DAM IMM Malang Raya Kupas Metodologi Riset Filsafat di Era Society 5.0

  pwmu.co – Pimpinan Cabang IMM Malang Raya melakukan terobosan dalam kurikulum perkaderannya dengan memasukkan materi “Metodologi Riset Filsafat” yang dikaitkan langsung dengan era Society 5.0.Materi ini disampaikan pada hari ketiga Darul Arqam Madya Nasional (DAMNAS) di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE), Arjosari, Kota Malang pada Senin (22/12/2025). Sesi ini bertujuan merumuskan pertanyaan penelitian filsafat teknologi yang valid serta mengaplikasikan metode ilmiah dan filsafat untuk menganalisis fenomena teknologi, hingga menyusun proposal, laporan, dan artikel riset filsafat. Kepala Biro Riset, Pengabdian dan Kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.PA, yang didapuk sebagai narasumber memulai sesi materi dengan menjelaskan bahwa Society 5.0 merupakan konsep masyarakat masa depan yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi untuk menyelesaikan masalah. “Tujuan dari society 5.0 ialah menciptakan inovasi untuk kemanusiaan. Berupa mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan pengalaman manusia,” ujarnya. Dalam kerangka tersebut, ia menyebut metode penelitian filosofis setidaknya mencakup tiga hal, yakni analisis konseptual untuk mengklarifikasi konsep, herrmeneutika untuk menafsirkan makna, dan fenomenologi sebagai pengalaman hidup. “Kalian harus mulai membiasakan diri untuk memahami konsep-konsep filosofis utama. Misalnya menganalisis teknologi, memahami pengetahuan, atau bahkan menelaah eksistensi manusia itu sendiri,” terangnya. Secara fenomenologi, ia mencontohkan adanya smartphone yang meningkatkan komunikasi dan akses informasi setiap hari. Atau virtual reality yang menciptakan pengalaman mendalam bagi pengguna dan masyarakat. “Kita harus memastikan berbasis teknologi berdasarkan kebutuhan data, melakukan aksi gerakan sosial, mengembangkan narasi yang dapat diimbangi, hingga penguatan masyarakat berdasarkan ilmu pengetahuan,” jelasnya. Pemberian materi tersebut selaras dengan tema yang diangkat dalam DAMNAS kali ini, yakni Dialektika Manusia dan Teknologi di Era Society 5.0. Dengan demikian, pemahaman tentang metode filosofis dapat menyediakan kerangka kerja penting untuk mengkaji secara kritis isu-isu sosial dan teknologi. Begitupun memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kompleksitas masyarakat 5.0 dan tantangannya. Sehingga peserta dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, mendorong pengambilan keputusan yang berdasarkan informasi, dan mendorong keterbukaan pikiran.(*)

Berbagi Untuk Negeri, UMM Bangun Instalasi Air Bersih di Maninjau

AGAM, Suara Muhammadiyah – Di tengah krisis air bersih yang berkepanjangan akibat bencana longsor, harapan baru akhirnya mengalir bagi warga Muaro Pauah, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memasang instalasi filter air bersih di Surau Dr. H. Abdul Karim Amrullah, Maninjau, pada 23 Desember lalu. Program ini diharapkan mampu membantu pemenuhan kebutuhan air layak bagi lebih dari 100 kepala keluarga di sekitar surau. Surau Dr. H. Abdul Karim Amrullah merupakan bangunan bersejarah peninggalan ayah Buya Hamka, tokoh besar Muhammadiyah dan bangsa Indonesia. Selain sebagai tempat ibadah, surau ini juga menjadi pusat aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat, sehingga dipilih sebagai titik strategis pemasangan dan distribusi air bersih. Paket bantuan yang disalurkan meliputi instalasi filter air bersih, toren air berkapasitas besar, jerigen untuk distribusi ke rumah warga, serta genset sebagai sumber listrik cadangan. Fasilitas tersebut menjadi solusi atas kondisi sumber air masyarakat yang tercemar lumpur pascalongsor, sehingga sebelumnya tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Bapak Fajri, selaku Bapak Jorong Muaro Pauah, menyampaikan apresiasi atas bantuan tersebut. Menurutnya, sejak bencana longsor melanda kawasan Maninjau, warga mengalami kesulitan air bersih. Untuk memasak, masyarakat terpaksa membeli air mineral, sementara untuk mandi menggunakan air bercampur lumpur yang memicu berbagai keluhan kesehatan seperti gatal-gatal. “Kami mengucapkan terima kasih kepada UMM. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, Mukti Cahyani, salah satu koordinator tim pengabdian masyarakat UMM, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen UMM dalam memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat, sejalan dengan tagline “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa.” Ia menambahkan, Maninjau memiliki nilai historis bagi Muhammadiyah sebagai tempat kelahiran Buya Hamka, sehingga UMM merasa terpanggil untuk berkontribusi langsung. Dengan beroperasinya instalasi filter air bersih ini, warga Muaro Pauah kini memiliki akses air yang lebih layak dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana di kawasan Maninjau. (diko)

PAI UMM Bekali Siswa MA Muhammadiyah 2 Malang tentang Kematangan Karakter

pwmu.co – Kematangan karakter sebenarnya adalah modal paling dasar buat siswa kalau ingin nyaman berinteraksi dan punya prestasi di sekolah. Berangkat dari kegelisahan itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pelatihan edukatif bertajuk “Emotional Intelligence” di MA Muhammadiyah 2 Malang pada Sabtu (13/12/2025). Pesertanya pun beragam, mulai dari siswa kelas 10 sampai siswa kelas 12. Di sini, tidak hanya memberi teori yang membosankan, tapi lebih bagaimana caranya siswa bisa langsung mempraktikkan kecerdasan emosional dalam keseharian mereka, mulai dari urusan pertemanan sampai cara mereka mengatur waktu belajar. Dalam kegiatan ini, ada lima pemateri dari mahasiswa PAI UMM yang membagi bahasan ke dalam lima pilar utama kecerdasan emosional atau Emotional Intelligence (EI). Pertama, siswa diajak untuk punya Self Awareness atau kesadaran diri agar paham apa kelebihan dan kekurangan mereka. Setelah itu, mereka dibekali teknik Self Regulation agar tidak mudah terpancing emosi jika ada konflik di sekolah. Selain itu, ada bahasan soal Motivation untuk jaga semangat belajar, Empathy agar lingkungan sekolah makin adem tanpa perundungan, dan ditutup dengan Social Skill untuk mengasah cara komunikasi yang baik dengan guru maupun teman. Pelatihan ini memang menekankan kalau karakter matang itu tidak tumbuh semalam, tapi harus dilatih setiap hari. Dengan menguasai lima aspek tadi, harapannya para peserta jadi lebih siap menghadapi dinamika dunia remaja dengan kepala dingin. “Kami ingin membekali adik-adik di MA Muhammadiyah 2 Malang ini dengan kematangan karakter yang real. Kalau mereka sudah bisa kontrol diri dan punya empati, tantangan harian di sekolah atau bahkan tekanan ujian nanti bakal terasa lebih ringan karena mereka punya mental yang stabil,” ujar Hamdan Fathoni, salah satu narasumber dari mahasiswa PAI UMM saat diwawancarai di lokasi. Pihak sekolah MA Muhammadiyah 2 Malang sendiri merespons positif inisiatif ini. Mereka menilai materi ini sangat pas dengan kebutuhan siswa zaman sekarang yang tidak cuma dituntut pintar secara akademik, tapi juga harus punya mental yang sehat. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa menular ke sekolah-sekolah lain agar kecerdasan emosional bisa jadi bagian penting dari kurikulum kehidupan siswa. Pelatihan ini menjadi ruang belajar bersama bagi siswa maupun mahasiswa, bahwa penguatan kecerdasan emosional tidak dapat dilepaskan dari proses pendidikan secara utuh. Melalui pendekatan yang aplikatif dan dekat dengan realitas siswa, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan emosi sebagai bagian dari pembentukan karakter yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Di Antara Empati dan Tugas Profesi: Kisah Dokter Muda UMM yang Pulihkan Trauma Korban Bencana

