UMM Hadirkan Sentra Smart Farming di Desa Sumbergedang Pasuruan melalui Program Profesor Penggerak

Malangpariwara.com – Dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) melakukan transformasi kawasan Desa Sumbergedang, Kabupaten Pasuruan. Melalui pendampingan berkelanjutan, lahan milik desa dikembangkan menjadi sentra agrowisata produktif yang memadukan sektor peternakan, pertanian berbasis teknologi, serta wisata edukatif. Program pendampingan ini telah berlangsung selama empat bulan dan masih terus berjalan hingga saat ini. Desa Sumbergedang yang berada di Kecamatan Pandaan memiliki lahan kas desa seluas enam hektare dengan lokasi yang strategis. Lahan tersebut dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi bersama antara pemerintah desa dan UMM untuk mendorong kemandirian ekonomi warga melalui pengembangan pertanian bernilai tambah yang terintegrasi. Kegiatan pendampingan ini dijalankan dalam skema P3M oleh tim yang diketuai Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., IPU bersama Fakultas Pertanian UMM dengan fokus pada pembangunan sistem ekonomi desa yang berkelanjutan. Tahapan Pendampingan kepada Masyarakat Menurut Sujono, pada fase awal pendampingan, tim lebih dahulu menguatkan fondasi ekonomi masyarakat melalui pengembangan sektor peternakan, perikanan, serta UMKM yang memanfaatkan hasil pertanian lokal, seperti produksi keripik pisang dan minuman tradisional. Tahapan ini dinilai penting agar masyarakat memiliki pengalaman usaha sekaligus kesiapan sebelum mengelola agrowisata yang lebih kompleks. Setelah ekosistem ekonomi dasar terbentuk, pengembangan diarahkan pada atraksi utama agrowisata. Salah satu daya tarik unggulan Agrowisata Sumbergedang adalah budidaya melon lavender yang menerapkan teknologi smart farming. Tanaman melon dibudidayakan di dalam greenhouse berukuran 11 x 40 meter dengan kapasitas sekitar 1.450 tanaman. Sistem hidroponik yang digunakan dilengkapi dengan pengaturan irigasi dan nutrisi berbasis digital. Sujono menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi digital memungkinkan pengelolaan tanaman dilakukan secara lebih presisi. Pengairan dan kebutuhan nutrisi dapat dikendalikan melalui perangkat ponsel, sehingga potensi kesalahan perawatan dapat ditekan. Selain meningkatkan efisiensi, sistem ini juga menjadi media edukasi pertanian modern bagi masyarakat desa. Tidak hanya melon, tim UMM juga mengembangkan kebun pisang di atas lahan seluas 1,5 hektare. Sebanyak 1.500 pohon pisang dari varietas unggulan, seperti raja nangka, raja bulu, dan cavendish, telah ditanam. Perkebunan pisang ini direncanakan menjadi penguat identitas Desa Sumbergedang sebagai sentra pertanian sekaligus penunjang wisata edukasi. Dari sisi ekonomi, hasil budidaya menunjukkan prospek yang menjanjikan. Sujono mengungkapkan bahwa pada usia tanaman sekitar 65 hari, berat rata-rata melon telah mencapai 1,5 kilogram dan ditargetkan meningkat hingga 2 kilogram saat panen. Dengan estimasi produksi lebih dari dua ton dalam satu siklus tanam, agrowisata ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan desa. Ke depan, greenhouse melon dirancang agar dapat berproduksi secara berkelanjutan dengan empat siklus tanam setiap tahun. Sujono berharap pengembangan agrowisata terus diperluas melalui penambahan berbagai wahana edukasi lainnya, sehingga Desa Sumbergedang tidak hanya dikenal sebagai desa wisata, tetapi juga menjadi pusat rujukan agrowisata melon dan pisang di Kabupaten Pasuruan. (Djoko W/Ainun)
Profesor Penggerak UMM Sulap Lahan Desa di Pasuruan Jadi Sentra Smart Farming

MALANG POST – Demi mendongkrak kemandirian ekonomi desa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), mengubah wajah Desa Sumbergedang, Pasuruan. Melalui pendampingan intensif, lahan desa disulap menjadi sentra agrowisata produktif yang mengintegrasikan peternakan, pertanian modern, dan wisata edukasi. Adapun aktivitas ini sudah berjalan sejak empat bulan lalu hingga sekarang. Desa yang terletak di Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan ini memiliki lahan kas desa strategis seluas enam hektare. Pemanfaatan lahan ini menjadi strategi kunci pemerintah desa dan UMM untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian bernilai tambah yang terintegrasi. Program pendampingan ini dijalankan melalui skema P3M. Tim yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., IPU bersama Fakultas Pertanian UMM merancang sistem ekonomi desa yang berkelanjutan. “Pada tahap awal, kami memperkuat ekonomi dasar masyarakat melalui pengembangan peternakan, perikanan, serta UMKM berbasis hasil pertanian seperti keripik pisang dan minuman tradisional,” ujar Sujono. Langkah ini dinilai krusial agar masyarakat memiliki pengalaman usaha dan kesiapan sebelum mengelola agrowisata yang lebih kompleks. Setelah ekosistem dasar terbentuk, barulah fokus dialihkan pada pengembangan atraksi utama agrowisata. Daya tarik utama agrowisata Sumbergedang saat ini adalah budidaya melon lavender yang menerapkan teknologi smart farming. Budidaya dilakukan di dalam greenhouse berukuran 11 x 40 meter yang menampung sekitar 1.450 tanaman. Sistem hidroponik yang diterapkan dilengkapi dengan pengendalian irigasi dan nutrisi digital. “Penerapan teknologi digital memungkinkan pengelolaan tanaman dilakukan secara presisi. Kebutuhan nutrisi dan pengairan dapat dikontrol melalui ponsel.” “Sehingga risiko kesalahan perawatan dapat diminimalkan. Ini sekaligus menjadi sarana edukasi pertanian modern bagi warga,” jelas Sujono. Selain melon, tim UMM juga mengembangkan perkebunan pisang di lahan seluas 1,5 hektare. Sebanyak 1.500 pohon pisang dari varietas unggul seperti raja nangka, raja bulu, dan cavendish telah ditanam. Kebun ini diproyeksikan memperkuat identitas Sumbergedang sebagai sentra pertanian sekaligus pendukung wisata edukasi. Secara ekonomi, hasil budidaya ini menunjukkan potensi besar. Sujono memaparkan, pada usia tanaman 65 hari, berat melon rata-rata sudah mencapai 1,5 kilogram dengan target 2 kilogram saat panen. “Dengan estimasi produksi lebih dari dua ton per siklus tanam, agrowisata ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan desa,” tambahnya. Ke depan, greenhouse dirancang untuk berproduksi secara berkelanjutan dengan empat kali siklus tanam dalam setahun. Sujono berharap pengembangan agrowisata ini terus meluas dengan penambahan wahana edukasi lainnya, menjadikan Desa Sumbergedang tidak hanya sekadar desa wisata, tetapi pusat rujukan agrowisata melon dan pisang di Kabupaten Pasuruan.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Melalui Edufair, Mahasiwa Sosiologi UMM Kenalkan Dunia Kampus di MAN 2 Blitar

Blitar-harianjatim.com. Mahasiswa Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM), Jawa Timur memanfaatkan kegiatan Edufair oleh dan digelar di Madrasan Aliayah Negeri (MAN) 2 Blitar sebagai sosialisasi pengenalan dunia kampus kepada siswa. Dalam kegiatan ini diikuti sejumlah alumni MAN 2 Blitar yang saat ini menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (UNDIP), serta perguruan tinggi yang laim. Kegiatan ini dihadiri oleh siswa-siswi MAN 2 Blitar, khususnya kelas XII, serta jajaran pimpinan sekolah dan dewan guru. Saat itu terdapat lima mahasiswa Program Studi Sosiologi FISIP UMM didelegasikan untuk melakukan sosialisasi melalui stand Edufair Prodi Sosiologi melalui program Mahasiswa Back to School (MBTS) Mahasiswa Back to School (MBTS). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sosialisasi dan rekrutmen mahasiswa baru tahun 2026. Seca lugas, mahasiwa dari UMM menjelaskan secara memberikan gambaran langsung mengenai pengalaman melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Selain itu juga memberikan informasi soal profil Universitas Muhammadiyah Malang, prodi Sosiologi UMM, sistem perkuliahan, jalur Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), serta prospek karir lulusan Program Studi Sosiologi. Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan peran ilmu sosiologi dalam memahami dinamika sosial, pembangunan masyarakat, serta kontribusinya dalam merespons berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat. Kegiatan sosialisasi berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab di stand Edufair Prodi Sosiologi UMM secara langsung. Antusiasme siswa terlihat dari tingginya partisipasi siswa dalam menggali informasi terkait dunia perkuliahan dan pilihan program studi. Kepala MAN 2 Blitar Khusnul Khuluk mengatakan, kegiatan Edufair akan terus dikembangkan setiap tahun sebagai sarana strategis madrasah dalam menjembatani informasi pendidikan tinggi dan memotivasi siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Program Mahasiswa Back to School (MBTS) merupakan salah satu bentuk pelibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan sosialisasi pendidikan tinggi, di mana mahasiswa kembali ke sekolah asal untuk berbagi pengalaman serta mendorong minat siswa melanjutkan studi. Pada hari yang sama, kegiatan MBTS Prodi Sosiologi FISIP UMM juga dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kutorejo dengan mendelegasikan lima mahasiswa lainnya, sebagai bagian dari perluasan jangkauan sosialisasi Prodi Sosiologi FISIP UMM.
Sosiologi UMM Ikut Edufair MAN 2 Blitar, Ajak Siswa Hindari FOMO Kampus

pwmu.co – Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik(Fisip) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir dalam Edufair MAN 2 Blitar, Senin (5/1/2026).Kegiatan ini menjadi bagian dari program Mahasiswa Back to School (MBTS) untuk membantu siswa memahami dunia kampus secara utuh, tanpa terjebak FOMO. Kegiatan Edufair diikuti oleh para alumni MAN 2 Blitar yang kini menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (UNDIP), serta kampus lainnya. Edufair dihadiri siswa kelas XII, jajaran pimpinan sekolah, dan dewan guru. Dalam kegiatan tersebut, Program Studi Sosiologi FISIP UMM mendelegasikan lima mahasiswa untuk melakukan sosialisasi melalui stand Edufair. Salah satu mahasiswa yang terlibat merupakan alumni MAN 2 Blitar, sehingga mampu berbagi pengalaman nyata tentang proses memilih program studi dan beradaptasi dengan kehidupan perkuliahan. Melalui stand MBTS, mahasiswa menyampaikan informasi seputar profil Universitas Muhammadiyah Malang, Program Studi Sosiologi, sistem perkuliahan, jalur Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), hingga prospek karier lulusan. Mahasiswa juga menjelaskan peran ilmu sosiologi dalam membaca dinamika sosial, pembangunan masyarakat, serta berbagai persoalan sosial yang berkembang. Sosialisasi berlangsung interaktif melalui diskusi dan tanya jawab. Siswa tampak antusias menggali informasi, terutama terkait pemilihan program studi yang sesuai minat dan potensi diri, bukan sekadar mengikuti tren atau pilihan teman sebaya. Kepala MAN 2 Blitar, Drs. Khusnul Khuluk, M.Pd, menyampaikan bahwa Edufair akan terus dikembangkan sebagai agenda tahunan madrasah. “Kegiatan ini penting untuk memberikan literasi pendidikan tinggi agar siswa mampu mengambil keputusan akademik secara sadar dan terencana,” katanya. Dia menambahkan, program Mahasiswa Back to School (MBTS) merupakan bentuk pelibatan aktif mahasiswa dalam sosialisasi pendidikan tinggi dengan kembali ke sekolah asal untuk berbagi pengalaman. Pada hari yang sama, MBTS Program Studi Sosiologi FISIP UMM juga dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kutorejo dengan mendelegasikan lima mahasiswa lainnya sebagai bagian dari perluasan jangkauan sosialisasi. (*)
UMM Dorong Mahasiswa Hadirkan Solusi Sosial Lewat PPK Ormawa 2026

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada capaian akademik semata, tetapi terlibat langsung menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 yang diarahkan pada pengembangan inovasi sosial berdampak nyata. Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) PPK Ormawa 2026 yang digelar di Auditorium Gedung Kuliah Bersama (GKB) V UMM, Rabu (7/1/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan perwakilan organisasi mahasiswa, mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), BEM, Lembaga Semi Otonom (LSO), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam menerjemahkan gagasan akademik menjadi aksi nyata di masyarakat. Menurutnya, PPK Ormawa menjadi salah satu instrumen untuk mewujudkan visi Kampus Berdampak. “Mahasiswa tidak cukup hanya berdiskusi di kelas. Mereka harus mampu hadir di tengah masyarakat dan memberikan solusi yang konkret,” ujar Subeki. Ia menyebut, ekosistem kemahasiswaan UMM yang selama ini konsisten berprestasi di tingkat nasional menjadi modal penting untuk memperkuat kontribusi sosial mahasiswa sekaligus menjaga reputasi institusi. Sementara itu, Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM sekaligus Ketua Penyelenggara, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa bimtek digelar untuk menyamakan pemahaman dan strategi penyusunan proposal agar program yang diajukan tepat sasaran dan berkelanjutan. Menurutnya, daya tarik PPK Ormawa tidak hanya terletak pada dukungan pendanaan, tetapi juga pada pengakuan akademik yang diberikan kepada mahasiswa. “Tim yang lolos pendanaan hingga tahap Abdidaya berkesempatan mendapatkan konversi SKS, pengakuan KKN, bahkan pembebasan tugas akhir atau skripsi,” jelas Ary. Untuk tahun 2026, UMM menargetkan sekitar 30 proposal dapat lolos pendanaan, dengan 10 hingga 15 tim diharapkan melaju ke ajang Abdidaya tingkat nasional. Ary juga mendorong pemanfaatan teknologi dalam program pengabdian, mencontohkan inovasi berbasis kecerdasan buatan yang sebelumnya dikembangkan mahasiswa Agribisnis UMM dan telah memperoleh paten. Ia mengingatkan organisasi mahasiswa agar menyusun program berdasarkan kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar ide konseptual. “Pengabdian yang kuat lahir dari pemahaman lapangan. Di situlah peran mahasiswa sebagai agen perubahan diuji,” pungkasnya. (raf)
Universitas Muhammadiyah Malang, Raih Emas PKMM Kategori Karsa Cipta

MALANG POSCO MEDIA, MALANG- Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan kapasitasnya sebagai inovator muda di tingkat Nasional. Melalui ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) yang digelar pada November 2025, dua mahasiswa Program Studi Informatika UMM sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih medali emas kategori PKMM-KC (Karsa Cipta). Mereka adalah Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah yang berhasil mengungguli peserta lain berkat inovasi teknologi bertajuk COLARIX, sebuah perangkat cerdas untuk pemantauan kesehatan ternak. Capaian ini menegaskan peran mahasiswa UMM sebagai generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif menghadirkan solusi berbasis teknologi atas persoalan riil di masyarakat. Putri Nayla Sabri menjelaskan bahwa PKMM merupakan wadah strategis bagi mahasiswa Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan inovatif berbasis riset dan kebutuhan nyata. “Menurut saya skema kompetisi ini memiliki kemiripan dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional, namun diselenggarakan secara khusus oleh Muhammadiyah sebagai ruang aktualisasi intelektual mahasiswa,” katanya. Mahasiswa asal Wamena tersebut menuturkan bahwa timnya mengangkat isu serius di sektor peternakan, yakni penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyakit ini berdampak signifikan terhadap kesehatan ternak sekaligus menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. Berdasarkan data kasus, PMK tercatat menginfeksi lebih dari 14.000 ekor ternak dalam rentang Desember 2024 hingga Januari 2025, sehingga dinilai sebagai persoalan mendesak yang membutuhkan pendekatan inovatif dan berbasis teknologi. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim kemudian mengembangkan COLARIX, sebuah smart collar berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) yang berfungsi memantau kondisi sapi pasca infeksi PMK secara otomatis dan real time. Perangkat ini mengintegrasikan kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050. Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan algoritma MobileNet dan Dempster-Shafer Theory, sebelum ditampilkan dalam sebuah dashboard pemantauan kesehatan ternak. “COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ujar Putri. Dalam proses pengembangannya, tim mengakui masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Riset dilakukan dalam waktu relatif singkat, kurang dari dua minggu, dan produk yang dihasilkan masih berada pada tahap prototipe fungsional awal tanpa uji lapangan. Meski demikian, Putri menegaskan bahwa fokus utama tim adalah memastikan kelayakan teknis serta landasan ilmiah alat sebagai pijakan pengembangan lanjutan. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pihak kampus. Tim memperoleh pendampingan dari dosen pembimbing, fasilitasi akademik, hingga ruang pengembangan ide di lingkungan Program Studi Informatika UMM. “Dukungan tersebut menjadi faktor penting yang mendorong kami berani berinovasi dan berkompetisi di tingkat Nasional,” pungkasnya. (imm/udi)