Begini Pesan Kapolri dan Menteri Desa untuk Pemuda di Tanwir IMM

Penutupan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) diwarnai pesan kolaboratif dari dua tokoh nasional, Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si. dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) RI, Yandri Susanto, S.Pt., M.Pd. Keduanya menekankan pentingnya sinergi antara generasi muda dan pemerintah dalam menghadapi tantangan global dan membangun kemandirian bangsa, khususnya di sektor desa dan ketahanan nasional. Adapun agenda ini dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 31 Oktober 2025 ini. Dalam paparannya, Listyo Sigit menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik global yang tengah bergejolak. Ia menyoroti lebih dari 110 konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, termasuk perang Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina, yang berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi, pangan, dan energi dunia. Ia melanjutkan, meski dunia menghadapi inflasi global dan ketidakpastian, Indonesia masih berada dalam kondisi yang cukup baik. Namun, Indonesia tidak boleh lengah. Ia juga menekankan pentingnya swasembada pangan dan energi sebagai kunci menghadapi krisis dunia. Ia menjelaskan bahwa Polri turut berperan aktif, salah satunya melalui program penanaman jagung di lahan seluas satu juta hektare. Maka menurutnya, Polri sangat terbuka kepada IMM untuk bekerja sama dalam hal tersebut. Selain itu, Listyo Sigit menyinggung pentingnya bonus demografi yang harus dimanfaatkan secara produktif agar tidak berubah menjadi bencana demografi. Ia memaparkan berbagai langkah pemerintah, seperti pembangunan sekolah rakyat, peningkatan kesejahteraan guru, program magang vokasi, serta dukungan terhadap UMKM sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia unggul. Kapolri juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan teknologi digital, terutama fenomena misinformasi, disinformasi, dan deepfake yang dapat merusak sendi kehidupan sosial. “Kita memasuki era citizen journalism. Siapapun bisa mengomentari, siapapun bisa menjadi sumber. Maka, saring dulu sebelum sharing,” tegasnya. Isu sosial seperti judi online dan penyalahgunaan narkoba turut menjadi perhatian. Data Polri menunjukkan, pengguna judi daring tertinggi berasal dari kelompok berpendapatan rendah, bahkan melibatkan anak di bawah umur. Hingga kini, Polri telah memusnahkan 288 ton narkoba berbagai jenis yang berpotensi memengaruhi lebih dari 629 juta jiwa. Menutup pesannya, Listyo menegaskan dukungan Polri terhadap IMM sebagai mitra strategis dalam menjaga ketertiban dan menjadi kekuatan moral bangsa. Hal tersebut dikarenakan IMM memiliki peran penting sebagai suara moral dan intelektual yang menyeimbangkan kebijakan pemerintah. Sementara itu, Menteri Yandri Susanto hadir dengan semangat kolaboratif, mengajak IMM menjadi bagian dari gerakan pembangunan desa berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk berceramah, melainkan untuk membangun kemitraan konkret. Ia menukil pesan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ‘Kita bukan superman, tetapi superteam’. Ia menyoroti tantangan urbanisasi ekstrem seperti di Jepang dan Korea Selatan, di mana sebagian besar penduduk meninggalkan desa untuk tinggal di kota. Fenomena ini, katanya, berpotensi menimbulkan krisis sosial dan ekonomi. “Desa telah menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek. Itulah mengapa pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan menjadi fokus utama pemerintah,” jelasnya. Yandri menjelaskan capaian positif Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mencatatkan pendapatan bersih hingga Rp28 miliar per tahun, serta kemajuan desa ekspor di berbagai daerah seperti Blitar dan Banyumas. Pemerintah, tambahnya, kini mendorong munculnya desa tematik, seperti desa ikan nila, desa ayam petelur, hingga