Mendiktisaintek: Banyak Riset Kampus Berhenti di Jurnal, Tak Sampai ke Industri

TIMES MALANG, MALANG – Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyoroti persoalan mendasar yang masih dihadapi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, yakni minimnya keterhubungan antara hasil riset kampus dan kebutuhan industri. Dalam Forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025), Brian menyebut fenomena tersebut sebagai “jurang kematian inovasi” yakni, kondisi di mana penelitian berhenti pada publikasi ilmiah tanpa pernah diimplementasikan untuk masyarakat. “Banyak penelitian yang berakhir di jurnal ilmiah tanpa pernah sampai ke tahap implementasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Fenomena ini adalah jurang kematian,” ujarnya, mengutip ANTARA. Menurut Brian, riset sering berhenti di tengah jalan karena kurangnya kolaborasi antara kampus dan dunia usaha. Ia menilai hal ini tidak hanya disebabkan oleh lemahnya jejaring industri, tetapi juga karena belum terbentuknya ekosistem riset berkelanjutan yang mampu menjembatani hasil penelitian ke tahap penerapan. Brian menegaskan bahwa keberlanjutan riset tidak boleh berhenti setelah pendanaan selesai. “Kalau universitas tidak hadir di tengah industri, hasil riset akan berhenti sebagai tumpukan laporan,” ujarnya. Ia mendorong universitas memiliki unit khusus yang menjembatani hasil penelitian dengan mitra eksternal, baik dari sektor pemerintah maupun swasta. Unit ini, katanya, berfungsi untuk membantu regulasi, perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI), serta pendanaan lanjutan. Dengan dukungan kelembagaan seperti itu, riset tidak hanya menjadi aktivitas akademik, melainkan juga solusi konkret terhadap persoalan bangsa. Dalam kesempatan yang sama, Brian menekankan peran dosen sebagai kunci utama dalam menghidupkan ekosistem riset dan inovasi nasional. Dosen, katanya, tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga harus mengarahkan penelitian agar selaras dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional. Ia menilai Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki potensi besar untuk menjadi contoh kampus berdampak. “Dengan kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian yang kuat, UMM bisa menjadi model kampus yang produktif dalam menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Wakil Mendiktisaintek Fauzan menambahkan bahwa UMM telah membangun landasan kuat sebagai universitas yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga berdampak sosial. Menurutnya, dosen berperan penting dalam membentuk budaya ilmiah progresif serta mendorong mahasiswa berpikir kritis dan produktif. “Dosen harus berani keluar dari zona nyaman dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menyebut forum tersebut sebagai momentum penting untuk memperkuat komitmen sivitas akademika dalam mewujudkan konsep “kampus berdampak”. “Konsep ini bukan sekadar slogan, tapi cita-cita yang harus diwujudkan lewat kerja kolektif, pengabdian, dan inovasi berkelanjutan,” katanya. Sebagai langkah konkret, UMM telah membentuk Direktorat Saintek, wadah hilirisasi hasil riset dosen dan mahasiswa agar bisa diterapkan secara nyata di masyarakat. Prof. Nazaruddin menegaskan, UMM ingin dikenal bukan hanya karena kualitas akademiknya, tetapi juga karena manfaatnya bagi masyarakat. ” Setiap dosen adalah agen perubahan,” ujarnya. (*)
Lolos KMI Expo, Mahasiswa UMM Kembangkan Platform Conatus Academy

