Mahasiswa Teknik Industri UMM Ciptakan Steam Press Ecoprint, Bantu Efisiensi Produksi UMKM

Kota Malang, Bhirawa Inovasi teknologi tepat guna kembali lahir dari tangan dingin mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), tim mahasiswa Teknik Industri UMM berhasil menciptakan alat Steam Press Ecoprint yang dirancang khusus untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi bagi pelaku UMKM. Iqbal Rafif Yuliono, mahasiswa Teknik Industri UMM angkatan 2023 selaku ketua tim, mengungkapkan bahwa inovasi ini berawal dari kegelisahannya melihat proses produksi ecoprint konvensional. Selama ini, para perajin masih banyak menggunakan metode kukus manual yang hasilnya seringkali tidak konsisten, baik dari segi ketajaman warna maupun detail motif. “Kami mencoba menggabungkan sistem manual dan otomatis dengan memanfaatkan mesin press yang dipadukan dengan sistem uap. Tujuannya agar tekanan dan panas yang dihasilkan lebih merata ke seluruh permukaan kain,” ujar Iqbal saat dikonfirmasi, Kamis (29/1) kemarin. Menurut Iqbal, Steam Press Ecoprint bekerja dengan mengintegrasikan panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam. Berbeda dengan metode kukus air biasa, penggunaan uap bertekanan ini terbukti mampu memunculkan pigmen warna alami dari daun atau bunga ke kain dengan lebih kuat dan tegas. Inovasi ini pun telah diuji coba secara langsung pada mitra UMKM, yakni Kenikir Natural Ecoprint di Bululawang, Kabupaten Malang. Hasilnya, kualitas visual kain meningkat signifikan dan proses produksi menjadi lebih terukur. “Alat ini fleksibel untuk berbagai jenis kain. Kami berharap ke depan alat ini bisa dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar dan struktur yang lebih kokoh untuk kebutuhan industri yang lebih luas,” tambahnya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, MT, memberikan apresiasi tinggi terhadap karya mahasiswanya. Ia menilai, kehadiran alat ini merupakan bukti nyata bahwa pembelajaran berbasis praktik di UMM mampu menjawab persoalan riil di masyarakat. “Ini adalah bentuk implementasi berpikir kritis mahasiswa dalam mengolah ide menjadi solusi aplikatif. Kami di prodi terus berkomitmen mendorong agar karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas akademik saja, tapi benar-benar memberikan manfaat luas bagi pelaku usaha,” tegas Dr. Dana. Inovasi ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk peka terhadap kebutuhan lingkungan sekitar, sekaligus memperkuat daya saing UMKM lokal melalui sentuhan teknologi tepat guna. [mut.wwn]
Daftar 10 Universitas Terbaik di Malang Versi EduRank 2026, Kampus Mana Paling Unggul?

KABAR WONOSOBO — Kota Malang selama ini dikenal sebagai salah satu kota pendidikan favorit di Indonesia. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah datang setiap tahun untuk menempuh pendidikan tinggi di kota berhawa sejuk tersebut. Namun, di tengah banyaknya pilihan kampus, calon mahasiswa tentu membutuhkan referensi objektif untuk menentukan universitas terbaik sebagai tujuan studi. Pemeringkatan internasional EduRank merilis data terbaru pada Januari 2026 yang memetakan kualitas universitas di berbagai kota dunia, termasuk Malang. Penilaian dilakukan berdasarkan keluaran riset akademik, tingkat sitasi publikasi ilmiah, reputasi non-akademik, serta pengaruh alumni. Secara keseluruhan, pemeringkatan ini menganalisis lebih dari 337 ribu sitasi terhadap 87,5 ribu publikasi akademik dari 16 universitas di Malang, serta mempertimbangkan popularitas alumni yang diakui secara global. Berikut daftar 10 universitas terbaik di Malang versi EduRank, disajikan mulai dari peringkat ke-10 hingga posisi teratas. 10. Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Universitas Tribhuwana Tunggadewi menempati posisi ke-10 di Kota Malang. Secara nasional, kampus ini berada di peringkat ke-237 Indonesia dan peringkat ke-3751 Asia. Didirikan pada tahun 2001, UNITRI memiliki tingkat penerimaan mahasiswa sekitar 20 persen dan terus berkembang dalam bidang pendidikan terapan serta pengabdian masyarakat. 9. Universitas Islam Malang (UNISMA) Universitas Islam Malang berada satu tingkat di atasnya, dengan posisi ke-122 di Indonesia dan peringkat ke-3010 Asia. Kampus yang berdiri sejak 1981 ini mencatat tingkat penerimaan sekitar 20 persen. UNISMA dikenal memiliki basis pendidikan keislaman yang dipadukan dengan pengembangan keilmuan modern. 8. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Universitas Muhammadiyah Malang menempati posisi ke-8 di Malang dan berada pada peringkat ke-104 nasional serta ke-2888 di Asia. Berdiri sejak 1965, kampus ini memiliki tingkat penerimaan mahasiswa sekitar 69 persen. UMM dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbesar di Jawa Timur dengan fasilitas kampus terpadu yang modern. 