Dosen UMM Kupas Akar Konflik AS-Venezuela dan Dampaknya Bagi Indonesia

Malang (beritajatim.com) – Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela kembali menyita perhatian dunia. Konflik yang terjadi di antara kedua negara ini dinilai bukan sekadar perselisihan diplomatik biasa, melainkan sebuah pertarungan kompleks yang melibatkan ideologi, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut diungkapkan oleh Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam analisisnya, Azza membedah lapisan-lapisan konflik yang menjadikan hubungan Washington dan Caracas terus memanas, serta bagaimana dampaknya terhadap negara lain, termasuk Indonesia. Menurut Azza, untuk memahami situasi saat ini, kita harus melihat ke belakang, tepatnya sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih pada tahun 1998. Chávez membawa perubahan radikal dengan menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, yang paling mencolok adalah nasionalisasi sektor minyak, sektor yang sebelumnya didominasi oleh perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelas Azza, kepada beritajatim.com, Sabtu (17/1/2026). Hasil dari pengambilalihan kendali minyak tersebut kemudian diarahkan Chávez untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses pendidikan dan kesehatan gratis. Sayangnya, langkah pro-rakyat ini justru dipersepsikan sebagai ancaman ideologis oleh Washington. Sejak saat itulah, narasi antagonisme terhadap Venezuela mulai dibangun melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi di kancah internasional. Kompleksitas masalah kian meruncing ketika Venezuela tidak berjalan sendirian. Negara Amerika Latin ini menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan global pesaing AS, yakni Tiongkok dan Rusia. Azza menyoroti bahwa kedekatan ini dianggap AS sebagai ancaman geopolitik serius. Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa Venezuela adalah pemegang cadangan minyak terbesar di dunia. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” tegasnya. Era Maduro dan Motif Energi Amerika Serikat Tekanan politik AS berlanjut dan semakin intensif di era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai tidak hanya melanjutkan kebijakan Chávez, tetapi juga memperkuatnya dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Situasi ini dimanfaatkan Barat untuk mendukung kubu oposisi, termasuk tokoh Maria Corina Machado. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim (regime change) yang semakin nyata,” ungkap Azza. Lebih jauh, Azza menegaskan bahwa faktor energi adalah kunci utama dalam memahami kebijakan luar negeri AS terhadap Venezuela. Stabilitas ekonomi AS sangat bergantung pada keamanan energi. Azza mengingatkan bahwa AS belajar banyak dari krisis minyak tahun 1970-an, di mana ketergantungan energi harus dikendalikan dengan ketat. “Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro, yang secara terbuka menyatakan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Lantas, bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Azza menilai bahwa dalam jangka pendek, efeknya belum terasa signifikan. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” ujarnya. Namun, ia tetap memperingatkan agar Indonesia terus mencermati dinamika ini, mengingat dampak jangka panjang konflik geopolitik bisa berubah sewaktu-waktu. Menutup analisisnya, Azza menekankan bahwa kasus AS–Venezuela adalah materi pembelajaran yang sangat berharga bagi akademisi. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya. (dan/kun)

