Dosen Teknik Sipil UMM Jelaskan Risiko Kerusakan Bangunan Akibat Banjir

Sketsamalang.com – Frekuensi banjir di Malang Raya meningkat akibat hilangnya resapan air dan drainase yang banyak tertutup oleh bangunan warga. Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah, ST., MPWK menyebut kondisi ini membuat air hujan langsung mengalir ke jalan dan memicu kerusakan pada infrastruktur maupun pondasi bangunan. Menurutnya, alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun menyebabkan air hujan tidak lagi terserap optimal dan langsung mengalir ke jalan. Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. “Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya. Dari sisi teknik sipil, banjir berdampak langsung pada infrastruktur maupun bangunan. Amalia menyebut lapisan aspal kerap terkelupas setelah banjir, menyebabkan jalan cepat berlubang. Untuk bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif dapat merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Ia menambahkan bahwa banjir yang terjadi berulang dapat mengikis pondasi bangunan, terutama yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air besar. “Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Untuk bangunan yang terlanjur berada di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan pemilik rumah untuk melakukan peninggian bangunan dan menambah titik sumur resapan atau biopori di lingkungan sekitar. Mitigasi sederhana, seperti memasang papan penahan air di pintu ketika hujan deras, juga dinilai efektif mencegah air masuk ke rumah. Dari sudut pandang penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang saat ini dilakukan pemerintah sudah tepat. Namun ia menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga air sulit masuk. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” jelasnya. Lebih lanjut, Amalia menegaskan pentingnya pemilihan lokasi sebelum membangun rumah serta penerapan aturan tata kota, seperti menyediakan 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar air hujan tetap dapat meresap. Ia berharap pemerintah lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur agar upaya mitigasi banjir dapat berjalan maksimal. (*)

Nyentrik! Prosesi Pengukuhan Guru Besar di Malang Diarak Klub Motor

MALANG, Tugujatim.id – Prosesi Pengukuhan Guru Besar di Malang Diarak Klub Motor, Sabtu (22/11/2025). Tiga guru besar baru yang dikukuhkan diantar puluhan motor motor gede dari rektorat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM. Ketiga Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Mulai dari pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor ini juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” tegas Nazaruddin Malik dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/11/2025). Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P., memberikan apresiasi tinggi atas capaian kampus putih. Ia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Muhadjir dalam kalimatnya juga membeberkan bahwa dari tiga profesor baru ini memiliki titik temu dalam hal bagaimana menciptakan masa depan indonesia yang lebih hijau, baik, dan sustainable. “Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” katanya. Kemudian, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Ia juga menyoroti pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas.