7. Universitas Kanjuruhan Malang Universitas Kanjuruhan Malang menempati peringkat ke-95 di Indonesia dan ke-2550 di Asia. Berdiri pada tahun 2001, kampus ini memiliki tingkat penerimaan sekitar 10 persen, menunjukkan selektivitas penerimaan mahasiswa baru yang cukup ketat dibanding sejumlah kampus swasta lainnya di kota tersebut. 6. Universitas Widya Gama Didirikan pada tahun 1985, Universitas Widya Gama berada pada peringkat ke-91 nasional dan ke-2401 Asia. Kampus ini terus memperkuat program studi berbasis kebutuhan industri serta pengembangan kewirausahaan mahasiswa. 5. Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) ITN Malang menempati peringkat ke-85 di Indonesia dan ke-2252 di Asia. Kampus teknik yang berdiri sejak 1969 ini memiliki jumlah mahasiswa sekitar 3.638 orang dengan komposisi mahasiswa laki-laki dan perempuan sekitar 87:13. Tingkat penerimaan mahasiswa mencapai 78 persen, menjadikannya salah satu kampus teknik favorit di Malang. 4. Universitas Merdeka Malang (UNMER) Universitas Merdeka Malang berada di peringkat ke-74 nasional dan ke-1628 Asia. Kampus yang berdiri pada tahun 1964 ini dikenal memiliki program studi unggulan di bidang hukum, ekonomi, dan administrasi publik, serta menjadi salah satu perguruan tinggi swasta senior di kota tersebut. 3. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menduduki peringkat ke-41 di Indonesia dan ke-685 Asia. Berdiri pada tahun 2004 sebagai universitas negeri berbasis keislaman, kampus ini memiliki tingkat penerimaan sekitar 15 persen. Integrasi ilmu agama dan sains modern menjadi ciri khas utama pengembangan akademiknya. 2. Universitas Negeri Malang (UM) Universitas Negeri Malang berada di posisi kedua terbaik di kota ini, sekaligus menempati peringkat ke-17 nasional dan ke-400 di Asia. Berdiri sejak 1954, kampus ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan tenaga kependidikan terbesar di Indonesia dengan tingkat penerimaan mahasiswa sekitar 10 persen. 1. Universitas Brawijaya (UB) Posisi puncak ditempati oleh Universitas Brawijaya sebagai universitas terbaik di Malang versi EduRank 2026. UB menempati peringkat ke-8 di Indonesia dan ke-205 di Asia. Didirikan pada tahun 1963, kampus ini memiliki jumlah mahasiswa sekitar 13.927 orang dengan tingkat penerimaan sekitar 10 persen. UB juga dikenal produktif dalam publikasi riset dan memiliki reputasi kuat di berbagai bidang keilmuan. Malang Tetap Jadi Magnet Pendidikan Nasional Hasil pemeringkatan ini menunjukkan bahwa Malang tetap menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi paling kompetitif di Indonesia. Baik perguruan tinggi negeri maupun swasta di kota ini terus menunjukkan perkembangan dalam kualitas riset, reputasi akademik, serta kontribusi alumni di berbagai sektor. Bagi calon mahasiswa, pemeringkatan seperti EduRank dapat menjadi referensi awal dalam menentukan kampus tujuan, meski pilihan akhir tetap perlu mempertimbangkan minat studi, fasilitas kampus, dan prospek karier masing-masing individu.***
Mahasiswa Gen Z UMM Ini Rintis Bisnis Apotek 24 Jam sejak Kuliah

KLIKMU.CO – Di tengah jadwal kuliah yang padat dan tuntutan akademik sebagai mahasiswa semester tujuh, Melani Rahmabutri justru mengambil langkah yang tak biasa bagi kebanyakan mahasiswa seusianya. Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini nekat merintis bisnis apotek 24 jam, sembari tetap menjalani perannya sebagai mahasiswa aktif. Keputusan tersebut tentu bukan tanpa tantangan. Saat sebagian besar mahasiswa Gen Z masih berfokus menyelesaikan studi, Melani harus membagi waktu antara perkuliahan, praktikum, dan tanggung jawab mengelola usaha. Namun baginya, dunia akademik dan bisnis justru bisa berjalan beriringan. Apotek yang mulai beroperasi sejak September 2025 itu hadir dengan konsep pelayanan yang komprehensif dan humanis. Tak hanya melayani penjualan obat, apotek ini juga aktif melakukan edukasi kesehatan, penyuluhan ke desa-desa, hingga menyediakan layanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat. Mulai dari pemeriksaan gula darah, asam urat, kolesterol, hingga tekanan darah, semuanya dapat diakses tanpa dipungut biaya. Mahasiswa asal Kalimantan Selatan itu mengungkapkan ketertarikannya pada dunia farmasi telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Ia merupakan lulusan SMK Farmasi yang kemudian melanjutkan pendidikan S1 Farmasi di UMM. Latar belakang tersebut menjadi bekal kuat sekaligus alasan di balik keberaniannya membuka apotek di usia muda. “Sejak awal memang ingin punya apotek. Dari SMK sampai kuliah saya berada di jalur farmasi, jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” ujarnya, Rabu (28/1/2026). Dalam pengelolaan usaha, Melani berperan sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA), sementara tanggung jawab kefarmasian dijalankan oleh dua apoteker resmi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh layanan berjalan sesuai regulasi dan standar profesi. “Kami selalu mengedepankan konsultasi sebelum pemberian obat. Pasien ditanya dulu kondisinya, riwayat obatnya, lalu kami jelaskan cara penggunaan dan penyimpanan agar tidak terjadi medication error,” jelasnya. Kesibukan mengelola apotek tak membuat Melani berhenti berkontribusi langsung kepada masyarakat. Bersama timnya, ia rutin terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, mulai dari acara RT, desa, hingga kegiatan warga, sambil membuka layanan cek kesehatan gratis sebagai bentuk pengabdian. “Kami sering ikut kegiatan warga. Di sana kami adakan cek gula darah, asam urat, kolesterol, dan tekanan darah gratis. Ini bagian dari edukasi supaya masyarakat lebih peduli pada kesehatan,” tuturnya. Mengikuti karakter Gen Z yang akrab dengan teknologi, apotek ini juga memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai sarana edukasi sekaligus promosi. Layanan pemesanan obat daring pun terhubung langsung ke WhatsApp, lengkap dengan fasilitas antar obat gratis bagi pelanggan dalam radius dua kilometer. Dalam pengelolaan sumber daya manusia, Melani juga memberdayakan generasi muda dengan merekrut pegawai dari kalangan Gen Z. Selain memiliki latar belakang farmasi, para pegawai dilibatkan secara aktif dalam pembuatan konten edukasi sebagai bagian dari strategi branding. Melalui pengalamannya, Melani berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, meski di tengah kesibukan kuliah. “Jangan takut memulai. Ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah seharusnya bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya. (Faqih/AS)
Prodi Sosiologi FISIP UMM Jalin Kerja Sama dengan Detikcom

Malang-harianjatim.com. Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menjalin kerjasama dengan media Detikcom Biro Jawa Timur, Kamis, (29/01/2026). Kerjasama itu tertuang dalam Nota Kesepahaman (Memorandum of Agreement atau Perjanjian Kerjasama). Hal itu dilakukan sebagai langkah strategis Prodi Sosiologi FISIP UMM dalam memperkuat implementasi program akademik, pengembangan kapasitas mahasiswa, serta perluasan jejaring kemitraan dengan media nasional. Penandatanganan MoA dilakukan oleh Budi Hartadi, selaku Kepala Biro Redaksi Detikcom Jawa Timur. Sementara dari Kampus UMM diwakili oleh dua dosen Program Studi Sosiologi FISIP UMM, yakni Ahmad Arrozy dan Rajih Arraki. Dosen UMM Malang Ahmad Arrozy mengatakan, terdapat beberapa poin dalam nita MoU yang ditandatangani kedua belah pihak. Pertama, pengembangan kurikulum yang selaras dengan program Kampus Berdampak, antara lain melalui keterlibatan praktisi media Detikcom sebagai narasumber kuliah praktisi, kolaborasi workshop di kelas, serta peningkatan kapasitas pembelajaran pada kelas Centre of Excellence (CoE) Prodi Sosiologi UMM. Kedua, Detikcom Biro Jawa Timur menjadi mitra tempat magang mahasiswa dalam skema CoE Program Studi Sosiologi FISIP UMM. Ketiga, kerja sama ini juga membuka peluang Detikcom sebagai lokasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa Sosiologi UMM, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja, khususnya di bidang media dan komunikasi publik. Keempat, MoA ini juga mencakup dukungan dalam promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Detikcom Biro Jawa Timur akan menyediakan ruang publikasi pada platform media mereka untuk mendukung sosialisasi profil dan keunggulan Prodi Sosiologi FISIP UMM, informasi jadwal PMB, jalur dan tata cara pendaftaran, peluang beasiswa, serta berbagai kegiatan unggulan prodi. Menurut Ahmad Arrozy kerja sama ini dinilai penting bagi Prodi Sosiologi FISIP UMM sebagai upaya mewadahi keberlanjutan program Centre of Excellence (CoE), magang mahasiswa, memperluas akses informasi publik terkait PMB, serta meningkatkan kualitas proses pendidikan di sosiologi UMM. ”Melalui sinergi dengan media nasional seperti detikcom, Prodi Sosiologi FISIP UMM berharap dapat meningkatkan visibilitas institusi serta mendorong peningkatan jumlah mahasiswa baru pada tahun 2026,” katanya. Saat itu kunjungan dari Kampus UMM Malang disambut dengan ramah oleh Mira Rachmalia, selaku Asisten Redaktur Detikcom Biro Jawa Timur. Baca Juga : Dosen Kedokteran Veteran Jakarta Ingatkan Hak-Hak Reproduksi dalam Penyuluhan di LKSA Malang Kegiatan berlangsung dalam suasana dialogis dan konstruktif, dengan diskusi mengenai peran media dalam penguatan pendidikan tinggi, isu-isu sosial, serta kontribusi Muhammadiyah dalam ranah pendidikan dan pengembangan masyarakat. Ahmad Arrozy berharap melalui penandatanganan MoA ini, Prodi Sosiologi FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kolaborasi strategis dengan berbagai mitra eksternal, khususnya media, guna mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi dan penguatan kualitas lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Fenomena Mahasiswa Rantau Akhiri Hidup, Pakar Psikologi UMM Ungkap Masalahnya

