Menteri ESDM Bahlil Turunkan Tim Khusus Selidiki Kasus BBM Bermasalah di Jatim, Minta Waktu

SURYAMALANG.COM, MALANG – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah telah menurunkan tim khusus untuk menyelidiki dugaan kasus BBM bermasalah yang menyebabkan sejumlah kendaraan rusak usai mengisi bahan bakar di SPBU Pertamina di beberapa wilayah Jawa Timur. Kejadian ini terjadi di sejumlah daerah, yakni di Malang, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo dan sejumlah daerah lainnya di Jatim. Pernyataan itu disampaikan Bahlil usai menghadiri Pembukaan Tanwir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (29/10/2025). “Begitu saya mendarat, saya langsung panggil Dirut Pertamina Patra Niaga, BPH Migas, dan Lemigas untuk menerima laporan langsung,” “Sekarang tim saya masih berada di daerah sini, nanti saya akan rapat dengan mereka di bandara,” kata Bahlil. Bahlil menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam apabila ditemukan kesalahan dari pihak Pertamina. Ia memastikan sanksi tegas akan diberikan bila terbukti ada pelanggaran dalam distribusi atau kualitas BBM. “Kalau ditemukan ada pelanggaran yang dilakukan oleh Pertamina, maka pemerintah akan memberikan sanksi tegas,” “Tapi semuanya masih dalam proses. Kita harus cek dulu kebenarannya tentang kualitas minyaknya,” ujarnya. Bahlil menyebut, hasil uji laboratorium Lemigas terkait kualitas BBM yang diduga bermasalah di Jawa Timur akan keluar dalam 1–2 hari ke depan. Ia meminta masyarakat bersabar dan tidak berspekulasi sebelum hasil tersebut diumumkan resmi. “Saya belum bisa menyimpulkan benar atau tidaknya. Kita tunggu hasil kajian dari tim,” “Paling lama saya butuh waktu 1–2 hari, besok saya akan langsung memimpin rapat di Jakarta,” tegasnya. Adapun tim investigasi yang diturunkan terdiri dari perwakilan Ditjen Migas, Lemigas, BPH Migas, dan Pertamina Patra Niaga. Mereka akan memeriksa rantai distribusi BBM, mulai dari sumber hingga ke SPBU, untuk mencari tahu di mana letak persoalan sebenarnya. Sementara itu, ketika ditanya soal skema ganti rugi bagi masyarakat yang kendaraannya terdampak, Bahlil mengatakan hal itu baru bisa dibahas setelah hasil penyelidikan keluar. “Nanti kami akan melakukan pertemuan dengan Pertamina baru akan kami cek,” “Kalau memang benar rusak, nanti saya minta kepada Pertamina untuk membenahi semuanya,” tandasnya.
Kapolri Ajak Mahasiswa UMM Sinergi Hadapi Tantangan Global

Malang, Detikjatim – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan pentingnya kerja kolektif seluruh elemen bangsa dalam menghadapi tantangan global dan menjaga stabilitas nasional. Mahasiswa juga diajak mendukung program pemerintah. Hal ini disampaikan Kapolri dalam sambutan penutupan Tanwir ke- XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Tahun 2025 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025). Kapolri menegaskan, perlunya kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik global yang tengah bergejolak. Ia menyoroti lebih dari 110 konflik bersenjata di dunia, termasuk perang Rusia-Ukraina, konflik Israel-Palestina-Iran, serta perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. “Kondisi geopolitik saat ini tidak baik-baik saja. Konflik global ini berdampak pada ekonomi, pangan, dan energi. Dampaknya bisa menimbulkan masalah sosial yang harus kita hadapi bersama,” ujar Kapolri Listyo Sigit. Meski menghadapi ketidakpastian global, Kapolri menyebut kondisi ekonomi Indonesia masih relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi nasional berada pada kisaran 3,3 persen di 2024 dan diproyeksikan tetap kuat pada 2025, berkat kerja sama lintas sektor yang solid. Ia menekankan bahwa pemerintah berupaya memperkuat ketahanan pangan, energi, dan air sebagai pondasi kemandirian nasional. Presiden Prabowo, kata Kapolri, telah menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas utama menghadapi krisis global. Polri sendiri turut mendukung program swasembada pangan melalui penanaman jagung di lahan Polri seluas lebih dari 1 juta hektare di mana saat ini telah terealisasi sekitar 566 ribu hektare. Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor bahan pokok dan memperkuat ketahanan pangan nasional. “Kami membuka kesempatan bagi masyarakat dan organisasi untuk berkolaborasi. Ini kerja kolektif, bukan kerja Superman,” tegasnya. Kapolri juga menyinggung pentingnya memanfaatkan bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncak pada tahun 2030-2035. Momentum ini, menurutnya, hanya terjadi sekali dan harus dikelola dengan baik agar tidak berubah menjadi bencana demografi. Untuk itu, pemerintah tengah meluncurkan berbagai program strategis, seperti makan bergizi gratis, pembangunan sekolah rakyat dan ekosistem sekolah unggulan termasuk program magang dan vokasi dengan kuota hingga 100 ribu peserta. Program tersebut bertujuan menyiapkan generasi muda yang kompeten dan siap bersaing di pasar kerja nasional maupun global. Selain isu ekonomi, Kapolri menyoroti tantangan serius di bidang sosial, terutama penyalahgunaan teknologi digital dan narkoba. Berdasarkan data global, misinformasi dan disinformasi kini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi stabilitas sosial. Ia mengingatkan masyarakat untuk bijak dalam bermedia sosial. “Saring sebelum sharing. Dunia digital bisa membawa kemajuan, tapi juga bisa merusak sendi kehidupan berbangsa,” ujarnya. Kapolri juga menegaskan komitmen Polri dalam memerangi peredaran narkoba yang disebutnya sebagai ancaman nyata terhadap masa depan bangsa. Dalam satu tahun terakhir, Polri telah menggagalkan peredaran 214,88 ton narkotika berbagai jenis yang jika lolos ke pasaran berpotensi dikonsumsi oleh lebih dari 600 juta jiwa. Di akhir sambutannya, Kapolri mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), untuk berperan aktif menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) serta terus menyuarakan aspirasi dengan cara yang konstruktif. “Kebebasan berekspresi adalah hak yang dijamin konstitusi. Tapi kita juga harus menjaga hak orang lain dan menghindari provokasi. Kita butuh persatuan untuk menjaga Indonesia,” tutup Kapolri.
Menteri Diktisaintek Dorong Inivasi dan Riset UMM Hidup di Tengah Masyarakat

Malangpariwara.com – Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) RI Prof. Brian Yuliarto, menegaskan pentingnya riset kampus untuk hidup memberi berdampak di tengah masyarakat. Hal ini disampaikan dalam Forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025). Forum bersama Menteri ini menjadi tempat refleksi bagi dosen untuk memperkuat peran mereka sebagai penggerak riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat. Kegiatan juga dirangkai dengan penyerahan simbolis karya inovasi dosen dan mahasiswa, yang sebagian telah dihilirisasi melalui Direktorat Saintek UMM. Brian mengatakan, banyak riset perguruan tinggi berhenti di publikasi jurnal tanpa berlanjut ke tahap implementasi. Ia menyebut kondisi ini sebagai valley of death atau jurang kematian inovasi. “Kita punya begitu banyak penelitian yang potensial, tapi terlalu sedikit yang benar-benar dimanfaatkan. Kalau universitas tidak hadir di tengah industri, maka hasil riset hanya akan berhenti sebagai tumpukan laporan. Perguruan tinggi harus turun tangan agar inovasi bisa hidup dan digunakan masyarakat,” ujarnya. Perguruan tinggi perlu membangun ekosistem riset yang berkelanjutan dengan dukungan kelembagaan, regulasi, dan pendanaan. UMM, kata Brian, memiliki potensi kuat untuk menjadi model universitas berbasis inovasi berkelanjutan karena tradisi kolaboratif dan pengabdian yang telah terbentuk. “UMM memiliki potensi besar untuk menjadi contoh universitas yang mampu memecah kebuntuan ini. Karena kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian yang kuat di UMM bisa menjadi modal penting untuk membangun sistem inovasi yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, UMM dapat menjadi model kampus yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga produktif dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan industri,” ujarnya. Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Diktisaintek Prof. Fauzan, juga menegaskan pentingnya dosen keluar dari zona nyaman dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial. Mantan rektor UMM itu, menilai kampusnya telah memiliki fondasi kuat untuk menjadi kampus yang berdampak sosial, bukan hanya akademik. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menutup kegiatan dengan ajakan agar seluruh dosen memperluas kolaborasi lintas bidang dan mengembangkan riset aplikatif. “Kita ingin UMM dikenal bukan hanya karena kualitas akademiknya, tapi karena kebermanfaatannya bagi masyarakat. Setiap dosen adalah agen perubahan. Untuk itu, mari kita memperluas kolaborasi lintas bidang dan memperkuat riset yang memiliki nilai aplikatif,” tegasnya.( Djoko W)
Di UMM, Mendiktisaintek Ingatkan Riset dan Inovasi Harus Berdampak bagi Masyarakat

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen menjadi kampus yang berdampak. Salah satunya dengan memperkuat kapasitas dan kontribusi dosen dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif dan inovatif melalui forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen yang digelar di Basement Dome UMM, Jumat (31/10/2025). Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) RI Prof Dr Brian Yuliarto MEng PhD. Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus inspirasi bagi para dosen untuk memperkuat peran mereka sebagai pendorong riset, inovasi, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Penyerahan simbolis karya inovasi dari dosen dan mahasiswa turut menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Beragam karya yang telah berhasil dihilirisasi maupun yang masih dalam tahap pengembangan dikumpulkan dan terus dikembangkan di Direktorat Saintek UMM. Hal ini menjadi bukti nyata eksistensi UMM sebagai Kampus Berdampak. Momen tersebut menegaskan komitmen UMM untuk tidak hanya menghasilkan inovasi di ruang akademik, tetapi juga memastikan hasil riset memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan dunia industri. Dalam pemaparannya, Brian menyoroti salah satu persoalan mendasar di dunia pendidikan tinggi, yakni lemahnya hubungan antara hasil riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Menurutnya, banyak penelitian berakhir di jurnal ilmiah tanpa pernah sampai pada tahap implementasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Fenomena itu disebutnya sebagai valley of death—jurang kematian inovasi—ketika ide dan hasil penelitian berhenti di tengah jalan karena kurangnya kolaborasi antara kampus dan dunia usaha. “Banyak penelitian potensial, tapi sedikit yang benar-benar dimanfaatkan. Kalau universitas tidak hadir di tengah industri, hasil riset hanya akan berhenti sebagai tumpukan laporan. Perguruan tinggi harus turun tangan agar inovasi bisa hidup dan digunakan masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, persoalan tersebut tidak hanya disebabkan lemahnya jejaring dengan industri, tetapi juga karena belum terbentuknya ekosistem riset yang mendorong keberlanjutan inovasi. Riset sering kali berhenti setelah pendanaan selesai tanpa ada mekanisme untuk melanjutkan hasilnya ke tahap pengembangan produk, kebijakan, atau teknologi yang dapat diterapkan. Brian juga menekankan pentingnya dukungan kelembagaan yang sistematis agar riset dosen dapat terhubung dengan pihak eksternal, baik pemerintah maupun sektor swasta. Menurutnya, universitas perlu memiliki unit khusus yang menjembatani hasil penelitian dengan mitra pengguna, termasuk dalam hal regulasi, hak kekayaan intelektual, dan pendanaan lanjutan. Dengan cara itu, penelitian tidak hanya menjadi ajang akademik, tetapi juga berperan sebagai solusi konkret terhadap persoalan bangsa. Ia menegaskan bahwa peran dosen menjadi kunci utama dalam menghidupkan ekosistem riset dan inovasi. “UMM memiliki potensi besar untuk menjadi contoh universitas yang mampu memecah kebuntuan ini. Kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian yang kuat bisa menjadi modal penting untuk membangun sistem inovasi yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, UMM dapat menjadi model kampus yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga produktif dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan industri,” ungkapnya. Sementara itu, Wamendikti Saintek Prof Dr Fauzan MPd menyampaikan bahwa UMM selama ini telah membangun landasan kuat untuk menjadi universitas yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga berdampak sosial. Dosen memiliki peran penting dalam menciptakan budaya ilmiah yang progresif dan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis serta produktif. “Penguatan dosen menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Dosen harus berani keluar dari zona nyaman dan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial,” ujarnya. Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk memperkuat komitmen sebagai kampus berdampak. Ia menilai, konsep kampus berdampak bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang harus diwujudkan melalui kerja kolektif, pengabdian, dan inovasi berkelanjutan. “Dosen harus menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat, menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan lokal maupun global. Kita ingin UMM dikenal bukan hanya karena kualitas akademiknya, tapi juga karena kebermanfaatannya bagi masyarakat. Setiap dosen adalah agen perubahan. Untuk itu, mari kita memperluas kolaborasi lintas bidang dan memperkuat riset yang memiliki nilai aplikatif,” tegasnya. (Wildan/AS)
Tanwir XXXIII IMM di UMM Usai, Kader Siap Lanjutkan Energi Kolektif untuk Negeri

pwmu.co –Penutupan Tanwir XXXIII Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dilaksanakan pada Jumat (31/10/2025) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan mengusung tema Energi Kolektif untuk Negeri.Acara penutupan Tanwir XXXIII DPP IMM turut dihadiri oleh Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, Kepala Kepolisian Republik Indonesia; H. Yandri Susanto, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; Wakil Menteri P2MI Dzulfikar Ahmad Atawalla; Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A., Pangdam V/Brawijaya; Irjen Pol Drs. Nanang Avianto, M.Si., Kapolda Jawa Timur; serta Dra. Hj. Lathifah Shohib, Wakil Bupati Kabupaten Malang. Turut hadir pula Ketua Umum DPP IMM 2016–2018 sekaligus Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin; Ketua Umum DPP IMM 2021–2023, Abdul Musawir Yahya; Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik; dan Ketua Umum DPP IMM 2024–2026, Ryan Beltra Delza; Sambutan Ketua Pelaksana Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Foto: Istimewa) Ketua Panitia Tanwir XXXIII, Muhammad Idlil, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kerja sama semua pihak yang telah membantu kelancaran kegiatan Tanwir IMM 2025. “Agenda kami telah selesai. IMM siap melaksanakan agenda-agenda nasional dan kolaborasi hebat untuk membangun negeri ini sebagaimana tema yang kami usung, Energi Kolektif untuk Negeri,” ujar Idlil. Ia menegaskan bahwa IMM merupakan organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia. “IMM memiliki 35 Dewan Pimpinan Daerah setingkat provinsi, 350 Pimpinan Cabang setingkat kota/kabupaten, dan 3.260 Pimpinan Komisariat setingkat perguruan tinggi. IMM juga merupakan satu-satunya organisasi kemahasiswaan yang memiliki induk mapan seperti Muhammadiyah,” jelasnya. Sambutan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang pada Penutupan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Foto: Istimewa) Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa UMM berkomitmen mencetak insan paripurna yang unggul secara intelektual, spiritual, dan sosial. “Dalam proses pendidikan di UMM, kami tidak hanya melakukan transfer ilmu pengetahuan kognitif, tetapi juga transfer spiritualitas dan rasa kebangsaan. Lulusan kami diharapkan menjadi manusia seutuhnya yang memiliki kompetensi akademik dan sosial yang baik,” tutur Prof. Nazaruddin. Ia menambahkan bahwa IMM sebagai bagian dari Angkatan Muda Muhammadiyah dan UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah memiliki ikatan ukhuwah yang kuat. “Ketika kegiatan strategis dilakukan untuk kepentingan bangsa, maka seluruh elemen Muhammadiyah akan saling mendukung. Karena itu, kami merasa terhormat UMM dipercaya menjadi tuan rumah Tanwir IMM tahun ini,” ujarnya. Menurutnya, UMM memiliki tradisi menghadirkan tokoh-tokoh penting nasional secara periodik dan terstruktur, mulai dari Kapolri, Panglima TNI, Presiden, Menteri, hingga tokoh agama dan teknokrat. “Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kuliah umum atau stadium general untuk memperkuat wawasan kognitif dan kebangsaan mahasiswa,” pungkasnya. (*) *) Penulis : Tanwirul Huda | Editor : Azrohal Hasan
Berikan Motivasi Di Hadapan Dosen UMM, Menteri Diktisaintek Tekankan Riset dan Inovasi Harus Hidup di Masyarakat

MALANG, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka memperkuat kapasitas dan kontribusi tenaga pendidik dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif dan inovatif, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen, yang berlangsung di Basement Dome UMM pada Jumat 31 Oktober 2025. Forum yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) RI, Brian Yuliarto, menjadi wadah refleksi dan inspirasi bagi para dosen untuk memperkuat peran mereka sebagai pendorong riset, inovasi, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Dalam pemaparannya, Brian menyoroti salah satu persoalan mendasar dalam dunia pendidikan tinggi, yakni lemahnya hubungan antara hasil riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Menurutnya, banyak penelitian yang berakhir di jurnal ilmiah tanpa pernah sampai ke tahap implementasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Fenomena ini disebutnya sebagai valley of death—jurang kematian inovasi—di mana ide dan hasil penelitian berhenti di tengah jalan karena tidak ada kolaborasi yang kuat antara kampus dan dunia usaha. Ia menambahkan, persoalan ini bukan hanya disebabkan oleh lemahnya jejaring dengan industri, tetapi juga karena belum terbentuknya ekosistem riset yang mendorong keberlanjutan inovasi. Riset sering kali berhenti setelah pendanaan selesai, tanpa ada mekanisme untuk melanjutkan hasilnya ke tahap pengembangan produk, kebijakan, atau teknologi yang dapat diterapkan. “Kita punya begitu banyak penelitian yang potensial, tapi terlalu sedikit yang benar-benar dimanfaatkan. Kalau universitas tidak hadir di tengah industri, maka hasil riset hanya akan berhenti sebagai tumpukan laporan. Perguruan tinggi harus turun tangan agar inovasi bisa hidup dan digunakan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, Brian menekankan pentingnya dukungan kelembagaan yang sistematis agar riset dosen dapat terhubung dengan pihak eksternal, baik pemerintah maupun sektor swasta. Ia menilai bahwa universitas perlu memiliki unit atau lembaga khusus yang menjembatani hasil penelitian dengan mitra pengguna, termasuk dalam hal regulasi, hak kekayaan intelektual, dan pendanaan lanjutan. Dengan cara itu, penelitian tidak hanya menjadi ajang akademik semata, tetapi juga berperan sebagai solusi konkret terhadap persoalan bangsa. Ia juga menegaskan bahwa peran dosen menjadi kunci utama dalam menghidupkan ekosistem tersebut. Dosen tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga mengarahkan risetnya agar selaras dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional. “UMM memiliki potensi besar untuk menjadi contoh universitas yang mampu memecah kebuntuan ini. Karena kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian yang kuat di UMM bisa menjadi modal penting untuk membangun sistem inovasi yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, UMM dapat menjadi model kampus yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga produktif dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan industri,” ujarnya. Sementara itu, Wamendikti saintek Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan bahwa UMM selama ini telah membangun landasan kuat untuk menjadi universitas yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga berdampak sosial. Dosen memiliki peran penting dalam menciptakan budaya ilmiah yang progresif dan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis serta produktif. Penguatan dosen menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, dosen harus berani keluar dari zona nyaman dan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk memperkuat komitmen sebagai kampus berdampak. Ia menilai, konsep kampus berdampak bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang harus diwujudkan melalui kerja kolektif, pengabdian, dan inovasi berkelanjutan. dosen harus menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat, menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan lokal maupun global. Salah satu langkah besar UMM yakni mendirikan dan menjalankan Direktorat Saintek UMM yang menjadi wadah hilirisasi hasil riset dan ide dosen maupun mahasiswa. “Kita ingin UMM dikenal bukan hanya karena kualitas akademiknya, tapi karena kebermanfaatannya bagi masyarakat. Setiap dosen adalah agen perubahan. Untuk itu, mari kita memperluas kolaborasi lintas bidang dan memperkuat riset yang memiliki nilai aplikatif,” tegasnya. Penyerahan simbolis karya-karya inovasi dari dosen maupun mahasiswa turut menjadi bagian penting dalam forum ini. Beragam karya yang telah berhasil dihilirisasi dan sebagian lainnya yang masih dalam tahap pengembangan dikumpulkan dan terus dikembangkan di Direktorat Saintek UMM. Ini menjadi bukti nyata eksistensi UMM sebagai Kampus Berdampak. Momen ini menegaskan komitmen UMM untuk tidak hanya menghasilkan inovasi di ruang akademik, tetapi juga memastikan karya tersebut memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan dunia industri. (diko) Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Berikan Motivasi Di Hadapan Dosen UMM, Menteri Diktisaintek Tekankan Riset dan Inovasi Harus Hidup di Masyarakat, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/berikan-motivasi-di-hadapan-dosen-umm-menteri-diktisaintek-tekankan-riset-dan-inovasi-harus-hidup-di-masyarakat
Kapolri Hadiri Penutupan Tanwir IMM di UMM, Ajak Mahasiswa Jadi Solusi Tantangan GlobalKapolri Hadiri Penutupan Tanwir IMM di UMM, Ajak Mahasiswa Jadi Solusi Tantangan GlobalKapolri Hadiri Penutupan Tanwir IMM di UMM, Ajak Mahasiswa Jadi Solusi Tantangan Global

KABARMALANG.COM – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menghadiri penutupan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Tahun 2025 di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025). Acara bertema “Energi Kolektif untuk Negeri” ini di hadiri ribuan kader dan mahasiswa. Dalam sambutannya, Kapolri menekankan peran vital pemuda dan mahasiswa dalam memperkuat kemandirian bangsa. Ia secara spesifik menyoroti pentingnya kontribusi generasi muda di bidang ketahanan pangan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat. Kapolri juga menegaskan bahwa IMM dan generasi muda harus menjadi bagian dari solusi di tengah tantangan global yang dinamis. Kapolres Malang, AKBP Danang Setiyo P.S., menyatakan kehadiran Kapolri menunjukkan komitmen Polri dalam mempererat hubungan dengan kalangan akademisi dan organisasi kepemudaan. ”Kehadiran Bapak Kapolri di UMM menjadi bentuk dukungan nyata kepada mahasiswa untuk terus berkontribusi positif bagi bangsa,” “IMM merupakan salah satu organisasi yang melahirkan banyak pemimpin muda,” ujar AKBP Danang. Danang menambahkan, sinergi antara kepolisian dan mahasiswa sebagai agen perubahan sangat penting untuk menjaga nilai kebangsaan serta menciptakan lingkungan kampus yang kondusif. ”Semangat kolaborasi ini harus terus dijaga agar menjadi kekuatan besar dalam membangun bangsa,” tutup Danang.
Tutup Tanwir XXXIII IMM 2025, Kapolri Ajak Mahasiswa Dukung Program Pemerintah

KORLANTAS POLRI, Malang – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo secara resmi menutup Tanwir ke-XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Tahun 2025 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Jumat (31/10/2025). Penutupan rangkaian agenda besar IMM ini sekaligus menjadi momentum penguatan kolaborasi antara mahasiswa, pemuda, dan pemerintah dalam mendukung kemajuan bangsa. Tanwir ke-33 IMM menjadi ruang strategis bagi generasi muda untuk ikut terlibat dalam mendorong pembangunan nasional, pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat sinergi lintas sektor. Acara ini juga turut menghadirkan orasi kuliah umum sebagai bentuk nyata kolaborasi antara pemuda, akademisi, pemerintah, dan stakeholder lainnya. Dalam sambutannya, Kapolri mengajak seluruh mahasiswa, khususnya kader IMM, untuk turut serta mendukung kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang tengah fokus mewujudkan kemandirian bangsa. Kapolri Jendral Polisi Listyo Sigit Prabowo Berikan Sambutan dalam Tanwir ke-XXXIII IMM 2025 “Di tengah lingkungan strategis yang tidak menentu, Alhamdulillah berkat kerja keras seluruh elemen bangsa, Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri, terutama dalam mengelola sumber daya yang ada guna mewujudkan swasembada pangan, swasembada energi, dan air. Bapak Presiden juga berperan aktif berkontribusi membawa Indonesia turut berperan mewujudkan perdamaian dunia,” kata Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam sambutannya, Jumat (31/10/2025). Ia melanjutkan bahwa generasi muda menjadi faktor penentu keberhasilan visi besar Indonesia ke depan. “Oleh karena itu, diharapkan seluruh kader IMM dan generasi muda untuk turut berkontribusi dalam mendukung seluruh kebijakan pemerintah,” sambungnya. Kapolri juga menegaskan IMM memiliki rekam jejak panjang dalam mengawal perubahan sosial di Indonesia. Dengan basis intelektual dan nilai keislaman yang kuat, Kapolri meyakini IMM dapat berperan sebagai motor kemajuan. “IMM memiliki sejarah panjang dalam mengawal perubahan sosial. Saya yakin, dengan semangat intelektual dan nilai-nilai keislaman, IMM bisa terus berkontribusi bagi kemajuan Indonesia,” tambahnya. Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDT) Yandri Susanto, Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran RI Dzulfikar Ahmad Tawalla, serta sejumlah pejabat utama Polri seperti Kabaintelkam Komjen Pol Yuda Gustawan, Dankorbrimob Komjen Ramdani Hidayat, Kadivpropam Irjen Abdul Karim, Kadivhumas Irjen Pol Sandi Nugroho, Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho, dan Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto. Selain itu, hadir pula Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik beserta jajaran, Ketua DPP IMM Riyan Betra Delza, dan Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin. Penutupan dilakukan secara simbolis melalui ketukan palu oleh Kapolri yang menandai berakhirnya Tanwir IMM 2025. “Acara Tanwir ke-XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Tahun 2025 secara resmi saya nyatakan ditutup,” ucap Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sambil mengetuk palu tiga kali dan disambut tepuk tangan peserta. Melalui penutupan ini, diharapkan kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut, serta menjadi bagian dari upaya mencetak Sumber Daya Manusia unggul, berintegritas, dan siap bersaing global menuju Generasi Emas Indonesia 2045.
Mendiktisaintek Dorong Inovasi Kampus Ditingkatkan ke Tahap Komersial

TIMES MALANG, MALANG – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof. Brian Yuliarto mendorong agar hasil riset dan inovasi dari perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium. Melainkan bisa ditingkatkan hingga tahap komersialisasi produk. Hal itu disampaikan Prof. Brian saat berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam acara Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen UMM, Jumat (31/10/2025). Dalam kunjungan singkatnya, Prof. Brian mengapresiasi berbagai hasil penelitian dan inovasi yang telah dikembangkan oleh sivitas akademika UMM. Sejumlah karya inovatif yang ditampilkan meliputi produk pertanian kentang unggul, inovasi ternak ayam, pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH), serta drone buatan mahasiswa dan dosen UMM. “Saya berterima kasih sekali hari ini bisa bertemu dengan pimpinan dan dosen di UMM, menyampaikan hasil-hasil riset dan inovasi yang sudah dikembangkan. Banyak sekali produk yang diharapkan bisa berkontribusi terhadap penyelesaian masalah,” ujar Prof. Brian. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa hasil inovasi kampus perlu diarahkan menuju komersialisasi agar dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata serta memperkuat kemandirian bangsa. “Kami berharap agar inovasi yang sudah dikembangkan bisa ditingkatkan menuju produk komersial. Dengan begitu, karya bangsa Indonesia ini bisa mensubstitusi produk-produk yang masih impor,” tambahnya. Prof. Brian menjelaskan, penguatan ekosistem riset dan inovasi di perguruan tinggi menjadi salah satu prioritas utama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ia menilai, kampus memiliki peran penting sebagai pusat pengetahuan yang mampu menghasilkan solusi nyata bagi industri dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan komersialisasi inovasi kampus tidak hanya bergantung pada aspek teknologi, tetapi juga kolaborasi antara akademisi, pelaku industri, dan pemerintah. “Kuncinya ada di sinergi. Perguruan tinggi harus terbuka bekerja sama dengan dunia usaha agar riset yang dihasilkan bisa menjawab kebutuhan pasar,” pungkasnya. (*)
Soroti Lemahnya Kolaborasi Kampus dan Industri, Menteri Diktisaintek: Riset Tak Boleh Mati di Meja Laboratorium

JATIMTIMES – Jurang antara kampus dan industri masih menganga. Di satu sisi, perguruan tinggi melahirkan segudang penelitian; di sisi lain, industri sering tak tahu harus menjemput yang mana. Di tengah kesenjangan itu, Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) RI, Prof. Dr. Brian Yuliarto, M.Eng., Ph.D., mengingatkan agar hasil riset tidak mati di meja laboratorium. Saat berbicara di Forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025), Brian menyoroti persoalan mendasar yang kerap menghantui dunia akademik: lemahnya hubungan antara hasil riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Banyak penelitian, katanya, berhenti di jurnal tanpa pernah menjelma menjadi produk nyata. Fenomena ini ia sebut sebagai valley of death, jurang kematian inovasi, di mana ide-ide bagus kehilangan napas karena tidak ada jembatan menuju penerapan di dunia nyata. “Kita punya begitu banyak penelitian potensial, tapi terlalu sedikit yang benar-benar hidup di masyarakat. Kalau universitas tidak hadir di tengah industri, maka riset hanya akan jadi tumpukan laporan,” ujarnya dengan tegas. Menurutnya, persoalan ini bukan hanya soal jejaring yang lemah, tetapi juga absennya ekosistem riset yang berkelanjutan. Ketika pendanaan selesai, riset pun berhenti. Tak ada sistem yang memastikan hasil penelitian bisa dikembangkan menjadi produk, kebijakan, atau teknologi yang bermanfaat luas. Karena itu, Brian menilai penting adanya lembaga khusus di kampus yang berfungsi menjembatani dunia riset dengan pengguna hasil penelitian, baik dari sektor pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Dukungan kelembagaan seperti pengaturan regulasi, hak kekayaan intelektual, hingga pendanaan lanjutan sangat dibutuhkan agar inovasi tidak berhenti di tahap ide. “Dosen menjadi kunci penggerak. Mereka bukan hanya penulis jurnal, tapi juga agen yang membawa riset menjadi solusi konkret bagi bangsa,” tambahnya. Brian juga menyoroti potensi besar UMM untuk memecah kebuntuan ini. Ia menilai kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian yang kuat di kampus tersebut bisa menjadi fondasi penting membangun sistem inovasi berkelanjutan. “UMM punya peluang besar menjadi model universitas yang bukan hanya unggul akademiknya, tapi juga nyata dampaknya bagi masyarakat dan industri,” ujarnya. Forum yang digelar di Basement Dome UMM itu juga menjadi ruang apresiasi bagi para dosen dan mahasiswa. Berbagai karya inovatif, dari yang sudah dihilirisasi hingga yang masih dalam tahap pengembangan, dipamerkan dan diserahkan secara simbolis kepada Direktorat Saintek UMM. Langkah ini menjadi bukti bahwa kampus terus berupaya menghadirkan riset yang benar-benar memberi manfaat. Senada dengan itu, Wakil Menteri Diktisaintek Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menilai, UMM telah menanam fondasi kuat sebagai universitas yang tak hanya berorientasi akademik, tapi juga berdampak sosial. Ia menekankan, dosen perlu menjadi motor penggerak budaya ilmiah yang progresif, sekaligus menuntun mahasiswa berpikir kritis dan produktif. “Dosen harus berani keluar dari zona nyaman. Ilmu pengetahuan harus jadi alat perubahan sosial,” pesannya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum memperkuat tekad kolektif sivitas akademika untuk mewujudkan UMM sebagai Kampus Berdampak. Ia menolak anggapan bahwa konsep itu hanyalah slogan. “Kita ingin UMM dikenal bukan karena akademiknya saja, tapi karena kebermanfaatannya. Setiap dosen adalah agen perubahan. Mari kita perluas kolaborasi dan dorong riset yang aplikatif,” tegasnya. Melalui Direktorat Saintek UMM yang menjadi wadah hilirisasi riset dosen dan mahasiswa, universitas ini menegaskan langkah nyata menuju kampus yang hidup di tengah masyarakat, tempat di mana ilmu pengetahuan bukan sekadar teori, tapi napas yang menghidupi perubahan.