Dosen UMM Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Pentingnya Pencegahan Dini di Tengah Cuaca Ekstrem 2026

SURYAMALANG.COM, MALANG – Prediksi cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi pada awal 2026 menjadi peringatan serius, bukan hanya bagi sektor lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Perubahan suhu yang tidak menentu, curah hujan tinggi, hingga peningkatan kelembapan dinilai dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menegaskan bahwa cuaca ekstrem harus dipandang sebagai ancaman kesehatan populasi. Menurutnya, kondisi lingkungan yang terus menekan kemampuan adaptasi tubuh dapat meningkatkan risiko penyakit apabila tidak diantisipasi sejak dini. “Cuaca ekstrem bukan sekadar fenomena alam. Ini adalah stresor lingkungan yang berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan,” “Jika tubuh gagal beradaptasi secara optimal, maka risiko gangguan kesehatan akan meningkat,” kata Zaqqi, Rabu (7/1/2026). Stres Fisiologis Kronik Zaqqi menjelaskan, paparan cuaca ekstrem dalam jangka waktu tertentu dapat memicu stres fisiologis kronik. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan saluran pernapasan. Sementara suhu panas ekstrem dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan. Ketika keseimbangan tubuh atau homeostasis terganggu dalam waktu lama, daya tahan tubuh akan menurun. “Akibatnya, tubuh lebih mudah terserang infeksi dan mengalami kelelahan fisiologis,” jelasnya Kelompok Rentan Zaqqi mengingatkan bahwa kelompok anak-anak, Lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta pekerja lapangan memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi Kelompok ini membutuhkan perhatian ekstra melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas, serta dukungan keluarga dan komunitas. Tak hanya kesehatan fisik, aspek kesehatan mental juga menjadi perhatian.
Raih Emas PKMM Kategori Karsa Cipta
Cerita Dibalik Kampung Warna-Warni Jodipan, Berawal dari Tugas Kuliah Menjadi Ikon Wisata Kota Malang

Malanginspirasi.com – Siapa sangka, salah satu ikon wisata paling populer di Kota Malang ternyata berawal dari tugas kuliah mahasiswa. Kampung Warna-Warni Jodipan, tempat wisata yang dikenal Instagramable ini menyimpan cerita inspiratif. Tentang kreativitas anak muda dan kekuatan ide sederhana yang berdampak besar bagi masyarakat. Lokasi ikonik ini bermula dari sebuah tugas praktikum kuliah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tahun 2016 silam. Awal Mula dan Ide Tugas Praktikum Sebelum dikenal seperti sekarang, Kampung Jodipan merupakan kawasan permukiman padat di bantaran Sungai Brantas yang sering dianggap kumuh. Lingkungannya yang kusam, rumah-rumah tampak seragam, dan kesadaran warga terhdap kebersihan sungai masih rendah. Kondisi inilah yang kemudian menginspirasi sekelompok mahasiswa tersebut untuk berbuat sesuatu yang berbeda. Cerita Jodipan sepuluh tahun yang lalu, dimulai ketika delapan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMM tengah mengerjakan tugas praktikum ‘Event Public Relations.’ Sebuah mata kuliah yang mengharuskan mereka membuat program yang bermanfaat bagi masyarakat. Tim beranggotakan delapan orang ini kemudian dinamakan “Guys Pro Komunikasi UMM” dan memilih fokus pada masalah lingkungan di Kampung Jodipan. Disadur dari laman resmi UMM, Nabila, selaku ketua kelompok membeberkan rencana sebuah acara yang akan dibuatnya bersama kelompok. Di mana ia harus menggabungkan beberapa komponen penting. Di antaranya partisipasi masyarakat, kebersihan, keindahan, kreativitas, dan yang terpenting kontinuitas. Kolaborasi dengan Masyarakat dan Sponsor Menyadari keterbatasan personel dalam menjalankan proyek bersih-bersih, pengecatan pagar, dan pembuatan mural. Sekelompok mahasiswa ini berinisiatif mencari sponsor di bawah bimbingan dosen, Jamroji M.comm. Upaya ini membuahkan hasil manis ketika PT Indana Paint (produsen cat Decofresh) menyetujui untuk mendanai program bertajuk “Decofresh Warnai Jodipan.” Yang disalurkan melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR)-nya sebesar Rp 200 juta. Salah satu anggota, Sulis, menerangkan bahwa ide proyek pengecatan lahir dari inspirasi kawasan ikonik Kickstater, Rio De Janeiro, Brazil serta Kota Cinque Terre, Italia. Proses Transformasi dan Viralnya Jodipan Pengecatan dimulai sekitar Mei 2016, selain mahasiswa, proyek ini melibatkan warga setempat, tukang, teknisi, hingga komunitas mural ambil bagian dalam menargetkan transformasi 90 rumah warga. Dalam waktu singkat kawasan yang dulunya dianggap kumuh berubah drastis menjadi permukiman yang penuh warna dan estetika visual tinggi. Foto-foto Jodipan kemudian menyebar di media sosial dan menarik perhatian publik luas, baik di tingkat lokal maupun nasional bahkan internasional. Perubahan ini bukan hanya soal warna, Jodipan segera menjadi destinasi wisata baru yang menarik ribuan pengunjung setiap minggu. Membuka peluang ekonomi baru bagi warga lewat penjualan makanan, suvenir, hingga jasa foto. Hal ini menunjukkan efek positif yang timbul dari gagasan mahasiswa UMM di bidang pemberdayaan masyarakat dan kreativitas urban. Dampak dan Perkembangan Selanjutnya Ketika kampung ini menjadi terkenal, Pemerintah Kota Malang pun kemudian ikut berperan dalam pengembangan kawasan tematik lain di sekitar Jodipan. Termasuk Kampung Tridi (3D Village) dan koneksi berupa jembatan kaca penghubung antara dua kawasan warna-warni tersebut, juga dirancang oleh mahasiswa UMM dari jurusan Teknik. Dukungan penuh dari masyarakat dan sponsor menjadi kunci utama kelancaran proyek ini. Kampung warna-warni Jodipan menjadi simbol bahwa ide sederhana dari bangku kuliah bisa membawa perubahan besar. Cerita ini menjadi bukti bahwa kreativitas, kepedulian sosial, dan kolaborasi dapat mengubah ruang yang terlupakan menjadi kebanggaan kota.
Saat Iman Tak Lagi Ramah Kepada Alam
Profesor Penggerak UMM Sulap Lahan Desa Sumbergedang Jadi Sentra Smart Farming

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) mengubah wajah Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, menjadi sentra smart farming dan agrowisata produktif. Program pendampingan ini telah berjalan selama empat bulan dan mulai menunjukkan dampak nyata bagi kemandirian ekonomi desa. Melalui pemanfaatan lahan kas desa seluas enam hektare, UMM bersama pemerintah desa merancang model ekonomi berbasis pertanian bernilai tambah yang terintegrasi dengan peternakan, perikanan, UMKM, dan wisata edukasi. Program P3M ini diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., IPU bersama tim dari Fakultas Pertanian UMM. Pendampingan difokuskan pada pembangunan ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan dan berbasis teknologi. “Pada tahap awal, kami memperkuat ekonomi dasar masyarakat melalui pengembangan peternakan, perikanan, serta UMKM berbasis hasil pertanian seperti keripik pisang dan minuman tradisional,” ujar Sujono. Menurutnya, penguatan ekonomi dasar menjadi fondasi penting sebelum masyarakat mengelola sektor agrowisata yang lebih kompleks. Setelah ekosistem tersebut terbentuk, barulah pengembangan diarahkan pada atraksi utama agrowisata. Daya tarik unggulan agrowisata Desa Sumbergedang saat ini adalah budidaya melon lavender berbasis smart farming. Budidaya dilakukan di dalam greenhouse berukuran 11×40 meter yang menampung sekitar 1.450 tanaman melon. Sistem yang diterapkan menggunakan teknologi hidroponik dengan pengendalian irigasi dan nutrisi berbasis digital. “Teknologi ini memungkinkan pengelolaan tanaman dilakukan secara presisi. Kebutuhan air dan nutrisi bisa dikontrol melalui ponsel, sehingga risiko kesalahan perawatan dapat diminimalkan. Ini juga menjadi sarana edukasi pertanian modern bagi warga,” jelas Sujono. Selain melon, tim P3M UMM juga mengembangkan perkebunan pisang di lahan seluas 1,5 hektare. Sekitar 1.500 pohon pisang dari varietas unggul seperti raja nangka, raja bulu, dan cavendish telah ditanam. Kebun pisang ini diproyeksikan memperkuat identitas Desa Sumbergedang sebagai sentra pertanian sekaligus pendukung wisata edukasi. Dari sisi ekonomi, hasil budidaya menunjukkan potensi yang menjanjikan. Pada usia tanaman 65 hari, berat melon rata-rata telah mencapai 1,5 kilogram dengan target panen hingga 2 kilogram per buah. “Dengan estimasi produksi lebih dari dua ton per siklus tanam, agrowisata ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan desa,” ungkap Sujono. Ke depan, greenhouse tersebut dirancang mampu berproduksi secara berkelanjutan dengan empat kali siklus tanam dalam setahun. Tim P3M UMM berharap pengembangan agrowisata terus diperluas dengan penambahan wahana edukasi lainnya. “Target kami, Desa Sumbergedang tidak hanya menjadi desa wisata, tetapi pusat rujukan agrowisata melon dan pisang di Kabupaten Pasuruan,” pungkas Sujono. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan
UMM Ajak Ormawa Hadirkan Solusi Nyata Melalui PPK Ormawa

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya sebagai Kampus Berdampak dengan mendorong mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026, yang tidak hanya menargetkan prestasi, tetapi juga inovasi sosial berkelanjutan.Keseriusan UMM terlihat dalam kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) PPK Ormawa 2026 yang digelar di Auditorium GKB V UMM, Rabu (7/1/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan perwakilan organisasi mahasiswa (Ormawa), mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Semi Otonom (LSO), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., menegaskan bahwa peran mahasiswa tidak boleh berhenti pada aktivitas akademik di ruang kelas. Mahasiswa, menurutnya, harus mampu menerjemahkan gagasan intelektual menjadi solusi atas persoalan riil di tengah masyarakat. “PPK Ormawa merupakan instrumen strategis untuk mewujudkan Kampus Berdampak. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mengasah kepemimpinan dan kolaborasi lintas disiplin, tetapi juga terlibat langsung dalam pemberdayaan masyarakat,” tegas Subeki. Ia optimistis mahasiswa UMM memiliki modal kuat untuk berinovasi. Ekosistem kemahasiswaan yang mapan serta rekam jejak prestasi nasional menjadi fondasi penting untuk menjaga sekaligus meningkatkan reputasi UMM di tingkat nasional. Daya Tarik PPK Ormawa Sementara itu, Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM sekaligus Ketua Penyelenggara PPK Ormawa 2026, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa Bimtek ini bertujuan menyamakan persepsi dan strategi agar proposal yang diajukan Ormawa benar-benar berkualitas dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Menurutnya, daya tarik utama PPK Ormawa bukan semata pendanaan, melainkan rekognisi akademik yang diberikan UMM kepada mahasiswa peserta. “Tim yang berhasil lolos pendanaan hingga tahap Abdidaya akan mendapatkan rekognisi akademik berupa konversi SKS, KKN, bahkan hingga pembebasan tugas akhir atau skripsi. Ini menjadi bukti bahwa pengabdian masyarakat diakui setara dengan kerja akademik,” jelas Ary. Untuk tahun 2026, UMM menargetkan sekitar 30 proposal lolos pendanaan dan 10 hingga 15 tim mampu melaju ke ajang Abdidaya. Ary juga mendorong setiap Ormawa mengintegrasikan teknologi dalam program pengabdian yang dirancang. Ia mencontohkan keberhasilan HMPS Agribisnis UMM yang sebelumnya mampu menciptakan alat pembasmi hama berbasis Artificial Intelligence (AI) hingga berhasil dipatenkan. “Segera lakukan konsolidasi internal. Susun program yang berangkat dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar keinginan. Dengan begitu, kita bisa melahirkan pengabdian berkelanjutan yang memperkuat jati diri UMM sebagai Kampus Berdampak,” pungkasnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan
UMM Tantang Mahasiswa Jadi Solusi Nyata Lewat PPK Ormawa 2026, Hadiahkan Bebas Skripsi

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan komitmennya sebagai Kampus Berdampak dengan mendorong mahasiswa turun langsung menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026, tidak sekadar unggul secara akademik di ruang kelas. Sebagai bentuk apresiasi atas inovasi sosial mahasiswa, UMM menyiapkan rekognisi akademik istimewa bagi tim yang berhasil lolos pendanaan dan berprestasi, mulai dari konversi satuan kredit semester (SKS), nilai Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga pembebasan tugas akhir atau skripsi. Kebijakan strategis tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) PPK Ormawa 2026 yang diikuti ratusan perwakilan organisasi mahasiswa (Ormawa) di Auditorium GKB V UMM, Rabu (7/1/2026). Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., menegaskan bahwa paradigma mahasiswa sebagai agen perubahan telah bergeser. Mahasiswa tidak lagi cukup hanya berdiskusi dan menyusun gagasan di ruang kelas, tetapi dituntut mampu menghadirkan solusi konkret bagi persoalan riil yang dihadapi masyarakat. “PPK Ormawa adalah instrumen strategis untuk mewujudkan Kampus Berdampak. Di sini, mahasiswa tidak hanya mengasah kepemimpinan dan kolaborasi lintas disiplin, tetapi juga terlibat langsung memberdayakan masyarakat,” tegas Subeki. Ia menyebutkan, ekosistem kemahasiswaan UMM yang telah mapan serta rekam jejak prestasi di tingkat nasional menjadi modal kuat bagi mahasiswa untuk menjaga reputasi institusi sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi publik. Daya tarik utama PPK Ormawa 2026 tidak hanya terletak pada pendanaan program, tetapi juga pada pengakuan akademik yang prestisius. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si, IPM, ASEAN Eng., menjelaskan skema rekognisi yang disiapkan kampus bagi tim yang berhasil melaju hingga tahap Abdidaya. “Bagi tim yang berhasil lolos pendanaan hingga tahap Abdidaya, UMM memberikan rekognisi berupa konversi SKS, KKN, bahkan hingga pembebasan tugas akhir atau skripsi. Ini adalah bukti nyata bahwa pengabdian di UMM diakui setara dengan kerja akademik yang berat,” jelas Ary selaku Ketua Penyelenggara. Kebijakan tersebut diharapkan memacu semangat mahasiswa dari berbagai jenjang organisasi, mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Semi Otonom (LSO), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk menyusun proposal pengabdian yang inovatif dan berkualitas. Menatap pelaksanaan PPK Ormawa 2026, UMM memasang target ambisius dengan membidik lolosnya 30 proposal pendanaan serta mengantarkan 10 hingga 15 tim terbaik ke ajang nasional Abdidaya. Untuk merealisasikan target tersebut, Ary mendorong mahasiswa agar tidak terpaku pada pola pengabdian konvensional, melainkan mengintegrasikan teknologi tepat guna dalam program yang dirancang. Ia mencontohkan keberhasilan HMPS Agribisnis UMM yang sebelumnya menciptakan alat pembasmi hama berbasis Artificial Intelligence (AI) yang tidak hanya membantu petani, tetapi juga berhasil dipatenkan. “Segera lakukan konsolidasi internal. Susun program yang berangkat dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar keinginan kita. Dengan begitu, kita bisa melahirkan pengabdian berkelanjutan yang memperkuat jati diri UMM,” pungkasnya. [dny/beq]
Tahap ke-3, PP Muhammadiyah Kirim 27 Tim Medis ke Aceh Tengah

TAKENGON-LintasGAYO.co : Pimpinan Pusat Muhammadiyah tetap berkomitmen melanjutkan pengiriman gelombang ketiga tim Kesehatan ke daerah terpencil dan terisolasi di Kabupaten Aceh Tengah. Kawasan menjadi lokasi terdampak sangat parag dan mengisolasi puluhan desa akibat banjir bandang akhir November lalu. Lebih sebulan, proses tanggap darurat belum selesai, khususnya masalah kesehatan karena merupakan salah satu kebutuhan dasar utama manusia. Banjir dan longsor mengakibatkan masyarakat terdampak harus mengungsi di tempat pengungsian dan itu menyebabkan kondisi kesehatan menurun sehingga perlu mendapat perhatian prioritas untuk ditangani. Muhammadiyah melalui terus mendorong pelayanan yang maksimal, terurama bagi warga yang berada di tempat – tempat pengungsian. Pelayan yang diberikan Muhammadiyah kali ini merupakan gelombang ketiga dengan menerjunkan sebanyak 27 orang tim kesehatan lengkap peralatan dan obat. Tim medis Muhammadiyah ini berasal dari RS PKU Bumi Ayu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), RS PKU Boyolali dan Universitas Ahmad Dahlan ( UAD) Jogjakarta. Mereka dibagi menjadi 2 tim pos pelayanan, masing-masing di Kecamatan Ketol yang merupakan daerah terdampak yang cukup parah akibat banjir jalan longsor dan jembatan hanyut. Untuk masuk ke kawasan ini, harus melalui jalan yang menantang, dan tim berjibaku menyeberangi sungai di atas seutas tali seling baja. Di Kecamatan Ketol tim membuka 1 titik Puskesmas Mini di Desa Kekuyang dan Mobile-Clinic ke desa cakupan Bur lah, Bugeara dan Bintang Pepara. Kemudian satu tim lainnya nembuka pos pelayanan di Desa Bergang dengan cakupan Desa Pantan Redup dan Karang Ampar. Tim Kesehatan Muhammadiyah ini diberangkatkan oleh Sekertaris Poskorda Muhamadiyah Aceh Tengah Agusnaidi Budaya S. Psi yang diterima langsung Bapak Camat Ketol Zumara W Kutarga dengan ucapan Terima kasih atas bantuan Muhamadiyah. Zumara memberi apresiasi dan penghargaan kepada tim kesehatan Muhammadiyah yang mendukung upaya pemulihan kesehatan masyarakat yang terdampak. Camat Ketol itu sangat diharapkan layanan medis dari tim kesehatan Muhammadiyah dapat terus dilanjutkan karena kualitas kesehatan mereka terdegradasi karena lingkingan yang jelek. Muhammadiyah dalam menghadapi tanggap bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah menerjunkan ratusan dokter dan tim medis lainnya ke berbagai daerah melalui MDMC/ Lemba Resiliensi Bencaba. Untuk pengiriman tenaga medis dilakukan melalui koordinasi EMT ( Emergency Medical Team) yang sudah memiliki sertifikasi internasional.
Saat Kreativitas Menjadi Modal: Cerita Industri Kreatif Indonesia di Era Digital

Oleh: Aura Tsania Andira Putri Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang radarmojokerto – INDUSTRI kreatif Indonesia sedang berada di persimpangan penting. Di satu sisi, sektor ini menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan dan semakin diakui sebagai penopang ekonomi nasional. Di sisi lain, berbagai tantangan struktural masih membayangi, terutama di tengah percepatan digitalisasi yang belum sepenuhnya merata. Kondisi ini menuntut perhatian serius, bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga dari seluruh ekosistem kreatif itu sendiri. Kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai sekitar Rp1.300 triliun dengan daya serap tenaga kerja lebih dari 24 juta orang menjadi bukti bahwa kreativitas kini memiliki nilai ekonomi yang nyata (Kontan, 2023). Sub-sektor seperti kuliner, fesyen, film, musik, hingga gim digital tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat. Kreativitas tidak lagi sekadar urusan estetika, melainkan telah menjelma menjadi modal pembangunan. Perkembangan teknologi digital mempercepat transformasi tersebut. Platform digital memberi peluang bagi pelaku industri kreatif terutama UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas, menekan biaya distribusi, dan membangun relasi langsung dengan konsumen. Namun, peluang ini belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan secara merata. Masih banyak pelaku kreatif yang tertinggal karena keterbatasan literasi digital, akses teknologi, dan kapasitas inovasi. Kesenjangan ini menciptakan jurang antara pelaku kreatif yang mampu beradaptasi dengan digitalisasi dan mereka yang masih bertahan secara konvensional. Di balik optimisme angka pertumbuhan, persoalan perlindungan hak kekayaan intelektual (HAKI) juga menjadi catatan penting. Di era digital, karya kreatif sangat mudah disebarluaskan, tetapi juga rentan terhadap pembajakan dan pelanggaran hak cipta. Regulasi yang ada sering kali tertinggal dibandingkan dengan kecepatan perkembangan teknologi. Akibatnya, banyak kreator yang belum memperoleh perlindungan hukum yang memadai atas karya mereka. Tanpa sistem perlindungan yang kuat, semangat berkarya justru dapat melemah. Di sisi lain, sektor-sektor baru seperti animasi, desain grafis, dan konten digital menunjukkan potensi besar. Ribuan studio animasi di Indonesia telah menyerap tenaga kerja muda dan bahkan mulai menembus pasar internasional. Upaya pemerintah dalam mendorong pelatihan keterampilan digital bagi generasi muda patut diapresiasi. Namun, program tersebut perlu dibarengi dengan pemerataan infrastruktur dan akses pembiayaan agar tidak hanya dinikmati oleh pelaku kreatif di kota-kota besar. Tantangan lain yang tak kalah penting adalah ketimpangan ekosistem industri kreatif antarwilayah. Pelaku kreatif di daerah masih menghadapi keterbatasan fasilitas, akses pasar, dan dukungan kebijakan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, industri kreatif berisiko berkembang secara eksklusif dan terpusat, bertentangan dengan semangat ekonomi inklusif yang selama ini digaungkan. Berbagai kebijakan dan strategi telah disusun untuk memperkuat industri kreatif nasional. Namun, keberhasilan kebijakan tidak hanya diukur dari banyaknya program, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan pelaku industri di lapangan. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan komunitas kreatif menjadi kunci agar industri kreatif tidak sekadar tumbuh secara angka, tetapi juga berkelanjutan. Pada akhirnya, industri kreatif Indonesia menyimpan potensi besar sebagai kekuatan ekonomi sekaligus identitas budaya bangsa. Kreativitas telah menjadi modal strategis yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan daya saing global. Tantangannya kini adalah memastikan bahwa ekosistem yang dibangun benar-benar inklusif, adaptif, dan berpihak pada kreator. Jika hal itu terwujud, industri kreatif tidak hanya akan menjadi kebanggaan budaya, tetapi juga pondasi kuat bagi masa depan ekonomi Indonesia. (*)
Tak Sekadar Ikut Tren, Sosiologi UMM Dampingi Siswa MAN 2 Blitar Menentukan Kampus Pilihan

Tak sedikit siswa kelas XII masih gamang menentukan pilihan kampus. Lewat program MBTS, Sosiologi UMM hadir langsung di MAN 2 Blitar untuk membimbing mereka menentukan masa depan tanpa terjebak FOMO. Tagar.co – Menjelang kelulusan, banyak siswa kelas XII dihadapkan pada kebingungan memilih kampus dan jurusan. Tidak sedikit yang akhirnya mengambil keputusan berdasarkan tren atau pengaruh lingkungan, sebuah kondisi yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO)—rasa takut tertinggal dari pilihan teman sebaya tanpa pertimbangan minat dan potensi diri. Untuk menjawab tantangan itu, Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) hadir langsung di MAN 2 Blitar Jawa Timur melalui kegiatan Mahasiswa Back to School (MBTS), Senin (5/1/2026). Kegiatan ini dikemas dalam rangkaian Edufair MAN 2 Blitar, sebuah forum tahunan yang mempertemukan siswa dengan berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Sejumlah alumni MAN 2 Blitar yang kini berkuliah di berbagai kampus, seperti UMM, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (Undip), serta perguruan tinggi lainnya, turut ambil bagian memberikan testimoni dan berbagi pengalaman akademik. Baca Juga: Dihantui Layar: Tekanan Media Sosial dan Kesehatan Mental Generasi Digital Sebanyak lima mahasiswa Program Studi Sosiologi FISIP UMM didelegasikan untuk membuka stand Edufair Prodi Sosiologi UMM. Menariknya, salah satu di antaranya merupakan alumni MAN 2 Blitar. Kehadiran mereka menjadi penghubung yang kuat antara dunia sekolah dan dunia kampus, sekaligus memberikan gambaran nyata tentang kehidupan perkuliahan kepada para siswa, khususnya kelas XII. Di stand tersebut, mahasiswa menyampaikan informasi komprehensif seputar profil Universitas Muhammadiyah Malang, sistem perkuliahan, jalur Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2026, karakteristik Program Studi Sosiologi, hingga prospek karier lulusan. Tidak hanya itu, mereka juga mengajak siswa memahami peran penting ilmu sosiologi dalam membaca dinamika sosial, pembangunan masyarakat, dan berbagai persoalan kontemporer. Suasana stand berlangsung hidup. Sesi diskusi dan tanya jawab berjalan interaktif, mencerminkan tingginya antusiasme siswa dalam menggali informasi mengenai pilihan studi lanjut dan masa depan akademik mereka. Kepala MAN 2 Blitar, Drs. Khusnul Khuluk, M.Pd., menegaskan bahwa Edufair akan terus dikembangkan sebagai strategi madrasah dalam membuka wawasan siswa terhadap pendidikan tinggi. Baca Juga: Mahasiswa Back to School Prodi Sosiologi UMM Hadir di SMAN 1 Kutorejo “Edufair ini kami rancang sebagai jembatan informasi agar siswa tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami potensi dan minatnya sebelum menentukan pilihan studi,” ujarnya. Program Mahasiswa Back to School (MBTS) sendiri merupakan bentuk pelibatan aktif mahasiswa dalam sosialisasi pendidikan tinggi dengan kembali ke sekolah asal untuk berbagi pengalaman dan motivasi. Pada hari yang sama, Prodi Sosiologi FISIP UMM juga menggelar kegiatan serupa di SMA Negeri 1 Kutorejo, dengan mengirimkan lima mahasiswa lainnya sebagai bagian dari perluasan jangkauan sosialisasi menjelang penerimaan mahasiswa baru 2026. Melalui pendekatan langsung seperti ini, Sosiologi UMM berharap siswa tidak lagi sekadar memilih kampus karena tren, tetapi berdasarkan pemahaman, minat, dan kesiapan menghadapi masa depan. (#)