UMM dan Umsura Tembus 20 Besar Kampus Terbaik di Jatim Versi Webometrics 2026

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura ) masuk 20 universitas terbaik di Jatim berdasarkan pemeringkatan Webometrics edisi Januari 2026. Dengan data pemeringkatan ini bisa melihat kualitas dan daya saing sebuah kampus, baik di tingkat nasional maupun global. Salah satu pemeringkatan internasional terbaru dirilis oleh Webometrics. Lembaga pemeringkatan internasional itu baru saja merilis pemeringkatan edisi Januari 2026. Pada edisi Januari 2026, Webometrics kembali merilis pemeringkatan universitas dunia, termasuk perguruan tinggi di Indonesia. Hasil pemeringkatan tersebut memberikan gambaran tentang peta persaingan kampus nasional, sekaligus menunjukkan daerah-daerah yang memiliki kontribusi kuat dalam pengembangan pendidikan tinggi. Di Jatim, sejumlah perguruan tinggi tampil menonjol dan masuk jajaran kampus terbaik nasional versi Webometrics. Kampus-kampus tersebut tersebar di berbagai kota, mulai dari Surabaya, Malang hingga Madura. Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember tercatat sebagai kampus dengan peringkat dunia tertinggi di Jawa Timur. Ketiganya menunjukkan konsistensi dalam aspek riset, visibilitas akademik, serta kontribusi ilmiah yang berdampak luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain perguruan tinggi besar, sejumlah kampus kecil di Jawa Timur juga mencatatkan performa positif. Hal ini menunjukkan ekosistem pendidikan tinggi di provinsi ini terus berkembang dan tidak hanya bertumpu pada segelintir institusi. Pemeringkatan Webometrics ini dapat menjadi bahan pertimbangan awal bagi calon mahasiswa dan orang tua dalam memilih perguruan tinggi. Universitas Muhammadiyah Surabaya. Foto: Umsura Berikut daftar 20nkampus terbaik di Jatim versi Webometrics edisi Januari 2026: 1. Universitas Airlangga World Rank: 590 Impact Rank: 694 Opennes Rank: 27720 Excellence Rank: 1056 2. Universitas Brawijaya World Rank: 747 Impact Rank: 572 Opennes Rank: 822 Excellence Rank: 1905 3. Institut Teknologi Sepuluh Nopember World Rank: 888 Impact Rank: 932 Opennes Rank: 1119 Excellence Rank: 1892 4. Universitas Negeri Malang World Rank: 951 Impact Rank: 1005 Opennes Rank: 948 Excellence Rank: 2438 5. Universitas Islam Malang World Rank: 1913 Impact Rank: 1409 Opennes Rank: 1960 Excellence Rank: 5694 6. Universitas Jember World Rank: 1423 Impact Rank: 1070 Opennes Rank: 1276 Excellence Rank: 3654 7. Universitas Negeri Surabaya World Rank: 1340 Impact Rank: 1523 Opennes Rank: 1153 Excellence Rank: 3981 8. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya World Rank: 1985 Impact Rank: 2481 Opennes Rank: 2906 Excellence Rank: 5115 9. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya World Rank: 1921 Impact Rank: 3793 Opennes Rank: 2629 Excellence Rank: 4728 10. Universitas Muhammadiyah Malang World Rank: 1291 Impact Rank: 904 Opennes Rank: 1526 Excellence Rank: 3634 11. Universitas Surabaya World Rank: 2063 Impact Rank: 5313 Opennes Rank: 2262 Excellence Rank: 4191 12. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya World Rank: 2112 Impact Rank: 3526 Opennes Rank: 2756 Excellence Rank: 4730 13. Universitas Muhammadiyah Surabaya World Rank: 2290 Impact Rank: 2371 Opennes Rank: 2674 Excellence Rank: 5984 14. Petra Christian University World Rank: 1974 Impact Rank: 2977 Opennes Rank: 28811 Excellence Rank: 4575 15. Universitas Katolik Widya Karya Malang World Rank: 2415 Impact Rank: 3349 Opennes Rank: 30112 Excellence Rank: 4871 16. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya World Rank: 2611 Impact Rank: 5561 Opennes Rank: 29862 Excellence Rank: 5971 17. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur World Rank: 1738 Impact Rank: 1844 Opennes Rank: 2087 Excellence Rank: 4421 18. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang World Rank: 1300 Impact Rank: 957 Opennes Rank: 29323 Excellence Rank: 4053 19. Universitas Trunojoyo Madura World Rank: 1689 Impact Rank: 1751 Opennes Rank: 3487 Excellence Rank: 4512 20. Universitas Dr Soetomo World Rank: 2746 Impact Rank: 4012 Opennes Rank: 32210 Excellence Rank: 5231.

