Mahasiswa Teknik Industi UMM Hadirkan Inovasi Terbarukan untuk UMKM, Petani, hingga Tunanetra

Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Industrial Engineering Expo (IE EXPO) 2026 sebagai ajang pameran karya dan inovasi mahasiswa pada Rabu (22/1/2026). Bertempat di GKB 4 lantai 9 UMM, kegiatan ini menjadi ruang apresiasi atas capaian pembelajaran mahasiswa yang terintegrasi antara riset, perancangan sistem, hingga pengembangan produk aplikatif. Pada IE EXPO 2026 menampilkan puluhan karya mahasiswa yang berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) dan Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Mulai dari alat untuk membantu para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti ekstraksi buah, roaster kopi, serta alat yang membantu para petani padi dalam mengeringkan gabah tanpa harus menjemur dibawah sinar matahari. Menariknya, juga ada alat yang dapat membantu tunanetra dalam mengetahui area sekitar dengan memberi getaran berdasarkan sensor. Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., menjelaskan bahwa IE EXPO 2026 menampilkan total 74 produk mahasiswa. Rinciannya, sebanyak 47 produk berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu dan 27 produk dari Perancangan dan Pengembangan Produk. “Poster dan produk terbaik akan kami daftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya, khususnya hak cipta desain industri. Dengan begitu, karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas kuliah, tetapi memiliki nilai lanjut dan perlindungan hukum,” jelas Dana. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa hasil pengembangan produk dari mata kuliah P3 dan PST juga dapat dilanjutkan sebagai topik skripsi mahasiswa. Skema ini dirancang agar mahasiswa tidak memulai penelitian dari nol, melainkan mengembangkan kajian yang telah dirancang. Dengan demikian, kesinambungan antara pembelajaran, riset, dan inovasi dapat terbangun secara lebih terarah dan berkelanjutan. Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Dr. Machmud Effendy, M.Eng., menegaskan bahwa seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil nyata dari proses pembelajaran komprehensif di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan produk, tetapi juga membangun cara berpikir sistematis dan terintegrasi lintas disiplin ilmu. “Melalui proses ini, mahasiswa dilatih untuk mengenali kebutuhan pengguna, menyusun konsep, mengembangkan desain, hingga melakukan evaluasi kinerja produk secara menyeluruh. Tahapan tersebut membentuk pola pikir mahasiswa agar lebih sistematis, kritis, dan berorientasi pada solusi nyata,” ungkap Effendy. Ia menambahkan bahwa IE EXPO sejalan dengan visi Fakultas Teknik UMM. Untuk mencetak lulusan yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha serta di kawasan berbasis industri. Melalui pameran ini, mahasiswa tidak hanya dinilai dari aspek akademik semata. Namun juga diberi ruang untuk berbagi pengetahuan, menerima masukan profesional dari reviewer, serta membangun kepercayaan diri sebagai calon praktisi dan profesional di bidang teknik industri. Melalui IE EXPO 2026, Program Studi Teknik Industri UMM berharap pameran karya mahasiswa dapat menjadi ruang pembelajaran kontekstual, jembatan kolaborasi dengan dunia industri, serta wahana pembentukan karakter mahasiswa yang siap terjun sebagai profesional di bidang teknik industri.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
RBC Institute Beri Sentuhan Edukatif agar Masjid Lebih Ramah Anak

KLIKMU.CO — Di tengah derasnya arus gawai yang kian menjauhkan anak-anak dari ruang ibadah, Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) bersama Masjid Baiturrahmah Sawojajar, Kota Malang, dan santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) menghadirkan wajah berbeda pada masjid. Tak sekadar menjadi tempat salat, masjid juga dihadirkan sebagai ruang belajar yang ramah anak melalui kegiatan literasi dan pembinaan akhlak, Sabtu (18/1/2026). Kegiatan ini difokuskan pada pembentukan akhlak dan adab anak sebagai fondasi pendidikan sejak dini. Seluruh rangkaian aktivitas dikemas secara sederhana dan menyenangkan agar mudah diterima anak-anak. Metode yang digunakan meliputi kegiatan berkisah, bermain, permainan edukatif, serta berbagai aktivitas kreatif yang disesuaikan dengan usia dan karakter peserta. Pemilihan masjid sebagai lokasi kegiatan didasari pandangan bahwa masjid merupakan pusat peradaban sekaligus ruang pendidikan yang semestinya ramah anak. Fenomena anak-anak yang rajin ke masjid saat kecil namun cenderung menjauh ketika beranjak dewasa menjadi perhatian tersendiri. Karena itu, kegiatan ini dirancang untuk menjaga kedekatan anak dengan masjid sejak usia dini. Koordinator Program RBC Institute Abdul Malik Fadjar Manda Danastri menegaskan bahwa kehadiran literasi di masjid merupakan ikhtiar penting untuk menyeimbangkan perkembangan anak di tengah arus digital. “Anak-anak hari ini sangat dekat dengan gawai. Karena itu, masjid perlu dihadirkan sebagai ruang alternatif yang menyenangkan, aman, dan mendidik. Melalui literasi dan pembinaan akhlak, kami ingin anak-anak merasa bahwa masjid adalah rumah belajar yang ramah bagi mereka,” ujarnya. Dia menambahkan, kolaborasi antara ibu-ibu masjid dan pelajar IPM menjadi kekuatan utama dalam program tersebut. “Gerakan literasi akan lebih berdampak jika dilakukan bersama. Ketika masjid, komunitas, dan pelajar bergerak bersama, pembinaan akhlak dan budaya baca anak dapat tumbuh secara berkelanjutan,” katanya. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) PPI-AMF Azhar Izzudin mengatakan keterlibatan IPM merupakan bentuk kontribusi pelajar dalam kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat. “Kami datang sebagai relawan untuk membantu kegiatan rutin di masjid. Kami bekerja sama dengan RBC melalui mobil baca, mendampingi adik-adik membaca buku, mengenalkan gambar, dan bermain bersama,” ujarnya. Azhar menambahkan, momen yang paling berkesan bagi para relawan adalah saat mendampingi anak-anak membaca. “Ada adik-adik yang meminta dibacakan buku dan bertanya tentang gambarnya. Dari situ kami belajar mengenali karakter anak-anak,” katanya. Melalui kolaborasi ibu-ibu Masjid Baiturrahmah, RBC Institute Abdul Malik Fadjar, dan IPM PPI-AMF tingkat ranting, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif, meningkatkan minat literasi, serta mempererat kedekatan anak-anak dengan masjid secara berkelanjutan. (Faqih/AS)
Lawan Kecanduan Gawai, Masjid Baiturrahmah Malang Hadirkan Literasi Seru Demi Selamatkan Akhlak Anak

www.majelistabligh.id –Di tengah gempuran era digital yang seringkali menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai spiritual, sebuah kolaborasi inspiratif lahir di sudut Kota Malang. Masjid Baiturrahmah Sawojajar mendadak riuh dengan keceriaan anak-anak pada Ahad (18/1/2026). Bukan sekadar berkumpul untuk ibadah ritual, mereka hadir untuk menyelami dunia literasi dalam balutan pembinaan karakter yang hangat. Inisiasi ini digerakkan oleh kolaborasi tiga pilar: Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, pengurus Masjid Baiturrahmah, serta para santri dari Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF). Melalui kegiatan ini, masjid tidak lagi dipandang sebagai tempat yang kaku, melainkan bertransformasi menjadi laboratorium pendidikan yang menyenangkan bagi anak-anak. Fokus utama dari agenda ini adalah menanamkan adab dan akhlak sejak dini. Panitia menyadari bahwa mendidik anak-anak membutuhkan metode yang luwes. Alih-alih ceramah satu arah, materi disampaikan lewat rangkaian aktivitas kreatif seperti mendongeng, permainan edukatif yang menstimulasi logika, hingga berbagai simulasi karakter yang disesuaikan dengan jenjang usia peserta. Manda Danastri, selaku Koordinator Program RBC Institute AMF, memandang langkah ini sebagai ikhtiar mendesak di tengah ketergantungan anak terhadap gawai. “Masjid harus hadir sebagai alternatif ruang publik yang aman dan edukatif,” ujarnya. Manda menekankan bahwa literasi dan pembinaan akhlak adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan agar anak-anak merasa memiliki kedekatan emosional dengan masjid hingga mereka dewasa nanti. Satu hal yang menarik adalah pelibatan pelajar dari Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) PPI-AMF sebagai relawan lapangan. Kehadiran “Mobil Baca” milik RBC Institute menjadi magnet tersendiri. Di sana, para santri muda mendampingi adik-adik mereka mengeksplorasi ribuan judul buku, mulai dari buku cerita bergambar hingga literatur agama yang ringan. Azhar Izzudin, Ketua Umum PR IPM PPI-AMF, menceritakan pengalamannya dalam aksi sosial ini. Baginya, keterlibatan para pelajar adalah bentuk nyata kontribusi kepada masyarakat. Azhar mengisahkan bagaimana para relawan harus jeli memahami karakter tiap anak saat membacakan buku atau menjawab pertanyaan-pertanyaan polos tentang ilustrasi yang mereka lihat. Interaksi dua arah inilah yang kemudian menumbuhkan minat baca secara organik. Membangun Peradaban dari Serambi Masjid Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan penuh ibu-ibu jamaah Masjid Baiturrahmah. Sinergi antara komunitas literasi, lembaga pendidikan, dan takmir masjid menciptakan sebuah ekosistem belajar yang berkelanjutan. Ada kekhawatiran umum bahwa anak-anak seringkali rajin ke masjid saat kecil namun perlahan menjauh saat menginjak usia remaja. Program ini dirancang khusus untuk memutus rantai tersebut. Dengan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban dan literasi, diharapkan anak-anak di Kota Malang tidak hanya cerdas secara intelektual melalui hobi membaca, tetapi juga memiliki akar moral yang kuat. Kolaborasi ini menjadi pesan kuat bahwa pendidikan karakter terbaik dimulai dari tempat yang paling dekat dengan hati masyarakat yakni Masjid. (abdul fatah)
UMM Hadirkan Pengabdian Global Melalui Program KKN Internasional di Malaysia

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jangkauan pengabdian masyarakat hingga ke tingkat internasional melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional.Program ini menjadi bagian dari strategi UMM dalam memperkuat kontribusi akademik dan sosial di kancah global. Pelepasan mahasiswa KKN Internasional tujuan Penang, Malaysia, dilaksanakan pada Selasa (20/01/2026) di Ruang Inovasi Bidang 4 UMM. Sebanyak empat mahasiswa terpilih secara resmi dilepas dan dijadwalkan bertolak ke Malaysia pada Rabu (21/01/2026). Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyampaikan bahwa KKN Internasional tidak sekadar menjadi program pengabdian lintas negara, tetapi merupakan bagian dari agenda internasionalisasi UMM yang berlandaskan nilai kebermanfaatan. Ia menegaskan bahwa mahasiswa yang mengikuti program tersebut mengemban peran strategis sebagai duta institusi di ruang global. Menurutnya, KKN Internasional menjadi langkah awal bagi UMM dalam menghadirkan praktik pengabdian masyarakat yang berdampak luas dan relevan secara internasional. Mahasiswa diharapkan mampu menampilkan kompetensi akademik, kepekaan sosial, serta mengimplementasikan nilai-nilai kemuhammadiyahan dalam dinamika lintas budaya. Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN Internasional ini melibatkan kerja sama dengan Persatuan Masyarakat Indonesia di Malaysia (Permai Malaysia). Kolaborasi tersebut dipilih karena karakter komunitas Permai yang dinilai unik. Meskipun telah berasimilasi sebagai warga Malaysia, komunitas ini tetap memiliki keterikatan kultural dan emosional yang kuat dengan Indonesia, sehingga menjadi ruang yang tepat bagi mahasiswa UMM untuk menjalankan pengabdian berbasis interaksi lintas budaya. Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP., yang menyebut bahwa KKN Internasional ini merupakan program perdana yang diinisiasi oleh LPPM sebagai upaya pengembangan skema pengabdian berskala internasional. Program tersebut difasilitasi oleh Bidang Kerja Sama di bawah koordinasi Wakil Rektor IV. Pada periode 2025–2026, UMM akan memprioritaskan penguatan jejaring pengabdian di kawasan ASEAN, meliputi Malaysia, Thailand, dan Singapura. Ia menjelaskan bahwa pemilihan kawasan ASEAN sebagai fokus awal bertujuan agar model pengabdian yang dikembangkan dapat berjalan secara matang dan terukur. Apabila program awal ini berhasil dan memberikan dampak signifikan, UMM berencana memperluas jejaring pengabdian hingga ke kawasan di luar ASEAN. Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian LPPM UMM, Dr. Arina Restian, M.Pd., menuturkan bahwa peserta KKN Internasional tidak hanya melaksanakan aktivitas sosial, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan luaran akademik yang berkelanjutan. Luaran tersebut meliputi penyusunan buku sejarah diplomasi Malaysia berbasis komunitas, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual dari hasil kajian fenomena sosial, serta publikasi ilmiah. Melalui pendekatan integratif antara pengabdian, riset, dan publikasi, mahasiswa diharapkan mampu mengonversi pengalaman lintas budaya menjadi kontribusi akademik yang konkret bagi universitas maupun masyarakat. Ke depan, UMM menargetkan peningkatan jumlah peserta KKN Internasional seiring dengan bertambahnya mitra luar negeri. Program ini diharapkan menjadi salah satu unggulan pengabdian internasional UMM yang berkelanjutan dan berorientasi pada solusi nyata.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Dosen Manajemen UMM Soroti Efek QRIS: Pengeluaran Kecil Bisa Picu Masalah Besar

KLIKMU.CO – Kemudahan pembayaran nontunai melalui QRIS kini menjadi primadona di kalangan mahasiswa, khususnya Generasi Z. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang kerap tidak disadari penggunanya. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ainur Rifqi Almahdani Rahmat MM menyoroti fenomena ini sebagai salah satu pemicu terkikisnya kesadaran finansial anak muda. Rifqi menjelaskan, secara psikologis, transaksi menggunakan QRIS terasa sangat berbeda dibandingkan dengan pembayaran tunai. Saat menggunakan uang fisik, seseorang merasakan sensasi “kehilangan” yang nyata karena uang berpindah tangan dan terlihat berkurang. Sebaliknya, pembayaran digital membuat hambatan psikologis untuk berbelanja menjadi sangat rendah karena prosesnya instan. Kondisi tersebut memicu munculnya latte factor, yakni pengeluaran kecil rutin seperti kopi atau jajanan yang kerap dianggap sepele, tetapi berdampak signifikan terhadap tabungan di akhir bulan. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ungkapnya kepada Tim Humas UMM, Senin (19/1/2026). Meski demikian, Rifqi menegaskan bahwa sistem QRIS tetap memiliki banyak keuntungan, seperti kemudahan transaksi tanpa uang kembalian serta pencatatan pengeluaran yang otomatis dalam aplikasi. Namun, tantangan utamanya terletak pada kontrol diri pengguna yang sering melemah akibat godaan promo dan cashback. Dia menjelaskan, promo merupakan strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja berulang (repeat order). Konsumen yang semula tidak membutuhkan suatu barang atau jasa akhirnya terdorong membeli karena merasa mendapatkan potongan harga. Dalam jangka panjang, justru pelaku usaha yang lebih diuntungkan. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif meningkat karena terbentuk kebiasaan baru. Yang semula bukan kebutuhan menjadi keinginan akibat promo, sehingga terjadi repeat order secara terus-menerus,” jelasnya. Lebih jauh, Rifqi mengingatkan bahwa ilusi saldo digital dapat membentuk mentalitas keuangan yang kurang disiplin. Nilai uang menjadi terasa abstrak, sehingga tanpa evaluasi berkala, khususnya Gen Z berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldo masih aman, padahal pengeluaran harian sudah melampaui batas. Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan agar mahasiswa menggunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi harian berbasis QRIS. Cara ini dinilai memudahkan rekapitulasi sekaligus evaluasi pengeluaran bulanan. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS dan biasakan mengecek rekap pengeluaran setiap bulan agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya. Dengan strategi tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat menikmati kemudahan teknologi pembayaran digital tanpa kehilangan kendali atas kondisi keuangan, sekaligus menjalani gaya hidup cashless yang lebih bijak. (Faqih/AS)
Gandrung Dracin
UMM Lepas Mahasiswa KKN Internasional ke Malaysia, Perluas Pengabdian Global

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperluas jangkauan pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. Sebanyak empat mahasiswa UMM resmi dilepas untuk menjalankan KKN di Penang, Malaysia, dalam kegiatan pelepasan yang digelar di Ruang Inovasi Bidang 4 UMM, Selasa (20/1/2026). Keempat mahasiswa tersebut dijadwalkan berangkat pada Rabu (21/1/2026) sebagai bagian dari upaya UMM memperkuat kontribusi akademik dan sosial di tingkat internasional. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., mengatakan KKN Internasional merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang menekankan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat lintas negara. Menurutnya, mahasiswa yang diberangkatkan membawa tanggung jawab sebagai duta institusi di ruang global. “KKN Internasional bukan sekadar pengabdian lintas negara, tetapi juga representasi nilai akademik, sosial, dan kemuhammadiyahan UMM dalam konteks lintas budaya,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, UMM menggandeng PERMAI Malaysia (Persatuan Masyarakat Indonesia di Malaysia) sebagai mitra pengabdian. Kerja sama ini dinilai strategis karena komunitas PERMAI memiliki kedekatan kultural dengan Indonesia meskipun telah berasimilasi sebagai warga Malaysia. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP., menjelaskan bahwa KKN Internasional ini merupakan program perdana yang diinisiasi LPPM sebagai pengembangan skema pengabdian berbasis internasional. Pada periode 2025–2026, UMM memprioritaskan kawasan ASEAN sebagai fokus awal. “Kami memulai dari kawasan terdekat agar model pengabdian ini matang, terukur, dan berkelanjutan sebelum diperluas ke kawasan lain,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian LPPM UMM, Dr. Arina Restian, M.Pd., menambahkan bahwa mahasiswa KKN Internasional ditargetkan menghasilkan luaran akademik yang konkret. Luaran tersebut meliputi penyusunan buku sejarah diplomasi Malaysia berbasis komunitas, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta publikasi ilmiah. Program KKN Internasional ini diharapkan menjadi salah satu program unggulan UMM dalam memperkuat peran perguruan tinggi Indonesia di ranah pengabdian global serta memperluas jejaring internasional berbasis solusi nyata.
Pakar HI UMM Sebut Konflik Geopolitik AS-Venezuela Soal Ekonomi dan Energi

spatialhighlights – Dinamika hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela yang kembali memanas baru-baru ini menyita perhatian dunia. Meski operasi militer kilat yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro menjadi sorotan utama, Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengingatkan bahwa konflik ini memiliki akar yang jauh lebih dalam dan kompleks. Menurut Azza, ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global yang tidak dapat dipahami secara sederhana. Akar Konflik Sejak Era Hugo Chávez Azza menjelaskan bahwa keretakan hubungan ini sebenarnya dapat ditelusuri sejak 1998, saat Hugo Chávez terpilih sebagai Presiden Venezuela. Kebijakan ekonomi sosialis Chávez, terutama nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing, menjadi titik balik utama. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelas Azza, dikutip dari laman resmi UMM. Nasionalisasi minyak tersebut digunakan Chávez untuk membiayai kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan dan akses layanan kesehatan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Gedung Putih. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Perebutan Cadangan Energi Strategis Dalam kacamata Azza, aspek energi adalah jantung dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Venezuela. Sebagai negara dengan cadangan energi strategis yang masif, kontrol terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan nasional bagi AS demi menjaga stabilitas ekonominya. Azza menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” tuturnya. Kepentingan ini makin mendesak ketika Venezuela mulai menjalin hubungan erat dengan kekuatan besar, seperti Tiongkok dan Rusia. Azza menilai kedekatan tersebut dipersepsikan AS sebagai ancaman geopolitik yang nyata di halaman belakang mereka sendiri. “Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Perubahan Rezim dan Nasib Investasi Indonesia Tekanan politik AS terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro yang dinilai lebih otoriter. Azza menyoroti bagaimana dukungan Barat terhadap tokoh oposisi, seperti Maria Corina Machado, menunjukkan adanya niat yang kuat untuk melakukan perubahan kepemimpinan di Caracas. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Meski terjadi penangkapan Maduro oleh pasukan khusus AS dalam operasi militer yang melibatkan 150 pesawat pada awal Januari, Azza menilai dampaknya bagi Indonesia belum terlihat signifikan dalam jangka pendek. Ia mencatat bahwa operasional migas Indonesia di sana masih dalam koridor yang aman. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” terangnya. Untuk menutup ulasannya, Azza menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi para mahasiswa dan pengamat Hubungan Internasional. Baginya, kasus ini adalah contoh sempurna bagaimana ekonomi dan politik saling berkelindan. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” jelas Azza.
Dosen UMM Ingatkan Dampak QRIS, Transaksi Kecil Berpotensi Ganggu Keuangan

pwmu.co – Kemudahan sistem pembayaran nontunai berbasis QRIS kini menjadi pilihan utama di kalangan mahasiswa Generasi Z.Meski menawarkan kepraktisan dalam bertransaksi, penggunaan QRIS juga menyimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang kerap luput disadari penggunanya. Fenomena ini mendapat perhatian dari Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., yang menilai bahwa kebiasaan tersebut dapat menggerus kesadaran finansial anak muda. Rifqi menjelaskan bahwa dari sisi psikologis, transaksi menggunakan QRIS memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembayaran tunai. Saat membayar dengan uang fisik, individu cenderung merasakan secara langsung berkurangnya uang yang dimiliki. Sebaliknya, transaksi digital berlangsung cepat dan instan sehingga menurunkan hambatan psikologis dalam membelanjakan uang. Situasi ini memicu munculnya fenomena latte factor, yakni akumulasi pengeluaran kecil yang dilakukan secara rutin—seperti membeli kopi atau camilan—yang terlihat sepele namun berdampak besar terhadap kondisi keuangan di akhir bulan. Ia menuturkan bahwa rasa “kehilangan” uang jauh lebih terasa ketika seseorang mengeluarkan uang tunai, sementara pada pembayaran digital sensasi tersebut semakin samar karena proses transaksi yang singkat, cukup dengan memindai kode dan menekan tombol konfirmasi. Di sisi lain, Rifqi mengakui bahwa QRIS memiliki banyak keunggulan, mulai dari kemudahan transaksi tanpa uang kembalian hingga pencatatan otomatis dalam aplikasi. Namun, tantangan utama terletak pada melemahnya kontrol diri, terutama akibat tawaran promo dan cashback. Menurutnya, strategi tersebut dirancang untuk mendorong konsumen melakukan pembelian berulang, sehingga barang yang awalnya bukan kebutuhan berubah menjadi keinginan semata karena tergiur potongan harga. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan perilaku konsumtif dan membentuk pola belanja baru yang berulang. Akibatnya, konsumen cenderung terus bertransaksi meskipun tidak memiliki kebutuhan mendesak. Lebih lanjut, Rifqi mengingatkan bahwa ilusi saldo digital berpotensi menumbuhkan pola pengelolaan keuangan yang kurang disiplin. Nilai uang yang terasa semakin abstrak membuat sebagian mahasiswa, khususnya Gen Z, berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldo masih aman, padahal pengeluaran harian telah melampaui batas yang direncanakan. Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan agar pengguna membatasi transaksi QRIS hanya melalui satu aplikasi pembayaran. Dengan demikian, proses pencatatan dan evaluasi pengeluaran bulanan dapat dilakukan secara lebih mudah dan terkontrol. Melalui langkah tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat memanfaatkan kemudahan teknologi pembayaran digital tanpa kehilangan kendali atas kondisi keuangan pribadi. Perencanaan yang tepat akan membantu Generasi Z menjalani gaya hidup nontunai secara bijak dan terhindar dari perilaku konsumtif berlebihan.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Dosen UMM Ingatkan Bahaya QRIS bagi Keuangan Gen Z

Kota Malang, Tagarjatim.id — Kemudahan sistem pembayaran nontunai menggunakan QRIS kini menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda, khususnya mahasiswa Gen Z. Namun di balik kepraktisan tersebut, tersimpan risiko finansial yang kerap luput disadari, yakni menurunnya kontrol pengeluaran akibat ilusi saldo digital. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, menilai penggunaan QRIS dapat memicu perilaku konsumtif jika tidak disertai kesadaran dan pengelolaan keuangan yang baik. Menurutnya, transaksi digital membuat nilai uang terasa lebih abstrak dibandingkan penggunaan uang tunai. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ujar Rifqi, Rabu (21/1/2026). Ia menjelaskan, kondisi tersebut menurunkan hambatan psikologis untuk berbelanja. Akibatnya, pengeluaran kecil yang dilakukan secara rutin sering kali tidak terasa, tetapi berdampak besar dalam jangka panjang. Fenomena ini dikenal sebagai latte factor, yakni kebiasaan mengeluarkan uang untuk kebutuhan kecil seperti kopi atau jajanan yang dianggap sepele, namun perlahan menggerus tabungan. Di sisi lain, Rifqi mengakui bahwa QRIS memiliki banyak keunggulan, mulai dari kemudahan transaksi, pencatatan otomatis, hingga efisiensi tanpa uang kembalian. Namun, ia mengingatkan bahwa berbagai promo cashback dan diskon yang ditawarkan justru berpotensi melemahkan kontrol diri pengguna. “Promo cashback itu strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja berulang. Awalnya mungkin tidak butuh, tetapi karena ada diskon akhirnya membeli. Dalam jangka panjang, perusahaan yang paling diuntungkan, sementara konsumen terbiasa belanja di luar kebutuhan,” jelasnya. Rifqi menambahkan, tanpa evaluasi keuangan yang rutin, generasi muda berisiko mengalami defisit anggaran. Saldo digital yang masih terlihat cukup sering menimbulkan rasa aman semu, padahal pengeluaran harian telah melampaui batas yang direncanakan. Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan agar pengguna QRIS, khususnya mahasiswa, menggunakan satu aplikasi pembayaran khusus untuk kebutuhan harian. Dengan begitu, pengeluaran bulanan lebih mudah dipantau dan dievaluasi. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS, lalu biasakan mengecek rekap pengeluaran setiap bulan. Ini penting agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya. (*)