Polres Batu Terima Mahasiswa Hukum UMM untuk Program Magang Kepolisian

BATU, JurnalPost.com – Polres Batu menerima kedatangan sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang untuk melaksanakan program magang dalam rangka memenuhi kebutuhan akademik dan menambah wawasan tentang tugas kepolisian. Kegiatan magang yang berlangsung selama beberapa bulan ini memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk belajar langsung tentang sistem kerja kepolisian, mulai dari pelayanan masyarakat hingga proses penegakan hukum. Kapolres Batu, AKBP Andi Yudha Pranata melalui Kasubag Humas, AIPTU Dony Miraza A menyambut baik kehadiran para mahasiswa. “Kami membuka kesempatan bagi generasi muda untuk belajar dan memahami tugas-tugas kepolisian. Semoga pengalaman ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu dan karakter mereka,” ujarnya. Para peserta magang ditempatkan di berberapa unit, yaitu Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) dan Humas. Mereka mendapat bimbingan langsung dari personel Polres Batu yang berpengalaman. Para Mahasiswa mendapatkan berbagai ilmu baru dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang diperoleh di kampus. Salah seorang peserta magang bernama Faishal Lindung Prasetyo mengaku mendapat banyak pelajaran berharga. “Ini pengalaman yang sangat berharga. Kami tidak hanya belajar dari teori, tapi juga penerapan langsung bagaimana penegakan hukum di kepolisian dan bagaimana penerepan sistim humanis polri dalam melayani masyarakat,” ungkapnya. Program magang ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara institusi kepolisian dengan dunia pendidikan, sekaligus membentuk generasi muda yang memiliki pemahaman baik tentang penegakan hukum dan pelayanan publik.
Perkuat Kompetensi Profesional, Mahasiswa FH UMM Jalani Magang di Kantor Notaris dan PPAT
Radarjatim.co ~ Mahasiswa semester VII Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan program magang sebagai bagian dari kewajiban akademik. Kegiatan ini dirancang untuk menguatkan pemahaman mahasiswa terhadap praktik hukum secara nyata, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja profesional setelah menyelesaikan pendidikan. Fakultas Hukum UMM menyediakan dua skema magang, yakni Magang Center of Excellence (CoE) dan Magang Mandiri. Kelompok mahasiswa yang terdiri dari Rifqi Alfiyanto, Dara Mardiva A, Adidi Diwayana, Mellya Galuh F, dan Anita Nur Fadhilah memilih mengikuti Magang Mandiri sebagai sarana pembelajaran praktis di luar kampus. Program magang tersebut dilaksanakan di Kantor Notaris dan PPAT Dr. Diah Aju Wisnuwardhani, S.H., M.Hum., yang berlokasi di Jalan Tumenggung Suryo No. 35 G, Kota Malang. Kantor ini menjadi tempat mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam praktik kenotariatan dan pelayanan hukum kepada masyarakat. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa dibimbing oleh Dosen Pembimbing Magang Herlena Fatikasari, S.H., serta didampingi secara langsung di lapangan oleh Chusnul Chotimah selaku pembimbing dari kantor notaris. Pendampingan ini membantu mahasiswa memahami alur kerja serta tanggung jawab profesi notaris secara komprehensif. Notaris merupakan pejabat umum yang memiliki kewenangan membuat akta otentik terkait berbagai perbuatan hukum. Profesi ini menuntut sikap independen, jujur, dan profesional sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014, serta berada di bawah pengawasan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dalam kegiatan magang, mahasiswa terlibat langsung dalam penyusunan akta jual beli, akta hibah, pendirian badan hukum, hingga pemeriksaan dokumen. Melalui aktivitas tersebut, mahasiswa belajar menerapkan teori hukum ke dalam praktik nyata yang membutuhkan ketelitian dan tanggung jawab tinggi. Mahasiswa juga mempelajari proses verifikasi dokumen hukum seperti sertifikat tanah, identitas kependudukan, dan surat keterangan lainnya. Proses ini melibatkan pengecekan ke instansi terkait seperti BPN dan Dukcapil guna memastikan keabsahan data sebelum pembuatan akta dilakukan. Selain aspek teknis, mahasiswa memperoleh gambaran sistem kerja kantor notaris, mulai dari administrasi, pengarsipan, hingga pelayanan klien. Pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan dokumen turut diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan akurasi kerja di era modern. Etika profesi menjadi salah satu pembelajaran utama dalam program magang ini. Mahasiswa diajarkan pentingnya integritas, sikap profesional, serta kemampuan berkomunikasi secara santun dalam menghadapi klien dengan latar belakang yang beragam. Melalui program magang ini, mahasiswa Fakultas Hukum UMM memperoleh bekal penting berupa pengalaman praktis dan nilai profesionalisme. Diharapkan kegiatan serupa terus dikembangkan agar mampu mencetak lulusan hukum yang kompeten, beretika, dan siap berkontribusi di dunia kerja.
