Refleksi Awal Tahun PSIB UMM, Membedah Strategi Percepatan Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045

KETIK, MALANG – Upaya mempercepat langkah menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya bertumpu pada jargon pembangunan. Refleksi, evaluasi, dan perumusan strategi sejak awal tahun menjadi fondasi penting agar transformasi berjalan tepat sasaran. Inilah yang disoroti dalam kegiatan refleksi awal tahun yang digelar Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mengusung tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan yang berlangsung di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar ini menghadirkan akademisi, praktisi, hingga kepala daerah untuk membedah tantangan sekaligus peluang Indonesia ke depan, terutama di sektor sumber daya manusia (SDM) dan tata kelola pemerintahan. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menegaskan bahwa peran akademisi tidak boleh berhenti pada diskursus teoritis. Kampus, kata dia, harus aktif menyumbangkan rekomendasi berbasis riset yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah daerah maupun nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Menurut Gonda, refleksi yang digelar di awal tahun ini justru menjadi pembeda sekaligus strategi PSIB UMM untuk memotret persoalan lebih dini. Biasanya, refleksi dilakukan di akhir tahun setelah program berjalan, namun PSIB memilih melakukan evaluasi sejak awal agar perbaikan bisa segera dilakukan. “Dalam kesempatan ini PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal, biasanya kegiatan refleksi semacam ini diadakan di akhir tahun. Akan tetapi PSIB UMM mengadakan refleksi di awal tahun sebagai aspek untuk melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak,” katanya. Perspektif pemerintah daerah turut menguatkan diskusi. Wali Kota Batu, Nurochman, S.H., M.H., yang hadir sebagai keynote speaker menekankan bahwa transformasi menuju Indonesia Emas 2045 harus dimulai dari daerah dengan tetap menjunjung nilai-nilai lokal yang selaras dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya. Lebih lanjut, Nurochman memaparkan komitmen Pemerintah Kota Batu dalam menyiapkan generasi unggul melalui kebijakan konkret di bidang pendidikan. Salah satunya adalah program 1.000 sarjana yang ditujukan untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. “Dalam menjawab tantangan ke depan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,” ujarnya. Dari sisi akademisi dan praktisi, Luthfi J Kurniawan menyoroti pentingnya transformasi kepemimpinan dalam kerangka masyarakat madani. Ia menilai, keberhasilan Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kemampuan negara dalam mengelola SDM dan memastikan keberlanjutan ekonomi. “Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” ucapnya. Ia juga mengingatkan bahwa bonus demografi tidak selalu menjadi keuntungan jika tidak dibarengi dengan persiapan yang matang, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan. “Jika pendidikan, kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi pembangunan Indonesia emas 2045. Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,” tuturnya. Pandangan strategis juga disampaikan Muhammad Mirdasy S.IP yang menilai awal tahun sebagai momentum penting bagi bangsa untuk melakukan reposisi arah pembangunan di tengah dinamika global yang terus berubah. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, di mana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya. Ia menambahkan bahwa pendekatan Islam multidisipliner menjadi relevan untuk merespons tantangan zaman yang semakin kompleks, dengan Islam berkemajuan sebagai landasan etis dalam kehidupan sosial. “Tantangan zaman saat ini cukup kompleks, maka hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, di mana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya. Sementara itu, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam, mengingatkan bahwa percepatan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa dilepaskan dari persoalan kemiskinan struktural yang masih membelit masyarakat. “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup,” katanya. Ia menambahkan, kemiskinan struktural juga menjangkiti sektor pekerjaan dan wilayah tertentu akibat struktur industri yang marginal serta minimnya akses di daerah terpencil. “Kemiskinan struktural juga terjadi pada aspek pekerja, seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai,” ucapnya. Moderator diskusi, Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP., menilai seluruh paparan narasumber bermuara pada dua isu besar, yakni pembangunan SDM dan tata kelola pemerintahan yang baik. Menurutnya, percepatan transformasi tidak mungkin dilakukan secara parsial. “Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” tuturnya. Melalui refleksi awal tahun ini, PSIB UMM berharap lahir rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang mampu menjembatani gagasan akademik dengan kebijakan publik, demi mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global pada 2045. (*)
Bahas Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045: PSIB UMM Hadirkan Wali Kota Batu

Reporter: harianjatim Malang-harianjatim.com. Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar acara refleksi awal tahun dengan mengangkat tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Acara yang dilangsungkan di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar menghadirkan berbagai narasumber dan pemangku kebijakan. Kegiatan yang bertujuan untuk meninjau kembali pencapaian pemerintah serta merumuskan langkah strategis untuk mencapai Indonesia emas tahun 2045 mencerminkan urgensi untuk mempercepat proses transformasi di berbagai sektor, termasuk ekonomi hingga pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Acara yang diawali dengan sambutan oleh Prof. Gonda Yumitro, Ph.D, selaku kepala PSIB UMM, menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan rekomendasi berbasis riset untuk pembangunan daerah maupun nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Lebih lanjut, Gonda memaparkan bahwa agenda ini merupakan salah satu langkah PSIB UMM dalam mendukung upaya mewujudkan generasi emas 2045 “Dalam kesempatan ini PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal, biasanya kegiatan refleksi semacam ini diadakan di akhir tahun. Akan tetapi PSIB UMM mengadakan refleksi di awal tahun sebagai aspek untuk melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak,” katanya. Sementara Wali Kota Batu Nurochman, S.H., M.H yang hadir sebagai keynote speaker menyampaikan bahwa dalam mencapai Indonesia emas 2045 perlu keterlibatan pemerintah daerah. Dalam hal ini, Nurochman memaparkan bahwa peran pemerintah daerah dalam mendorong transformasi menuju Indonesia emas perlu diawali dari menjunjung tinggi nilai-nilai lokal yang memiliki keselarasan dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya. Lebih lanjut, Nurochman memaparkan bahwa dalam menyiapkan generasi emas yang unggul, Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan beberapa program yang secara spesifik membangun SDM unggul. “Dalam menjawab tantangan kedepan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,”ujarnya. Sementara itu, Luthfi J Kurniawan memaparkan materi tentang transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Ia melihat bahwa dalam mencapai Indonesia emas 2045, pemerintah harus lebih fokus dalam membangun SDM yang unggul serta ekonomi berkelanjutan. “Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan Pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” ucapannya. Baca Juga : Mahasiswa Back To School; Kenalkan Prodi Sosiologi UMM Secara Utuh pada Siswa Lebih lanjut Lutfi menyampaikan kalau tidak adanya persiapan yang matang dalam segala aspek, tidak menutup kemungkinan bonus demografi akan menjadi ancaman. “Jika Pendidikan, Kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi Pembangunan Indonesia emas 2045. Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,”tuturnya. Sementara Muhammad Mirdasy S.IP melihat bahwa awal tahun ini merupakan momentum dalam melakukan refleksi dan reposisi strategis bagsa. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, dimana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,”katanya. Lebih lanjut Mirdasy melihat bahwa kajian Islam multidisipliner diperlukan untuk merespon tantangan zaman. “tantangan zaman saat ini cukup kompleks, maka hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, dimana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,”ucapnya. Abdus Salam selaku pemateri terakhir juga memaparkan bahwa hari ini Indonesia menghadapi banyak problem. Sebagai pakar sosiologi politik Universitas Muhammadiyah Malang, Abdus Salam melihat bahwa saat ini Indonesia menghadapi kemiskinan struktural. “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup”, katanya. Abdus Salam juga menambahkan bahwa kemiskinan struktural juga terjadi di sektor pekerjaan dan kemiskinan regional. “Kemiskinan struktural juga terjadi pada aspek pekerja, seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai”, ucapnya. Diki Wahyudi,S.Sos., M.IP sebagai moderator melihat problem yang disampaikan oleh keseluruh pemateri terpusat pada pembangunan SDM dan tata kelola pemerintah yang baik. Di sesi penutup, Diki Wahyudi menyimpulkan bahwa percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. “Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” tuturnya. Dengan diselenggarakannya acara ini, diharapkan muncul rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan oleh berbagai pihak, mendukung terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global pada 2045.
Refleksi Awal Tahun, PSIB UMM Bahas Langkah Konkret Menuju Indonesia Emas 2045

Malang, (afederasi.com) – Percepatan transformasi di berbagai sektor dinilai kunci mencapai visi Indonesia Emas 2045. Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pun menggelar forum refleksi dengan menghadirkan Wali Kota Batu, Nurochman, dan sejumlah pakar, Senin (12/01/2026). Kegiatan bertema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045” ini bertujuan meninjau capaian dan merumuskan langkah strategis, khususnya dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan ekonomi. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., dalam sambutannya menekankan peran vital akademisi. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan. Ini visi yang butuh keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul. Refleksi di awal tahun ini kami lakukan untuk menawarkan inovasi sejak dini,” jelas Gonda. Sebagai keynote speaker, Wali Kota Batu, Nurochman, S.H., M.H., menyoroti peran pemerintah daerah. Ia menegaskan pentingnya mengawali transformasi dengan menjunjung nilai lokal yang selaras dengan visi nasional. “Kami punya program SAE Ning Mbatu yang berfokus pada keunggulan lokal seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung RPJPN,” papar Nurochman. Lebih lanjut, untuk menyiapkan generasi emas, Pemkot Batu fokus pada pembangunan SDM. “Kami memiliki program 1.000 Sarjana. Di 2025 saja, telah diberikan beasiswa kepada 273 mahasiswa,” imbuhnya. Pemateri lainnya, Luthfi J Kurniawan, membahas transformasi kepemimpinan. Ia mengingatkan, bonus demografi bisa menjadi ancaman jika tidak dipersiapkan dengan matang. “Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus baik, ini akan mengancam pembangunan. Tantangannya adalah meningkatkan produktivitas SDM dan reformasi struktural,” ujar Luthfi. Sementara itu, Abdus Salam, pakar sosiologi politik UMM, mengangkat isu kemiskinan struktural sebagai tantangan nyata. Menurutnya, masalah ini muncul dalam berbagai bentuk. “Mulai dari kemiskinan agraris, pekerja dengan upah rendah karena struktur industri marginal, kemiskinan urban, hingga kemiskinan regional akibat isolasi daerah terpencil,” jelas Abdus Salam. Muhammad Mirdasy, S.IP. menambahkan, kajian Islam multidisiplin diperlukan untuk menjawab kompleksitas tantangan zaman ini, dengan Islam berkemajuan sebagai landasan etis. Moderator acara, Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP., menyimpulkan bahwa pembahasan terpusat pada isu SDM dan tata kelola pemerintahan yang baik. “Percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan sinergi kuat antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. Kolaborasi adalah kuncinya,” tegas Diki. Acara yang digelar di Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar UMM ini diharapkan melahirkan rekomendasi konkret yang dapat diimplementasikan untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan berdaya saing global pada 2045.(san)
Refleksi Awal Tahun, PSIB UMM Dorong Percepatan Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045

MAKLUMAT — Pusat Studi Islam Berkemajuan Universitas Muhammadiyah Malang (PSIB UMM) menggelar refleksi awal tahun 2026 bertajuk “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045,” yang dilangsungkan di di RBC Institute Abdul Malik Fadjar, Senin (12/1/2026). Forum yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, hingga pemangku kebijakan itu, dimaksudkan untuk meninjau capaian pemerintah sekaligus merumuskan langkah strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Refleksi tersebut menegaskan urgensi percepatan transformasi di berbagai sektor, mulai dari ekonomi hingga pembangunan sumber daya manusia (SDM). Kepala PSIB UMM, Prof Gonda Yumitro PhD, dalam sambutannya menekankan pentingnya kontribusi akademisi dalam memberikan rekomendasi berbasis riset bagi pembangunan daerah maupun nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Refleksi awal tahun ini, lanjut Gonda, merupakan bagian dari ikhtiar PSIB UMM dalam mendukung terwujudnya generasi emas 2045. “Agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal, biasanya kegiatan refleksi semacam ini diadakan di akhir tahun. Akan tetapi PSIB UMM mengadakan refleksi di awal tahun sebagai aspek untuk melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak,” katanya. Di sisi lain, Wali Kota Batu Nurochman SH MH, yang didapuk sebagai keynote speaker dalam forum tersebut, menegaskan bahwa pencapaian Indonesia Emas 2045 membutuhkan peran aktif pemerintah daerah. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pentingnya menjunjung nilai-nilai lokal yang selaras dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan “SAE Ning Mbatu,” yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” jelasnya. Nurochman juga memaparkan berbagai program Pemerintah Kota Batu dalam menyiapkan SDM unggul. “Dalam menjawab tantangan ke depan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan,” katanya. “Lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,” lanjut Nurochman. Sementara itu, Luthfi J Kurniawan mengulas pentingnya transformasi kepemimpinan dalam masyarakat madani. Ia menilai pembangunan SDM unggul dan ekonomi berkelanjutan menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045. “Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan Pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” sebutnya. Ia juga mengingatkan potensi ancaman bonus demografi jika tidak disertai persiapan matang. “Jika Pendidikan, Kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi Pembangunan Indonesia emas 2045,” sorotnya. “Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,” sambung Luthfi. Baca Juga Kemendikdasmen Buka Pintu Sinergi, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ajak PTMA Kawal Reformasi Pendidikan Senada, Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LHKP PWM) Jawa Timur, Muhammad Mirdasy SIP, menyebut bahwa awal tahun sebagai momentum refleksi dan reposisi strategis bangsa. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, dimana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya. Menurut Mirdasy, kajian Islam multidisipliner menjadi kebutuhan untuk menjawab tantangan zaman. “Tantangan zaman saat ini cukup kompleks, maka hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, dimana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya. Sementara itu, dosen UMM, Abdus Salam, menyoroti berbagai persoalan struktural yang dihadapi Indonesia saat ini, khususnya kemiskinan. “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup,” sorotnya. Kemiskinan struktural, lanjut Salam, juga terjadi di sektor ketenagakerjaan dan wilayah. “Kemiskinan struktural juga terjadi pada aspek pekerja, seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal,” sebutnya. “Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai,” imbuh Salam. Baca Juga Jejak Emas Prof Fauzan di UMM: Inisiator Professor Penggerak Pembangunan Masyarakat Forum tersebut menekankan pentingnya pembangunan SDM dan tata kelola pemerintahan yang baik. Percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan sinergi lintas sektor. “Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” ujar moderator Diki Wahyudi saat menutup forum. Melalui kegiatan ini, PSIB UMM berharap lahir rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan oleh berbagai pihak, guna mendukung terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global pada 2045. *) Penulis: Ubay NA
Bahas Klasterisasi Kampus, Wamendiktisaintek Tekankan Penguatan Nilai Sivitas Akademika UMM

Malangpariwara.com – Mengulas kebijakan klasterisasi perguruan tinggi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mendorong penguatan nilai sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Arahan tersebut disampaikannya saat memberikan pengarahan kepada jajaran UMM di Aula BAU, Sabtu (10/1). Fauzan menegaskan bahwa kekuatan perguruan tinggi tidak hanya bertumpu pada kebijakan formal, melainkan juga pada kesinambungan nilai lintas generasi. Proses ini menjaga spirit, etos kerja, serta pola aktivitas sivitas akademika agar tetap sejalan dengan cita-cita institusi. “Proses sambung cerita dan sambung nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan persaingan perguruan tinggi,” ujarnya. Selain itu, ia juga mengulas kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, di mana UMM masuk dalam klaster mandiri. Ke depan, perguruan tinggi swasta dalam klaster tersebut akan diarahkan menjadi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) unggul mandiri dengan kewenangan lebih luas dalam pengelolaan program studi dan akreditasi. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mempercepat transformasi serta meningkatkan daya saing PTS yang telah mapan secara tata kelola. “Program khusus untuk PTS klaster mandiri sedang kami desain agar ke depan memiliki kewenangan yang lebih luwes dan berdampak,” jelasnya. Apresiasi Terhadap Iklim Akademik dan Corporate Culture UMM Tak hanya itu, Fauzan mengapresiasi iklim akademik dan corporate culture UMM yang dinilainya kondusif, stabil, dan minim konflik. Menurutnya, budaya kampus yang nyaman dan kolaboratif menjadi pembeda utama dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Pendekatan tersebut dinilai selaras dengan karakter UMM yang lebih menekankan substansi dan keberlanjutan dibanding pencapaian simbolik semata. Hal ini menjadi kekuatan tersendiri dalam menjaga konsistensi pengelolaan institusi. Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan bahwa program studi merupakan mesin utama perguruan tinggi. Ketua program studi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab atas keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta dampak keilmuan bagi masyarakat. Ia juga mendorong perubahan cara pandang kampus, dari sekadar tempat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi. Dorongan ini sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak yang tengah digencarkan pemerintah. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa arahan Sekretaris BPH sekaligus Wamendiktisaintek tersebut menjadi penguat langkah strategis UMM. Arahan itu dinilai penting dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola kampus. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Arahan ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus bergerak maju dengan pijakan nilai yang kuat,” pungkasnya. (Djoko W)
Pakar Literasi Lingkungan, Ekologi dan Guru Besar Biologi di UMM Ungkap Fakta Lapangan dan Riset Ilmiah Pagerungan Kecil

Jakarta (ANTARA) – Merespon sorotan public tentang wilayah Pagerungan Kecil yang disandingkan dengan peran Kangean Energy Indonesia (KEI) dan dinilai negatif, dibantah oleh pakar literasi lingkungan dan ekologi, serta guru besar Biologi dan Ilmu Lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam tudingan tersebut menyebutkan bahwa aktivitas eksplorasi gas bumi yang lakukan oleh Kangean Energy Indonesia di wilayah Kepulauan Sapeken, Sumenep, Jawa Timur, telah merusak lingkungan. Dua pakar lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyatakan, bahwa tudingan tersebut tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta lapangan serta hasil penelitian ilmiah. Dua akademisi tersebut, yakni Dr. Husamah, merupakan putra daerah pagerungan kecil yang saat ini berprofesi sebagai Dosen UMM, sekaligus pakar literasi lingkungan dan ekologi, serta Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si, selaku guru besar Biologi dan Ilmu Lingkungan, mengaku telah melakukan penelitian ekstensif selama lebih dari 10 tahun di wilayah Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, dan sekitarnya. “Kerusakan ekosistem laut di wilayah tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas KEI, melainkan oleh praktik penangkapan ikan merusak seperti penggunaan bom ikan, racun potasium, dan pengambilan terumbu karang oleh masyarakat,” ungkap Dr. Husamah dalam keterangan tertulis. Ia menilai, justru sebaliknya, KEI selama ini berperan aktif dalam kegiatan konservasi dan edukasi masyarakat, termasuk mendorong alih profesi dari pemburu hiu menjadi pembudidaya rumput laut dan teripang. Langkah ini didokumentasikan dalam berbagai jurnal ilmiah internasional yang menyoroti transformasi sosial-ekologis masyarakat pesisir di Sapeken. Tak hanya itu, sebagian masyarakat juga kerap mengambil karang dan rataan terumbu sebagai bahan bangunan, serta mencari kerang abalone (“mata tujuh”) dengan cara merusak struktur karang. Melihat fenomena ini, KEI justru hadir sebagai mitra konservasi bersama masyarakat. “Kami menyaksikan sendiri, KEI menginisiasi edukasi dan penguatan komunitas, khususnya pemuda dan karang taruna, untuk pelestarian terumbu karang. KEI menyadari pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem laut,” ungkap Dr. Husamah. Prof. Abdulkadir menambahkan, KEI juga terlibat dalam program restorasi mangrove dan pelestarian spesies lokal. Data observasi terbaru (2024–2025) mencatat kehadiran berbagai jenis burung, termasuk spesies langka seperti Elang Laut Perut Putih dan Cendet Madura di area sekitar tambang. “Jika terjadi kerusakan ekologis masif akibat tambang, spesies-spesies tersebut mustahil bertahan. Ini bukti bahwa KEI mengedepankan prinsip keberlanjutan,” ujarnya. Selain menjaga biodiversitas, KEI turut mendampingi desa tertinggal seperti Pagerungan Kecil dalam menyediakan akses energi melalui perbaikan pasokan listrik, yang sebelumnya hanya menyala lima jam per hari. Soal mengurai mitos dan informasi keliru, Pakar UMM juga meluruskan isu mengenai berkurangnya tangkapan ikan dan jarak melaut yang semakin jauh. Menurutnya, fenomena ini lebih disebabkan oleh kerusakan ekosistem akibat ulah manusia, kapal penangkap besar dari luar daerah, dan eksploitasi padang lamun. “Bukan karena aktivitas KEI,” Ungakapnya dengan tegas. Dengan landasan riset dan observasi panjang, keduanya menegaskan bahwa narasi negatif terhadap KEI tidak didasarkan pada data ilmiah. “Kami berharap publik dan media tidak terjebak pada asumsi. KEI telah membuktikan komitmen terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui kerja nyata,” paparnya. Kemudian, langkah ini diperkuat melalui pendekatan riset yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional: From Shark Hunter to Seaweed and Sea-Cucumber Cultivator: A Phenomenology Study at Sapeken Islands, Indonesia, di American Journal of Humanities and Social Sciences, Vol. 2 No. 10, hlm. 119–124. “Dalam riset tersebut, dijelaskan transformasi sosial-ekologis masyarakat Sapeken, dari pemburu hiu demi siripnya menjadi pelaku akuakultur berkelanjutan” jelasnya. Selanjutnya, potensi budidaya teripang (Holothuroidea) menjadi fokus utama. KEI bersama akademisi UMM juga menerbitkan riset: Community structure, diversity, and distribution patterns of sea cucumber in the coral reef area of Sapeken Islands (AACL Bioflux, Vol. 13 No. 4, 2020) “Penelitian ini menekankan pentingnya menjaga karang dan mangrove, sebagai habitat kunci dari spesies teripang yang bernilai ekonomis tinggi dan mendukung keberlanjutan mata pencaharian masyarakat,” ujarnya. Tidak sampai disitu, dalam rangkaian penelitian ekologis tahun 2024, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto mencatat keberadaan beragam spesies burung yang masih hidup lestari di wilayah tambang dan sekitarnya, diantaranya: Burung Kecil dan Sedang: • Pleci Belukar (Zosterops flavus) – 62 ekor • Seriti (Collocalia vestita) – 224 ekor • Cendet Madura (Lanius vittatus) – 10 ekor (endemik dan hampir punah) • Tekukur (Spilopelia chinensis) – 72 ekor • Gagak hutan (Corvus enca) – 19 ekor • Kacer dan Kucica Hitam – masih ditemukan dalam jumlah terbatas Burung Paruh Panjang dan Besar: • Gajahan Besar (Numenius arquata) – 28 ekor (dilindungi) • Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) – 3 ekor • Kuntul Karang dan Cangak Abu – populasi stabil “Jika lingkungan rusak total, spesies-spesies ini akan lenyap lebih cepat. Fakta keberadaan mereka merupakan bukti keutuhan ekosistem yang dijaga,” tukas Prof. Rahardjanto. Pewarta: PR Wire Editor: PR Wire Copyright © ANTARA 2026