Mahasiswa Program Doktor PAI UMM Gelar Pelatihan ICT untuk Guru Fikih di Ponpes Gunung Galesa Moyo Hilir

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Inisiatif transformatif dalam dunia pendidikan pesantren resmi dimulai di Pondok Pesantren Gunung Galesa, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) oleh mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini bertujuan untuk memperkaya metode pengajaran fikih melalui integrasi teknologi dan pendekatan humanis. Hadir pada kegiatan tersebut sebagai peserta, semua guru MTs Putra dan Putri Pondok Pesantren gunung Galesa. Kegiatan diawali dengan acara pembukaan yang berlangsung khidmat dengan sambutan Halimah, selaku perwakilan dari tim mahasiswa PKM UMM yang beranggotakan Muhammad Junaidi dan Susanti, menyampaikan sambutannya. Halimah memaparkan visi kegiatan ini, yakni mentransformasi pembelajaran fikih agar lebih relevan, menarik, dan aplikatif bagi para santri melalui peningkatan kompetensi guru. “Saya mewakili teman-teman mahaiswa mengucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatan bapak ibu dalam kegiatan ini,” ujarnya. Selanjutnya dari pimpinan Pondok Pesantren Gunung Galesa, Drs. H. M. Putera Akbar, M.Pd.I. Ia menyambut baik kehadiran tim UMM dan secara resmi membuka kegiatan pelatihan, menekankan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan pesantren dalam menghadapi tantangan zaman. Drs. H. Putera mengapresiasi semangat para mahasiswa yang membawa angin segar inovasi ke lingkungan pesantren yang dipimpinnya. Setelah seremoni pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi penyampaian materi yang dibagi menjadi dua fokus utama, merefleksikan pendekatan holistik yang diusung oleh tim PKM. Sesi ini dipandu oleh Muhammad Junaidi dan Susanti. Keduanya membimbing para guru fikih secara langsung dalam pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information and Communication Technologies atau ICT). Materi yang disampaikan meliputi pembuatan media ajar interaktif, penggunaan aplikasi presentasi modern, serta pengelolaan sumber belajar digital yang dapat diakses dengan mudah, memastikan materi fikih disampaikan secara efektif di era digital. Secara paralel, Halimah memfasilitasi sesi diskusi dan pemahaman mendalam mengenai pendekatan pedagogis “kurikulum berbasis cinta” (love-based curriculum). Sesi ini menantang para pendidik untuk tidak hanya fokus pada aspek kognitif hukum Islam, tetapi juga menyentuh dimensi afektif, menanamkan nilai-nilai kasih sayang, etika, dan relevansi fikih dalam kehidupan sehari-hari santri, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan humanis. Kegiatan yang dijadwalkan selesai sehari tanggal 12 Desember 2025 ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang, menciptakan ekosistem pendidikan di Pondok Pesantren Gunung Galesa yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga sarat akan nilai-nilai kemanusiaan dan cinta dalam pengajaran agama Islam. (KS)

Tiga Mahasiswa UMM Lolos Program Internship CoE Kehutanan di Jepang

Malangpriwara.com – Tiga Mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencetak prestasi gemilang dengan lolos pada program internship Center of Excellence (CoE) Forest Industry. Ketiga mahasiswa ini akan menjalani magang profesional di perusahaan Kyushu Bark, Jepang. Mereka adalah Adib Minanur Rohman, Ahmad Hafidh Ramadhan, dan Muhammad Hafidz Alfanani yang merupakan mahasiswa Angkatan 2022. Program magang internasional ini merupakan hasil kolaborasi antara Forest Industry CoE dan NOSUTA Jepang, yang membuka peluang bagi mahasiswa kehutanan Indonesia untuk mempelajari industri hutan secara langsung di Negeri Sakura. Adib Minanur Rohman, salah satu peserta, menjelaskan bahwa dirinya melalui serangkaian seleksi ketat pada batch kedua. “Kami melewati beberapa tahap seleksi, termasuk mensetsu atau wawancara langsung oleh pihak perusahaan menggunakan bahasa Jepang, dibantu penerjemah bahasa Inggris. Untuk batch dua ini juga diutamakan menyertakan tes fisik,” ungkapnya saat diwawancarai Humas UMM pada 10 Desember. Kyushu Bark sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan, terutama dalam proses pemanenan kayu. Selama magang, peserta akan terjun langsung di lapangan. “Contoh kegiatannya seperti pemanenan menggunakan alat senso, teknik grass cutting atau pembersihan lahan sebelum panen kayu, hingga memahami sistem kehutanan di Jepang”. jelas Adib. Pembekalan dan Persiapan Sebelum Berangkat Sebelum berangkat, mahasiswa yang mengikuti CoE mendapatkan berbagai pembekalan dasar. Tidak hanya materi teknis mengenai kehutanan, tetapi juga pelatihan bahasa Jepang serta pemahaman budaya kerja di lingkungan industri Jepang. “Kami belajar bahasa Jepang, materi kehutanan yang tidak diajarkan di kelas, serta praktik penggunaan alat senso,” tambahnya. Selain kesempatan magang, CoE Forest Industry juga menargetkan para peserta untuk meraih sertifikasi SSW (Specified Skilled Worker). Sertifikasi ini merupakan bukti keterampilan kerja bidang kehutanan yang dapat membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa untuk berkarier di Jepang. “Harapannya semua peserta bisa lolos SSW. Dengan sertifikat itu, peluang kerja di Jepang akan jauh lebih besar,” lanjut Adib. Program internship ini dijadwalkan berlangsung selama enam bulan, mulai Februari hingga Agustus 2026. Saat ini ketiga peserta tengah menyiapkan dokumen administrasi seperti paspor, visa, dan mengikuti tes JFT sebagai syarat keberangkatan. Melalui CoE ini, UMM berharap semakin banyak mahasiswa yang mampu menembus dunia industri global khususnya dalam pengelolaan sumber daya hutan berkelanjutan. Program internship ini tidak hanya menjadi sarana belajar, tetapi juga menjadi gerbang bagi mahasiswa untuk memulai karier profesional di kancah internasional. (Djoko W/Ainun)