Diarak Klub Motor, Pengukuhan Guru Besar Baru FKIP UMM Meriah

RADAR MALANG- Diarak Klub Motor, Pengukuhan Guru Besar Baru FKIP UMM Meriah IRING-IRINGAN klub motor menjadi daya tarik tersendiri sesaat sebelum pengukuhan tiga buru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 22 November lalu. Para guru besar baru ini diantar puluhan motor moge dari rektorat UMM menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM. Ketiga Guru besar itu ialah Adapun ketiganya adalah Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM, Prof Dr Lud Waluyo Drs MKes, dan Prof. Dr Atok Miftachul Hudha MPd. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Mulai dari pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor ini juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Dalam suasana penuh kebanggaan, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan, bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. lebih lanjut, Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM. Serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. ”Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof Dr H Muhadjir Effendy MAP memberikan apresiasi tinggi atas capaian kampus putih. Ia mengungkapkan, guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Muhadjir dalam kalimatnya juga membeberkan bahwa dari tiga profesor baru ini memiliki titik temu dalam hal bagaimana menciptakan masa depan indonesia yang lebih hijau, baik, dan sustainable. ”Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” katanya. Kemudian, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Dr Fauzan MPd menegaskan, perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Dia juga menyoroti pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas. (*/adn)
Dandim Sumbawa Ajak Alumni UMM Keluar dari Zona Nyaman

MAKLUMAT – Momen Wisuda Ke-120 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 25 November 2025 tak hanya menjadi seremoni pengukuhan ribuan lulusan. Di tengah suasana haru dan kebanggaan, pesan mendalam justru datang dari alumni UMM yang kini menempati posisi strategis di dunia profesional. Letkol Kav. Basofi Cahyowibowo, Komandan Kodim 1607 Sumbawa dan lulusan Teknik Mesin UMM angkatan 1997, menjadi salah satu figur yang menyita perhatian. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa keberhasilan seorang sarjana tidak diukur melalui indeks prestasi atau keunggulan teknis. Tingkat keberhasilan mahasiswa terletak pada keberanian berubah dan keteguhan memperbaiki diri. “Banyak dari kita berdiri hari ini bukan karena sempurna, tapi karena pernah gagal dan belajar dari kegagalan. UMM adalah tempat mengajarkan saya bangkit,” ujarnya di hadapan para wisudawan. Pentingnya Pendidikan Karakter dan Orgaisasi Ia menuturkan bahwa pengalaman organisasi, kedisiplinan, hingga dinamika kegagalan di masa studi menjadi fondasi kepemimpinannya di dunia militer. Menurutnya, tantangan yang menanti para lulusan jauh lebih kompleks. Misalnya persaingan global, percepatan teknologi, dan tuntutan profesionalisme yang makin tinggi. Karena itu, ia mendorong para sarjana untuk berani keluar dari zona nyaman. “Kesuksesan bukan diukur dari siapa yang paling cepat berlari, tetapi siapa yang paling teguh bertahan,” tegasnya. Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Ahtim Wahyuni juga menyampaikan hal serupa. Ia menyebut menjadi lulusan UMM adalah kebanggaan, sekaligus amanah. Menurutnya, seorang sarjana harus memastikan ilmunya bermanfaat bagi masyarakat. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat. Itu tugas para lulusan ketika kembali ke daerah masing-masing,” ujarnya. Tuntutan sebagai Agen Perubahan Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa kampus putih akan terus memperkuat kurikulum adaptif, inovasi, dan kolaborasi global demi menjawab perkembangan teknologi dan industri. “Lulusan harus menjadi agen perubahan yang membawa nilai Islam berkemajuan dalam dunia kerja maupun pengabdian sosial,” tegasnya mengingatkan. Dalam suasana wisuda yang penuh kebanggaan, pesan para pemimpin dan pendidik ini merangkum satu garis besar. Lulusan tidak cukup hanya cerdas, tetapi harus memiliki karakter kuat, disiplin, dan kemampuan beradaptasi cepat. Sesuatu yang, menurut para pembicara, menjadi pembeda sejati dalam dunia profesional yang kian kompetitif.
Resmi Dikukuhkan, Tiga Guru Besar UMM Ini Kuasai Bidang Ekologi Industri, Keperawatan Komunitas, hingga Pendidikan Islam

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui Tim Mekatronik dalam ajang Kontes Kapal Indonesia (KKI) pada 04-06 Desember lalu. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga mampu bersaing dalam inovasi teknologi maritim di level nasional. Tim Mekatronik UMM berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Juara 3 race FERC, Juara 1 poster FERC, Best Speed FERC dan Tim Favorite. Prestasi ini semakin mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus berdampak yang aktif melahirkan inovator muda di bidang teknologi perkapalan dan energi. Dewi Fatmawati selaku Manager Tim Mekatronik UMM mengaku bahwa menuju titik ini sangatlah tidak mudah. Butuh banyak perjuangan dan pengorbanan yang timnya lakukan, mulai dari latihan, riset, hingga trial and error yang selalu terjadi. “Berbahan bakar bensin menjadi tantangan tersendiri bagi tim kami, itu membuat perancangan mesinnya harus dilakukan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi demi menjaga stabilitas dan kecepatan kapal di lintasan air. Dalam proses persiapan, kami memulai seluruh tahapan dari nol, mulai dari penyusunan proposal, riset perhitungan, pembuatan bodi kapal, hingga produksi video presentasi yang kami unggah ke YouTube. Semua proses itu memakan waktu sekitar enam bulan penuh, sejak Juni hingga Desember.” Jelasnya Fatma sapaan akrabnya mengaku bahwa timnya sempat mengalami kendala serius, terutama pada aspek teknis mesin dan kestabilan kapal saat uji coba. Namun berkat kerja keras tim, evaluasi berulang, serta pendampingan dosen, seluruh kendala tersebut berhasil diatasi hingga kapal dapat tampil optimal di arena perlombaan. Menariknya, mereka juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak kampus, baik dalam bentuk pendanaan, fasilitas pendukung, sistem pembinaan, hingga dukungan moral dan doa. Dukungan ini menjadi faktor penting yang menjaga semangat dan konsistensi tim selama proses panjang menuju kompetisi. UMM dinilai tidak hanya hadir sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai penyedia ekosistem prestasi mahasiswa. Terakhir, Fatma berpesan kepada mahasiswa UMM, khususnya generasi penerus Tim Mekatronik, agar tidak hanya berorientasi pada popularitas organisasi, tetapi juga fokus pada keseimbangan antara penguasaan teknis (how to build) dan pengembangan diri serta manajemen tim (how to grow). Ia menekankan bahwa keberhasilan tim hanya bisa terwujud jika seluruh aspek tersebut berjalan secara seimbang dan berkelanjutan. “Jangan hanya mengejar nama besar tim. Kuasailah teknisnya, kembangkan diri kalian, dan bangun manajemen tim yang solid. Semua itu harus berjalan bersama-sama kalau kalian ingin benar-benar berhasil.” Pesannya(*alg/faq) Penulis: Musthafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
AIESEC in UMM Bangun Keterampilan Pemimpin melalui Youth Today x Join AIESEC

GOODNEWS – AIESEC in UMM sukses menyelenggarakan program “Dive Into Leadership Skills and Lead Your School with AIESEC in UMM” yang dihadiri oleh 163 delegates dari berbagai fakultas. Kegiatan ini dilaksanakan pada 28 September 2025 dan mendapatkan antusiasme tinggi dari para peserta. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai konsep kepemimpinan berbasis pengalaman (leadership through experiences), serta menumbuhkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya mengasah karakter dan kemampuan memimpin sejak dini. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk membuka wawasan mahasiswa terhadap berbagai peluang pengembangan diri yang ditawarkan oleh AIESEC in UMM. Melalui sesi interaktif, materi inspiratif, dan pengalaman langsung yang diberikan, para delegates diajak untuk melihat bagaimana proses belajar kepemimpinan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun organisasi kampus. Program ini menjadi langkah nyata AIESEC in UMM dalam mendukung generasi muda agar mampu berkembang menjadi pemimpin yang berintegritas dan berdampak. Acara ini menghadirkan 2 narasumber inspiratif. Diawali dengan Raziq Nabil Aqra, Local Committee President AIESEC in UMM, menyampaikan materi mengenai SELADA AIESEC, sebuah rangkaian pengembangan diri yang berfokus pada self-awareness, kepemimpinan, dan kontribusi sosial. Ia menekankan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang posisi, tetapi tentang kemampuan untuk mengambil tindakan yang berdampak, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan. Sesi berikutnya dibawakan oleh Rachel Ba’azzahra Noorlaela, penerima beasiswa IISMA, yang berhasil menarik perhatian seluruh peserta sejak awal pemaparannya. Dalam sesi tersebut, Rachel membagikan pengalaman exchange internasionalnya secara mendalam, mulai dari proses keberangkatan, tantangan yang dihadapi, hingga bagaimana program tersebut membuka perspektif global yang sebelumnya tidak pernah Ia bayangkan. Ia menjelaskan bahwa mengikuti program internasional bukan hanya tentang belajar di luar negeri, tetapi juga tentang melatih kemandirian, membangun rasa percaya diri, dan mengasah kemampuan berkomunikasi lintas budaya. Dengan gaya penyampaian yang lugas dan penuh energi, Rachel menunjukkan bahwa kesempatan internasional dapat menjadi titik balik penting bagi mahasiswa yang ingin berkembang secara akademik maupun personal. Selain membagikan pengalamannya, Rachel juga menekankan pentingnya kesiapan diri sejak dini, baik dari segi kemampuan bahasa, kesiapan mental, maupun keberanian untuk terus mencoba meskipun menghadapi berbagai hambatan. Selama sesi berlangsung, para delegates terlihat sangat antusias dan interaktif, menunjukkan rasa kagum pada semangat juang serta konsistensi yang dimiliki Rachel dalam mengejar mimpinya. Banyak peserta mengaku terinspirasi oleh keberanian dan keteguhan Rachel, terutama ketika Ia menceritakan bagaimana cara menghadapi tekanan, adaptasi di lingkungan multikultural, dan proses belajar dari setiap kesulitan. Sesi ini tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga memotivasi para peserta untuk lebih terbuka terhadap peluang internasional dan berani keluar dari zona nyaman mereka. Dua peserta seminar Youth Today x Join AIESEC membagikan pengalaman mereka tentang betapa menarik dan bermanfaatnya kegiatan tersebut. Peserta pertama, Faris Nurrahman, menceritakan bahwa ia mendapatkan banyak pengalaman dan relasi selama mengikuti rangkaian acara. Faris merasa materi yang disampaikan sangat membuka wawasannya tentang kepemimpinan dan organisasi, terutama karena ia sedang memegang tanggung jawab sebagai ketua dalam sebuah event di kampung halamannya. Salah satu momen paling berarti baginya adalah sesi tanya jawab bersama Kak Rachel, di mana ia berkesempatan bertanya langsung dan mendapatkan umpan balik yang membantunya memahami peran kepemimpinannya dengan lebih baik. Faris Nurrahman mengatakan, “Saya mendapatkan pengalaman dan relasi terutama kepada teman-teman dan kakak-kakak AIESEC… dan saya pun mendapatkan masukan yang sangat inspiratif dari kakak Rachel.” Masukan tersebut membuatnya semakin percaya diri untuk terus berkembang dalam dunia organisasi. Peserta kedua, Fetrisia Adinda Delo, juga menyampaikan pengalamannya selama mengikuti kegiatan ini. Ia mengungkapkan bahwa sesi favoritnya adalah ketika Kak Rachel menjadi pemateri karena cerita dan pengalamannya terasa begitu dekat dan memberikan motivasi kuat. Fetris mengatakan bahwa sesi itu sangat memorable dan membuatnya memahami pentingnya memperjuangkan hal yang layak diperjuangkan. Dalam testimoninya Ia menyebutkan, “Cerita Kak Rachel menyadarkan bahwa setiap proses, sesulit apapun rintangannya, akan memberikan hasil yang setimpal jika kita terus berusaha dan tidak menyerah.” Melalui sesi tersebut, Fetris merasa semakin termotivasi untuk terus berkembang dan berani menghadapi tantangan dalam perjalanan organisasinya. Dengan terselenggaranya rangkaian kegiatan ini, AIESEC in UMM kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan ruang belajar yang inklusif, progresif, dan berdampak bagi mahasiswa. Melalui materi inspiratif, pengalaman nyata, serta interaksi yang membangun, para delegates tidak hanya memperoleh pemahaman baru mengenai kepemimpinan, tetapi juga dorongan untuk terus berkembang dan berani mengambil langkah besar dalam perjalanan karier maupun pengembangan diri. AIESEC in UMM berharap bahwa seluruh wawasan dan pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal berharga bagi para peserta untuk menciptakan perubahan positif di lingkungan mereka. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa setiap proses pembelajaran, ketika dijalani dengan konsisten dan penuh kesadaran, akan melahirkan pemimpin muda yang siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Teliti AI dan Bahasa, Dosen UMM Raih Beasiswa ke Austria

Perjalanan Fida Pangesti, S.Pd., M.A., dosen Bahasa Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menuju studi doktoral di Austria ternyata memiliki cerita tersendiri. Ia sudah mengincar beasiswa IASP sejak dua tahun lalu, meski saat itu ada syarat tahun kelulusan yang belum bisa dipenuhinya. Namun serangkaian pengalaman akademik mulai dari Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024 justru membuka jalan baru yang mengarahkan fokusnya pada pertemuan dua hal favorit berupa pengajaran tata bahasa Indonesia dan kecerdasan buatan (AI). Austria dipilih bukan hanya karena reputasi akademiknya yang kuat, tetapi juga karena atmosfer belajarnya yang aman, inklusif, dan sangat mendukung peneliti internasional. “Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik saya sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,”ujarnya. Proses seleksi beasiswa ia jalani dengan penuh dinamika, mulai dari berkas administrasi hingga wawancara luring dengan 4 pewawancara Austria dan 1 pewawancara Indonesia yang langsung membahas inti penelitiannya. “Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung fokus ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” ungkapnya. Penelitian utamanya berjudul AI-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language, yang berusaha menilai bagaimana generative-AI bisa meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar. Menurutnya, tata bahasa adalah salah satu area yang paling sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pemelajar. Dengan pendekatan mix method, ia akan melakukan eksperimen intervensi berbasis AI dan dilanjutkan dengan wawancara mendalam. Meski riset belum berjalan, ia menyebut penyusunan desain intervensi menjadi tantangan tersendiri karena harus mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, hingga semantik. “Supervisor sangat suportif. Saya bebas memilih mata kuliah lintas jenjang dan diarahkan melakukan pilot penelitian di kelas BIPA di Vienna, bahkan disarankan berkunjung dan berkolaborasi dengan ahli AI dalam pembelajaran bahasa di Nanyang Technological University Singapore,” ujarnya. Di luar kegiatan akademik, Austria menawarkan banyak kejutan menyenangkan. Mulai dari budaya Ruhetag yang membuat semua toko tutup saat hari Minggu, menomorsatukan pejalan kaki, hingga banyaknya diskusi serta workshop lintas budaya, lintas agama, dan lintas disiplin ilmu. Perpustakaan menjadi tempat favoritnya, bukan hanya karena suasananya yang tenang, tetapi juga karena sering melihat lansia yang tetap giat belajar—pemandangan yang menurutnya sangat menginspirasi. “Saran saya, persiapkan portofolio sejak awal, bangun jaringan dengan calon pembimbing, dan pilih topik yang benar-benar relevan. Kesiapan dan ketekunan sering lebih berpengaruh daripada sekadar kecerdasan,” kata Fida. Pada akhirnya, perjalanan Fida bukan sekadar cerita tentang mendapatkan beasiswa internasional, tetapi juga tentang bagaimana riset yang ia jalankan bisa membuka jalan baru bagi pembelajaran BIPA berbasis teknologi. Penelitiannya menegaskan bahwa AI bukan hanya tren, tetapi alat strategis untuk membuat pembelajaran tata bahasa Indonesia lebih mudah, menarik, dan siap bersaing di ranah global. (vin/wil) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Polresta Malang Kota Perketat Edukasi Anti-Bullying di Sekolah

LINTASJATIM.com, Malang– Meningkatnya kasus perundungan di kalangan pelajar memicu Polresta Malang Kota memperluas pendekatan pencegahan. Dikutip dari detikJatim,com, bersama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), jajaran kepolisian menggelar roadshow ke sekolah-sekolah untuk menanamkan kesadaran tentang bahaya bullying sejak dini. SMP Negeri 3 Kota Malang menjadi lokasi kegiatan pada Selasa (25/11/2025). Dalam sesi sosialisasi, para siswa mendapat penjelasan lengkap tentang jenis-jenis perundungan, dampaknya terhadap korban, serta cara melaporkan jika menjadi saksi maupun korban. “Akhir-akhir ini kasus perundungan di Kota Malang banyak melibatkan pelajar SMP,” ujar Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Malang Kota, Iptu Khusnul Khotimah. Polresta Malang Kota juga membuka ruang konsultasi khusus di tempat acara. Siswa dipersilakan berbicara langsung dengan psikolog untuk membahas kondisi emosional dan kesehatan mental mereka. Pendekatan ini dinilai penting agar sekolah tidak hanya bertindak setelah kasus terjadi, tetapi membangun budaya pencegahan. “Guru tidak boleh menutup mata. Setiap kasus harus terbuka dan ditangani bersama, tidak boleh disembunyikan,” tegas Khusnul. Ia menekankan bahwa dampak bullying bisa sangat serius. Korban berisiko mengalami trauma berkepanjangan hingga gangguan mental jika tidak ditangani secara tepat. Karena itu, polisi menggandeng Dinas Sosial Kota Malang untuk memastikan pendampingan psikologis bagi korban. Data Unit PPA Satreskrim Polresta Malang Kota menunjukkan tren peningkatan kasus. Pada 2024 tercatat enam kasus, sementara sepanjang 2025 jumlahnya naik menjadi delapan. Mayoritas korbannya adalah pelajar perempuan yang mengalami bullying fisik. Menurut Khusnul, motif pelaku beragam, mulai dari ingin mendapat perhatian, ingin terlihat kuat, hingga dorongan kelompok. “Selain salah paham, penyebab bullying juga karena ingin dilihat hebat, termasuk kurangnya perhatian dari keluarga, khususnya orang tua,” ujarnya. Roadshow ini direncanakan terus berlanjut ke sekolah lainnya sebagai upaya memperkuat budaya aman, nyaman, dan bebas perundungan di lingkungan pendidikan Kota Malang.
Kasus Bullying Naik Polresta Malang Kota Perketat Edukasi Anti Kekerasan di Sekolah

Malang, mitratoday.com — Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan terus digencarkan Polresta Malang Kota. Melalui agenda resmi pencegahan bullying dan narkoba, Polresta Malang Kota menggelar sosialisasi di Aula SMPN 3 Malang, Selasa (25/11/2025). Kegiatan ini dihadiri perwakilan kepolisian, pihak sekolah, serta perwakilan dari Universitas Muhammadiyah Malang. Sosialisasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat edukasi sejak dini, terlebih setelah kasus bullying di Kota Malang dilaporkan mengalami peningkatan. Polresta Malang Kota menegaskan bahwa kolaborasi semua pihak sangat penting untuk menjaga keamanan dan kenyamanan peserta didik. Dalam sambutannya, Kompol Sofie, mewakili Kapolres Malang Kota, menyampaikan ajakan tegas kepada seluruh peserta. “Saya mengajak semua pihak yang hadir untuk bersama-sama melakukan pencegahan bullying dan narkoba,” ujarnya. Kepala SMPN 3 Malang, Drs. Teguh Edy Purwanta, S.Pd, turut memberikan apresiasi atas perhatian aparat penegak hukum terhadap dunia pendidikan. “Saya berterima kasih kepada Polresta Malang Kota atas kegiatan ini. Sosialisasi seperti ini sangat penting demi menjaga keamanan di lingkungan sekolah,” ungkapnya. Materi utama disampaikan oleh Kanit PPA Satreskrim Polresta Malang Kota, Iptu Khusnul Khotimah, yang memaparkan empat bentuk utama bullying, yaitu verbal, fisik, sosial, dan cyber. Ia menekankan bahwa peningkatan kasus bullying menjadi alasan kuat bagi kepolisian untuk memperluas sosialisasi hingga ke seluruh sekolah menengah. Dalam wawancaranya, Khusnul menjelaskan bahwa pelaku bullying belakangan ini didominasi oleh siswa tingkat SMP. “Perluasan edukasi ini penting karena kasus bullying di Kota Malang meningkat, dan pelakunya banyak berasal dari jenjang SMP,” jelasnya. Ia juga mengungkapkan data terbaru Polresta Malang Kota yang menunjukkan kenaikan kasus, dari 6 kasus pada tahun 2024 menjadi 8 kasus pada 2025. “Dampak terburuk yang kami temukan adalah gangguan mental akibat bullying yang terjadi berulang dan berlangsung lama,” tambahnya. Polresta Malang Kota berharap sosialisasi yang dilakukan secara masif ini dapat menekan angka kekerasan di lingkungan sekolah dengan memberikan pemahaman yang benar kepada siswa mengenai bentuk bullying, konsekuensi hukum, serta dampak serius yang dapat ditimbulkan. (Tri W)
Cegah Bullying, Polresta Malang Kota Gelar Roadshow ke Sekolah

Malang – Maraknya perundungan melibatkan anak usia sekolah menjadi perhatian serius Polresta Malang Kota. Sosialisasi mencegah bullying pun dilakukan bersama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke sejumlah sekolah di Kota Malang. Hari ini, roadshow digelar di SMP Negeri 3 Kota Malang. Sosialisasi untuk membangun kesadaran sejak dini mengenai bahaya perundungan (bullying). Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Malang Kota Iptu Khusnul Khotimah mengatakan bahwa para pelajar diberikan berbagai materi pengetahun. Mulai dari pengertian dasar tentang bullying, berbagai bentuk bullying hingga dampak negatif yang dialami oleh korban bullying, dan konsekuensi hukum, bentuk-bentuk bullying, hingga cara melapor adanya perundungan. “Karena akhir-akhir ini kejadian perundungan di Kota Malang yang terjadi melibatkan pelajar SMP,” ungkap Khusnul kepada wartawan disela sosialisasi, Selasa (25/11/2025). Dalam sosialisasi tersebut, Polresta Malang Kota juga menyediakan ruang konsultasi. Sehingga, para siswa bisa bertanya langsung ke psikolog terkait kondisi kesehatan mental. Pendekatan ini juga mendorong agar sekolah tidak hanya berfokus pada penindakan saat kasus terjadi, tetapi juga membangun budaya pencegahan. “Guru tidak boleh menutup mata. Setiap kasus harus terbuka dan ditangani bersama, tidak boleh disembunyikan, ujar Khusnul. Khusnul juga menyampaikan, bahwa kasus perundungan memiliki dampak yang mengerikan. Sehingga, korban harus mendapat pendampingan psikologis. Dampak paling buruk terhadap korban, yaitu hingga mengalami gangguan mental. Karena bullying yang diterima korban tidak hanya sekali dua kali melainkan berkelanjutan. “Sehingga untuk pemulihan korban, kami berkoordinasi dengan pihak Dinsos Kota Malang terkait pendampingan psikologis,” katanya. Berdasarkan data dari Unit PPA Satresrkim Polresta Malang Kota, kasus perundungan di Kota Malang mengalami peningkatan. Tercatat di tahun 2024 ada 6 kasus dan tahun 2025 ini terdapat sebanyak 8 kasus. Mayoritas, lanjut Khusnul, bentuk perundungan yang dilakukan adalah bullying fisik dengan korban mayoritas perempuan. Selain itu, motif pelaku sering berkaitan dengan pencarian perhatian, ingin dianggap kuat, atau dorongan kelompok “Selain masalah salah paham, ada beberapa penyebab yang memicu terjadinya bullying yaitu ingin dilihat hebat termasuk kurangnya mendapat perhatian dari keluarga khususnya orang tua,” bebernya.
Kasus Bullying di Malang Meningkat, Polisi Gelar Sosialisasi Edukasi Anti Perundungan di Sekolah Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Kasus Bullying di Malang Meningkat, Polisi Gelar Sosialisasi Edukasi Anti Perundungan di Sekolah, https://jatim.tribunnews.com/malang/525109/kasus-bullying-di-malang-meningkat-polisi-gelar-sosialisasi-edukasi-anti-perundungan-di-sekolah. Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Dwi Prastika

TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Untuk membangun kesadaran sejak dini mengenai bahaya perundungan (bullying), Polresta Malang Kota bersama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar sosialisasi edukasi anti perundungan dan narkoba di SMPN 3 Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (25/11/2025). Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Malang Kota, Iptu Khusnul Khotimah mengatakan, dalam kegiatan tersebut, para siswa diberikan berbagai materi ilmu. Mulai dari pengertian dasar tentang bullying, berbagai bentuk bullying hingga dampak negatif yang dialami oleh korban bullying. “Untuk materi yang kami berikan, yaitu terkait dampak dan pencegahan bullying. Kenapa menyasar ke sekolah SMP, karena akhir-akhir ini kejadian perundungan yang terjadi melibatkan pelajar SMP,” ujarnya kepada TribunJatim.com. Dalam sosialisasi tersebut, Polresta Malang Kota juga menyediakan ruang konsultasi. Sehingga, para siswa bisa bertanya langsung ke psikolog terkait kondisi kesehatan mental. Khusnul juga menyampaikan, kasus perundungan memiliki dampak yang mengerikan. Sehingga, korbannya harus mendapat pendampingan psikologis. “Dampak paling buruk terhadap korban, yaitu hingga mengalami gangguan mental. Karena bullying yang diterima korban tidak hanya sekali dua kali melainkan berkelanjutan. Sehingga untuk pemulihan korban, kami berkoordinasi dengan Dinsos Kota Malang terkait pendampingan psikologis,” ungkapnya. Kasus Meningkat Berdasarkan data dari Unit PPA Satresrkim Polresta Malang Kota, jumlah kasus perundungan di Kota Malang meningkat tiap tahun. Tercatat di tahun 2024 ada 6 kasus dan di tahun 2025 ini terdapat sebanyak 8 kasus. “Mayoritas, bentuk perundungan yang dilakukan adalah bullying fisik dengan korbannya kebanyakan perempuan. Selain masalah salah paham, ada beberapa penyebab yang memicu terjadinya bullying yaitu ingin dilihat hebat termasuk kurangnya mendapat perhatian dari keluarga, khususnya orang tua,” bebernya. Oleh karena itu, upaya pencegahan bullying terus dilakukan, termasuk lewat sosialisasi edukasi yang digelar di SMPN 3 Kota Malang tersebut. Selain materi ilmu, siswa juga diajarkan untuk berani melapor apabila menjadi korban atau mengetahui adanya kejadian perundungan. “Di samping itu, kami juga mendorong agar pihak sekolah turut mengawasi siswanya dan tidak boleh menutup mata apabila terjadi kejadian bullying,” terangnya.
Dakwah Tak Asal Bicara, Akademisi UMM: Harus Beretika dan Siap Jadi Teladan

MALANG POST – Menjadi seorang dai di era modern bukanlah perkara mudah. Bukan sekadar tentang kemampuan berbicara atau menyampaikan nilai-nilai agama di atas mimbar. Terlebih lagi, baru-baru ini publik dihebohkan dengan cara salah satu Gus yang berdakwah dengan etika yang tidak mencerminkan seorang pendakwah. Menyikapi hal itu, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ainur Roziqi, S. Pd. I., M.Pd memberikan pendapatnya. Ainur menegaskan bahwa profesi ini harus mempunyai akhlak yang tinggi, kesabaran serta pemahaman mendalam tentang karakter jamaah. Lebih lanjut, Ainur memaparkan, Rasulullah SAW telah mencontohkan bahwa seorang dai tidak cukup hanya berilmu, tetapi juga harus memiliki akhlak yang mulia seperti jujur, amanah, dan sabar. Menurutnya, seorang pendakwah memegang dua peran sekaligus yaitu penyampai materi dan teladan bagi jamaahnya. Dakwah bukan hanya tentang ucapan, namun dakwah juga harus berupa tindakan. Masyarakat atau jamaah melihat bukan hanya apa yang diajarkan, tetapi bagaimana dai tersebut menjalani apa yang sudah disampaikan. “Maka dari itu, pendakwah perlu menekankan pentingnya menjaga integritas, tutur kata, serta perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari,” katanya. Kemudian, pendakwah seharusnya mencontohkan perilaku yang baik ketika berdakwah. Penyampaian yang dianggap terlalu vulgar dan tidak sesuai dengan adab dakwah menjadi sorotan dan memicu diskusi pada masyarakat luas. Vulgaritas, gurauan berlebihan, atau perilaku yang tidak pantas sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Hal inilah yang justru merusak citra dakwah dan sering kali menimbulkan stigma negatif bagi pendakwah lain. Terutama bagi pendakwah yang sebenarnya berdedikasi dan menjaga etika dengan baik. Namun, Ainur mengajak masyarakat untuk tidak men-generalisasi. “Namun, kita harus ingat bahwa kesalahan satu orang tidak dapat mewakili seluruh komunitas pendakwah. Kita harus terus berusaha menjadi pendakwah yang baik dan profesional,” jelasnya. Kemudian, dia juga berbagi kiat-kiat menjadi pendakwah yang bermanfaat dan diikuti banyak orang. Pertama, pendakwah harus memiliki ilmu yang luas dan senantiasa memperbaharuinya. Kedua, ia harus menjaga akhlak mulia dalam setiap situasi. Ketiga, kemampuan menyampaikan dakwah dengan cara yang bijak dan santun sangat menentukan penerimaan jamaah. Keempat, kesabaran merupakan modal utama, terutama saat menghadapi dinamika sosial yang kompleks. Seorang pendakwah tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tapi juga harus menjadi contoh uswah yang baik bagi jamaahnya. Mengakhiri kalimatnya, Ainur berharap agar semangat dakwah masyarakat tidak pudar hanya karena oknum yang tidak bertanggung jawab. Ia mendorong lahirnya pendakwah yang baik, profesional, dan memiliki akhlak yang mulia. “Jadilah pendakwah yang memiliki akhlak yang mulia, memiliki ilmu yang luas, dan mampu menyampaikan dakwah dengan bijak. Jangan lupa untuk selalu berdoa dan meminta petunjuk dari Allah SWT,” tutupnya. (*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)