Pusat Studi Islam Berkemajuan UMM Gelar Refleksi Awal Tahun

MALANG, PIJARNEWS.ID – Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar acara refleksi awal tahun dengan mengangkat tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar pada Senin (12/1/2026) ini dilaksanakan dalam rangka meninjau kembali pencapaian pemerintah serta merumuskan langkah strategis untuk mencapai Indonesia emas tahun 2045, terkhusus mempercepat proses transformasi di berbagai sektor, termasuk ekonomi hingga pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Prof. Gonda Yumitro, Ph.D, selaku kepala PSIB UMM. Ia menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan rekomendasi berbasis riset untuk pembangunan daerah maupun nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Ia juga memaparkan bahwa agenda ini merupakan salah satu langkah PSIB UMM dalam mendukung upaya mewujudkan generasi emas 2045. “Dalam kesempatan ini PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal, biasanya kegiatan refleksi semacam ini diadakan di akhir tahun. Akan tetapi PSIB UMM mengadakan refleksi di awal tahun sebagai aspek untuk melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak,” terangnya. Lebih lanjut, Wali Kota Batu Nurochman, S.H., M.H yang hadir sebagai keynote speaker menyampaikan bahwa dalam mencapai Indonesia emas 2045 perlu keterlibatan pemerintah daerah. Dalam hal ini, ia memaparkan bahwa peran pemerintah daerah dalam mendorong transformasi menuju Indonesia emas perlu diawali dari menjunjung tinggi nilai-nilai lokal yang memiliki keselarasan dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam menyiapkan generasi emas yang unggul, Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan beberapa program yang secara spesifik membangun SDM unggul. “Dalam menjawab tantangan kedepan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,” ujarnya. Sementara itu, Luthfi J Kurniawan memaparkan materi tentang transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Ia melihat bahwa dalam mencapai Indonesia emas 2045, pemerintah harus lebih fokus dalam membangun SDM yang unggul serta ekonomi berkelanjutan. “Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan Pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” ucapnya. Ia juga menyampaikan kalau tidak adanya persiapan yang matang dalam segala aspek, tidak menutup kemungkinan bonus demografi akan menjadi ancaman. Menurutnya, jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi Pembangunan Indonesia emas 2045. “Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,” tuturnya. Begitupun Muhammad Mirdasy S.IP yang melihat bahwa awal tahun ini merupakan momentum dalam melakukan refleksi dan reposisi strategis bagsa. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, dimana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya. Ia menilai bahwa kajian Islam multidisipliner diperlukan untuk merespon tantangan zaman. Sebab tantangan zaman hari ini cukup begitu kompleks. “Hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, dimana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya. Diakhir, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam memaparkan bahwa hari ini Indonesia menghadapi banyak problem. Ia melihat bahwa saat ini Indonesia menghadapi kemiskinan struktural. “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup”, katanya. Ia juga menambahkan bahwa kemiskinan struktural juga terjadi di sektor pekerjaan dan kemiskinan regional. Seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. “Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai”, ucapnya. Dengan diselenggarakannya acara ini, diharapkan muncul rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan oleh berbagai pihak, mendukung terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global pada 2045.
Refleksi Awal Tahun PSIB UMM, Membedah Strategi Percepatan Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh : Roudhotul Mufarikha Mahasiswa semester 5 Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) Universitas Muhammadiyah Malang Kota Malang kerap dibanggakan sebagai kota kreatif. Julukan itu tidak lahir tanpa dasar. Sejalan dengan semangat Tri Bina Cita Kota Malang, potensi kota ini sejatinya ditopang oleh kampus-kampus yang melahirkan talenta muda, komunitas seni dan digital yang dinamis, serta geliat ekonomi kreatif yang digerakkan generasi muda. Kehadiran Malang Creative Center (MCC) bahkan kerap dipromosikan sebagai simbol keseriusan pemerintah kota dalam membangun ekosistem kreatif. Namun, di balik kenyataan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar di kalangan pelaku, apakah Malang benar-benar sedang membangun industri kreatif, atau sekadar merawat citra kota kreatif. Secara potensi, Kota Malang berada pada posisi yang sangat strategis. Dengan lebih dari 72 perguruan tinggi, 123 SMA/SMK, serta 125 lembaga pendidikan nonformal, Malang lahirkan ribuan talenta muda setiap tahun yang menjadi motor penggerak sektor kreatif. Pemerintah kota mencatat ada 142 komunitas media art, 30 studio game, 40 start-up digital, 50 studio desain komunikasi visual, serta puluhan ruang kreatif dan lembaga pendanaan yang aktif berkolaborasi di ekosistem kreatif kota ini. Malang Creative Center (MCC), yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Malang, telah menjadi ruang utama aktivitas kreatif. Sejak awal pembukaan hingga November 2025, tercatat lebih dari 13.958 event kreatif yang diadakan, melibatkan 2.867 pelaku ekonomi kreatif dan memberi manfaat bagi lebih dari 708 ribu orang, termasuk pelatihan, diskusi, pameran, dan kolaborasi lintas disiplin. Angka-angka ini menunjukkan bahwa aktivitas kreatif di Kota Malang hidup dan penuh dinamika. Namun, hidupnya aktivitas tersebut tidak selalu berarti kuatnya sebuah industri. Kenyatannya, masih banyak pelaku kreatif masih beroperasi dalam skala kecil dan rapuh. Kegiatan sering kali bersifat temporer berbasis event, festival, atau program jangka pendek. Setelah acara usai, tidak sedikit dari mereka yang kembali berjuang dengan persoalan klasik seperti keterbatasan modal, akses pasar yang sempit, dan minimnya pendampingan usaha. Dukungan pemerintah kota sejauh ini memang terlihat, tetapi cenderung belum menyentuh akar persoalan. Pembangunan gedung kreatif dan penyelenggaraan event sering kali menjadi wajah utama kebijakan ekonomi kreatif. Namun, aspek krusial seperti pembiayaan berkelanjutan, perlindungan hak cipta, serta akses distribusi produk kreatif masih berjalan lambat. Banyak pelaku kreatif mengaku kesulitan mengakses skema pendanaan formal karena model usaha mereka tidak berbasis aset fisik sehingga tidak memenuhi standar perbankan konvensional. Masalah lain yang tak kalah penting adalah lemahnya hilirisasi karya di Malang. Kota ini dikenal produktif secara ide terutama di lingkungan kampus namun belum kuat dalam mengubah ide menjadi nilai ekonomi nyata. Banyak karya mahasiswa atau komunitas kreatif hanya berputar di lingkaran kampus atau komunitas, berhenti pada pameran dan portofolio, tanpa koneksi industri yang jelas. Kondisi ini diperparah oleh belum optimalnya basis data ekonomi kreatif. Di tengah potensi besar tersebut, hingga kini pemetaan pelaku industri kreatif secara komprehensif mulai dari skala usaha, kontribusi ekonomi, hingga tantangan per subsektor masih terbatas. Akibatnya, kebijakan yang lahir kerap bersifat umum tanpa benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Padahal, subsektor kreatif seperti film, games, kuliner, dan kriya memiliki karakter, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda. Mirisnya, banyak kemajuan ekosistem kreatif Malang yang justru lahir dari inisiatif komunitas dan kampus. Inkubator bisnis, pameran alternatif, hingga kolaborasi lintas disiplin sering digerakkan secara oleh anak muda dengan sumber daya terbatas. Peran pemerintah sering kali hadir di tahap akhir sebagai fasilitator acara, bukan sebagai perancang sistem kebijakan jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa kekuatan kreatif Malang tumbuh dari bawah, sementara kebijakan dari atas belum sepenuhnya mengikuti ritme tersebut. Jika Kota Malang ingin melangkah lebih jauh dari sekadar kota kreatif secara simbolik, maka pendekatan kebijakan harus berubah. Pertama, pemerintah kota perlu memperkuat skema pembiayaan kreatif yang adaptif, seperti dana bergulir, hibah berbasis proyek berkelanjutan, atau kemitraan dengan investor yang memahami karakter industri kreatif. Akses modal tidak boleh hanya dinikmati pelaku yang sudah mapan. Kedua, pembangunan infrastruktur harus diarahkan pada ruang produksi, bukan hanya ruang pamer. Studio bersama, makerspace, laboratorium digital, dan fasilitas produksi yang terjangkau akan membantu pelaku kreatif naik kelas dari sekadar komunitas menjadi industri. Ketiga, pemerintah perlu membangun basis data ekonomi kreatif yang terintegrasi agar kebijakan benar-benar berbasis bukti, bukan asumsi. Terakhir, status dan branding kota kreatif seharusnya dimanfaatkan untuk membuka akses pasar yang lebih luas. Promosi produk kreatif Malang ke tingkat nasional dan global harus menjadi agenda serius, bukan sekadar jargon. Tanpa itu, kreativitas akan terus berputar di ruang lokal yang sempit. Kota Malang memiliki semua modal untuk menjadi kota kreatif yang kuat. Adanya sumber daya manusia, ide, dan energi muda menjadi modal besar. Yang masih kurang adalah keberanian kebijakan untuk berpihak secara nyata. Jika tidak segera dibenahi, potensi besar itu akan terus berjalan di tempat ramai aktivitas, tetapi minim dampak. Karena sejatinya Kota Kreatif diukur dari dampak, bukan dari seberapa sering kreativitas dipamerkan.
Kreator Digital Antara Jam Kerja, Prestise dan Penghasilan yang Tidak Sebanding

SUARAMALANG.COM–Dimasa sekarang semua orang ingin menjadi konten kreator, semua ingin dikenal, viral di sosial media dan cerita sukses di media sosial. Namun sayangnya kenyataannya berbeda, dibalik layar banyak kreator bekerja setiap hari tanpa kepastian penghasilan. Platform tumbuh dengan cepat dan mengahruskan para Kreator menyesuaikan diri terus. Realita yang terjadi di lapangan yang sering dialami pada industri kreatif digital Indonesia ada pada sistem platform yang menuntut produktivitas tinggi tanpa memberi rasa aman bagi kreator sehingga Kreator diperlakukan seolah oleh menjadi sebuah mesin konten. Ada beberapa poin penting disini, pertama, tekanan unggah konten hadir tanpa berhenti. Kreator diharuskan untuk bangun dengan pikiran yang sama setiap hari. Harus unggah hari ini, Takut tertinggal, Takut dilupakan algoritma, Sekali berhenti, jangkauan turun drastis. Banyak kreator bekerja dari pagi sampai malam. Delapan jam tidak pernah cukup. Tidak ada jam pulang. Tidak ada hari libur. Kerja terasa bebas, tapi sebenarnya terikat. Kedua, penghasilan bergerak tanpa pola yang bisa dipahami. Satu video bisa meledak dan memberi harapan. Puluhan video berikutnya sepi dan tidak menghasilkan apa apa. Kreator tidak tahu apa yang salah. Konten sama. Usaha sama, hasil berubah. Platform tidak memberi penjelasan yang masuk akal. Ketidakpastian ini memaksa kreator terus mencoba, terus memproduksi, meski lelah. Ketiga, kelelahan mental dianggap risiko pribadi. Kreator harus selalu tampil menarik. Wajah boleh lelah, konten tidak boleh turun. Angka tayangan dan komentar menjadi penentu suasana hati. Saat angka turun, rasa gagal muncul. Saat respons negatif datang, tekanan bertambah. Sistem tidak menyediakan ruang istirahat. Tidak ada jeda aman untuk berhenti tanpa dihukum penurunan jangkauan. Keempat, kreator tidak benar benar memiliki audiens. Pengikut ada, tapi kendali tidak di tangan kreator. Semua data dikuasai platform.Ketika akun dibatasi atau ditutup, seluruh kerja bertahun tahun bisa hilang dalam satu hari. Tidak ada penjelasan yang jelas. Proses banding sering tidak dijawab. Kreator kehilangan identitas digital dan sumber penghasilan sekaligus. Kelima, negara hadir lebih banyak lewat kata kata. Pemerintah memuji industri kreatif dalam pidato dan kampanye. Di level kebijakan, kreator dibiarkan berjalan sendiri. Tidak ada perlindungan pendapatan minimum. Tidak ada pengakuan sebagai pekerja digital. Kreator diposisikan sebagai individu mandiri, padahal mereka berada dalam sistem yang sangat terstruktur dan timpang. Industri kreatif digital seharusnya berdiri di atas kerja manusia, bukan mengurasnya. Kreator bukan sekadar pengisi linimasa. Mereka pekerja yang menggerakkan trafik, iklan, dan keuntungan platform. Tanpa kreator, ekosistem digital tidak berjalan. Platform perlu membuka cara kerja sistemnya. Kreator berhak tahu alasan jangkauan turun dan pendapatan berubah. Transparansi algoritma memberi kepastian kerja. Platform juga perlu menetapkan batas produktivitas yang sehat. Insentif tidak boleh hanya berbasis kuantitas unggahan. Kualitas dan keberlanjutan harus dihitung. SKEMA MONETISASI HARUS DIBENAHI Pembagian pendapatan harus lebih proporsional. Kreator kecil perlu akses monetisasi sejak awal, bukan setelah mencapai angka tertentu. Pendapatan dasar berbasis jam tayang atau kontribusi konten bisa menjadi opsi realistis. Negara harus hadir nyata. Kreator perlu diakui sebagai pekerja kreatif digital. Aturan soal transparansi platform dan mekanisme pengaduan harus jelas. Akses jaminan sosial dan perlindungan pendapatan perlu dibuka. Pasalnya, ekosistem ini terus dibiarkan, industri kreatif digital akan melahirkan generasi pekerja lelah tanpa kepastian. Kreativitas tidak tumbuh dalam tekanan terus menerus. Industri ini hanya bisa bertahan jika manusia di dalamnya diperlakukan secara adil. Penulis : Aji Hikmal, Mahasiswa FISIP Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang
Wamendiktisaintek Dorong Kesinambungan Antara Nilai dan Budaya di PTMA

MALANG, Suara Muhammadiyah – Kesinambungan nilai dan budaya organisasi kampus menjadi fondasi utama dalam menghadapi dinamika. Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., selaku Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), saat memberikan pengarahan kepada jajaran dosen UMM di Aula BAU, Sabtu (10/1). Fauzan menekankan bahwa kekuatan institusi pendidikan tinggi tidak semata bertumpu pada kebijakan formal, tetapi juga pada proses kesinambungan nilai lintas generasi. Proses tersebut menjaga spirit, etos kerja, dan cara beraktivitas sivitas akademika agar tetap selaras dengan cita-cita institusi. “Proses sambung cerita dan sambung nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan persaingan perguruan tinggi,” ujarnya. Ia juga menyinggung kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam kebijakan tersebut, UMM masuk dalam klaster mandiri. Ke depan, perguruan tinggi swasta pada klaster ini akan diarahkan menjadi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) unggul mandiri, dengan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan program studi serta akreditasi. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat transformasi dan meningkatkan daya saing PTS yang telah mapan secara tata kelola. “Program khusus untuk PTS klaster mandiri sedang kami desain agar ke depan memiliki kewenangan yang lebih luwes dan berdampak,” jelasnya. Selain itu, Fauzan mengapresiasi iklim akademik dan corporate culture UMM yang dinilainya kondusif, stabil, dan minim konflik. Menurutnya, budaya kampus yang nyaman dan kolaboratif justru menjadi pembeda utama dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter UMM yang lebih menekankan substansi dan keberlanjutan, bukan sekadar pencapaian simbolik. Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan bahwa program studi merupakan mesin utama perguruan tinggi. Ketua program studi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab atas keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta dampak keilmuan bagi masyarakat. Ia pun mendorong perubahan cara pandang kampus, dari sekadar tempat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi, sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak yang tengah digencarkan pemerintah. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa arahan yang disampaikan Sekretaris BPH sekaligus Wamendiktisaintek itu menjadi penguat langkah strategis UMM dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola kampus. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Arahan ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus bergerak maju dengan pijakan nilai yang kuat,” pungkasnya. (diko)
Peta Kampus Terbaik di Jawa Timur 2026 versi Webometrics Klik untuk baca: https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/Zke1naAk-peta-kampus-terbaik-di-jawa-timur-2026-versi-webometrics Peta Kampus Terbaik di Jawa Timur 2026 versi Webometrics

MEDCOM.ID – Jakarta: Mencari dan memilih perguruan tinggi saat ini semakin mudah. Kamu bisa memanfaatkan data pemeringkatan sebagai rujukan informasi. Dengan data pemeringkatan kamu bisa melihat kualitas dan daya saing sebuah kampus, baik di tingkat nasional maupun global. Salah satu pemeringkatan internasional terbaru dirilis oleh Webometrics. Lembaga pemeringkatan internasional itu baru saja merilis pemeringkatan edisi Januari 2026. Pada edisi Januari 2026, Webometrics kembali merilis pemeringkatan universitas dunia, termasuk perguruan tinggi di Indonesia. Hasil pemeringkatan tersebut memberikan gambaran tentang peta persaingan kampus nasional, sekaligus menunjukkan daerah-daerah yang memiliki kontribusi kuat dalam pengembangan pendidikan tinggi. Di Provinsi Jawa Timur, sejumlah perguruan tinggi tampil menonjol dan masuk jajaran kampus terbaik nasional versi Webometrics. Kampus-kampus tersebut tersebar di berbagai kota, mulai dari Surabaya, Malang hingga Madura. Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember tercatat sebagai kampus dengan peringkat dunia tertinggi di Jawa Timur. Ketiganya menunjukkan konsistensi dalam aspek riset, visibilitas akademik, serta kontribusi ilmiah yang berdampak luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain perguruan tinggi besar, sejumlah kampus kecil di Jawa Timur juga mencatatkan performa positif. Hal ini menunjukkan ekosistem pendidikan tinggi di provinsi ini terus berkembang dan tidak hanya bertumpu pada segelintir institusi. Pemeringkatan Webometrics ini dapat menjadi bahan pertimbangan awal bagi calon mahasiswa dan orang tua dalam memilih perguruan tinggi. Nah, apa saja kampus terbaik di Jawa Timur versi Webometrics edisi Januari 2026? Berikut daftarnya: 20 kampus terbaik di Jatim versi Webomatrics edisi Januari 2026 1. Universitas Airlangga World Rank: 590 Impact Rank: 694 Opennes Rank: 27720 Excellence Rank: 1056 2. Universitas Brawijaya World Rank: 747 Impact Rank: 572 Opennes Rank: 822 Excellence Rank: 1905 3. Institut Teknologi Sepuluh Nopember World Rank: 888 Impact Rank: 932 Opennes Rank: 1119 Excellence Rank: 1892 4. Universitas Negeri Malang World Rank: 951 Impact Rank: 1005 Opennes Rank: 948 Excellence Rank: 2438 5. Universitas Islam Malang World Rank: 1913 Impact Rank: 1409 Opennes Rank: 1960 6. Universitas Jember World Rank: 1423 Impact Rank: 1070 Opennes Rank: 1276 Excellence Rank: 3654 7. Universitas Negeri Surabaya World Rank: 1340 Impact Rank: 1523 Opennes Rank: 1153 Excellence Rank: 3981 8. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya World Rank: 1985 Impact Rank: 2481 Opennes Rank: 2906 Excellence Rank: 5115 9. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya World Rank: 1921 Impact Rank: 3793 Opennes Rank: 2629 Excellence Rank: 4728 10. Universitas Muhammadiyah Malang World Rank: 1291 Impact Rank: 904 Opennes Rank: 1526 Excellence Rank: 3634 11. Universitas Surabaya World Rank: 2063 Impact Rank: 5313 Opennes Rank: 2262 Excellence Rank: 4191 12. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya World Rank: 2112 Impact Rank: 3526 Opennes Rank: 2756 Excellence Rank: 4730 13. Universitas Muhammadiyah Surabaya World Rank: 2290 Impact Rank: 2371 Opennes Rank: 2674 Excellence Rank: 5984 14. Petra Christian University World Rank: 1974 Impact Rank: 2977 Opennes Rank: 28811 Excellence Rank: 4575 15. Universitas Katolik Widya Karya Malang World Rank: 2415 Impact Rank: 3349 Opennes Rank: 30112 Excellence Rank: 4871 16. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya World Rank: 2611 Impact Rank: 5561 Opennes Rank: 29862 Excellence Rank: 5971 17. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur World Rank: 1738 Impact Rank: 1844 Opennes Rank: 2087 Excellence Rank: 4421 18. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang World Rank: 1300 Impact Rank: 957 Opennes Rank: 29323 Excellence Rank: 4053 19. Universitas Trunojoyo Madura World Rank: 1689 Impact Rank: 1751 Opennes Rank: 3487 Excellence Rank: 4512 20. Universitas Dr Soetomo World Rank: 2746 Impact Rank: 4012 Opennes Rank: 32210 Excellence Rank: 5231. Nah itulah 20 universitas terbaik di Jawa Timur berdasarkan pemeringkatan Webometrics edisi Januari 2026. Ada incaran kamu?
Mahasiswa BSI Modern Universitas Muhammadiyah Malang Gelar Pentas Teater, Pahami Artistik Sutradara

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pementasan teater selama dua hari, 11–12 Januari 2026 di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM. Pertunjukan itu merupakan luaran mata kuliah Penyutradaraan yang menampilkan dua naskah dalam dua hari berturut-turut. Hari pertama menghadirkan “Lakon Elegi Musim Panas” karya Chandra Kudapawarna. Disusul hari kedua dengan “Orang Kasar” karya Anton Chekov saduran W.S. Rendra. Keduanya menjadi ruang eksplorasi penyutradaraan, keaktoran, dan pembacaan teks drama oleh mahasiswa. Dr. Hari Sunaryo, M.Si., selaku pembina mata kuliah penyutradaraan menilai pementasan ini menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa dalam memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara. Ia menyebut bahwa kedua naskah memiliki tantangan tersendiri yang menuntut kepekaan dan kedewasaan dalam mengolah adegan. “Saya yang mendampingi adik-adik ini berproses sejak awal membatin bahwa naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan yang terlibat. Jika tidak seksama sebagai sutradara dan pelaku, ada banyak hal yang bisa masuk dalam wilayah sensor. Karena itu, penting untuk tetap mengusung nilai-nilai. Sutradara dan UMM memiliki filter yang lebih presisi,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Prodi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd., mengapresiasi proses panjang yang dijalani mahasiswa selama produksi. Menurutnya, dinamika suka dan duka selama latihan justru memperkuat kualitas permainan aktor di atas panggung. Ia juga berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif, karena pertunjukan semacam ini sayang jika dilewatkan dan memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa ketika lulus, khususnya dalam dunia kerja yang berkaitan dengan akting dan keaktoran. “Banyak proses yang mereka jalani selama produksi, ada suka dan dukanya. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga imajinasi penonton dibuat sulit menebak alur ceritanya. Plot twist yang dihadirkan bahkan memancing reaksi jengkel penonton, dan itu artinya para aktor berhasil menyesuaikan diri dalam mendalami setiap perannya,” tuturnya. Melalui dua lakon dengan konflik yang kontras, pertunjukan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk kepekaan dan profesionalitas mahasiswa. Perbedaan pendekatan penyutradaraan dan keaktoran pada masing-masing lakon menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membaca konflik serta mengolah emosi di atas panggung. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi artistik dan profesional setelah lulus. (imm/udi)
Praktikum Matakuliah Praktik Kewirausahaan Prodi PGSD Gelar Bazar Kewirausahaan

Praktikum Matakuliah Praktik Kewirausahaan Prodi PGSD Gelar Bazar Kewirausahaan LIMADETIK.COM, MALANG — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang melalui Laboratorium Ke-SD-an menyelenggarakan Bazar Kewirausahaan Mahasiswa sebagai wadah pengembangan jiwa kewirausahaan dan kreativitas mahasiswa. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 8 Januari 2026. Kegiatan tersebut bertempat di Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan diikuti oleh seluruh Mahasiswa PGSD UMM angkatan 2022 yang terbagi menjadi 19 kelompok. Bazar kewirausahaan ini menampilkan berbagai produk makanan dan minuman hasil karya mahasiswa. Kegiatan ini dirancang untuk melatih mahasiswa dalam mengembangkan ide usaha, mengelola produk, serta mempraktikkan strategi pemasaran secara langsung kepada konsumen. Sejumlah produk karya mahasiswa Praktik Matakuliah Bazar Kewirausahaan Dosen matakuliah Praktik Kewirausahaan, Bahrul Ulum, M. Pd. menyatakan bahwa, kegiatan Bazar Kewirausahaan ini merupakan bagian dari praktik Mata Kuliah Praktik Kewirausahaan yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa PGSD dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan sejak di bangku kuliah. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar merancang produk, mengelola usaha sederhana, bekerja dalam tim, serta berinteraksi langsung dengan konsumen.” kata Bahrul Ulum, M.Pd. Menurut Bahrul Ulum, bazar ini lebih dari sekadar kegiatan jual beli, melainkan menjadi media pembelajaran kontekstual untuk menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan tanggung jawab mahasiswa. Mahasiswa PGSD UMM jajakan hasil karya praktik kewirausahaan “Tentu kegiatan ini bagian dari pengalaman para Mahasiswa PGSD untuk bisa dipraktikan di kemudian hari ketika nanti kembali dan berkumpul dengan masyarakat” imbuhnya. Sementara itu, Kalab KeSD-an, Ima Wahyu Putri Utami, M.Pd, berharap agar kegiatan ini menjadi sebuah pengalaman bagi para Mahasiswa, khususnya Mahasiswa PGSD Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sehingga nanti bisa menjadi tambahan pengetahuan. “Kami berharap pengalaman ini dapat membekali mahasiswa PGSD dengan keterampilan kewirausahaan yang relevan, baik untuk pengembangan diri maupun sebagai bekal menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan bernilai ekonomi di sekolah dasar.” pungkasnya.
Praktik Matakuliah Inovasi Pembelalajaran Digital Prodi PGSD UMM Gelar Pameran Pembelajaran Digital: Merancang Pendidikan, Mengubah Peradaban

LIMADETIK.COM, MALANG — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Pameran Pembelajaran Digital bertema “Merancang Pendidikan, Mengubah Peradaban” yang dilaksanakan pada Kamis, 8 Januari 2026, bertempat di Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Mahasiswa PGSD UMM angkatan 2022 yang terbagi menjadi 15 kelompok. Pameran ini merupakan agenda akademik yang bertujuan untuk menampilkan karya dan inovasi pembelajaran digital mahasiswa PGSD UMM sebagai hasil pengembangan teknologi dalam pendidikan. Berbagai produk pembelajaran digital dipamerkan, mulai dari media pembelajaran interaktif, konten edukatif berbasis teknologi, hingga inovasi pembelajaran kreatif yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Melalui kegiatan ini, Laboratorium Ke-SD-an PGSD UMM sebagai perpanjangan tangan Kepala Laboratorium KeSD-an, Ima Wahyu Putri Utami mengungkapkan bahwa, pameran Pembelajaran Digital ini merupakan bagian dari praktik nyata Mata Kuliah Inovasi Pembelajaran Digital yang dirancang untuk menumbuhkan kreativitas, daya kritis, dan kepekaan mahasiswa terhadap tantangan pendidikan abad ke-21. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa PGSD UMM tidak hanya belajar menguasai teknologi, tetapi juga diajak merancang pembelajaran digital yang bermakna, kontekstual, dan berpihak pada kebutuhan peserta didik sekolah dasar.” kata kaprodi Prodi PGSD, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M. Pd., M. Pd. Ia menegaskan, lebih dari sekadar pameran karya, kegiatan ini mencerminkan komitmen Prodi PGSD UMM dalam mempersiapkan calon guru yang adaptif, inovatif, dan memiliki visi peradaban. “Kami meyakini bahwa pendidikan digital yang dirancang dengan nilai kemanusiaan, kreativitas, dan karakter akan menjadi salah satu kunci dalam mengubah wajah pendidikan dasar dan membangun peradaban yang lebih berkemajuan.” Imbuh Dr. Beti Istanti Suwandayani.
Wamendiktisaintek Soroti Klasterisasi Kampus, Tekankan Penguatan Nilai di UMM

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menekankan pentingnya kesinambungan nilai dan budaya organisasi sebagai fondasi utama daya tahan perguruan tinggi. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan pengarahan kepada jajaran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Aula BAU, Sabtu (10/1/2026). Menurut Fauzan, kekuatan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan formal atau capaian administratif, tetapi juga oleh kemampuan sivitas akademika menjaga nilai, etos kerja, dan tradisi institusional lintas generasi. “Yang membuat kampus bertahan dan berkembang adalah proses sambung nilai dan sambung cerita. Di situlah ruh organisasi dijaga,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Fauzan juga mengulas kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang tengah diterapkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ia menyebut UMM termasuk dalam klaster mandiri, kelompok perguruan tinggi dengan tingkat kemandirian tata kelola yang dinilai telah mapan. Ke depan, perguruan tinggi swasta (PTS) di klaster ini akan diarahkan menjadi PTS unggul mandiri, dengan kewenangan yang lebih luas, termasuk dalam pengelolaan program studi dan proses akreditasi. “Kami sedang merancang program khusus agar PTS klaster mandiri memiliki ruang gerak yang lebih luwes dan berdampak,” kata Fauzan. Ia menilai, kebijakan tersebut diharapkan mampu mempercepat transformasi dan meningkatkan daya saing perguruan tinggi swasta yang telah memiliki stabilitas organisasi. Fauzan juga mengapresiasi iklim akademik dan budaya kerja di UMM yang dinilainya relatif kondusif dan minim konflik. Menurutnya, stabilitas dan kenyamanan kerja justru menjadi pembeda penting di tengah persaingan antarperguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Dalam arahannya, ia menegaskan peran strategis program studi sebagai mesin utama perguruan tinggi. Ketua program studi, kata dia, tidak sekadar administrator, melainkan pemimpin akademik yang bertanggung jawab atas keberlanjutan keilmuan dan relevansi dampaknya bagi masyarakat. “Perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai tempat transfer ilmu. Ia harus hadir sebagai institusi pemberi solusi,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan arahan Wamendiktisaintek tersebut sejalan dengan langkah strategis kampus dalam menjaga konsistensi nilai dan mutu tata kelola. Ia menegaskan UMM berkomitmen beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa kehilangan karakter institusional. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat dan produktif, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat,” kata Nazaruddin.
Praktik Laboratorium KeSD-an PGSD UMM, Mahasiswa Sajikan Senam Ceria dan Olahraga Tradisional

Malang, JurnalPost.com — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan Praktik Matakuliah Kajian Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) bertajuk “PGSD Active Day: Senam Ceria dan Olahraga Tradisional Nusantara”, yang berlangsung pada Jumat, 9 Januari 2026, bertempat di Atrium Begawan UMM. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran kontekstual pada mata kuliah Kajian Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, yang bertujuan menguatkan pemahaman mahasiswa terhadap pembelajaran PJOK yang aktif, menyenangkan, dan berakar pada kearifan lokal. Peserta kegiatan melibatkan mahasiswa PGSD angkatan 2023 yang menempuh matakuliah Kahian Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Serta mahasiswa angkatan 2024 yang sedang menempuh mata kuliah Inovasi Pembelajaran PJOK. Sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik di Laboratorium KeSD-an, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kompetensi mahasiswa dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran PJOK yang aktif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik sekolah dasar. Beragam aktivitas ditampilkan dalam kegiatan ini, mulai dari senam ceria hingga berbagai permainan olahraga tradisional Nusantara. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga sebagai perancang dan pelaksana kegiatan, sehingga mampu mengintegrasikan aspek pedagogik, kreativitas, dan nilai budaya dalam praktik pembelajaran PJOK di sekolah dasar. Dosen pengampu mata kuliah, Abd Muzakki, M.Pd. menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membekali calon guru SD dengan pengalaman autentik dalam mengelola pembelajaran PJOK yang inovatif dan inklusif. Melalui praktik langsung, mahasiswa diharapkan mampu memahami pentingnya aktivitas fisik yang menyenangkan serta relevan dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar. Sementara itu, Kaprodi PGSD UMM, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd., menyampaikan bahwa PGSD Active Day menjadi wujud komitmen program studi dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan. “Kegiatan ini mencerminkan visi PGSD UMM dalam menyiapkan calon guru yang sehat, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya bangsa,” ujarnya. Dukungan terhadap kegiatan ini juga disampaikan oleh Kepala Laboratorium KeSD-an PGSD UMM, Ima Wahyu Putri Utami, M.Pd., yang menilai bahwa praktik pembelajaran berbasis aktivitas fisik dan budaya lokal merupakan langkah strategis dalam membangun kompetensi profesional mahasiswa PGSD. Menurutnya, kegiatan semacam ini penting untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan jasmani yang holistik dan bermakna bagi siswa sekolah dasar. Melalui PGSD Active Day, Prodi PGSD UMM berharap mahasiswa semakin siap menjadi pendidik yang mampu menghadirkan pembelajaran PJOK yang aktif, inovatif, serta berkontribusi pada penguatan karakter dan kesehatan peserta didik sejak usia dini.