Mahasiswa Teknik Sipil UMM Sabet Juara Nasional Lewat Inovasi Smart Bridge

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan prestasi di level nasional. Tim Teknik Sipil UMM berhasil meraih Juara 3 Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2025 kategori Jembatan Model Pelengkung, ajang yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim tersebut diketuai Ayunda Elvandari, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2022, berpasangan dengan Akbar Nurfitriono dari angkatan 2023. Keduanya tergabung dalam LSO Surya Teknik Sipil UMM. Ayunda menjelaskan, proses seleksi dimulai sejak pertengahan 2025 melalui penyusunan proposal desain jembatan. Dari sekitar 150 proposal yang masuk secara nasional, hanya 10 tim yang lolos ke babak final kategori pelengkung. Kompetisi KJI-KBGI 2025 berlangsung pada 12–17 November 2025. Tahap perakitan jembatan dilakukan pada 15 November, sementara malam penganugerahan digelar sehari setelahnya. Ajang ini mempertemukan mahasiswa teknik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menguji ketepatan desain, kekuatan struktur, hingga kerja tim. Dalam kompetisi tersebut, tim UMM mengusung konsep smart bridge, yakni jembatan yang dilengkapi sistem sensor untuk mendeteksi potensi kerusakan struktur. Konsep ini dipadukan dengan pendekatan keberlanjutan melalui efisiensi material dan pemanfaatan ulang limbah produksi sebagai alat bantu perakitan. “Konsep ini kami pilih karena relevan dengan tantangan infrastruktur dan keterbatasan akses transportasi di Indonesia,” kata Ayunda. Namun, perjalanan menuju podium tidak berjalan mulus. Ayunda mengungkapkan, kendala justru muncul pada tahap fabrikasi, ketika sejumlah pekerjaan tidak sesuai dengan jadwal awal. Untuk mengatasinya, tim membagi peran secara ketat, mulai dari pengawasan fabrikasi hingga penyusunan presentasi dan detail visual jembatan. Keberhasilan ini menjadi capaian penting bagi LSO Surya Teknik Sipil UMM, yang dalam dua tahun terakhir belum kembali naik podium nasional. Menurut Ayunda, kunci keberhasilan terletak pada kekompakan tim dan proses evaluasi desain yang dilakukan berulang kali. Dosen pembina tim, Dr. Ir. Moh. Abduh, MT., IPM., ACPE., menilai kompetisi KJI tidak hanya menguji kemampuan teknis mahasiswa. Ia menekankan pentingnya ketangguhan mental, pengendalian emosi, serta kerja sama tim dalam menghadapi tekanan kompetisi. “Prestasi lahir dari keseimbangan antara kemampuan intelektual, sikap, dan keterampilan teknis yang berjalan bersamaan,” ujarnya. (raf)
UMM Luluskan Perawat Berstandar Tinggi dengan OSCE

MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan kesehatan berkualitas melalui pelaksanaan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) berbasis mini hospital. Ujian keterampilan klinis ini digelar di Gedung Kuliah Bersama (GKB V), fasilitas baru berteknologi tinggi yang dirancang menyerupai lingkungan rumah sakit modern. OSCE menjadi salah satu instrumen utama evaluasi kompetensi mahasiswa keperawatan karena tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga menilai komunikasi terapeutik, berpikir kritis, clinical reasoning, hingga pengambilan keputusan dalam kondisi gawat darurat. Kepala Departemen Keperawatan Gawat Darurat (KGD) UMM, Indah Dwi Pratiwi, S.Kep., Ns., (tautan tidak tersedia), menjelaskan bahwa OSCE merupakan metode paling relevan untuk memastikan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. “OSCE mini hospital di GKB V memberikan gambaran nyata bagaimana mahasiswa menghadapi pasien dalam kondisi kritis, berkomunikasi di bawah tekanan, serta melakukan tindakan klinis berbasis keselamatan pasien. Inilah yang membentuk mereka menjadi perawat profesional di masa depan,” ujarnya, Senin (5/1/2026). Kaprodi S1 Keperawatan FIKES UMM, Nur Aini, Ph.D, menuturkan bahwa OSCE bukan sekadar ujian praktik, melainkan bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan. “Dengan fasilitas GKB V, kami memastikan mahasiswa tidak hanya lulus secara akademik, tetapi juga siap bersaing di dunia kerja nasional maupun global dengan kompetensi dan empati yang seimbang,” jelasnya. Melalui pelaksanaan OSCE mini hospital ini, Prodi Keperawatan UMM menegaskan bahwa transformasi pendidikan kesehatan bukan hanya wacana, tetapi telah diwujudkan secara nyata. UMM tidak sekadar membangun gedung baru, melainkan membangun budaya mutu dan profesionalisme demi menyiapkan tenaga kesehatan masa depan yang andal dan berintegritas. (lil).
Inovasi Smart Bridge Antar Mahasiswa Teknik Sipil UMM Raih Podium Nasional

pwmu.co –Inovasi jembatan masa depan berbasis teknologi dan keberlanjutan mengantarkan mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih prestasi nasional. Tim LSO Surya Teknik Sipil UMM sukses meraih Juara 3 Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2025 kategori Jembatan Model Pelengkung yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemdiktiSaintek). Tim UMM diketuai oleh Ayunda Elvandari, mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik angkatan 2022, dengan partnernya Akbar Nurfitriono, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2023. Ayunda menjelaskan bahwa persiapan mengikuti KJI 2025 telah dimulai sejak Juli hingga Agustus 2025 melalui penyusunan proposal desain jembatan. “Setelah itu kami menunggu pengumuman finalis pada awal September. Dari hampir 150 proposal yang masuk, hanya 10 tim yang lolos ke final untuk kategori pelengkung,” jelasnya, Senin (5/1/2026). Rangkaian kegiatan KJI-KBGI 2025 sendiri dilaksanakan pada 12-17 November 2025. Pada kategori jembatan pelengkung, proses perakitan jembatan dilaksanakan pada 15 November 2025, sementara malam awarding berlangsung pada 16 November 2025. Kompetisi ini mempertemukan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia dan menjadi ajang unjuk kemampuan desain, ketepatan konstruksi, serta kerja sama tim. Dalam kompetisi tersebut, tim UMM mengusung konsep jembatan optimum, ramah lingkungan, dan berorientasi masa depan yang selaras dengan visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. Ayunda menyampaikan, konsep ini dipilih sebagai respons atas keterbatasan akses transportasi di Indonesia. “Kami juga mengembangkan konsep smart bridge, di mana jembatan dilengkapi sensor untuk mendeteksi potensi kerusakan. Dari sisi keberlanjutan, kami juga menerapkan efisiensi material dengan memanfaatkan kembali limbah pembuatan jembatan sebagai alat bantu perakitan,” ujarnya. Meski demikian, perjalanan menuju podium tidak lepas dari tantangan. Ia mengungkapkan bahwa kendala terbesar justru muncul setelah pengumuman finalis. “Pada tahap fabrikasi, beberapa pekerjaan tidak selalu sesuai dengan timeline yang direncanakan, sehingga waktu latihan harus disesuaikan,” katanya. Untuk menyiasatinya, tim membagi peran secara jelas, mulai dari pengendalian proses fabrikasi di lapangan hingga penyusunan presentasi dan ornamen jembatan. Menurut Ayunda, keberhasilan ini ditentukan oleh kerja sama tim yang solid serta proses trial and error yang dilakukan berulang kali. Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri karena mampu mengembalikan nama LSO Surya ke podium setelah dua tahun terakhir belum meraih gelar juara. “Kami terus mengevaluasi desain hingga menemukan struktur yang paling efisien dan kuat. Selain itu, dukungan dari anggota LSO Surya juga sangat berpengaruh,” tuturnya. Sementara itu, Dosen pembina tim, Dr. Ir. Moh. Abduh, MT, IPM, ACPE, menyampaikan bahwa kompetisi KJI-KBGI menuntut kesiapan tim secara menyeluruh. “Prestasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual. Pengendalian emosi dan ego, ketangguhan mental, serta kerja sama tim yang baik menjadi kunci utama,” ujarnya. Dia menambahkan bahwa keberhasilan lahir dari perpaduan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang berjalan selaras. “Saya berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa Teknik Sipil UMM lainnya untuk terus berinovasi, berani berkompetisi di tingkat nasional, serta mengharumkan nama universitas melalui karya-karya teknik yang berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya.(*)
Konsep Smart Bridge Bawa Mahasiswa Teknik Sipil UMM Raih Juara Nasional

Agroredaksi.com-Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Tim dari LSO Surya Teknik Sipil UMM berhasil meraih Juara 3 Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2025 pada kategori Jembatan Model Pelengkung yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemdiktiSaintek). Tim UMM diketuai oleh Ayunda Elvandari, mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik angkatan 2022, dengan partnernya Akbar Nurfitriono, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2023. Ayunda menjelaskan bahwa persiapan mengikuti KJI 2025 telah dimulai sejak Juli hingga Agustus 2025 melalui penyusunan proposal desain jembatan. “Setelah itu kami menunggu pengumuman finalis pada awal September. Dari hampir 150 proposal yang masuk, hanya 10 tim yang lolos ke final untuk kategori pelengkung,” jelasnya. Rangkaian kegiatan KJI-KBGI 2025 sendiri dilaksanakan pada 12-17 November 2025. Pada kategori jembatan pelengkung, proses perakitan jembatan dilaksanakan pada 15 November 2025, sementara malam awarding berlangsung pada 16 November 2025. Kompetisi ini mempertemukan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia dan menjadi ajang unjuk kemampuan desain, ketepatan konstruksi, serta kerja sama tim. Dalam kompetisi tersebut, tim UMM mengusung konsep jembatan optimum, ramah lingkungan, dan berorientasi masa depan yang selaras dengan visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. Ayunda menyampaikan bahwa konsep ini dipilih sebagai respons atas keterbatasan akses transportasi di Indonesia. “Kami juga mengembangkan konsep smart bridge, di mana jembatan dilengkapi sensor untuk mendeteksi potensi kerusakan. Dari sisi keberlanjutan, kami juga menerapkan efisiensi material dengan memanfaatkan kembali limbah pembuatan jembatan sebagai alat bantu perakitan,” ujarnya. Meski demikian, perjalanan menuju podium tidak lepas dari tantangan. Ia mengungkapkan bahwa kendala terbesar justru muncul setelah pengumuman finalis. “Pada tahap fabrikasi, beberapa pekerjaan tidak selalu sesuai dengan timeline yang direncanakan, sehingga waktu latihan harus disesuaikan,” katanya. Untuk menyiasatinya, tim membagi peran secara jelas, mulai dari pengendalian proses fabrikasi di lapangan hingga penyusunan presentasi dan ornamen jembatan. Menurut Ayunda, keberhasilan ini ditentukan oleh kerja sama tim yang solid serta proses trial and error yang dilakukan berulang kali. Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri karena mampu mengembalikan nama LSO Surya ke podium setelah dua tahun terakhir belum meraih gelar juara. “Kami terus mengevaluasi desain hingga menemukan struktur yang paling efisien dan kuat. Selain itu, dukungan dari anggota LSO Surya juga sangat berpengaruh,” tuturnya. Sementara itu, Dosen pembina tim, Dr. Ir. Moh. Abduh, MT., IPM., ACPE., menyampaikan bahwa kompetisi KJI-KBGI menuntut kesiapan tim secara menyeluruh. “Prestasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual. Pengendalian emosi dan ego, ketangguhan mental, serta kerja sama tim yang baik menjadi kunci utama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan lahir dari perpaduan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang berjalan selaras. “Saya berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa Teknik Sipil UMM lainnya untuk terus berinovasi, berani berkompetisi di tingkat nasional, serta mengharumkan nama universitas melalui karya-karya teknik yang berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya.(Sfl/hms)
Ujian FIKES UMM Dirancang Lewat OSCE Berbasis Mini Hospital

Malangpariwara.com – Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan kesehatan berkualitas melalui pelaksanaan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) berbasis mini hospital. Ujian keterampilan klinis ini digelar di Gedung Kuliah Bersama (GKB V), fasilitas baru berteknologi tinggi yang dirancang menyerupai lingkungan rumah sakit modern. OSCE menjadi salah satu instrumen utama evaluasi kompetensi mahasiswa keperawatan karena tidak hanya menguji kemampuan teknis. Tetapi juga menilai komunikasi terapeutik, berpikir kritis, clinical reasoning, hingga pengambilan keputusan dalam kondisi gawat darurat. Sejak pagi hari, suasana ujian tampak dinamis dengan mahasiswa yang berpindah dari satu station ke station lain sesuai alur skenario klinis yang telah ditetapkan. Penerapan Mini Hospital Pelaksanaan OSCE kali ini memiliki keunggulan pada penerapan konsep mini hospital yang menghadirkan simulasi klinis secara realistis. Berbagai station dirancang mencerminkan kondisi nyata pelayanan kesehatan. Mulai dari penanganan kegawatdaruratan, perawatan luka, pemeriksaan fisik komprehensif, penyuluhan kesehatan. Hingga pelayanan pasien dengan penyakit kronis dan kasus maternitas serta anak. Kepala Departemen Keperawatan Gawat Darurat (KGD) UMM, Indah Dwi Pratiwi, S.Kep., Ns., M.Ng, menjelaskan bahwa OSCE merupakan metode paling relevan untuk memastikan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. “OSCE mini hospital di GKB V memberikan gambaran nyata bagaimana mahasiswa menghadapi pasien dalam kondisi kritis dan berkomunikasi di bawah tekanan. Serta melakukan tindakan klinis berbasis keselamatan pasien. Inilah yang membentuk mereka menjadi perawat profesional di masa depan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa station kegawatdaruratan dirancang menyerupai Instalasi Gawat Darurat (IGD) modern. Meliputi simulasi resusitasi jantung paru, penanganan trauma, triase bencana, hingga stabilisasi perdarahan dan koordinasi tim keperawatan. Fasilitas Pendukung GKB V Keberhasilan OSCE juga didukung oleh fasilitas GKB V yang dilengkapi laboratorium keperawatan terintegrasi, manekin digital multiprogram. Juga ruang mini ICU, sistem kamera pemantau tindakan, hingga simulasi rekam medis elektronik. Kaprodi S1 Keperawatan FIKES UMM, Nur Aini, Ph.D, menuturkan bahwa OSCE bukan sekadar ujian praktik, melainkan bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan. “Dengan fasilitas GKB V, kami memastikan mahasiswa tidak hanya lulus secara akademik. Tetapi juga siap bersaing di dunia kerja nasional maupun global dengan kompetensi dan empati yang seimbang,” jelasnya. Ia juga mengapresiasi keterlibatan tim penguji lintas bidang keperawatan yang memastikan penilaian dilakukan secara komprehensif dan objektif. Melalui pelaksanaan OSCE mini hospital ini, Prodi Keperawatan UMM menegaskan bahwa transformasi pendidikan kesehatan bukan hanya wacana. Tetapi telah diwujudkan secara nyata. UMM tidak sekadar membangun gedung baru, melainkan membangun budaya mutu dan profesionalisme. Demi menyiapkan tenaga kesehatan masa depan yang andal dan berintegritas. (Djoko W)