KKN Berdampak: Rektor UMM Tekankan Wujud Nyata Bangun Desa Melalui SDGs

pwmu.co –Bukan sekadar rutinitas akademik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengubah paradigma pengabdian masyarakat menjadi solusi konkret masalah desa.Melalui pelepasan 500 mahasiswa peserta KKN Berdampak 2026, Sabtu (24/1/2026), Kampus Putih menargetkan intervensi jangka panjang di 17 kecamatan Malang Raya. Program ini dirancang khusus sebagai katalisator tiga pilar utama SDGs, Pendidikan Berkualitas, Kehidupan Sehat, dan Kemitraan Strategis demi mewujudkan kemandirian desa hingga sepuluh tahun ke depan. Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM, Ir. Iis Siti Aisyah, MT. PhD. IPM, menegaskan bahwa KKN Berdampak kali ini dirancang dengan pendekatan strategis berbasis data. Dalam penentuan lokasi dan program pengabdian, pihaknya menerapkan prinsip Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDG 17) sebagai landasan utama. Prinsip kemitraan ini menjadi pondasi untuk menggerakkan pilar-pilar lainnya secara efektif. “Kami tidak sekadar menempatkan mahasiswa, tetapi membangun sinergi. Karena itu, kami berkoordinasi intensif dengan tiga komponen kunci yaitu Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), serta pemerintah desa setempat. Tujuannya adalah memetakan potensi dan masalah riil, sehingga program yang digarap benar-benar menjawab kebutuhan desa secara presisi,” ujar Iis. Dari hasil pemetaan partisipatif tersebut, para mahasiswa kemudian diterjunkan untuk mengakselerasi pencapaian target di dua sektor krusial lainnya. Pertama, mahasiswa menjadi garda terdepan mendukung Pendidikan Berkualitas (SDGs 4) melalui pendampingan intensif di sekolah dan madrasah, penguatan kurikulum pesantren, hingga pelatihan literasi digital bagi guru dan siswa. Kedua, aspek kesejahteraan fisik dan mental masyarakat disentuh secara mendalam melalui program Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDGs 3). Mahasiswa diproyeksikan aktif dalam penyuluhan kesehatan serta perbaikan sanitasi lingkungan. Upaya mewujudkan kehidupan yang sejahtera ini juga diperkuat dengan pendampingan ekonomi bagi pelaku UMKM dan penerapan teknologi tepat guna, yang bermuara pada peningkatan kualitas hidup warga desa secara menyeluruh. Disisi lain, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menekankan agar mahasiswa KKN mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia mendorong mahasiswa untuk mentransformasikan ilmu konseptual dari kampus menjadi solusi praktis di lapangan. Kehadiran mahasiswa diharapkan tidak hanya sebatas menggugurkan kewajiban akademik, tetapi mampu menciptakan lingkungan visioner yang menyatukan pemikiran akademis dengan kebutuhan riil warga, sehingga keberadaan mereka benar-benar dirasakan manfaatnya. “Saya harap mahasiswa dapat menciptakan situasi atau lingkungan belajar yang visioner, yaitu menggabungkan antara pengalaman belajar secara konseptual dan praktik agar pikiran kita dapat menyatu dengan suasana yang dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Ribuan Mahasiswa PPG UMM Disumpah, Siap Wujudkan Transformasi Pendidikan Nasional

KLIKMU.CO — Sebanyak 3.016 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan dan diambil sumpahnya pada Kamis (22/1/2026). Ribuan mahasiswa yang mengikuti prosesi secara luring maupun daring tersebut merupakan peserta Program PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Kegiatan pengukuhan ini menjadi wujud komitmen Universitas Muhammadiyah Malang dalam mencetak guru-guru profesional yang unggul dan berdaya saing, sekaligus berperan aktif dalam transformasi pendidikan nasional. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama Dr Fesal Musaad MPd menegaskan bahwa mutu pendidikan madrasah tidak hanya ditentukan oleh kurikulum. Menurutnya, kualitas pendidikan sangat bergantung pada sejauh mana negara memastikan guru berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan. “Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan,” tegasnya. Dia menambahkan, peningkatan mutu pendidikan nasional harus dimulai dari penguatan profesionalisme guru madrasah melalui peningkatan kualifikasi, sertifikasi, serta kompetensi yang terintegrasi. Guru, kata dia, merupakan penentu utama keberhasilan pembelajaran dan kualitas lulusan. “Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah kunci dan ujung tombak pembelajaran, sehingga upaya sertifikasi, PPG dalam jabatan, serta penguatan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian harus dipahami sebagai ikhtiar negara dalam menjamin mutu pendidikan madrasah,” ujarnya. Tonggak profesionalisme guru madrasah juga ditegaskan Ketua Program PPG FKIP Universitas Muhammadiyah Malang, Prof Dr Trisakti Handayani MM. Ia memandang pengambilan sumpah profesi sebagai fase penting dalam perjalanan pendidik. Menurutnya, PPG dalam jabatan bukan sekadar proses administratif untuk memperoleh sertifikat pendidik, melainkan bentuk pengakuan resmi atas dedikasi, kompetensi, dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas diri serta mutu pendidikan nasional. “Menjadi pendidik profesional bukan hanya tentang memiliki sertifikat, melainkan komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. Profesionalisme menuntut penguasaan kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional secara utuh yang telah bapak dan ibu buktikan melalui Program PPG Dalam Jabatan,” tuturnya. Dia juga menyoroti perubahan lanskap pendidikan di era digital yang menuntut guru mampu mengintegrasikan teknologi secara bijak dan bermakna. Mengingat peserta didik merupakan generasi digital, pembelajaran perlu dirancang lebih kontekstual dan menarik tanpa menghilangkan nilai keteladanan dan peran guru sebagai pusat pembelajaran. “Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru sebagai inspirator dan pembentuk karakter justru semakin penting. Pendidikan inklusif juga harus menjadi komitmen bersama, karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas demi terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045 yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga mulia dalam karakter,” tegasnya. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menempatkan pengambilan sumpah profesi guru madrasah sebagai momentum strategis dalam meneguhkan pilihan karier sebagai pendidik. Rektor menegaskan bahwa pendidikan madrasah merupakan bagian integral dari kultur pendidikan bangsa Indonesia dan tidak dapat diposisikan sebagai entitas yang terpisah dari pendidikan umum. “Pendidikan madrasah dan pendidikan umum bukan lagi sebuah dikotomi, tetapi tatanan pendidikan yang menyatu untuk melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter. Yang paling penting adalah bagaimana bapak-ibu merawat niat untuk terus memberikan yang terbaik demi tercapainya cita-cita mulia pendidikan,” ujarnya. Pengukuhan dan pengambilan sumpah profesi guru PPG dalam jabatan ini tidak hanya menandai berakhirnya satu tahap pendidikan profesi, tetapi juga membuka babak tanggung jawab baru bagi para guru madrasah mata pelajaran umum untuk menjadi pendidik profesional di era digital. Guru diharapkan berkomitmen pada nilai inklusi, penguasaan kompetensi abad ke-21, serta pengabdian berkelanjutan dalam membangun Generasi Emas Indonesia 2045. (Faqih/AS)

Prodi Fisioterapi UMM Gelar Sumpah Profesi Angkatan X, 141 Lulusan Resmi Sandang Gelar Fisioterapis

Malang, JurnalPost.com – Program Studi Profesi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan capaian membanggakan melalui pelaksanaan Sumpah Profesi Fisioterapis Angkatan X. Sebanyak 141 lulusan profesi secara resmi mengucapkan sumpah dan siap mengabdikan diri sebagai fisioterapis profesional di berbagai layanan kesehatan. Kegiatan sakral ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Rektor I UMM, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Sekretaris Jenderal PP IFI Pusat, Wakil Sekretaris Jenderal IFI Pusat, serta para Clinical Instructor (CI) dari rumah sakit jejaring. Turut hadir pula perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang, sebagai bentuk sinergi antara institusi pendidikan dan pemangku kebijakan kesehatan. Dalam sambutannya, pihak Program Studi Fisioterapi UMM menyampaikan capaian akademik yang sangat membanggakan. Tingkat kelulusan Uji Kompetensi Nasional dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) mencapai 100 persen kompeten, menegaskan kualitas lulusan yang unggul baik secara pengetahuan, keterampilan klinis, maupun profesionalisme. Tak hanya berprestasi di bidang kompetensi klinik, mahasiswa fisioterapi UMM juga menunjukkan produktivitas akademik yang tinggi. Hingga saat ini, tercatat 183 artikel ilmiah, 43 HKI, dan 1 Book Chapter berhasil dipublikasikan oleh mahasiswa fisioterapi melalui kolaborasi dengan jurnal nasional, sebagai wujud komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik berbasis bukti (evidence-based practice). Pencapaian ini memperkuat posisi Program Studi Fisioterapi UMM sebagai salah satu institusi pendidikan fisioterapi yang konsisten menghasilkan lulusan berdaya saing tinggi, berintegritas, dan siap menjawab tantangan pelayanan kesehatan modern. Melalui sumpah profesi ini, para lulusan diharapkan mampu mengemban amanah profesi dengan menjunjung tinggi etika, kompetensi, dan nilai kemanusiaan dalam setiap layanan yang diberikan kepada masyarakat.

Saat Hukum Kehilangan Makna Keadilan, Akademisi UMM Tawarkan Jalan Reformasi di Forum Internasional

Ketika hukum gagal menghadirkan keadilan, yang runtuh bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga legitimasi negara di mata warganya. Isu inilah yang menjadi poros utama dalam 2nd International Student Course on Law Reform 2026 bertajuk “When Law Fails: Justice, Governance, and Legal Resilience in a Global Era” yang diselenggarakan Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Aula BAU, Sabtu (24/1/2026). Kelas internasional ini mempertemukan perspektif akademik lintas negara untuk membaca krisis hukum kontemporer di tengah dinamika global. Dalam pemaparannya, Cekli Setya Pratiwi, SH., LL.M., M.CL., Ph.D., dosen FH UMM menegaskan bahwa kekecewaan publik terhadap hukum bukan sekadar reaksi emosional, melainkan cerminan persoalan struktural yang mengakar dalam sistem penegakan hukum Indonesia. Ia menyoroti berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia, pembatasan kebebasan berekspresi, hingga konflik agraria yang kerap baru memperoleh perhatian serius setelah viral di ruang publik dan mendapat tekanan media. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar tentang posisi hukum, apakah benar menjadi pelindung martabat manusia, atau justru berfungsi sebagai instrumen kekuasaan. “Ketika sebuah perkara hanya bergerak setelah menjadi sorotan luas, hal itu menunjukkan adanya jarak yang berbahaya antara norma hukum dan realitas keadilan yang dirasakan masyarakat. Hukum seharusnya bekerja melindungi, bukan menunggu legitimasi dari popularitas kasus,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa secara normatif Indonesia memiliki kerangka hukum yang sangat lengkap, mulai dari hukum nasional, hukum adat, hingga instrumen hak asasi manusia internasional. Namun, kelengkapan tersebut menyimpan paradoks karena dalam praktiknya penegakan hukum kerap dipengaruhi kepentingan ekonomi dan politik. Akibatnya, terjadi ketimpangan akses keadilan, terutama bagi kelompok rentan yang berada dalam posisi tidak setara di hadapan hukum. “Ketidakadilan hukum biasanya tampak dalam pola bias sistematis yang menguntungkan pihak berkuasa, pengecualian terhadap kelompok tertentu yang kehilangan akses keadilan, serta ketidakproporsionalan sanksi pelanggaran kecil dihukum berat, sementara pelanggaran besar justru luput dari jerat hukum,” tegasnya. Lebih lanjut, Ia menegaskan perlu adanya komitmen bagi para akademisi dan praktisi untuk terus mendorong reformasi hukum yang tidak berhenti pada kepatuhan prosedural semata, tetapi berorientasi pada keadilan substantif. Reformasi tersebut, menurutnya, harus diarahkan pada penguatan ketahanan hukum serta tata kelola yang berkeadaban, sehingga hukum benar-benar menjadi fondasi dalam membangun masyarakat global yang adil dan berkelanjutan. Menanggapi isu tersebut, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menyampaikan bahwa forum akademik internasional ini menjadi ruang strategis untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa dan sivitas akademika terhadap tantangan keadilan dan supremasi hukum di era global. Ia menegaskan peran perguruan tinggi sebagai penjaga nurani publik di tengah maraknya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, serta melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum. “Supremasi hukum hanya dapat ditegakkan melalui peradilan yang independen, media yang bebas, serta warga negara yang terinformasi dan berani terlibat dalam proses demokrasi. Tanpa akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik yang aktif, hukum berisiko kehilangan maknanya sebagai instrumen keadilan dan berubah menjadi sekadar alat legitimasi kekuasaan,” ujarnya. Terakhir, Ia berharap melalui forum akademik internasional ini, lahir generasi sarjana hukum dan intelektual muda yang tidak hanya cakap secara normatif, tetapi juga memiliki kepekaan etis dan keberanian moral dalam memperjuangkan keadilan. UMM berkomitmen untuk terus mendorong pendidikan hukum yang kritis, transformatif, dan berpihak pada kepentingan publik, sehingga kampus tidak hanya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga motor perubahan dalam membangun tatanan hukum yang adil, humanis, dan berkelanjutan.(vin/faq)     Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Riset Mahasiswa FIKES UMM Tembus Scopus Usai Teliti Strategi Coping Pramenstruasi

Malangpariwara.com — Prestasi membanggakan diraih Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FIKES UMM, yang berhasil mempublikasikan penelitiannya di jurnal internasional bereputasi Scopus Q2, capaian langka bagi mahasiswa. Penelitian tersebut mengangkat isu strategi coping perempuan dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Topik ini kerap dianggap sepele, namun memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan fisik dan psikologis perempuan. Fase Pramenstruasi Perempuan Rintan menjelaskan bahwa risetnya berfokus pada cara perempuan mengelola perubahan emosi, fisik, dan psikologis menjelang menstruasi melalui beragam mekanisme coping. Ia menilai respons perempuan terhadap fase pramenstruasi sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak faktor. “Setiap perempuan memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Ada yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan 22 Januari lalu pada tim humas UMM. Ketertarikan Rintan terhadap topik ini bermula dari pengalaman pribadinya yang kerap mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk memahami cara perempuan mengelola emosi dan kondisi fisik secara lebih sehat. “Saya juga mengalami perubahan emosi menjelang menstruasi. Dari situ muncul keinginan untuk memahami apakah ada cara yang lebih sehat dan efektif untuk mengelola kondisi tersebut,” ungkapnya. Strategi Coping Pramenstruasi Penelitian berjudul “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” ini melibatkan 321 responden perempuan di Indonesia. Hasil riset menunjukkan bahwa banyak perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri melalui aktivitas positif, seperti berkumpul dengan teman atau berbagi cerita. “Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” jelasnya. Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM yang jurnalnya tembus Scopus Q2 (Ist) Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya kesadaran diri terhadap kondisi tubuh. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya dinilai lebih siap secara mental menghadapi perubahan pramenstruasi. “Perempuan yang mengenal tubuhnya sendiri biasanya lebih cepat menyadari tanda-tanda perubahan emosi. Mereka kemudian bisa langsung menerapkan strategi coping, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak istirahat,” tambahnya. Rintan juga menemukan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan strategi coping perempuan. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus membuat perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat menghadapi fase pramenstruasi. Kurangnya Pemahaman Terkait Kesehatan Emosional Pramenstruasi Sebaliknya, kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar justru dapat memperburuk kondisi emosional perempuan. “Lingkungan yang suportif sangat membantu perempuan untuk tidak merasa sendirian. Sebaliknya, stigma atau anggapan berlebihan justru bisa memperparah tekanan emosional,” katanya. Melalui penelitian ini, Rintan menyoroti masih adanya kesenjangan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi di masyarakat. Ia menilai banyak perempuan belum menyadari bahwa perubahan emosi pramenstruasi merupakan kondisi alami yang perlu dikelola dengan tepat. “Perubahan emosi menjelang menstruasi itu wajar. Yang penting adalah bagaimana perempuan memahami dan mengelolanya, bukan memendam atau mengabaikannya,” tegas Rintan. Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif. Edukasi tersebut tidak hanya menekankan aspek biologis menstruasi, tetapi juga aspek psikologis dan sosial. “Perempuan perlu tahu bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi perubahan ini. Ada cara-cara sehat yang bisa dilakukan untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental,” ujarnya. Disamping itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa penelitian ini sejak awal memang diarahkan agar tidak berhenti sebagai skripsi semata. Mahasiswa didorong untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam dan siap menerima masukan dari reviewer internasional. “Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, dan siap menerima masukan, termasuk dari reviewer internasional,” jelas Henny. Ia menegaskan bahwa penelitian ini memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Keberadaan instrumen yang telah tervalidasi dinilai memudahkan perawat dalam menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat. “Dengan adanya instrumen yang telah tervalidasi, perawat dapat lebih mudah mengidentifikasi pola coping perempuan terhadap perubahan pramenstruasi dan menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat sasaran,” tambahnya. Henny berharap hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan. Baik dalam konteks pendidikan keperawatan maupun peningkatan layanan kesehatan reproduksi perempuan di Indonesia. (Djoko W)

Anak Korban Banjir Aceh Tamiang Dididik dan Dipulihkan dalam Sekolah Darurat oleh Relawan Muhammadiyah Jawa Timur

Optika.id – Relawan Muhammadiyah Jawa Timur mendirikan Sekolah Darurat untuk memulihkan harapan anak anak korban banjir di Tamiang Aceh. Mereka merupakan gabungan relawan dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jatim, Lazismu Jatim, serta akademisi dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di tengah lumpur yang masih mengering dan sisa puing banjir bandang yang menyelimuti Desa Sunting, Kabupaten Aceh Tamiang, secercah harapan tumbuh dari tenda-tenda sederhana. Sejumlah relawan kemanusiaan tersebut dari Jawa Timur hadir bukan sekadar membawa bantuan logistik, tetapi juga menghidupkan kembali denyut pendidikan bagi anak-anak penyintas bencana. Di lokasi bencana, para relawan mendirikan sekolah darurat sebagai upaya memastikan anak-anak tetap belajar di tengah kondisi yang serba terbatas. Langkah kemanusiaan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Ketua Umum TP PKK Pusat, Tri Suswati Tito Karnavian, saat meninjau lokasi sekolah darurat di Desa Sunting, Jumat (23/1/2026). “Terima kasih MDMC Jawa Timur yang sudah mendidik anak-anak di tempat korban bencana alam di Desa Sunting,” ujar Tri Suswati dengan nada haru. Apresiasi serupa juga disampaikan Sekretaris II TP PKK Pusat, Susana Harijani, SH, M.Si yang turut mendampingi kunjungan tersebut. Dia menilai kehadiran relawan Muhammadiyah sebagai kerja kemanusiaan yang tulus dan berdampak langsung. “Dari kami tentu saja menyemangati kerja baik dan kerja amal ini. Semoga mendapat balasan pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. Terima kasih atas semangatnya,” tutur Susana saat berbincang dengan relawan di posko lapangan. Berdasarkan riset lapangan tim relawan, banjir bandang di Aceh Tamiang berdampak signifikan terhadap kehidupan warga. Tercatat 438 kepala keluarga (KK) terdampak di dua desa dampingan, dengan rincian 203 KK di Desa Serba dan 235 KK di Desa Sunting. Ketua Umum TP PKK Pusat, Tri Suswati Tito Karnavian di lokasi bencana. Foto: Istimewa Di antara para penyintas tersebut, terdapat kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus, yakni 96 jiwa balita dan 108 jiwa lansia. Kondisi ini mendorong relawan Muhammadiyah untuk tidak hanya fokus pada bantuan darurat, tetapi juga pendampingan psikososial dan pemulihan jangka menengah. Salah satu sektor yang terdampak paling parah adalah pendidikan. Data lapangan menunjukkan lima unit fasilitas pendidikan mengalami kerusakan, dengan kondisi terparah menimpa satu unit Madrasah Ibtidaiyah (MI) Swasta di Dusun Tanjung yang rusak berat akibat atap roboh total. Sementara sekolah lainnya mengalami rusak sedang hingga kehilangan sarana belajar yang hanyut terbawa banjir. Hingga kini, gedung sekolah belum dapat digunakan karena tertutup lumpur tebal dan material sisa banjir. Dalam situasi tersebut, kehadiran tujuh tenaga pendidik sukarela dari Muhammadiyah menjadi penopang utama keberlangsungan pendidikan anak-anak di pengungsian. Meski cuaca ekstrem dan debu pekat membatasi aktivitas belajar hanya sekitar dua jam per hari, sekolah darurat tetap berjalan. Bagi anak-anak, rutinitas belajar ini menjadi ruang aman untuk kembali tertawa, berinteraksi, dan menata mimpi yang sempat terhenti. Komitmen kolektif relawan Muhammadiyah Jawa Timur terus diperkuat melalui pemenuhan sarana pendukung pendidikan. Sebanyak 200 paket school kit, meja lipat, serta tikar disalurkan untuk menunjang kelayakan proses belajar di sekolah darurat. Tak hanya pendidikan, layanan kesehatan juga menjadi fokus penting. Tim relawan secara rutin memberikan layanan kesehatan guna mengantisipasi meningkatnya kasus ISPA dan penyakit kulit yang mulai menyerang warga pengungsian. Melalui sinergi antara Lazismu Jawa Timur, MDMC, serta unsur Perguruan Tinggi Muhammadiyah–‘Aisyiyah (PTMA), pendekatan kemanusiaan berbasis data dan kebutuhan nyata masyarakat terus dijalankan secara konsisten. Kehadiran relawan Muhammadiyah di Aceh Tamiang menjadi bukti bahwa kerja kemanusiaan yang dilakukan dengan keikhlasan, kolaborasi, dan ketepatan sasaran mampu menjadi energi baru bagi masyarakat untuk bangkit—serta merajut kembali mimpi anak-anak yang sempat terendam banjir. Diambil dari pwmu.co, 23/01/2026 (*) Penulis : Yusuf Dwipa Wijaya *) Editor : Agus Wahyudi, Amrizal

KKN Tematik UMM 2026, Kampung Budaya Polowijen Jadi Lokus Revitalisasi Budaya Berbasis Digital

KLIKTIMES.COM | MALANG– Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026. Sebanyak 500 mahasiswa diterjunkan ke 15 titik lokasi KKN yang tersebar di berbagai wilayah, terdiri atas 10 KKN reguler dan 5 KKN tematik. Salah satu lokasi strategis yang menjadi lokus KKN tematik adalah Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Kehadiran mahasiswa KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen disambut langsung oleh penggagas kampung budaya tersebut, Isa Wahyudi atau yang akrab disapa Ki Demang, bersama para pelaku seni dan budaya Kota Malang. Turut hadir dalam penerimaan tersebut sejumlah tokoh budaya, di antaranya Syamsul Subakri (Mbah Karjo) dalang Wayang Suket, Sany Repriandini Ketua Umum Perempuan Bersanggul Nusantara, Mamik Dwi Purwaningsih penyiar budaya RRI, Suli Sulaihah pelaku Upcycle Art, serta Arik Susilowaty sejarawan Malang. Dosen pendamping KKN Kelompok 14 Kampung Budaya Polowijen, Dr. Daroe Iswatiningsih, menegaskan bahwa fokus utama pengabdian masyarakat kali ini adalah revitalisasi budaya melalui proses transformasi nilai-nilai budaya lokal dengan memanfaatkan media seni dan teknologi digital. Menurutnya, Kampung Budaya Polowijen memiliki kekayaan budaya yang sangat potensial untuk dikembangkan secara lebih luas. “Kampung Budaya Polowijen ini kaya akan karya seni seperti topeng, tari tradisional, batik, gerabah, wayang, anyaman, pawon, dan berbagai ekspresi budaya lainnya. Kekayaan ini sangat memungkinkan untuk didigitalisasikan, sehingga proses transformasi budaya tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi mampu menembus ruang global,” ungkap Daroe, yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026. (HO/KLIKTIMES.COM) Melalui KKN Tematik ini, Kampung Budaya Polowijen menjalankan program terpadu yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga pada penguatan kemandirian sosial, ekonomi, lingkungan, dan kesehatan masyarakat. Tradisi-tradisi lokal seperti Megengan, Nyadran, budaya Patrol, serta festival seni kembali diuri-uri dan dihidupkan sebagai ruang spiritual, ekspresi budaya, sekaligus sarana regenerasi pelaku seni lintas generasi. Di sisi lain, transformasi digital menjadi bagian penting dari program pengabdian. Mahasiswa KKN terlibat dalam digitalisasi aset budaya melalui katalog berbasis barcode, penguatan publikasi media sosial, pengembangan storytelling budaya, produksi podcast, hingga penyusunan e-book sebagai arsip pengetahuan dan media edukasi digital. Upaya ini diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi Kampung Budaya Polowijen hingga ke tingkat nasional dan global. Penguatan ekonomi kreatif dan kepedulian lingkungan juga menjadi perhatian utama. Warga didorong untuk mengolah limbah melalui konsep upcycle yang dikemas dengan identitas Kampung Budaya Polowijen, urbam farming yang berbasis tanaman obat obatan dan jamu sehingga menghasilkan produk ramah lingkungan bernilai ekonomi. Program literasi, perbaikan infrastruktur kampung, aksi sosial kemasyarakatan, serta pendampingan Posyandu balita dan lansia turut melengkapi rangkaian kegiatan pengabdian. Ki Demang, yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Malang, berharap program KKN Tematik UMM ini mampu menjadi jembatan yang kuat antara perguruan tinggi dan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi ini penting untuk merealisasikan revitalisasi budaya lokal yang berakar pada tradisi, namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman. “Mahasiswa hadir bukan hanya untuk menjalankan program, tetapi menjadi mitra masyarakat dalam merawat, mengembangkan, dan mempromosikan budaya lokal. Inilah bentuk nyata pengabdian yang berdampak dan berkelanjutan,” ujar Ki Demang. Melalui pendekatan multidimensi ini, Kampung Budaya Polowijen menegaskan posisinya sebagai ruang hidup kebudayaan yang berdaya, berkelanjutan, dan mampu beradaptasi di era digital tanpa kehilangan akar tradisi yang menjadi identitas utamanya.

Angkat Isu Menstruasi, Riset Mahasiswa UMM Tembus Jurnal Internasional Scopus Q2

MALANG  | JATIMSATUNEWS.COM: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q2 melalui penelitian yang mengangkat isu kesehatan perempuan, khususnya strategi coping dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Capaian ini terbilang istimewa, mengingat publikasi di jurnal bereputasi internasional bukan hal yang mudah, terlebih bagi mahasiswa strata satu. Penelitian Rintan dinilai memiliki kebaruan sekaligus relevansi tinggi karena mengulas topik menstruasi yang kerap dianggap sepele, padahal berdampak signifikan terhadap kondisi fisik dan psikologis perempuan. Rintan menjelaskan, penelitiannya berfokus pada bagaimana perempuan mengelola perubahan emosi, fisik, dan psikologis menjelang menstruasi melalui berbagai mekanisme coping. Menurutnya, respons perempuan terhadap fase pramenstruasi sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. “Setiap perempuan memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Ada yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan kepada tim Humas UMM, Kamis (22/1/2026). Ketertarikan Rintan terhadap topik ini berawal dari pengalaman pribadinya yang sering mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Dari pengalaman tersebut, muncul dorongan untuk memahami lebih dalam bagaimana perempuan dapat mengelola kondisi emosional dan fisik secara sehat dan efektif. “Saya juga mengalami perubahan emosi menjelang menstruasi. Dari situ muncul keinginan untuk memahami apakah ada cara yang lebih sehat dan efektif untuk mengelola kondisi tersebut,” ungkapnya. Penelitian berjudul “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” ini melibatkan 321 responden perempuan Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri melalui aktivitas positif, seperti berkumpul bersama teman atau berbagi cerita. “Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” jelas Rintan. Selain itu, riset ini juga menegaskan pentingnya kesadaran diri terhadap kondisi tubuh. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya cenderung lebih siap secara mental dalam menghadapi perubahan pramenstruasi dan mampu menerapkan strategi coping secara lebih cepat, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak waktu istirahat. Rintan juga menemukan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan strategi coping tersebut. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus membuat perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat menghadapi fase pramenstruasi. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dan stigma justru dapat memperburuk kondisi emosional. “Lingkungan yang suportif sangat membantu perempuan untuk tidak merasa sendirian. Sebaliknya, stigma atau anggapan berlebihan justru bisa memperparah tekanan emosional,” katanya. Melalui riset ini, Rintan menyoroti masih adanya kesenjangan pemahaman masyarakat terkait kesehatan reproduksi perempuan. Ia menilai perubahan emosi saat pramenstruasi merupakan kondisi alami yang perlu dipahami dan dikelola, bukan diabaikan. “Perubahan emosi menjelang menstruasi itu wajar. Yang penting adalah bagaimana perempuan memahami dan mengelolanya, bukan memendam atau mengabaikannya,” tegasnya. Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif, tidak hanya menekankan aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial. Sementara itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa penelitian ini sejak awal memang dirancang agar tidak berhenti sebagai skripsi semata. “Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, dan siap menerima masukan, termasuk dari reviewer internasional,” ujarnya. Menurut Henny, penelitian ini memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Dengan instrumen yang telah tervalidasi, perawat dapat lebih mudah mengidentifikasi pola coping perempuan dan menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat sasaran. Ia berharap capaian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan serta mendorong semakin banyak mahasiswa UMM berani mengangkat isu-isu kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. (Ans)

Dosen UMM Ingatkan Risiko Finansial di Balik Tren Pembayaran QRIS

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Kemudahan transaksi nontunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dinilai membawa konsekuensi tersendiri bagi perilaku keuangan generasi muda. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., menilai penggunaan QRIS berpotensi menurunkan kesadaran finansial, khususnya di kalangan mahasiswa. Menurut Rifqi, sistem pembayaran digital menciptakan ilusi pengeluaran yang tidak terasa. Berbeda dengan transaksi tunai yang menghadirkan sensasi kehilangan uang secara nyata, pembayaran digital berlangsung cepat dan minim hambatan psikologis. Kondisi tersebut membuat pengguna cenderung lebih impulsif dalam berbelanja. “Ketika menggunakan uang fisik, seseorang merasakan langsung uangnya berkurang. Pada pembayaran digital, proses yang instan membuat rasa kehilangan itu nyaris tidak muncul,” ujarnya, Senin (19/1/2026). Ia menjelaskan, kebiasaan ini sering memicu fenomena latte factor, yakni pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dan dianggap sepele, namun berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan dalam jangka panjang. Pengeluaran seperti kopi, jajanan, atau belanja impulsif harian berpotensi menggerus tabungan tanpa disadari. Di sisi lain, Rifqi mengakui bahwa QRIS memiliki sejumlah keunggulan, seperti kemudahan transaksi, pencatatan otomatis, serta efisiensi waktu. Namun, kelemahan utamanya terletak pada lemahnya kontrol diri pengguna, terutama ketika dihadapkan pada promo cashback dan diskon. “Promo dirancang untuk membentuk kebiasaan belanja berulang. Konsumen terdorong membeli bukan karena kebutuhan, tetapi karena merasa sedang mendapat keuntungan,” jelasnya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membentuk mentalitas keuangan yang tidak disiplin. Nilai uang menjadi abstrak dan sulit dikontrol, sehingga risiko defisit anggaran meningkat meskipun saldo digital masih terlihat aman. Sebagai langkah pencegahan, Rifqi menyarankan agar pengguna membatasi penggunaan aplikasi pembayaran digital. Salah satunya dengan menggunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi harian agar pengeluaran lebih mudah dipantau dan dievaluasi. “Biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan. Dengan begitu, pengeluaran kecil yang sering tidak terasa bisa dikendalikan dan tujuan keuangan tetap terjaga,” pungkasnya. Ia menegaskan bahwa teknologi pembayaran digital tetap dapat dimanfaatkan secara optimal, asalkan diiringi dengan perencanaan dan kesadaran finansial yang baik. (raf) Sumber: Rilis Berita UMM

Ribuan Mahasiswa PPG UMM Dikukuhkan, Siap Menggerakkan Transformasi Pendidikan Nasional

pwmu.co –Sebanyak 3.016 mahasiswa Profesi Guru Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan dan disumpah (22/1/2026).Ribuan mahasiswa yang hadir secara luring maupun daring itu merupakan bagian dari program PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Kegiatan ini sekaligus menjadi komitmen UMM untuk mencetak guru-guru profesional yang unggul. “Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan,” tegas Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI, Dr. Fesal Musaad, M.Pd., dalam paparannya. Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan nasional harus dimulai dari penguatan profesionalisme guru madrasah melalui peningkatan kualifikasi, sertifikasi, dan kompetensi yang terintegrasi. Sebab guru merupakan penentu utama keberhasilan pembelajaran dan kualitas lulusan. Sehingga tanpa guru yang kompeten, sejahtera, dan memiliki kepastian status profesional, cita-cita melahirkan generasi Indonesia yang kompetitif dan berakhlak mulia tidak akan tercapai secara optimal. “Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah kunci dan ujung tombak pembelajaran, sehingga upaya sertifikasi, PPG dalam jabatan, serta penguatan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian harus dipahami sebagai ikhtiar negara dalam menjamin mutu pendidikan madrasah,” ujarnya. Tonggak profesionalisme guru madrasah juga ditegaskan oleh Ketua Program PPG FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. Ia memandang pengambilan sumpah profesi sebagai fase penting dalam perjalanan pendidik, karena PPG dalam jabatan tidak sekadar proses administratif memperoleh sertifikat pendidik, melainkan bentuk pengakuan resmi atas dedikasi, kompetensi, dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas diri serta mutu pendidikan nasional. “Menjadi pendidik profesional bukan hanya tentang memiliki sertifikat, melainkan komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. Apalagi profesionalisme menuntut penguasaan kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional secara utuh yang telah bapak dan ibu buktikan melalui Program PPG dalam Jabatan,” ujarnya. Ia juga menyoroti perubahan lanskap pendidikan di era digital yang menempatkan guru pada tuntutan baru untuk mampu mengintegrasikan teknologi secara bijak dan bermakna. Mengingat peserta didik merupakan generasi digital yang tumbuh bersama teknologi, pembelajaran harus dirancang lebih kontekstual dan menarik tanpa menghilangkan nilai keteladanan dan peran guru sebagai pusat pembelajaran. “Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru sebagai inspirator dan pembentuk karakter justru semakin penting, dan pendidikan inklusif harus menjadi komitmen bersama karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas demi terwujudnya generasi emas Indonesia 2045 yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga mulia dalam karakter,” tegasnya. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menempatkan pengambilan sumpah profesi guru madrasah sebagai momentum strategis dalam meneguhkan pilihan karier pendidik. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan madrasah merupakan bagian integral dari kultur pendidikan bangsa Indonesia dan tidak lagi dapat diposisikan sebagai entitas yang terpisah dari pendidikan umum. Melainkan satu kesatuan strategis dalam sistem pendidikan nasional. “Pendidikan madrasah dan pendidikan umum bukan lagi sebuah dikotomi, tetapi tatanan pendidikan yang menyatu untuk melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter, dan yang paling penting adalah bagaimana bapak-ibu merawat niat untuk terus memberikan yang terbaik demi tercapainya cita-cita mulia pendidikan,” ujarnya. Pengukuhan dan pengambilan sumpah profesi guru PPG dalam jabatan ini pada akhirnya tidak hanya menandai berakhirnya satu tahap pendidikan profesi. Namun juga membuka babak tanggung jawab baru bagi para guru madrasah mata pelajaran umum untuk menjadi pendidik profesional di era digital, yang berkomitmen pada nilai inklusi, penguasaan kompetensi abad ke-21, dan pengabdian berkelanjutan dalam membangun Generasi Emas Indonesia 2045.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim