Tampil Memukau, Marching Band UMM Borong Juara di Piala Bung Karno 2025

Marching Band Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukir prestasi gemilang di kancah nasional. Kali ini, unit kegiatan mahasiswa tersebut sukses memborong gelar juara dalam ajang bergengsi Piala Bung Karno 2025 yang dihelat di Blitar, Jawa Timur, pada 26 November 2025. Dominasi UMM terlihat jelas pada kategori Brass Ensemble yang berhasil menyabet Juara 1. Tak hanya unggul secara tim, talenta individu Marching Band UMM juga unjuk gigi pada kategori Pit Individual Contest. Nurika Fitri Zasri Abidin sukses meraih podium tertinggi sebagai Juara 1, disusul oleh rekannya, Faticha Berliani, yang menempati posisi Juara 3. Nurika Fitri Zasri Abidin, perwakilan tim sekaligus peraih juara, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan buah dari latihan intensif dan kerja kolektif yang solid. Ia mengakui bahwa persiapan menuju kompetisi dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, sehingga menuntut disiplin dan fokus ekstra. “Waktu persiapan yang pendek menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal itu justru mendorong kami untuk saling menguatkan, memaksimalkan potensi tiap lini, dan menjaga kekompakan tim,” ujar Nurika. Pada kategori Brass Ensemble, Marching Band UMM dinilai dewan juri memiliki konsep musikal yang matang. Kekuatan penampilan mereka terletak pada penguasaan teknik, kestabilan tempo, serta dinamika bunyi yang harmonis. Ika, selaku selaku steering committee Marching Band UMM, menambahkan bahwa selain teknik, manajemen latihan dan komunikasi internal menjadi kunci keberhasilan tim. Menurutnya, soliditas tim terbentuk dari rasa saling percaya yang terus dijaga selama proses latihan. “Kami berusaha menampilkan permainan yang solid dan ekspresif. Fokus kami bukan hanya mengejar teknik semata, tetapi juga rasa dan kekompakan tim agar pesan musikalnya sampai ke audiens,” jelas Ika. Prestasi ini juga tidak lepas dari dukungan penuh pihak universitas, mulai dari pendanaan, administrasi, hingga fasilitas ruang latihan. Pembina Marching Band UMM, Ima Wahyu Putri Utami, M.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi para mahasiswa. Ia menilai keberhasilan ini adalah bukti bahwa mahasiswa UMM mampu menyeimbangkan prestasi akademik dan non-akademik. “Prestasi ini bukan sekadar kemenangan, tetapi bukti bahwa mahasiswa UMM mampu berkembang pesat ketika diberi ruang, kepercayaan, dan pendampingan yang tepat. Saya berharap capaian ini menjadi motivasi untuk terus berproses, menjaga kekompakan, dan tetap rendah hati,” pungkas Ima. Capaian di Piala Bung Karno 2025 ini semakin menegaskan eksistensi UMM sebagai kampus yang berkomitmen mencetak mahasiswa berprestasi secara holistik, baik di ruang kuliah maupun panggung kompetisi. (*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bukan Sekadar Alat: Bagaimana AI Menggeser Makna Kreativitas di Industri Kreatif

JurnalPost.com — Kita hidup di zaman yang serba canggih dan serba cepat. Banyak hal yang dulu terasa rumit kini bisa diselesaikan hanya dengan beberapa sentuhan di layar. Kecerdasan buatan hadir hampir di setiap aspek kehidupan, seringkali tanpa kita sadari. Dari rekomendasi musik yang kita dengarkan, filter visual di media sosial, hingga teks dan gambar yang muncul di linimasa, semuanya semakin dipengaruhi oleh algoritma. Kemudahan ini kerap dianggap sebagai tanda kemajuan. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada perubahan besar yang pelan-pelan menggeser cara kita memaknai kreativitas. Apa yang dulu lahir dari proses panjang kini semakin sering hadir sebagai hasil instan yang siap dikonsumsi. Dalam beberapa tahun belakangan, kecerdasan buatan tidak lagi sekadar berfungsi sebagai alat bantu di industri kreatif. Kehadirannya telah masuk ke ruang paling personal dari proses berkarya, mulai dari memunculkan ide, merancang konsep, hingga menghasilkan karya akhir. Hal-hal yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam untuk dieksplorasi kini bisa diwujudkan hanya dalam hitungan detik. Visual, musik, tulisan, bahkan strategi kreatif dapat tercipta lewat perintah singkat. Kecepatan ini