Menjaga Integritas Kreatif dan Etika Profesi di Tengah Arus Pelanggaran Hak Cipta Industri 5.0

Oleh: Elang Dwi Setiawan Diqlas Program Studi : Informatika Universitas Muhammadiyah Malang JurnalPost.com – Bagi masyarakat modern, terutama para pegiat teknologi dan komunitas gamer, istilah “update” adalah hal yang lumrah untuk meningkatkan performa. Begitu juga dengan peradaban industri kita. Saat ini dunia mulai bergeser dari Industri 4.0 menuju Industri 5.0. Jika sebelumnya kita terlalu fokus pada otomatisasi mesin, Industri 5.0 hadir untuk membawa kembali peran manusia ke pusat teknologi. Namun, di balik janji kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) ini, muncul sebuah tantangan besar yang mengancam integritas profesional, yakni maraknya pelanggaran hak cipta digital. Paradoks Kemajuan di Era Personalisasi Industri 5.0 menekankan pada personalisasi dan sentuhan manusia dalam setiap produk teknologi. Kita kini bisa menciptakan aset visual, musik, hingga baris kode pemrograman dengan sangat cepat berkat bantuan AI generatif. Namun, teknologi ini tidak bekerja secara ajaib. Mesin-mesin tersebut dilatih menggunakan data masif yang diambil dari internet, yang sering kali merupakan karya-karya orisinal milik orang lain tanpa adanya izin maupun kompensasi. Di sinilah letak dilema etika profesi bagi para praktisi di bidang teknologi dan kreatif. Apakah penggunaan teknologi yang mempermudah pekerjaan kita tersebut tetap bisa dibenarkan jika ia “memakan” hak cipta sesama profesi? Dalam dunia profesional, efisiensi memang penting, namun integritas adalah mata uang yang jauh lebih berharga. Mengambil jalan pintas dengan memanfaatkan karya orang lain tanpa atribusi yang jelas bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga mencederai nilai-nilai profesionalisme yang kita bangun. Implementasi Etika Profesi sebagai Benteng Pertahanan Implementasi etika profesi dalam menghadapi pelanggaran hak cipta di era Industri 5.0 bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Seorang profesional sejati dituntut untuk memiliki tanggung jawab moral terhadap ekosistem tempat ia bekerja. Pertama, aspek transparansi menjadi kunci utama. Seorang pengembang atau kreator harus jujur mengenai sejauh mana teknologi AI membantu proses kreatifnya. Pengakuan ini penting untuk membedakan mana nilai tambah yang diberikan oleh manusia dan mana yang merupakan hasil pemrosesan data oleh mesin. Tanpa transparansi, kepercayaan publik terhadap kualitas sebuah profesi akan luntur. Kedua, profesionalisme menuntut kita untuk menghormati hak moral pencipta asli, Dalam komunitas kreatif yang sehat, pemberian kredit atau sitasi adalah bentuk penghormatan terhadap “pengalaman” dan usaha keras rekan sejawat. Di era Industri 5.0, kita harus memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat potensi manusia, bukan justru mengeksploitasi karya manusia demi keuntungan instan yang tidak beretika. Ketiga, tanggung jawab sosial dalam memilih platform. Sebagai profesional yang cerdas, kita memiliki kekuatan untuk memilih platform teknologi yang memiliki kebijakan etis dalam penggunaan data. Dengan mendukung alat atau perangkat yang menghargai hak cipta, kita secara tidak langsung ikut memerangi praktik pembajakan digital yang semakin canggih. Dampak Pengabaian Etika terhadap Masa Depan Kreativitas Apa jadinya jika kita terus membiarkan pelanggaran hak cipta terjadi atas nama kemajuan Industri 5.0? Dampaknya akan sangat sistemik. Para inovator dan kreator akan kehilangan perlindungan atas ide-ide mereka, yang pada akhirnya mematikan motivasi untuk terus menciptakan sesuatu yang baru. Jika manusia berhenti berinovasi karena merasa tidak lagi dihargai, maka teknologi AI pun tidak akan memiliki bahan baru untuk dipelajari. Industri akan terjebak dalam pengulangan ide-ide lama yang hambar tanpa sentuhan kebaruan manusia. Etika profesi berfungsi sebagai jangkar yang menjaga agar kita tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah kecepatan algoritma yang sering kali tidak mengenal batas moral, profesionalisme adalah satu-satunya hal yang membedakan hasil karya yang berjiwa dengan sekadar produk salinan mesin. Penutup Memasuki era Industri 5.0 berarti kita harus siap dengan tanggung jawab yang lebih besar. Keberhasilan seorang profesional di masa depan tidak hanya diukur dari seberapa mahir ia menggunakan teknologi terbaru, tetapi dari seberapa teguh ia memegang prinsip etika di tengah kemudahan digital. Menghargai hak cipta adalah bentuk investasi jangka panjang untuk menjaga agar ekosistem inovasi tetap hidup. Mari kita jadikan etika sebagai standar utama dalam bekerja, agar di masa depan, teknologi benar-benar menjadi alat bantu yang memuliakan manusia, bukan justru menjadi alat yang merampas hak-hak kreatif kita.