desa jagung dan timun. Saat ini, pihaknya telah bekerjasama dengan Polri melalui program Desa Bersinar (Bersih Narkoba), yang melibatkan 20 satgas anti-narkoba di tiap desa. “Adapun hari ini saya siap menandatangani MoU dengan Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM), semoga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tambahnya. Dengan ditandatanganinya MoU antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama UMM di agenda IMM menandai langkah nyata sinergi. Yakni antara akademisi, pemerintah, dan generasi muda untuk membangun Indonesia dari akar peradaban yaitu desa. Sebagai tuan rumah, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menekankan pentingnya melahirkan insan paripurna, manusia seutuhnya yang tidak hanya unggul dalam transfer ilmu, tetapi juga spiritualitas, keagamaan, dan kebangsaan. “UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah akan terus mendukung kegiatan seperti Tanwir ini,” ujarnya. Penutupan Tanwir XXXIII IMM menjadi titik penting kolaborasi antara pemerintah dan mahasiswa Muhammadiyah. Melalui kehadiran Kapolri dan Menteri Desa, semangat membangun bangsa dari desa hingga kota mendapat makna baru, bahwa perubahan sosial tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan melalui kerja sama, kepemimpinan moral, dan komitmen kolektif. (bil/wil)
Menteri ESDM Bahlil Ajak Mahasiswa Muhammadiyah Wujudkan Kemandirian Energi Nasional

JAVASATU.COM- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajak mahasiswa, khususnya kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), untuk berperan aktif mewujudkan kemandirian energi nasional. Ajakan itu disampaikan dalam pembukaan Tanwir XXXIII IMM di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (29/10/2025). Dalam pidatonya, Bahlil menekankan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada keberanian generasi muda untuk tidak hanya bermimpi, tetapi juga bertindak nyata. Menurutnya, Indonesia harus segera keluar dari ketergantungan terhadap impor energi dengan memperkuat produksi dan inovasi energi dalam negeri. “Kita tidak boleh terus bergantung pada impor energi. Ini bukan akal-akalan, tapi langkah nyata agar Indonesia berdikari di bidang energi,” tegas Bahlil. Ia menjelaskan, pemerintah tengah mendorong penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) dari sumber daya alam dalam negeri. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi transisi energi ramah lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani. “Penggunaan etanol akan menguntungkan banyak pihak, termasuk petani, karena bahan bakunya berasal dari hasil bumi kita sendiri. Sekaligus membantu menekan emisi karbon,” ujarnya disambut antusias ribuan peserta Tanwir. Bahlil juga menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor gas LPG, yang mencapai 87 ton per tahun, sementara produksi nasional hanya 1,4 juta ton. Ia menyebut kondisi itu menjadi alasan kuat untuk mempercepat program hilirisasi Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG impor. “Setiap tahun kita kehilangan devisa Rp520 triliun karena impor energi. Karena itu, kita akan bangun hilirisasi DME agar seluruh kebutuhan energi bisa dipenuhi dari dalam negeri,” tegasnya. Selain membahas kebijakan energi, Bahlil menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai penggerak inovasi dan agen perubahan. Ia menilai IMM memiliki potensi besar menjadi mitra strategis pemerintah dalam mempercepat transisi energi. “Saya ingin mahasiswa Muhammadiyah menjadi pelopor inovasi energi alternatif. Jangan biarkan potensi negeri ini diambil pihak luar hanya karena kita takut mencoba,” kata Bahlil. Sementara itu, Ketua Umum DPP IMM Riyan Betra Delza mengajak seluruh kader untuk menguatkan semangat “energi kolektif” demi kemajuan bangsa. Ia menegaskan bahwa IMM tidak boleh hanya terjebak dalam wacana, melainkan harus menyalurkan gagasan menjadi aksi nyata. “IMM harus menjadi motor penggerak perubahan sosial dan intelektual yang adaptif. Kita harus menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif bagi pemerintah,” ujar Riyan. (saf)
Kamisya UMM Ajak Mahasiswa Perkuat Kedekatan dengan Al-Qur’an

pwmu.co – Kegiatan Kajian Al-Qur’an Maghrib Isya (Kamisya) yang digelar oleh Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib dalam Kurikulum (BPP-MKWK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pekan ini mengusung tema “Stay Close with Qur’an”. Kajian ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDA) Kota Malang, Lailatul Fithriyah Azzakiyyah, M.Pd.I. sebagai narasumber pada Kamis (23/10/2025). Lailatul membuka kajian ini dengan sebuah pertanyaan reflektif kepada para mahasiswa. “Bagaimana interaksi kita dengan Al-Qur’an? Coba kita perhatikan gambar-gambar ini,” ujarnya sambil menunjuk materi di layar. Penggagas metode Tahfiz Qur’an Tematik (TQT) tersebut menyampaikan pertanyaan reflektif apakah umat sudah dekat dengan Al-Qur’an atau justru lebih akrab dengan HP. “Apakah kita sudah dekat dengan Al-Qur’an atau justru lebih akrab dengan HP? Saat ini, waktu kita lebih banyak tersita oleh HP daripada bersama Al-Qur’an,” tuturnya. Lebih lanjut, pengasuh Kajian Keislaman Muslimah Indonesia Diaspora itu menjelaskan hakikat Al-Qur’an sebagai mukjizat agung. “Di antara mukjizat agung Al-Qur’an dari aspek ilmiah terdapat pada ayat, ‘Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan’ (Q.S. an-Naml: 88),” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pentingnya penelitian terletak pada bagaimana cara umat memaknai ayat tersebut. “Bagaimana kita memaknai ayat ini? Di sinilah letak pentingnya penelitian dilakukan,” tambahnya. Mengutip penjelasan Prof. Quraish Shihab dalam buku Mukjizat Al-Qur’an, Laila menyampaikan bahwa setelah turunnya ayat tersebut, para ilmuwan geologi melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa gunung-gunung memang mengalami pergeseran. “Penelitian di wilayah Irak dan Suriah menemukan bahwa gunung di Irak perlahan bergerak mendekati gunung di Suriah. Hal ini membenarkan isyarat ilmiah Al-Qur’an tentang gerak bumi dan pegunungan,” tegasnya. Mukjizat ilmiah lainnya, lanjutnya, terdapat dalam Q.S. al-Qamar ayat 13: “Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” Menurut Laila, penyebutan papan dan paku bukanlah tanpa makna. “Bahan baku kapal Nabi Nuh adalah papan dan paku. Pemilihan dua kata ini dalam Al-Qur’an tentu mengandung rahasia ilmiah,” ucapnya. Ia menambahkan, beberapa penelitian arkeologis modern juga menyinggung keberadaan kapal Nabi Nuh yang diyakini berada di sekitar Gunung Ararat, Turki. “Temuan-temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara teks Al-Qur’an dan bukti arkeologis berupa sisa-sisa struktur kayu atau papan dan pasak (paku) yang hingga kini masih terus diteliti oleh para ahli,” sambungnya. Magnet Keberkahan Al-Qur’an Lebih lanjut ia menegaskan bahwa ketika membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, kita akan mendapatkan keberkahan dari-Nya. Mendengarkan saja sudah berpahala, apalagi jika kita memahami, mentadabburi, dan mengamalkan nilai-nilainya. Menurutnya, di antara magnet keberkahan yang diperoleh dari interaksi dengan Al-Qur’an antara lain: memperoleh rahmat ketika mendengarkannya (Q.S. al-A‘raf: 204), mendapatkan pahala berlipat saat membacanya (Q.S. Fathir: 29-30), meraih hikmah dan ketenangan ketika mentadabburinya (Q.S. Shad: 29), memperoleh petunjuk hidup ketika mengamalkan kandungannya, serta mendapatkan syafaat di hari kiamat bagi para pembacanya. Tujuh Langkah Mempelajari Al-Qur’an Ustazah Laila juga memaparkan tujuh tahapan dalam mempelajari Al-Qur’an secara komprehensif. 1. Tartil Membaca Al-Qur’an dengan benar, perlahan, serta memperhatikan kaidah tajwid. 2. Tarjamah Memahami makna lafaz-lafaz Al-Qur’an secara bahasa. 