sering dirayakan sebagai kemajuan. Namun di tengah gegap gempita inovasi, industri kreatif jarang benar-benar berhenti untuk bertanya: apakah percepatan ini memperkaya kreativitas, atau justru perlahan menggerus maknanya? Masuknya AI ke dunia kreatif memang membawa janji besar. Efisiensi kerja meningkat, akses terhadap alat kreatif menjadi lebih luas, dan produktivitas pun melonjak. Banyak pelaku industri melihat teknologi ini sebagai jawaban atas tuntutan pasar digital yang serba cepat dan kompetitif. Berbagai platform kreatif bahkan secara terbuka mendorong penggunaan AI untuk mempercepat produksi konten. Dalam konteks Indonesia, kondisi ini terasa semakin nyata karena industri kreatif sangat bergantung pada ritme media sosial dan algoritma popularitas. Dari sudut pandang bisnis, keuntungan semacam ini tentu sulit untuk diabaikan. Namun, persoalan mulai muncul ketika kecepatan dijadikan satu-satunya tolok ukur nilai sebuah karya. Proses kreatif yang sebelumnya dipenuhi eksplorasi, kegagalan, dan perenungan perlahan tergeser oleh hasil instan. Karya tidak lagi lahir dari pengalaman personal atau kegelisahan sosial, melainkan dari pola data dan kecenderungan algoritma yang berulang. Akibatnya, banyak karya tampak menarik secara visual dan mudah dikonsumsi, tetapi terasa datar secara emosional. Kreativitas seolah direduksi menjadi sekadar output yang harus cepat, relevan, dan mengikuti selera pasar. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menciptakan homogenisasi karya. Ketika algoritma lebih menyukai pola tertentu, kreativitas perlahan diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan pola tersebut. Alih-alih menawarkan perspektif baru, karya justru cenderung mengulang formula yang dianggap aman. Di titik ini, kreativitas tidak lagi menjadi ruang eksperimentasi, melainkan strategi bertahan hidup di tengah persaingan atensi. Tekanan paling besar justru dirasakan oleh para kreator. Bukan karena mereka kalah bersaing dengan AI, melainkan karena industri menuntut mereka bekerja dengan kecepatan yang semakin tinggi. Dalam ekosistem digital yang sangat bergantung pada performa dan metrik, karya sering kali dinilai dari seberapa cepat diproduksi, seberapa luas jangkauannya, dan seberapa responsif terhadap tren. Kreator dituntut untuk selalu hadir, selalu produktif, dan selalu relevan. Ruang untuk berproses pun semakin menyempit. Kreativitas yang seharusnya memberi kebebasan perlahan berubah menjadi tekanan yang melelahkan, bahkan berpotensi mengikis identitas berkarya. Di titik ini, AI kerap diposisikan sebagai ancaman utama. Padahal, teknologi ini sejatinya lebih tepat dipahami sebagai cermin dari cara industri memperlakukan kreativitas. Ketika kreativitas dipandang semata sebagai komoditas yang harus terus diproduksi dan dijual, AI akan digunakan untuk memaksimalkan efisiensinya. Sebaliknya, jika kreativitas dipahami sebagai proses bernilai yang melibatkan empati, konteks, dan pengalaman manusia, AI dapat berperan sebagai alat pendukung, bukan pengganti. Mesin mampu meniru gaya, tetapi tidak sepenuhnya mampu memahami makna, emosi, dan konteks sosial di balik sebuah karya. Industri kreatif hari ini berada di titik persimpangan yang menentukan. Beradaptasi dengan AI adalah sesuatu yang tidak terelakkan, tetapi kehilangan identitas bukanlah konsekuensi yang wajib diterima. Tantangannya adalah bagaimana menempatkan teknologi secara proporsional: memanfaatkan kemudahannya tanpa menyerahkan sepenuhnya makna kreativitas kepada algoritma. Kesadaran ini tidak hanya menjadi tanggung jawab kreator, tetapi juga platform, pelaku industri, dan audiens yang ikut menentukan arah ekosistem kreatif melalui pilihan konsumsi mereka. Mungkin, di tengah dorongan untuk bergerak semakin cepat, industri kreatif justru perlu belajar melambat. Memberi ruang bagi proses, refleksi, dan pencarian makna bukanlah langkah mundur, melainkan upaya menjaga esensi kreativitas itu sendiri. Di era kecerdasan buatan, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa cepat sebuah karya dihasilkan, melainkan apakah karya tersebut masih mampu berbicara sebagai ekspresi manusia jujur, beragam, dan bermakna.