Penguasaan Bahasa Inggris telah menjadi paspor vital bagi mahasiswa untuk menembus beasiswa dan jenjang karier internasional. Sayangnya, akses terhadap pendidikan berkualitas seringkali terhalang biaya. Namun, di tengah tantangan ini, muncul inovasi berani. Tim mahasiswa yang diketuai Aloysius Gonzaga Alnabe, mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menolak menyerah pada keterbatasan tersebut. Ide bisnis mereka adalah Conatus Academy: Belajar Bahasa Inggris Wujudkan Mimpi Internasionalmu yang bisa di akses secara online maupun offline di Malang. Lahir dari refleksi pribadi, kini menjadi representasi UMM yang lolos dan siap mengguncang Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo XVI tahun 2025 di, Magelang. Transformasi keraguan menjadi solusi oleh Gonza menunjukkan bahwa visi wirausaha menuntut ketajaman analisis dan keberanian mengambil keputusan. Conatus Academy lahir dari refleksi mendalam Gonza dan tim tentang sulitnya menemukan akses pendidikan Bahasa Inggris yang sekaligus berkualitas dan terjangkau. Gagasan ini sebenarnya sudah muncul sejak semester pertama, namun baru benar-benar diwujudkan pada semester lima, setelah ia mendapatkan pengalaman berharga melalui program beasiswa IISMA ke Spanyol. Dalam proses pengembangannya, Gonza mendapat bimbingan dari dosen pedamping Havidz Ageng Prakoso, M.A. serta dukungan tim Conatus yang beranggotakan lima orang yang bersama-sama fokus mengembangkan bisnis jasa pendidikan Bahasa Inggris. Mereka berkomitmen menyajikan kursus yang bermutu namun tetap affordable, dapat dijangkau oleh masyarakat luas. “Kami mendirikan Conatus ini untuk bisa mengakomodasi mereka yang mau belajar tapi tidak memiliki privilege untuk bisa belajar Bahasa Inggris. Ini adalah poin utama yang membedakan Conatus dengan bimbel lainnya. Bahkan Conatus menyediakan beasiswa bagi mereka yang benar-benar tidak mampu membayar,” katanya. Keunggulan lain yang menjadi pondasi kuat Conatus Academy terletak pada metodenya yang unik dalam mengukur keberhasilan peserta. Di Conatus, fokus keberhasilan bukan hanya pada penguasaan materi, melainkan pada pengembangan kepercayaan diri siswa. Mereka tidak menjanjikan kelancaran berbicara dalam satu atau dua bulan, melainkan berupaya membangun fondasi yang kuat, terutama kemampuan critical thinking. “Yang kita kejar itu adalah bagaimana mereka setidaknya percaya diri terlebih dahulu dan yang kemudian mereka bisa mengadaptasi critical thinking tadi karena metode mengajar kita seperti tanya-jawab,” kata Gonza. Proses evaluasi pun dilakukan secara holistik. Tidak hanya melalui tes grammar dan speaking, tetapi juga dari observasi tutor terhadap peningkatan rasa percaya diri siswa di dalam kelas. Untuk KMI Expo XVI 2025, Gonza dan tim sudah menyiapkan strategi matang. Fokus utama mereka adalah menonjolkan pertumbuhan omzet dan novelty (kebaruan) dari model bisnis mereka. Mereka yakin, jarang ditemukan kursus Bahasa Inggris yang memiliki kurikulum berkualitas, didukung oleh 12 tutor berpengalaman internasional (mantan mahasiswa di Jepang, Australia, Spanyol, Korea) dengan harga yang terjangkau. “Kami akan berusaha untuk setidaknya memperkenalkan usaha kami ke tim-tim yang lain, ke mahasiswa-mahasiswa yang lain, agar mereka juga bisa menjadi perpanjangan tangan kami nanti di masa depan,” katanya. (ali/wil)
Mendiktisaintek Soroti Pengangguran Sarjana, Dorong Kampus Hasilkan Inovasi Bernilai Komersial

Malang (beritajatim.com) – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Prof. Dr. Brian Yuliarto, M.Eng., Ph.D., menyoroti persoalan pengangguran di kalangan sarjana sebagai tantangan serius yang dihadapi dunia pendidikan tinggi Indonesia. Ia menegaskan perlunya transformasi perguruan tinggi agar tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga mampu melahirkan inovasi komersial yang menjawab kebutuhan industri nasional. Hal tersebut disampaikan dalam acara Penguatan Kampus Berdampak di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang digelar di Basemen UMM Dome, Jumat (31/10/2025). “Saya selalu ditanya, bagaimana dengan tingkat pengangguran yang ada. Kenapa sarjana masih menganggur,” ujar Mendiktisaintek Prof. Brian Yuliarto. Ia menjelaskan, permasalahan pengangguran sarjana tidak hanya bersumber dari kurikulum perguruan tinggi, tetapi juga terkait erat dengan kondisi makroekonomi dan struktur industri nasional yang masih didominasi tenaga kerja berpendidikan SMA ke bawah. “Ini menandakan bahwa