PBIO UMM Dipercaya Industri Migas Tingkatkan Kompetensi Guru

Kepercayaan dunia industri terhadap perguruan tinggi kembali ditunjukkan melalui kolaborasi strategis antara Tim Dosen Program Studi Pendidikan Biologi (PBIO) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan perusahaan migas nasional di bawah koordinasi SKK Migas dan Kangean Energy Indonesia (KEI). Untuk tahun kedua berturut-turut, Tim Dosen PBIO UMM dipercaya terlibat aktif dalam pembinaan guru di wilayah kerja perusahaan migas, khususnya kawasan kepulauan. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru untuk Mendukung Implementasi Deep Learning Berbantuan Kecerdasan Buatan (AI) yang berlangsung selama empat hari, 17–20 Januari 2026. Pelatihan ini menyasar guru-guru di area operasional Kangean Energy Indonesia dan menjadi bagian dari program Community Development (COMDEV) perusahaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal, terutama di sektor pendidikan. Koordinator COMDEV Kangean Energy Indonesia, H. Ahmad Baidowi, menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan di wilayah kepulauan. Menurutnya, penguatan kapasitas guru menjadi kunci dalam mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan. “Kami tidak hanya fokus pada aspek ekonomi dan energi, tetapi juga pada pengembangan kualitas masyarakat. Kolaborasi dengan UMM menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan pendidikan di daerah kepulauan,” ujarnya. Ia menambahkan, pelibatan dosen perguruan tinggi dengan pengalaman pengabdian masyarakat yang kuat menjadi faktor penting keberhasilan program. Tim Dosen PBIO UMM dinilai mampu menghadirkan pendekatan akademik yang aplikatif dan relevan dengan konteks lokal. “Ini sudah tahun kedua kami bekerja sama dan dampaknya terasa nyata bagi para guru,” tambahnya. Tim Dosen PBIO UMM yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., Dr. Husamah, M.Pd., dan Fuad Jaya Miharja, M.Pd. Ketiganya dikenal aktif dalam pengembangan pendidikan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Ketua tim, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., menyampaikan bahwa kepercayaan dari industri merupakan pengakuan atas peran strategis perguruan tinggi dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan riil masyarakat. Pelatihan dirancang secara partisipatif dan kontekstual. Pada hari pertama, peserta diajak memahami tantangan khas pendidikan di wilayah kepulauan, mulai dari keterbatasan sarana hingga akses teknologi. Diskusi terbuka menjadi ruang bagi guru untuk berbagi pengalaman sekaligus memetakan persoalan pembelajaran di kelas. “Kami hadir tidak sekadar memberi pelatihan, tetapi membangun kesadaran baru tentang pembelajaran bermakna yang relevan dengan konteks kepulauan,” ungkapnya. Selain fokus pada peningkatan kompetensi guru, kolaborasi antara Tim Dosen PBIO UMM dan Kangean Energy Indonesia juga tidak terlepas dari rekam jejak pengabdian masyarakat berbasis rumput laut yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Program tersebut menyasar masyarakat pesisir dengan mengembangkan potensi lokal rumput laut sebagai sumber ekonomi sekaligus media edukasi lingkungan. Terakhir, Tim Dosen PBIO UMM dan Kangean Energy Indonesia berencana melanjutkan kerja sama dalam berbagai program pengabdian dan pengembangan masyarakat. Tidak hanya pada aspek pendidikan formal, tetapi juga penguatan literasi lingkungan dan ekonomi berbasis potensi lokal. “Kami optimistis, kolaborasi ini akan terus berkembang dan memberi dampak yang lebih luas,” pungkasnya.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

FH UMM Bedah Relasi Konstitusi, Kekuasaan, dan Teknologi Digital

Musuh utama konstitusi sejatinya adalah kekuasaan itu sendiri, karena pada akhirnya kekuasaan selalu ingin menerobos batas yang membatasinya. Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) Jawa Timur, Dr. Himawan Estu Bagijo, S.H., M.H., dalam Seminar Nasional Call for Paper 2026 bertajuk Konstitusi di Era Digital: Peluang dan Tantangan yang digelar di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat, 17 Januari lalu. Seminar nasional oleh Fakultas Hukum (FH) ini menjadi ruang diskusi akademik untuk membedah relasi antara konstitusi, kekuasaan, dan perkembangan teknologi digital yang kian pesat. Lebih lanjut, Himawan sapaan akrabnya menjelaskan bahwa konsep negara hukum tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap hukum tertulis semata. Ia menekankan pentingnya asas kepatutan, rasionalitas, serta prinsip pemerintahan yang baik sebagai dasar dalam setiap kebijakan negara. Menurutnya, tanpa kesadaran konstitusional yang kuat, digitalisasi justru berpotensi memperluas ruang dominasi kekuasaan. “Kecenderungan konstitusi konservatif dalam UUD 1945 memberi ruang yang sangat luas bagi pembentuk undang-undang. Ruang tersebut kerap dimanfaatkan oleh kekuasaan politik untuk mengisi kekosongan konstitusi tanpa pengawasan publik yang memadai, terlebih di era digital yang serba cepat. Undang-undang bisa saja sah secara prosedural, tetapi tetap inkonstitusional apabila proses pembentukannya tidak rasional dan mengabaikan partisipasi publik,” ujarnya. Pandangan tersebut menegaskan bahwa proses legislasi yang tidak rasional dan minim partisipasi publik berpotensi melahirkan produk hukum yang cacat secara konstitusional. Kondisi ini menunjukkan bahwa konstitusi seharusnya berfungsi sebagai instrumen pengendali kekuasaan. Dengan demikian, konstitusi tidak boleh direduksi sekadar sebagai legitimasi formal atas kebijakan negara. Sejalan dengan hal tersebut, Dr. Catur Wido Haruni, S.H., M.Hum., Dosen FH UMM menilai bahwa teknologi digital saat ini tidak lagi berfungsi sekadar sebagai alat bantu administrasi negara. Ia menjelaskan bahwa teknologi telah berkembang menjadi kekuatan yang mampu memengaruhi arah demokrasi dan praktik kekuasaan. Kecepatan perkembangan digital, menurutnya, sering kali melampaui kesiapan regulasi yang dimiliki negara. “Konstitusi harus mampu mengendalikan arah digitalisasi, bukan justru tertinggal oleh teknologi. Pengaturan ruang digital harus menjamin kebebasan berekspresi sekaligus perlindungan data pribadi warga negara. Tanpa keseimbangan konstitusional yang jelas, kebijakan digital berpotensi bergeser menjadi alat pengawasan yang berlebihan,” ujarnya. Terakhir, Dekan FH UMM Prof. Dr. Tongat, M.Hum., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam mengembangkan tradisi akademik yang kritis dan kontekstual. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam merespons dinamika hukum dan ketatanegaraan yang terus berkembang. Melalui forum akademik semacam ini, fakultas berupaya menghadirkan ruang dialog yang reflektif dan berbasis kajian ilmiah. Menurutnya, sinergi antara akademisi dan praktisi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan konstitusi di era digital. “Seminar nasional dan call for paper ini kami harapkan mampu melahirkan gagasan akademik yang tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi penguatan demokrasi dan negara hukum,” ujar Tongat. Seminar nasional ini menunjukkan bahwa tantangan konstitusi di era digital tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi. Lebih dari itu, persoalan utama terletak pada bagaimana kekuasaan dijalankan, dibatasi, dan diawasi secara konstitusional. Pendekatan akademik yang kritis menjadi penting untuk memastikan konstitusi tetap berfungsi sebagai pelindung hak-hak warga negara di tengah arus digitalisasi yang terus berkembang.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Data Terbaru! 15 Kampus Swasta Terbaik 2026 Versi Webometrics, Kamu Pilih yang Mana?

Jabaribernews — Calon mahasiswa yang ingin kuliah tahun ini perlu punya strategi cadangan. Jika perguruan tinggi negeri (PTN) incaran belum berhasil, universitas swasta terbaik bisa jadi pilihan tepat. Webometrics 2026 baru saja merilis daftar perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia, menilai kualitas akademik, riset, keterbukaan, hingga reputasi global. “Pemeringkatan ini bisa menjadi referensi untuk menentukan kampus yang tepat, sekaligus memperbesar peluang karier di masa depan,” tulis Webometrics dalam laporan resminya, Minggu (18/1/2026). Pemeringkatan Universitas Swasta: Mengapa Penting? Webometrics melakukan pemeringkatan setiap enam bulan, pada Januari dan Juli. Indikatornya mencakup kualitas riset, publikasi ilmiah, serta visibilitas dan dampak digital kampus.     Dengan data ini, calon mahasiswa bisa menilai universitas bukan hanya dari nama, tapi juga kinerja akademik dan pengaruh global. Selain itu, peringkat ini memengaruhi reputasi lulusan di mata perusahaan dan organisasi, sehingga pilihan kampus yang tepat bisa membuka peluang karier lebih luas. 15 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026 Berikut daftar 15 universitas swasta terbaik, beserta peringkat nasional dan global: Telkom University – Nasional: 9 | Global: 1.164 Universitas Bina Nusantara (Binus University) – Nasional: 13 | Global: 1.371 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) – Nasional: 19 | Global: 1.768 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) – Nasional: 20 | Global: 1.824 Universitas Meda Area – Nasional: 24 | Global: 2.153 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) – Nasional: 27 | Global: 2.397 Universitas Pelita Harapan – Nasional: 33 | Global: 2.656 Universitas Kristen Satya Wacana – Nasional: 36 | Global: 2.836 Universitas Katolik Parahyangan – Nasional: 38 | Global: 3.081 Universitas Gunadarma – Nasional: 39 | Global: 3.085 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta – Nasional: 45 | Global: 3.224    Universitas Islam Malang – Nasional: 46 | Global: 3.307 Universitas Islam Indonesia (UII) – Nasional: 47 | Global: 3.333 Universitas Surabaya (Ubaya) – Nasional: 48 | Global: 3.398 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya – Nasional: 50 | Global: 3.417 Telkom University kembali memimpin daftar universitas swasta dengan reputasi global yang kuat, sementara universitas Muhammadiyah mendominasi daftar sebagai pilihan favorit bagi calon mahasiswa yang mengutamakan kualitas pendidikan dan nilai keagamaan. Memilih Kampus: Lebih dari Sekadar Peringkat Selain peringkat, calon mahasiswa perlu menimbang program studi, fasilitas, dan budaya kampus. Pilihan kampus yang tepat akan memengaruhi pengalaman belajar dan prospek karier. Dengan daftar ini, calon mahasiswa bisa menilai universitas dari kualitas akademik, peluang riset, dan jaringan profesional yang tersedia. Bagi kamu yang belum lolos PTN, daftar ini bisa menjadi panduan untuk menentukan pilihan kampus swasta terbaik agar masa kuliahmu produktif dan penuh peluang.***

Data Terbaru! 15 Kampus Swasta Terbaik 2026 Versi Webometrics, Kamu Pilih yang Mana?

JAKARTA, KalderaNews.com – Bagi kamu pejuang masuk perguruan tinggi, inilah 15 kampus swasta terbaik 2026 versi Webometrics. Mana pilihan kamu? Webometrics, lembaga pemeringkatan universitas dunia, baru saja merilis daftar terbaru periode Januari 2026 yang membuktikan bahwa kualitas kampus swasta di Indonesia kini semakin kompetitif, bahkan mampu bersaing di level global. Pemeringkatan Webometrics yang diperbarui setiap enam bulan ini bukan sekadar angka. Penilaian tersebut didasarkan pada keunggulan riset, keterbukaan informasi, hingga performa akademik yang mencerminkan kualitas fasilitas dan prospek karier lulusannya di mata perusahaan. Alasan pilih kampus swasta Banyak calon mahasiswa menjadikan Universitas Swasta (PTS) sebagai strategi cadangan. Namun, dengan reputasi yang terus menanjak, deretan PTS terbaik ini seringkali memiliki fasilitas yang lebih modern dan jejaring industri yang lebih luas dibanding beberapa kampus negeri. Berikut 15 kampus swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics (Januari 2026) secara berurutan: Telkom University Universitas Bina Nusantara (Binus) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Universitas Medan Area Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Universitas Pelita Harapan (UPH) Universitas Kristen Satya Wacana Universitas Katolik Parahyangan Universitas Gunadarma Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Universitas Islam Malang Universitas Islam Indonesia (UII) Universitas Surabaya (Ubaya) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

Akar Konflik AS vs Venezuela dan Dampaknya bagi Indonesia

KLIKMU.CO – Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara MA, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelasnya, Sabtu (17/1/2026). Hasil nasionalisasi minyak kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujar Azza. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik, terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan bahkan memperkuat kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyampaikan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya. (Faqih/AS)

15 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026

KONTEKS.CO.ID – Webometrics kembali merilis pemeringkatan universitas dunia edisi Januari 2026. Lembaga independen ini menggunakan metodologi Webometrics yang telah teruji untuk menilai kinerja perguruan tinggi berdasarkan kehadiran web, keterbukaan, dampak, serta keunggulan akademik dan riset. Dalam daftar peringkat universitas swasta di Indonesia, sejumlah perguruan tinggi nasional berhasil menembus jajaran atas, baik di tingkat nasional maupun global. Penilaian ini menjadi indikator penting dalam mengukur daya saing institusi pendidikan tinggi Indonesia di kancah internasional. Berdasarkan data Webometrics Januari 2026, Telkom University menempati posisi teratas di antara universitas swasta Indonesia dengan peringkat nasional ke-9 dan peringkat global ke-1.164. Lembaga independen ini menilai perguruan tinggi berdasarkan visibilitas web, keterbukaan, dampak riset, dan keunggulan akademik. Telkom University menempati posisi teratas di antara universitas swasta Indonesia dengan peringkat nasional ke-9 dan peringkat global ke-1.164. Posisi kedua ditempati Universitas Bina Nusantara (BINUS University) dengan peringkat nasional ke-13 dan peringkat global ke-1.371. Sementara itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berada di peringkat nasional ke-19 dan global ke-1.768. Selanjutnya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menempati peringkat nasional ke-20 dan global ke-1.824. Universitas Medan Area juga masuk jajaran 5 besar universitas swasta dengan peringkat nasional ke-24 dan global ke-2.153. Berikut daftar 15 universitas swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics Januari 2026: 1. Telkom University Peringkat Nasional: 9 Peringkat Global: 1.164 2. Universitas Bina Nusantara (BINUS University) Peringkat Nasional: 13 Peringkat Global: 1.371 3. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Peringkat Nasional: 19 Peringkat Global: 1.768 4. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Peringkat Nasional: 20 Peringkat Global: 1.824 5. Universitas Medan Area Peringkat Nasional: 24 Peringkat Global: 2.153 6. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Peringkat nasional: 27 Peringkat global: 2.397 \ 7. Universitas Pelita Harapan (UPH) Peringkat Nasional: 33 Peringkat Global: 2.656 8. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Peringkat Nasional: 36 Peringkat Global: 2.836 9. Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Peringkat Nasional: 38 Peringkat Global: 3.081 10. Universitas Gunadarma Peringkat Nasional: 39 Peringkat Global: 3.085 11. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta Peringkat Nasional: 45 Peringkat Global: 3.224 12. Universitas Islam Malang (Unisma) Peringkat Nasional: 46 Peringkat Global: 3.307 13. Universitas Islam Indonesia (UII) Peringkat Nasional: 47 Peringkat Global: 3.333 14. Universitas Surabaya (UBAYA) Peringkat Nasional: 48 Peringkat Global: 3.398 15. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Peringkat Nasional: 50 Peringkat Global: 3.417.***

Dosen HI UMM Kupas Ketegangan AS–Venezuela, Indonesia Diminta Tetap Waspada

JATIMTIMES – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela bukan sekadar drama dua negara yang bersitegang. Di baliknya, tersimpan simpul rumit kepentingan ideologi, energi, hingga perebutan pengaruh global. Dinamika itulah yang diulas dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Azza Bimantara, M.A., saat membedah kembali relasi panas Washington, Caracas yang belakangan kembali mencuat. Menurut Azza, konflik ini berakar jauh ke belakang, tepatnya sejak Hugo Chávez memenangkan pemilihan presiden Venezuela pada 1998. Chávez membawa arah baru: ekonomi sosialis dengan kebijakan berani, termasuk nasionalisasi industri minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. Langkah tersebut langsung berbenturan dengan kepentingan Amerika Serikat. “Secara ideologis, kebijakan Chávez berseberangan dengan sistem ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan pro korporasi multinasional,” jelas Azza, Sabtu, (17/1/2026). Pendapatan dari sektor minyak kemudian digunakan pemerintah Venezuela untuk program sosial, mulai dari pengentasan kemiskinan hingga perluasan akses pendidikan dan layanan kesehatan. Namun, kebijakan populis ini justru memantik resistensi dari AS. Venezuela perlahan ditempatkan sebagai musuh ideologis. “Sejak itu, tekanan mulai diberikan, baik dalam bentuk pemboikotan, sanksi, hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ungkapnya. Situasi makin kompleks ketika Venezuela mempererat hubungan dengan Kuba, serta menjalin kemitraan strategis dengan Tiongkok dan Rusia. Bagi Amerika Serikat, kedekatan tersebut bukan sinyal biasa. “Venezuela memiliki cadangan energi yang sangat strategis. Ketika negara ini mendekat ke Tiongkok dan Rusia, tentu itu dipersepsikan mengganggu kepentingan geopolitik Amerika Serikat,” kata Azza. Ketegangan tidak mereda ketika tongkat estafet kekuasaan beralih ke Nicolás Maduro. Justru sebaliknya. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkeras, arah kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih sentralistik. Dukungan terbuka Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperkeruh keadaan. “Sikap Amerika Serikat yang terang-terangan mendukung oposisi menunjukkan indikasi kuat adanya agenda perubahan rezim,” ujarnya lugas. Dari sudut pandang energi global, Azza menekankan bahwa minyak adalah kunci utama membaca sikap Amerika Serikat. Keamanan energi, kata dia, menjadi fondasi stabilitas ekonomi negeri Paman Sam. “Amerika Serikat belajar banyak dari krisis minyak era 1970-an. Sejak itu, akses dan kontrol terhadap sumber energi strategis, termasuk minyak Venezuela, menjadi kepentingan utama,” paparnya. Ia juga menyinggung pernyataan presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyatakan minat untuk mengelola minyak Venezuela. Lalu, bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Azza menilai, untuk saat ini, efek langsungnya belum terasa signifikan. “Belum ada perubahan besar dalam pengelolaan sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa aktivitas migas Indonesia di sana masih berjalan normal,” jelasnya. Meski begitu, ia mengingatkan agar Indonesia tidak lengah, mengingat konflik geopolitik kerap berdampak jangka panjang. Menutup ulasannya, Azza menegaskan bahwa konflik AS-Venezuela layak menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus ini menunjukkan bahwa geopolitik selalu berkaitan erat dengan ekonomi dan energi. Ini peluang penting bagi mahasiswa HI untuk membaca isu global secara lebih utuh dan kritis,” pungkasnya.

UMM Bekali Mahasiswa dan Dosen Penerima Erasmus+ Jelang Mobilitas Internasional

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui International Relations Office (IRO) menggelar Pre-Departure Orientation bagi mahasiswa dan dosen penerima program Erasmus+, Kamis (15/1/2026). Kegiatan yang berlangsung di GKB 4 Lantai 1 tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum peserta menjalani mobilitas akademik ke sejumlah perguruan tinggi mitra di Eropa. Sebanyak lima mahasiswa UMM yang mengikuti skema student mobility serta empat dosen penerima teaching mobility hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka dijadwalkan menjalani aktivitas akademik di kampus mitra luar negeri dalam waktu dekat. Program Erasmus+ merupakan program mobilitas internasional yang didanai oleh Uni Eropa dan mencakup bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan, serta olahraga. Melalui program ini, mahasiswa dan dosen memperoleh kesempatan mengikuti pembelajaran, pengajaran, serta pertukaran pengalaman akademik dalam lingkungan internasional. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, menjelaskan bahwa seleksi peserta Erasmus+ dilakukan melalui tahapan yang ketat. Proses dimulai dari kerja sama resmi dengan universitas mitra, pembukaan pendaftaran, seleksi administrasi dan wawancara, hingga persetujuan akhir dari institusi tujuan. Setiap peserta juga wajib mendapatkan rekomendasi dari program studi masing-masing. “Kami memastikan peserta yang berangkat telah siap secara akademik, administratif, dan kultural, sehingga mampu beradaptasi serta menjaga reputasi UMM di tingkat internasional,” ujarnya. Ia menambahkan, saat ini UMM memiliki 14 mitra aktif dalam program Erasmus+ dengan skema outbound dan inbound. Seluruh pendanaan mobilitas berada di bawah Uni Eropa. UMM juga menetapkan kriteria khusus bagi mahasiswa peserta, yakni minimal semester tiga dan maksimal semester lima, agar proses konversi mata kuliah dapat berjalan optimal setelah peserta kembali ke kampus. Sebagai bentuk dukungan institusi, UMM memberikan pembebasan biaya SPP selama satu semester bagi mahasiswa outbound, memfasilitasi konversi nilai, serta menyiapkan bentuk apresiasi tambahan melalui unit kemahasiswaan. Dukungan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa fokus menjalani program tanpa kendala administratif maupun finansial. Selain Erasmus+, UMM terus mendorong agenda internasionalisasi melalui penguatan kelas internasional, pengembangan micro-credential, serta pembelajaran daring lintas negara. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring global dan meningkatkan kehadiran mahasiswa internasional di lingkungan kampus. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa mobilitas internasional merupakan salah satu strategi utama UMM dalam meningkatkan mutu pendidikan dan daya saing global. Ia berharap mahasiswa dan dosen penerima Erasmus+ dapat memanfaatkan kesempatan tersebut secara maksimal. “Peserta diharapkan mampu membangun jejaring internasional serta membawa pulang praktik-praktik baik yang dapat dikembangkan di UMM,” ujarnya. UMM berkomitmen untuk terus memperluas kerja sama internasional sebagai bagian dari upaya mencetak lulusan berwawasan global, kompetitif, dan tetap berlandaskan nilai keislaman serta kemuhammadiyahan. (raf) Sumber: Rilis Berita UMM