Agribisnis UMM Siap Cetak Eksportir Muda Handal Hingga Tembus Pasar Mancanegara

Merespons tingginya permintaan pasar global yang kerap terkendala minimnya SDM andal, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat ‘pabrik’ pencetak eksportir mudanya. Memasuki persiapan tahun 2026, UMM memastikan Kelas Center of Excellence (CoE) Profesional Ekspor Agribisnis akan diisi dengan kurikulum yang langsung menghadirkan para praktisi ekspor dunia. Inisiatif ini hadir sebagai respons strategis atas besarnya potensi agribisnis Indonesia. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir utama di Asia Tenggara untuk komoditas unggulan seperti kopi, rempah, minyak nabati, hingga pangan olahan. Sayangnya, besarnya peluang ini kerap terbentur kendala teknis. Banyak pelaku usaha kesulitan dalam dokumentasi perdagangan, pemenuhan standar mutu, logistik, hingga segmentasi pasar. Di sisi lain, ketersediaan tenaga kerja terampil yang benar-benar memahami ekosistem ekspor agrokompleks masih sangat minim. Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, M.Sc., menegaskan bahwa pembukaan CoE pada 2026 adalah bukti konsistensi kampus dalam menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan realitas industri ekspor. “Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran semata, tetapi menempatkan mahasiswa langsung pada konteks rantai nilai global (global value chain). Di sini, mereka belajar langsung dari grantor industri yang sehari-hari berhadapan dengan buyer luar negeri,” ujar Zul CoE Ekspor edisi 2026 ini akan menawarkan kurikulum komprehensif yang memadukan tiga elemen vital: pembelajaran akademik berbasis analisis, pelatihan praktis oleh pelaku ekspor, dan analisis penetrasi pasar internasional. Melalui skema ini, mahasiswa ditargetkan menguasai seluruh alur ekspor, mulai dari memetakan potensi komoditas, standardisasi produk, aspek legalitas, hingga teknis pengiriman. Untuk menjamin kualitas lulusan, Agribisnis UMM menggandeng mitra dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang telah memiliki jam terbang tinggi di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Para praktisi dari sektor pangan olahan, kopi, hortikultura, dan turunan komoditas agro lainnya dijadwalkan hadir sebagai pengajar tamu sepanjang semester. Zul menambahkan, era agribisnis masa depan menuntut SDM yang peka terhadap isu-isu global modern. “Generasi eksportir muda ini tidak boleh hanya mengandalkan intuisi bisnis. Mereka harus menguasai riset pasar, strategi negosiasi, sertifikasi, hingga manajemen risiko global. Lebih jauh lagi, mereka harus paham tren ketertelusuran produk (traceability), keberlanjutan (sustainability), isu karbon, serta preferensi konsumen di tiap kawasan,” tambahnya. Kini, CoE Agribisnis UMM menjadi salah satu program primadona karena menawarkan output karier yang jelas. Program ini diproyeksikan mampu membantu perusahaan agro berekspansi ke pasar internasional melalui tenaga kerja andal, atau mendorong mahasiswa menjadi eksportir mandiri lewat inkubasi bisnis kampus. Dengan persiapan yang matang, tahun 2026 diprediksi menjadi momentum penting bagi angkatan keempat CoE ini untuk berperan aktif dalam transformasi ekspor agribisnis Indonesia. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Gelar Pentas Teater, Pahami Artistik Sutradara
Kehilangan Rasa Memanusiakan Manusia
Malang dan Paradoks Kota Kreatif
Menakar Arah Bangsa Menuju 2045, PSIB UMM Dorong Refleksi Kritis Indonesia Emas Admin JSN Admin JSN

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ketika awal tahun kerap dimaknai sebagai sekadar jeda rutinitas dan perayaan seremonial, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru memilih jalur berbeda. Awal 2026 dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk menakar arah masa depan bangsa melalui diskusi bertajuk “Refleksi Awal Tahun: Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”, yang digelar di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Senin (12/1/2026). Forum ini menjadi ruang refleksi kritis terhadap visi besar Indonesia Emas 2045 yang selama ini kerap digaungkan dalam wacana politik. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menegaskan bahwa pemilihan waktu di awal tahun bukan tanpa alasan. Menurutnya, refleksi sejak dini merupakan langkah proaktif untuk menawarkan inovasi dan koreksi arah pembangunan. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan. Ia adalah visi besar yang harus diuji secara akademik dan ditopang fondasi ilmiah yang kuat. Diskusi ini tidak berhenti pada wacana, tetapi akan kami rumuskan menjadi book chapter yang dapat menjadi rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis,” tegas Prof. Gonda. Diskusi kian menghangat saat Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan, menyampaikan peringatan keras terkait bonus demografi. Ia menyebut, peluang besar tersebut dapat berubah menjadi ancaman serius jika tidak diiringi pembangunan sumber daya manusia dan sektor kesehatan yang memadai. “Bonus demografi bukan jaminan otomatis menuju negara maju. Jika pendidikan dan kesehatan diabaikan, justru akan menjadi bencana pembangunan. Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai dengan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas SDM, bukan sekadar jumlah penduduk usia produktif,” ujarnya. Kekhawatiran itu diperkuat oleh paparan Abdus Salam, M.Si., pakar sosiologi politik UMM. Ia mengajak peserta melihat sisi gelap pembangunan yang kerap luput dari jargon kemajuan, yakni kemiskinan struktural. Menurutnya, persoalan ini masih nyata dan berlapis, mulai dari sektor agraria hingga wilayah perkotaan. “Kita menghadapi kemiskinan agraria ketika petani kehilangan akses lahan, serta kemiskinan urban akibat struktur industri yang lemah sehingga masyarakat bergantung pada sektor informal. Ini pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan jika Indonesia benar-benar ingin melangkah menuju kemajuan,” paparnya. Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang—mulai dari aktivis mahasiswa, akademisi, hingga pegiat literasi—ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengawal isu-isu strategis kebangsaan. PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam merumuskan peta jalan Indonesia menuju masa depan yang adil, berkelanjutan, dan berkemajuan. (ANS)
UMM Cetak Garda Depan Penggerak Ekosistem Halal Nasional

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya membangun industri halal nasional tidak bisa dilakukan secara parsial. Dengan indeks literasi ekonomi syariah Indonesia yang masih berada di bawah 50 persen, dibutuhkan sinergi lintas sektor sekaligus penguatan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil progresif dengan menjadikan mahasiswa sebagai garda terdepan penggerak ekosistem halal. Melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal), UMM secara konsisten mengintegrasikan kompetensi halal ke dalam kurikulum lintas program studi. Mulai dari Teknologi Pangan, Agribisnis, Ekonomi Syariah, hingga Fakultas Hukum, mahasiswa dibekali pemahaman dan keterampilan halal yang aplikatif serta relevan dengan kebutuhan industri. Ketua PS P3 Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, menegaskan bahwa industri halal bertumpu pada empat pilar utama, yakni produk barang dan jasa, infrastruktur, SDM, serta dukungan regulasi pemerintah. Karena itu, penguatan kompetensi halal di bangku kuliah menjadi investasi strategis bagi masa depan lulusan. “Kompetensi halal saat ini membuka peluang karier yang sangat luas. Salah satunya dalam mendukung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Dapur-dapur MBG bukan hanya membutuhkan ahli gizi, tetapi juga SDM yang memahami dan mampu menjamin kehalalan proses produksinya,” ujar Prof. Elfi kepada tim Humas UMM, 12 Januari 2026 lalu. Ia mencontohkan keberhasilan Iffi Amalia, S.T.P., alumni Teknologi Pangan UMM yang setelah hampir dua tahun magang di tim halal UMM, kini dipercaya menjadi Ahli Gizi dapur MBG di Banyuwangi. Keunggulannya terletak pada keahlian ganda, yakni pemahaman gizi sekaligus sertifikasi halal. PS P3 Halal UMM sendiri tercatat sebagai pusat kajian pangan aman halal pertama di Indonesia sejak berdiri pada 2008. Melalui program Pendamping Proses Produk Halal (P3H), mahasiswa diterjunkan langsung mendampingi pelaku UMKM dalam proses sertifikasi halal. “Mahasiswa mendapatkan empat manfaat sekaligus. Pertama, kompetensi teknis halal. Kedua, konversi nilai A tanpa harus mengikuti UAS jika berhasil meloloskan sertifikat halal UMKM. Ketiga, percepatan kelulusan karena laporan pendampingan dapat dijadikan skripsi. Keempat, ini menjadi amal jariyah karena membantu UMKM mendapatkan sertifikasi halal secara gratis,” jelas Prof. Elfi. Dampak program ini terbukti nyata. Dalam waktu hanya empat minggu, dari 90 mahasiswa yang terlibat, sebanyak 14 mahasiswa berhasil menuntaskan tugas terstruktur dan mengawal terbitnya sertifikat halal bagi sejumlah produk, seperti Minuman Bu Neneng (Sengkaling), Bumbu Pecel Bu Romlah (Singosari), hingga Dimsum Littlebite. “Mahasiswa adalah agent of change. Dengan bekal kompetensi halal ini, mereka tidak hanya siap terjun ke dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi penggerak gaya hidup halal yang inklusif di tengah masyarakat,” pungkasnya. (ANS)
Melalui Praktik Laboratorium KeSD-an, PGSD UMM Perkuat Karakter dan Kepemimpinan Mahasiswa Calon Guru SD

Malang, JurnalPost.com — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Kursus Mahir Dasar (KMD) Kepramukaan sebagai luaran Mata Kuliah Praktik Laboratorium KeSD-an bagi mahasiswa PGSD angkatan 2023. Kegiatan KMD ini diikuti oleh 110 mahasiswa dengan rincian 87 golongan siaga dan 23 golongan penggalang, serta dilatih dengan 25 pelatih maupun tenaga administrasi Kwarcab Kabupaten Malang Kegiatan KMD resmi dibuka pada 26 Desember 2025 bertempat di Aula Teknik GKB 3 UMM Kampus III, dan dibuka oleh Kaprodi PGSD UMM, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. Pembukaan ini menandai dimulainya rangkaian pendidikan dan pelatihan kepramukaan yang terintegrasi dengan pembelajaran praktik di Laboratorium KeSD-an. Pelaksanaan KMD terbagi dalam dua tahap, yaitu diklat ruang pada 26–28 Desember 2025 dan diklat lapang pada 29–31 Desember 2025. Seluruh rangkaian diklat lapang sekaligus upacara penutupan dilaksanakan di Lapangan Olahraga Taman Rekreasi Sengkaling, guna memberikan pengalaman kepramukaan yang aplikatif dan kontekstual bagi mahasiswa calon guru sekolah dasar. Kepala Pusdiklatcab Indarkila Kabupaten Malang, Kak Hj. Mamik Sumarni, S.Pd., menyampaikan bahwa “KMD merupakan tahapan penting dalam membekali calon pembina Pramuka dengan kompetensi kepemimpinan, keterampilan kepramukaan, serta nilai-nilai karakter yang relevan dengan dunia pendidikan dasar.” Upacara penutupan KMD dilaksanakan pada 31 Desember 2025, Kepala Laboratorium KeSD-an PGSD UMM, Ima Wahyu Putri Utami, M.Pd. Dalam amanatnya, disampaikan bahwa “KMD sebagai praktik Laboratorium KeSD-an diharapkan mampu memperkuat karakter, kemandirian, dan kesiapan mahasiswa PGSD sebagai calon guru sekaligus pembina Pramuka di sekolah dasar.” Kegiatan ini berada di bawah pendampingan dosen pengampu mata kuliah Kepramukaan PGSD UMM, yakni Tyas Deviana, M.Pd. dan Bustanol Arifin, M.Pd., yang secara intensif mengawal proses pendidikan dan pelatihan agar selaras dengan capaian pembelajaran lulusan PGSD. “Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Malang melaksanakan Kursus Mahir Dasar (KMD), sebagai bentuk kursus dan uji kompetensi sebagai Pembina Pramuka. Kegiatan KMD ini merupakan bentuk pengejawantahan ujian akhir pada mata kuliah praktik Kepramukaan.” Imbuh Tyas Melalui pelaksanaan KMD sebagai luaran Mata Kuliah Praktik Laboratorium KeSD-an, Prodi PGSD UMM menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi kepramukaan, kepemimpinan, dan karakter kebangsaan yang kuat.
UMM Cetak Garda Depan Ekosistem Halal

Reportasemalang – Membangun industri halal di Indonesia membutuhkan sinergi besar lintas sektor, mengingat indeks literasi ekonomi syariah nasional yang masih di bawah 50 persen. Merespons tantangan ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) melakukan terobosan strategis dengan menjadikan mahasiswa sebagai aktor utama dalam ekosistem halal. Ketua PS P3 Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, menegaskan bahwa industri halal mencakup empat elemen vital yakni barang dan jasa, infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), serta dukungan pemerintah. Oleh karena itu, UMM secara serius mengintegrasikan kurikulum halal ke dalam mata kuliah di berbagai prodi, mulai dari Teknologi Pangan, Agribisnis, Ekonomi Syari’ah, hingga Fakultas Hukum. Menurut Elfi, kompetensi halal kini membuka peluang karier yang sangat luas bagi lulusan UMM, termasuk dalam mendukung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Dapur-dapur MBG di seluruh Indonesia tidak hanya membutuhkan ahli gizi untuk menyusun menu, tetapi juga kompetensi penjaminan kehalalan proses produksi. “Kompetensi ini menjadi nilai tambah yang luar biasa. Alumni kami dari Teknologi Pangan kini banyak dicari karena memiliki keahlian ganda. Contohnya Iffi Amalia, S.T.P., alumni yang setelah hampir dua tahun magang di tim halal UMM, kini sukses diterima sebagai Ahli Gizi dapur MBG di Banyuwangi karena kemampuan sertifikasi halalnya,” ungkapnya 12 Janauri lalu pada tim humas UMM. Lebih lanjut, Prof. Elfi menjelaskan bahwa PS P3 Halal UMM yang merupakan pusat kajian pangan aman halal pertama di Indonesia sejak 2008 telah merancang skema integrasi yang menguntungkan mahasiswa. Melalui pelatihan Pendamping Proses Produk Halal (P3H), mahasiswa diterjunkan langsung membantu UMKM. “Mahasiswa kami mendapatkan empat manfaat sekaligus dari program ini. Pertama, kompetensi teknis halal. Kedua, konversi nilai A tanpa perlu ikut UAS jika berhasil meloloskan sertifikat halal UKM. Ketiga, lulus tepat waktu karena laporan pendampingan bisa dijadikan skripsi tanpa riset ulang yang memakan biaya. Dan keempat, ini menjadi amal jariyah karena membantu UMK mendapatkan sertifikasi gratis,” jelasnya Dampak program ini sangat nyata di lapangan. Dalam tempo empat minggu, dari 90 mahasiswa yang terlibat, 14 orang telah menuntaskan tugas terstruktur dan sukses mengawal penerbitan sertifikat halal bagi berbagai produk, seperti Minuman Bu Neneng (Sengkaling), Bumbu Pecel Bu Romlah (Singosari), hingga Dimsum Littlebite. “Mahasiswa adalah agent of change. Dengan bekal ini, mereka tidak hanya siap kerja, tetapi juga menjadi penggerak gaya hidup halal yang inklusif di masyarakat,” pungkasnya.(*)
Maknai Isra’ Mi’raj, Dosen PAI UMM Ungkap Shalat Adalah Kompas Kesadaran

Peringatan Isra Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan kembali arah hidup mahasiswa di tengah tekanan akademik. Namun sering kali tersimpan pesan penting yang jarang dibahas, yaitu bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme hidup manusia, termasuk bagi mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan kuat tentang bagaimana manusia menguatkan diri di tengah krisis. “Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana 14 Januari lalu saat diwawancara tim humas UMM. Ia menilai kondisi tersebut sangat relevan dengan realitas mahasiswa hari ini. Tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan mental sering kali tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang kerap diabaikan. Lebih lanjut, I’ana sapaan akrabnya melanjutkan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada satu ibadah yang ditetapkan di dalamnya, yaitu shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Itu menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelasnya. Lebih dari sekadar ritual, dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) itu memandang shalat sebagai sistem pengelolaan waktu yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat, katanya, membentuk pola hidup yang teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya. Dalam konteks mahasiswa yang sering terjebak pada kesibukan tanpa henti, shalat justru menjadi penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, tetapi membantu menjaga fokus dan ketenangan. Ia menambahkan, Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup. Dzuhur menjadi jeda untuk evaluasi aktivitas. Ashar menumbuhkan kesadaran bahwa waktu terbatas. Maghrib menjadi ruang refleksi. Dan Isya adalah saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Pola ini, menurutnya, membuat hidup menjadi lebih terarah meskipun ditengah kesibukan yang padat. Bagi mahasiswa, I’ana menganggap bahwa nilai Isra Mi’raj dan shalat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter. Isra Mi’raj memberi orientasi hidup, bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya. Terakhir, Ia berpesan kepada mahasiswa bahwa sholat harus menjadi kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, hal itu menjadi pengingat penting. Bahwa shalat, sebagaimana diajarkan melalui Isra Mi’raj, bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sistem yang membantu mahasiswa mengelola waktu, menjaga integritas, dan tetap berjalan pada arah yang benar. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah. Tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah,” pungkasnya.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Mahasiswa BSI UMM Pentaskan Dua Lakon Kontras dalam Teater Penyutradaraan, Angkat Isu Pengkhianatan dan Kesetiaan

HARIANCENDEKIA, MALANG – Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mementaskan dua lakon teater bertema kontras dalam mata kuliah Penyutradaraan pada 11–12 Januari 2026 di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM, sebagai bentuk luaran akademik sekaligus ruang eksplorasi artistik mahasiswa. Pementasan tersebut menghadirkan dua naskah berbeda dalam dua hari berturut-turut. Hari pertama menampilkan “Lakon Elegi Musim Panas” karya Chandra Kudapawarna, sementara hari kedua menyuguhkan “Orang Kasar” karya Anton Chekov yang disadur oleh W.S. Rendra. Pada hari pertama, “Lakon Elegi Musim Panas” mengangkat kisah Nikolas, seorang lelaki yang menjalin perselingkuhan dengan seorang perempuan demi menguasai hartanya. Hubungan tersebut ternyata merupakan bagian dari rencana yang ia susun bersama istrinya. Perempuan yang menjadi korban manipulasi itu akhirnya mengalami kebangkrutan sekaligus keterpurukan batin setelah mengetahui bahwa cinta yang ia jalani hanyalah tipu daya. Lakon ini dibangun dengan atmosfer emosional yang intens, menonjolkan tema pengkhianatan, manipulasi, dan kehancuran perasaan. Konflik yang perlahan terkuak membuat penonton larut dalam ketegangan hingga akhir pertunjukan. Sementara itu, pada hari kedua, “Orang Kasar” menghadirkan nuansa yang lebih dinamis dengan sentuhan komedi dan ironi. Lakon ini berkisah tentang seorang nyonya yang setia pada mendiang suaminya dengan memilih hidup dalam balutan pakaian serba hitam. Konflik muncul ketika Bilal, sahabat mendiang suaminya, datang menagih utang lama dan menolak pergi sebelum utang tersebut dilunasi. Dalam perjalanannya, kehadiran Bilal justru menumbuhkan perasaan cinta di antara keduanya. Sang nyonya pun berada dalam dilema antara kesetiaan terhadap masa lalu dan perasaan baru yang tumbuh. Adegan-adegan komikal yang dibangun dari gengsi dan kecanggungan dua tokoh membuat penonton menunjukkan reaksi emosional hingga akhir pertunjukan. Pembina mata kuliah Penyutradaraan, Dr. Hari Sunaryo, M.Si., menilai pementasan ini menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa untuk memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara. “Saya yang mendampingi adik-adik ini berproses sejak awal membatin bahwa naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan yang terlibat. Jika tidak seksama sebagai sutradara dan pelaku, ada banyak hal yang bisa masuk dalam wilayah sensor,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa proses tersebut menuntut kepekaan dan kedewasaan dalam mengolah adegan. “Karena itu, penting untuk tetap mengusung nilai-nilai. Sutradara dan UMM memiliki filter yang lebih presisi. Semua ini menjadi pelajaran berharga ketika menyutradarai—sebagai pribadi yang memiliki kehidupan sekaligus penjaga kehidupan,” katanya. Apresiasi juga disampaikan Kepala Prodi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd., yang menilai proses panjang selama produksi turut membentuk kualitas permainan aktor di atas panggung. “Banyak proses yang mereka jalani selama produksi, ada suka dan dukanya. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga imajinasi penonton dibuat sulit menebak alur ceritanya,” tuturnya. Menurutnya, plot twist yang dihadirkan dalam kedua lakon justru menjadi kekuatan pementasan. “Plot twist yang dihadirkan bahkan memancing reaksi jengkel penonton, dan itu artinya para aktor berhasil menyesuaikan diri dalam mendalami setiap perannya,” lanjut Isnaini. Ia berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif. Menurutnya, pertunjukan teater memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa setelah lulus, khususnya bagi mereka yang akan terjun ke dunia kerja yang berkaitan dengan akting dan keaktoran. Melalui dua lakon dengan konflik yang kontras, pementasan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga wahana pembelajaran yang membentuk kepekaan, kedisiplinan, dan profesionalitas mahasiswa. Pengalaman tersebut diharapkan mampu menjadi modal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi artistik dan profesional di masa depan. [rin/roz]