Cuaca Ekstrem 2026, Dosen Umm Tekankan Pencegahan Dini

Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan tinggi, dan peningkatan kelembapan memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyebut kondisi tersebut sebagai stresor lingkungan yang meningkatkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok rentan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujar Zaqqi. Ia menambahkan, cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan, sementara suhu panas ekstrem meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca, tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya. Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pencegahan primer melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. Asupan protein, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung sistem imun, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan karena dalam cuaca ekstrem tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meski rasa haus tidak selalu muncul. “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten, memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi, serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” kata Zaqqi. Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Selain itu, kesehatan mental dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. “Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas. Karena itu, menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya. Terakhir, Ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan menghadapi cuaca ekstrem, tidak hanya dengan kewaspadaan individu, tetapi juga melalui penguatan peran keluarga, komunitas, dan fasilitas layanan kesehatan. Menurutnya, sinergi antara edukasi kesehatan yang berkelanjutan, kebijakan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Dengan upaya preventif yang konsisten dan berbasis ilmu pengetahuan, ia optimistis masyarakat dapat tetap menjaga ketahanan kesehatan dan kualitas hidup meski di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
FIKES UMM Gelar International Guest Lecture Bahas Keperawatan Pasien Penderita Diabetes

Malangpariwara.com – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan International Guest Lecture dengan tema “Bridging Technology and Compassion: The Future of Nursing Care For People With Diabetes.” Kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa sekaligus memperkuat jejaring dengan institusi layanan kesehatan. Ketua Program Studi Profesi Ners UMM, Ns. Anis Ika Nur Rohmah, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa. Tetapi juga melibatkan tenaga kesehatan dari rumah sakit mitra. Kepala Program Studi Profesi Ners UMM, Ns. Anis Ika Nur Rohmah, saat berbicara dengan awak media. (Djoko W) “Acara International Guest Lecture ini memang rutin kita adakan setiap tahun. Tujuannya pertama untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa. Lalu kita juga mengundang relasi dari beberapa rumah sakit untuk melakukan transfer knowledge,” jelasnya. Fokuskan pada Penyakit Diabetes Melitus Ia menambahkan, materi yang disampaikan berfokus pada perkembangan terbaru dalam evidence based nursing. Khususnya terkait perawatan pasien diabetes melitus. Dengan begitu, baik mahasiswa maupun tenaga kesehatan dapat terus mengikuti pembaruan ilmu. “Isinya nanti membahas penelitian-penelitian terbaru dan evidence based nursing terbaru. Sehingga teman-teman di rumah sakit juga bisa ikut update. Jadi kita saling berbagi pengetahuan,” ujarnya. Suasana saat berlangsungnya International Guest Lecture. (Djoko W) Kegiatan ini diikuti sekitar 250 peserta yang berasal dari mahasiswa S1 Keperawatan, mahasiswa Profesi Ners, serta perwakilan dari sejumlah rumah sakit mitra. Seperti RSSA, RS Wava Husada, RSI Aisyiyah, RS UMM, dan RSUD Kepanjen. Hadirkan Narasumber Internasional