Kuliah Tamu IP UMM Ungkap Gen Z Lebih Percaya Medsos, Alarm Baru bagi Pemilu 2029

Era kampanye baliho perlahan mulai ditinggalkan, Fakta mengejutkan terungkap di mana 100 persen Generasi Z di Jawa Timur kini menggantungkan informasi politiknya pada media sosial, dengan TikTok sebagai raja utamanya. Fenomena pergeseran ‘Demokrasi Digital’ inilah yang dikupas tuntas oleh Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Perludem dan RC-POL pada 7 Januari lalu kuliah tamu dengan tema Arah Demokrasi Masa Depan Menyongsong Pemilu 2029. Ardi Firdiansyah, M.IP. Direktur Riset and Consulting Policy (RC-POL) menjelaskan bahwa ruang digital saat ini menjadi sumber utama informasi politik sekaligus arena pertukaran gagasan dan debat publik, khususnya bagi generasi Z. Demokrasi digital dinilai mampu meningkatkan partisipasi politik, namun juga menghadirkan tantangan baru dalam pembentukan preferensi politik. Ardi memaparkan hasil survei RC-POL pasca Pemilu Serentak Agustus 2024 yang menunjukkan bahwa 100 persen pemilih Gen Z di Jawa Timur memperoleh informasi politik dari media sosial. Platform TikTok menjadi sumber utama dengan persentase 48 persen, disusul Instagram 25 persen, X sebesar 21 persen, YouTube 4 persen, serta Facebook dan WhatsApp masing-masing 1 persen. “Kondisi ini menandakan bahwa kampanye pemilu ke depan tidak lagi bergantung pada baliho atau poster fisik, melainkan membutuhkan regulasi yang jelas terhadap kampanye di media sosial,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa karakter politik generasi Z yang cenderung responsif terhadap isu-isu yang sedang ramai, namun belum sepenuhnya berorientasi pada partisipasi politik jangka panjang. Generasi ini dinilai memilih secara rasional sekaligus emosional, dengan mempertimbangkan program kerja dan dampak kebijakan, namun juga dipengaruhi oleh kedekatan perasaan terhadap figur tertentu. Oleh karena itu, literasi politik dan penguatan kesadaran demokrasi menjadi hal penting agar partisipasi politik Gen Z tidak hanya bersifat sesaat. Sementara itu, Heroik Mutaqin Pratama, M.IP. Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menjelaskan bahwa pemilu merupakan elemen fundamental dalam negara demokrasi. Ia juga menyoroti masih adanya sejumlah persoalan dalam sistem pemilu, seperti instabilitas politik yang sering muncul dalam sistem parlementer serta praktik politik uang yang dipicu oleh tingginya persaingan antar calon. “Sebuah negara tidak dapat disebut demokratis tanpa adanya pemilu yang berintegritas,” ujarnya. Heroik sapaan akrabnya juga menekankan pentingnya perbaikan sistem pemilu tanpa menghilangkan mekanisme pemilihan langsung, khususnya pemilihan kepala daerah. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pemisahan antara pemilu nasional dan pemilu daerah. “Selama ini perhatian publik terlalu terpusat pada pemilihan presiden, sementara pemilihan legislatif kurang mendapat perhatian,” tuturnya. Dengan pemisahan tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih fokus menilai calon legislatif dan kualitas kebijakan yang ditawarkan. Selain itu, ia juga memaparkan usulan penyederhanaan tahapan pemilu, seperti percepatan penetapan partai politik peserta pemilu, penyederhanaan pendaftaran pemilih, hingga efisiensi waktu pemungutan dan penghitungan suara. Melalui kuliah tamu ini, UMM berharap mahasiswa semakin kritis dan melek politik dalam menghadapi dinamika demokrasi ke depan, sekaligus mampu berperan aktif dalam mengawal proses pemilu yang lebih berintegritas menuju Pemilu 2029.(*bim/faq) Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Implementasi OSCE Berbasis Mini Hospital dalam Peningkatan Kompetensi Mahasiswa Keperawatan UMM

Infomalang.com – Pendidikan keperawatan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dituntut mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teoritis, tetapi juga memiliki keterampilan klinis dan profesionalisme yang sesuai dengan standar pelayanan kesehatan. Kompleksitas tantangan dunia kesehatan yang terus berkembang mendorong mahasiswa keperawatan UMM untuk memiliki kesiapan kompetensi sejak masa perkuliahan. Oleh karena itu, UMM secara konsisten menerapkan metode evaluasi yang autentik dan kontekstual sebagai bagian dari sistem pendidikan keperawatan modern guna memastikan kualitas lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap bersaing di dunia kerja. Konsep OSCE dalam Pendidikan Keperawatan Objective Structured Clinical Examination atau OSCE merupakan metode evaluasi keterampilan klinik yang dirancang secara sistematis dan terstruktur. OSCE menilai kemampuan mahasiswa melalui serangkaian stasiun praktik yang mensimulasikan kondisi klinik nyata. Setiap stasiun memiliki skenario, alat, serta indikator penilaian yang jelas sehingga mampu mengukur aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara seimbang. Dalam pendidikan keperawatan, OSCE dinilai efektif karena memberikan gambaran objektif terhadap capaian kompetensi mahasiswa. Peran Mini Hospital sebagai Sarana Pembelajaran Mini hospital hadir sebagai fasilitas pembelajaran yang menyerupai lingkungan rumah sakit sesungguhnya. Sarana ini dilengkapi dengan ruang perawatan, peralatan medis, serta sistem kerja yang mendekati praktik nyata di layanan kesehatan. Kehadiran mini hospital memungkinkan mahasiswa keperawatan berlatih prosedur klinik secara aman sebelum terjun langsung ke rumah sakit. Dengan suasana yang realistis, mahasiswa dapat mengembangkan kepercayaan diri, ketelitian, dan kemampuan komunikasi terapeutik secara optimal. Implementasi OSCE Berbasis Mini Hospital di UMM Penerapan OSCE berbasis mini hospital di Universitas Muhammadiyah Malang menjadi bagian dari strategi peningkatan mutu pembelajaran keperawatan. Uji kompetensi ini dirancang terintegrasi dengan kurikulum dan capaian pembelajaran lulusan. Mahasiswa diuji melalui berbagai skenario klinik, mulai dari pengkajian keperawatan, tindakan keperawatan dasar, hingga edukasi kesehatan kepada pasien simulasi. Seluruh proses dinilai oleh dosen penguji yang telah mendapatkan pelatihan standar OSCE. Dampak terhadap Peningkatan Kompetensi Mahasiswa Implementasi OSCE berbasis mini hospital memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa keperawatan. Mahasiswa menjadi lebih siap menghadapi praktik klinik karena telah terbiasa dengan alur pelayanan dan standar prosedur operasional. Selain keterampilan teknis, OSCE juga melatih kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, serta sikap profesional. Evaluasi yang objektif membantu mahasiswa memahami kekuatan dan kelemahan dirinya secara terukur. Tantangan dan Upaya Pengembangan Berkelanjutan Meski memiliki banyak keunggulan, penerapan OSCE berbasis mini hospital juga menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan sarana, kesiapan sumber daya manusia, serta konsistensi standar penilaian menjadi aspek yang perlu terus ditingkatkan. Oleh sebab itu, diperlukan evaluasi berkala, pengembangan skenario klinik, serta pelatihan berkelanjutan bagi dosen penguji. Sinergi antara institusi pendidikan dan perkembangan praktik keperawatan mutakhir menjadi kunci keberlanjutan program ini. Kesimpulan Implementasi OSCE berbasis mini hospital merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa keperawatan. Pendekatan ini menghadirkan evaluasi yang realistis, objektif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan dukungan fasilitas, kurikulum yang adaptif, serta komitmen institusi, OSCE mini hospital mampu mencetak lulusan keperawatan yang kompeten, profesional, dan siap berkontribusi di layanan kesehatan. Relevansi dengan Standar Mutu dan Daya Saing Lulusan Penerapan OSCE berbasis mini hospital juga memiliki relevansi kuat dengan standar mutu pendidikan tinggi dan akreditasi program studi. Evaluasi berbasis kompetensi ini menjadi bukti komitmen institusi dalam menjaga kualitas lulusan agar sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan. Lulusan keperawatan yang terbiasa dengan simulasi klinik komprehensif dinilai lebih adaptif, komunikatif, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan keperawatan UMM secara berkelanjutan. Ke depan, pengembangan OSCE mini hospital diharapkan terus berinovasi mengikuti perkembangan teknologi kesehatan. Integrasi simulasi digital, kasus berbasis riset, serta pendekatan interprofesional akan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa. Dengan demikian, pendidikan keperawatan tidak hanya berorientasi pada kelulusan, tetapi juga pada pembentukan perawat yang beretika, humanis, dan berdaya saing tinggi. Upaya tersebut sekaligus mendukung visi institusi dalam menghasilkan tenaga kesehatan unggul yang mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan masa depan secara profesionaldan berkelanjutan bagi masyarakat luas di berbagai wilayah Indonesia.
Peran Literasi sebagai Pilar Pembentukan Budaya Keilmuan di Lingkungam Kampus

Oleh: Yusuf Muhammad Daud* harianjatim – Perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan budaya intelektual. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami materi perkuliahan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif. Dalam konteks tersebut, literasi menjadi fondasi utama pembentukan budaya keilmuan di lingkungan kampus. Literasi tidak sekadar dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan kecakapan memahami, mengolah, serta menghasilkan informasi secara kritis dan bertanggung jawab. Realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran dan praktik literasi mahasiswa. Meskipun mayoritas mahasiswa mengakui pentingnya membaca, hanya sebagian kecil yang menjadikannya sebagai kebiasaan. Membaca sering dilakukan sebatas untuk memenuhi tuntutan akademik, bukan sebagai kebutuhan intelektual. Padahal, budaya literasi yang kuat berperan penting dalam memperluas wawasan, memperdalam pemahaman, dan menopang keberhasilan akademik maupun pengembangan diri mahasiswa. Literasi sebagai Fondasi Pengembangan Pemikiran Kritis Mahasiswa Kemajuan teknologi dan arus globalisasi menuntut mahasiswa memiliki kemampuan literasi yang lebih komprehensif. Literasi mencakup kemampuan memahami informasi, menganalisis argumen, serta menarik kesimpulan secara logis dan berbasis data. Pendidikan tinggi tidak lagi cukup menekankan kemampuan berpikir dasar, tetapi harus mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kritis sebagai ciri insan akademik. Baca Juga : Pergaulan Bebas Bukan Pilihan: Islam Beri Jalan Keluar yang Aman Dalam konteks ini, literasi bahasa memegang peran yang sangat fundamental. Literasi bahasa memungkinkan mahasiswa memahami teks ilmiah secara mendalam, menyusun argumentasi secara sistematis, serta mengomunikasikan gagasan secara logis, baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan berbahasa yang baik berkorelasi dengan kemampuan berpikir kritis karena bahasa menjadi alat utama dalam proses penalaran ilmiah. Dengan penguasaan literasi yang memadai, mahasiswa mampu mengevaluasi informasi secara objektif dan tidak mudah terjebak pada arus informasi yang menyesatkan. Penguatan Budaya Literasi sebagai Upaya Membangun Tradisi Keilmuan Kampus Budaya literasi, khususnya minat membaca, menjadi prasyarat terbentuknya tradisi keilmuan yang kuat di perguruan tinggi. Namun, tantangan besar muncul di era digital ketika mahasiswa lebih tertarik pada konten audiovisual dan informasi singkat dibandingkan bacaan akademik yang mendalam. Rendahnya daya tahan membaca berdampak pada lemahnya kemampuan memahami teks yang kompleks dan analitis. Rendahnya minat baca ini tercermin dari berbagai hasil riset yang menunjukkan rendahnya kemampuan literasi membaca peserta didik di Indonesia. Jika kebiasaan membaca tidak diperkuat sejak dini, maka proses pengembangan budaya keilmuan di kampus akan mengalami hambatan serius. Dengan demikian, penguatan budaya literasi harus menjadi agenda bersama yang dilakukan secara berkelanjutan. Literasi digital menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan tersebut. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kecakapan mengakses, mengelola, serta mengevaluasi informasi secara kritis dan beretika. Pemanfaatan sumber ilmiah digital, jurnal elektronik, dan platform pembelajaran daring dapat memperluas akses mahasiswa terhadap pengetahuan, asalkan diiringi dengan kesadaran etika akademik dan tanggung jawab intelektual. Upaya Pemberdayaan Mahasiswa dan Dosen sebagai Agen Budaya Literasi Pengembangan budaya literasi di kampus tidak cukup dilakukan melalui himbauan semata, tetapi memerlukan pelatihan dan pendampingan yang sistematis. Salah satu bentuk literasi akademik yang esensial adalah kemampuan menulis karya ilmiah. Aktivitas menulis melatih mahasiswa berpikir logis, menyusun argumentasi berbasis data, serta mempertanggungjawabkan gagasan secara akademik. Peran perpustakaan sebagai pusat sumber belajar juga sangat penting dalam menopang ekosistem literasi. Selain itu, kolaborasi antara mahasiswa dan dosen menjadi kunci keberhasilan penguatan budaya literasi. Mahasiswa dapat berperan sebagai agen penggerak melalui kegiatan seperti klub baca, diskusi ilmiah, dan bedah buku, sementara dosen berperan sebagai fasilitator dan teladan dalam mengintegrasikan aktivitas literasi ke dalam pembelajaran. Melalui sinergi seluruh sivitas akademika, budaya literasi di kampus dapat tumbuh secara kuat dan berkelanjutan. *) Yusuf Muhammad Daud adalah Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang
Belajar Pembangunan Desa dari Korea Selatan, Dosen HI UMM Tekankan Peran Komunitas Multikultural

MALANG, Berifakta.com – Pengembangan pedesaan yang inklusif melalui gerakan Saemaul Undong dan peran krusial komunitas multikultural menjadi topik utama dalam kelas internasional bertajuk “Saemaul Undong and Multicultural Communities: Building Inclusive Rural Development in South Korea”. Penyelenggaraan agenda akademis ini merupakan wujud kolaborasi strategis antara Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM dengan Academy of Korean Studies, yang didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea (AKS-2023-INC-2230009). Dalam pemaparannya, Shannaz Mutiara Deniar, M.A., menjelaskan bahwa Saemaul Undong adalah gerakan pembaharuan desa yang diperkenalkan oleh Presiden Park Chung-hee pada awal tahun 1970-an. Gerakan ini lahir sebagai respon atas kesenjangan ekonomi yang lebar antara wilayah perkotaan yang melaju pesat dan pedesaan yang tertinggal. Shannaz menekankan bahwa keberhasilan gerakan ini tidak lepas dari tiga nilai fundamental yang ditanamkan kepada masyarakat, yaitu kerja keras (diligence), kemandirian (self-help), dan kerjasama (cooperation). Lebih lanjut, Shannaz menguraikan bahwa pada masa awalnya, fokus utama Saemaul Undong adalah pembangunan infrastruktur fisik dasar dan perubahan mentalitas masyarakat untuk lepas dari kemiskinan pasca perang. Proyek-proyek tersebut meliputi perbaikan atap rumah, sistem irigasi pertanian, hingga penyediaan akses air bersih. Namun, seiring dengan modernisasi dan industrialisasi, Korea Selatan menghadapi tantangan demografi baru berupa urbanisasi massal yang menyebabkan desa-desa kekurangan penduduk usia produktif. Kekosongan populasi di pedesaan ini kemudian perlahan diisi oleh kehadiran imigran dan keluarga multikultural melalui pernikahan internasional. Shannaz menyoroti bahwa Saemaul Undong kini telah berevolusi menjadi lebih inklusif untuk merangkul keberagaman tersebut. Gerakan ini tidak lagi hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga menyediakan program pelatihan bahasa, pertukaran budaya, serta melibatkan warga asing dalam kepemimpinan komunitas untuk menjembatani perbedaan budaya dan memperkuat integrasi sosial. Menutup sesi kelas, Shannaz menegaskan bahwa Saemaul Undong telah mendapatkan pengakuan global, termasuk dari UNESCO, sebagai model pembangunan pedesaan yang efektif. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan pendekatan yang merangkul keberagaman, nilai-nilai gotong royong ala Korea ini diharapkan dapat terus relevan dan menjadi inspirasi bagi negara-negara berkembang lainnya dalam membangun desa yang mandiri dan inklusif. (*)
Tim Medis Muhammadiyah Kembali Masuk Aceh Tengah, Buka Pelayanan Medis di Ketol

INFOMU.CO | Takengon – Pimpinan Pusat Muhamadiyah tetap berkomitmen melanjutkan pengiriman gelombang ketiga tim Kesehatan ke daerah terpencil dan terisolasi di Kabupaten Aceh Tengah. Kawasan menjadi lokasi terdampak sangat parag dan mengisolasi ratusan desa akibat banjir bandang akhir November lalu. Lebih sebulan, proses tanggap darurat belum selesai, khususnya masalah kesehatan karena merupakan salah satu kebutuhan dasar utama manusia. Banjir dan longsor mengakibatkan masyarakat terdampak harus mengungsi di tempat pengungsian dan itu menyebabkan kondisi kesehatan menurun sehingga perlu mendapat perhatian prioritas untuk ditangani. Muhammadiyah melalui terus mendorong pelayanan yang maksimal, terurama bagi warga yang berada di tempat – tempat pengungsian. Pelayan yang diberikan Muhammadiyah kali ini merupakan gelombang ketiga dengan menerjunkan sebanyak 27 orang tim kesehatan lengkap peralatan dan obat. Tim medis Muhammadiyah ini berasal dari RS PKU Bumi Ayu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), RS PKU Boyolali dan Universitas Ahmad Dahlan ( UAD) Jogjakarta. Mereka dibagi menjadi 2 tim pos pelayanan, masing-masing di Kecamatan Ketol yang merupakan daerah terdampak yang cukup parah akibat banjir jalan longsor dan jembatan hanyut. Untuk masuk ke kawasan ini, harus melalui jalan yang menantang, dan tim berjibaku menyeberangi sungai di atas seutas tali seling baja. Di Kecamatan Ketol tim membuka 1 titik Puskesmas Mini di Desa Kekuyang dan Mobile-Clinic ke desa cakupan Bur lah, Bugeara dan Bintang Pepara. Kemudian satu tim lainnya nembuka pos pelayanan di Desa Bergang dengan cakupan Desa Pantan Redup dan Karang Ampar. Tim Kesehatan Muhammadiyah ini diberangkatkan oleh Sekertaris Poskorda Muhamadiyah Aceh Tengah Agusnaidi Budaya S. Psi yang diterima langsung Bapak Camat Ketol Zumara W Kutarga dengan ucapan Terima kasih atas bantuan Muhamadiyah. Zumara memberi apresiasi dan penghargaan kepada tim kesehatan Muhammadiyah yang mendukung upaya pemulihan kesehatan masyarakat yang terdampak. Camat Ketol itu sangat diharapkan layanan medis dari tim kesehatan Muhammadiyah dapat terus dilanjutkan karena kualitas kesehatan mereka terdegradasi karena lingkingan yang jelek. Muhammadiyah dalam menghadapi tanggap bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah menerjunkan ratusan dokter dan tim medis lainnya ke berbagai daerah melalui MDMC/ Lemba Resiliensi Bencaba. Untuk pengiriman tenaga medis dilakukan melalui koordinasi EMT ( Emergency Medical Team) yang sudah memiliki sertifikasi internasional ( Syaifulh)
Bedah Dinamika Korea Selatan, Dosen HI UMM Soroti Isu Migrasi, Gaji Tinggi, hingga Potensi Wisata

MALANG, Berifakta.com — Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar diskusi strategis bertajuk “Tourism, Works, and Immigrants in South Korea”. Penyelenggaraan agenda akademis ini merupakan wujud kolaborasi strategis antara Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM dengan Academy of Korean Studies, yang didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea (AKS-2023-INC-2230009). Havidz Ageng Prakoso, MA, dosen HI UMM yang menjadi pembicara utama, membedah fenomena Korea Selatan melalui kacamata global cosmopolitanism. Menurutnya, stabilitas ekonomi yang diraih Korea Selatan sejak tahun 1980-an telah mengubah pola migrasi negara tersebut secara drastis. Transformasi Sejarah dan Kebijakan Imigrasi Havidz memaparkan bahwa sebelum 1945, di bawah kekuasaan Jepang, banyak warga Korea bermigrasi ke AS dan wilayah lain demi keamanan. Namun, pasca-perang Korea dan membaiknya ekonomi, tren ini bergeser. Kini, Korea Selatan justru menjadi magnet bagi warga asing. Meskipun demikian, pemerintah Korea Selatan menerapkan kebijakan imigrasi yang ketat. “Visa kerja diberikan terbatas, dan naturalisasi dibatasi jumlahnya untuk mencegah konflik horizontal, meski pemerintah tetap menyediakan pendidikan multikultural bagi keluarga naturalisasi,” jelas Havidz. Daya Tarik Ekonomi dan Pariwisata Salah satu poin krusial yang dibahas adalah tingginya standar gaji di Korea Selatan, yang berkisar antara 1.000 hingga 1.500 USD per bulan. Didukung kebijakan perlindungan pekerja yang anti-diskriminasi, pekerja asing berpotensi menabung hingga 37 persen dari penghasilan mereka. Di sisi pariwisata, Havidz merinci lima keunggulan utama Korea Selatan: warisan budaya Dinasti Joseon, kuliner (street food), surga belanja, keindahan alam Pulau Jeju, serta transportasi publik yang efisien. “Korea Selatan bukan hanya destinasi bekerja, tetapi paket lengkap modernitas dan budaya,” pungkasnya. (*)
Muhammadiyah Terjunkan Tim Medis Tahap 3 dengan 27 Orang ke Aceh Tengah

TAJDID.ID~Takengon || Pimpinan Pusat Muhamadiyah tetap berkomitmen melanjutkan pengiriman gelombang ketiga tim Kesehatan ke daerah terpencil dan terisolasi di Kabupaten Aceh Tengah. Kawasan menjadi lokasi terdampak sangat parag dan mengisolasi ratusan desa akibat banjir bandang akhir November lalu. Lebih sebulan, proses tanggap darurat belum selesai, khususnya masalah kesehatan karena merupakan salah satu kebutuhan dasar utama manusia. Banjir dan longsor mengakibatkan masyarakat terdampak harus mengungsi di tempat pengungsian dan itu menyebabkan kondisi kesehatan menurun sehingga perlu mendapat perhatian prioritas untuk ditangani. Muhammadiyah melalui terus mendorong pelayanan yang maksimal, terurama bagi warga yang berada di tempat – tempat pengungsian. Pelayan yang diberikan Muhammadiyah kali ini merupakan gelombang ketiga dengan menerjunkan sebanyak 27 orang tim kesehatan lengkap peralatan dan obat. Tim medis Muhammadiyah ini berasal dari RS PKU Bumi Ayu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), RS PKU Boyolali dan Universitas Ahmad Dahlan ( UAD) Jogjakarta. Mereka dibagi menjadi 2 tim pos pelayanan, masing-masing di Kecamatan Ketol yang merupakan daerah terdampak yang cukup parah akibat banjir jalan longsor dan jembatan hanyut. Untuk masuk ke kawasan ini, harus melalui jalan yang menantang, dan tim berjibaku menyeberangi sungai di atas seutas tali seling baja. Di Kecamatan Ketol tim membuka 1 titik Puskesmas Mini di Desa Kekuyang dan Mobile-Clinic ke desa cakupan Bur lah, Bugeara dan Bintang Pepara. Kemudian satu tim lainnya nembuka pos pelayanan di Desa Bergang dengan cakupan Desa Pantan Redup dan Karang Ampar. Tim Kesehatan Muhammadiyah ini diberangkatkan oleh Sekertaris Poskorda Muhamadiyah Aceh Tengah Agusnaidi Budaya S. Psi yang diterima langsung Bapak Camat Ketol Zumara W Kutarga dengan ucapan Terima kasih atas bantuan Muhamadiyah. Zumara memberi apresiasi dan penghargaan kepada tim kesehatan Muhammadiyah yang mendukung upaya pemulihan kesehatan masyarakat yang terdampak. Camat Ketol itu sangat diharapkan layanan medis dari tim kesehatan Muhammadiyah dapat terus dilanjutkan karena kualitas kesehatan mereka terdegradasi karena lingkingan yang jelek. Muhammadiyah dalam menghadapi tanggap bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah menerjunkan ratusan dokter dan tim medis lainnya ke berbagai daerah melalui MDMC/ Lemba Resiliensi Bencaba. Untuk pengiriman tenaga medis dilakukan melalui koordinasi EMT ( Emergency Medical Team) yang sudah memiliki sertifikasi internasional. (SHd)
BI Perwakilan Malang Catat Optimisme Konsumen Melambung di Akhir Tahun

Kota Malang, Bhirawa Menutup kalender tahun 2025, tingkat keyakinan masyarakat di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang menunjukkan tren positif yang solid. Berdasarkan hasil Survei Konsumen Desember 2025, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 152,8, jauh melampaui ambang batas optimisme (indeks >100). Deputi Direktur KPw BI Malang, Febrina, mengungkapkan bahwa kuatnya optimisme ini didorong oleh persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi di masa depan. “Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 138,7. Hal ini ditopang oleh indeks penghasilan masyarakat yang menyentuh angka 140,0 serta tingginya indeks pembelian barang tahan lama (durable goods) yang mencapai 143,0,” jelas Febrina. Tidak hanya kondisi saat ini, masyarakat juga menaruh harapan besar pada semester pertama tahun 2026. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang bertengger di angka 166,8. Komponen penyumbangnya mencakup ekspektasi penghasilan (172,0) dan ketersediaan lapangan kerja (164,5). Meski angka survei menunjukkan tren impresif, pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Yunan Saifullah, memberikan catatan strategis. Menurutnya, angka optimistis ini muncul di tengah kondisi ekonomi yang sedang berada dalam fase transisional. “Kita melihat inflasi di akhir 2025 mencapai 0,64 persen, sementara secara tahunan berada di kisaran 2,86 persen. Ini angka yang terkendali, namun tantangan ke depan adalah menjaga stabilitas daya beli tersebut,” ujar Dr. Yunan. Berita Terkait : Dihantam Banjir Rob, TPI Landangan Situbondo Alami Rusak Parah Ia menekankan bahwa Indeks Survei Konsumen (ISK) bukan sekadar angka, melainkan pondasi bagi tiga kebijakan utama. Dr. Yunan mengingatkan pemerintah dan pemangku kebijakan untuk tidak lengah, terutama menghadapi siklus musiman. “Ekspektasi konsumen memang meningkat untuk enam bulan ke depan. Namun, kita harus waspada karena dalam waktu dekat akan memasuki bulan puasa. Pada periode tersebut, harga komoditas cenderung fluktuatif yang berpotensi memicu inflasi,” ujarnya. Selain faktor pasar, faktor non-ekonomi seperti bencana alam yang terjadi di penghujung tahun juga menjadi variabel yang patut diperhatikan dalam menjaga rantai pasok. Menurut, Yunan, menjaga keseimbangan antara optimisme konsumen yang tinggi dengan ketersediaan barang di pasar adalah kunci agar laju inflasi tidak menggerus tabungan masyarakat (Indeks Menabung Konsumen). Dengan IKK yang tetap kokoh di level 152,8, BI Malang bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) diharapkan terus memperkuat sinergi guna memastikan optimisme ini terwujud dalam pertumbuhan ekonomi riil di awal tahun 2026.[mut.ca]
Dukung Capaian SDGs, RBC Institute AMF Ajak Anak Desa Cintai Buku Sejak Dini

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan literasi masyarakat. Kali ini, berkolaborasi dengan komunitas Republik Gubuk menggelar kegiatan literasi menggunakan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) di Pondok Anyam, Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Sabtu (4/1) lalu. Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, M. Subhan Setowara, M.A., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya konkret untuk menghadirkan akses bacaan yang inklusif. Pihaknya ingin memastikan budaya membaca tidak hanya eksklusif di ruang formal, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat komunitas. “Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperluas jangkauan gerakan literasi. Kegiatan serupa akan terus kami inisiasi agar upaya pelestarian budaya baca dapat menjangkau setiap lapisan masyarakat, sekaligus memperkuat literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia,” ungkap Subhan. Kegiatan ini disambut antusias oleh puluhan peserta yang terdiri dari anak-anak dan warga setempat. Kehadiran Mobil Terbang yang membawa beragam koleksi buku anak menjadi daya tarik utama. Kepala Dusun Paras, Hani Masudi, mengapresiasi langkah UMM ini. Menurutnya, kehadiran perpustakaan keliling sangat relevan di tengah tantangan era digital saat ini. “Kami sangat antusias dengan kehadiran Mobil Pustaka dari RBC Institute AMF. Program ini sangat membantu kampung kami untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Di saat gawai mendominasi, mobil ini menjadi inovasi baru yang mampu menarik kembali perhatian anak-anak terhadap buku,” ujar Hani. Sebagai informasi, lokasi kegiatan ini bertempat di Pondok Anyam, salah satu ruang belajar di bawah naungan komunitas literasi Republik Gubuk yang dipimpin oleh Fachrul Alamsyah (Cak Irul). Sinergi antara RBC Institute AMF dan Pondok Anyam ini dinilai mampu memperkuat ekosistem literasi yang telah dibangun, khususnya dalam menumbuhkan kreativitas dan kebiasaan belajar anak sejak dini. Acara ini juga melibatkan mahasiswa UMM yang turut mendampingi anak-anak selama proses membaca dan belajar. Keterlibatan mahasiswa ini mempertegas komitmen Kampus Putih terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Isu SDGs telah diarusutamakan melalui kurikulum perkuliahan UMM, khususnya dalam mendorong pendidikan berkualitas dan pemberdayaan masyarakat berbasis dampak. Melalui program ini, UMM berharap dapat terus menghadirkan literasi yang kontekstual dan menyenangkan, sebagai bagian dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa dan merawat budaya literasi hingga ke pelosok desa. (*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Sulap Lahan Desa Jadi Sentra Smart Farming