Refleksi Awal Tahun PSIB UMM: Wali Kota Batu Paparkan Program Unggulan Membangun SDM

www.majelistabligh.id –Wali Kota Batu Nurochman, SH, MH menyampaikan, dalam mencapai Indonesia emas 2045 perlu keterlibatan pemerintah daerah, terutama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai lokal yang memiliki keselarasan dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya saat menjadi narasumber refleksi awal tahun  yang diselenggarakan Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (12/1/2026). Acara yang mengangkat tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045” dilangsungkan di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar. M Mirdasy dari LHKP PMW Jatim hadir sebagai salah satu narasumber di refleksi awal tahun PSIB UMM. (ist) Lebih lanjut, Nurochman memaparkan, dalam menyiapkan generasi emas yang unggul, Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan beberapa program yang secara spesifik membangun SDM unggul. “Dalam menjawab tantangan kedepan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,”ujarnya. Sebelumnya Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, PhD menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan rekomendasi berbasis riset untuk pembangunan daerah maupun nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Lebih lanjut, Gonda memaparkan bahwa agenda ini merupakan salah satu langkah PSIB UMM dalam mendukung upaya mewujudkan generasi emas 2045 “. Refleksi awal tahun diharapkan dapat menawarkan inovasi-inovasi dan  melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak. Sementara itu, Luthfi J Kurniawan memaparkan materi tentang transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Ia melihat, dalam mencapai Indonesia emas 2045, pemerintah harus lebih fokus dalam membangun SDM yang unggul serta ekonomi berkelanjutan. “Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan Pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” ucapannya. Lebih lanjut Lutfi menyampaikan kalau tidak adanya persiapan yang matang dalam segala aspek, tidak menutup kemungkinan bonus demografi akan menjadi ancaman. “Jika Pendidikan, Kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi Pembangunan Indonesia emas 2045. Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,”tuturnya. Sementara Muhammad Mirdasy S.IP melihat bahwa awal tahun ini merupakan momentum dalam melakukan refleksi dan reposisi strategis bagsa. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, dimana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya. Lebih lanjut Mirdasy melihat,  kajian Islam multidisipliner diperlukan untuk merespon tantangan zaman. “Tantangan zaman saat ini cukup kompleks, maka hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, dimana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya. Abdus Salam selaku pemateri terakhir juga memaparkan bahwa hari ini Indonesia menghadapi  banyak problem. Sebagai pakar sosiologi politik Universitas Muhammadiyah Malang, Abdus Salam melihat bahwa saat ini Indonesia menghadapi kemiskinan struktural. “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup”, katanya. Abdus Salam juga menambahkan bahwa kemiskinan struktural juga terjadi di sektor pekerjaan dan kemiskinan regional. “Kemiskinan struktural juga terjadi pada aspek pekerja, seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai,” ucapnya. Diki Wahyudi,S.Sos., M.IP sebagai moderator melihat problem yang disampaikan oleh seluruh pemateri terpusat pada pembangunan SDM dan tata kelola pemerintah yang baik.  Di sesi penutup, Diki Wahyudi menyimpulkan bahwa percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. “Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” tuturnya. (diki wahyudi)

UMM Perkuat Industri Halal Lewat Kurikulum Terintegrasi dan Pendampingan UMKM

www.majelistabligh.id –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) menghadirkan terobosan strategis dengan melibatkan mahasiswa sebagai aktor utama dalam penguatan ekosistem halal. Langkah ini diharapkan bisa menjadi jawaban atas tingkat literasi ekonomi syariah nasional yang masih berada di bawah 50 persen. Ketua PS P3 Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, menegaskan bahwa industri halal bertumpu pada empat pilar utama, yakni produk barang dan jasa, infrastruktur pendukung, sumber daya manusia (SDM), serta peran aktif pemerintah. Berangkat dari pemahaman ini, UMM secara konsisten mengintegrasikan kurikulum halal ke dalam berbagai mata kuliah lintas program studi, mulai dari Teknologi Pangan, Agribisnis, Ekonomi Syariah, hingga Fakultas Hukum. Prof. Elfi menjelaskan, kompetensi halal kini menjadi modal penting yang membuka peluang karier luas bagi lulusan UMM, termasuk dalam mendukung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, dapur-dapur MBG di berbagai daerah tidak hanya memerlukan tenaga ahli gizi untuk menyusun menu, tetapi juga SDM yang memahami penjaminan kehalalan dalam seluruh proses produksi. “Kompetensi ini menjadi nilai tambah yang luar biasa. Alumni kami dari Teknologi Pangan kini banyak dicari karena memiliki keahlian ganda. Contohnya Iffi Amalia, STP, alumni yang setelah hampir dua tahun magang di tim halal UMM, kini sukses diterima sebagai Ahli Gizi dapur MBG di Banyuwangi karena kemampuan sertifikasi halalnya,” ungkapnya 12 Januari lalu kepada tim Humas UMM. Lebih jauh, Prof. Elfi memaparkan, PS P3 Halal UMM, yang sejak 2008 dikenal sebagai pusat kajian pangan aman halal pertama di Indonesia, telah merancang skema integrasi pembelajaran yang memberikan manfaat konkret bagi mahasiswa. Melalui program pelatihan Pendamping Proses Produk Halal (P3H), mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga terjun langsung mendampingi pelaku UMKM. “Mahasiswa kami mendapatkan empat manfaat sekaligus dari program ini. Pertama, kompetensi teknis halal. Kedua, konversi nilai A tanpa perlu ikut UAS jika berhasil meloloskan sertifikat halal UKM. Ketiga, lulus tepat waktu karena laporan pendampingan bisa dijadikan skripsi tanpa riset ulang yang memakan biaya. Dan keempat, ini menjadi amal jariyah karena membantu UMK mendapatkan sertifikasi gratis,” jelasnya. Implementasi program tersebut menunjukkan dampak nyata di lapangan. Dalam kurun waktu empat minggu, dari 90 mahasiswa yang terlibat, sebanyak 14 mahasiswa berhasil menyelesaikan tugas terstruktur dan mengawal terbitnya sertifikat halal untuk berbagai produk, antara lain Minuman Bu Neneng (Sengkaling), Bumbu Pecel Bu Romlah (Singosari), serta Dimsum Littlebite. Menutup pemaparannya, Prof. Elfi menegaskan peran strategis mahasiswa dalam membangun masa depan industri halal nasional. “Mahasiswa adalah agent of change. Dengan bekal ini, mereka tidak hanya siap kerja, tetapi juga menjadi penggerak gaya hidup halal yang inklusif di masyarakat,” pungkasnya. (*/tim)

Eksplorasi Visual “Chromatopia”, Mahasiswa Komunikasi UMM Gelar Pameran Film CUFE 4.0

KLIKTIMES.COM | MALANG – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Laboratorium Komunikasi siap menggebrak kancah kreatif melalui gelaran Communication UMM Film Exhibition (CUFE) 4.0. Ajang apresiasi sinema tahunan yang dinantikan ini bakal menyapa publik pada Kamis, 15 Januari 2026, berpusat di Auditorium GKB 5 UMM sebagai panggung utama unjuk talenta para sineas muda kampus putih. Mengusung tajuk besar “Chromatopia: Turning Colours into Life”, pameran edisi keempat ini menyelami kekuatan narasi visual yang berpadu dengan estetika warna. Secara artistik, CUFE 4.0 mengadopsi konsep visual bertema “TAMAN KANAK-KANAK” yang bukan sekadar dekorasi, melainkan sebuah simbolisme mendalam untuk memotret nilai-nilai kehangatan keluarga serta ketulusan jalinan persahabatan dalam balutan karya layar lebar. Sejak tirai pertunjukan dibuka pada pukul 12.00 WIB, para pengunjung akan disuguhi sembilan karya film pendek orisinal yang lahir dari tangan dingin mahasiswa praktikum Audio Visual Ilmu Komunikasi UMM. Keberagaman genre dan perspektif tertuang dalam daftar putar yang mencakup film Operasi Kode Merah karya Oppside Pictures, narasi lokal Urap-Urip dari Bab Satu Production, hingga visualisasi puitis Keeper of The Light milik Rorojongrang Cinema. Tidak ketinggalan, karya-karya lain seperti Lihat Kebunku oleh Creativehood Production, Abu ke Biru dari Pixora Cinema, ketegangan Tip-Toe dari Rockete Cinema, Gerang milik Bambini Films, Galak-Gampil produksi Enclique Production, serta Meaning Of Heaven dari Aeternum Cinema turut melengkapi parade sinematik ini. Ketua Pelaksana CUFE 4.0, Ramadhani Nurwijayanto, menyatakan bahwa pameran ini bukan sekadar pemutaran film, melainkan perayaan kreativitas mahasiswa dalam menginterpretasikan emosi melalui warna dan cerita. “Selain pemutaran film, rangkaian acara juga akan dimeriahkan dengan sesi diskusi bersama sutradara dan pemberian penghargaan (Awarding) sebagai bentuk apresiasi atas karya-karya terbaik,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (25/1/2026). Seremonial pembukaan acara dijadwalkan akan dihadiri dan diresmikan oleh jajaran pimpinan universitas, di antaranya Dekan FISIP UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, S.Sos., M.Si., serta Koordinator Praktikum Audio Visual, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos, M.Si. Kehadiran para akademisi ini menegaskan dukungan penuh institusi terhadap pengembangan kompetensi mahasiswa di sektor industri kreatif dan komunikasi visual. Sebagai platform tahunan, Communication UMM Film Exhibition terus konsisten menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memamerkan keahlian teknis dan naratif mereka kepada khalayak luas. CUFE bukan sekadar tugas akhir praktikum, melainkan jembatan bagi para calon praktisi komunikasi untuk membuktikan bahwa karya mereka mampu bersaing dan memberikan warna baru bagi industri perfilman tanah air. (lik)

Islam Multidisipliner Diperlukan untuk Merespon Tantangan Zaman

SUARA MUHAMMADIYAH – MALANG, Suara Muhammadiyah – Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar acara refleksi awal tahun dengan mengangkat tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Acara yang dilangsungkan di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar menghadirkan berbagai narasumber dan pemangku kebijakan. Kegiatan yang bertujuan untuk meninjau kembali pencapaian pemerintah serta merumuskan langkah strategis untuk mencapai Indonesia emas tahun 2045 mencerminkan urgensi untuk mempercepat proses transformasi di berbagai sektor, termasuk  ekonomi hingga pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Acara yang diawali dengan sambutan oleh Prof. Gonda Yumitro, Ph.D, selaku kepala PSIB UMM, menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan rekomendasi berbasis riset untuk pembangunan daerah maupun nasional.  “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Lebih lanjut, Gonda memaparkan bahwa agenda ini merupakan salah satu langkah PSIB UMM dalam mendukung upaya mewujudkan generasi emas 2045 “dalam kesempatan ini PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal, biasanya kegiatan refleksi semacam ini diadakan di akhir tahun. Akan tetapi PSIB UMM mengadakan refleksi di awal tahun sebagai aspek untuk melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak,” katanya. Sementara Wali Kota Batu Nurochman, S.H., M.H yang hadir sebagai keynote speaker menyampaikan bahwa dalam mencapai Indonesia emas 2045 perlu keterlibatan pemerintah daerah. Dalam hal ini, Nurochman memaparkan bahwa peran pemerintah daerah dalam mendorong transformasi menuju Indonesia emas perlu diawali dari menjunjung tinggi nilai-nilai lokal yang memiliki keselarasan dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya. Lebih lanjut, Nurochman memaparkan bahwa dalam menyiapkan generasi emas yang unggul, Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan beberapa program yang secara spesifik membangun SDM unggul. “Dalam menjawab tantangan kedepan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,”ujarnya. Sementara itu, Luthfi J Kurniawan memaparkan materi tentang transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Ia melihat bahwa dalam mencapai Indonesia emas 2045, pemerintah harus lebih fokus dalam membangun SDM yang unggul serta ekonomi berkelanjutan. “Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan Pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” ucapannya. Lebih lanjut Lutfi menyampaikan kalau tidak adanya persiapan yang matang dalam segala aspek, tidak menutup kemungkinan bonus demografi akan menjadi ancaman. “Jika Pendidikan, Kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi Pembangunan Indonesia emas 2045. Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,”tuturnya. Sementara Muhammad Mirdasy S.IP melihat bahwa awal tahun ini merupakan momentum dalam melakukan refleksi dan reposisi strategis bagsa. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, dimana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya. Lebih lanjut Mirdasy melihat bahwa kajian Islam multidisipliner diperlukan untuk merespon tantangan zaman. “tantangan zaman saat ini cukup kompleks, maka hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, dimana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,”ucapnya. Abdus Salam selaku pemateri terakhir juga memaparkan bahwa hari ini Indonesia menghadapi  banyak problem. Sebagai pakar sosiologi politik Universitas Muhammadiyah Malang, Abdus Salam melihat bahwa saat ini Indonesia menghadapi kemiskinan struktural. “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup,” katanya. Abdus Salam juga menambahkan bahwa kemiskinan struktural juga terjadi di sektor pekerjaan dan kemiskinan regional. “Kemiskinan struktural juga terjadi pada aspek pekerja, seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai”, ucapnya. Diki Wahyudi,S.Sos., M.IP sebagai moderator melihat problem yang disampaikan oleh keseluruh pemateri terpusat pada pembangunan SDM dan tata kelola pemerintah yang baik.  Di sesi penutup, Diki Wahyudi menyimpulkan bahwa percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. “Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” tuturnya. Dengan diselenggarakannya acara ini, diharapkan muncul rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan oleh berbagai pihak, mendukung terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global pada 2045. Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Islam Multidisipliner Diperlukan untuk Merespon Tantangan Zaman, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/islam-multidisipliner-diperlukan-untuk-merespon-tantangan-zaman

Refleksi Awal Tahun UMM: Alarm Bonus Demografi dan Kritisi Kemiskinan Struktural

MALANG POST – Di saat awal tahun sering kali dimaknai publik sebagai jeda singkat dari rutinitas dan hingar-bingar perayaan. Namun, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru memilih langkah berbeda. Awal tahun dijadikan momentum krusial untuk menakar arah bangsa melalui diskusi bertajuk “Refleksi Awal Tahun: Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Bertempat di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Senin (12/1/2026). Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., membuka forum dengan perspektif yang tajam. Ia menegaskan bahwa pemilihan waktu di awal tahun adalah strategi proaktif untuk menawarkan inovasi sejak dini. Baginya, narasi Indonesia Emas tidak boleh berhenti di podium politik, melainkan harus diuji secara akademis. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak. Visi besar ini membutuhkan fondasi ilmiah yang kuat dan keberanian melakukan koreksi.” “Diskusi ini kami arahkan agar tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi akan dirumuskan menjadi book chapter sebagai rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis,” tegas Gonda. Diskusi semakin menghangat ketika Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan memberikan peringatan keras atau alarm bahaya terkait bonus demografi. Ia menilai keberhasilan menuju 2045 sangat bergantung pada kemampuan negara membangun sumber daya manusia (SDM) dan kesehatan secara simultan. Tanpa prasyarat tersebut, impian menjadi negara maju hanyalah utopia. “Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan serius, bonus demografi justru bisa berbalik menjadi ancaman atau bencana bagi pembangunan Indonesia Emas 2045.” “Kita butuh tata kelola pemerintahan yang bersih serta efektif untuk menopang ini, bukan sekadar memanen jumlah penduduk usia produktif tanpa skill yang memadai,” ujar Luthfi. Menyambung kekhawatiran tersebut, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam, M.Si., mengajak peserta menengok realitas di lapangan yang sering luput dari jargon pembangunan, yakni kemiskinan struktural. Ia membedah persoalan ini dari berbagai sisi yang lebih mikro dan menyentuh akar masalah. “Kita masih menemui wajah kemiskinan struktural yang nyata. Ada kemiskinan agraria di mana petani tak lagi punya lahan, hingga kemiskinan urban.” “Akibat lemahnya struktur industri yang memaksa masyarakat bergantung pada sektor informal. Ini adalah ‘pekerjaan rumah’ besar yang harus diselesaikan jika ingin bicara soal kemajuan,” kata Abdus Salam. Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai elemen, mulai dari aktivis mahasiswa hingga pegiat literasi ini, ditutup dengan komitmen bersama untuk mengawal isu-isu strategis bangsa. PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi peta jalan Indonesia masa depan.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Dosen FKIP UMM Dampingi Guru Muhammadiyah Implementasikan Pembelajaran Mendalam

KLIKMU.CO – Ikhtiar memajukan pendidikan terus dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui penguatan kapasitas guru. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat bersinergi dengan Forum Guru Muhammadiyah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang dalam kegiatan bertema Implementasi Pembelajaran Mendalam. Kegiatan tersebut diselenggarakan di SMK Muhammadiyah 3 Singosari, Senin (12/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Muhammadiyah dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran berpikir kritis, reflektif, dan bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran mendalam dipandang sebagai ikhtiar strategis untuk melahirkan generasi pembelajar yang unggul secara intelektual sekaligus berkarakter. Pemateri utama, Drs Gigit Mujianto MSi, menegaskan bahwa pembelajaran mendalam menuntut perubahan paradigma dalam proses mengajar. Guru tidak lagi sekadar menyampaikan materi, melainkan menghadirkan proses belajar yang menghidupkan nalar, pengalaman, dan nilai. “Pembelajaran akan bermakna ketika siswa dilibatkan secara aktif, diajak berpikir, merefleksi, serta mengaitkan pengetahuan dengan realitas kehidupan,” ujarnya. Senada dengan hal tersebut, Arif Setiawan MPd menyampaikan pentingnya perencanaan pembelajaran yang berorientasi pada tujuan, keterlibatan siswa, serta asesmen yang bersifat mendidik. “Guru Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam menghadirkan pembelajaran yang mencerahkan dan memerdekakan,” tegasnya. Sementara itu, Zukrufurrohma SPd mengajak para peserta untuk terus melakukan refleksi atas praktik pembelajaran di kelas. Ia menekankan bahwa nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan dapat diintegrasikan secara kontekstual dalam pembelajaran mendalam, sehingga proses belajar tidak terlepas dari pembentukan karakter dan nilai. Antusiasme peserta tampak dari dialog yang hidup serta diskusi yang reflektif sepanjang kegiatan. Para guru menyambut baik kegiatan ini karena dinilai memberikan penguatan konseptual sekaligus strategi praktis yang relevan dengan tantangan pembelajaran di sekolah Muhammadiyah. Melalui kegiatan pengabdian ini, FKIP UMM berharap sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah Muhammadiyah terus terjaga sebagai bagian dari gerakan dakwah pencerahan di bidang pendidikan, guna mewujudkan pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan dan berdaya saing. Tim Pengabdian kepada Masyarakat FKIP UMM menyampaikan materi Pembelajaran Mendalam kepada Forum Guru Muhammadiyah Kabupaten Malang dalam kegiatan yang digelar di SMK Muhammadiyah 3 Singosari, Senin (12/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan. (*/AS)

Cerita Muhammad Nanda Risdiyanto, Alumnus UMM yang Jadi Fisioterapis Timnas Basket Putri Indonesia

Sejak 2021, Muhammad Nanda Risdiyanto dipercaya menjadi fisioterapis Timnas Basket Putri Indonesia. Ia telah terlibat di lima kejuaraan internasional termasuk SEA Games 2023 dan 2025. Dari balik layar, Nanda bertanggung jawab menjaga kondisi fisik pemain agar tetap fit. RADAR MALANG – SEPULUH tahun lalu hidup Muhammad Nanda Risdiyanto berjalan seperti mahasiswa pada umumnya. Dari sebuah kamar kos sederhana di kawasan Dinoyo, hari-harinya dihabiskan dengan jadwal kuliah, praktikum, dan tugas-tugas kampus di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia memilih jurusan fisioterapi. Bidang yang kala itu belum banyak dilirik, tetapi justru membuatnya jatuh cinta sejak semester awal. Empat tahun berselang, ia menuntaskan pendidikan tepat waktu tanpa pernah membayangkan bahwa ilmunya kelak akan membawanya ke arena olahraga internasional. Karier profesional Nanda tidak langsung bersentuhan dengan basket. Langkah pertamanya justru dimulai dari dunia futsal. Pada 2019, ia dipercaya menjadi fisioterapis tim Pra-PON futsal Jawa Timur. Pengalaman itu menjadi pintu masuk pertamanya ke olahraga prestasi sekaligus menguji kemampuannya menangani atlet dengan tuntutan fisik tinggi. Baru pada 2021, arah kariernya berbelok ke lapangan basket. Nanda bergabung dengan tim basket putri Fever Surabaya sebagai fisioterapis. Belum lama ia bekerja, manajemen Fever Surabaya mendapat mandat menangani tim nasional basket putri Indonesia. Situasi itu membuka peluang baru. Posisi fisioterapis timnas saat itu kosong. Nanda pun ikut dibawa masuk menjadi bagian dari tim kesehatan sejak 2021. Sejak saat itu, ritme hidupnya berubah dengan jadwal pemusatan latihan, perjalanan antarkota, hingga agenda internasional. Puncaknya terjadi pada SEA Games 2023 di Kamboja. Nanda ikut merasakan manisnya medali emas bersama tim basket putri Indonesia. Dua tahun kemudian, di SEA Games Thailand 2025, ia kembali dipercaya masuk dalam tim medis. Kali ini hasilnya berbeda, medali perunggu. Namun, perolehan medali yang menurun tidak serta-merta mencerminkan persiapan yang setengah-setengah. Justru sebaliknya. Tim basket putri menjalani pemusatan latihan panjang, hampir satu tahun penuh. Training center tidak hanya digelar di dalam negeri. Federasi bahkan mengirim tim ke Amerika Serikat, negeri yang kerap disebut sebagai tanah suci bola basket dunia. Sejak Desember 2024, para pemain sudah dikumpulkan dan digembleng dengan intensitas tinggi. Bagi Nanda, masa pemusatan latihan itu menjadi periode tersibuk. Cedera justru lebih sering muncul saat latihan ketimbang pertandingan. Tubuh atlet dipaksa bekerja keras setiap hari. Sedikit lengah saja, masalah bisa muncul. Ketika SEA Games Thailand dimulai, tugas Nanda berubah menjadi lebih spesifik. Setiap hari pertandingan, ia harus sudah bersiap sejak jauh sebelum tip off. Kurang dari dua jam sebelum bola pertama dilambungkan, ia mulai memastikan seluruh perlengkapan medis lengkap. Satu per satu pemain dicek kondisinya. Tidak boleh ada yang turun ke lapangan dengan kondisi cedera tersembunyi. ”Terkadang ada pemain yang terlalu ingin bermain sampai mengabaikan rasa sakit,” katanya. Di situlah peran fisioterapis diuji. Ia harus tegas, tetapi tetap memahami keinginan atlet. Jika dipaksakan, cedera kecil bisa berubah menjadi masalah besar. Nanda juga bertanggung jawab memasang taping pada bagian tubuh tertentu. Tidak semua pemain membutuhkannya, hanya mereka yang memiliki riwayat cedera atau keluhan nyeri. Taping berfungsi sebagai penopang tambahan sekaligus mengurangi rasa sakit, terutama untuk mencegah cedera kambuhan. Tugasnya tidak berhenti ketika pertandingan selesai. Dengan jadwal laga yang padat, program pemulihan menjadi krusial. Otot yang kelelahan harus segera dikembalikan ke kondisi normal. Nanda menyiapkan berbagai metode recovery, mulai dari ice bath, peregangan ringan, hingga terapi sederhana. ”Yang paling penting tetap istirahat. Tidur cukup itu kunci,” ujarnya. Selama enam pertandingan yang dijalani tim basket putri di SEA Games Thailand, kabar baiknya tidak ada cedera serius. Hingga laga terakhir perebutan medali perunggu pada 19 Desember, seluruh pemain berada dalam kondisi relatif prima. Cedera yang ada justru muncul saat pemusatan latihan, ketika intensitas latihan berlangsung berbulan-bulan. Dibandingkan SEA Games Kamboja 2023, tantangan di Thailand sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun, ada satu hal yang cukup mengganggu, kemacetan. Perjalanan dari venue ke hotel sering memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Bagi atlet, keterlambatan kembali ke hotel berarti waktu istirahat yang berkurang. Di luar faktor teknis, ada pula tantangan lain yang lebih personal. Menangani tim putri memiliki dinamika tersendiri. Salah satunya berkaitan dengan siklus menstruasi. Pada masa tersebut, kondisi fisik dan mental pemain bisa berubah. Mood naik turun, tubuh lebih mudah lelah, dan risiko cedera meningkat. ”Saya harus lebih peka,” kata Nanda. Ia dituntut memahami karakter setiap pemain. Penanganan tidak bisa disamaratakan. Pada masa period, pendekatan harus lebih halus. Bukan hanya soal fisik, tetapi juga menjaga suasana hati agar pemain tetap nyaman dan percaya diri. (*/adn)

Percepat Sertifikasi Halal UMKM, UMM Terjunkan Mahasiswa Dampingi P3H

Kota Malang, Bhirawa – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat perannya dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Kali ini, Kampus Putih tersebut menerjunkan ratusan mahasiswa untuk menjadi Pendamping Proses Produk Halal (P3H). Langkah strategis ini diambil guna mengakselerasi capaian sertifikasi halal bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah Jawa Timur. Program ini merupakan bentuk respon cepat UMM terhadap kebijakan pemerintah mengenai wajib halal bagi produk makanan dan minuman. Melalui Pusat Halal UMM, para mahasiswa dibekali kompetensi teknis sebelum turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat. Rektor UMM melalui keterangannya menyampaikan bahwa peran mahasiswa sangat krusial sebagai jembatan informasi. “Banyak pelaku UMKM yang sebenarnya ingin mengurus sertifikasi halal, namun terkendala pemahaman alur pendaftaran digital. Di sinilah mahasiswa hadir untuk mempermudah proses tersebut melalui skema Self-Declare,” ungkapnya. Dalam praktiknya, para mahasiswa P3H UMM melakukan verifikasi dan validasi lapangan (Verval). Mereka mendampingi pelaku usaha mulai dari pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), pemeriksaan kehalalan bahan baku, hingga proses pengajuan pada sistem Sihalal milik BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal). Salah satu mahasiswa pendamping mengungkapkan bahwa tantangan di lapangan adalah memberikan pemahaman kepada pedagang kecil bahwa sertifikasi halal bukan sekadar label agama, melainkan jaminan kualitas yang dapat meningkatkan daya saing produk di pasar modern.”Kami terjun ke pasar-pasar dan sentra industri rumah tangga. Tujuannya agar produk mereka bisa naik kelas dan legalitasnya terjamin secara hukum,” jelasnya kepada Bhirawa. Berita Terkait :  Mengurangi Beban Peternak Lewat Mesin Pencacah Rumput: Teknologi Kecil, Dampak Besar Langkah UMM ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, mengingat target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat halal dunia membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Selain membantu UMKM, program ini juga diakui sebagai implementasi nyata Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), di mana mahasiswa belajar memecahkan masalah sosial secara langsung. Dengan masifnya penerjunan mahasiswa P3H ini, diharapkan angka sertifikasi halal di Jawa Timur, khususnya Malang Raya, dapat meningkat signifikan sebelum batas waktu kewajiban sertifikasi yang telah ditentukan pemerintah. [mut.wwn]

Diskusi Awal Tahun, PSIB UMM Bahas Transformasi Menuju Indonesia Emas Bersama Wali Kota Batu

KLIKMU.CO – Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar acara refleksi awal tahun dengan mengangkat tema Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar ini menghadirkan berbagai narasumber dan pemangku kebijakan, Senin (12/1/2026). Acara ini bertujuan meninjau kembali pencapaian pemerintah serta merumuskan langkah strategis untuk mencapai Indonesia Emas 2045, mencerminkan urgensi mempercepat transformasi di berbagai sektor, termasuk ekonomi dan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Acara diawali dengan sambutan Prof Gonda Yumitro PhD, Kepala PSIB UMM. Ia menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan rekomendasi berbasis riset untuk pembangunan daerah maupun nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Gonda menjelaskan bahwa agenda ini merupakan salah satu langkah PSIB UMM dalam mendukung upaya mewujudkan generasi emas 2045. “PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi sejak awal. Biasanya kegiatan refleksi dilakukan di akhir tahun, tetapi kami memilih awal tahun sebagai momen untuk menilai hal-hal yang perlu diperbaiki demi generasi emas 2045,” tuturnya. Wali Kota Batu Nurochman hadir sebagai keynote speaker dan menekankan peran pemerintah daerah dalam transformasi menuju Indonesia Emas. Ia menjelaskan bahwa langkah awal adalah menjunjung tinggi nilai-nilai lokal yang sejalan dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki program SAE Ning Mbatu, yang memanfaatkan keunggulan Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung Pembangunan Jangka Panjang,” jelasnya. Selain itu, Nurochman memaparkan program pembangunan SDM unggul, termasuk penguatan akses dan kualitas pendidikan. “Pemerintah Kota Batu fokus membangun SDM unggul melalui program 1.000 sarjana. Pada 2025, kami telah memberikan beasiswa kepada 273 mahasiswa,” ujarnya. Luthfi J. Kurniawan membahas transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Ia menekankan pentingnya fokus pada SDM unggul, ekonomi berkelanjutan, dan tata kelola pemerintahan yang baik. “Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, Indonesia harus menciptakan generasi unggul, pemerataan pembangunan, ekonomi berkelanjutan, hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” jelasnya. Luthfi menambahkan bahwa tanpa persiapan matang, bonus demografi justru bisa menjadi ancaman. “Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan baik, ini akan menghambat pembangunan Indonesia Emas 2045,” tuturnya. Muhammad Mirdasy menilai awal tahun merupakan momentum refleksi dan reposisi strategis bangsa. “Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks. Kajian Islam multidisipliner diperlukan untuk merespons tantangan zaman, dengan Islam berkemajuan sebagai landasan etis kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Abdus Salam, pakar sosiologi politik UMM, menyoroti masalah kemiskinan struktural yang masih terjadi di Indonesia, seperti kemiskinan agrarian, sektor pekerjaan yang tidak layak, kemiskinan urban akibat penggusuran, serta kemiskinan regional akibat isolasi daerah terpencil. “Semua aspek ini menjadi tantangan bagi percepatan pembangunan nasional,” jelasnya. Diki Wahyudi, sebagai moderator, menyimpulkan bahwa percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. “Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” tuturnya. Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan muncul rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan berbagai pihak, mendukung tercapainya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global pada 2045. (Abdus Salam/AS)