Malang (beritajatim.com) – Rentetan kasus tragis percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa belakangan ini memicu alarm waspada bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Fenomena ini tidak hanya dipandang sebagai tragedi personal, namun mencerminkan kompleksitas kesehatan mental yang menghantui mahasiswa, terutama mereka yang menyandang status sebagai perantau. Menanggapi isu ini, Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, membedah faktor mendalam yang menyebabkan mahasiswa rantau berada dalam posisi rentan. Dr. Cahyaning, yang akrab disapa Naning, menjelaskan bahwa transisi dari rumah ke lingkungan baru merupakan fase kritis. Mahasiswa rantau secara alamiah harus menghadapi tantangan adaptasi yang masif tanpa kehadiran fisik orang tua sebagai sistem pendukung utama. “Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka jauh dari lingkungan yang biasa mereka tempati. Risiko gangguan psikologis akan meningkat drastis jika kemampuan adaptasi mereka rendah dan tidak didukung oleh lingkungan sosial yang kuat di perantauan,” ujar Naning saat memberikan keterangan resmi pada Kamis (29/1/2026). Satu temuan menarik yang diungkapkan Naning dari ruang konseling adalah bahwa tekanan akademik, seperti skripsi atau tugas kuliah, seringkali bukan penyebab utama. Masalah pendidikan biasanya hanya menjadi pemicu terakhir dari tumpukan beban emosional yang sudah dibawa dari rumah. Naning menyoroti pentingnya ketahanan keluarga (family resilience). Banyak mahasiswa yang kesulitan karena tidak dibekali mental pejuang sejak dini. “Tekanan akademik itu sebenarnya wajar dan perlu agar mahasiswa bisa fokus. Namun, landasan utamanya adalah seberapa kuat ketahanan mental seseorang dalam menghadapi ketidakenakan hidup. Tanpa resiliensi, mereka akan terjebak dalam pola pikir sempit saat menghadapi masalah,” tambahnya. Terkait fenomena mahasiswa yang kerap memilih lokasi yang sama untuk melakukan aksi nekat, Naning menyebut hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sedang terdesak. Paparan informasi atau pemberitaan mengenai kejadian sebelumnya dapat membentuk persepsi di benak mahasiswa yang sedang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan. Guna menekan angka kasus serupa, BK UMM menerapkan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan. Mahasiswa diajak mengenali potensi diri agar tidak merasa buntu. Selain bantuan profesional, Naning menyarankan pengembangan coping mechanism atau cara melepas emosi negatif secara sehat. Beberapa langkah sederhana namun efektif untuk mereduksi stres antara lain, berolahraga secara rutin, mendengarkan musik yang menenangkan, melakukan hobi atau aktivitas yang disukai, dan menikmati makanan favorit dengan penuh penghayatan (mindful eating). Di sisi lain, teman sebaya dan lingkungan kos memegang peranan sebagai garda terdepan. Naning mengingatkan agar setiap individu belajar menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi. “Mendengarkan tanpa mencemooh dan menjaga rahasia adalah kunci. Jangan pernah menyepelekan masalah orang lain atau membocorkan cerita pribadi mereka, karena itu bisa memperburuk kondisi psikologis seseorang,” tegasnya menutup. (dan/but)
Gandeng Detikcom, Prodi Sosiologi Fisip UMM Perkuat Kampus Berdampak

pwmu.co – Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (Fisip UMM) menjalin kerja sama strategis dengan Detikcom Biro Jatim melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Agreement/MoA), Kamis (29/1/2026).Penandatanganan berlangsung di Kantor Detikcom Biro Jatim dan menjadi bagian dari penguatan implementasi program Kampus Berdampak. Kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat program akademik, pengembangan kapasitas mahasiswa, serta memperluas jejaring kemitraan Prodi Sosiologi Fisip UMM dengan media nasional. Salah satu dosen Prodi Sosiologi Fisip UMM, Ahmad Arrozy, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Detikcom merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan dunia pendidikan tinggi yang semakin dinamis. “Kerja sama ini kami pandang penting untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui keterlibatan langsung praktisi media, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami praktik dan dinamika kerja di dunia media,” ujarnya. Kerja sama tersebut mencakup beberapa poin utama. Pertama, pengembangan kurikulum yang selaras dengan semangat Kampus Berdampak, antara lain melalui keterlibatan praktisi Detikcom sebagai narasumber kuliah praktisi, kolaborasi workshop di kelas, serta penguatan pembelajaran pada kelas Centre of Excellence (CoE) Prodi Sosiologi UMM. Kedua, Detikcom Biro Jatim menjadi mitra tempat magang mahasiswa dalam skema CoE. Selain itu, kerja sama ini juga membuka peluang Detikcom sebagai lokasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa Sosiologi UMM, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja, khususnya di bidang media dan komunikasi publik. Dosen Prodi Sosiologi Fisip UMM lainnya, Rajih Arraki, menambahkan bahwa sinergi dengan media nasional memberikan nilai tambah bagi proses pendidikan. “Mahasiswa Sosiologi perlu dibekali kemampuan analisis sosial yang kuat sekaligus keterampilan komunikasi publik. Kolaborasi dengan Detikcom menjadi ruang belajar yang sangat strategis untuk mengasah dua aspek tersebut secara bersamaan,” tuturnya. Selain penguatan akademik dan magang mahasiswa, MoA ini juga mencakup dukungan dalam promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Detikcom Biro Jatim akan menyediakan ruang publikasi di platform medianya untuk mendukung sosialisasi profil dan keunggulan Prodi Sosiologi Fisip UMM, informasi jadwal PMB, jalur pendaftaran, peluang beasiswa, hingga berbagai kegiatan unggulan prodi. Kepala Biro Redaksi Detikcom Jatim Budi Hartadi menyambut baik kerja sama tersebut dan menilai kolaborasi antara media dan perguruan tinggi memiliki peran strategis. “Media memiliki tanggung jawab untuk ikut berkontribusi dalam penguatan pendidikan. Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat berbagi pengalaman praktik jurnalistik sekaligus membuka ruang pembelajaran yang produktif bagi mahasiswa,” ungkapnya. Dalam kunjungan tersebut, rombongan Prodi Sosiologi Fisip UMM disambut oleh Mira Rachmalia, Asisten Redaktur Detikcom Biro Jawa Timur. Diskusi berlangsung dalam suasana dialogis dan konstruktif, membahas peran media dalam penguatan pendidikan tinggi, isu-isu sosial, serta kontribusi Muhammadiyah dalam pengembangan masyarakat. Melalui penandatanganan MoA ini, Prodi Sosiologi Fisip UMM menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kolaborasi strategis dengan berbagai mitra eksternal, khususnya media nasional, guna mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi serta mencetak lulusan yang adaptif dan berdaya saing di era global. (*) *) Penulis : Abdus Salam *) Editor : Agus Wahyudi
Mahasiswa UMM Hadirkan Teknologi Tepat Guna untuk UMKM, Ecoprint Lebih Efisien dan Berkualitas

MALANG| JATIMSATUNEWS.COM: Inovasi teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih atau proyek berskala besar. Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), solusi bagi pelaku UMKM justru dirancang dari ruang kelas. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri UMM menghadirkan Steam Press Ecoprint, sebuah alat produksi yang menawarkan efisiensi sekaligus peningkatan kualitas pada proses ecoprint. Inovasi tersebut dikembangkan oleh Iqbal Rafif Yuliono, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2023, bersama timnya. Gagasan ini berangkat dari pengamatan langsung terhadap praktik ecoprint di lapangan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama pada konsistensi hasil dan durasi produksi. Iqbal menuturkan bahwa proses ecoprint yang umum digunakan pelaku usaha masih mengandalkan metode manual atau sistem otomatis sederhana. Keduanya dinilai belum mampu menghasilkan kualitas warna dan detail motif yang optimal. Dari persoalan itulah, ide untuk menggabungkan sistem manual dan otomatis mulai dirumuskan. “Kami melihat ecoprint itu biasanya dilakukan secara manual atau otomatis. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan keduanya dengan memanfaatkan mesin press yang dipadukan dengan sistem uap,” ujar Iqbal saat diwawancara Tim Humas UMM, 27 Januari lalu. Steam Press Ecoprint bekerja dengan mengintegrasikan panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Pendekatan ini berbeda dari metode kukus konvensional yang menggunakan air secara langsung dan kerap menghasilkan warna yang kurang tajam serta motif yang tidak merata. Berdasarkan hasil uji coba, penggunaan uap bertekanan terbukti mampu memunculkan warna kain yang lebih kuat dan detail motif yang lebih jelas. Metode ini juga membantu menjaga konsistensi hasil, terutama pada produksi dalam jumlah lebih banyak. “Ketika kami bandingkan, hasil ecoprint menggunakan uap melalui mesin press warnanya jauh lebih keluar dan motifnya lebih tegas dibandingkan metode kukus biasa,” tambahnya. Alat ini telah diuji coba secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint yang berlokasi di Bululawang, Kabupaten Malang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Steam Press Ecoprint mampu menghasilkan warna yang lebih konsisten, sekaligus meningkatkan kualitas visual kain ecoprint. Dari sisi efisiensi, Steam Press Ecoprint tidak semata-mata mengejar kecepatan produksi. Alat ini justru dirancang untuk menyesuaikan proses dengan tingkat detail motif yang diinginkan. Dengan demikian, pelaku usaha tetap dapat menghasilkan kain ecoprint yang presisi dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Steam Press Ecoprint juga dirancang agar ramah bagi UMKM skala kecil. Alat ini fleksibel digunakan pada berbagai jenis kain, bahkan beberapa material dengan tekstur tertentu menunjukkan hasil motif yang lebih maksimal ketika diproses menggunakan sistem uap dan tekanan. Dalam proses perancangannya, Iqbal mengakui peran dosen pembimbing sangat krusial, terutama dalam mendorong mahasiswa agar peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan inovasi yang aplikatif. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar, struktur yang lebih kuat, serta sistem pengoperasian yang semakin sederhana. “Jangan takut mencoba. Mulai saja dulu, karena dari proses itulah kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” pesannya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi karya mahasiswa tersebut sebagai bukti nyata keberhasilan pembelajaran berbasis praktik. Menurutnya, inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis, mengolah ide, dan menerapkan konsep perkuliahan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Ia berharap karya tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi. Prodi Teknik Industri UMM, lanjutnya, berkomitmen mendorong pengembangan karya mahasiswa agar tidak berhenti sebagai tugas akademik semata, melainkan mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa berani mencoba, peka terhadap masalah di sekitarnya, dan mampu menghadirkan solusi yang relevan melalui karya-karya inovatif,” tutupnya.(Ans)
Mahasiswa UMM Ciptakan Steam Press Ecoprint, Bantu UMKM Tingkatkan Kualitas Produksi

pwmu.co – Inovasi teknologi tepat guna kembali lahir dari kampus. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Steam Press Ecoprint, alat produksi yang dirancang untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan kualitas sekaligus efisiensi proses pembuatan kain ecoprint.Inovasi ini dikembangkan Iqbal Rafif Yuliono, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2023 bersama timnya melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Gagasan tersebut muncul dari pengamatan langsung di lapangan terhadap proses ecoprint yang dinilai masih menghadapi kendala, terutama pada konsistensi warna dan lamanya durasi produksi. Iqbal menjelaskan, metode ecoprint yang umum digunakan pelaku usaha masih bertumpu pada teknik manual maupun otomatis sederhana. Keduanya dinilai belum mampu menghasilkan detail motif dan ketajaman warna secara optimal. “Kami melihat ecoprint biasanya dilakukan manual atau otomatis. Dari situ muncul ide menggabungkan keduanya dengan memanfaatkan mesin press yang dipadukan sistem uap,” ujarnya saat diwawancarai Tim Humas UMM, Selasa (27/1/2026). Steam Press Ecoprint bekerja dengan memadukan panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Pendekatan ini berbeda dengan metode kukus konvensional yang menggunakan air secara langsung, yang kerap menghasilkan warna kurang tajam dan motif tidak merata. Berdasarkan hasil uji coba, penggunaan uap bertekanan mampu menghasilkan warna kain lebih kuat serta detail motif lebih jelas. Metode ini juga membantu menjaga konsistensi hasil, terutama saat produksi dalam jumlah lebih banyak. Alat tersebut telah diuji coba secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint di Bululawang, Kabupaten Malang. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan kualitas visual kain sekaligus warna yang lebih konsisten. Dari sisi efisiensi, Steam Press Ecoprint tidak semata mengejar kecepatan produksi. Alat ini dirancang agar proses dapat disesuaikan dengan tingkat detail motif yang diinginkan, sehingga pelaku usaha tetap mampu menghasilkan produk bernilai jual lebih tinggi. Menariknya, alat ini juga dirancang ramah bagi UMKM skala kecil. Steam Press Ecoprint fleksibel digunakan pada berbagai jenis kain, bahkan beberapa material bertekstur tertentu menunjukkan hasil motif lebih maksimal saat diproses menggunakan sistem uap dan tekanan. Iqbal mengakui peran dosen pembimbing sangat krusial dalam proses perancangan, terutama dalam mendorong mahasiswa agar peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan inovasi yang aplikatif. “Jangan takut mencoba. Mulai saja dulu, karena dari proses itulah kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” pesannya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM Dr Dana Marsetiya Utama MT mengapresiasi karya mahasiswa tersebut sebagai bukti keberhasilan pembelajaran berbasis praktik. Menurutnya, inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis, mengolah ide, serta menerapkan konsep perkuliahan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Ia berharap karya tersebut menjadi pemantik semangat mahasiswa lain untuk terus berinovasi. Prodi Teknik Industri UMM, lanjutnya, berkomitmen mendorong karya mahasiswa agar tidak berhenti sebagai tugas akademik semata, melainkan mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa berani mencoba, peka terhadap masalah di sekitarnya, dan mampu menghadirkan solusi yang relevan melalui karya inovatif,” tutupnya. (*) *) Penulis : Hassan al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan
Overwork, Akademisi UMM: Masalah Sistemik Keadilan Sosial dan Kualitas Hidup Manusia

MALANG POST – Budaya kerja berlebihan atau overwork yang kian dianggap lumrah di Indonesia mendapat sorotan serius dari akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial UMM, Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW, menilai overwork bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah sistemik yang berkaitan erat dengan keadilan sosial dan kualitas hidup manusia. “Overwork tidak bisa dipandang sebagai persoalan kecil. Ini adalah isu keadilan sosial yang memengaruhi kualitas hidup manusia.” “Jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang kuat dan berdaya, maka kesejahteraan individu dan keluarga harus jadi prioritas utama,” jelasnya pada Malang Post melalui Tim Humas UMM, Kamis (29/1/2026). Fenomena kerja berlebihan semakin mengakar di kehidupan masyarakat Indonesia. Jam kerja panjang sering diperlakukan sebagai simbol loyalitas, dedikasi, dan etos kerja tinggi yang patut dibanggakan. Di balik glorifikasi budaya “gila kerja” itu tersimpan masalah struktural dalam sistem ketenagakerjaan yang secara perlahan menggerogoti kualitas hidup. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 25,5 persen pekerja Indonesia, atau sekitar 37,3 juta orang, bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka ini menunjukkan bahwa overwork telah menjadi persoalan sistemik, bukan sekadar fenomena sporadis. Eko menjelaskan bahwa bekerja melebihi batas sering kali bukan pilihan bebas bagi pekerja. Dalam sistem kerja yang minim perlindungan dan jaminan sosial, banyak individu terpaksa mengorbankan waktu istirahat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ini mencerminkan kegagalan sistem sosial dalam melindungi hak dasar pekerja, sementara ketimpangan relasi kuasa antara pemberi kerja dan pekerja makin terlihat ketika lembur diposisikan sebagai kewajiban yang dianggap normal. “Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakan utamanya adalah well-being, mencakup keseimbangan ekonomi, sosial, psikologis, dan kesehatan individu,” ujarnya. Dampak overwork tidak berhenti di kantor. Ancaman yang lebih serius muncul di ranah domestik: jam kerja berlebih bisa memicu kelelahan fisik dan mental serta melemahkan peran sosial dalam keluarga. Dosen Kesos ini juga menyoroti kelompok pekerja paling rentan, seperti pekerja informal, buruh outsourcing, pekerja migran, hingga pekerja perempuan yang menghadapi beban gandaan. Tanpa perlindungan dan kompensasi yang memadai, jam kerja panjang berisiko menjadi bentuk eksploitasi modern yang tersembunyi di balik tekanan ekonomi. “Negara yang kuat lahir dari individu dan keluarga yang sehat secara psikososial. Jika beban kerja merusak relasi keluarga, seperti renggangnya hubungan orang tua dan anak, maka ini menjadi masalah serius bagi masa depan bangsa,” tegasnya. Sebagai langkah konkret, Eko mendorong penguatan advokasi serta perumusan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. Menurutnya, pemerintah tidak semestinya hanya mengutamakan indikator pertumbuhan ekonomi dan produktivitas dalam penyusunan regulasi, tetapi juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial pekerja. “Kebijakan ketenagakerjaan seharusnya menjamin batas kerja yang wajar, perlindungan sosial yang memadai, serta keseimbangan antara kehidupan kerja dan keluarga agar pembangunan ekonomi tidak dibayar dengan hilangnya kualitas hidup manusia,” tutupnya. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Kasus Mahasiswa Bunuh Diri di Malang Jadi Sorotan, Apa Kata Psikolog?

MALANG, KOMPAS.com – Kasus percobaan bunuh diri yang kerap terjadi pada kalangan mahasiswa di Kota Malang, Jawa Timur menjadi sorotan publik. Terlebih, peristiwa memilukan ini terjadi di lokasi yang sama. Sehingga menimbulkan perhatian publik terhadap kondisi psikologis mahasiswa. Psikolog, Cahyaning Suryaningrum, mengatakan fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai persoalan individual semata. Menurut dia, ada persoalan kesehatan mental yang lebih kompleks, terutama pada mahasiswa rantau yang dihadapkan langsung pada tuntutan adaptasi tinggi di tanah rantau. “Mahasiswa rantau secara alamiah lebih rentan karena mereka terpisah dari orangtua dan lingkungan yang selama ini menjadi tempat aman.” “Ketika kemampuan adaptasi dan dukungan sosialnya rendah, risiko masalah psikologis menjadi lebih besar,” ujar Cahyaning di Malang, Kamis (29/1/2026). Psikolog yang juga sebagai Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menilai, kondisi ini tidak semata mata disebabkan adanya tekanan akademik. Sejumlah konseling melihatkan persoalan ini banyak dipicu adanya beban emosional yang sudah terbentuk sejak dari rumah. Ketahanan keluarga rapuh “Banyak kasus yang ditangani justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga.” “Masalah pendidikan atau skripsi sering kali hanya menjadi pemicu dari tumpukan beban emosional yang telah dibawa mahasiswa dari rumah,” ungkap dia. Menurut Naning, mahasiswa sejatinya tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual saja, melainnya juga ketahanan mental (resiliensi). Sebab, tanpa kemampuan menghadapi ketidaknyamanan hidup, mahasiswa cenderung berpikir sempit ketika berada dalam tekanan. “Pada dasarnya, tekanan akademik merupakan hal yang wajar dan tidak terpisahkan dari proses pendidikan.” “Tekanan dalam taraf wajar justru penting agar mahasiswa belajar menjadi lebih fokus,” ungkap dia. Ia menekankan pendekatan konseling yang berorientasi pada pemberdayaan. Mahasiswa tidak sekadar dibantu memahami masalahnya, tetapi juga diajak mengenali kekuatan diri serta sumber persoalan yang dihadapi. “Kami berharap mahasiswa dapat menyadari bahwa mereka memiliki kapasitas dan potensi untuk menghadapi serta keluar dari permasalahannya.” “Dengan demikian, pendampingan konselor berfungsi sebagai penguat, bukan sebagai satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Naning juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, yakni cara individu melepaskan emosi negatif sebelum menumpuk dan meledak (blow up). “Hal-hal sederhana seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai, misalnya sekadar menikmati makanan favorit dapat menjadi saluran emosi yang efektif jika dilakukan dengan penuh penghayatan,” sambung dia. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan. Mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta menghindari sikap menyepelekan atau menertawakan masalah teman merupakan langkah sederhana, tetapi berdampak besar. “Melalui pendekatan preventif dan promotif, BK UMM berharap mahasiswa mampu mengenali kondisi psikologisnya sejak dini.” “Sebab, pada akhirnya, setiap masalah selalu memiliki jalan keluar meskipun tidak selalu ideal selama pikiran tidak dibiarkan tertutup oleh kabut keputusasaan,” kata dia.