KLIKMU.CO – Berada di hadapan para penyintas yang kehilangan rumah dan keluarga menjadi pengalaman paling mengguncang bagi Muhammad Hafidz Putra Perdana. Dokter muda yang akrab disapa Dana ini harus belajar menyeimbangkan empati dan profesionalisme saat mendampingi korban banjir bandang di Sumatera Barat melalui layanan psikososial. Dana merupakan dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) asal Banjarmasin yang tergabung dalam program tanggap bencana UMM berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek). Program ini berfokus pada pelayanan medis dan psikososial. Para relawan diterjunkan ke Sumatera Barat sepanjang Desember 2025 untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak banjir bandang. Dalam program tersebut, Dana dipercaya bergabung sebagai anggota tim psikososial yang bertugas mendampingi penyintas dengan gangguan mental akibat trauma bencana. “Saya langsung turun ke masyarakat dan menanyai perihal gejala serta gangguan mental mereka akibat post-trauma banjir bandang ini,” ujar Dana. Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, menjadi momen awal Dana bersentuhan langsung dengan realitas bencana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang dihuni para penyintas dari Kecamatan Palembayan, wilayah zona merah dengan tingkat kerusakan tinggi. “Mereka menceritakan bahwa rumahnya sudah rata dengan tanah, bahkan banyak anggota keluarga yang sudah tidak ada,” katanya. Dana menjelaskan bahwa mayoritas penyintas yang ia dampingi mengalami kecemasan berat, gangguan panik, serta tekanan emosional akibat kehilangan. Pendampingan dilakukan melalui asesmen, konseling, relaksasi, serta pemberian obat-obatan yang dipantau secara berkala selama dua minggu. “Sebagian besar pasien adalah mereka yang kehilangan anggota keluarga, tetapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk bertahan hidup,” ungkapnya. Pengalaman paling membekas baginya terjadi saat bertugas di Rumah Singgah Sitingkah Tapi, Kecamatan Lubuk Basung, yang menjadi lokasi penampungan penyintas dari Kecamatan Palembayan, salah satu zona merah dengan dampak paling parah. “Saya bertemu seorang ayah yang rela mengorbankan dirinya agar istri dan anaknya bisa selamat, sebelum akhirnya tergerak untuk melukai diri agar bisa terbebas dari jeratan galodo, setelah mendengar pertanyaan: ‘Ayah, setelah ini kita mau ke mana? Ayah ikut, kan?’ Cerita mereka benar-benar menggoyahkan saya secara personal,” tutur Dana. Meski pernah menjalani stase kejiwaan saat koas, Dana mengaku pengalaman lapangan ini memberi pelajaran yang jauh lebih dalam. “Ini adalah pengalaman yang tidak akan tergantikan bagi saya sebagai calon dokter,” ujarnya. Dana berharap kehadiran program UMM bersama KemendiktiSaintek yang fokus pada layanan medis dan psikososial ini dapat membantu mempercepat pemulihan mental dan sosial para penyintas pascabencana. (Faqih/AS)

Bukan Sekadar Wacana, PSIB UMM Serukan Gerakan Nyata Rawat Alam

  pwmu.co – Suasana dialektik dan penuh geliat intelektual mewarnai Kajian Islam Multidisipliner (KIM) edisi ke-6 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (23/12/2025).Mengusung tema “Ikhtiar Islam Berkemajuan Melestarikan Lingkungan”, diskusi yang dibuka langsung oleh Kepala Biro Riset, Penelitian, dan Kerjasama UMM Dr. Salahudin ini tidak hanya menyajikan paparan akademis, tetapi juga menjadi ruang debat kritis, termasuk menyoroti praktik pengelolaan tambang yang dikelola oleh lembaga Muhammadiyah. Acara yang menghadirkan dua pakar, Prof. Joko Triwanto dan Rachmad K. Dwi Susilo, Ph.D., berlangsung di Auditorium Masjid AR. Fachruddin lantai 2. Dalam sambutan pembukaannya, Salahudin menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dan keberanian untuk mengkritisi diri sendiri dalam mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. “Islam Berkemajuan harus tampil bukan hanya dalam wacana, tetapi dalam praktik nyata yang beretika, termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam,” ujarnya. Lebih lanjut, Salahudin menegaskan, kerusakan hutan di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Kerusakan hutan di Indonesia cukup memprihatinkan, kejadian di Sumatera (Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat) merupakan sebagian kecil yang bisa kita lihat dampaknya. “Di daerah Bima kerusakan hutan sangat parah, hampir 80 persen  sudah terlihat lagi pohon-pohon yang tumbuh dan digantikan oleh tanaman jagung”, tegasnya. Sementara ketua Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM, Prof. Gonda Yumitro sekaligus memandu jalannya diskusi berharap bahwa kajian ini membuat kita bergerak secara kolektif untuk merawat hutan yang telah mengalami kerusakan. “Sejak tahun 2000 sebanyak 9 juta hektar hutan Indonesia hilang. Hal ini disebabkan adanya pembukaan untuk perkebunan dan pertambangan, data tersebut mengingatkan kepada kita bahwa perlu adanya gerakan kolektif untuk merawat hutan”, ujarnya. Gonda juga menekankan bahwa Allah telah memberikan amanah kepada manusia untuk menjaga hutan, “dalam Al-Qur’an Allah telah menegaskan bahwa ia menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Hal ini menegaskan kepada kita bahwa manusia memiliki amanah untuk mengelola dan menjaga keseimbangan alam, bukan sebaliknya”,paparnya. Prof. Joko Triwanto yang merupakan pakar budidaya hutan UMM, menekankan pentingnya pengusaha dan pemerintah memperhatikan lingkungan sekitar hutan ketika ingin membuka perkebunan dan pertambangan. “Memanfaatkan hutan untuk kepentingan ekonomi sah-sah saja, akan tetapi harus sesuai dengan aturan. Jangan semua pohon di tebang demi kepentingan ekonomi semata”, paparnya. Joko juga mengatakan, pemerintah dan pengusaha harus memiliki kepekaan terhadap kerusakan hutan yang terjadi saat ini, “Pemerintah Prabowo dan pengusaha harus melihat bencana yang terjadi di Sumatera dan Aceh sebagai alarm buat bangsa kita, bukan malah terus menggaungkan penanaman sawit, karena sawit dan pohon sangat berbeda,” katanya “Pohon bisa menahan terjadinya erosi dan juga bisa menjaga sumber mata air. Inilah pentingnya Pemerintah dan Pengusaha tidak hanya memanfaatkan hutan sebagai sumber ekonomi semata, akan tetapi harus dilihat juga lingkungan sekitarnya,” imbuh dia. Rachmad K. Dwi Susilo, Ph.D, sebagai pakar sosiologi lingkungan menyoroti empat faktor penting terjadi bencana di dunia. “Ada empat faktor fundamental terjadinya berbagai bencana di dunia, baik bencana kekeringan hingga hingga bencana banjir,” ujarnya. Pertama, sebut dia faktor lingkungan dimana tidak ada kemampuan alam untuk mengembalikan kerusakan yang terjadi. Kedua ialah faktor psikologis dimana kerakusan menjadi cara hidup manusia modern. Ketiga ialah faktor psikologis dimana kerusakan lingkungan secara makro diproduksi secara berjamaah. “Terakhir adalah faktor politik dimana relasi kuasa dalam politik menyebabkan kompromi antara Pemerintah dan pengusaha”, paparnya. Rachmad menekankan bahwa yang kita bangun sebenarnya bukan hanya kesadaran, tetapi juga gerakan kolektif untuk merawat lingkungan. “Selama ini banyak diskusi yang membangun kesadaran merawat lingkungan, akan tetapi ketika sadar tidak mau bergerak, ini hal yang konyol. Kita sadar bahwa lingkungan kita telah mengalami kerusakan yang cukup parah, namun kita tidak mau bergerak untuk menjaga dan merawatnya”, tegasnya. Rachmad juga menyampaikan bahwa Islam mempunyai prinsip dalam merawat lingkungan. “Dalam islam, banyak sekali ulama yang menulis tentang lingkungan, seperti Qardhawi yang menekankan bahwa menjaga lingkungan sama halnya kita menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga keturunan, dan menjaga harta”, tuturnya. Rachmad memandang bahwa Islam berkemajuan hadir untuk pencegahan dan pemulihan lingkungan. Peran Islam berkemajuan melihat fenomena yang terjadi saat ini hadir untuk mendorong upaya pencegahan dan pemulihan lingkungan. “Muhammadiyah juga memiliki buku fikih kebencanaan sebagai rujukan kita dalam aspek menjaga lingkungan. Kehadiran buku itu memberi tuntunan bagi kita untuk tidak merusak lingkungan hingga menghindari perilaku yang menghadirkan bahaya”, tegasnya. Forum ini menjadi hidup ketika peserta, yang terdiri dari akademisi, aktivis lingkungan, dan mahasiswa, mulai mempertanyakan konsistensi antara nilai-nilai pelestarian lingkungan dengan realitas pengelolaan usaha tambang yang dimiliki oleh organisasi Muhammadiyah. Beberapa pertanyaan kritis muncul tentang bagaimana prinsip Islam Berkemajuan diterapkan dalam operasional tambang tersebut, apakah sudah memenuhi standar keberlanjutan lingkungan, keadilan sosial, dan transparansi. Para narasumber memberikan tanggapan dengan membawa perspektif fikih lingkungan, etika bisnis Islam, dan manajemen modern. Mereka mengakui bahwa tantangan tersebut nyata dan perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Inilah esensi dari kajian multidisipliner dan dialektika. Kita perlu berani menguji praktik kita sendiri dengan nilai-nilai yang kita usung. Pengelolaan tambang, atau aset apa pun, harus bisa menjadi teladan dalam penerapan prinsip al-‘adalah (keadilan) dan al-maslahah (kemanfaatan umum), dan Muhammadiyah ingin menjadi contoh bagaimana pengelolaan tambang yang baik. (*)

Inovasi Drone Berbasis AI Antar Mahasiswa FT UMM Raih Juara Nasional

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) kembali mencatat prestasi di tingkat nasional. Tim Airborn UMM berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Kompetisi Inovasi Drone Nasional (KIDN) 2025 kategori drone tetap sasaran yang digelar di Lapangan Aldiron, Jakarta Selatan, pada 18 Desember 2025. Prestasi tersebut diraih melalui pengembangan drone berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mendeteksi dan melacak target secara real time serta menjalankan misi secara mandiri dengan tingkat akurasi tinggi. Salah satu anggota Tim Airborn UMM, M. Darma Putra Ramadhan, menjelaskan bahwa sistem drone dirancang dengan mengintegrasikan teknologi AI dan navigasi presisi. Drone memanfaatkan algoritma deep learning YOLOv5 yang dikonversi ke TensorRT untuk dioptimalkan pada perangkat Jetson Nano. “Konversi ke TensorRT menjadi kunci agar sistem tetap cepat dan stabil saat digunakan di kondisi lapangan lomba,” ujar Darma. Teknologi tersebut kemudian dipadukan dengan sistem navigasi berbasis Global Navigation Satellite System (GNSS) dan GPS lock. Dengan integrasi ini, drone tidak hanya mampu mengenali objek sasaran, tetapi juga bergerak secara presisi menuju target berdasarkan koordinat yang telah ditentukan. Drone yang dikembangkan Tim Airborn UMM memiliki kapasitas angkut maksimal hingga tiga kilogram. Namun, khusus pada KIDN 2025, tim menyesuaikan bobot payload menjadi 750 gram dengan baterai seberat satu kilogram guna menjaga stabilitas dan daya tahan terbang. Selain kemampuan navigasi otomatis, drone juga dilengkapi fitur target lock. Melalui antarmuka sederhana, operator dapat memilih sasaran menggunakan sistem click and drag. Setelah target terkunci, drone akan mengeksekusi misi secara otomatis, termasuk skenario khusus yang mengharuskan drone menabrakkan diri ke target. Pada kategori drone tetap sasaran, aspek penilaian meliputi desain, konsep pengembangan, teknologi, presentasi, daya tahan, serta kecepatan drone. Berdasarkan hasil pengujian internal dan pelaksanaan lomba, sistem drone Airborn UMM mencatat tingkat keberhasilan hingga 95 persen. Meski meraih podium nasional, tim mengaku menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan waktu latihan dan kondisi cuaca yang kurang mendukung. Untuk menyiasatinya, para mahasiswa bahkan memanfaatkan latihan malam hari di lapangan sepak bola UMM. Ke depan, Tim Airborn UMM berencana mengembangkan sistem drone berbasis cloud dan Internet of Things (IoT) agar mampu menjalankan misi jarak menengah hingga jauh secara terintegrasi. Capaian ini sekaligus menjadi pijakan FT UMM dalam memperkuat riset dan inovasi drone berbasis AI yang adaptif dan berdaya saing nasional. (raf)

Skor IQ Indonesia Disebut Rendah, Psikolog May berkomentar: Jangan Sederhanakan Kecerdasan Bangsa

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Isu viral mengenai skor Intelligence Quotient (IQ) Indonesia yang disebut berada di angka 78 kembali memicu perdebatan publik. Angka tersebut ramai diperbincangkan di media sosial hingga memunculkan perbandingan antarnegeri dan klaim sensasional yang dinilai menyesatkan. Menanggapi hal itu, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), May Lia Elfina, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa kecerdasan tidak bisa direduksi hanya pada satu angka statistik. Menurutnya, skor IQ tidak layak dijadikan label kecerdasan suatu bangsa. “IQ pada dasarnya hanya mengukur kemampuan kognitif umum, seperti penalaran, pemecahan masalah, pemahaman verbal, dan kemampuan belajar. Itu pun diperoleh melalui alat tes dengan kerangka ukur tertentu,” ujar May saat diwawancarai tim Humas UMM, 18 Desember 2025. Ia menilai, pembahasan IQ tanpa pemahaman metodologi justru berpotensi melahirkan kesimpulan keliru. Terlebih, data yang beredar luas berasal dari World Population Review tahun 2022 yang mencatat rata-rata IQ Indonesia di angka 78,49. “Menurut saya, data itu tidak representatif. Bisa jadi merupakan kompilasi dari berbagai sumber dengan metodologi, alat ukur, dan jumlah sampel yang berbeda-beda. Ini yang perlu ditinjau ulang,” tegasnya. Dalam kajian psikologi, lanjut May, kemampuan kognitif suatu bangsa tidak bisa diringkas dalam satu angka agregat. Berbagai penelitian menunjukkan hasil yang sangat beragam, mulai dari kisaran 70-an hingga di atas 90, tergantung alat tes dan konteks penelitian yang digunakan. May juga menyoroti narasi ekstrem yang menyamakan IQ masyarakat Indonesia dengan IQ gorila. Ia menilai perbandingan tersebut sebagai kesalahan interpretasi ilmiah yang serius. “Penelitian tentang kecerdasan gorila sendiri masih pro dan kontra. Gorila jelas bukan manusia, baik secara biologis maupun psikologis,” katanya. Ia menambahkan, skor IQ sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, khususnya dalam konteks lintas budaya. Perbedaan bahasa, budaya, akses pendidikan, hingga kondisi kesehatan dapat memengaruhi hasil tes secara signifikan. Karena itu, May menolak anggapan bahwa IQ merupakan penentu utama kesuksesan hidup seseorang. Menurutnya, keberhasilan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lain seperti motivasi, kepribadian, kecerdasan emosional dan sosial, kreativitas, serta lingkungan yang mendukung. “IQ bukan vonis yang bersifat tetap. Ia bisa berkembang jika lingkungannya mendukung,” pungkasnya. Ia pun mengajak publik untuk lebih bijak memaknai kecerdasan dan mulai fokus pada pemenuhan gizi, stimulasi dini, serta pemerataan pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Mahasiswa FT UMM Amankan Podium Nasional Lewat Inovasi Drone Berbasis AI

Malangpariwara.com – Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Melalui Tim Airborn UMM, mahasiswa FT UMM berhasil meraih Juara 3 Kompetisi Inovasi Drone Nasional (KIDN) 2025 pada kategori drone tetap sasaran. Kompetisi tersebut digelar pada 18 Desember 2025 di Lapangan Aldiron, Jakarta Selatan, dan diikuti oleh tim-tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Prestasi ini diraih berkat pengembangan drone berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mendeteksi dan melacak target secara real time. Sistem drone dirancang untuk dapat menjalankan misi secara mandiri dengan tingkat akurasi tinggi melalui integrasi AI dan navigasi presisi. Dirancang langsung oleh mahasiswa Perancangan arsitektur sistem drone dikembangkan oleh M. Darma Putra Ramadhan, salah satu anggota Tim Airborn UMM. Ia menjelaskan bahwa teknologi utama drone memanfaatkan algoritma deep learning YOLOv5 yang dikonversi ke TensorRT guna mengoptimalkan kinerja perangkat Jetson Nano. Optimalisasi ini memungkinkan proses komputasi visual berjalan lebih cepat dan stabil tanpa membebani sistem. “Konversi ke TensorRT menjadi kunci agar drone tetap responsif menghadapi dinamika lapangan saat lomba,” jelas Darma. Teknologi AI tersebut kemudian diintegrasikan dengan sistem navigasi berbasis GNSS dan GPS lock, sehingga drone tidak hanya mampu mengenali objek sasaran. Tetapi juga bergerak menuju target secara presisi berdasarkan koordinat. Drone yang dikembangkan memiliki kapasitas angkut hingga tiga kilogram. Namun, dalam KIDN 2025, tim menyesuaikan payload menjadi 750 gram dengan baterai satu kilogram demi menjaga stabilitas terbang. Selain itu, Tim Airborn UMM menerapkan fitur target lock, di mana operator dapat memilih objek sasaran melalui antarmuka click and drag. Setelah target terkunci, drone akan bergerak otomatis mengikuti skenario misi, termasuk untuk misi khusus yang mengharuskan drone menabrakkan diri ke target. Pada kategori drone tetap sasaran, penilaian juri meliputi desain, konsep pengembangan, teknologi, presentasi, daya tahan, dan kecepatan drone. Berdasarkan pengujian internal, sistem drone Airborn UMM mencatat tingkat keberhasilan hingga 95 persen selama uji coba dan perlombaan. Tantang yang dihadapi Meski demikian, tim menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu latihan dan kondisi cuaca. Untuk mengatasinya, tim bahkan memanfaatkan waktu malam hari untuk latihan di lapangan sepak bola UMM. Ke depan, Tim Airborn UMM berencana mengembangkan sistem drone berbasis cloud dan Internet of Things (IoT). Tujuannya agar mampu menjalankan misi jarak menengah hingga jauh secara terintegrasi. Capaian ini menjadi pijakan awal FT UMM dalam memperkuat riset drone berbasis AI yang adaptif dan berdaya saing nasional. (Djoko W)