Untuk pemateri, UMM menghadirkan narasumber dari berbagai negara, di antaranya Vietnam, Taiwan, dan Indonesia. Menurut Anis, hal ini merupakan bentuk implementasi dari kerja sama internasional yang telah dijalin UMM. “Ini juga bagian dari implementasi MoU kami. Di dalam MoU itu ada pelaksanaan penelitian, pengabdian masyarakat, dan sharing knowledge seperti ini,” katanya. Ia berharap, melalui kegiatan ini mahasiswa mendapatkan gambaran nyata tentang penerapan perawatan pasien diabetes di rumah sakit, baik di dalam maupun luar negeri. “Mahasiswa jadi tidak hanya tahu praktik di Indonesia, tapi juga mendapat gambaran bagaimana implementasi perawatan pasien diabetes di luar negeri,” tutupnya. (Djoko W)
Ketika ‘Mobil Terbang’ Mendarat di Dusun Paras, Literasi Anak Tumbuh bersama Republik Gubuk

Program Mobil Terbang RBC Institute menghadirkan perpustakaan keliling yang mengubah sore anak-anak Dusun Paras menjadi ruang belajar penuh tawa dan halaman-halaman buku. Tagar.co — Tawa dan suara halaman buku yang dibuka beriringan mengisi suasana Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (4/1/2026). Di sebuah ruang belajar sederhana bernama Pondok Anyam, 20 anak tampak larut dalam aktivitas membaca dan belajar bersama. Kehadiran sebuah kendaraan penuh buku—yang akrab mereka sebut sebagai “mobil terbang”—mengubah sore itu menjadi perayaan kecil literasi. Mobil tersebut merupakan bagian dari program Mobil Terbang (Bakti terhadap Bangsa) yang diinisiasi RBC Institute Abdul Malik Fadjar, sebuah perpustakaan keliling yang dirancang untuk menjangkau anak-anak di komunitas akar rumput. Tidak sekadar menghadirkan buku, program ini membawa pengalaman belajar yang menyenangkan, kontekstual, dan dekat dengan dunia anak. Begitu mobil berhenti, anak-anak segera mengerubungi rak-rak buku yang terbuka. Ada buku cerita bergambar, bacaan pengetahuan, hingga buku aktivitas yang langsung mereka pilih dengan mata berbinar. Aktivitas membaca pun berlangsung alami—tanpa paksaan, tanpa sekat—seolah buku-buku itu memang telah lama dinanti. Baca Juga: Menulis Itu Merayakan Diri: Perempuan Belajar Jujur di Bulan Bahasa Antusiasme tersebut mendapat apresiasi dari Hani Masudi, Kepala Dusun Paras. Ia menilai program ini sangat relevan di tengah gempuran teknologi digital yang kian menggeser kebiasaan membaca anak-anak. “Kami sangat antusias dengan kehadiran Mobil Pustaka dari RBC Institute. Program ini sangat membantu meningkatkan minat baca anak-anak di kampung. Di era sekarang, ketika teknologi berkembang sangat cepat, minat membaca buku mulai berkurang. Mobil ini menjadi inovasi yang mampu menarik kembali perhatian anak-anak terhadap buku,” ujarnya. Kegiatan literasi MobilTerbang RBC Institute di Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (4/1/2026). (Tagar.co/Maqdis Jannatan) Pondok Anyam merupakan salah satu ruang belajar binaan Republik Gubuk, komunitas literasi yang dipimpin Fachrul Alamsyah, yang akrab disapa Cak Irul. Di bawah kepemimpinannya, Pondok Anyam berkembang sebagai ruang belajar alternatif yang menumbuhkan minat baca, kreativitas, serta kebiasaan belajar sejak usia dini bagi anak-anak Dusun Paras. Kehadiran Mobil Pustaka dinilai selaras dan memperkuat ekosistem literasi yang telah dibangun komunitas tersebut. Program ini tidak hanya memperkaya koleksi bacaan, tetapi juga memperluas pengalaman belajar anak-anak melalui interaksi langsung, diskusi ringan, dan pendampingan membaca. Dalam kegiatan itu, sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut terlibat mendampingi anak-anak. Kolaborasi antara RBC Institute, komunitas lokal, dan mahasiswa menciptakan suasana literasi yang inklusif sekaligus memperkuat nilai pengabdian kepada masyarakat. Melalui program Mobil Terbang, RBC Institute Abdul Malik Fadjar menegaskan komitmennya menghadirkan literasi secara langsung dan menyenangkan di tingkat komunitas. Upaya ini menjadi bagian dari ikhtiar panjang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan merawat budaya baca sejak usia dini—dimulai dari ruang-ruang kecil, dengan dampak yang besar. Jurnalis Maqdis Jannatan Penyunting Mohammad Nurfatoni