AS vs Venezuela, Akademisi UMM: Konflik Geopolitik Kepentingan Ekonomi dan Energi

MALANG POST – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelasnya. Hasil nasionalisasi minyak tersebut kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis. Seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik. Terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkuat, kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyampaikan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Maknai Isra’ Mi’raj, Dosen PAI UMM Posisikan Shalat sebagai Kompas Kesadaran

I’anatut Thoifah MPdI, dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Peringatan Isra’ Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan arah hidup mahasiswa di tengah tekanan akademik. Namun, sering kali tersimpan pesan penting yang jarang dibahas, yaitu bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme hidup manusia, termasuk bagi mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh I’anatut Thoifah MPdI, dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan kuat tentang bagaimana manusia menguatkan diri di tengah krisis. “Isra’ Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana. Ia menilai kondisi tersebut sangat relevan dengan realitas mahasiswa hari ini. Tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan mental sering kali tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang kerap diabaikan. Lebih lanjut, I’ana menyampaikan bahwa keistimewaan Isra’ Mi’raj terletak pada satu ibadah yang ditetapkan di dalamnya, yaitu shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Itu menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelasnya. Lebih dari sekadar ritual, dosen Pendidikan Agama Islam itu memandang shalat sebagai sistem pengelolaan waktu yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat, katanya, membentuk pola hidup yang teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya. Dalam konteks mahasiswa yang sering terjebak pada kesibukan tanpa henti, shalat menjadi penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, tetapi membantu menjaga fokus dan ketenangan. Ia menambahkan, Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup. Dzuhur menjadi jeda untuk evaluasi aktivitas. Ashar menumbuhkan kesadaran bahwa waktu terbatas. Maghrib menjadi ruang refleksi. Dan Isya adalah saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Pola ini membuat hidup lebih terarah meskipun di tengah kesibukan yang padat. Bagi mahasiswa, I’ana menganggap bahwa nilai Isra’ Mi’raj dan shalat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter. Isra’ Mi’raj memberi orientasi hidup, bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya. Terakhir, Ia berpesan kepada mahasiswa bahwa shalat harus menjadi kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, hal itu menjadi pengingat penting. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah, tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah,” pungkasnya. (Faqih/AS)

UMM Berangkatkan Dosen dan Mahasiswa ke Eropa Lewat Erasmus+

Kota Malang, Bhirawa- Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkokoh posisinya di kancah global. Melalui International Relations Office (IRO), Kampus Putih membekali lima mahasiswa dan empat dosen terpilih yang berhasil lolos program Erasmus+ (Erasmus Plus) dalam kegiatan Pre-Departure Orientation yang digelar pada akhir pekan kemarin di GKB 4 UMM. Program yang didanai penuh oleh Uni Eropa ini merupakan langkah strategis UMM dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing global. Para peserta akan menjalani aktivitas akademik di sejumlah perguruan tinggi mitra di Benua Biru tersebut. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, mengungkapkan bahwa proses seleksi program ini dilakukan secara sangat ketat. Tahapan dimulai dari kerja sama resmi antar-universitas, seleksi administrasi, wawancara, hingga verifikasi akhir dari institusi tujuan di Eropa. “Kami ingin memastikan mahasiswa dan dosen yang berangkat benar-benar siap, baik secara akademik maupun kultural. Mereka harus mampu beradaptasi dengan baik dan menjaga nama baik UMM di kampus tujuan,” tegas Listiari. Lilis, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa saat ini UMM telah memiliki 14 mitra aktif Erasmus yang mencakup skema outbound maupun inbound. Untuk menjaga kelancaran studi, UMM menetapkan kriteria mahasiswa yang berangkat minimal berada di semester tiga dan maksimal semester lima. “Kebijakan ini diambil agar mahasiswa tetap memiliki ruang akademik untuk proses konversi mata kuliah sekembalinya ke tanah air,” imbuhnya. Sebagai bentuk dukungan nyata, pihak kampus memberikan fasilitas berupa pembebasan biaya SPP selama satu semester bagi mahasiswa outbound. Selain itu, UMM menjamin kemudahan konversi nilai serta memberikan apresiasi melalui unit kemahasiswaan agar peserta bisa fokus pada studi internasional tanpa kendala administratif. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D, dalam arahannya menekankan bahwa para penerima Erasmus+ adalah representasi wajah UMM di tingkat internasional. Ia berharap para delegasi mampu menunjukkan integritas, etika, dan prestasi yang membanggakan. “Manfaatkan kesempatan ini bukan sekadar untuk belajar atau mengajar, tetapi bangunlah jejaring internasional. Bawa pulang praktik-praktik baik (best practices) yang bisa dikembangkan untuk kemajuan UMM,” pesan Prof. In’am. Langkah ini, lanjutnya, selaras dengan komitmen UMM untuk mencetak lulusan berwawasan global yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. Selain mobilitas fisik, UMM juga terus menguatkan strategi internasionalisasi melalui kelas internasional, mikro-kredensial, dan pembelajaran daring lintas negara. [mut.wwn]

Penganugerahan Jurnalistik Kerjasama Prodi BSI Modern UMM dan Malang Posco Media, Penuh Tantangan, Bangga Terbitkan BacaWarta+

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Penganugerahan Jurnalistik untuk mahasiswa angkatan 2023. Awarding ini merupakan puncak dari praktik mata kuliah Jurnalistik. Digelar di Aula BAU UMM, Rabu (14/1) lalu, dengan nama Nawasena Award 2026. Penganugerahan dikemas unik dan kreatif. Mahasiswa mendesain kegiatan dengan konsep petualangan. Temanya: Nawasena Adventure Petualangan Jurnalistik Menuju Masa Depan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum launching koran karya mahasiswa. Namanya: BacaWarta+. Baca Sekarang Tahu Segalanya! KARYA MAHASISWA: Dr Faizin M.Pd Wadek 2 FKIP sekaligus dosen pengampu Jurnalistik memberikan karya kepada Dr Isnaini, M.Pd Kajur Prodi BSI Modern didampini Abdul Halim dan para dosen. Sedikitnya ada 20 penghargaan yang perebutkan. Di antaranya manager berbakat, wartawan berbakat, fotografer berbakat, berita dan foto terbaik, rubrik terbaik, pj rubrik berbakat, marketing koran berbakat, marketing iklan berbakat, foto rubrik terkece, nama rubrik terkreatif, dan video liputan terkreatif. Abdul Halim, S.Sos, selaku dosen pengampu Mata Kuliah Jurnalistik, merasa haru sekaligus bangga. Kegiatan ini digelar begitu istimewa. Dan kegiatan ini menjadi puncak dari pembelajaran jurnalistik setelah beberapa bulan mahasiswa menyelesaikan proyek. SELAMAT: Kajur Prodi BSI Modern Dr Isnaini, M.Pd bersama penerima penghargaan Manager Berbakat satu, dua dan tiga serta Pj Rubrik berbakat “Setiap angkatan selalu memunculkan terobosan. Selalu ada kreasi dan inovasi. Dan itu diluar bayangan kami. Termasuk angkatan tahun ini yang telah menghasilkan karya luar biasa,” ujarnya. Sebanyak 35 siswa telah menyelesaikan tugas dengan baik. Seperti biasanya, setiap angkatan membuat proyek surat kabar atau koran. Isi konten beritanya merupakan hasil dari kreasi mahasiswa. Persis seperti perusahaan media profesional. Ada pemimpin perusahaan, pemimpin redaksi, manajer iklan, manajer marketing, kordinator liputan dan wartawan serta fotografer. Selama tiga bulan mereka melaksanakan tugas perencanaan, liputan, wawancara, menulis berita, editing hingga layout. Semua tahapan itu dikerjakan dengan baik. “Program ini sudah tahun ke-15. Dan tahun ini pecah rekor lagi. Mahasiswa berhasil mencetak 1.000 eksemplar koran dan terjual habis. Semua telah bertugas dengan baik dan sukses menaklukkan berbagai tantangan dan kendalanya,” kata Halim. MOTOR: Tim Enam yang menjadi motor praktik Jurnalistik bersam Abdul Halim dosen pengampu Jurnalistik Kaprodi BSI Modern FKIP UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd menilai BacaWarta+ adalah karya mahasiswa yang luar biasa. Dalam mewujudkan acara tersebut butuh perjuangan dan pengorbanan. “Awalnya saya ragu. Namun kalian telah membuktikan bisa menggelar acara ini dengan sukses. Ini akan menjadi bekal berharga untuk kalian terjun ke dunia kerja di masa depan,” katanya. Menurutnya, praktik jurnalistik telah melatih mahasiswa membangun kerja tim. Sesuai dengan atmosfer dunia kerja. Apalagi di perusahaan media yang tuntutan kerjanya sangat tinggi. “Kalian berhasil menerbitkan koran. Sebuah media cetak yang tidak semua bisa melakukan. Setiap dari kalian telah menunjukkan peran. Jadikan referensi dan pengalaman yang berharga sebelum masuk dunia kerja,” tutur mantan Kepala Humas UMM ini. Hal senada disampaikan Wakil Dekan 2 FKIP UMM Dr. Faizin, M.Pd. Dia turut hadir menyaksikan secara langsung produk jurnalistik karya mahasiswa Prodi BSI Modern. “Kami kagum dengan karya mahasiswa. Dari fakultas kami siap selalu mendorong segala bentuk potensi mahasiswa. Baik akademik maupun non akademik,” ujarnya. Faizin mendorong para mahasiswa untuk tidak berhenti sampai di sini. Tetapi harus terus berupaya mengembangkan potensinya sampai maksimal. “Silahkan berproses. Apapun karya dan kegiatannya yang penting mendukung pada nilai kualitas pemberdayaan intelektual. FKIP akan siap memfasilitasi,” tegasnya. Pemimpin Redaksi BacaWarta+, Fatin Safinatunnajah menyampaikan terima kasih kepada Prodi BSI Modern yang telah memberikan kesempatan mereka berkarya. Juga kepada Abdul Halim, selaku dosen pengampu yang telah membimbing mulai awal hingga sukses terbit koran BacaWarta+.(imm/lim)

15 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026 Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2026/01/18/144054671/15-universitas-swasta-terbaik-di-indonesia-versi-webometrics-2026. Membership: https://kmp.im/plus6 Download aplikasi: https://kmp.im/app6

KOMPAS.com – Calon mahasiswa yang mau kuliah tahun ini, perlu tahu universitas swasta terbaik di Indonesia. Kuliah di universitas swasta terbaik di Indonesia bisa jadi strategi cadangan jika kamu belum lolos di perguruan tinggi negeri (PTN) incaranmu. Untuk tahu universitas terbaik di Indonesia bisa berdasarkan pemeringkatan Webometrics 2026. Lembaga pemeringkatan Webometrics kembali merilis peringkat perguruan tinggi terbaik di dunia periode Januari 2026. Pemeringkatan ini dilakukan setiap enam bulan atau pada Januari dan Juli. Webometrics merilis daftar peringkat kinerja universitas di seluruh dunia, termasuk perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia. Pemeringkatan dilakukan berdasarkan kemampuan perguruan tinggi berdasarkan persaingan global, keunggulan riset, keterbukaan hingga kinerja akademik dari perguruan tinggi. Pemeringkatan ini dapat kamu jadikan referensi sebagai pilihan tempat melanjutkan studi sehingga dapat memilih universitas yang tepat. Universitas swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics 2026 Perankingan ini juga dapat mencerminkan kualitas pendidikan, termasuk fasilitas yang tersedia sebagai penunjang pendidikan di kampus tersebut. Di samping itu, perankingan ini juga dapat memengaruhi peluang karier lulusan karena perusahaan atau organisasi sering mempertimbangkan reputasi perguruan tinggi. Berikut 15 universitas swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics 2026 dikutip dari laman resminya, Minggu (18/1/2026). 1. Telkom University Peringkat nasional: 9 Peringkat global: 1.164 2. Universitas Bina Nusantara (Binus University) Peringkat nasional: 13 Peringkat global: 1.371 3. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Peringkat nasional: 19 Peringkat global: 1.768 4. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Peringkat nasional: 20 Peringkat global: 1.824 5. Universitas Meda Area Peringkat nasional: 24 Peringkat global: 2.153  6. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Peringkat nasional: 27 Peringkat global: 2.397 7. Universitas Pelita Harapan Peringkat nasional: 33 Peringkat global: 2.656 8. Universitas Kristen Satya Wacana Peringkat nasional: 36 Peringkat global: 2.836 9. Universitas Katolik Parahyangan Peringkat nasional: 38 Peringkat global: 3.081 10. Universitas Gunadarma Peringkat nasional: 39 Peringkat global: 3.085  11. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Peringkat nasional: 45 Peringkat global: 3.224 12. Universitas Islam Malang Peringkat nasional: 46 Peringkat global: 3.307 13. Universitas Islam Indonesia (UII) Peringkat nasional: 47 Peringkat global: 3.333 14. Universitas Surabaya (Ubaya) Peringkat nasional: 48 Peringkat global: 3.398 15. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Peringkat nasional: 50 Peringkat global: 3.417.

Dosen HI UMM Ulas Ketegangan AS-Venezuela

Reportasemalang – Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelasnya. Hasil nasionalisasi minyak tersebut kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik, terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkuat, kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyampaikan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya(*)

Dosen HI UMM Ungkap Akar Ketegangan AS-Venezuela dan Dampak Bagi Indonesia

MALANG (SurabayaPost.id) – Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelas Azza, Sabtu (17/1/2026). Hasil nasionalisasi minyak tersebut kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik, terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkuat, kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya. (**).

Erasmus+ Jadi Pintu Globalisasi Kampus, Mahasiswa dan Dosen UMM Siap Berlaga di Kancah Internasional 17 January 2026 1:57 pm Uki Pendidikan 0

MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui International Relations Office (IRO) menggelar kegiatan Pre-Departure Orientation bagi mahasiswa dan dosen penerima program Erasmus+ di GKB 4 Lantai 1 pada Kamis (15/1/2026), sebagai bagian dari persiapan mobilitas internasional. Kegiatan ini diikuti oleh lima mahasiswa UMM penerima student mobility serta empat dosen penerima teaching mobility yang akan menjalani aktivitas akademik di sejumlah perguruan tinggi mitra di Eropa. Program Erasmus+ merupakan program mobilitas internasional yang didanai penuh oleh Uni Eropa (UE) dan berfokus pada bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan, serta olahraga. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, menjelaskan bahwa proses seleksi peserta Erasmus+ dilaksanakan secara bertahap dan ketat. “Kami ingin memastikan mahasiswa dan dosen yang berangkat benar-benar siap, baik secara akademik maupun kultural, sehingga mampu beradaptasi dengan baik dan membawa nama baik Universitas Muhammadiyah Malang di kampus tujuan,” ujarnya, Sabtu (17/1/2026). UMM memiliki 14 mitra aktif Erasmus yang mencakup skema outbound dan inbound, dengan pendanaan sepenuhnya berada di bawah kewenangan Uni Eropa. Kampus putih juga terus mengembangkan strategi internasionalisasi melalui penguatan kelas internasional, mikro kredensial, dan pembelajaran daring lintas negara. Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. menekankan bahwa mobilitas internasional merupakan bagian dari strategi besar UMM dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing global. “Kami berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, tidak hanya untuk belajar dan mengajar, tetapi juga untuk membangun jejaring internasional serta membawa pulang praktik-praktik baik yang dapat dikembangkan di UMM,” ungkapnya. Dengan dukungan institusi yang kuat, UMM siap mencetak lulusan berwawasan global, berdaya saing tinggi, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. (lil).