3. Tafsir Menafsirkan kandungan ayat secara lebih mendalam dengan memperhatikan konteks sejarah dan ilmu penunjang. 4. Ta‘lim Mempelajari Al-Qur’an dari sisi ilmiah dan rasional untuk memperluas pemahaman. 5. Tadabbur Merenungi pesan dan hikmah yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an. 6. Tadarus Membaca, mempelajari, dan mengulang-ulang bacaan serta kandungannya agar maknanya semakin tertanam. 7. Tabligh Menyampaikan dan mengajarkan isi Al-Qur’an kepada orang lain sebagai bentuk dakwah. Ia menutup kajian dengan mengutip pernyataan dari seorang tokoh pemikiran Al-Qur’an, Abdullah Darraz. “Ayat-ayat Al-Qur’an itu bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari sudut lainnya. Tidak mustahil, jika kita mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak daripada apa yang kita lihat,” paparnya. Ungkapan tersebut, menurut Laila, menggambarkan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber inspirasi yang tak pernah habis bagi siapa pun yang ingin mempelajari dan memahaminya secara mendalam. (*)
Bahlil Lahadalia Bahas Etanol di Tengah Keluhan Masyarakat Soal Motor Brebet Usai Isi Pertalite

TRIBUNJATIM.COM Poin Penting: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia hadiri Pembukaan Tanwir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di UMM Malang. Dalam orasi ilmiahnya, Bahlil menyoroti persoalan energi yang tengah dihadapi Indonesia. Pemerintah tengah mengembangkan etanol sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan. Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Rifky Edgar TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menghadiri Pembukaan Tanwir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bertema ‘Energi Kolektif untuk Negeri,’ di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Rabu (29/10/2025). Kedatangannya menjadi pusat perhatian mahasiswa yang hadir. Sebelum Bahlil datang, Bahlil sudah mendapatkan sorakan dari mahasiswa UMM saat namanya disebutkan. Sosok Bahlil tampaknya menjadi daya tarik mahasiswa dalam kegiatan ini. Terlihat dari kapasitas UMM yang hampir terisi penuh oleh mahasiswa UMM yang hadir dalam kegiatan itu. Suasana pun pecah ketika Bahlil datang. Mahasiswa pun bersorak. Banyak yang meminta foto ketika Bahlil hendak menuju tempat duduknya di dalam Dome UMM. Ada pula mahasiswa yang memegang poster untuk mengkritisi arah kebijakan dari Menteri ESDM itu. Bahlil tampaknya menjadi magnet dalam kegiatan ini. Meskipun ada sejumlah pejabat yang turut hadir, di antaranya ialah Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar hingga Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof Dr Muhadjir Effendy, dan Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik. Dalam orasi ilmiahnya, Bahlil menyoroti persoalan energi yang tengah dihadapi Indonesia. Ia menegaskan, pemerintah tidak sedang berbicara soal oplos bensin, melainkan tengah mengembangkan etanol sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis pada kekayaan alam Indonesia. “Saya tegaskan, kita tidak bicara soal oplos bensin. Yang sedang kami kembangkan adalah etanol, energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong,” ujarnya.
Hadir di Tanwir IMM UMM, Menteri ESDM Bahlil Disambut Meriah: Bahas ‘Energi Kolektif untuk Negeri
Laporan wartawan, Surya Malang – Rifky Edgar TRIBUN-VIDEO.COM– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjadi pusat perhatian mahasiswa saat datang ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Rabu (29/10/2025). Kedatangan Bahlil ke UMM ini untuk menghadiri Pembukaan Tanwir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bertema ‘Energi Kolektif untuk Negeri’. Sebelum Bahlil datang, nama Bahlil sudah mendapatkan sorakan dari mahasiswa UMM saat namanya disebutkan. Sosok Bahlil nampaknya menjadi daya tarik mahasiswa dalam kegiatan ini hingga adanya sorakan gembira Mahasiswa saat menyambut kedatangan Bahlil.
Hadiri Tanwir IMM di Malang, Bahlil Jelaskan Manfaat Penggunaan Etanol di BBM

jatimnow.com-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, hadir dalam Pembukaan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang diselenggarakan di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Rabu (29/10/2025). Dalam kegiatan tersebut Bahlil menyampaikan bahwa masa depan bangsa sangat bergantung pada kesiapan pemuda untuk tidak hanya bermimpi, tetapi juga berproses menuju tindakan nyata. Bahlil menggarisbawahi dua pilar strategis kebijakan energi nasional. Yakni kemandirian energi dan transisi energi ramah lingkungan. Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak sedang mengejar konsep bensin oplosan, melainkan mendorong penggunaan etanol sebagai campuran BBM yang diproduksi dari sumber daya alam dalam negeri. “Ini bukan akal-akalan, tetapi langkah nyata agar Indonesia tak terus bergantung pada impor,” ujarnya. Bahlil menjelaskan manfaat etanol, termasuk potensi ekonomi bagi petani dan kontribusinya terhadap pengurangan emisi karbon. Tak hanya itu Bahlil juga mengajak para kader IMM untuk turut ambil bagian dalam inovasi energi ini, agar potensi agraria Indonesia tidak dimanfaatkan sepenuhnya oleh pihak luar. “Saya ingin mahasiswa, termasuk kader IMM, ikut terlibat dalam pengembangan energi alternatif ini. Jangan biarkan potensi negeri ini diambil alih pihak luar karena kita ragu untuk mulai,” tambahnya. Pemerintah sendiri tidak ingin terus melakukan impor, khususnya gas LPG. Konsumsi Indonesia mencapai 87 Ton/tahun. Sedangkan kapasitas produksi hanya 1,4 Juta selebihnya impor. Alasan melakukan impor ini dilarenakan Indonesia tidak memiliki bahan baku. Baca juga: Miris! Sungai Brantas Malang Tercemar Parah, Walikota Diminta Turun Tangan ”Kedepan kita akan dorong untuk membangun hilirisasi Dimethil Idha (DME) tujuanya agar semua kebutuhan kita adadi dalam negri, setiap tahun kita impor energi 520 triliun rupiah, devisa kita hilang,” katanya. Sementara itu, Ketua Umum DPP IMM, Riyan Betra Delza dalam sambutannya memberikan pesan kuat tentang pentingnya energi kolektif kader muda dalam menjaga arah gerakan Islam berkemajuan. “Mari kita isi Tanwir ini dengan gagasan-gagasan yang konstruktif, memiliki nilai dan mampu melahirkan daya juang gerak yang tentunya tidak hanya sekedar diksi dan narasi, tetatpi juga memberikan manfaat untuk IMM,” ungkapnya. Menurutnya IMM jangan hanya bertahan di kotak idealnya tetapi juga harus memiliki tanggung jawab sosial, kemasyarakatan, dan intelektual yang adaptif untuk perkembangan zaman. Tidak ada lagi waktu untuk memikirkan diri sendiri tetapi juga melihat masa depan bangsa kita yang terus menerus selalu ada masalah. Tema “Energi Kolektif untuk Negeri” ini memiliki makna bahwa mereka harus bersama dalam semua stakeholder dan tidak hanya di organisasi kemahasiswaan tetapi juga di pemerintah, eksekutif, legislatif, yudikatif. “Eksekutif, legislatif, yudikatif itu adalah mitra kritis kita, dan mitra strategis kita. Tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa itu dianjurkan dalam agama kita. Maka jangan sekali-kali membangun mental blok atas nama idealisme yang buta itu,” pungkasnya.
Menteri Diktisaintek di UMM: Riset dan Inovasi Harus Hidup di Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen menjadi kampus berdampak. Salah satunya dengan memperkuat kapasitas dan kontribusi tenaga pendidik dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif dan inovatif, melalui forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen, yang digelar di Basement Dome UMM pada Jumat 31 Oktober 2025. Forum yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) RI, Prof. Dr. Brian Yuliarto, M.Eng., Ph.D., menjadi wadah refleksi dan inspirasi bagi para dosen untuk memperkuat peran mereka sebagai pendorong riset, inovasi, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Penyerahan simbolis karya-karya inovasi dari dosen maupun mahasiswa turut menjadi bagian penting dalam forum ini. Beragam karya yang telah berhasil dihilirisasi dan sebagian lainnya yang masih dalam tahap pengembangan dikumpulkan dan terus dikembangkan di Direktorat Saintek UMM. Ini menjadi bukti nyata eksistensi UMM sebagai Kampus Berdampak. Momen ini menegaskan komitmen UMM untuk tidak hanya menghasilkan inovasi di ruang akademik, tetapi juga memastikan karya tersebut memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan dunia industri. Dalam pemaparannya, Brian menyoroti salah satu persoalan mendasar dalam dunia pendidikan tinggi, yakni lemahnya hubungan antara hasil riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Menurutnya, banyak penelitian yang berakhir di jurnal ilmiah tanpa pernah sampai ke tahap implementasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Fenomena ini disebutnya sebagai valley of death—jurang kematian inovasi—di mana ide dan hasil penelitian berhenti di tengah jalan karena tidak ada kolaborasi yang kuat antara kampus dan dunia usaha. Ia menambahkan, persoalan ini bukan hanya disebabkan oleh lemahnya jejaring dengan industri, tetapi juga karena belum terbentuknya ekosistem riset yang mendorong keberlanjutan inovasi. Riset sering kali berhenti setelah pendanaan selesai, tanpa ada mekanisme untuk melanjutkan hasilnya ke tahap pengembangan produk, kebijakan, atau teknologi yang dapat diterapkan. “Kita punya begitu banyak penelitian yang potensial, tapi terlalu sedikit yang benar-benar dimanfaatkan. Kalau universitas tidak hadir di tengah industri, maka hasil riset hanya akan berhenti sebagai tumpukan laporan. Perguruan tinggi harus turun tangan agar inovasi bisa hidup dan digunakan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, Brian menekankan pentingnya dukungan kelembagaan yang sistematis agar riset dosen dapat terhubung dengan pihak eksternal, baik pemerintah maupun sektor swasta. Ia menilai bahwa universitas perlu memiliki unit atau lembaga khusus yang menjembatani hasil penelitian dengan mitra pengguna, termasuk dalam hal regulasi, hak kekayaan intelektual, dan pendanaan lanjutan. Dengan cara itu, penelitian tidak hanya menjadi ajang akademik semata, tetapi juga berperan sebagai solusi konkret terhadap persoalan bangsa. Ia juga menegaskan bahwa peran dosen menjadi kunci utama dalam menghidupkan ekosistem tersebut. Dosen tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga mengarahkan risetnya agar selaras dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional. “UMM memiliki potensi besar untuk menjadi contoh universitas yang mampu memecah kebuntuan ini. Karena kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian yang kuat di UMM bisa menjadi modal penting untuk membangun sistem inovasi yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, UMM dapat menjadi model kampus yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga produktif dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan industri,” ujarnya. Sementara itu, Wamendikti saintek Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan bahwa UMM selama ini telah membangun landasan kuat untuk menjadi universitas yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga berdampak sosial. Dosen memiliki peran penting dalam menciptakan budaya ilmiah yang progresif dan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis serta produktif. Penguatan dosen menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, dosen harus berani keluar dari zona nyaman dan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk memperkuat komitmen sebagai kampus berdampak. Ia menilai, konsep kampus berdampak bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang harus diwujudkan melalui kerja kolektif, pengabdian, dan inovasi berkelanjutan. dosen harus menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat, menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan lokal maupun global. Salah satu langkah besar UMM yakni mendirikan dan menjalankan Direktorat Saintek UMM yang menjadi wadah hilirisasi hasil riset dan ide dosen maupun mahasiswa. “Kita ingin UMM dikenal bukan hanya karena kualitas akademiknya, tapi karena kebermanfaatannya bagi masyarakat. Setiap dosen adalah agen perubahan. Untuk itu, mari kita memperluas kolaborasi lintas bidang dan memperkuat riset yang memiliki nilai aplikatif,” tegasnya. (vin/wil)
Pembukaan Tanwir XXXIII IMM: Energi Kolektif untuk Negeri

Mediamu Malang – Pembukaan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Rabu (29/10/2025) berlangsung sangat meriah. Sejumlah tokoh penting turut hadir meramaikan agenda besar IMM yang diadakan satu tahun sekali ini. Dengan mengangkat tema Energi Kolekif untuk Negeri, pembukaan Tanwir Malang dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Sultan Najamudin Bacthiar, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji Muhadjir Effendi, dan banyak tokoh lainnya. Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto mengungkapkan bahwa Persyarikatan Muhammadiyah di Muktamar 2015 telah meneguhkan komitmen terhadap Pancasila melalui konsep Darul Ahdi wa Syahadah. “Negara Pancasila bisa seiring dan sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah. Sebagai tempat pembuktian, maka kita harus ikut memperjuangkan Indonesia menjadi Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafur. Baik melalui diaspora, atau terjun ke berbagai lapisan kenegaraan dan kebangsaan,” jelasnya. Ia juga mengapresiasi kepada IMM yang pada saat Tanwir kali ini mulai membuka mindset dan wawasannya dengan mengundang berbagai tokoh untuk berbagi perspektif baru. “Tokoh yang luar biasa, dan berkompeten. Terlepas dari pro kontranya, tetaplah semua Adalah tokoh-tokoh yang hebat. Beliau akan membagikan ilmunya, memberikan guidancenya, agar kita bisa mendarmabaktikan diri kepada bangsa,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Umum DPP IMM, Riyan Betra Delza menegaskan kembali makna tema besar Tanwir Malang, yakni Energi Kolektif untuk Negeri. Menurutnya, tema ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi arah gerak perjuangan IMM ke depan. Kader-kader IMM harus mampu membangun kolaborasi lintas lini antara organisasi, pemerintah, dan masyarakat sipil demi mewujudkan cita-cita keumatan dan kebangsaan. “Eksekutif, legislatif, dan yudikatif bukanlah lawan, tapi mitra strategis. Kita tidak boleh membangun kebencian atas nama idealisme yang buta. Justru kita harus hadir sebagai mitra kritis, yang menolong dalam kebaikan dan takwa,” ucapnya. Ia juga ia mengajak seluruh kader IMM untuk tidak hanya aktif di ruang akademik, tetapi juga turun langsung ke masyarakat, berperan dalam kebijakan publik, dan menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan nasional. Selain itu, menurutnya Tanwir kali ini juga menjadi momen refleksi atas satu tahun kepemimpinan DPP IMM. Tanwir adalah ajang refleksi, untuk mengukur sejauh mana kualitas silaturahmi, soliditas, dan solidaritas kita dalam berjamaah dan berjuang. “Organisasi besar seperti IMM harus selalu adaptif terhadap perubahan zaman yang cepat dan dinamis. Jika tidak adaptif, kita akan ditelan oleh kondisi zaman,” ujarnya. Ia berharap dari forum Tanwir ini akan lahir berbagai kebijakan strategis, gagasan segar, serta arah gerakan baru yang memperkuat visi dan misi IMM untuk satu tahun ke depan. Bukan hanya wacana, tetapi gagasan yang benar-benar memberikan manfaat nyata bagi umat dan bangsa. “Mari kita perkuat barisan, tanamkan semangat kebersamaan, dan terus menebar manfaat bagi umat dan bangsa. Karena energi kolektif hanya bisa tumbuh jika kita bergerak bersama,” jelasnya. Tentang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. IMM merupakan organisasi dan gerakan mahasiswa Islam yang bergerak di bidang keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah, IMM berdiri hampir di semua provinsi di Indonesia, serta memiliki ratusan cabang dan ribuan komisariat. Tentang Tanwir IMM. Tanwir merupakan forum permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar yang memainkan peran strategis dalam mengonsolidasikan gerakan, memperkuat ideologi serta merumuskan arah perjuangan organisasi. Forum ini diikuti oleh Dewan Pimpinan Pusat IMM dan utusan-utusan Dewan Pimpinan Daerah IMM se-Indonesia.
Buka Tanwir IMM, Bahlil Ungkap Alasan di Balik Rencana BBM Etanol

KLIKMU.CO – Masa depan negara ini ada di tangan pemuda, tetapi bukan sembarang pemuda—melainkan mereka yang benar-benar menyiapkan diri. Hal itu ditegaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Bahlil Lahadalia saat membuka Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bertema Energi Kolektif untuk Negeri di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (29/10/2025). Dalam acara pembukaan tersebut, Bahlil hadir bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua PP Muhammadiyah Dr Agung Danarto MAg, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, serta Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi. Acara dibuka dengan simbolis memainkan alat musik dawai, menggambarkan semangat kebersamaan dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan kader muda Muhammadiyah. Dalam sambutannya, Bahlil menekankan pentingnya kemandirian bangsa yang hanya dapat terwujud melalui generasi muda yang berdaya saing dan bersemangat membangun negeri. Ia menilai IMM memiliki peran strategis dalam mencetak kader pemimpin yang tidak hanya kritis secara intelektual, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tantangan energi global. “IMM adalah kader yang kelak menjadi pemimpin negara ini. Jangan hanya berhenti pada wacana, tapi harus turun tangan mengeksekusi gagasan. Negara ini butuh anak muda yang punya visi dan keberanian mengambil keputusan,” ujarnya. Bahlil kemudian menyoroti kebijakan energi nasional yang kini difokuskan pada dua hal utama, yakni kemandirian energi dan transisi energi berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor bahan bakar, karena hal itu dapat melemahkan kedaulatan ekonomi bangsa. Ia menegaskan, pemerintah tidak sedang berbicara soal oplos bensin, melainkan tengah mengembangkan etanol sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis pada kekayaan alam Indonesia. “Saya tegaskan, kita tidak bicara soal oplos bensin. Yang sedang kami kembangkan adalah etanol—energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong. Ini bukan akal-akalan, tapi langkah nyata agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor,” tegasnya. Bahlil menjelaskan bahwa etanol merupakan bentuk bahan bakar bioenergi yang mampu menggantikan sebagian kebutuhan bensin sekaligus mengurangi emisi karbon. Ia mencontohkan negara seperti Brasil dan India yang telah sukses mengembangkan industri etanol sehingga mampu menekan biaya impor bahan bakar dan meningkatkan nilai ekonomi pertanian. Menurutnya, jika Indonesia serius mengembangkan etanol, petani akan diuntungkan, lapangan kerja bertambah, dan devisa negara dapat diselamatkan. Indonesia, katanya, memiliki potensi besar untuk itu—hanya dibutuhkan kemauan dan keberanian mengeksekusinya. Lebih lanjut, ia mendorong agar riset dan inovasi di perguruan tinggi terus dikembangkan guna memperkuat ketahanan energi nasional. “Saya ingin mahasiswa, termasuk kader IMM, ikut terlibat dalam pengembangan energi alternatif ini. Jangan biarkan potensi negeri ini diambil alih pihak luar karena kita ragu untuk mulai,” tambahnya. Sebagai bentuk dukungan terhadap generasi muda, Bahlil juga mengumumkan pemberian 10 beasiswa kepada kader IMM berprestasi. Ia berharap kader IMM menjadi pelopor inovasi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam, nasionalisme, dan kemajuan teknologi dalam kerja nyata bagi bangsa. Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin turut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi dan lembaga dalam membangun masa depan Indonesia yang berkelanjutan. Ia memperkenalkan konsep Green Democracy, yakni demokrasi yang tidak hanya menekankan partisipasi politik, tetapi juga tanggung jawab terhadap lingkungan dan kesejahteraan sosial. “Tidak ada lagi namanya one man show. Membangun bangsa sebesar ini hanya bisa dilakukan dengan kolaborasi. Demokrasi kita harus pro-pemuda, pro-rakyat kecil, dan pro-ekologi,” ucap Sultan. Sementara itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Tanwir IMM di kampus yang dikenal dengan sebutan Kampus Putih tersebut. Ia menilai forum ini bukan sekadar pertemuan organisasi, melainkan ruang strategis untuk mengonsolidasikan gagasan besar tentang masa depan Indonesia. “Tanwir IMM bukan sekadar forum seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Kami di UMM berkomitmen mendukung lahirnya generasi muda yang berani, cerdas, dan siap memimpin masa depan Indonesia,” pungkasnya. (Wildan/AS)