Mahasiswi PAI UMM Torehkan Prestasi Multitalenta sebagai CEO Public Speaking, Juara Stand Up Comedy, hingga Founder Bisnis

Berbekal kemampuan retorika yang tajam dan mentalitas yang kuat, Umi Khabibah membuktikan bahwa latar belakang sebagai mahasiswi Pendidikan Agama Islam (PAI) bukanlah penghalang untuk berprestasi di ranah industri kreatif. Mahasiswi angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sukses menorehkan prestasi nasional dengan meraih Juara Harapan 1 Stand Up Comedy pada ajang KMI Expo 2025. Capaian tersebut sekaligus menegaskan komitmen UMM dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa multitalenta di berbagai bidang, termasuk industri kreatif modern. Prestasi yang diraih Umi menjadi bukti bahwa atmosfer akademik UMM mampu melahirkan mahasiswa yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui dunia komedi tunggal, ia tidak hanya tampil menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan kritis dengan pendekatan komunikasi yang cerdas dan membumi. Bagi Umi, public speaking bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan amanah besar untuk menyampaikan nilai-nilai yang bermakna kepada masyarakat luas. Menurutnya, latar belakang keilmuan PAI justru memberikan warna tersendiri dalam gaya komunikasinya. Umi menilai bahwa calon pendidik agama di era saat ini harus memiliki kemampuan berbicara yang mumpuni agar pesan dakwah dapat disampaikan secara tepat, santun, dan bertanggung jawab. Ia menekankan pentingnya penguasaan retorika bagi lulusan PAI agar ruang dakwah tidak diisi oleh pihak-pihak yang kurang kompeten secara keilmuan. “Kalau lulusan PAI tidak mahir bicara, panggung dakwah bisa diisi oleh sosok yang keliru. Sekarang banyak yang pintar bicara, tetapi tidak memiliki kompetensi keilmuan. Kita yang dari PAI harus sadar betul pentingnya kemampuan komunikasi,” tegasnya. Selama menempuh pendidikan di UMM, Umi aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan diri. Ia tercatat pernah bergabung dalam UKM MTQ, aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta dipercaya menjadi Ambassador I’am Women Indonesia 2023. Berbagai pengalaman tersebut menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium kepemimpinan dan komunikasi yang membentuk kepercayaan dirinya. “Organisasi dan kegiatan di luar kelas itu tempat saya belajar paling banyak, mulai dari mengelola tim, menyampaikan gagasan, sampai memahami karakter orang yang berbeda-beda,” ungkap Umi. Ia juga memanfaatkan forum presentasi kelas sebagai sarana melatih analisis audiens dan memahami psikologi komunikasi secara lebih mendalam. “Setiap presentasi saya jadikan latihan membaca audiens, karena cara menyampaikan pesan ke dosen tentu berbeda dengan ke teman sebaya,” tambahnya. Di bidang profesional, Umi juga menapaki dunia wirausaha sebagai CEO Speak Minds Academy, lembaga kursus komunikasi profesional dengan sepuluh kelas spesialisasi. Ia mengantongi berbagai sertifikasi nasional, seperti Certified Public Speaker (CPS), neuro linguistic programming (NLP), hingga sertifikasi penyiar TV level 3 KKNI. Selain itu, bisnis yang ia rintis, Tale Gifts and Co, berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dan dikonversi menjadi nilai mata kuliah melalui kebijakan akademik UMM. Tak hanya fokus pada pengembangan diri dan bisnis, Umi juga mendirikan Komunitas Santri Putri Khawla Benazir sebagai wadah pemberdayaan santri putri. Berangkat dari keresahannya melihat banyak santri yang minder saat melanjutkan studi ke perguruan tinggi, komunitas ini rutin menggelar workshop untuk membangun kepercayaan diri serta menunjukkan bahwa santri memiliki potensi besar di bidang menulis dan public speaking. Menutup kisahnya, Umi berpesan agar mahasiswa aktif membangun portofolio sejak dini dan memanfaatkan seluruh fasilitas kampus yang tersedia. Menurutnya, masa kuliah merupakan fase terbaik untuk bereksplorasi dan berani mencoba tanpa takut gagal. “Manfaatkan sebaik mungkin apa yang bisa diberikan oleh kampus dan jangan ragu untuk terjun langsung. Selama masih mahasiswa, kita punya banyak akses, dukungan, dan kesempatan untuk belajar. Banyak peluang berharga yang hanya datang sekali dan sering kali hanya bisa diraih saat kita masih menyandang status mahasiswa,” pungkasnya.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
FIKES UMM Menggelar International Guest Lecture untuk Perawatan Penderita Diabetes

Malanginspirasi.com – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengadakan International Guest Lecture. Kali ini kegiatan mengangkat tema “Bridging Technology and Compassion: The Future of Nursing Care for People With Diabetes.” Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di bidang keperawatan. Sarana Kerja Sama dan Perkuat Kapasitas Akademik International Guest Lecture merupakan agenda tahunan FIKES UMM yang dirancang untuk memperkuat kapasitas akademik mahasiswa. Sekaligus menjalin kerja sama dengan berbagai institusi layanan kesehatan. Tidak hanya mahasiswa, kegiatan ini juga melibatkan tenaga kesehatan dari rumah sakit mitra. Ns. Anis Ika Nur Rohmah, S.Kep., M.Kep. Sp.Kep.MB., selaku Kaprodi Profesi Ners UMM. (Djoko W) Ketua Program Studi Profesi Ners UMM, Ns. Anis Ika Nur Rohmah, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wadah berbagi ilmu. Yang menjadi penghubung antara civitas akademika dan praktisi kesehatan. Menurutnya, kehadiran rumah sakit mitra bertujuan untuk memperluas proses pertukaran pengetahuan. “International Guest Lecture ini rutin kami selenggarakan setiap tahun. Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa sekaligus melakukan transfer knowledge bersama relasi dari rumah sakit,” ujarnya. Angkat Diabetes Sebagai Materi Besar Materi yang dibahas dalam kegiatan ini ditekankan pada perkembangan terbaru evidence based nursing, khususnya dalam penanganan pasien diabetes melitus. Dengan materi tersebut, peserta diharapkan dapat mengikuti pembaruan ilmu sesuai perkembangan penelitian terkini. “Materinya membahas riset riset terbaru dan praktik evidence based nursing, sehingga teman teman di rumah sakit juga bisa terus update. Di sini kita saling berbagi pengetahuan,” tambahnya. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 250 peserta yang terdiri dari mahasiswa S1 Keperawatan, mahasiswa Profesi Ners, serta perwakilan dari sejumlah rumah sakit mitra. Layaknya seperti RSSA, RS Wava Husada, RSI Aisyiyah, RS UMM, dan RSUD Kepanjen. Antusias mahasiswa dalam kegiatan International Guest Lecture. (Djoko) Dalam pelaksanaannya, UMM menghadirkan pemateri dari berbagai negara, antara lain Vietnam, Taiwan, dan Indonesia. Kehadiran narasumber internasional tersebut menjadi wujud nyata dari kerja sama global yang telah dibangun oleh UMM. “Ini merupakan implementasi dari MoU yang kami miliki, di dalamnya mencakup kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta sharing knowledge seperti ini,” jelas Anis. Melalui International Guest Lecture ini, Anis berharap mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai praktik keperawatan pasien diabetes. Baik yang diterapkan di Indonesia maupun di luar negeri. “Mahasiswa jadi tidak hanya mengenal praktik di dalam negeri, tetapi juga mendapatkan gambaran bagaimana perawatan pasien diabetes diterapkan di negara lain,” pungkasnya.
Perkuat Kompetensi Profesional, Mahasiswa FH UMM Jalani Magang di Kantor Notaris dan PPAT

Radarjatim.co ~ Mahasiswa semester VII Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan program magang sebagai bagian dari kewajiban akademik. Kegiatan ini dirancang untuk menguatkan pemahaman mahasiswa terhadap praktik hukum secara nyata, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja profesional setelah menyelesaikan pendidikan. Fakultas Hukum UMM menyediakan dua skema magang, yakni Magang Center of Excellence (CoE) dan Magang Mandiri. Kelompok mahasiswa yang terdiri dari Rifqi Alfiyanto, Dara Mardiva A, Adidi Diwayana, Mellya Galuh F, dan Anita Nur Fadhilah memilih mengikuti Magang Mandiri sebagai sarana pembelajaran praktis di luar kampus. Program magang tersebut dilaksanakan di Kantor Notaris dan PPAT Dr. Diah Aju Wisnuwardhani, S.H., M.Hum., yang berlokasi di Jalan Tumenggung Suryo No. 35 G, Kota Malang. Kantor ini menjadi tempat mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam praktik kenotariatan dan pelayanan hukum kepada masyarakat. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa dibimbing oleh Dosen Pembimbing Magang Herlena Fatikasari, S.H., serta didampingi secara langsung di lapangan oleh Chusnul Chotimah selaku pembimbing dari kantor notaris. Pendampingan ini membantu mahasiswa memahami alur kerja serta tanggung jawab profesi notaris secara komprehensif. Notaris merupakan pejabat umum yang memiliki kewenangan membuat akta otentik terkait berbagai perbuatan hukum. Profesi ini menuntut sikap independen, jujur, dan profesional sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014, serta berada di bawah pengawasan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Baca Juga : Proyek Rehabilitasi Ruang Kelas Sekolah Sarat Bermasalah, Disorot Ketua Komisi lV DPRD Gresik Dalam kegiatan magang, mahasiswa terlibat langsung dalam penyusunan akta jual beli, akta hibah, pendirian badan hukum, hingga pemeriksaan dokumen. Melalui aktivitas tersebut, mahasiswa belajar menerapkan teori hukum ke dalam praktik nyata yang membutuhkan ketelitian dan tanggung jawab tinggi. Mahasiswa juga mempelajari proses verifikasi dokumen hukum seperti sertifikat tanah, identitas kependudukan, dan surat keterangan lainnya. Proses ini melibatkan pengecekan ke instansi terkait seperti BPN dan Dukcapil guna memastikan keabsahan data sebelum pembuatan akta dilakukan. Selain aspek teknis, mahasiswa memperoleh gambaran sistem kerja kantor notaris, mulai dari administrasi, pengarsipan, hingga pelayanan klien. Pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan dokumen turut diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan akurasi kerja di era modern. Etika profesi menjadi salah satu pembelajaran utama dalam program magang ini. Mahasiswa diajarkan pentingnya integritas, sikap profesional, serta kemampuan berkomunikasi secara santun dalam menghadapi klien dengan latar belakang yang beragam. Melalui program magang ini, mahasiswa Fakultas Hukum UMM memperoleh bekal penting berupa pengalaman praktis dan nilai profesionalisme. Diharapkan kegiatan serupa terus dikembangkan agar mampu mencetak lulusan hukum yang kompeten, beretika, dan siap berkontribusi di dunia kerja.
Go Halal Dalam dan Luar Negeri: Ukom Instruktur PusdiklatMu hingga menjadi Juri di Konferensi Halal Thailand

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Halal adalah kombinasi antara prinsip syariah dan intervensi teknologi. Penentuan halal, terutama dalam skema (sertifikasi halal) reguler, membutuhkan dukungan laboratorium untuk memastikan kehalalan produk. Tiga pilar utama yaitu civitas akademika, pemerintah, dan pelaku industri, harus bersemangat bersama dalam mengembangkan industri halal. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga diharapkan melahirkan generasi sadar halal, di mana dari mereka dilahirkan agen-agen pembangun ekosistem halal yang berkelanjutan dan inklusif. Dalam kegiatan Inovasi dan IPTEKS, mahasiswa juga terlibat dalam aspek riset dan pengembangan teknologinya. Kompetensi halal sangat penting untuk menjamin kehalalan produk, meningkatkan kepercayaan konsumen Muslim, memperluas akses pasar domestik dan global, serta memenuhi kewajiban hukum di Indonesia, terutama bagi pelaku usaha di sektor makanan, minuman, kosmetik, dan farmasi, dengan melibatkan tenaga ahli seperti Penyelia Halal dan Auditor Halal yang kompeten untuk memastikan standar kualitas dan keabsahan produk sesuai syariat Islam. Pada 5-6 September hingga kegiatan akreditasi LSP PPMuhammadiyah bulan Desember 2025, PS P3-Halal UMM mengirimkan 5 dosen untuk mengikuti kegiatan pelatihan dan uji kompetnsi skema hala (penyelia halal, dan juru sembeli halal) di LSP Muhammadiyah Jogjakarta. Kelima dosen yang lulus Uji Kompetensi sebagai instruktur PusDIklatMu antara lain ; Prof.Dr.Ir. Elfi Anis, MP; Dr. Asmah HIdayati, MP, IPM; Ca Dr.Idaul Hasanah SAg, M.HI; Ir. Ali Mahmud, Spt, MP. dan Dr. Akhis Sholeh, SPt. Bersama Prof Winai Dahlan di Thailand, Chulalongkorn University Jaminan Kualitas dan Keamanan produk menjadi harapan umat untuk memastikan produk aman, higienis, dan bebas dari unsur najis atau haram, baik dari bahan, proses, hingga penyajian. Menjadi syarat penting kepercayaan Konsumen muslim guna pertimbangan utama saat memilih produk, serta meningkatkan daya saing & citra Perusahaan. Citra positif perusahaan sebagai entitas yang peduli kualitas dan nilai moral tersebut bisa diperoleh melalui mutu produk dari aspek halal dan thoyibnya, besar manfaat dari kandungan gizi produk yang disertitifkasi atau dihasilkan dari riset, serta dampak baiknya terhadap pemberdayaan SD Alam, SD Manusia secara sinergis kerkelanjutan. Melalui program magang dan riset bersama baik di dalam amupun luar negri, mahasiswa tidak hanya mendapatkan kompetensi teknis, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memperkuat ekosistem halal nasional dan mendukung target Indonesia menjadi pusat industri halal dunia. Oleh karena itu PS P3.Halal juga mengikuti kegiatan ilmiah, seperti konferensi, seminar nasional atau pameran hasil riset Halal Thoyyib baik di dalam, maupun luar negri. Kami mengikuti kegiatan tersebut di UAD, pameran poster di Bahrain, Konferensi Thailand (2023 Prof.Dr. Elfi Anis S, MP, 2025: Prof Dr. Damat, MP, IPM) menjadi juri Thailand Halal Assemby), serta riset terkait upaya penurunan Stunting dan anemia di NTT dan Kabupaten Pasuruan. Oleh : Prof Dr.Ir. Elfi Anis Saati, MP. Ketua PS. P3Halal – UMM (Pusat Studi. Penelitian & Pengembangan Produk Halal-UMM)
Konsep Smart Bridge Antar Teknik Sipil UMM Raih Juara Nasional

Kota Malang, Tagarjatim.id – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim dari LSO Surya Teknik Sipil UMM berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2025 kategori Jembatan Model Pelengkung yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemdiktiSaintek). Tim UMM diketuai oleh Ayunda Elvandari, mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik angkatan 2022, dengan anggota Akbar Nurfitriono dari angkatan 2023. Prestasi ini diraih setelah melalui proses seleksi ketat yang diikuti hampir 150 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, dengan hanya 10 tim yang lolos ke babak final pada kategori jembatan pelengkung. Ayunda menjelaskan bahwa persiapan kompetisi dimulai sejak Juli hingga Agustus 2025 dengan penyusunan proposal desain jembatan. Pengumuman finalis dilakukan pada awal September 2025, dilanjutkan rangkaian kegiatan KJI-KBGI yang berlangsung pada 12–17 November 2025. Proses perakitan jembatan dilaksanakan pada 15 November, sementara malam penganugerahan digelar sehari setelahnya. Dalam kompetisi tersebut, tim UMM mengusung konsep jembatan yang optimal, ramah lingkungan, dan berorientasi masa depan. Konsep ini sejalan dengan visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. “Kami mengembangkan konsep smart bridge, yakni jembatan yang dilengkapi sensor untuk mendeteksi potensi kerusakan sejak dini,” ujar Ayunda. Selain itu, tim juga menerapkan prinsip keberlanjutan dengan melakukan efisiensi material. Limbah hasil pembuatan jembatan dimanfaatkan kembali sebagai alat bantu dalam proses perakitan. Menurut Ayunda, konsep tersebut dipilih sebagai respons terhadap tantangan keterbatasan akses transportasi dan kebutuhan infrastruktur yang adaptif di Indonesia. Meski berhasil meraih prestasi, perjalanan tim UMM tidak lepas dari kendala. Tantangan terbesar muncul pada tahap fabrikasi, di mana beberapa pekerjaan tidak berjalan sesuai jadwal yang telah direncanakan. Untuk mengatasinya, tim membagi peran secara jelas, mulai dari pengendalian proses di lapangan hingga penyusunan presentasi dan ornamen jembatan. Dosen pembina tim, Ir. Moh. Abduh, menilai bahwa kompetisi KJI-KBGI menuntut kesiapan yang komprehensif. “Prestasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual. Pengendalian emosi, ketangguhan mental, serta kerja sama tim menjadi faktor kunci,” ujarnya. Ia berharap capaian ini dapat memotivasi mahasiswa Teknik Sipil UMM lainnya untuk terus berinovasi dan berani berkompetisi di tingkat nasional. Keberhasilan tersebut juga menjadi kebanggaan karena mampu mengantarkan kembali LSO Surya Teknik Sipil UMM ke podium nasional setelah dua tahun terakhir belum meraih gelar juara.(*)
UMM Terapkan OSCE Mini Hospital untuk Uji Kesiapan Mahasiswa Keperawatan

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM — Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerapkan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) berbasis mini hospital sebagai bagian dari penguatan standar kompetensi lulusan. Ujian keterampilan klinis tersebut dilaksanakan di Gedung Kuliah Bersama (GKB V), fasilitas baru UMM yang dirancang menyerupai lingkungan rumah sakit. OSCE digunakan sebagai metode evaluasi untuk mengukur kesiapan mahasiswa keperawatan sebelum terjun ke dunia kerja. Tidak hanya keterampilan teknis, ujian ini juga menilai kemampuan komunikasi terapeutik, berpikir kritis, penalaran klinis, serta pengambilan keputusan dalam situasi darurat. Selama ujian berlangsung, mahasiswa mengikuti alur simulasi dengan berpindah dari satu station ke station lain sesuai skenario klinis yang telah ditetapkan. Setiap station merepresentasikan kondisi layanan kesehatan nyata, mulai dari kegawatdaruratan, perawatan luka, pemeriksaan fisik menyeluruh, penyuluhan kesehatan, hingga penanganan pasien dengan penyakit kronis, maternitas, dan pediatri. Kepala Departemen Keperawatan Gawat Darurat UMM, Indah Dwi Pratiwi, S.Kep., Ns., M.Ng., menilai OSCE berbasis mini hospital memberikan pengalaman yang lebih realistis bagi mahasiswa. “Mahasiswa dilatih menghadapi kondisi kritis, berkomunikasi di bawah tekanan, dan melakukan tindakan klinis dengan mengutamakan keselamatan pasien. Ini menjadi bekal penting sebelum mereka memasuki dunia kerja,” ujarnya. Ia menjelaskan, station kegawatdaruratan dirancang menyerupai Instalasi Gawat Darurat (IGD), lengkap dengan simulasi resusitasi jantung paru, penanganan trauma, triase bencana, hingga stabilisasi perdarahan dan kerja tim keperawatan. Pelaksanaan OSCE didukung fasilitas GKB V yang dilengkapi laboratorium keperawatan terintegrasi, manekin digital multiprogram, mini ICU, sistem pemantauan berbasis kamera, serta simulasi rekam medis elektronik. Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Keperawatan FIKES UMM, Nur Aini, Ph.D., mengatakan OSCE merupakan bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan, bukan sekadar ujian praktik. “Kami ingin memastikan lulusan tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga memiliki kompetensi klinis dan empati yang dibutuhkan di dunia kerja, baik nasional maupun internasional,” katanya. Menurutnya, keterlibatan penguji dari berbagai bidang keperawatan juga menjadi upaya menjaga objektivitas dan kualitas penilaian. Melalui penerapan OSCE berbasis mini hospital ini, UMM menegaskan penguatan pendidikan keperawatan berbasis praktik klinis sebagai bagian dari upaya menyiapkan tenaga kesehatan profesional yang siap menghadapi tantangan layanan kesehatan masa depan. (raf)
UMM Perkuat Standar Lulusan Keperawatan lewat OSCE Mini Hospital

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat mutu lulusan bidang kesehatan. Salah satunya melalui pelaksanaan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) berbasis mini hospital yang digelar Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM di Gedung Kuliah Bersama (GKB V), Senin (5/1/2026).OSCE ini menjadi instrumen utama untuk mengukur kompetensi klinis mahasiswa keperawatan. Tidak hanya keterampilan teknis, ujian ini juga menilai kemampuan komunikasi terapeutik, berpikir kritis, clinical reasoning, serta pengambilan keputusan dalam situasi kegawatdaruratan. Sejak pagi, mahasiswa tampak mengikuti ujian dengan berpindah dari satu station ke station lain sesuai skenario klinis yang telah ditetapkan. Seluruh rangkaian ujian dirancang menyerupai kondisi nyata pelayanan kesehatan. Pelaksanaan OSCE kali ini memiliki keunggulan pada penerapan konsep mini hospital. Berbagai station mensimulasikan layanan rumah sakit modern, mulai dari penanganan kegawatdaruratan, perawatan luka, pemeriksaan fisik komprehensif, penyuluhan kesehatan, hingga pelayanan pasien penyakit kronis, maternitas, dan anak. Kepala Departemen Keperawatan Gawat Darurat (KGD) UMM, Indah Dwi Pratiwi, S.Kep., Ns., M.Ng., menyampaikan bahwa OSCE merupakan metode paling relevan untuk memastikan kesiapan mahasiswa memasuki dunia kerja. “OSCE berbasis mini hospital di GKB V memberikan gambaran nyata bagaimana mahasiswa menghadapi pasien dalam kondisi kritis, berkomunikasi di bawah tekanan, serta melakukan tindakan klinis dengan mengedepankan keselamatan pasien. Ini menjadi bekal penting bagi calon perawat profesional,” ujarnya. Ia menjelaskan, station kegawatdaruratan dirancang menyerupai Instalasi Gawat Darurat (IGD) modern, meliputi simulasi resusitasi jantung paru, penanganan trauma, triase bencana, stabilisasi perdarahan, hingga koordinasi tim keperawatan. Keberhasilan pelaksanaan OSCE juga ditunjang fasilitas GKB V yang dilengkapi laboratorium keperawatan terintegrasi, manekin digital multiprogram, ruang mini ICU, sistem kamera pemantau tindakan, serta simulasi rekam medis elektronik. Sementara itu, Kaprodi S1 Keperawatan FIKES UMM, Nur Aini, Ph.D., menegaskan bahwa OSCE bukan sekadar ujian praktik, tetapi bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan. “Melalui OSCE dan dukungan fasilitas GKB V, kami memastikan mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap bersaing di dunia kerja nasional maupun global dengan kompetensi dan empati yang seimbang,” jelasnya. Ia juga mengapresiasi keterlibatan tim penguji lintas bidang keperawatan yang menjamin proses penilaian berlangsung objektif dan komprehensif. Melalui OSCE berbasis mini hospital ini, Prodi Keperawatan UMM menegaskan komitmennya dalam menghadirkan transformasi pendidikan kesehatan yang berorientasi pada mutu, profesionalisme, dan kesiapan lulusan menghadapi tantangan layanan kesehatan masa depan. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan