Untuk Pengembangan Kurikulum Hingga Magang Mahasiswa, Prodi Sosiologi FISIP UMM Jalin Kerja Sama dengan Detikcom

www.majelistabligh.id – Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) melakukan kunjungan ke Kantor Detikcom Biro Jawa Timur pada Kamis (29/01/2026) dalam rangka penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Agreement atau Perjanjian Kerjasama). Kerja sama ini menjadi langkah strategis Prodi Sosiologi FISIP UMM dalam memperkuat implementasi program akademik, pengembangan kapasitas mahasiswa, serta perluasan jejaring kemitraan dengan media nasional. Kerja sama antara Prodi Sosiologi FISIP UMM dan Detikcom Biro Jawa Timur mencakup beberapa poin utama. Pertama, pengembangan kurikulum yang selaras dengan program Kampus Berdampak, antara lain melalui keterlibatan praktisi media Detikcom sebagai narasumber kuliah praktisi, kolaborasi workshop di kelas, serta peningkatan kapasitas pembelajaran pada kelas Centre of Excellence (CoE) Prodi Sosiologi UMM. Kedua, Detikcom Biro Jawa Timur menjadi mitra tempat magang mahasiswa dalam skema CoE Program Studi Sosiologi FISIP UMM. Ketiga, kerja sama ini juga membuka peluang Detikcom sebagai lokasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa Sosiologi UMM, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja, khususnya di bidang media dan komunikasi publik. Keempat, MoA ini juga mencakup dukungan dalam promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Detikcom Biro Jawa Timur akan menyediakan ruang publikasi pada platform media mereka untuk mendukung sosialisasi profil dan keunggulan Prodi Sosiologi FISIP UMM, informasi jadwal PMB, jalur dan tata cara pendaftaran, peluang beasiswa, serta berbagai kegiatan unggulan prodi. Kerja sama ini dinilai penting bagi Prodi Sosiologi FISIP UMM sebagai upaya mewadahi keberlanjutan program Centre of Excellence (CoE), magang mahasiswa, memperluas akses informasi publik terkait PMB, serta meningkatkan kualitas proses pendidikan di sosiologi UMM. Melalui sinergi dengan media nasional seperti detikcom, Prodi Sosiologi FISIP UMM berharap dapat meningkatkan visibilitas institusi serta mendorong peningkatan jumlah mahasiswa baru pada tahun 2026. Penandatanganan MoA dilakukan langsung oleh Budi Hartadi, selaku Kepala Biro Redaksi Detikcom Jawa Timur. Dalam kunjungan ini, Program Studi Sosiologi FISIP UMM diwakili oleh dua dosen, yakni Ahmad Arrozy dan Rajih Arraki. Rombongan Prodi Sosiologi disambut oleh Mira Rachmalia, selaku Asisten Redaktur Detikcom Biro Jawa Timur. Kegiatan berlangsung dalam suasana dialogis dan konstruktif, dengan diskusi mengenai peran media dalam penguatan pendidikan tinggi, isu-isu sosial, serta kontribusi Muhammadiyah dalam ranah pendidikan dan pengembangan masyarakat. Melalui penandatanganan MoA ini, Prodi Sosiologi FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kolaborasi strategis dengan berbagai mitra eksternal, khususnya media, guna mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi dan penguatan kualitas lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan zaman. (*/tim)

Tak Cuma IPK, Ini Bekal Nyata Alumnus Manajemen UMM yang Berkarier di BUMN

Latar belakang pendidikan Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi fondasi penting bagi perjalanan karier Muhammad Rifqi Fakhar, S.M., alumnus yang kini berkiprah di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia menilai, proses pembelajaran di Program Studi Manajemen UMM tidak hanya menekankan penguasaan teori, tetapi juga membentuk pola pikir manajerial yang sistematis dan relevan dengan dunia kerja yang sarat regulasi, tanggung jawab, serta pengambilan keputusan strategis. Menurut Alumnus angkatan 2018 itu, kekuatan utama yang ia rasakan selama menempuh studi bukan terletak pada satu mata kuliah tertentu, melainkan pada cara berpikir yang dibangun secara berkelanjutan. Mata kuliah seperti Manajemen Sumber Daya Manusia, Perilaku Organisasi, Manajemen Strategik, hingga Studi Kelayakan Bisnis (SKB) membiasakan mahasiswa melihat persoalan secara menyeluruh, mulai dari perumusan tujuan, proses pelaksanaan, analisis risiko, hingga evaluasi hasil. “Kalau flashback waktu masih kuliah dulu, yang paling berpengaruh justru bukan satu mata kuliah tertentu, tapi cara berpikir manajerial yang dibangun. Pola pikir ini sangat membantu ketika harus menghadapi persoalan kompleks di lingkungan kerja profesional,” ujarnya. Dalam praktik kerja, Rifqi sapaan akrabnya merasakan bahwa kemampuan analisis, komunikasi, dan kerja tim menjadi kompetensi yang paling cepat terpakai sejak awal memasuki dunia kerja. Namun, ia juga menyadari ada sejumlah aspek yang baru benar-benar terasa krusial setelah terjun langsung, terutama di organisasi besar seperti BUMN yang menuntut ketelitian tinggi dan kepatuhan terhadap prosedur. Disiplin administrasi, manajemen waktu, serta ketelitian yang di lingkungan kampus kerap dianggap sepele justru menjadi faktor penentu kredibilitas di dunia profesional. Selain aspek akademik, keterlibatan dalam kegiatan nonakademik seperti organisasi kemahasiswaan dan kompetisi juga dinilainya berperan besar dalam membentuk kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kompetensi tersebut, menurutnya, kerap diuji dalam dunia kerja yang dinamis dan penuh tekanan. “Adaptasi terbesar di awal karier adalah ritme kerja yang cepat dan besarnya tanggung jawab. Pekerjaan di BUMN bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi memastikan setiap proses dan keputusan selaras dengan standar operasional prosedur (SOP), regulasi, serta berdampak luas bagi banyak pihak. Di kantor, pekerjaan bukan cuma soal deadline, tapi juga akuntabilitas dan kepatuhan,” katanya. Ia menambahkan, koordinasi lintas unit, penyusunan laporan, analisis data, hingga proses pengambilan keputusan menuntut ketelitian dan kesiapan mental sejak hari pertama bekerja. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tantangan dunia kerja sering kali baru benar-benar terasa setelah lulusan terjun langsung. Karena itu, Rifqi menekankan pentingnya penguasaan hard skill dasar sejak masih berstatus mahasiswa, seperti kemampuan mengolah data menggunakan spreadsheet, menyusun laporan dan presentasi profesional, serta memahami alur proses bisnis. Meski terlihat sederhana, keterampilan tersebut justru paling sering digunakan dan menjadi penilaian utama pada fase awal karier. “Selain hard skill, sikap kerja adalah faktor penentu keberlanjutan karier. Kemauan belajar, kreativitas, serta kemampuan bekerja dengan berbagai karakter orang menjadi soft skill utama untuk bertahan dan berkembang. Organisasi, magang, dan aktivitas luar kelas sangat berperan dalam membentuk mental kerja nyata, mulai dari menghadapi target, konflik, tanggung jawab, hingga menjaga etika profesional,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa IPK hanyalah tiket masuk, bukan penentu akhir. Bagi perekrut, pengalaman nyata, pemahaman terhadap kontribusi diri, serta sikap rendah hati namun tetap percaya diri menjadi nilai utama. Menurut Rifqi, Manajemen UMM telah membangun kebiasaan profesional sejak dini, karena karier sejatinya dibentuk dari konsistensi menjaga sikap-sikap kecil dalam keseharian.(*)

Mengapa Mahasiswa Rantau Rentan Bunuh Diri? Pakar UMM Beberkan Akar Masalah dan Langkah Pencegahan

indikatorindonesia, MALANG – Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa kembali mengusik ruang publik. Beberapa di antaranya bahkan terjadi di lokasi yang sama, memunculkan kegelisahan sekaligus keprihatinan mendalam terhadap kondisi psikologis mahasiswa saat ini. Peristiwa tersebut tidak dapat dipandang semata sebagai kejadian individual, melainkan sebagai gambaran persoalan kesehatan mental yang lebih kompleks, khususnya yang dialami mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, yang akrab disapa Naning, menjelaskan bahwa mahasiswa rantau secara alamiah memiliki kerentanan terkait masalah adaptasi. Perpindahan dari lingkungan rumah ke tanah perantauan menuntut kemampuan adaptasi yang tidak ringan. Jika tidak dibarengi dengan dukungan sosial yang kuat, kerentanan ini dapat memicu berbagai masalah psikologis. “Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” jelas Naning kepada Tim Humas UMM, 27 Januari lalu. Menariknya, meski tekanan akademik kerap dituding sebagai biang keladi, Naning mengungkapkan fakta lain dari ruang konseling. Banyak kasus yang ditangani justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga. Masalah pendidikan atau skripsi sering kali hanya menjadi “pemicu” dari tumpukan beban emosional yang telah dibawa mahasiswa dari rumah. Menurutnya, bekal utama seorang mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan mental yang terlatih untuk berjuang dan menghadapi ketidakenakan hidup. Tanpa “senjata” berupa ketahanan mental (resiliensi), mahasiswa cenderung terjebak dalam cara berpikir yang sempit ketika menghadapi persoalan. “Pada dasarnya, tekanan akademik merupakan hal yang wajar dan tidak terpisahkan dari proses pendidikan. Tekanan dalam taraf wajar justru penting agar mahasiswa belajar menjadi lebih fokus. Namun, yang menjadi landasan utama adalah sejauh mana seseorang telah dibekali ketahanan mental, memahami makna berjuang, serta terbiasa menghadapi proses jatuh bangun dalam kehidupan,” tambahnya. Fenomena pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri juga menjadi perhatian. Menurut Naning, hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sudah berada dalam situasi terdesak dan berpikir sempit. Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu di benak mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan. Pada titik ini, peran lingkungan menjadi sangat krusial. BK UMM menekankan pendekatan konseling yang berorientasi pada pemberdayaan. Mahasiswa tidak sekadar dibantu memahami masalahnya, tetapi juga diajak mengenali kekuatan diri serta sumber persoalan yang dihadapi. “Kami berharap mahasiswa dapat menyadari bahwa mereka memiliki kapasitas dan potensi untuk menghadapi serta keluar dari permasalahannya. Dengan demikian, pendampingan konselor berfungsi sebagai penguat, bukan sebagai satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Naning juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, yakni cara individu melepaskan emosi negatif sebelum menumpuk dan meledak (blow up). Hal-hal sederhana seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai, misalnya sekadar menikmati makanan favorit dapat menjadi saluran emosi yang efektif jika dilakukan dengan penuh penghayatan. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan. Mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta menghindari sikap menyepelekan atau menertawakan masalah teman merupakan langkah sederhana, tetapi berdampak besar. Kesalahan kecil seperti membocorkan cerita pribadi justru dapat memperparah kondisi psikologis seseorang. Melalui pendekatan preventif dan promotif, BK UMM berharap mahasiswa mampu mengenali kondisi psikologisnya sejak dini. Sebab, pada akhirnya, setiap masalah selalu memiliki jalan keluar meskipun tidak selalu ideal selama pikiran tidak dibiarkan tertutup oleh kabut keputusasaan.

UMM Gandeng Bank Jatim Memperluas Pengabdian Masyarakat

www.majelistabligh.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim). Kedua pihak sepakat bekerjasama dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan UMKM, digitalisasi layanan, literasi keuangan, hingga penguatan sinergi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Penandatanganan kerjasama yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (28/1/2026), diarahkan untuk mempertemukan kapasitas akademik perguruan tinggi dengan peran perbankan daerah dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial. Salah satu fokus utamanya adalah dukungan terhadap akses pendidikan melalui program beasiswa bagi mahasiswa UMM. Direktur Bisnis Mikro, Ritel, dan Usaha Syariah Bank Jatim, Tony Prasetyo, M.M., menyebut MoU ini sebagai bentuk formalisasi atas kolaborasi yang selama ini telah berjalan, khususnya dalam layanan keuangan mahasiswa dan pengembangan institusi. Menurutnya, payung kerjasama yang jelas diperlukan agar kolaborasi tidak bersifat insidental, melainkan terstruktur dan berorientasi jangka panjang. “Selama ini kerjasama sudah berjalan, tetapi belum memiliki payung formal. Dengan MoU ini, ruang kolaborasi bisa diperluas dan dikembangkan lintas bidang secara lebih sistematis,” ujar Tony. Ia menambahkan, kerjasama tidak hanya berfokus pada layanan transaksi melainkan juga meliputi pengembangan layanan digital, penguatan literasi dan inklusi keuangan, serta integrasi program CSR dengan agenda pendidikan dan sosial kampus. Program beasiswa diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memperluas pemerataan akses pendidikan sekaligus menyiapkan talenta muda yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja dan sektor keuangan daerah. “Kami melayani berbagai segmen, dari nasabah konvensional hingga digital. Karena itu, transformasi digital kami dorong secara bertahap dan kontekstual, sambil membuka ruang kolaborasi yang fleksibel dengan UMM,” tegasnya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menilai MoU ini sebagai penguatan posisi perguruan tinggi dalam membangun kemitraan dengan sektor industri dan perbankan. Ia menekankan bahwa peran pendidikan tinggi saat ini tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghasilkan riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat. “UMM memiliki agenda riset dan pengabdian yang beririsan dengan isu pembangunan daerah, mulai dari pendampingan UMKM, penanganan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, hingga pengembangan sektor pertanian, energi, kesehatan, dan transformasi digital. Sinergi dengan Bank Jatim diharapkan memperkuat aspek pembiayaan, pendampingan, serta keberlanjutan program,” jelasnya. (*/tim)

Soroti Fenomena Keputusasaan dan Kesehatan Mental Perantau, UMM Tekankan Pentingnya Resiliensi

Malang, WISATA – Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah kejadian yang bahkan terjadi di lokasi serupa menimbulkan keprihatinan mendalam dan menandai adanya persoalan kesehatan mental yang tidak bisa dipandang sebagai kasus individual semata. Fenomena ini mencerminkan tantangan psikologis yang lebih luas, khususnya yang dihadapi mahasiswa rantau.  Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, atau yang akrab disapa Naning, menjelaskan bahwa mahasiswa yang hidup jauh dari keluarga memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi. Proses berpindah dari lingkungan rumah ke tempat perantauan menuntut kemampuan adaptasi yang besar. Ketika dukungan sosial terbatas, kondisi ini dapat memicu tekanan emosional yang serius. Menurut Naning, tekanan akademik memang sering dianggap sebagai penyebab utama, namun pengalaman di ruang konseling menunjukkan bahwa banyak persoalan justru berakar dari masalah keluarga. Tugas kuliah, skripsi, atau tuntutan akademik kerap hanya menjadi pemicu dari beban emosional yang sudah lama terpendam. Ia menegaskan bahwa bekal penting mahasiswa tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga ketahanan mental atau resiliensi. Tanpa kemampuan menghadapi tekanan dan kegagalan, mahasiswa berisiko terjebak dalam pola pikir sempit saat menghadapi masalah. Tekanan akademik, dalam batas wajar, justru merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk membangun fokus dan daya juang. Terkait kecenderungan pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri, Naning menilai hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi psikologis yang terdesak serta paparan informasi sebelumnya. Dalam situasi rapuh, individu dapat terpengaruh oleh gambaran yang terbentuk dari cerita atau pemberitaan, sehingga peran lingkungan menjadi sangat penting. BK UMM mengedepankan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan, dengan membantu mahasiswa mengenali potensi dan kekuatan diri. Selain itu, coping mechanism yang sehat—seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai—dinilai efektif untuk menyalurkan emosi negatif. Peran teman sebaya dan lingkungan terdekat juga krusial sebagai garda terdepan pencegahan. Sikap empati, menjaga rahasia, dan mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi langkah sederhana yang berdampak besar. Pendekatan preventif diharapkan mampu membantu mahasiswa mengenali masalah sejak dini dan menemukan jalan keluar sebelum terjebak dalam keputusasaan.

Perluas Jejaring Kemitraan Dengan Media Nasional, Prodi Sosiologi FISIP UMM Lakukan MoA Dengan Detik Jatim

SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Program Studi (Prodi) Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Agreement (MoA) dengan Detik Jatim di Kantor Detikcom Biro Jawa Timur pada Kamis (29/01/2026). Kerja sama ini menjadi langkah strategis Prodi Sosiologi FISIP UMM dalam memperkuat implementasi program akademik, pengembangan kapasitas mahasiswa, serta perluasan jejaring kemitraan dengan media nasional. Kunjungan Prodi Sosiologi FISIP UMM diwakili oleh dua dosen, yakni Ahmad Arrozy dan Rajih Arraki dan disambut oleh Mira Rachmalia selaku Asisten Redaktur Detikcom Biro Jawa Timu. Adapun penandatanganan MoA dilakukan langsung oleh Kepala Biro Redaksi Detikcom Jawa Timur, Budi Hartadi. Kerja sama antara Prodi Sosiologi FISIP UMM dan Detikcom Biro Jawa Timur mencakup beberapa poin utama. Pertama, pengembangan kurikulum yang selaras dengan program Kampus Berdampak, antara lain melalui keterlibatan praktisi media Detikcom sebagai narasumber kuliah praktisi, kolaborasi workshop di kelas, serta peningkatan kapasitas pembelajaran pada kelas Centre of Excellence (CoE) Prodi Sosiologi UMM. Kedua, Detikcom Biro Jawa Timur menjadi mitra tempat magang mahasiswa dalam skema CoE Program Studi Sosiologi FISIP UMM. Ketiga, kerja sama ini juga membuka peluang Detikcom sebagai lokasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa Sosiologi UMM, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja, khususnya di bidang media dan komunikasi publik. Keempat, MoA ini juga mencakup dukungan dalam promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Detikcom Biro Jawa Timur akan menyediakan ruang publikasi pada platform media mereka untuk mendukung sosialisasi profil dan keunggulan Prodi Sosiologi FISIP UMM, informasi jadwal PMB, jalur dan tata cara pendaftaran, peluang beasiswa, serta berbagai kegiatan unggulan prodi. Kerja sama ini dinilai penting bagi Prodi Sosiologi FISIP UMM sebagai upaya mewadahi keberlanjutan program CoE, magang mahasiswa, memperluas akses informasi publik terkait PMB, serta meningkatkan kualitas proses pendidikan di sosiologi UMM. Melalui sinergi dengan media nasional seperti detikcom, Prodi Sosiologi FISIP UMM berharap dapat meningkatkan visibilitas institusi serta mendorong peningkatan jumlah mahasiswa baru pada tahun 2026. Dengan demikian, Prodi Sosiologi FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kolaborasi strategis dengan berbagai mitra eksternal, khususnya media, guna mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi dan penguatan kualitas lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

PPG UMM Cetak Guru Berwawasan Global, Siapkan Program Praktik Hingga ke Australia

Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan unit strategis yang berperan penting dalam menyiapkan guru profesional di tingkat nasional. Hal itu ditegaskan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. dalam Orientasi Akademik Mahasiswa PPG Calon Guru UMM Gelombang I Kemendikdasmen tahun 2026, 29 Januari 2026. Menariknya, UMM juga memberikan kesempatan para mahasiswa PPG untuk bisa praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah Australia. Untuk itu, persiapan yang dilakukan yakni dengan mewajibkan mahasiswa dalam melaksanakan presentasi menggunakan bahasa Inggris. Ini menjadi cara UMM untuk memberikan wawasan global bagi para mahasiswanya. Lebih lanjut, Juanda mengatakan bahwa UMM telah berpengalaman lebih dari satu dekade dalam mendampingi proses pembentukan guru dan menjadi salah satu pelaksana PPG terbaik di Indonesia. Baik dari sisi prestasi mahasiswa maupun kualitas pembelajaran. Menurutnya, gelar profesi guru bukan sekadar atribut administratif, tetapi simbol tanggung jawab moral dan profesional yang melekat pada sosok pendidik. “Guru yang paling membekas dalam ingatan peserta didik bukan semata karena kemampuan akademik, melainkan karena keteladanan dan sentuhan afektif. Khususnya pada jenjang pendidikan dasar yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, empati, dan kepribadian murid,” terangnya. Juanda menegaskan, guru ideal bukan hanya good teacher atau excellent teacher, tetapi inspiring teacher yang mampu menanamkan makna, nilai, dan inspirasi. Melalui PPG UMM, calon guru diharapkan tumbuh dengan spirit pengabdian ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Di sisi lain, Subkoordinator Implementasi PPG Prajabatan Kemendikdasmen, Yulia Gita Fany, M.Si. menjelaskan bahwa Program PPG adalah instrumen strategis negara dalam menyiapkan guru yang profesional dan berintegritas. Di agenda bertema ‘Guru Hebat, Dunia Menanti: Tumbuh, Beraksi, dan Menginspirasi dengan Nilai-Nilai Keislaman’ ini, Yulia menilai PPG tidak boleh dipahami sebatas jalur administratif untuk memperoleh sertifikat pendidik. Melainkan sebagai proses pembentukan kompetensi guru secara utuh dan berkelanjutan. “Guru profesional bukan hanya mereka yang lulus sertifikasi, tetapi yang memahami perannya sebagai pendidik, mampu menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada murid, serta adaptif terhadap perubahan zaman dan kebutuhan peserta didik,” katanya. PPG Prajabatan dirancang lebih kontekstual dan aplikatif melalui penguatan praktik lapangan, refleksi pembelajaran, serta integrasi nilai karakter dan etika profesi. Pemerintah juga menyediakan beasiswa penuh sebagai bentuk komitmen negara agar calon guru tidak hanya siap mengajar, tetapi juga siap menjadi figur teladan di tengah masyarakat. “Keberhasilan PPG sangat ditentukan oleh kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah mitra, dan pemerintah daerah,” tegas Yulia. Hal serupa juga disampaikan Ketua Program Studi PPG UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. Menurutnya, tema yang diambil bukan sekadar slogan seremonial, melainkan refleksi atas tantangan nyata dunia pendidikan saat ini. Menurutnya, calon guru dihadapkan pada kompleksitas persoalan pendidikan, mulai dari percepatan teknologi hingga perubahan karakter peserta didik. Problem krisis nilai yang ada menuntut kehadiran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan moral. “Tumbuh sebagai guru tidak lahir dari kenyamanan. Ia tumbuh dari keberanian menghadapi tantangan, memperbarui cara berpikir, serta memperdalam pemahaman terhadap teori pendidikan dan strategi pembelajaran inovatif yang tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman,” tegas Trisakti. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa makna ‘beraksi’ dan ‘menginspirasi’ menuntut guru untuk keluar dari zona nyaman dan berani berinovasi. Aksi guru, menurutnya, tercermin dari bagaimana nilai kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan keadilan hadir dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Guru yang menginspirasi adalah mereka yang mampu melihat potensi murid bahkan sebelum murid tersebut menyadarinya sendiri. Ia juga menyampaikan bahwa ke depan, sebagian materi PPG akan dipaparkan menggunakan bahasa Inggris sebagai bagian dari strategi internasionalisasi dan peningkatan daya saing lulusan. “Penguatan kapasitas tersebut juga dibarengi dengan peluang PPL ke Australia bagi peserta PPG terpilih. Ini akan membuka wawasan internasional calon guru, memperkaya perspektif pedagogik, dan mempertemukan praktik pendidikan nasional dengan pengalaman global,” katanya. (vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Kerja Sama dengan Bank Jatim, Dorong Akses Pendidikan dan Ekonomi Daerah

JATIMPEDIA, Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (28/1/2026). Kesepakatan tersebut menjadi payung kerja sama strategis yang mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan UMKM, digitalisasi layanan, literasi keuangan, serta penguatan sinergi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Kerja sama ini bertujuan mengintegrasikan kapasitas akademik perguruan tinggi dengan peran perbankan daerah dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial berbasis pengetahuan. Salah satu fokus utama adalah dukungan terhadap akses pendidikan melalui program beasiswa bagi mahasiswa UMM. Direktur Bisnis Mikro, Ritel, dan Usaha Syariah Bank Jatim Tony Prasetyo MM menyatakan, MoU tersebut merupakan formalisasi atas kolaborasi yang selama ini telah berjalan, khususnya dalam layanan keuangan mahasiswa dan pengembangan institusi. Menurutnya, payung kerja sama yang jelas diperlukan agar kolaborasi bersifat terstruktur dan berorientasi jangka panjang. “Selama ini kerja sama sebenarnya sudah berjalan, tetapi belum memiliki payung formal. Dengan MoU ini, ruang kolaborasi dapat diperluas dan dikembangkan lintas bidang secara lebih sistematis,” ujarnya. Ia menambahkan, kerja sama tidak hanya berfokus pada layanan transaksi, tetapi juga mencakup pengembangan layanan digital, penguatan literasi dan inklusi keuangan, serta integrasi program CSR dengan agenda pendidikan dan sosial kampus. Program beasiswa diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memperluas pemerataan akses pendidikan sekaligus menyiapkan talenta muda yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja dan sektor keuangan daerah. “Kami melayani berbagai segmen, mulai dari nasabah konvensional hingga digital. Karena itu, transformasi digital kami dorong secara bertahap dan kontekstual, sambil membuka ruang kolaborasi yang fleksibel dengan UMM,” katanya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD menilai MoU tersebut sebagai penguatan kemitraan strategis antara perguruan tinggi dan sektor industri, khususnya perbankan. Ia menekankan bahwa peran pendidikan tinggi tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghasilkan riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat. “UMM memiliki agenda riset dan pengabdian yang beririsan dengan isu pembangunan daerah, mulai dari pendampingan UMKM, penanganan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, hingga pengembangan sektor pertanian, energi, kesehatan, dan transformasi digital. Sinergi dengan Bank Jatim diharapkan memperkuat aspek pembiayaan, pendampingan, serta keberlanjutan program,” jelasnya. Kesepakatan ini menandai komitmen UMM dan Bank Jatim dalam membangun ekosistem kolaborasi antara pendidikan tinggi dan sektor keuangan daerah guna memperkuat kapasitas sumber daya manusia, riset aplikatif, serta pembangunan ekonomi Jawa Timur yang berkelanjutan.

Inovasi Pembelajaran Matematika: Dosen UMM Kembangkan Game Edukasi Metaverse Adaptif

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Inovasi pembelajaran berbasis teknologi terus dikembangkan untuk menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Tim peneliti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan game edukasi gamifikasi adaptif berbasis metaverse sebagai media pembelajaran matematika yang imersif dan interaktif. Penelitian ini diketuai oleh Dr. Erna Yayuk, S.Pd, M.Pd, dengan anggota Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. Pengembangan dilakukan melalui pendekatan Research and Development (R&D) dengan model 4D (Define, Design, Develop, dan Disseminate) yang dirancang secara sistematis untuk menghasilkan produk pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif. Menurut Ketua Tim Penelitian FKIP UMM, Dr. Erna Yayuk, S.Pd, M.Pd, pemanfaatan teknologi metaverse dalam pembelajaran matematika bertujuan menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna. “Lingkungan belajar yang imersif memungkinkan mahasiswa tidak hanya memahami konsep secara abstrak, tetapi juga mengalami langsung melalui visualisasi 3D, simulasi, dan tantangan berbasis permainan,” ujar Erna Yayuk. Dijelaskan Erna Yayuk, penelitian ini dilaksanakan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP UMM yang menempuh mata kuliah Matematika Dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pembelajaran yang dikembangkan sangat layak digunakan, baik dari aspek materi, media, maupun desain pembelajaran. Selain itu, uji kepraktisan memperlihatkan bahwa mahasiswa menilai sistem mudah digunakan dan bermanfaat dalam mendukung proses belajar. Erna Yayuk menegaskan penggunaan game edukasi berbasis metaverse terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar matematika secara signifikan, terutama dalam aspek minat belajar, rasa percaya diri, dan penurunan kecemasan terhadap mata pelajaran matematika. Sistem gamifikasi adaptif juga mendorong keterlibatan aktif mahasiswa serta meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan keterlibatan kognitif. Di tempat yang sama, anggota tim penelitian FKIP UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, mengungkapkan integrasi unsur visual, simulasi, dan umpan balik adaptif dalam sistem ini sejalan dengan teori Cognitive Theory of Multimedia Learning. Dimana mahasiswa dapat membangun pemahaman konsep matematika secara lebih komprehensif melalui integrasi visual dan verbal yang saling menguatkan. Sebagai closingnya, Daroe Iswatiningsih mengharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi alternatif solusi inovatif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di pendidikan tinggi, khususnya dalam menyiapkan calon guru sekolah dasar yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Ke depan, pengembangan game edukasi berbasis metaverse ini juga berpotensi untuk di-implementasikan pada jenjang pendidikan yang lebih luas. (tim peneliti fkip umm/don)

Lestarikan Selametan Weton, KKN Tematik UMM Gelar Selametan Wirogo di Kampung Budaya Polowijen

KLIKTIMES.COM | MALANG- Upaya pelestarian tradisi Jawa terus dilakukan oleh generasi muda. Pada Selasa, 28 Januari 2025, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik UMM Bersampak Kelompok 14 melaksanakan kegiatan pembuatan jenang abang dan jenang petak bersama masyarakat Kampung Budaya Polowijen (KBP). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Selametan Wirogo, sebuah tradisi selametan weton yang sarat dengan nilai spiritual, refleksi diri, dan penghormatan terhadap leluhur. Prosesi pembuatan jenang dilakukan secara gotong royong di pawon tradisional KBP. Mulai dari persiapan bahan hingga proses memasak, mahasiswa KKN didampingi langsung oleh warga setempat agar tetap mengikuti pakem budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Jenang abang dan jenang petak tidak sekadar sajian kuliner, tetapi menjadi simbol keseimbangan hidup, kesucian niat, serta harapan akan keselamatan dan keberkahan. Budayawan Malang, Syamsul Subakri, yang turut ngujubkan doa dalam selametan tersebut, menjelaskan bahwa selametan weton merupakan bentuk selametan wirogo, yakni doa yang ditujukan untuk keselamatan raga dan batin manusia. “Selametan weton itu disebut selametan wirogo. Di dalamnya ada bubur merah putih sebanyak tujuh macam, terdiri dari lima bubur sengkolo dan dua bubur palang. Ini bukan sekadar makanan, tapi simbol penolak bala dan permohonan keselamatan hidup,” ujar Syamsul Subakri. Ia menambahkan, bubur merah melambangkan unsur darah, keberanian, dan dinamika kehidupan manusia, sementara bubur putih melambangkan kesucian, niat yang bersih, serta asal mula kehidupan. Lima bubur sengkolo dimaknai sebagai upaya manusia untuk menyingkirkan energi negatif, kesialan, dan hambatan hidup, sedangkan dua bubur palang melambangkan penyeimbang sekaligus penjaga agar manusia tetap berada di jalan yang lurus dan selaras dengan alam serta Sang Pencipta. “Tujuh bubur itu mencerminkan tujuh lapisan kesadaran manusia. Harapannya, yang diselameti diberi kekuatan lahir batin, dijauhkan dari sengkolo, dan diberi umur yang manfaat,” imbuhnya. Tantangan Pelestarian Tradisi Kini Selain prosesi selametan, kegiatan ini juga diisi dengan sesi sharing budaya bersama Mbah Jo, yang juga dalang wayang suket, Mahasiswa aktif berdialog untuk menggali pemahaman mengenai dinamika budaya tradisional di tengah arus modernisasi. Salah satu mahasiswa, Shela Putri, mempertanyakan fenomena penggunaan musik remix dalam tradisi berot dan kaitannya dengan modernisasi budaya. Diskusi ini membuka ruang refleksi tentang batas adaptasi tanpa menghilangkan ruh tradisi. Mahasiswa lainnya, Siti Afrima, juga mengajukan pertanyaan mengenai peran wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini. Hal ini menegaskan bahwa wayang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sejarah, dan filosofi kehidupan. Melalui kegiatan Selametan Wirogo dan diakusi dalam acara sinau budaya ini, mahasiswa KKN tematikUMM kelompok 14 tidak hanya belajar tentang tradisi kuliner lokal, tetapi juga memperoleh pemahaman mendalam mengenai nilai spiritual, seni, dan kearifan lokal Kampung Budaya Polowijen. Diharapkan kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali tradisi budaya agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.