Pengukuhan Tiga Profesor UMM, Paparkan Gagasan Ilmiah untuk Masa Depan Indonesia

Malanginspirasi.com – Universitas Muhammadiyan Malang (UMM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) kembali menambah guru besar bergelar professor pada Sabtu (22/11/2025). Pada acara pengukuhan guru besar yang diadakan di Basement Dom UMM, kampus secara resmi menganugerahkan jabatan akademik tertinggi kepada tiga dosennya. Mereka adalah Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd (Bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika), Prof. Dr. Lud Waluyo, M.Kes (Bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan), serta Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M (Bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum). Metode OIDDE Dalam orasinya, Prof. Atok Miftachul Hudha memaparkan model pembelajaran inovatif OIDDE yang ia kembangkan. Ia menegaskan bahwa model tersebut berpotensi kuat mendukung tujuan pendidikan nasional secara utuh. “Model pembelajaran OIDDE dirancang agar peserta didik menjadi manusia yang beriman, berilmu, kreatif, dan bertanggung jawab,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa model pembelajaran tersebut dirancang untuk mendukung tujuan pendidikan nasional secara menyeluruh. Mulai dari pembentukan karakter hingga peningkatan literasi sains. Menurutnya, berbagai riset mahasiswa UMM maupun kampus lain menunjukkan bahwa rendahnya literasi konseptual dan tingginya miskonsepsi. Serta keterbatasan pedagogi dan teknologi masih menjadi masalah utama dalam pembelajaran biologi. “Riset menunjukkan masih rendahnya literasi sains dan banyaknya miskonsepsi. OIDDE hadir untuk menjawab problematika pembelajaran biologi di abad global,” tambahnya. Ia berharap bahwa OIDDE dapat menjadi solusi dalam problematika pembelajaran biologi pada saat ini. “OIDDE diharapkan menjadi solusi berkelanjutan yang memberikan konteks sosial dan etika dalam setiap proses pembelajaran,” ujarnya. Teknologi Biofitoremediator Sementara itu, Prof. Lud Waluyo mengangkat isu pencemaran lingkungan akibat senyawa xenobiotik yang semakin meningkat. “Senyawa-senyawa ini tidak dikenali mikroba, sehingga bersifat resisten dan tidak terdegradasi,” jelasnya. Ia mencontohkan keberadaan logam berat, detergen, plastik, hingga polimer yang semakin mencemari alam. “Saat ini hujan di Kota Malang saja sudah mengandung mikroplastik hal ini dikarenakan zat zat tersebut yang mencemari lingkungan,” ungkapnya. Untuk menjawab persoalan tersebut, ia menawarkan teknologi bernama biofitoremediator. Penelitiannya sejak 1999 telah menghasilkan teknologi “simba” berbasis simbiosis mikroba serta produk mikroorganisme generasi baru. “Ketika pencemaran meningkat, teknologi harus berkembang. Itu sebabnya kami menghibritkan bakteri hidrotropik dengan tumbuhan air remediator,” tuturnya. Kurikulum Indonesia Satu Dalam orasi terakhir, Prof. Moh. Mahfud Effendi memperkenalkan gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) yang menempatkan integrasi pengetahuan dan karakter sebagai fondasi utama. Ia mengajak agar pembelajaran lebih kontekstual dan menyatu dengan berbagai hal. “Bisa dibayangkan jika fisika dikaitkan dengan seni membatik atau biologi dengan kearifan pertanian lokal,” imbuhnya. Menurutnya, teknologi seperti AI dan big data merupakan hanya alat bantu manusia menuju jembatan pemerataan, namun tetap yang menentukan arah atau jalannya adalah manusia. “Teknologi hanyalah alat, arah tetap ditentukan manusianya,” tegasnya. Ia menyebutkan bahwa pengajar perlu memiliki keberanian dalam merancang kurikulum yang mumpuni, hingga KIS menjadi peta jalan menuju Indonesia Emas 2045. “Kita memerlukan keberanian intelektual untuk merancang kurikulum yang mumpuni, yang memenuhi keberagaman, sekaligus menegaskan persatuan, yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, tengah derasnya arus teknologi. Inilah Kurikulum Indonesia Satu, Kurikulum yang memanusiakan manusia, menyatukan bangsa, dan menuntun Indonesia menuju emas,” tutupnya.

Gaul, 3 Guru Besar Baru UMM Diarak Pakai Moge saat Pengukuhan

MALANG, VIVA JATIM – Pengukuhan 3 guru besar baru Fakultas dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 22 November 2025, terasa berbeda. Sebab, saat menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM, mereka diarak dengan iring-iringan motor gede atau moge. 3 guru besar FKIP UMM yang baru dikukuhkan itu ialah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Mereka terlihat gagah saat menunggangi moge dengan setelan busana yang gaul dan keren, tapi tak menghilangkan kesan formal. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Ada yang ahli di bidang pengembangan kurikulum, ada pakar mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor itu juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Rektor UMM, Prof Nazaruddin Malik, mengatakan bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, tetapi menjadi energi baru bagi kemajuan bangsa. Katanya sinergi lintas disiplin menjadi kunci pengembangan peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” kata Nazaruddin. Pria yang akrab disapa Nazar itu menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” ujar Nazar. Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof Muhadjir Effendy, memberikan apresiasi tinggi atas capaian UMM. Sebagai mantan rektor dia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Dia menilai tiga profesor baru tersebut memiliki titik temu dalam menciptakan masa depan indonesia yang lebih hijau, baik, dan sustainable. “Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” kata Muhadjir. Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Prof Fauzan menilai bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. “Pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas,” kata Fauzan.

Diarak Klub Motor, Uniknya Pengukuhan Tiga Guru Besar Baru FKIP UMM

KLIKMU.CO – Iring-iringan klub motor menjadi daya tarik sesaat sebelum pengukuhan tiga guru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Puluhan motor gede (moge) mengantar para guru besar dari rektorat menuju Dome UMM, Sabtu (22/11/2025). Ketiganya adalah Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM, Prof Dr Lud Waluyo Drs M Kes, dan Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd. Ketiga guru besar ini memiliki kepakaran berbeda, mulai dari pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Kehadiran mereka juga memperkuat posisi UMM sebagai kampus yang konsisten dalam perkembangan akademik, kini memiliki total lebih dari 79 guru besar. Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan bahwa penambahan guru besar bukan sekadar prestasi institusi, tetapi energi baru bagi kemajuan bangsa. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” ujarnya. Nazaruddin juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang diyakini akan menarik minat masyarakat melanjutkan studi di UMM serta membuka peluang kolaborasi dengan industri, sektor usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Ia menekankan, “Mengejar peringkat itu boleh, tapi jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas.” Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian UMM Prof Dr H Muhadjir Effendy MAP memberikan apresiasi atas capaian kampus putih. Menurutnya, jumlah guru besar menjadi salah satu tolok ukur reputasi perguruan tinggi. “Banyak orang tua menilai maju atau tidaknya perguruan tinggi dari jumlah profesor dan reputasinya di masyarakat,” ujarnya. Muhadjir juga menyoroti bahwa ketiga profesor baru ini memiliki titik temu dalam hal menciptakan masa depan Indonesia yang lebih hijau, baik, dan berkelanjutan. “Saya harap UMM menjadi pelopor pembangunan yang benar-benar berkelanjutan. Pembangunan bukan untuk merusak, tapi memastikan masa depan lebih baik,” katanya. Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Dr Fauzan MPd menekankan peran krusial perguruan tinggi dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menegaskan bahwa kekuatan bangsa bukan hanya dari kelimpahan sumber daya alam, tetapi kualitas sumber daya manusia. Fauzan juga menyoroti pentingnya model credential micro, pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas. (Wildan/AS)

Melalui Pembuatan E-Commerce, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan UMM Akselerasi Digital Pada UMKM Mitra LP UMKM PWM Jatim

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Tim dosen Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (EP FEB UMM) melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang pengabdian masyarakat dalam bentuk pelatihan pembuatan e-commerce kepada anggota Lembaga Pengembang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim). Dijelaskan PIC Humas Prodi EP UMM, Muhammad Firmansyah, SE, ME, tim dosen tersebut atas nama Muhammad Sri Wahyudi S, ME, Ph.D, Setyo Wahyu, SE, ME, dan Fitri Rusdianasari, SE, M.Si. Menurut Firman, tim dosen EP UMM tersebut memberikan tahapan proses pembuatan e-commerce kepada peserta LP UMKM PWM Jatim bertujuan mendorong akselerasi digital pada UMKM mitra LP UMKM PWM Jatim. Sehingga produk mitra UMKM dapat dipasarkan lebih luas lagi. Pelatihan ini dikemas secara interaktif dengan pendekatan teori dan praktek. Termasuk sesi praktek membuat konten promosi dan simulasi transaksi e-commerce. Selain itu peserta juga dibekali panduan yang dapat diakses secara digital. “Ini merupakan bagian dari literasi digital sebagai solusi membuka peluang usaha mikro yang berkelanjutan,” ujar Fiman. (humas/don)

Banjir Meningkat di Malang Raya, Akademisi UMM: Air Tidak Bisa Langsung Masuk ke Drainase

MALANG POST – Frekuensi banjir di Malang Raya meningkat akibat hilangnya resapan air dan drainase yang banyak tertutup oleh bangunan warga. Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah, ST., MPWK menyebut kondisi ini membuat air hujan langsung mengalir ke jalan dan memicu kerusakan pada infrastruktur maupun pondasi bangunan. Menurutnya, alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun menyebabkan air hujan tidak lagi terserap optimal dan langsung mengalir ke jalan. Kondisi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. “Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” ujarnya. Dari sisi teknik sipil, banjir berdampak langsung pada infrastruktur maupun bangunan. Amalia menyebut lapisan aspal kerap terkelupas setelah banjir, menyebabkan jalan cepat berlubang. Untuk bangunan, air hujan yang mengandung zat korosif dapat merusak pondasi, instalasi listrik, hingga peralatan elektronik. Ia menambahkan bahwa banjir yang terjadi berulang dapat mengikis pondasi bangunan, terutama yang berada di bantaran sungai atau wilayah dengan debit air besar. “Semakin lama terhempas air, pondasi bisa terkikis dan memicu kerusakan struktural hingga risiko roboh,” jelasnya. Untuk bangunan yang terlanjur berada di kawasan rawan banjir, Amalia menyarankan pemilik rumah untuk melakukan peninggian bangunan dan menambah titik sumur resapan atau biopori di lingkungan sekitar. Mitigasi sederhana, seperti memasang papan penahan air di pintu ketika hujan deras, juga dinilai efektif mencegah air masuk ke rumah. Dari sudut pandang penataan kota, ia menilai pembangunan dan pembesaran saluran drainase yang saat ini dilakukan pemerintah sudah tepat. Namun ia menemukan beberapa proyek drainase yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, sehingga air sulit masuk. “Ini memicu masalah baru karena aliran air tidak bisa langsung mengalir ke saluran,” jelasnya. Lebih lanjut, Amalia menegaskan pentingnya pemilihan lokasi sebelum membangun rumah serta penerapan aturan tata kota, seperti menyediakan 30 persen lahan terbuka dalam satu kavling agar air hujan tetap dapat meresap. Ia berharap pemerintah lebih optimal dalam mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur agar upaya mitigasi banjir dapat berjalan maksimal. (*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

FKIP UMM Mengukuhkan Tiga Guru Besar Baru

RADAR MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jumlah guru besar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendi dikan (FKIP) mengukuhkan tiga guru besar baru hari ini (22/11). Sosok yang menda pat gelar itu Prof Dr Moh. Mahfud Effendi MM, Prof Dr Lud Waluyo Drs MKes, dan Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd. Ketiganya mempunyai penelitian dan kepakaran yang beragam. Ada yang fokus pada pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Prof Mahfud menegaskan, gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan ke beragaman. Menurutnya, pendidikan nasional selama ini kerap terjebak pada keseragaman. Padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa, dan tradisi. ”Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesen jangan. Jika kita mengajar kan anak-anak seperti ke marin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya. Lebih jauh, Mahfud men jelaskan bahwa KIS mesti memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya, dan kehidupan nyata. Sehingga pembelajaran lebih bermakna. Menurutnya, kurikulum berjiwa humanis, inklusif, dan berbasis teknologi yang berkeadilan syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, Prof Lud Waluyo menjelaskan, persoalan limbah cair yang kini semakin kompleks akibat pertumbuhan pen duduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu juga hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Dia menegaskan, pendekatan kimia tidak lagi memadai karena berpotensi menciptakan residu baru yang berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan men desak. ”Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan bahwa solusi limbah ter baik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri, riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS serta efektif mematikan patogen. Ini kemudian saya rumus kan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan ke mampuan tinggi menurun kan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen,” katanya. Di sisi lain, Prof Atok Mif tachul menilai, pendidikan sains di Indonesia masih lemah. Penyebabnya, peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik labora torium yang dilakukan. Perkembangan biotekno logi yang cepat menghadirkan dilema etis baru yang tidak tertampung dalam kurikulum konvensional. ” Model pembelajaran OIDDE (Orientation, Iden tify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour) menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains,” katanya. Karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil kepu tusan ilmiah yang bijak dan etis. (gp)   Editor: Aditya Novrian Sumber: Radar Malang     Tags

Diarak Moge, Prosesi Pengukuhan Guru Besar UMM Berubah Jadi Perayaan Akademik yang Meriah

pwmu.co –Suara deru mesin motor gede membelah udara pagi di Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (22/11). Bukan untuk ajang otomotif, melainkan mengiringi perjalanan tiga guru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menuju prosesi pengukuhan di Dome UMM. Iring-iringan klub motor yang membawa para profesor ini sontak mencuri perhatian, menghadirkan pemandangan tak biasa dalam tradisi akademik yang umumnya berlangsung formal dan tenang. Puluhan moge berbaris rapi, mengawal tiga tokoh akademik UMM yang resmi menyandang gelar tertinggi dalam dunia pendidikan tinggi: Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM, Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs, M.Kes, dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Ketiganya datang dengan wajah sumringah, menyapa civitas akademika yang berjejer sepanjang jalan, menanti momen istimewa ini. Ketiga profesor baru tersebut membawa keahlian yang beragam. Prof Mahfud dikenal dengan kepakarannya dalam pengembangan kurikulum, Prof Lud Waluyo memiliki fokus pada mikrobiologi lingkungan, sementara Prof Atok mengokohkan UMM melalui keahliannya di bidang Pendidikan Bioetika. Meski berbeda disiplin ilmu, ketiganya memperkuat posisi UMM sebagai kampus yang berkomitmen pada perkembangan akademik. Dengan bertambahnya tiga guru besar ini, jumlah profesor UMM kini melampaui 79 orang, sebuah capaian signifikan yang terus menanjak dari tahun ke tahun. Dalam suasana penuh kebanggaan, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa bertambahnya guru besar tidak sekadar menambah daftar prestasi kampus, tetapi juga menjadi sumber energi baru bagi kemajuan bangsa. “Sinergi lintas disiplin adalah kunci pengembangan peradaban,” ujarnya. Nazar menekankan bahwa penguatan sains, teknologi, sosial, hingga humaniora harus berlangsung seiring agar UMM dapat memberi manfaat lebih luas. Dia juga yakin peningkatan jumlah profesor akan menarik minat calon mahasiswa, membuka pintu kolaborasi dengan industri, dan mempercepat transformasi akademik kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa memperbaiki mutu proses dan dampak positif bagi masyarakat,” tambahnya. Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, MAP, yang turut hadir, memberi apresiasi tinggi atas pencapaian kampus putih ini. “Banyak orang tua menilai bagus tidaknya kampus dari jumlah profesor dan reputasinya. Guru besar adalah indikator penting,” ujarnya. Lebih dari itu, Muhadjir menilai ketiga profesor baru UMM memiliki “benang merah” pada komitmen menciptakan masa depan Indonesia yang lebih hijau, baik, dan berkelanjutan. Dia berharap UMM semakin tampil sebagai pelopor kampus hijau dan berperan dalam pembangunan yang tidak merusak lingkungan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., dalam sambutannya menyoroti peran strategis perguruan tinggi menuju Visi Indonesia 2045. Menurutnya, kekuatan bangsa tidak bertumpu pada sumber daya alam semata, tetapi pada kualitas manusia. Dia juga menekankan pentingnya credential micro—model pembelajaran fleksibel lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun meningkatkan kompetensi, relevan dengan kebutuhan era digital dan masa depan Indonesia Emas. Di balik iring-iringan moge yang mencuri perhatian, pengukuhan tiga profesor ini menjadi simbol perjalanan panjang akademik yang disambut dengan kreativitas dan kehangatan khas UMM. Prosesi yang meriah ini bukan hanya perayaan pencapaian individu, tetapi juga momen yang menegaskan tekad UMM untuk terus melaju sebagai kampus unggul, adaptif, dan berpengaruh bagi masa depan Indonesia. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Agus Wahyudi

Datangkan Pakar dari Belanda, FH UMM Kaji Demokrasi di Era Digitalisasi

Gelombang digitalisasi yang kian intensif membawa dampak signifikan terhadap proses pembentukan kehendak publik, yang merupakan fondasi utama legitimasi dalam negara demokratis. Untuk mengkaji dinamika tersebut secara lebih komprehensif, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 18 November 2025 menghadirkan Dr. Sascha Hardt dalam kuliah tamu bertema “Digitalization and Constitutional Change: Challenges and Opportunities for Democratic Legitimacy”. Sebagai pakar hukum tata negara, Hardt menjelaskan bahwa inti dari demokrasi representatif terletak pada legitimasi negara yang bersumber dari kehendak rakyat. Namun, menurutnya, digitalisasi membuat proses pembentukan kehendak publik tidak lagi berlangsung secara alami. Dunia digital memungkinkan pihak tertentu memengaruhi opini individu secara sistematis melalui algoritma yang tidak transparan. Kondisi ini membuat proses demokrasi tampak berjalan sebagaimana mestinya, tetapi pada dasarnya dikendalikan oleh sistem digital yang dirancang oleh perusahaan teknologi maupun aktor politik tertentu. Hardt menegaskan bahwa persoalan hari ini tidak lagi sesederhana “pemilu curang” atau “hak pilih dibatasi”, karena distorsi terjadi jauh sebelum rakyat mengekspresikan pilihan politiknya. “Masalah terbesar demokrasi modern bukanlah apakah pemilu berlangsung jujur, tetapi apakah kehendak individu sebelum masuk bilik suara benar-benar milik mereka atau hasil manipulasi ekosistem digital?” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa media sosial bekerja dengan prinsip selektivitas informasi yang ekstrem. Algoritma menentukan mana informasi yang dianggap relevan bagi pengguna, sehingga masyarakat terjebak dalam ruang gema (echo chambers) yang membatasi akses pada pandangan berbeda. Kondisi ini membuat publik tidak lagi terpapar argumen beragam yang menjadi syarat deliberasi demokratis yang sehat. Lebih lanjut, Hardt memaparkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan membuat proses manipulasi semakin presisi. Aktor politik dapat menargetkan kelompok tertentu dengan pesan yang disesuaikan berdasarkan profil psikologis individu. Dalam konteks ini, Hardt menilai digitalisasi berpotensi merusak dua prinsip penting demokrasi sebagaimana dikemukakan Cass Sunstein. Pertama, masyarakat harus memiliki akses terhadap isu-isu yang sama untuk membangun kesadaran kolektif. Kedua, masyarakat harus terpapar perbedaan pendapat untuk mencegah polarisasi ekstrem. Akademisi asal Belanda tersebut, juga mengkritisi respons negara yang dinilai lambat dalam menghadapi ancaman digital. Menurutnya, banyak regulasi bersifat reaktif dan tidak mampu mengejar kecepatan inovasi teknologi. Ia menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan infrastruktur digital yang bukan hanya aman, tetapi juga transparan dan dapat diawasi secara publik. Tanpa hal tersebut, proses politik akan terus dimanfaatkan oleh pihak yang menguasai teknologi informasi. “Legitimasi politik pada akhirnya akan rapuh bila negara tidak mampu menjamin bahwa rakyat membentuk pendapat politiknya secara bebas, bukan hasil kurasi algoritmik yang disembunyikan,” ucapnya. Meski demikian, Hardt menilai digitalisasi tetap membuka sejumlah peluang bagi penguatan demokrasi, antara lain memperluas akses publik terhadap proses pengambilan keputusan dan meningkatkan partisipasi politik. Namun, ia menekankan bahwa peluang tersebut hanya dapat diwujudkan jika negara, akademisi, dan masyarakat sipil berkomitmen membangun literasi digital, transparansi algoritma, serta mekanisme pengawasan terhadap platform digital berskala besar. Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum UMM Prof. Dr. Tongat, S.H., M.Hum. mengapresiasi pentingnya diskusi tersebut sebagai langkah untuk memperkaya kajian hukum tata negara kontemporer. Ia menilai bahwa isu digitalisasi bukan lagi wacana masa depan, melainkan persoalan aktual yang tengah membentuk ulang hubungan antara negara, warga, dan teknologi. Fakultas Hukum UMM, menurutnya, akan terus menghadirkan diskusi lintas negara agar mahasiswa dapat memahami persoalan global yang berdampak langsung pada tata kelola demokrasi Indonesia. Melalui forum seperti ini, UMM menunjukkan komitmennya untuk memperkuat kapasitas intelektual mahasiswa dalam membaca perubahan zaman secara kritis dan solutif. “Paparan materi kali ini sangat penting bagi mahasiswa dan akademisi hukum. Kita tidak bisa lagi memahami konstitusi hanya dalam konteks analog karena ada tantangan baru yang menuntut kajian serius, terutama terkait legitimasi kekuasaan di era digital,” ujar Tongat. (vin/wil)