tingkat industri kita belum mencapai tahap yang membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia unggul,” jelasnya. Prof. Brian mengapresiasi berbagai produk inovasi UMM seperti olahan kentang, peternakan ayam, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), dan aburon (alat penjernih air). Namun, ia mengingatkan agar inovasi tersebut tidak berhenti di tahap purwarupa. “Agar lebih dikembangkan lagi menuju komersial produk,” tegasnya. Menurutnya, komersialisasi hasil riset kampus penting untuk mendorong kemandirian bangsa. “Supaya dengan komersial produk itu nantinya bisa dijadikan karya bangsa Indonesia yang mampu mensubstitusi produk-produk impor,” tambahnya. Untuk memperkuat hilirisasi riset, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berkomitmen menjadi jembatan antara perguruan tinggi dan industri strategis, termasuk BUMN. “Inilah yang kami maksud dengan Diktisaintek Berdampak — apa dampak yang bisa kita berikan untuk lingkungan sekitar,” ujarnya. Senada dengan arahan menteri, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menekankan pentingnya orisinalitas dalam riset kampus. “Kata kuncinya harus langka. Saya harapkan para peneliti menghasilkan riset-riset yang langka, yang memiliki the power of scarcity (kekuatan kelangkaan),” jelasnya. Menurut Prof. Nazaruddin, temuan yang unik dan langka akan berdampak besar bagi masyarakat, terutama jika segera dihilirisasi. “Dengan begitu terjadi proses hilirisasi dan digunakan oleh masyarakat untuk membangun kehidupan peradaban yang lebih sejahtera,” pungkasnya. [dan/beq]
Mendiktisaintek Dorong Kampus Berdampak Lewat Penguatan Riset dan Inovasi di UMM

Malang, Tugumalang.id – Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Republik Indonesia, Brian Yuliarto, mendorong konsep Kampus Berdampak melalui penguatan riset dan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara pada Forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen, yang digelar di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025). Forum ini menjadi ruang refleksi dan inspirasi bagi para dosen untuk memperkuat peran mereka sebagai penggerak riset, inovasi, dan kontribusi sosial yang berkelanjutan. Brian menekankan bahwa penguatan peran dosen sangat penting dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kreatif, dan berorientasi pada perubahan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan simbolis karya inovasi dari dosen dan mahasiswa UMM sebagai bukti nyata semangat inovatif sivitas akademika. Beragam karya yang telah berhasil dihilirisasi, maupun yang masih dalam tahap pengembangan, kini terus dikembangkan melalui Direktorat Saintek UMM. Inisiatif ini menunjukkan komitmen UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat dan dunia industri. Atasi “Jurang Kematian Inovasi” Dalam paparannya, Brian menyoroti tantangan utama pendidikan tinggi, yakni lemahnya hubungan antara hasil riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Menurutnya, banyak hasil penelitian yang hanya berhenti di jurnal ilmiah tanpa implementasi nyata di lapangan. Fenomena tersebut disebutnya sebagai “valley of death” atau jurang kematian inovasi — kondisi di mana ide dan penelitian berhenti di tengah jalan karena kurangnya kolaborasi antara kampus dan dunia usaha. “Indonesia punya begitu banyak penelitian potensial, tetapi terlalu sedikit yang benar-benar dimanfaatkan. Jika universitas tidak hadir di tengah industri, hasil riset hanya akan menjadi tumpukan laporan. Kampus harus turun tangan agar inovasi bisa hidup dan digunakan masyarakat,” tegas Brian. Ia menambahkan, permasalahan ini bukan hanya akibat minimnya jejaring dengan industri, tetapi juga karena belum terbentuknya ekosistem riset berkelanjutan. Banyak riset berhenti setelah pendanaan selesai, tanpa ada mekanisme lanjutan untuk mengembangkan produk, kebijakan, atau teknologi aplikatif. Perlu Dukungan Kelembagaan dan Kolaborasi Mendiktisaintek menekankan pentingnya dukungan kelembagaan yang kuat agar riset dosen dapat terhubung dengan mitra eksternal seperti pemerintah maupun sektor swasta. Universitas, kata dia, perlu memiliki unit khusus penghubung riset dengan industri, mencakup regulasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, hingga pendanaan lanjutan. “Penelitian seharusnya tidak berhenti di ruang akademik, tapi menjadi solusi konkret atas persoalan bangsa,” ujarnya. Ia juga menilai bahwa peran dosen menjadi kunci utama dalam menghidupkan ekosistem riset dan inovasi tersebut. Brian memuji UMM yang dinilai memiliki potensi besar menjadi contoh universitas berdampak. “Kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian di UMM bisa menjadi modal penting untuk membangun sistem inovasi berkelanjutan,” tambahnya. Jika dikelola dengan baik, lanjutnya, UMM dapat menjadi model kampus yang unggul secara akademik sekaligus produktif dalam menghasilkan inovasi berdampak bagi masyarakat dan industri. UMM Siap Wujudkan Kampus Berdampak Sementara itu, Wakil Mendiktisaintek, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menilai UMM telah membangun fondasi kuat sebagai universitas yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi. Menurutnya, penguatan peran dosen menjadi kunci menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. “Dosen harus berani keluar dari zona nyaman dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial,” ujarnya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk memperkuat komitmen sebagai kampus berdampak. “Konsep Kampus Berdampak bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita bersama yang harus diwujudkan melalui kerja kolektif, pengabdian, dan inovasi berkelanjutan,” ungkapnya. Ia menambahkan, UMM telah mengambil langkah strategis dengan mendirikan Direktorat Saintek UMM sebagai wadah hilirisasi hasil riset dosen dan mahasiswa. “Kita ingin UMM dikenal bukan hanya karena kualitas akademiknya, tetapi karena kebermanfaatannya bagi masyarakat. Setiap dosen adalah agen perubahan. Mari perkuat kolaborasi lintas bidang dan kembangkan riset yang memiliki nilai aplikatif,” tutupnya.
Kapolri Ajak Mahasiswa Berkontribusi Jaga Keamanan, Wujudkan Stabilitas Kamtibmas

Malang.bhinnekanusantara – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengajak mahasiswa dan generasi muda mendukung kebijakan pemerintah. Jenderal Sigit juga mengajak mahasiswa turut menjaga keamanan bangsa dengan cara menjauhi judi online (judol) dan narkoba. Hal itu disampaikan Kapolri saat sambutan penutupan Tanwir ke-XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Tahun 2025 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Jumat (31/10/2025). Dia mengatakan Polri dan mahasiswa memiliki peran strategis dalam mewujudkan kemandirian bangsa, mewujudkan SDM unggul dan kompetitif serta pemberdayaan UMKM. “Tentunya kegiatan ini sangat baik karena merupakan bentuk dan wujud semangat kolaborasi antara pemuda, antara mahasiswa dengan pemerintah serta seluruh stakeholder ada untuk terus saling mendukung, bekerja sama untuk mendorong seluruh program-program pembangunan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi, mewujudkan Indonesia yang lebih baik,” kata Jenderal Sigit. Dia juga mengajak mahasiswa turut berkontribusi menjaga keamanan dalam menghadapi tantangan bangsa, seperti perkembangan teknologi, judi online, dan peredaran narkoba guna mewujudkan stabilitas kamtibmas. Dia juga mengingatkan Indonesia harus mencetak SDM unggul. “Dan tentunya ini dibutuhkan kerja sama seluruh pihak dan elemen bangsa, sekali lagi saya ucapkan selamat seluruh rekan-rekan di IMM, teruslah menjadi SDM unggul, SDM yang betul-betul siap untuk menjadi aktor-aktor yang akan menjadi pemain utama di generasi emas tahun 2045,” ucapnya. Jenderal Sigit mengatakan sinergisitas antara Polri, mahasiswa dan seluruh elemen bangsa penting untuk membangun negeri mewujudkan visi bersama yakni Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045.
Wabup Malang Dorong Kader IMM Jadi Penggerak Bangsa
MALANG, RadarBangsa.co.id — Penutupan Tanwir ke-XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Tahun 2025 di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10), menjadi ajang penting yang menegaskan peran strategis generasi muda dalam membangun bangsa. Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, hadir langsung dalam kegiatan yang juga dihadiri sejumlah tokoh nasional dan pejabat tinggi negara. Tampak hadir Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto, Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran RI Dzulfikar Ahmad Tawalla, Kabaintelkam Polri Komjen Yuda Gustawan, Dankorbrimob Polri Komjen Ramdani Hidayat, Kadivpropam Polri Irjen Abdul Karim, Kadivhumas Polri Irjen Sandi Nugroho, Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho, dan Kapolda Jatim Irjen Nanang Avianto. Dari kalangan akademisi, hadir Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik bersama jajaran dosen, Ketua DPP IMM Riyan Betra Delza, dan Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin. Mengusung tema “Energi Kolektif untuk Negeri”, Tanwir IMM kali ini menjadi forum nasional yang tidak hanya memantapkan konsolidasi organisasi, tetapi juga memperkuat komitmen kader muda Muhammadiyah untuk menjadi agen perubahan di tengah dinamika bangsa. Dalam sambutannya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menutup kegiatan secara simbolis dengan ketukan palu, mengajak seluruh mahasiswa Muhammadiyah untuk terus berkontribusi aktif mendukung program-program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai IMM memiliki peran penting dalam menjaga semangat kebangsaan di kalangan pemuda. “Mahasiswa memiliki energi dan potensi luar biasa untuk menjadi bagian dari solusi bangsa. Dengan kolaborasi dan semangat intelektual yang dimiliki IMM, saya yakin Indonesia akan semakin kuat,” ujar Jenderal Sigit dalam sambutannya. Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib menilai kegiatan Tanwir IMM menjadi wadah inspiratif bagi lahirnya gagasan segar dari generasi muda yang peduli terhadap masa depan negeri. Menurutnya, semangat kebersamaan dan pencerahan yang diusung IMM selaras dengan visi pembangunan Kabupaten Malang yang inklusif dan berbasis kolaborasi lintas sektor. “Pemerintah Kabupaten Malang siap menjadi mitra kolaborasi bagi IMM, khususnya dalam penguatan kapasitas pemuda desa. Kami meyakini, mahasiswa memiliki peran penting dalam mendorong inovasi sosial dan pembangunan masyarakat berbasis potensi lokal,” ujar Lathifah. Ia menegaskan bahwa tantangan pembangunan ke depan tidak bisa dihadapi oleh pemerintah semata. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa, untuk memperkuat kemandirian desa serta mendorong pemerataan pembangunan. “Kerja sama lintas elemen menjadi kunci dalam membangun negeri. IMM memiliki semangat dan kemampuan untuk menjadi penggerak perubahan dari akar rumput,” tambahnya. Wabup Lathifah juga menyoroti pentingnya karakter dan nilai kebangsaan di kalangan mahasiswa agar gerakan intelektual tidak hanya berhenti pada diskursus, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata. “Kita membutuhkan generasi muda yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan semangat pengabdian,” tandasnya. Penulis : Nul Editor : Zainul Arifin
Mendes Yandri Ajak IMM Bekerja Sama Membangun Desa

MALANG, katakini – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengajak Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) untuk bekerja sama dan berkolaborasi dalam membangun desa. Menurutnya, hal tersebut sesuai dengan arahan dari Presiden Prabowo Subianto, bahwa kita ini bukan Superman, tapi super tim. Oleh karena itu, ia menilai IMM sebagai tim yang layak untuk diajak berkolaborasi membangun desa. “Saya datang ke sini bukan untuk ceramah, tapi untuk mengajak kerja sama IMM untuk sama-sama berkolaborasi membangun desa. Saya menganggap IMM adalah tim yang layak saya ajak untuk bersama-sama membangun desa,” ujar Yandri saat memberikan kuliah kebangsaan dalam penutupan Tanwir ke-33 IMM di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025). Dalam forum yang dihadiri oleh ribuan kader IMM dari seluruh Indonesia tersebut, Mendes Yandri juga mengatakan bahwa keterlibatan pemuda di desa menjadi hal yang penting dalam keberhasilan pembangunan. Apalagi, dengan diletakkannya desa di dalam Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto, membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan, menjadikan desa bukan lagi sebagai objek pembangunan, tapi subjek pembangunan. Untuk menyukseskan Asta Cita ke-6 tersebut, Kemendes PDT kemudian membuat 12 aksi prioritas Bangun Desa Bangun Indonesia. Diharapkan, dengan kolaborasi dari berbagai pihak maka 12 aksi tersebut dapat menyukseskan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Saat ini, Kementerian Desa dan PDT punya program badan usaha milik desa (BUM Desa), kemudian juga ada desa ekspor, desa wisata dan lain sebagainya. Selain itu, program utama pemerintah, yaitu koperasi desa merah putih dan makan bergizi gratis juga berbasis di desa. Dengan banyaknya program dan terbukanya peluang yang ada di desa, Mendes Yandri kemudian mengajak para pemuda atau mahasiswa yang sudah selesai belajar untuk kembali membangun desanya masing-masing. “Saya mengajak, mari kita ciptakan lapangan kerja di Republik ini yang berangkat dari desa. Boleh kita tinggal di desa, tapi pendapatan mengalahkan orang-orang kota,” ujar mantan Wakil Ketua MPR RI ini. Sebagai informasi, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kemendes PDT dengan Universitas Muhammadiyah Malang tentang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat desa dan daerah tertinggal.