Gen Z Andalkan Medsos, Tantangan Baru Pemilu 2029

Kota Malang, Tagarjatim.id — Pergeseran pola konsumsi informasi politik generasi muda menjadi tantangan serius bagi demokrasi Indonesia menjelang Pemilu 2029. Fakta tersebut terungkap dalam kuliah tamu yang digelar Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) serta Riset and Consulting Policy (RC-POL), Rabu (7/1/2026). Kuliah tamu bertema Arah Demokrasi Masa Depan Menyongsong Pemilu 2029 itu mengungkap temuan mengejutkan, yakni 100 persen pemilih Generasi Z di Jawa Timur mengandalkan media sosial sebagai sumber utama informasi politik. Platform TikTok tercatat menjadi rujukan utama dengan persentase tertinggi. Direktur Riset and Consulting Policy (RC-POL), Ardi Firdiansyah, menjelaskan bahwa ruang digital kini bukan hanya menjadi sumber informasi politik, tetapi juga arena utama pertukaran gagasan dan debat publik, khususnya bagi generasi Z. “Berdasarkan survei RC-POL pasca Pemilu Serentak Agustus 2024, seluruh pemilih Gen Z di Jawa Timur memperoleh informasi politik dari media sosial. TikTok menjadi platform utama dengan persentase 48 persen, disusul Instagram 25 persen, X 21 persen, YouTube 4 persen, serta Facebook dan WhatsApp masing-masing 1 persen,” ungkap Ardi, dikutip Jumat (9/1/2026). Menurutnya, kondisi tersebut menandai berakhirnya dominasi kampanye konvensional seperti baliho dan poster. Kampanye pemilu ke depan dinilai harus beradaptasi dengan ekosistem digital yang membutuhkan regulasi jelas agar tidak memicu disinformasi maupun manipulasi opini publik. Ardi juga menyoroti karakter politik generasi Z yang cenderung responsif terhadap isu viral, namun belum sepenuhnya berorientasi pada partisipasi politik jangka panjang. Gen Z disebut memilih secara rasional sekaligus emosional, dengan mempertimbangkan program kerja, dampak kebijakan, serta kedekatan personal terhadap figur politik tertentu. “Literasi politik menjadi kunci agar partisipasi Gen Z tidak hanya bersifat sesaat, tetapi juga berkelanjutan dan berorientasi pada kualitas demokrasi,” tambahnya. Sementara itu, Direktur Eksekutif Perludem, Heroik Mutaqin Pratama, menegaskan bahwa pemilu merupakan pilar utama demokrasi yang harus dijaga integritasnya. Ia menyoroti berbagai persoalan sistem pemilu, mulai dari instabilitas politik hingga praktik politik uang yang masih kerap terjadi. “Sebuah negara tidak dapat disebut demokratis tanpa pemilu yang berintegritas,” ujarnya. Heroik juga mendorong perbaikan sistem pemilu tanpa menghilangkan mekanisme pemilihan langsung, khususnya pemilihan kepala daerah. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pemisahan antara pemilu nasional dan pemilu daerah agar perhatian publik tidak hanya terfokus pada pemilihan presiden. “Dengan pemisahan itu, masyarakat diharapkan lebih fokus menilai calon legislatif dan kualitas kebijakan yang ditawarkan,” tuturnya. Melalui kuliah tamu ini, Prodi Ilmu Pemerintahan UMM berharap mahasiswa semakin kritis dan melek politik, serta mampu berperan aktif dalam mengawal proses demokrasi yang lebih berintegritas menuju Pemilu 2029.(*)
TikTok Jadi Raja Informasi Politik Gen Z: Alarm Jelang Pemilu 2029

Survei terbaru mengungkap pemilih Gen Z di Jawa Timur kini menggantungkan informasi politik pada media sosial. Pergeseran drastis ini memunculkan tantangan serius bagi kualitas demokrasi Indonesia menuju Pemilu 2029. Tagar.co – Era kampanye baliho dan poster perlahan ditinggalkan. Sebuah fakta mengejutkan terungkap: 100 persen pemilih Generasi Z di Jawa Timur kini menggantungkan informasi politiknya pada media sosial, dengan TikTok sebagai platform utama. Fenomena pergeseran menuju demokrasi digital ini menjadi sorotan utama dalam kuliah tamu Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Perludem dan RC-POL, Rabu (7/1/2026), bertema Arah Demokrasi Masa Depan Menyongsong Pemilu 2029. Direktur Riset and Consulting Policy (RC-POL), Ardi Firdiansyah, M.IP., menjelaskan bahwa ruang digital kini bukan sekadar sarana informasi, tetapi telah menjadi arena utama pertukaran gagasan, opini, dan pembentukan preferensi politik, terutama bagi generasi muda. “Demokrasi digital meningkatkan partisipasi politik, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan besar dalam pembentukan preferensi politik yang sehat,” ujarnya. Ardi memaparkan hasil survei RC-POL pasca-pemilu serentak Agustus 2024 yang menunjukkan bahwa 100 persen pemilih Gen Z di Jawa Timur memperoleh informasi politik dari media sosial. Rinciannya, TikTok 48 persen, Instagram 25 persen, X 21 persen, YouTube 4 persen, serta Facebook dan WhatsApp masing-masing 1 persen. “Kondisi ini menandakan bahwa kampanye pemilu ke depan tidak lagi bergantung pada baliho atau poster fisik, melainkan membutuhkan regulasi yang jelas terhadap kampanye di media sosial,” tegas Ardi. Ia juga menyoroti karakter politik Gen Z yang cenderung cepat merespons isu-isu yang sedang viral, tetapi belum sepenuhnya berorientasi pada partisipasi politik jangka panjang. Gen Z, menurutnya, memilih secara rasional sekaligus emosional—mempertimbangkan program dan dampak kebijakan, namun juga dipengaruhi kedekatan perasaan terhadap figur politik. “Karena itu, literasi politik dan penguatan kesadaran demokrasi menjadi kunci agar partisipasi politik Gen Z tidak berhenti pada euforia sesaat,” tambahnya. Persoalan Serius Sementara itu, Direktur Eksekutif Perludem, Heroik Mutaqin Pratama, M.IP., menegaskan bahwa pemilu merupakan elemen fundamental dalam negara demokrasi. Namun, ia juga menyoroti berbagai persoalan serius yang masih membayangi sistem pemilu Indonesia, mulai dari instabilitas politik hingga praktik politik uang akibat ketatnya persaingan antarkandidat. “Sebuah negara tidak dapat disebut demokratis tanpa pemilu yang berintegritas,” tegas Heroik. Ia menekankan pentingnya perbaikan sistem pemilu tanpa menghapus mekanisme pemilihan langsung, terutama dalam pemilihan kepala daerah. Salah satu gagasan yang ia ajukan adalah pemisahan pemilu nasional dan pemilu daerah. “Selama ini perhatian publik terlalu terserap ke pemilihan presiden, sementara pemilihan legislatif kurang mendapatkan sorotan,” jelasnya. Dengan pemisahan tersebut, masyarakat diharapkan lebih fokus menilai kualitas calon legislatif dan kebijakan yang mereka tawarkan. Heroik juga mengusulkan penyederhanaan tahapan pemilu, termasuk percepatan penetapan partai politik peserta pemilu, penyederhanaan pendaftaran pemilih, serta efisiensi waktu pemungutan dan penghitungan suara. Melalui kuliah tamu ini, UMM berharap mahasiswa semakin kritis, melek politik, dan berperan aktif dalam mengawal demokrasi yang lebih sehat dan berintegritas menuju Pemilu 2029. (*)
Pertegas Visi Kampus Berdampak, UMM Dorong Mahasiswa Ciptakan Solusi Nyata Lewat PPK Ormawa 2026

MALANG POST – Tak sekadar mengejar prestasi akademik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menantang mahasiswanya untuk turun tangan menjadi solusi konkret di tengah masyarakat. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026, UMM membidik lahirnya inovasi sosial yang berdampak nyata, sekaligus menawarkan rekognisi akademik istimewa bagi mahasiswa yang terlibat. Keseriusan ini terlihat dalam gelaran Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) PPK Ormawa 2026 yang berlangsung di Auditorium GKB V UMM, Rabu (7/1/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan perwakilan organisasi mahasiswa (Ormawa) dari berbagai tingkatan, mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Semi Otonom (LSO), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., dalam sambutannya menegaskan bahwa peran mahasiswa saat ini harus melampaui sekadar diskusi di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa UMM harus mampu menerjemahkan gagasan intelektual menjadi jawaban atas permasalahan riil masyarakat. “PPK Ormawa adalah instrumen strategis untuk mewujudkan Kampus Berdampak. Di sini, mahasiswa tidak hanya mengasah kepemimpinan dan kolaborasi lintas disiplin, tetapi juga terlibat langsung memberdayakan masyarakat,” tegas Subeki. Ia optimistis, dengan ekosistem kemahasiswaan UMM yang telah mapan dan konsisten meraih peringkat nasional, mahasiswa Kampus Putih memiliki modal kuat untuk berinovasi dan menjaga reputasi institusi di kancah nasional. Sementara itu, Kepala bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM sekaligus Ketua Penyelenggara, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si,. IPM,. ASEAN Eng., menjelaskan. Bahwa Bimtek ini bertujuan menyamakan persepsi dan strategi agar proposal yang diajukan benar-benar berkualitas. Ary menekankan daya tarik utama program ini bukan hanya pada pendanaan, melainkan pengakuan akademik yang prestisius. “Bagi tim yang berhasil lolos pendanaan hingga tahap Abdidaya, UMM memberikan rekognisi berupa konversi SKS, KKN, bahkan hingga pembebasan tugas akhir atau skripsi. Ini adalah bukti bahwa pengabdian diakui setara dengan kerja akademik,” jelas Ary. Untuk tahun 2026, UMM memasang target ambisius: meloloskan sekitar 30 proposal pendanaan dan mengantarkan 10 hingga 15 tim menuju ajang Abdidaya. Ary juga mendorong integrasi teknologi dalam setiap program pengabdian, mencontohkan kesuksesan HMPS Agribisnis UMM sebelumnya yang menciptakan alat berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk pembasmi hama sebuah inovasi yang telah dipatenkan. “Segera lakukan konsolidasi internal. Susun program yang berangkat dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar keinginan.” “Dengan begitu, kita bisa melahirkan pengabdian berkelanjutan yang memperkuat jati diri UMM sebagai Kampus Berdampak,” pungkasnya.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Profesor Penggerak UMM Sulap Lahan Desa di Pasuruan Jadi Sentra Smart Farming

MALANG, SURYAKABAR.com – Demi mendongkrak kemandirian ekonomi desa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), mengubah wajah Desa Sumbergedang, Pasuruan. Melalui pendampingan intensif, lahan desa disulap menjadi sentra agrowisata produktif yang mengintegrasikan peternakan, pertanian modern, dan wisata edukasi. Aktivitas ini sudah berjalan sejak empat bulan lalu hingga sekarang. Desa yang terletak di Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan ini memiliki lahan kas desa strategis seluas enam hektare. Pemanfaatan lahan ini menjadi strategi kunci pemerintah desa dan UMM untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian bernilai tambah yang terintegrasi. Program pendampingan ini dijalankan melalui skema P3M. Tim yang diketuai Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., IPU bersama Fakultas Pertanian UMM merancang sistem ekonomi desa yang berkelanjutan. “Pada tahap awal, kami memperkuat ekonomi dasar masyarakat melalui pengembangan peternakan, perikanan, serta UMKM berbasis hasil pertanian seperti keripik pisang dan minuman tradisional,” ujar Sujono. Langkah ini dinilai krusial agar masyarakat memiliki pengalaman usaha dan kesiapan sebelum mengelola agrowisata yang lebih kompleks. Setelah