mengakses peluang ekonomi. Baca juga artikel yang membahas Belajar Ekonomi dengan Mudah! Pahami Perbedaan Utama antara Keunggulan Mutlak dan Komparatif Komitmen lebih konkret ditunjukkan pada 2015 ketika ekonomi inklusif resmi menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dengan target mengurangi kemiskinan dan kesenjangan melalui pemerataan akses ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia. Ekonomi Inklusif Pernah Diterapkan di Indonesia, Bagaimana Hasilnya? Implementasi ekonomi inklusif di Indonesia menunjukkan hasil yang fluktuatif namun cukup menjanjikan. Berdasarkan data Bappenas tahun 2024 mencatat Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif (IPEI) konsisten meningkat sejak 2016 hingga 2019, meski sempat terpukul pada 2020 akibat pandemi COVID-19. Meskipun demikian, ada kabar baik setelah pemberlakuan new normal, IPEI kembali mengalami peningkatan dengan rata-rata nasional mencapai 5,76 (dimana angka ini masuk kategori memuaskan). Hal ini sekaligus membuktikan resiliensi ekonomi Indonesia dalam menghadapi krisis. Namun, angka statistik yang baik tidak serta-merta menyelesaikan persoalan mendasar. Ketimpangan ekonomi masih menjadi PR besar. Gini ratio Indonesia yang relatif tinggi menunjukkan distribusi pendapatan belum merata, di mana pertumbuhan ekonomi belum dinikmati secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Masalah kemiskinan struktural, akses kesempatan kerja yang terbatas, dan kesenjangan PDRB perkapita antar daerah masih menganga lebar. PDRB perkapita sebagai indikator kesejahteraan memang meningkat, namun pertumbuhan ini terkonsentrasi di wilayah tertentu saja. Ketenagakerjaan menjadi titik krusial, dan banyak angkatan kerja masih kesulitan mendapat pekerjaan layak. Artinya, meski ekonomi inklusif telah diterapkan, implementasinya belum optimal untuk menciptakan pemerataan sejati yang menjangkau seluruh pelosok Indonesia. Selain pembahasan mengenai Ekonomi Inklusif Pernah Diterapkan di Indonesia, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI, untuk mendapatkan kabar terupdate jangan lupa follow dan pantau terus semua akun sosial media kami!
HJB ke-348, Pemkab Bojonegoro Teken MoU dengan 8 Kampus
metrotv – Malam tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-348 Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi momentum penting dalam tonggak sejarah pendidikan. Pasalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melakukan sebuah nota kesepahaman (MoU) dengan delapan kampus perguruan tinggi, yang bertujuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. “Spesial Karen pertama ini adalah Hari Ulang Tahun ke-348, dan tema kami adalah Bersinergi Membangun Bojonegoro Mandiri.” kata Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Rabu, 22 Oktober 2025. Malam tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-348 Kabupaten Bojonegoro, yang digelar di Pendopo Malowopati ini berlangsung cukup sakral dan khidmat. Tasyakuran dan doa bersama dari tokoh lintas agama ini diawali dengan penyemayaman api abadi yang dilakukan oleh Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono. Sebelumnya, api abadi yang diambil dari Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, ini berada di tangan Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, Abdulloh Umar. Dengan dikawal oleh seorang cucuk papah, Ketua DPRD bersama denga rombongannya mengarak api abadi dari Kantor Badan Koordinasi Wilayah dan Pembangunan (Bakorwil) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Jalan Pahlawan, sampai ke Jalan Mas Tumapel, hingga memasuki Pendopo Malowopati, Kabupaten Bojonegoro. Sesampainya di Pendopo Malowopati, api abadi ini diserahkan oleh Ketua DPRD Abdulloh Umar kepada Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah. Pada saat menerima api abadi tersebut, Bupati dan Wakil Bupati juga didampingi seluruh jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) kabupaten setempat. Ini merupakan tradisi yang sudah dijalankan secara turun temurun sejak zaman nenek moyang. Tanggal 20 Oktober merupakan HUT Kabupaten Bojonegoro, yang kemudian lebih dikenal sebagai Hari Jadi Bojonegoro (HJB). Dalam kesempatan tersebut, Kabupaten Bojonegoro melakukan sejumlah terobosan penting dalam tonggak sejarah pendidikan. Yakni melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan delapan kampus universitas perguruan tinggi. Langkah konkret ini tidak lain adalah merupakan komitmen dan kepedulian pasangan Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro, sebagai upaya meningkatkan kualita serta mutu pendidikan yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Delapan kampus universitas perguruan tinggi yang melakukan penandatanganan nota kesepahaman ini, di antaranya adalah: Universitas Erlangga Surabaya Institut Pertanian Bogor Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Intitut Teknologi Nasional Universitas NU Sunan Giri Bojonegoro Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Cendekia Bojonegoro Dalam sambutannya, Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono memaparkan, dengan dilakukannya penandatanganan nota kesepahaman harapannya melalui kajian dan riset mereka, Pemkab Bojonegoro bisa menjadikan acuan, sekaligus panduan dalam menyelenggarakan roda pemerintahan secara baik dan terukur. Menurut Bupati Wahono, Kabupaten Bojonegoro bukan milik sekelompok orang saja, melainkan milik bersama seluruh masyarakat Bojonegoro, sehingga untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu pendidikan perlu adanya kolaborasi dan kerja sama yang apik dari semua pihak, serta elemen masyarakat Bojonegoro. “Tentu ini butuh kolaborasi, butuh kerja sama, dan tahun ini kami bisa melakukan doa bersama mendoakan Bojonegoro dan punya rasa memiliki bahwa Bojonegoro ini adalah milik semua masyarakat.” ucap Setyo Wahono.
Haedar Nashir: Mentarimu Mart Harus Jadi Gerakan Ekonomi Umat yang Berdaya

pikiranlampung – Jawa Timur (Pikiran Lampung) – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, meresmikan Mentarimu Mart di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan harapan besar. Ia ingin Mentarimu Mart tidak hanya menjadi pusat ritel di kampus, tetapi juga menjadi gerakan ekonomi umat yang memberdayakan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di lingkungan Muhammadiyah dan masyarakat luas. “Jangan biarkan MentariMu berhenti pada level retail kampus, tetapi jadikan pusat pemberdayaan UMKM di lingkungan Muhammadiyah,” tegas Haedar dalam sambutannya, seperti yang dilansir muhammadiyah.or.id Ia menekankan bahwa pelaku UMKM di Indonesia menghadapi banyak tantangan, seperti kekurangan modal, manajemen, dan pengetahuan tentang pengelolaan barang. Haedar berharap Mentarimu Mart dapat menjadi solusi bagi permasalahan tersebut dan menjadi pusat pemberdayaan UMKM yang efektif. “Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi?” imbuhnya. (*)
Ketua Umum PC IMM Malang Raya: Tanwir IMM akan Dimeriahkan oleh Budaya Khas Malang

pwmu.co – Panitia Lokal Tanwir Malang menunjukan kesiapan penuh untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada 28-31 Oktober 2025 nanti. Ketua Umum Pimpinan Cabang (PC) IMM Malang Raya, Kelvin Argo Beni menegaskan, sebagai tuan rumah, pihaknya tidak ingin Tanwir hanya menjadi forum musyawarah yang kaku. “Sesuai dengan tema besar Energi Kolektif untuk Negeri, kami ingin menghadirkan atmosfer yang merefleksikan semangat dan kearifan lokal Bumi Arema. Kami ingin para peserta Tanwir dari Sabang sampai Merauke merasakan keramahan dan spirit khas Malang. Ini adalah bagian dari ‘energi kolektif’ yang kami suguhkan dari tuan rumah,” jelasnya. Ia mengatakan bahwa untuk mewujudkan hal tersebut, panitia lokal telah menyiapkan beberapa pertunjukan budaya khas Malang untuk ditampilkan dalam rangkaian acara pembukaan. “Kami akan menyuguhkan kemegahan Tari Topeng Malangan untuk menyambut para peserta Tanwir dan tamu undangan. Tarian ini, jika didalami makna dan filosofinya, sarat akan makna dinamika dan energi,” ungkapnya di Malang pada Selasa (22/10/2025). Media sosial resmi Tanwir juga memfamiliarisasikan beberapa local wisdom dari Malang Raya, seperti Bantengan dan Sound Horeg. Selain itu, terdapat beberapa destinasi yang direkomendasikan oleh panitia untuk dikunjungi selama di Malang. Ia mengungkapkan bahwa untuk kesiapan H-7 Tanwir sendiri sudah menyentuh angka 80%. Masing-masing divisi juga telah mempersiapkan distribusi perlengkapan dan kebutuhan-kebutuhan teknis lainnya. Tinggal beberapa item teknis yang masih menunggu informasi dari DPP IMM. Gelaran Tanwir nantinya akan dipusatkan di dua tempat, yakni di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk pembukaan tanwir, dan yang kedua berada di Gedung Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPVBOE) Arjosari. “Insya Allah nanti di pembukaan akan dihadiri beberapa tokoh nasional dan diramaikan oleh 8000 peserta pembukaan. Kami IMM Malang Raya sangat siap untuk menyukseskan dan meramaikan Tanwir IMM di Kota Malang,” ucapnya.(*)
Maharesigana UMM Raih Juara Umum di Ajang Nasional Pengurangan Risiko Bencana

MALANG (SurabayaPost.id) – Maharesigana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih gelar Juara Umum pada Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2025 yang diselenggarakan di Mojokerto, Jawa Timur. Dalam ajang nasional ini, Maharesigana UMM berhasil meraih tiga penghargaan utama, yaitu Juara 1 Stand Kreatif Terbaik, Juara 1 Program Inovatif Terbaik, dan Juara 2 Media Edukasi Terbaik. Ketua Umum Maharesigana UMM, Rindya Ferry Indrawan, mengatakan bahwa prestasi ini merupakan hasil dari komitmen kemanusiaan yang kuat di antara anggotanya. “Pencapaian ini tidak lepas dari kerja keras dan semangat kemanusiaan seluruh tim. Kami ingin terus membuktikan bahwa generasi muda harus siap, sigap, dan tangguh dalam menghadapi bencana,” kata Rindya, Rabu (22/10/2025). Salah satu inovasi terbaik datang dari anggota tim, Ana, yang meraih Juara 1 Program Inovatif Terbaik. Ia mengatakan bahwa program inovatif itu merupakan hasil kolaborasi demi memberikan solusi praktis di lapangan. “Harapannya, karya itu benar-benar bisa diaplikasikan untuk membantu masyarakat dalam memitigasi dan merespons bencana secara lebih efektif,” ungkapnya. Keberhasilan Maharesigana UMM ini mendapat apresiasi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Wahyu Heniwati, S.E., M.M. Ia menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dan generasi muda dalam menciptakan ketangguhan. “Pencapaian Maharesigana UMM ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi dan gerakan kerelawanan mampu melahirkan solusi-solusi inovatif,” katanya. Dengan prestasi ini, Maharesigana UMM semakin membuktikan diri sebagai salah satu lembaga kemanusiaan yang tangguh dan inovatif di Indonesia. (lil).