Mendes PDT: Desa bukan lagi objek, tapi subjek pembangunan

Malang (ANTARA) – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menegaskan bahwa saat ini desa bukan lagi sebagai objek pembangunan, akan tetapi subjek pembangunan. “Dengan diletakkannya desa di dalam Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto, membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan, menjadikan desa bukan lagi sebagai objek, tapi subjek pembangunan,” katanya saat memberikan kuliah kebangsaan dalam penutupan Tanwir Ke-33 IMM di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Malang, Jawa Timur, Jumat. Untuk menyukseskan Asta Cita ke-6 tersebut, Kemendes PDT membuat 12 aksi prioritas Bangun Desa Bangun Indonesia. Dia mengharapkan dengan kolaborasi berbagai pihak, 12 aksi tersebut dapat menyukseskan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Saat ini, Kementerian Desa PDT mempunyai program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), juga ada desa ekspor, desa wisata, dan lain sebagainya. Selain itu, program utama pemerintah, yaitu Koperasi Desa Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berbasis di desa. Yandri menjelaskan capaian positif BUMDes yang mencatatkan pendapatan bersih hingga Rp28 miliar per tahun serta kemajuan desa ekspor di berbagai daerah, seperti Blitar dan Banyumas. Pemerintah, katanya, mendorong munculnya desa tematik, seperti desa ikan nila, desa ayam petelur, hingga desa jagung dan timun. Dengan banyak program dan terbuka peluang ada di desa, ia mengajak para pemuda atau mahasiswa yang sudah selesai belajar untuk kembali membangun desa masing-masing. “Saya mengajak, mari kita ciptakan lapangan kerja di Republik ini, yang berangkat dari desa. Boleh kita tinggal di desa, tapi pendapatan mengalahkan orang-orang kota,” ujar mantan Wakil Ketua MPR RI ini. Pada kesempatan itu, ia mengajak Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bekerja sama dan menjadi bagian dalam pembangunan desa yang berkelanjutan. “Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto bahwa kita ini bukan Superman, tapi super tim. Oleh karena itu, saya nilai IMM sebagai tim yang layak untuk diajak berkolaborasi dan bekerja sama untuk membangun desa,” kata dia. Ia mengaku bahwa kehadirannya ke Tanwir IMM bukan untuk ceramah, tetapi mengajak kerja sama IMM untuk membangun desa. “IMM adalah tim yang layak saya ajak untuk bersama-sama membangun desa,” ujarnya. Dalam forum yang dihadiri oleh ribuan kader IMM berasal dari seluruh Indonesia tersebut, ia mengatakan bahwa keterlibatan pemuda di desa menjadi hal penting dalam keberhasilan pembangunan. Ia juga menyoroti tantangan urbanisasi ekstrem, seperti di Jepang dan Korea Selatan, di mana sebagian besar warga meninggalkan desa untuk tinggal di kota. Fenomena ini, berpotensi menimbulkan krisis sosial dan ekonomi. Rektor UMM Nazaruddin Malik menekankan pentingnya melahirkan insan paripurna, manusia seutuhnya yang tidak hanya unggul dalam transfer ilmu, tetapi juga spiritualitas, keagamaan, dan kebangsaan. “UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah akan terus mendukung kegiatan seperti Tanwir ini,” ujarnya. Di sela agenda penutupan Tanwir XXXIII IMM, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Kemendes PDT dengan Universitas Muhammadiyah Malang dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat desa dan daerah tertinggal.
Kapolri Hadiri Penutupan Tanwir IMM di UMM, Ajak Mahasiswa Jadi Penggerak Ketahanan Bangsa

MALANG//JurnalPolisi.co.id – Kapolri Listyo Sigit Prabowo menghadiri penutupan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tahun 2025 di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025). Acara yang mengangkat tema “Energi Kolektif untuk Negeri” itu dihadiri ribuan kader IMM dan mahasiswa dari berbagai daerah. Dalam kegiatan tersebut, Kapolri menyampaikan pentingnya peran pemuda dan mahasiswa dalam memperkuat kemandirian bangsa, khususnya di bidang ketahanan pangan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat. Ia juga menekankan bahwa IMM dan generasi muda harus menjadi bagian dari solusi di tengah tantangan global yang dinamis. Kapolres Malang, AKBP Danang Setiyo P.S., mengatakan kehadiran Kapolri di tengah kader IMM menunjukkan komitmen Polri dalam mempererat hubungan dengan kalangan akademisi dan organisasi kepemudaan. “Kehadiran Bapak Kapolri di UMM menjadi bentuk dukungan nyata kepada mahasiswa untuk terus berkontribusi positif bagi bangsa. IMM merupakan salah satu organisasi yang melahirkan banyak pemimpin muda yang peduli dengan kemajuan Indonesia,” ujar AKBP Danang, Jumat (31/10). Danang menambahkan, kolaborasi antara kepolisian dan mahasiswa menjadi penting dalam menjaga semangat kebangsaan sekaligus menciptakan lingkungan yang kondusif di dunia kampus. “Mahasiswa adalah agen perubahan. Sinergi dengan Polri diharapkan bisa memperkuat nilai-nilai toleransi, kedisiplinan, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” tuturnya. Penutupan Tanwir IMM ke-33 ini juga menjadi momentum penguatan kerja sama antara pemerintah, Polri, dan organisasi kepemudaan dalam membangun energi kolektif untuk negeri. “Kami dari Polres Malang siap mendukung langkah positif para mahasiswa dan generasi muda. Semangat kolaborasi ini harus terus dijaga agar menjadi kekuatan besar dalam membangun bangsa,” pungkas Danang. (Jms)
Dari Tanwir IMM UMM, Mendes PDTT dan Kapolri Kompak Dorong Pemuda Bangun Desa

Kabupaten Malang, blok-a.com – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDTT) Yandri Susanto menantang kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) untuk turun langsung membangun desa. Tantangan itu disampaikan bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo usai menghadiri penutupan Tanwir XXXIII IMM di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025). Yandri menyebutkan, banyak program Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada penguatan ekonomi masyarakat desa. Di antaranya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan rantai pemasok makanan hingga Koperasi Desa Merah Putih. “Kami sekarang menantang mahasiswa Muhammadiyah melakukannya. Kami punya program Desa Ekspor, yang selama ini sudah dimulai. Banyak pelakunya dari anak muda. Ada juga Desa Wisata, Desa Bebas Narkoba. Kami mengajak mahasiswa IMM bersama-sama kembali ke desa,” ujar Yandri. Ia menegaskan, sudah saatnya pemuda mau tinggal dan berkarya di desa. Menurutnya, dengan pemberdayaan masyarakat yang optimal, potensi pendapatan di desa tidak kalah dengan yang ada di perkotaan. “Jadi ayo sama-sama membangun desa. Kami berkolaborasi dengan banyak pihak. Kemendes PDTT sudah MoU dengan Pak Rektor UMM, dengan Pak Kapolri, termasuk dengan mahasiswa,” tambahnya. Melalui kerja sama tersebut, diharapkan tercipta peluang baru untuk memacu pertumbuhan ekonomi di tingkat desa. “Kita menyukseskan Asta Cita Bapak Presiden yang ke-6, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan,” jelasnya. Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendorong pembangunan nasional. “Mahasiswa harus berkolaborasi untuk mendorong program pembangunan. Saling mendukung untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi, Indonesia yang lebih baik, dan tentunya dibutuhkan kerja sama seluruh pihak, seluruh elemen bangsa,” ujarnya. (yog/bob)