ekosistem dasar terbentuk, barulah fokus dialihkan pada pengembangan atraksi utama agrowisata. Daya tarik utama agrowisata Sumbergedang saat ini adalah budidaya melon lavender yang menerapkan teknologi smart farming. Budidaya dilakukan di dalam greenhouse berukuran 11×40 meter yang menampung sekitar 1.450 tanaman. Sistem hidroponik yang diterapkan dilengkapi dengan pengendalian irigasi dan nutrisi digital. “Penerapan teknologi digital memungkinkan pengelolaan tanaman dilakukan secara presisi. Kebutuhan nutrisi dan pengairan dapat dikontrol melalui ponsel, sehingga risiko kesalahan perawatan dapat diminimalkan. Ini sekaligus menjadi sarana edukasi pertanian modern bagi warga,” jelas Sujono. Selain melon, tim UMM juga mengembangkan perkebunan pisang di lahan seluas 1,5 hektare. Sebanyak 1.500 pohon pisang dari varietas unggul seperti raja nangka, raja bulu, dan cavendish telah ditanam. Kebun ini diproyeksikan memperkuat identitas Sumbergedang sebagai sentra pertanian sekaligus pendukung wisata edukasi. Secara ekonomi, hasil budidaya ini menunjukkan potensi besar. Sujono memaparkan, pada usia tanaman 65 hari, berat melon rata-rata sudah mencapai 1,5 kilogram dengan target 2 kilogram saat panen. “Dengan estimasi produksi lebih dari dua ton per siklus tanam, agrowisata ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan desa,” tambahnya. Ke depan, greenhouse dirancang untuk berproduksi secara berkelanjutan dengan empat kali siklus tanam dalam setahun. Sujono berharap pengembangan agrowisata ini terus meluas dengan penambahan wahana edukasi lainnya, menjadikan Desa Sumbergedang tidak hanya sekadar desa wisata, tetapi pusat rujukan agrowisata melon dan pisang di Kabupaten Pasuruan. (abs)
Profesor Penggerak UMM Sulap Lahan Desa Jadi Sentra Smart Farming

KLIKMU.CO – Guna mendongkrak kemandirian ekonomi desa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) mengubah wajah Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Melalui pendampingan intensif, lahan kas desa disulap menjadi sentra agrowisata produktif yang mengintegrasikan peternakan, pertanian modern, dan wisata edukasi. Program ini telah berjalan selama empat bulan terakhir dan masih terus dikembangkan. Desa Sumbergedang memiliki lahan kas desa strategis seluas enam hektare. Pemanfaatan lahan tersebut menjadi langkah kunci kolaborasi antara pemerintah desa dan UMM dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian bernilai tambah yang terintegrasi. Pendampingan dilakukan melalui skema P3M oleh tim yang diketuai Prof Dr Ir Sujono MKes IPU bersama Fakultas Pertanian UMM dengan merancang sistem ekonomi desa yang berkelanjutan. “Pada tahap awal, kami memperkuat ekonomi dasar masyarakat melalui pengembangan peternakan, perikanan, serta UMKM berbasis hasil pertanian seperti keripik pisang dan minuman tradisional,” ujar Sujono. Menurutnya, penguatan ekonomi dasar menjadi langkah penting agar masyarakat memiliki pengalaman berusaha dan kesiapan sebelum mengelola agrowisata yang lebih kompleks. Setelah ekosistem usaha terbentuk, fokus pendampingan diarahkan pada pengembangan atraksi utama agrowisata. Daya tarik utama agrowisata Desa Sumbergedang saat ini adalah budidaya melon lavender yang menerapkan teknologi smart farming. Budidaya dilakukan di dalam greenhouse berukuran 11×40 meter dengan kapasitas sekitar 1.450 tanaman. Sistem hidroponik yang digunakan dilengkapi dengan pengendalian irigasi dan nutrisi berbasis digital. “Penerapan teknologi digital memungkinkan pengelolaan tanaman dilakukan secara presisi. Kebutuhan nutrisi dan pengairan dapat dikontrol melalui ponsel, sehingga risiko kesalahan perawatan bisa diminimalkan. Ini sekaligus menjadi sarana edukasi pertanian modern bagi warga,” jelasnya. Selain melon, tim UMM juga mengembangkan perkebunan pisang di lahan seluas 1,5 hektare. Sebanyak 1.500 pohon pisang dari varietas unggul seperti raja nangka, raja bulu, dan cavendish telah ditanam. Kebun pisang ini diproyeksikan memperkuat identitas Desa Sumbergedang sebagai sentra pertanian sekaligus penunjang wisata edukasi. Dari sisi ekonomi, hasil budidaya menunjukkan potensi yang menjanjikan. Pada usia tanaman 65 hari, berat melon rata-rata telah mencapai 1,5 kilogram dengan target 2 kilogram saat panen. Dengan estimasi produksi lebih dari dua ton dalam satu siklus tanam, agrowisata ini berpeluang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan desa. Ke depan, greenhouse dirancang mampu berproduksi secara berkelanjutan dengan empat kali siklus tanam setiap tahun. Sujono berharap pengembangan agrowisata terus diperluas dengan penambahan berbagai wahana edukasi, sehingga Desa Sumbergedang tidak hanya dikenal sebagai desa wisata, tetapi juga menjadi pusat rujukan agrowisata melon dan pisang di Kabupaten Pasuruan. (Faqih/AS)
UMM-RBC Gandeng Republik Gubuk Kuatkan Literasi Masyarakat Poncokusumo

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan literasi masyarakat. Kali ini, berkolaborasi dengan komunitas Republik Gubuk. Mereka menggelar kegiatan literasi menggunakan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) di Pondok Anyam, Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Sabtu (4/1/2026) lalu. Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, M. Subhan Setowara, M.A., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya konkret untuk menghadirkan akses bacaan yang inklusif. Pihaknya ingin memastikan budaya membaca tidak hanya eksklusif di ruang formal, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat komunitas. “Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperluas jangkauan gerakan literasi. Kegiatan serupa akan terus kami inisiasi agar upaya pelestarian budaya baca dapat menjangkau setiap lapisan masyarakat, sekaligus memperkuat literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia,” ungkap Subhan. Kegiatan ini disambut antusias oleh puluhan peserta yang terdiri dari anak-anak dan warga setempat. Kehadiran Mobil Terbang yang membawa beragam koleksi buku anak menjadi daya tarik utama. Kepala Dusun Paras, Hani Masudi, mengapresiasi langkah UMM ini. Menurutnya, kehadiran perpustakaan keliling sangat relevan di tengah tantangan era digital saat ini. “Kami sangat antusias dengan kehadiran Mobil Pustaka dari RBC Institute AMF. Program ini sangat membantu kampung kami untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Di saat gawai mendominasi, mobil ini menjadi inovasi baru yang mampu menarik kembali perhatian anak-anak terhadap buku,” ujar Hani. Sebagai informasi, lokasi kegiatan ini bertempat di Pondok Anyam, salah satu ruang belajar di bawah naungan komunitas literasi Republik Gubuk yang dipimpin oleh Fachrul Alamsyah (Cak Irul). Sinergi antara RBC Institute AMF dan Pondok Anyam ini dinilai mampu memperkuat ekosistem literasi yang telah dibangun, khususnya dalam menumbuhkan kreativitas dan kebiasaan belajar anak sejak dini. Acara ini juga melibatkan mahasiswa UMM yang turut mendampingi anak-anak selama proses membaca dan belajar. Keterlibatan mahasiswa ini mempertegas komitmen Kampus Putih terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Isu SDGs telah diarusutamakan melalui kurikulum perkuliahan UMM, khususnya dalam mendorong pendidikan berkualitas dan pemberdayaan masyarakat berbasis dampak. Melalui program ini, UMM berharap dapat terus menghadirkan literasi yang kontekstual dan menyenangkan, sebagai bagian dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa dan merawat budaya literasi hingga ke pelosok desa. (*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Dari Hygiene Kit hingga Bersih-Bersih Sekolah, Ini Aksi Nyata UMM Berbagi Pulihkan Aceh Tamiang

Komitmen kemanusiaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program “UMM Berbagi untuk Negeri” terus bergulir secara masif di wilayah terdampak bencana Sumatera. Memasuki tahap ketiga, Kampus Putih tidak sekadar mengirimkan bantuan logistik, melainkan menerjunkan tim ahli yang terdiri dari dosen dan teknisi untuk memimpin percepatan pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang sejak awal Januari 2026. Fokus utama tim kali ini adalah menghidupkan kembali denyut nadi pendidikan yang sempat lumpuh total akibat banjir bandang. Langkah konkret terlihat di Kecamatan Bandar Pusaka, di mana tim UMM Berbagi berjibaku membersihkan endapan lumpur tebal yang menimbun ruang-ruang kelas di Madrasah Aliyah (MA) Al Hikmah dan Raudhatul Athfal (RA) Darul Muta’allimin, Desa Sunting. Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., Koordinator UMM Berbagi untuk Negeri, menegaskan bahwa normalisasi fasilitas pendidikan menjadi prioritas utama timnya. Ia menggambarkan kondisi lapangan yang cukup berat, di mana material sisa banjir membuat aktivitas belajar mengajar mustahil dilakukan tanpa intervensi alat dan tenaga yang memadai. “Tim kami langsung bergerak cepat membersihkan lumpur pekat yang memenuhi ruang kelas di MA Al Hikmah dan RA Darul Muta’allimin. Target kami jelas, agar anak-anak bisa segera kembali bersekolah dengan aman dan nyaman. Selain pembersihan fisik, kami juga mendistribusikan paket hygiene kit kepada para guru dan siswa di Dusun Anggrek. Ini adalah pendekatan komprehensif; kami perbaiki fisiknya, sekaligus kami jaga kesehatan warga sekolahnya,” jelas Ary. Berbeda dengan gelombang sebelumnya yang didominasi oleh semangat juang mahasiswa dalam fase tanggap darurat, penerjunan tahap ketiga ini membawa misi spesifik rehabilitasi dan rekonstruksi. Eka Kadarpa Utama Dewayani, MM., salah satu relawan sekaligus dosen UMM dalam tim tersebut, menjelaskan perubahan strategi ini. Menurutnya, komposisi tim yang diisi oleh jajaran dosen dan tenaga ahli disesuaikan dengan kebutuhan lapangan yang kini bergeser ke arah pemulihan infrastruktur vital dan manajemen posko. “Berdasarkan hasil asesmen lapangan terakhir, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah sektor WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) serta pendampingan psikososial. Oleh karena itu, tim tahap ketiga ini memiliki tugas spesifik untuk pengelolaan logistik, perbaikan sarana air bersih, hingga trauma healing. Kami ingin memastikan sistem pendukung kehidupan di sini kembali berfungsi,” ungkap Eka. Pergeseran fokus wilayah operasi ini juga merupakan respons cepat atas mandat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur. Sumber daya yang sebelumnya terkonsentrasi di Langkat, Sumatera Utara, kini digeser penuh ke Aceh Tamiang mengingat eskalasi kebutuhan penanganan yang lebih intensif di wilayah tersebut. Aksi nyata ini mempertegas posisi UMM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya hadir saat sorotan kamera tertuju pada bencana, namun tetap setia mengawal hingga fase pemulihan. Melalui sinergi antara pembersihan sarana pendidikan, bantuan kesehatan, dan dukungan psikososial, UMM Berbagi berupaya memastikan masyarakat Aceh Tamiang, khususnya generasi mudanya, dapat segera bangkit dan menatap masa depan kembali. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman