Korupsi dan manusia Tersandera
Wamendiktisaintek Tekankan Pentingnya Kesinambungan Nilai dan Budaya Organisasi

Reportasemalang – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menegaskan pentingnya kesinambungan nilai dan budaya organisasi sebagai fondasi utama perguruan tinggi dalam menghadapi dinamika dan persaingan global. Hal tersebut disampaikan saat memberikan pengarahan kepada jajaran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Aula Biro Administrasi Umum (BAU), Sabtu (10/1/2026). Fauzan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM ini menyampaikan bahwa kekuatan institusi pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan formal. Tetapi juga oleh proses pewarisan nilai lintas generasi yang menjaga spirit, etos kerja, serta arah pengembangan sivitas akademika. “Proses kesinambungan nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan kompetisi antar perguruan tinggi,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Fauzan turut mengulas kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ia menyebutkan bahwa UMM termasuk dalam klaster mandiri. Ke depan, perguruan tinggi swasta (PTS) yang masuk klaster tersebut akan diarahkan menjadi PTS unggul mandiri dengan kewenangan yang lebih luas, khususnya dalam pengelolaan program studi dan akreditasi. Menurutnya, kebijakan tersebut dirancang untuk mempercepat transformasi serta meningkatkan daya saing PTS yang telah memiliki tata kelola yang baik dan berkelanjutan. “Program khusus bagi PTS klaster mandiri sedang kami siapkan agar memiliki kewenangan yang lebih fleksibel dan berdampak signifikan,” katanya. Wamendiktisaintek bersama Rektor UMM Fauzan juga mengapresiasi iklim akademik dan budaya organisasi UMM yang dinilainya kondusif, stabil, serta minim konflik. Ia menilai suasana kampus yang kolaboratif dan nyaman menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan karakter UMM yang mengedepankan substansi dan keberlanjutan, bukan sekadar capaian simbolik. Selain itu, ia menegaskan bahwa program studi merupakan elemen utama dalam penggerak perguruan tinggi. Ketua program studi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab menjaga keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta kontribusi nyata bagi masyarakat. Ia pun mendorong perubahan paradigma perguruan tinggi dari sekadar pusat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi, sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan bahwa arahan yang disampaikan Wamendiktisaintek menjadi penguatan strategis bagi UMM dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola kampus. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Mahasiswa BSI Modern UMM Pentaskan Dua Lakon Teater Sarat Konflik

Sketsamalang.com – Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mementaskan dua lakon teater sarat konflik dalam rangka luaran mata kuliah Penyutradaraan. Pementasan tersebut berlangsung selama dua hari, 11–12 Januari 2026, di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM. Dua naskah yang dipentaskan ialah *Lakon Elegi Musim Panas* karya Chandra Kudapawarna pada hari pertama dan *Orang Kasar* karya Anton Chekov saduran W.S. Rendra pada hari kedua. Pementasan ini menjadi wadah pembelajaran mahasiswa dalam mengasah kemampuan penyutradaraan, keaktoran, serta pembacaan dan penafsiran teks drama. *Lakon Elegi Musim Panas* mengisahkan Nikolas, seorang lelaki yang menjalin perselingkuhan dengan seorang perempuan demi menguasai hartanya. Perselingkuhan tersebut merupakan bagian dari rencana yang ia susun bersama istrinya. Tanpa disadari, perempuan yang terlibat hubungan tersebut mengalami kebangkrutan serta keterpurukan batin setelah mengetahui bahwa relasi yang ia jalani hanyalah bentuk manipulasi. Lakon ini dibangun dengan suasana emosional yang kuat, menonjolkan tema pengkhianatan, tipu daya, dan kehancuran perasaan. Sementara itu, *Orang Kasar* menghadirkan nuansa yang lebih dinamis dan sarat ironi. Lakon ini berkisah tentang seorang nyonya yang setia pada mendiang suaminya dengan memilih hidup dalam balutan pakaian serba hitam. Konflik muncul ketika Bilal, sahabat mendiang suaminya, datang menagih utang lama dan menolak pergi sebelum utang tersebut dilunasi. Dalam situasi tersebut, tumbuh benih cinta antara keduanya, sehingga sang nyonya berada dalam dilema antara kesetiaan dan perasaan baru. Adegan-adegan komikal yang lahir dari gengsi dan kecanggungan tokoh membuat penonton terpancing emosi hingga akhir pertunjukan. Salah satu adegan dalam pementasan teater Mahasiswa BSI Modern UMM Pembina mata kuliah Penyutradaraan, Dr. Hari Sunaryo, M.Si., menilai pementasan ini sebagai ruang belajar penting bagi mahasiswa dalam memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara. Menurutnya, kedua naskah memiliki tantangan tersendiri yang menuntut kepekaan serta kedewasaan dalam pengolahan adegan. “Dalam proses pendampingan, saya melihat naskah-naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan tertentu. Jika tidak cermat, ada kemungkinan masuk ke wilayah sensor. Oleh karena itu, penting bagi sutradara dan pemain untuk tetap mengusung nilai-nilai. Proses ini menjadi pelajaran berharga bagi mahasiswa sebagai pribadi yang menjalani kehidupan sekaligus menjaga kehidupan,” ujarnya. Apresiasi juga disampaikan Kepala Program Studi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. Ia menilai proses panjang yang dilalui mahasiswa selama produksi, termasuk dinamika suka dan duka latihan, turut memperkuat kualitas permainan aktor di atas panggung. “Banyak proses yang mereka lalui selama produksi. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga alur cerita sulit ditebak oleh penonton. Plot twist yang memancing reaksi jengkel justru menunjukkan keberhasilan aktor dalam mendalami peran,” tuturnya. Ia berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif. Menurutnya, pertunjukan teater memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa setelah lulus, terutama bagi mereka yang akan berkecimpung di dunia kerja yang berkaitan dengan seni peran dan keaktoran. Melalui dua lakon dengan konflik yang kontras, pementasan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk kepekaan serta profesionalitas mahasiswa dalam bidang seni pertunjukan.
Pusat Studi Islam UMM : Bonus Demografi Justru Bisa Jadi Bencana Indonesia 2045

Indonesiandaily.com – Pusat Studi Islam Berkemajuan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar diskusi awal tahun. Dalam refleksi tersebut, mengemuka, jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan serius. Maka bonus demografi justru bisa berbalik menjadi ancaman atau bencana bagi pembangunan Indonesia Emas 2045. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan. Ia dalam kesempatan tersebut memberikan peringatan keras atau alarm bahaya terkait bonus demografi. Menurutnya keberhasilan menuju Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kemampuan negara membangun sumber daya manusia (SDM) dan kesehatan secara simultan. Tanpa prasyarat tersebut, impian menjadi negara maju hanyalah utopia. “Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan serius, bonus demografi justru bisa berbalik menjadi ancaman atau bencana bagi pembangunan Indonesia Emas 2045,” ungkap Luthfi Kurniawan. Dalam pandanganya Indonesia butuh tata kelola pemerintahan yang bersih serta efektif untuk menopang ini, bukan sekadar memanen jumlah penduduk usia produktif tanpa skill yang memadai. Menyambung kekhawatiran tersebut, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam, M.Si., mengajak peserta menengok realitas di lapangan yang sering luput dari jargon pembangunan, yakni kemiskinan struktural. Ia membedah persoalan ini dari berbagai sisi yang lebih mikro dan menyentuh akar masalah. “Kita masih menemui wajah kemiskinan struktural yang nyata. Ada kemiskinan agraria di mana petani tak lagi punya lahan,” ucapnya. Hingga kemiskinan urban akibat lemahnya struktur industri yang memaksa masyarakat bergantung pada sektor informal. Abdus Salam menilai, ini adalah ‘pekerjaan rumah’ besar yang harus diselesaikan jika ingin bicara soal kemajuan Dalam kesempatan tersebut, Kepala PSIB UMM, Prof Gonda Yumitro PhD, juga memberikan perspektif yang tajam. Baginya, narasi Indonesia Emas tidak boleh berhenti di podium politik, melainkan harus diuji secara akademis. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak,” ujar Prof Gonda. Visi besar ini membutuhkan fondasi ilmiah yang kuat dan keberanian melakukan koreksi. Diskusi ini sengaja diarahkan agar tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi akan dirumuskan menjadi book chapter. yakni sebagai rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis. Diskusi ini sendiri dihadiri puluhan peserta dari berbagai elemen, mulai dari aktivis mahasiswa hingga pegiat literasi. Hingga ditutup dengan komitmen bersama untuk mengawal isu-isu strategis bangsa. PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi peta jalan Indonesia masa depan
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Dorong UMM Kuatkan Nilai Civitas Akademika

Indonesiandaily.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Dr Fauzan MPd, mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk semakin menguatkan nilai budaya civitas akademika. Hal tersebut disampaikan Prof Fauzan, saat memberikan pengarahan kepada jajaran UMM di Aula BAU, Sabtu (10/1). Ia menekankan bahwa kekuatan institusi pendidikan tinggi tidak semata bertumpu pada kebijakan formal, tetapi juga pada proses kesinambungan nilai lintas generasi. Proses tersebut menjaga spirit, etos kerja, dan cara beraktivitas sivitas akademika agar tetap selaras dengan cita-cita institusi. “Proses sambung nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan persaingan perguruan tinggi,” ujarnya. Ia juga menyinggung kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan oleh Kemendiktiksaintek. Dalam kebijakan tersebut, UMM masuk dalam klaster mandiri. Rencananya, perguruan tinggi swasta pada klaster ini akan diarahkan menjadi PTS unggul mandiri. Dengan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan program studi serta akreditasi. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat transformasi dan meningkatkan daya saing PTS yang telah mapan secara tata kelola. Program ini dalam proses desain agar PTS ke depan memiliki kewenangan yang lebih luwes dan berdampak. Selain itu, Fauzan mengapresiasi iklim akademik dan corporate culture UMM yang dinilainya kondusif, stabil, dan minim konflik. Menurutnya, budaya kampus yang nyaman dan kolaboratif justru menjadi pembeda utama dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. “Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter UMM yang lebih menekankan substansi dan keberlanjutan, bukan sekadar pencapaian simbolik,” ujarnya. Prof Fauzan juga menegaskan bahwa program studi merupakan mesin utama perguruan tinggi. Ketua prodi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab atas keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta dampak keilmuan bagi masyarakat. Ia pun mendorong perubahan cara pandang kampus, dari sekadar tempat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi. Hal ini sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak yang tengah digencarkan pemerintah. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa arahan yang disampaikan Sekretaris BPH itu menjadi penguat UMM dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif. Sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya
Angkat Isu Selingkuh, Teater Mahasiswa BSI UMM Pukau Penonton

Malang (beritajatim.com) – Lorong Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berubah menjadi arena emosi yang memikat ratusan pasang mata. Selama dua hari berturut-turut, tepatnya pada 11 – 12 Januari 2026, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern UMM menyuguhkan pementasan teater yang sarat akan konflik batin dan kritik sosial. Pementasan ini merupakan puncak dari mata kuliah Penyutradaraan, di mana mahasiswa ditantang untuk menghidupkan naskah ke dalam panggung pertunjukan. Dua lakon yang diangkat pun memiliki nuansa yang sangat kontras: “Lakon Elegi Musim Panas” karya Chandra Kudapawarna yang kelam, dan “Orang Kasar” karya Anton Chekov saduran W.S. Rendra yang jenaka namun ironis. Pada hari pertama, panggung dikuasai oleh ketegangan emosional lewat “Lakon Elegi Musim Panas”. Penonton dibawa masuk ke dalam kehidupan Nikolas, sosok lelaki manipulatif yang menjalin hubungan gelap demi menguasai harta seorang perempuan.] Konflik memuncak ketika terungkap bahwa perselingkuhan tersebut hanyalah skenario jahat yang disusun Nikolas bersama istri sahnya. Sang selingkuhan, yang awalnya dimabuk asmara, harus menelan pil pahit kebangkrutan dan kehancuran mental saat menyadari dirinya hanya menjadi objek tipu daya. Atmosfer panggung terasa begitu intens. Para aktor berhasil menerjemahkan naskah yang penuh dengan pengkhianatan dan kepalsuan ini, membuat penonton larut dalam rasa simpati sekaligus geram terhadap karakter yang dimainkan. Berbeda 180 derajat dengan hari pertama, pementasan hari kedua menyajikan “Orang Kasar” dengan nuansa yang lebih dinamis dan mengundang gelak tawa, meski tetap membawa pesan mendalam. Lakon ini mengisahkan seorang nyonya muda yang bersikeras hidup dalam kesetiaan pada mendiang suaminya, menyelimuti diri dengan pakaian serba hitam. Ketenangannya terusik oleh kedatangan Bilal, sahabat mendiang suaminya yang datang menagih utang lama dengan cara yang kasar dan memaksa. Situasi berbalik menjadi ironi yang menggelitik ketika Bilal, yang awalnya emosional dan bersikeras tidak akan pergi sebelum dibayar, justru perlahan jatuh hati pada sang nyonya. Adegan tarik-ulur antara gengsi, kemarahan, dan benih cinta yang tumbuh di situasi yang salah sukses membuat penonton geregetan. Plot twist emosional ini dieksekusi dengan gaya komikal yang menyegarkan. Di balik kesuksesan pementasan ini, terdapat proses kurasi dan pembelajaran yang ketat. Dr. Hari Sunaryo, M.Si., selaku dosen pembina mata kuliah Penyutradaraan, mengungkapkan bahwa naskah-naskah ini dipilih bukan tanpa risiko. Menurutnya, ada banyak jebakan adegan yang jika tidak dieksekusi dengan hati-hati bisa melanggar norma. “Saya yang mendampingi adik-adik ini berproses sejak awal membatin bahwa naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan yang terlibat. Jika tidak seksama sebagai sutradara dan pelaku, ada banyak hal yang bisa masuk dalam wilayah sensor,” ungkap Hari Sunaryo, Selasa (13/1/2026). Ia menegaskan pentingnya peran sutradara muda UMM dalam menjaga nilai-nilai moral di atas panggung. “Sutradara dan UMM memiliki filter yang lebih presisi. Semua ini menjadi pelajaran berharga ketika menyutradarai sebagai pribadi yang memiliki kehidupan sekaligus penjaga kehidupan,” tambahnya. Apresiasi tinggi juga datang dari Kepala Prodi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. Ia menilai dinamika jatuh-bangun selama proses latihan telah mematangkan mental mahasiswa. Baginya, teater bukan sekadar seni peran, melainkan simulasi dunia profesional. “Banyak proses yang mereka jalani selama produksi, ada suka dan dukanya. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga imajinasi penonton dibuat sulit menebak alur ceritanya,” ujar Isnaini. Ia menyoroti keberhasilan para aktor dalam membangun reaksi penonton, mulai dari rasa jengkel hingga tawa. Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa telah berhasil mendalami peran dengan kedewasaan emosi. “Kami harap, karya mahasiswa ini bisa mendapatkan panggung publikasi yang lebih luas karena kualitasnya yang layak tonton dan relevansinya sebagai bekal soft skill di dunia kerja kelak,” tutup Isnaini. (dan/but)
Wamendiktisaintek Beri Arahan di UMM; Tekankan Kesinambungan Nilai dan Budaya Organisasi Kampus
Wamendiktisaintek Berikan Arahan di UMM: Tekankan Kesinambungan Nilai dan Budaya Organisasi Kampus

MALANG POST – Prof Fauzan hadir selaku Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), saat memberikan pengarahan kepada jajaran UMM di Aula BAU, Sabtu (10/2026). Fauzan menekankan bahwa kekuatan institusi pendidikan tinggi tidak semata bertumpu pada kebijakan formal, tetapi juga pada proses kesinambungan nilai lintas generasi. Proses tersebut menjaga spirit, etos kerja dan cara beraktivitas sivitas akademika agar tetap selaras dengan cita-cita institusi. “Proses sambung cerita dan sambung nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan persaingan perguruan tinggi,” ujarnya. Ia juga menyinggung kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam kebijakan tersebut, UMM masuk dalam klaster mandiri. Ke depan, perguruan tinggi swasta pada klaster ini akan diarahkan menjadi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) unggul mandiri, dengan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan program studi serta akreditasi. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat transformasi dan meningkatkan daya saing PTS yang telah mapan secara tata kelola. “Program khusus untuk PTS klaster mandiri sedang kami desain agar ke depan memiliki kewenangan yang lebih luwes dan berdampak,” jelasnya. Selain itu, Fauzan mengapresiasi iklim akademik dan corporate culture UMM yang dinilainya kondusif, stabil, dan minim konflik. Menurutnya, budaya kampus yang nyaman dan kolaboratif justru menjadi pembeda utama dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter UMM yang lebih menekankan substansi dan keberlanjutan, bukan sekadar pencapaian simbolik. Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan bahwa program studi merupakan mesin utama perguruan tinggi. Ketua program studi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab atas keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta dampak keilmuan bagi masyarakat. Ia pun mendorong perubahan cara pandang kampus, dari sekadar tempat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi, sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak yang tengah digencarkan pemerintah. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa arahan yang disampaikan Sekretaris BPH sekaligus Wamendiktisaintek itu menjadi penguat langkah strategis UMM dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola kampus. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.” “Arahan ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus bergerak maju dengan pijakan nilai yang kuat,” pungkasnya.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Refleksi Awal Tahun PSIB UMM: Menakar Jalan Indonesia Emas 2045

Tagar.co — Awal tahun sering kali menjadi jeda singkat sebelum rutinitas kembali padat. Namun, di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), awal tahun justru menjadi titik berangkat untuk menakar arah bangsa. Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM menggelar refleksi awal tahun bertema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”, Senin (12/1/2026). Forum ini menghadirkan akademisi, pemangku kebijakan, serta pemerhati isu sosial untuk meninjau capaian pembangunan sekaligus merumuskan langkah strategis menuju satu abad Indonesia merdeka. Isu ekonomi, pembangunan sumber daya manusia (SDM), hingga tata kelola pemerintahan menjadi benang merah diskusi yang berlangsung intens. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., membuka forum dengan menegaskan, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar jargon politik. Ia menilai visi besar tersebut membutuhkan fondasi ilmiah yang kuat dan keberanian untuk melakukan koreksi sejak dini. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujar Gonda di hadapan peserta. Menurutnya, PSIB sengaja menggelar refleksi di awal tahun, bukan di penghujung tahun seperti lazimnya. Langkah ini ia maknai sebagai upaya proaktif untuk menawarkan inovasi dan perbaikan sejak awal perjalanan. “Dalam kesempatan ini, PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal. Biasanya refleksi dilakukan di akhir tahun, tetapi kami memilih awal tahun untuk melihat apa saja yang harus diperbaiki demi mewujudkan generasi emas 2045 kelak,” katanya. Baca Juga: Strategi Logika Kids Tingkatkan Layanan Tumbuh Kembang Peran Daerah dan Kearifan Lokal Sebagai keynote speaker, Wali Kota Batu Nurochman, S.H., M.H., menyoroti pentingnya peran pemerintah daerah dalam mengakselerasi transformasi menuju Indonesia Emas 2045. Ia menegaskan, pembangunan nasional tidak dapat dilepaskan dari kekuatan lokal yang dimiliki setiap daerah. Menurut Nurochman, Pemerintah Kota Batu memulai transformasi dengan menjunjung nilai-nilai lokal yang selaras dengan visi nasional dan global. Pendekatan ini ia wujudkan melalui program Sae Ning Mbatu. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan Sae Ning Mbatu. Yaitu program yang melihat keunggulan Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana pembangunan jangka panjang,” jelasnya. Di hadapan akademisi dan mahasiswa, Nurochman juga memaparkan komitmen pemerintah daerah dalam menyiapkan generasi unggul. Fokus utama terletak pada penguatan akses dan kualitas pendidikan. “Dalam menjawab tantangan ke depan, Pemerintah Kota Batu fokus membangun SDM unggul. Salah satunya melalui program 1.000 sarjana. Pada 2025, kami telah memberikan beasiswa kepada 273 mahasiswa,” ujarnya. Baginya, investasi pada manusia merupakan kunci agar bonus demografi benar-benar menjadi kekuatan, bukan sekadar angka statistik. Kepemimpinan dan Ancaman Bonus Demografi Perspektif berbeda disampaikan Luthfi J. Kurniawan yang mengulas transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Ia menilai keberhasilan menuju Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kemampuan negara membangun SDM unggul dan ekonomi berkelanjutan secara simultan. Baca Juga: Bintang Muda SD Muhammadiyah Melirang Siap Jadi Pemimpin Berakhlak “Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, Indonesia harus mampu menciptakan generasi unggul, pemerataan pembangunan, ekonomi berkelanjutan, hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” ucapnya. Namun, Luthfi mengingatkan, bonus demografi dapat berubah menjadi ancaman jika negara abai menyiapkan fondasi dasar, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan. “Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan baik, bonus demografi justru menjadi ancaman bagi pembangunan Indonesia Emas 2045,” tuturnya. Ia menambahkan, pemerintah saat ini menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan produktivitas SDM, melakukan reformasi struktural, dan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih serta efektif. Islam Berkemajuan dan Tantangan Zaman Sementara itu, Muhammad Mirdasy, S.IP., memandang awal tahun sebagai momentum refleksi dan reposisi strategis bangsa. Menurutnya, Indonesia sedang berada di tengah arus perubahan yang cepat dan kompleks, sehingga membutuhkan kerangka berpikir yang adaptif. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, karena Indonesia saat ini menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya. Mirdasy menilai kajian Islam multidisipliner menjadi kebutuhan mendesak untuk merespons tantangan tersebut. Ia menempatkan Islam berkemajuan sebagai landasan etis yang mampu membimbing masyarakat dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. “Tantangan zaman saat ini cukup kompleks. Kehadiran kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu cara menjawab tantangan itu, dengan Islam berkemajuan sebagai landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Membaca Kemiskinan Struktural Pemateri terakhir, Abdus Salam, pakar sosiologi politik UMM, mengajak peserta menengok persoalan mendasar yang masih membelit Indonesia: kemiskinan struktural. Ia menyebut problem ini hadir dalam berbagai wajah dan sektor. Baca Juga: Menulis Itu Merayakan Diri: Perempuan Belajar Jujur di Bulan Bahasa “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang kita temui, seperti kemiskinan agraria. Petani tidak lagi memiliki lahan atau hanya memiliki lahan sempit yang hasilnya cukup untuk bertahan hidup,” jelasnya. Abdus Salam juga menyoroti kemiskinan di sektor pekerjaan, terutama buruh yang tidak mendapatkan pelatihan dan pekerjaan layak akibat struktur industri yang marginal. Selain itu, ia menyinggung kemiskinan urban yang muncul akibat penggusuran permukiman kumuh, ketergantungan pada sektor informal, serta lemahnya struktur industri. “Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi daerah terpencil tanpa akses yang memadai,” tambahnya. Kolaborasi sebagai Kunci Moderator diskusi, Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP., menyimpulkan bahwa seluruh paparan narasumber bermuara pada dua isu utama: pembangunan SDM dan tata kelola pemerintahan yang baik. Ia menegaskan bahwa percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 menuntut kerja bersama lintas sektor. “Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri,” ujarnya menutup forum. Melalui refleksi awal tahun ini, PSIB UMM berharap lahir rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. Sebab, jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan visi besar, tetapi juga keberanian untuk berbenah sejak sekarang. (#) Penyunting Sayyidah Nuriyah
PSIB UMM Gelar Refleksi Awal Tahun, Wali Kota Batu Kupas Strategi Menuju Indonesia Emas 2045

pwmu.co –Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar acara refleksi awal tahun dengan mengangkat tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”, Senin (12/1/2026).Acara yang dilangsungkan di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar ini, menghadirkan berbagai narasumber dan pemangku kebijakan. Kegiatan yang bertujuan untuk meninjau kembali pencapaian pemerintah serta merumuskan langkah strategis untuk mencapai Indonesia emas tahun 2045 mencerminkan urgensi untuk mempercepat proses transformasi di berbagai sektor, termasuk ekonomi hingga pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam sambutannnya, kepala PSIB UMM Prof. Gonda Yumitro, Ph.D mengatakan pentingnya peran akademisi dalam memberikan rekomendasi berbasis riset untuk pembangunan daerah maupun nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Gonda lalu menegaskan, agenda ini merupakan salah satu langkah PSIB UMM dalam mendukung upaya mewujudkan generasi emas 2045. “Dalam kesempatan ini, PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal, biasanya kegiatan refleksi semacam ini diadakan di akhir tahun. Akan tetapi PSIB UMM mengadakan refleksi di awal tahun sebagai aspek untuk melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak,” katanya. Sementara Wali Kota Batu Nurochman, SH, MH yang hadir sebagai keynote speaker menyampaikan bahwa dalam mencapai Indonesia emas 2045 perlu keterlibatan pemerintah daerah. Nurochman memaparkan, peran pemerintah daerah dalam mendorong transformasi menuju Indonesia emas perlu diawali dari menjunjung tinggi nilai-nilai lokal yang memiliki keselarasan dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya. Lebih lanjut, Nurochman menjelaskan bahwa dalam menyiapkan generasi emas yang unggul, Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan beberapa program yang secara spesifik membangun SDM unggul. “Dalam menjawab tantangan kedepan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,” ujarnya. Sementara itu, Luthfi J. Kurniawan, dosen UMM, memaparkan materi tentang transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Dia melihat bahwa dalam mencapai Indonesia emas 2045, pemerintah harus lebih fokus dalam membangun SDM yang unggul serta ekonomi berkelanjutan. “Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan Pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” ucapannya. Lutfi juga menyampaikan kalau tidak adanya persiapan yang matang dalam segala aspek, tidak menutup kemungkinan bonus demografi akan menjadi ancaman. “Jika Pendidikan, Kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi Pembangunan Indonesia emas 2045. Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,” tuturnya. Ketua Lembaga Hikma dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jatim Muhammad Mirdasy S.IP melihat bahwa awal tahun ini merupakan momentum dalam melakukan refleksi dan reposisi strategis bagsa. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, dimana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,”katanya. Mirdasy menuturkan, kajian Islam multidisipliner diperlukan untuk merespon tantangan zaman. “Tantangan zaman saat ini cukup kompleks, maka hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, dimana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” katanya. Abdus Salam, sebagai pemateri terakhir, memaparkan bahawa hari ini Indonesia menghadapi banyak problem. Sebagai pakar sosiologi politik UMM, Salam melihat bahwa saat ini Indonesia menghadapi kemiskinan struktural. “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup”, katanya. Salam menambahkan, kemiskinan struktural juga terjadi di sektor pekerjaan dan kemiskinan regional. “Kemiskinan struktural juga terjadi pada aspek pekerja, seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai,” jabarnya. Diki Wahyudi,S.Sos, M.IP sebagai moderator melihat problem yang disampaikan oleh keseluruh pemateri terpusat pada pembangunan SDM dan tata kelola pemerintah yang baik. Di sesi penutup, Diki menyimpulkan bahwa percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. “Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” tuturnya.(*) *) Penulis : Tanwirul Huda | Editor : Agus Wahyudi