Tingkatkan Literasi Siswa, Mahasiswa UMM Gelar Pelatihan Penulisan Esai Berbasis AI di MAN 1 Lamongan

BERITASIBER.COM | LAMONGAN — Upaya peningkatan literasi di kalangan pelajar kembali digencarkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada Jumat (12/12/2025), M Nur Ali Zulfikar, mahasiswa UMM, memberikan pelatihan penulisan esai ilmiah berbasis kecerdasan artifisial (AI) kepada siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lamongan. Kegiatan ini disusun sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan literasi nasional, sekaligus menyiapkan pelajar menghadapi tantangan era digital. Ali menyampaikan bahwa kemampuan literasi sangat menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. “Literasi berkaitan erat dengan kemampuan berpikir kritis dan kesiapan menghadapi perkembangan teknologi. Pelajar harus diperkuat sejak dini agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya secara bijak dan produktif,” tegasnya. Dalam pelatihan tersebut, para siswa dibimbing untuk memahami struktur esai ilmiah, menentukan ide pokok, menyusun argumen, hingga mengembangkan paragraf secara sistematis. Peserta juga diajak menulis esai bertema keseharian, seperti kesehatan pelajar, pentingnya literasi keuangan, hingga konsumsi makanan bergizi. Selain membahas teknik penulisan, Ali juga mengenalkan penggunaan alat bantu berbasis AI seperti ChatGPT untuk membantu menyusun kerangka tulisan. Menurutnya, pemanfaatan AI dapat meningkatkan efisiensi dan kreativitas, namun tetap harus dibarengi kemampuan menulis yang baik.

UMM Gelar Pelatihan Menulis Esai Berbasis AI di MAN 1 Lamongan, Dorong Penguatan Literasi Pelajar

SURYA.CO.ID, LAMONGAN – Upaya meningkatkan budaya literasi di kalangan pelajar terus diperkuat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Seorang mahasiswa UMM, Ali Zulfikar, menggelar pelatihan menulis esai ilmiah berbasis kecerdasan artifisial (AI) untuk siswa MAN 1 Lamongan, Jawa Timur (Jatim), Jumat (12/12/2025). Dorong Literasi Pelajar di Era Digital Pelatihan ini, menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang dilakukan Ali Zulfikar, mahasiswa UMM yang juga kandidat doktor. Ia menyebut, kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan menulis dan literasi siswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi. “Pelatihan ini bertujuan memperkuat kemampuan literasi siswa di tengah derasnya arus digitalisasi,” kata Ali. Menurutnya, literasi merupakan indikator penting kualitas sumber daya manusia. “Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam survei literasi. Pelajar harus diperkuat kemampuan literasinya agar siap menghadapi era kecerdasan artifisial,” ujar Ali. Latihan Esai Keseharian hingga Pemanfaatan AI Dalam pelatihan ini, para siswa diberi materi dasar penulisan esai ilmiah dan esai populer yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Banyak siswa yang memilih tema menarik, seperti pentingnya konsumsi makanan sehat dan literasi keuangan bagi pelajar. Tema-tema ini relevan dengan rutinitas mereka,” jelas Ali. Ia juga mengenalkan pemanfaatan AI seperti ChatGPT untuk membantu menyusun outline esai. Menurut Ali, AI bukan pengganti, tetapi alat bantu untuk merapikan alur berpikir siswa. Hasil Pelatihan Akan Dibukukan Ali menyebut, output kegiatan akan dikompilasi menjadi sebuah buku, sebagai kontribusi nyata siswa dalam mendukung program literasi nasional. “Tidak ada bangsa yang maju tanpa literasi yang kuat. Dengan menghasilkan buku, siswa diharapkan memiliki kemandirian dan kepercayaan diri dalam mengembangkan kemampuan literasi mereka,” katanya. Ali menambahkan, penguatan literasi merupakan langkah penting menuju Indonesia Emas 2045. Generasi muda harus dibekali kemampuan literasi dan pemanfaatan teknologi sejak dini. Respons Positif dari Siswa MAN 1 Lamongan Salah satu peserta, Ahmad Al Ghany Wardani, merasakan manfaat besar dari pelatihan tersebut.

Relawan UB-UMM Tiba di Agam, Bantu Percepat Penanganan Korban Bencana

posmetropadang.co.id, AGAM, METRO–Pemerintah Kabupaten Agam menyambut kedatangan tim relawan dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Alam Kabupaten Agam, di Balairong Rumah Dinas Bupati Agam, Rabu (10/12). Kedatangan para relawan tersebut disambut langsung oleh Staf Ahli Bupati Agam, Dandi Pribadi. Dalam kesempatan itu, Dandi menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tim relawan atas kepedulian dan kesediaan mereka untuk membantu masyarakat Agam yang terdampak bencana. “Kabupaten Agam saat ini sangat membutuhkan dukungan tenaga relawan untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan pascabencana. Kehadiran adik-adik relawan tentu menjadi semangat baru bagi kami dan masyarakat,” ujar Dandi. Pada kesempatan tersebut, Dandi juga menjelaskan secara singkat kondisi terkini bencana yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Agam, mulai dari dampak yang ditimbulkan hingga langkah-langkah penanganan yang telah dan tengah dilakukan oleh pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait. Sementara itu, Ketua Tim Relawan, Indra Feri, menyebutkan bahwa jumlah relawan yang diterjunkan ke Kabupaten Agam sebanyak 48 orang, yang berasal dari Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang.

Dosen UMM Tegaskan Peran Strategis Perempuan sebagai Kekuatan di Medan Bencana

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Peran perempuan kembali menjadi sorotan penting dalam upaya penanganan bencana nasional. Hal itu ditegaskan oleh Ir. Iis Siti Aisyah, M.T., Ph.D., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang terjun langsung sebagai relawan pada respons bencana banjir bandang di Sumatera akhir November lalu. Bencana yang melanda beberapa wilayah di Sumatera tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan luka sosial mendalam bagi para penyintas. Di tengah situasi yang berubah cepat dan kabar kehilangan yang datang silih berganti, kontribusi perempuan tampil sebagai kekuatan emosional dan operasional yang signifikan. Iis, sapaan akrabnya, mengaku naluri keibuannya mendorong dirinya untuk tidak tinggal diam. “Sebagai ibu, hati saya langsung tertegun saat melihat kondisi para penyintas,” ujarnya saat ditemui tim Humas UMM pada 11 Desember 2025. Menurutnya, dorongan untuk membantu muncul dari keinginan melakukan apa pun yang dapat meringankan beban masyarakat terdampak. Keikutsertaan Iis merupakan bagian dari kolaborasi resmi antara UMM dan Universitas Brawijaya (UB) dalam misi tanggap darurat yang diberangkatkan pada 8 Desember lalu. Tim relawan difokuskan di wilayah Kabupaten Agam, terutama Malalak, Palembayan, dan Maninjau. Dari UMM, terdapat 3 dosen dan 16 mahasiswa Maharesigana yang diterjunkan. Dalam misi kemanusiaan ini, Iis dipercaya menjadi Koordinator Dapur Umum—posisi yang menuntut ketelitian, kemampuan manajemen logistik, serta kepekaan sosial yang tinggi. Di dapur umum, para relawan perempuan bergerak sigap menyiapkan makanan sekaligus menjaga alur distribusi tetap tertib. Kehadiran mereka juga memberi rasa aman dan perhatian lebih kepada para penyintas, bahkan lewat sapaan singkat saat pembagian makanan. “Kadang orang lupa, perempuan itu bukan hanya bantu masak. Kami juga membaca kebutuhan, menenangkan yang gelisah, dan menjaga semuanya tetap berjalan. Di situ letak kekuatan kami,” ujar Iis. Ia menegaskan bahwa kontribusi perempuan bukan sekadar pelengkap, tetapi komponen vital dalam kerja kemanusiaan. Menurutnya, perempuan memiliki keunggulan seperti adaptif, teliti, empatik, dan mudah membangun kedekatan emosional—sifat yang sangat berpengaruh terhadap efektivitas tim di lapangan. Sensitivitas perempuan juga memperkuat proses pemulihan sosial, terutama bagi korban yang mengalami trauma. “Sering kali masyarakat yang mengalami trauma lebih mudah membuka diri kepada perempuan. Hal itu membuat komunikasi serta penanganan psikososial jauh lebih optimal,” jelasnya. Dosen teknik UMM tersebut juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan di daerah rawan bencana. Ia menilai masyarakat perlu membangun budaya kesiapsiagaan, sementara pemerintah harus memperkuat respons dini setiap kali muncul tanda bahaya. “Kita tidak boleh menunggu sampai terlambat. Begitu ada indikasi bahaya, harus ada langkah cepat, terukur, dan jelas,” tegasnya. Di akhir keterangannya, Iis menyampaikan harapan agar sistem peringatan dini di Indonesia terus diperbaiki dan diperkuat. Menurutnya, teknologi deteksi dini yang lebih akurat akan memberi kesempatan lebih besar bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. “Saya berharap tidak ada lagi korban yang jatuh karena telat mendapatkan informasi. Empati, persatuan, dan kemampuan bergerak cepat adalah kunci agar kita bisa bertahan menghadapi bencana serupa di masa depan,” tutupnya. (ANS)

Tiga Mahasiswa Kehutanan UMM Lolos Magang Internasional Jepang, Didukung Pembinaan CoE Forest Industry

Selama magang nanti, peserta akan terlibat dalam aktivitas lapangan seperti pemanenan kayu menggunakan senso, grass cutting atau pembersihan lahan, hingga memahami sistem manajemen kehutanan Jepang. Kyushu Bark merupakan perusahaan yang bergerak di sektor pemanenan kayu dan industri kehutanan. Melalui CoE Forest Industry UMM, peserta telah mendapatkan pembekalan teknis dan non-teknis sebagai persiapan sebelum terjun ke industri Jepang. Pembelajaran meliputi bahasa Jepang, budaya kerja, materi teknis kehutanan yang lebih spesifik, serta praktik penggunaan alat lapangan. “Di CoE kami belajar hal-hal yang tidak diajarkan di kelas reguler, termasuk praktik senso,” kata Adib. Selain itu, CoE Forest Industry juga menargetkan mahasiswa untuk memperoleh sertifikasi Specified Skilled Worker (SSW), yang membuka peluang bekerja secara profesional di Jepang. “Kalau sudah bersertifikat SSW, peluang kerja di Jepang jauh lebih besar,” tambahnya. Menurut rencana, ketiga mahasiswa akan diberangkatkan pada pertengahan Februari 2026 setelah menyelesaikan persyaratan administrasi seperti visa, paspor, dan tes JFT. Magang dijadwalkan berlangsung hingga Agustus 2026. Program persiapan CoE Forest Industry UMM diharapkan terus menjadi jalur strategis bagi mahasiswa untuk mengakses peluang internasional, khususnya pada sektor industri kehutanan berkelanjutan.

Jadi Relawan Bencana, Dosen UMM Tegaskan Peran Penting Perempuan di Tengah Krisis

MAKLUMAT — Banjir bandang yang melanda Sumatera pada akhir November lalu tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan luka sosial yang mendalam. Dalam situasi serba tidak pasti, peran perempuan dalam respons bencana semakin tampak dominan. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir Iis Siti Aisyah MT PhD, menjadi salah satu sosok yang sigap dan bergerak cepat di tengah krisis tersebut, dengan turun langsung sebagai relawan. Iis, sapaan akrabnya, mengaku bahwa naluri keibuan menjadi dorongan terkuat untuk turut serta dalam misi bantuan kemanusiaan. “Sebagai ibu, hati saya langsung tertegun ketika melihat kondisi para penyintas,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima Maklumat.id, Jumat (12/12/2025). Ia menambahkan bahwa dorongan tersebut muncul dari keinginannya untuk membantu apa pun yang bisa meringankan beban masyarakat terdampak. maklumat.id – Keterlibatannya merupakan bagian dari kolaborasi resmi antara UMM dan Universitas Brawijaya (UB) dalam operasi tanggap darurat yang diberangkatkan pada 8 Desember lalu. Tim relawan ini fokus memberikan bantuan di Kabupaten Agam, khususnya di Malalak, Palembayan, dan Maninjau. Sebanyak 3 dosen dan 16 mahasiswa Maharesigana dari UMM diterjunkan dalam misi tersebut. Iis dipercaya sebagai Koordinator Dapur Umum, posisi strategis yang menuntut ketelitian, kemampuan manajemen logistik, serta kepekaan sosial terhadap kebutuhan para penyintas. Di dapur umum, kerja cepat relawan perempuan menjadi pilar yang menjaga alur penyediaan makanan tetap tertib. Kepekaan mereka menghadirkan kenyamanan bagi para penyintas, bahkan lewat sapaan-sapaan sederhana saat antre mengambil makanan. “Kadang orang lupa, perempuan itu bukan hanya bantu masak. Tapi kami juga membaca kebutuhan, menenangkan yang gelisah, dan menjaga semuanya tetap berjalan. Di situ letak kekuatan kami.” ungkapnya. Iis menegaskan bahwa kontribusi perempuan dalam penanganan bencana bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi komponen vital dalam kerja kemanusiaan. Menurutnya, sifat adaptif, teliti, empatik, serta kemampuan membangun kedekatan emosional adalah keunggulan yang memberi dampak besar terhadap efektivitas tim di lapangan. Sensitivitas perempuan, lanjutnya, juga membantu mempercepat pemulihan sosial, terutama bagi penyintas yang berada dalam kondisi trauma. “Kadang masyarakat yang mengalami trauma lebih mudah membuka diri kepada perempuan, dan hal itu membuat komunikasi serta penanganan psikososial menjadi jauh lebih optimal,” katanya. Sebagai akademisi teknik, Iis juga mengingatkan pentingnya peningkatan kewaspadaan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Ia menekankan bahwa budaya kesiapsiagaan harus terus dibangun, sementara pemerintah wajib memperkuat sistem respons cepat setiap kali muncul tanda-tanda ancaman. “Kita tidak boleh menunggu sampai terlambat. Begitu ada indikasi bahaya, harus ada langkah cepat, terukur, dan jelas,” ucapnya. Lebih jauh, ia berharap agar teknologi peringatan dini di Indonesia semakin diperbaiki dan diperkuat. Menurutnya, sistem yang lebih akurat akan memberi peluang lebih besar bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. “Saya hanya berharap tidak ada lagi korban yang jatuh karena telat mendapat informasi. Empati, persatuan, dan kemampuan bergerak cepat adalah kunci agar kita bisa bertahan menghadapi bencana serupa di masa depan,” pungkas Iis.

MTs Muhammadiyah 1 Banjaranyar Jalin Kerja Sama dengan CoE UMM untuk Wujudkan Madrasah Unggul

pwmu.co – Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bojonegoro memfasilitasi kerja sama antara MTs Muhammadiyah 1 Banjaranyar, Baureno, Bojonegoro dengan Center of Excellence (CoE) Manajemen Sekolah Islam Unggul Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) dilaksanakan pada Rabu, (11/12/2025) di Aula PDM Bojonegoro. CoE Manajemen Sekolah Islam Unggul Prodi PAI UMM memiliki tujuan salah satunya agar kepala madrasah dan guru mampu memimpin serta mengelola lembaga pendidikan Islam yang kreatif, inovatif, dan religius. Selain itu, program ini juga dirancang untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki penguasaan keterampilan dan strategi marketing kelembagaan pendidikan Islam. Melalui program ini, CoE UMM telah mengirimkan tiga mahasiswa magang, yakni Lina Mufida, Zahroh Khoirun Nisa’, dan Rifta Wilda Qanita, yang telah mendampingi MTs Muhammadiyah 1 selama tiga bulan. Kepala Madrasah Mugiharti menyambut baik kerja sama ini. Menurutnya, kehadiran mahasiswa magang membawa warna baru bagi madrasah yang akrab disapa MADTSAMUBA tersebut. “Mereka sudah menjadi bagian dari keluarga madrasah kami. Siswa sangat senang dan mereka membawa keceriaan baru,” ujar Mugiharti. Setelah memahami latar belakang madrasah yang memiliki kelas program yakni International Class Program (ICP), ketiga mahasiswa tersebut memandang ICP sebagai peluang strategis untuk mewujudkan sekolah unggul. Mereka kemudian merancang berbagai program inovatif yang kini telah diimplementasikan di MADTSAMUBA. “Program yang telah diberikan sangat bermanfaat untuk madrasah. Kami sangat terbantu,” tambah Mugiharti. Berikut enam program yang telah dirancang dan diimplementasikan untuk memperkuat kemampuan berbahasa Inggris civitas akademika madrasah sebagai penunjang program ICP: Pelatihan Interaktif Bahasa Inggris – Program pelatihan khusus untuk meningkatkan kompetensi Bapak/Ibu guru dalam berbahasa Inggris. Daily English – Kegiatan penggunaan bahasa Inggris sehari-hari di lingkungan madrasah. Fun Friday – Aktivitas menyenangkan berbahasa Inggris yang dilaksanakan setiap Jumat. Conversation – Program praktik percakapan bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan komunikasi. MADTSAMUBA Expo – Panampilan serta pameran siswa sebagai ajang presentasi dan promosi program madrasah. English Club – Wadah bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat berbahasa Inggris. Dengan resminya penandatanganan MOU ini, diharapkan kerja sama antara MTs Muhammadiyah 1 Banjaranyar dan CoE Prodi PAI UMM dapat terus berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi peningkatan mutu pendidikan Islam di Kabupaten Bojonegoro.

Bu Dosen UMM Koordinator Dapur Umum di Agam: Siapkan Makan Sambil Kritisi Teknologi Peringatan Dini

MALANG POST – Banjir bandang yang melanda Sumatera pada akhir November lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan secara fisik, tetapi juga luka sosial yang mendalam. Di tengah situasi yang terus berubah dan kabar kehilangan yang datang setiap jamnya, peran perempuan dalam respons bencana semakin terlihat menonjol. Salah satu di antaranya adalah Ir. Iis Siti Aisyah, M.T., Ph.D., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang terjun langsung sebagai relawan. Iis sapaan akrabnya mengaku naluri keibuannya membuatnya sulit berpaling dari kabar bencana. “Sebagai ibu, hati saya langsung tertegun ketika melihat kondisi para penyintas,” ujarnya saat diwawancarai tim Humas UMM pada 11 Desember 2025. Ia menegaskan bahwa dorongan untuk membantu muncul dari keinginan melakukan apa pun yang dapat meringankan beban masyarakat terdampak. Keterlibatannya ini merupakan bagian dari kolaborasi resmi UMM dan Universitas Brawijaya (UB) dalam tanggap darurat yang berangkat pada 8 Desember lalu. Tim relawan fokus membantu di Kabupaten Agam, terutama di Malalak, Palembayan dan Maninjau. Dari UMM, ada 3 dosen dan 16 mahasiswa Maharesigana yang diterjunkan. Iis dipercaya menjadi Koordinator Dapur Umum, posisi yang membutuhkan ketelitian, manajemen logistik, serta kepekaan membaca kondisi sosial penyintas. Di dapur umum, relawan perempuan bergerak cepat menyiapkan makanan dan mengatur alur kerja agar semuanya tetap tertib. Kepekaan mereka membuat penyintas merasa lebih diperhatikan, bahkan hanya lewat sapaan singkat saat mengambil makanan. Kehadiran mereka membuat dapur umum terasa lebih teratur dan hangat. “Kadang orang lupa, perempuan itu bukan hanya bantu masak. Tapi kami juga membaca kebutuhan, menenangkan yang gelisah, dan menjaga semuanya tetap berjalan. Di situ letak kekuatan kami,” ungkapnya. Iis menegaskan bahwa kontribusi perempuan bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi merupakan bagian vital dari kerja kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa perempuan memiliki keunggulan seperti adaptif, teliti, empatik, serta kemampuan membangun bonding yang kuat serta semua sifat yang berpengaruh besar terhadap efektivitas tim di lapangan. Sensitivitas perempuan, menurutnya, juga menjadi kekuatan yang dapat mempercepat proses pemulihan sosial, terutama bagi masyarakat yang sedang berada dalam kondisi trauma. “Kadang masyarakat yang mengalami trauma lebih mudah membuka diri kepada perempuan, dan hal itu membuat komunikasi serta penanganan psikososial menjadi jauh lebih optimal,” katanya. Dosen teknik itu juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan di daerah rawan bencana. Menurutnya, masyarakat perlu membangun budaya kesiapsiagaan, sementara pemerintah harus memperkuat sistem respons awal ketika tanda-tanda bencana muncul. “Kita tidak boleh menunggu sampai terlambat. Begitu ada indikasi bahaya, harus ada langkah cepat, terukur, dan jelas,” ucapnya. Di akhir keterangannya, ia menyampaikan harapan agar sistem peringatan dini di Indonesia dapat diperbaiki dan diperkuat. Baginya, teknologi peringatan dini yang lebih akurat akan memberi kesempatan lebih besar bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. “Saya hanya berharap tidak ada lagi korban yang jatuh karena telat mendapat informasi. Empati, persatuan, dan kemampuan bergerak cepat adalah kunci agar kita bisa bertahan menghadapi bencana serupa di masa depan,” pungkasnya.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Tiga Mahasiswa Kehutanan UMM Lolos Magang di Jepang

MAKLUMAT – Prestasi kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tiga mahasiswa Program Studi Kehutanan berhasil menembus program magang di Jepang. Kesempatan ini mereka dapat melalui skema International Internship yang difasilitasi Center of Excellence (CoE) Forest Industry. Selanjutnya ketiga mahasiswa UMM segera menjalani magang profesional di perusahaan pengelolaan hutan Kyushu Bark, Jepang. Ketiganya adalah Adib Minanur Rohman, Ahmad Hafidh Ramadhan, dan Muhammad Hafidz Alfanani, mahasiswa angkatan 2022. Adib dkk, dinyatakan lolos setelah melalui serangkaian seleksi ketat. Program ini merupakan hasil kerja sama CoE Forest Industry UMM dengan Nosuta Jepang. Perusahaan ini kerap memberi akses bagi mahasiswa kehutanan Indonesia untuk belajar langsung industri hutan Negeri Sakura. Jalan Berliku Menuju Jepang Adib, salah satu peserta, menceritakan proses panjang hingga akhirnya meraih tiket ke Jepang. Ia mengikuti seleksi batch kedua dengan tahapan cukup menantang, mulai dari penilaian fisik hingga wawancara langsung atau mensetsu bersama perusahaan Jepang. “Kami diwawancarai menggunakan bahasa Jepang, tapi mendapat pendampingan dari penerjemah berbahasa Inggris. Untuk batch dua juga ada kewajiban tes fisik,” ujarnya, Selasa (10/12/2025) lalu. Selama berada di Kyushu Bark, para peserta langsung terjun ke lapangan untuk memahami industri kehutanan Jepang. Mereka akan mempelajari teknik pemanenan menggunakan alat senso, grass cutting sebelum proses panen, hingga mengenal sistem manajemen hutan di Jepang. “Magang di Jepang ini memberi kami pengalaman langsung di lapangan, bukan hanya teori,” imbuh Adib. Butuh Kesehatan Fisik dan Stamina Sebelum berangkat, seluruh peserta CoE telah mengikuti berbagai pembekalan. Mereka mendapat bekal materi teknis kehutanan yang tidak diajarkan di kelas reguler, pelatihan penggunaan alat senso, hingga kursus bahasa Jepang dan budaya kerja. Tak hanya itu, CoE Forest Industry juga menargetkan para peserta untuk meraih sertifikasi Specified Skilled Worker (SSW). Ini adalah sertifikasi kompetensi khusus bidang kehutanan yang membuka peluang kerja lebih luas di Jepang. “Kalau sudah punya sertifikat SSW, peluang bekerja di Jepang jadi jauh lebih besar,” kata Adib. Jadwal keberangkatan magang di Jepang pada pertengahan Februari 2026 dan berlangsung selama enam bulan, hingga Agustus 2026. Saat ini para peserta tengah menyiapkan berbagai dokumen penting seperti visa, paspor, serta mengikuti tes JFT sebagai syarat keberangkatan.

Mahasiswa Pascarjana UMM Latih Penulisan Esai Ilmiah Berbasis AI di MAN 1 Lamongan

pwmu.co – Sebagai upaya meningkatkan budaya literasi di kalangan pelajar, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pengabdian masyarakat di MAN 1 Lamongan, Jumat (12/12/2025). M. Nur Ali Zulfikar, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam UMM, melaksanakan pelatihan penulisan esai ilmiah berbasis pemanfaatan kecerdasan Artificial Intelligence(AI). Dalam keterangannya, pria yang akrab disapa Ali Zulfikar ini menjelaskan bahwa, pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan literasi siswa di tengah derasnya arus digitalisasi. Lebih jauh, Ali menegaskan bahwa literasi menjadi salah satu indikator penting kualitas sumber daya manusia. “Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam survei literasi. Ini pekerjaan rumah bersama. Pelajar harus diperkuat kemampuan literasinya agar siap menghadapi era kecerdasan artifisial,” ujarnya. Lliterasi, kata Ali, tidak hanya berdampak pada capaian akademik, tetapi juga menjadi fondasi karakter dan kompetensi kerja. Oleh karena itu, siswa diberi stimulus melalui latihan menulis esai ilmiah, maupun esai keseharian yang dekat dengan kehidupan mereka. “Banyak siswa yang memilih tema menarik seperti pentingnya konsumsi makanan sehat dan literasi keuangan bagi pelajar. Tema-tema ini relevan dengan rutinitas mereka,” katanya. Selain teknik penulisan, Ali juga mengenalkan pemanfaatan AI seperti ChatGPT untuk membantu menyusun outline esai. Ia menegaskan bahwa AI bukan untuk menggantikan kemampuan menulis, melainkan menjadi alat bantu agar siswa mampu menyusun struktur dan alur pemikiran yang lebih runtut. Output dari kegiatan ini direncanakan akan dikompilasi menjadi sebuah buku, sebagai bentuk kontribusi nyata pelajar MAN 1 Lamongan dalam mendukung program Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, Sains dan Teknologi (Diktisaintek Berdampak). “Dengan menghasilkan buku, siswa diharapkan memiliki kemandirian dan kepercayaan diri, serta semangat mengembangkan kemampuan literasi mereka. Tidak ada bangsa yang maju tanpa literasi yang kuat,” tegasnya. Tidak hanya itu, penguatan literasi di kalangan pelajar merupakan bagian dari ikhtiar mempersiapkan Indonesia Emas 2045. Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan jika generasi muda dibekali kemampuan literasi dan pemanfaatan teknologi sejak dini. Salah satu siswa MAN 1 Lamongan yang mengikuti kegiatan, Ahmad Al Ghany Wardani, menyampaikan bahwa pelatihan penulisan esai dan literasi era AI yang diberikan sangat memberikan pemahaman baru, terutama terkait pentingnya literasi di era teknologi. Menurutnya, materi yang disampaikan mulai dari pemahaman dasar tentang apa itu literasi, langkah-langkah membuat esai, hingga contoh konkret topik keseharian seperti pentingnya makanan sehat bagi pelajar, membuat siswa semakin mudah memahami proses penulisan. “Dari kegiatan tadi saya dapat banyak hal, mulai dari pengertian literasi itu apa, cara membuat esai seperti apa, dan contoh-contoh tema yang dekat dengan kehidupan kami,” ungkapnya. Ia menilai pemanfaatan AI dalam membuat outline esai juga sangat membantu siswa memulai tulisan. “Tadi juga diajari cara memakai AI seperti ChatGPT untuk membuat kerangka esai. Itu mempermudah kami menyusun alur tulisan sebelum benar-benar menulis,” tambahnya. Pihak MAN 1 Lamongan menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap pelatihan serupa dapat berkelanjutan guna menumbuhkan budaya menulis serta kecakapan digital di lingkungan madrasah.