PPG UMM Siapkan Guru Berwawasan Global, Buka Peluang PPL ke Australia

MALANG KOTA– Program Pendidikan Profesi Guru (PPG)Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat perannya dalam menyiapkan guru profesional berdaya saing global. Terbaru, PPG UMM membuka peluang praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah Australia bagi mahasiswa terpilih. Komitmen tersebut disampaikan Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. saat Orientasi Akademik Mahasiswa PPG Calon Guru UMM Gelombang I Kemendikdasmen 2026, Kamis (29/1). Menurut Juanda, PPG merupakan unit strategis dalam mencetak guru profesional sekaligus berkarakter. SAMPAIKAN PESAN: Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. menegaskan pentingnya PPG untuk menyiapkan guru profesional. ”UMM telah lebih dari satu dekade mendampingi proses pembentukan guru dan menjadi salah satu pelaksana PPG terbaik di Indonesia. Gelar profesi guru bukan sekadar administratif, tetapi tanggung jawab moral dan profesional,” ujarnya. Sebagai bagian dari penguatan wawasan global, mahasiswa PPG UMM diwajibkan melakukan presentasi akademik menggunakan bahasa Inggris. Langkah ini menjadi persiapan awal bagi peserta yang berkesempatan mengikuti PPL di Australia. Juanda menekankan, guru yang ideal bukan hanya baik secara akademik, tetapi mampu memberi keteladanan dan inspirasi, terutama pada jenjang pendidikan dasar. KONTRIBUSI: Ketua Program Studi PPG UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. menjelaskan bahwa tema adalah refleksi atas tantangan nyata dunia pendidikan. ”Guru yang membekas bukan semata karena ilmunya, tetapi karena sentuhan afektif dan keteladanannya,” tambahnya. Dari sisi pemerintah, Subkoordinator Implementasi PPG Prajabatan Kemendikdasmen Yulia Gita Fany, M.Si. menegaskan bahwa PPG adalah instrumen strategis negara dalam menyiapkan guru profesional dan berintegritas. Menurutnya, PPG tidak boleh dipahami sebatas jalur memperoleh sertifikat pendidik. GURU PROFESIONAL: Para peserta Prajabatan PPG UMM antusias mengikuti beragam orientasi yang tersedia. ”Guru profesional adalah mereka yang memahami perannya sebagai pendidik, menghadirkan pembelajaran berpihak pada murid, dan adaptif terhadap perubahan zaman,” katanya. Ketua Program Studi PPG UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. menambahkan bahwa tantangan pendidikan yang semakin kompleks menuntut guru untuk terus bertumbuh dan berinovasi. Guru, menurutnya, tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga teladan moral. ”Tumbuh sebagai guru lahir dari keberanian menghadapi tantangan dan memperbarui cara berpikir, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman,” tegas Trisakti. KOMPAK: Para peserta mengucapkan janji mahasiswa PPG UMM bersama-sama Ke depan, sebagian materi PPG UMM juga akan disampaikan dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari internasionalisasi program. ”Penguatan ini dibarengi peluang PPL ke Australia bagi peserta terpilih untuk memperkaya perspektif pedagogik dan pengalaman global calon guru,” pungkasnya.(adn)

PPG UMM Siapkan Guru Berwawasan Global, Buka Peluang PPL ke Australia

MALANG KOTA– Program Pendidikan Profesi Guru (PPG)Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat perannya dalam menyiapkan guru profesional berdaya saing global. Terbaru, PPG UMM membuka peluang praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah Australia bagi mahasiswa terpilih. Komitmen tersebut disampaikan Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. saat Orientasi Akademik Mahasiswa PPG Calon Guru UMM Gelombang I Kemendikdasmen 2026, Kamis (29/1). Menurut Juanda, PPG merupakan unit strategis dalam mencetak guru profesional sekaligus berkarakter. SAMPAIKAN PESAN: Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. menegaskan pentingnya PPG untuk menyiapkan guru profesional. ”UMM telah lebih dari satu dekade mendampingi proses pembentukan guru dan menjadi salah satu pelaksana PPG terbaik di Indonesia. Gelar profesi guru bukan sekadar administratif, tetapi tanggung jawab moral dan profesional,” ujarnya. Sebagai bagian dari penguatan wawasan global, mahasiswa PPG UMM diwajibkan melakukan presentasi akademik menggunakan bahasa Inggris. Langkah ini menjadi persiapan awal bagi peserta yang berkesempatan mengikuti PPL di Australia. Juanda menekankan, guru yang ideal bukan hanya baik secara akademik, tetapi mampu memberi keteladanan dan inspirasi, terutama pada jenjang pendidikan dasar. KONTRIBUSI: Ketua Program Studi PPG UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. menjelaskan bahwa tema adalah refleksi atas tantangan nyata dunia pendidikan. ”Guru yang membekas bukan semata karena ilmunya, tetapi karena sentuhan afektif dan keteladanannya,” tambahnya. Dari sisi pemerintah, Subkoordinator Implementasi PPG Prajabatan Kemendikdasmen Yulia Gita Fany, M.Si. menegaskan bahwa PPG adalah instrumen strategis negara dalam menyiapkan guru profesional dan berintegritas. Menurutnya, PPG tidak boleh dipahami sebatas jalur memperoleh sertifikat pendidik. GURU PROFESIONAL: Para peserta Prajabatan PPG UMM antusias mengikuti beragam orientasi yang tersedia. ”Guru profesional adalah mereka yang memahami perannya sebagai pendidik, menghadirkan pembelajaran berpihak pada murid, dan adaptif terhadap perubahan zaman,” katanya. Ketua Program Studi PPG UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. menambahkan bahwa tantangan pendidikan yang semakin kompleks menuntut guru untuk terus bertumbuh dan berinovasi. Guru, menurutnya, tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga teladan moral. ”Tumbuh sebagai guru lahir dari keberanian menghadapi tantangan dan memperbarui cara berpikir, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman,” tegas Trisakti. KOMPAK: Para peserta mengucapkan janji mahasiswa PPG UMM bersama-sama. Ke depan, sebagian materi PPG UMM juga akan disampaikan dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari internasionalisasi program. ”Penguatan ini dibarengi peluang PPL ke Australia bagi peserta terpilih untuk memperkaya perspektif pedagogik dan pengalaman global calon guru,” pungkasnya.(adn)

PPG UMM Cetak Guru Berwawasan Global, Siapkan Program Praktik Ke Australia

JurnalPost.com – Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan unit strategis yang berperan penting dalam menyiapkan guru profesional di tingkat nasional. Hal itu ditegaskan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. dalam Orientasi Akademik Mahasiswa PPG Calon Guru UMM Gelombang I Kemendikdasmen tahun 2026, 29 Januari 2026. Menariknya, UMM juga memberikan kesempatan para mahasiswa PPG untuk bisa praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah Australia. Untuk itu, persiapan yang dilakukan dengan mewajibkan mahasiswa dalam melaksanakan presentasi menggunakan bahasa Inggris. Ini menjadi cara UMM untuk memberikan wawasan global bagi para mahasiswanya. Lebih lanjut, Juanda mengatakan bahwa UMM telah berpengalaman lebih dari satu dekade dalam mendampingi proses pembentukan guru dan menjadi salah satu pelaksana PPG terbaik di Indonesia. Baik dari sisi prestasi mahasiswa maupun kualitas pembelajaran. Menurutnya, gelar profesi guru bukan sekadar atribut administratif, tetapi simbol tanggung jawab moral dan profesional yang melekat pada sosok pendidik. “Guru yang paling membekas dalam ingatan peserta didik bukan semata karena kemampuan akademik, melainkan karena keteladanan dan sentuhan afektif. Khususnya pada jenjang pendidikan dasar yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, empati, dan kepribadian murid,” terangnya. Juanda menegaskan, guru ideal bukan hanya good teacher atau excellent teacher, tetapi inspiring teacher yang mampu menanamkan makna, nilai, dan inspirasi. Melalui PPG UMM, calon guru diharapkan tumbuh dengan spirit pengabdian ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Di sisi lain, Subkoordinator Implementasi PPG Prajabatan Kemendikdasmen, Yulia Gita Fany, M.Si. menjelaskan bahwa Program PPG adalah instrumen strategis negara dalam menyiapkan guru yang profesional dan berintegritas. Di agenda bertema ‘Guru Hebat, Dunia Menanti: Tumbuh, Beraksi, dan Menginspirasi dengan Nilai-Nilai Keislaman’ ini, Yulia menilai PPG tidak boleh dipahami sebatas jalur administratif untuk memperoleh sertifikat pendidik. Melainkan sebagai proses pembentukan kompetensi guru secara utuh dan berkelanjutan. “Guru profesional bukan hanya mereka yang lulus sertifikasi, tetapi yang memahami perannya sebagai pendidik, mampu menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada murid, serta adaptif terhadap perubahan zaman dan kebutuhan peserta didik,” katanya. PPG Prajabatan dirancang lebih kontekstual dan aplikatif melalui penguatan praktik lapangan, refleksi pembelajaran, serta integrasi nilai karakter dan etika profesi. Pemerintah juga menyediakan beasiswa penuh sebagai bentuk komitmen negara agar calon guru tidak hanya siap mengajar, tetapi juga siap menjadi figur teladan di tengah masyarakat. “Keberhasilan PPG sangat ditentukan oleh kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah mitra, dan pemerintah daerah,” tegasnya. Hal serupa juga disampaikan Ketua Program Studi PPG UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. Menurutnya, tema yang diambil bukan sekadar slogan seremonial, melainkan refleksi atas tantangan nyata dunia pendidikan saat ini. Menurutnya, calon guru dihadapkan pada kompleksitas persoalan pendidikan, mulai dari percepatan teknologi hingga perubahan karakter peserta didik. Problem krisis nilai yang ada menuntut kehadiran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan moral. “Tumbuh sebagai guru tidak lahir dari kenyamanan. Ia tumbuh dari keberanian menghadapi tantangan, memperbarui cara berpikir, serta memperdalam pemahaman terhadap teori pendidikan dan strategi pembelajaran inovatif yang tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman,” tegas Trisakti.

KKN Tematik UMM, Dari Pawon ke Buku Sejarah

RRI.CO.ID, Malang – Kampung Budaya Polowijen (KBP) bersama Mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan rangkaian kegiatan kebudayaan pada Rabu, 29 Januari 2026, yang menggabungkan kerja perawatan ruang tradisi dengan penguatan literasi penulisan sejarah dan budaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses penyusunan buku Transformasi Budaya: dari Tradisi, Modernitas, hingga Dunia Digital. Kegiatan diawali dengan beres-beres pawon dan galeri Kampung Budaya Polowijen. Pawon dan galeri tidak hanya dirawat sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai pusat aktivitas budaya, dokumentasi, dan pembelajaran. Dari ruang inilah berbagai praktik budaya—mulai dari kuliner tradisional, selametan, hingga diskusi kebudayaan—terus hidup dan diwariskan. Advertisement Pada siang hingga sore hari, mahasiswa mengikuti agenda Sinau Budaya bertema Teknik dan Strategi Penulisan Sejarah dan Budaya. Kegiatan ini menghadirkan Hariani, S.AP sebagai pemateri dengan Aura Tsania sebagai moderator. Diskusi membahas cara menulis sejarah dan budaya secara sistematis dan kritis, sekaligus menjadi bekal awal bagi mahasiswa yang terlibat dalam proses pendokumentasian budaya Kampung Budaya Polowijen. Materi Sinau Budaya ini sejalan dengan substansi buku yang tengah disusun, yang merangkum transformasi budaya Malangan meliputi busana dan atribut tradisional, ritual dan tradisi, seni pertunjukan rakyat, musik dan bunyi tradisional, kerajinan dan peralatan, senjata tradisional, kuliner dan selametan, serta permainan dan tembang rakyat. Seluruhnya dibaca dalam konteks perubahan zaman, modernitas, dan ruang digital. Materi ditutup dengan kembali membersihkan pawon sebagai simbol konsistensi merawat ruang tradisi. Kolaborasi antara Kampung Budaya Polowijen dan Mahasiswa KKN Tematik UMM ini menegaskan bahwa pawon bukan sekadar ruang memasak, tetapi juga ruang lahirnya pengetahuan, sejarah, dan upaya pelestarian budaya di tengah dunia yang terus berubah.(Mey).

Gila Kerja Bisa Menurunkan Kualitas Fungsi Sosial Seseorang

www.majelistabligh.id – Overwork atau gila kerja jangan dipandang sebagai persoalan sepele. Gila kerja justru bisa menjadi isu yang menyentuh langsung kehidupan sosial manusia. Kesejahteraan tidak semata diukur dari besaran pendapatan, tetapi sejauh mana individu mampu menjalankan fungsi sosialnya secara utuh dan seimbang. “Overwork tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele. Ini adalah isu keadilan sosial yang menyentuh langsung kualitas hidup manusia. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang benar-benar kuat dan berdaya, maka kesejahteraan individu dan keluarga harus ditempatkan sebagai prioritas utama,” kata Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW., dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Fenomena kerja berlebihan kian mengakar dalam keseharian masyarakat Indonesia. Jam kerja yang panjang kerap disalahartikan sebagai simbol loyalitas, dedikasi, dan etos kerja tinggi yang patut dibanggakan. Di balik glorifikasi budaya “gila kerja” tersebut, tersembunyi persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan yang perlahan menggerus kualitas hidup manusia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 25,5 persen atau sekitar 37,3 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka ini menegaskan bahwa overwork bukan lagi fenomena sporadis, melainkan persoalan sistemik. Ia menjelaskan bahwa bekerja melampaui batas sering kali bukanlah pilihan bebas pekerja. Dalam sistem kerja yang minim perlindungan dan jaminan sosial, banyak individu terpaksa mengorbankan waktu istirahat demi memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ini mencerminkan kegagalan sistem sosial dalam melindungi hak dasar pekerja. Ketimpangan relasi kuasa antara pemberi kerja dan pekerja pun semakin terlihat ketika lembur diposisikan sebagai kewajiban yang dianggap normal. “Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakan utamanya adalah well-being. Ini mencakup keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, psikologis, hingga kesehatan individu,” ungkapnya. Ia juga menekankan bahwa dampak overwork tidak berhenti di ruang kerja. Ancaman yang lebih serius justru muncul di ranah domestik. Jam kerja yang berlebihan berpotensi memicu kelelahan fisik dan mental, sekaligus melemahkan peran sosial individu dalam keluarga. Ia menyoroti kelompok pekerja yang berada dalam posisi paling rentan, seperti pekerja sektor informal, buruh outsourcing, pekerja migran, hingga pekerja perempuan yang menghadapi beban ganda. Tanpa perlindungan dan kompensasi yang memadai, jam kerja panjang berisiko menjelma menjadi bentuk eksploitasi modern yang tersembunyi di balik tekanan ekonomi. “Negara yang kuat dibangun dari individu dan keluarga yang sehat secara psikososial. Jika beban kerja justru merusak relasi keluarga, seperti renggangnya hubungan orang tua dan anak, maka ini menjadi persoalan serius bagi masa depan bangsa,” tegasnya. Sebagai langkah konkret, Eko mendorong penguatan advokasi serta perumusan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. Menurutnya, pemerintah tidak semestinya hanya berfokus pada indikator pertumbuhan ekonomi dan produktivitas semata dalam menyusun regulasi, tetapi juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial pekerja. “Kebijakan ketenagakerjaan harusnya mampu menjamin batas kerja yang wajar, perlindungan sosial yang memadai, serta keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan keluarga,” tutupnya. (*/tim)

Dari PPG UMM untuk Guru Masa Depan

Indonesiana.id – Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan unit strategis yang berperan penting dalam menyiapkan guru profesional di tingkat nasional. Wakil Rektor II UMM yang memberikan inspirasi dan pesan untuk para mahasiswa PPG UMM. *** Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan unit strategis yang berperan penting dalam menyiapkan guru profesional di tingkat nasional. Hal itu ditegaskan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. dalam Orientasi Akademik Mahasiswa PPG Calon Guru UMM Gelombang I Kemendikdasmen tahun 2026, 29 Januari 2026. Menariknya, UMM juga memberikan kesempatan para mahasiswa PPG untuk bisa praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah Australia. Untuk itu, persiapan yang dilakukan dengan mewajibkan mahasiswa dalam melaksanakan presentasi menggunakan bahasa Inggris. Ini menjadi cara UMM untuk memberikan wawasan global bagi para mahasiswanya. Lebih lanjut, Juanda mengatakan bahwa UMM telah berpengalaman lebih dari satu dekade dalam mendampingi proses pembentukan guru dan menjadi salah satu pelaksana PPG terbaik di Indonesia. Baik dari sisi prestasi mahasiswa maupun kualitas pembelajaran. Menurutnya, gelar profesi guru bukan sekadar atribut administratif, tetapi simbol tanggung jawab moral dan profesional yang melekat pada sosok pendidik. “Guru yang paling membekas dalam ingatan peserta didik bukan semata karena kemampuan akademik, melainkan karena keteladanan dan sentuhan afektif. Khususnya pada jenjang pendidikan dasar yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, empati, dan kepribadian murid,” kata dia menerangkan. Juanda menegaskan, guru ideal bukan hanya good teacher atau excellent teacher, tetapi inspiring teacher yang mampu menanamkan makna, nilai, dan inspirasi. Melalui PPG UMM, calon guru diharapkan tumbuh dengan spirit pengabdian ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’.

Dosen UMM Beri Pendampingan-Pelatihan Pembelajaran Mendalam Guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Dalam hal ini sebagai mitra pengabdian adalah guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang dalam bentuk pendampingan dan pelatihan pembelajaran bagi guru di sekolah tersebut. Kegiatan ini dijelaskan, salah satu tim pengabdian dosen UMM, Maharani Putri Kumalasani, M.Pd, bahwa selain dirinya tim pengabdian terdiri atas nama Hidayah Budi Qur’ani, S.S, M.Pd, dan Dian Fitri Nuraini, M.Pd. Pengabdian tersebut dilaksanakan sebagai respons atas kebijakan pemerintah terkait penguatan pembelajaran mendalam yang menuntut kesiapan guru dalam memahami konsep, perencanaan, hingga implementasinya di ruang kelas sekolah dasar. Suasana pendampingan-pelatihan pembelajaran mendalam guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang. Menurut Maharani, ketika opening kegiatan pendampingan menyampaikan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian kebijakan secara normative, tetapi juga bertujuan memberikan pendampingan yang aplikatif agar guru mampu menerjemahkan pembelajaran mendalam ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar. Adapaun tahapan kegiatan, lanjut Maharani, pertama dalam bentuk workshop pembelajaran mendalam (29/11/2025). Workshop ini menghadirkan tiga pemateri, yakni Maharani Putri Kumalasani, M.Pd, Hidayah Budi Qur’ani, S.S, M.Pd, dan Dian Fitri Nuraini, M.Pd. Materi disampaikan secara bertahap dan sistematis, dimulai dari pemaparan kebijakan pemerintah terkait pembelajaran mendalam, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai prinsip, karakteristik, serta tujuan pembelajaran mendalam dalam konteks kurikulum merdeka, hingga pembahasan teknis penyusunan modul ajar yang mendukung pembelajaran bermakna dan berpusat pada peserta didik. Implementasi pendampingan-pelatihan pembelajaran mendalam guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang di dalam kelas. Selanjutnya, Maharani mengungkapkan tahap kedua pendampingan penyusunan modul ajar pembelajaran mendalam yang dilaksanakan Desember 2025. Pada tahap ini, guru didampingi secara langsung oleh tim pengabdian dalam menyusun modul ajar deep learning yang selaras dengan capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, serta asesmen. Guru diajak memahami keterkaitan antara capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, serta asesmen sebagai satu kesatuan yang utuh dalam pembelajaran mendalam. Selain itu, disampaikan pula contoh implementasi pembelajaran mendalam di sekolah dasar yang menekankan keterlibatan aktif siswa, penguatan proses berpikir kritis, serta pembelajaran yang berorientasi pada pemaknaan. Suasana forum diskusi antara tim dosen UMM dengan mitra pengabdian yaitu guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang. Dijelaskan Maharani, setelah modul ajar disusun, kegiatan dilanjutkan dengan tahap implementasi pembelajaran deep learning yang mengacu pada modul ajar yang telah dikembangkan sebelumnya. Implementasi pembelajaran ini dilaksanakan oleh guru secara langsung di kelas pada bulan Desember 2025  dengan pendampingan intensif dari tim pengabdian UMM. Dalam tahap ini, guru menerapkan strategi pembelajaran mendalam yang menekankan keterlibatan aktif peserta didik, penguatan proses berpikir kritis, serta pembelajaran yang berorientasi pada pemaknaan. Pendampingan yang dilakukan memungkinkan guru untuk memperoleh umpan balik secara langsung terkait pelaksanaan pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga asesmen. Melalui kegiatan implementasi ini, guru tidak hanya mendapatkan pengalaman praktis dalam menerapkan pembelajaran mendalam, tetapi juga melakukan refleksi terhadap efektivitas pembelajaran yang telah dilaksanakan sebagai dasar perbaikan dan pengembangan pembelajaran selanjutnya. Rangkaian kegiatan pengabdian ditutup dengan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) diselenggarakan pada bulan Januari 2026. FGD melibatkan guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang bersama tim pengabdian UMM sebagai bentuk evaluasi komprehensif terhadap seluruh rangkaian pelatihan dan pendampingan pembelajaran mendalam yang telah dilaksanakan. Saat diskusi ini guru diberikan ruang menyampaikan pengalaman selama mengikuti kegiatan, mengemukakan berbagai kendala yang dihadapi dalam penyusunan maupun implementasi modul ajar, serta mengungkapkan dampak yang dirasakan terhadap proses pembelajaran di kelas. Pengabdian ini memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kompetensi professional guru. Sementara itu, tandas Maharani, tim pengabdian memberikan umpan balik dan rekomendasi sebagai bahan refleksi bersama guna memperbaiki dan memperkuat pelaksanaan pembelajaran mendalam ke depan, sehingga implementasinya dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan di lingkungan sekolah. Selain sebagai sarana sosialisasi kebijakan, kegiatan pengabdian ini juga memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kompetensi professional guru. Melalui pelatihan dan pendampingan yang diberikan, guru memperoleh penguatan dalam merancang, melaksanakan, serta merefleksikan proses pembelajaran sesuai dengan tuntutan kebijakan pemerintah. Pendampingan ini diharapkan mampu mendorong guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Melalui kegiatan ini, guru diharapkan tidak hanya memahami konsep pembelajaran mendalam secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara konsisten dalam proses pembelajaran di kelas. Pada akhirnya, pembelajaran mendalam diharapkan dapat menghantarkan peserta didik pada pengalaman belajar yang lebih baik, bermakna, serta mendukung perkembangan potensi akademik dan karakter siswa secara optimal. Di tempat sama, perwakilan SD Muhammadiyah 9 Kota Malang menyampaikan kegiatan pendampingan semacam ini sangat dibutuhkan oleh sekolah. Sekolah berharap adanya pendampingan dan pemberian informasi terbaru terkait pembelajaran mendalam yang dikeluarkan oleh pemerintah dapat terus diberikan kepada guru. Hal ini disebabkan sekolah merupakan pihak yang berada di garda terdepan dalam mengimplementasikan kebijakan pembelajaran mendalam, sehingga pemahaman guru yang tepat dan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan kebijakan tersebut. (tim pkm dosen umm/don)

Bahasa Arab Masuk Era Digital, PBA UMM Gelar Festival Skala Nasional

Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak pengembangan bahasa Arab di Indonesia melalui Al Arabiyah Festival Expo (ALEPO) 2026. Ajang kejuaraan nasional yang digelar pada 30–31 Januari 2026 ini menghadirkan lima cabang lomba bahasa Arab yang kompetitif, yakni Kitabah, Ghina Arabi, Qiraatul Kutub, dan Olimpiade Bahasa Arab untuk siswa SMA/MA sederajat, serta debat bahasa Arab untuk kategori mahasiswa, sekaligus menegaskan inovasi pembelajaran bahasa Arab berbasis digital. Ketua Pelaksana ALEPO 2026, Rizki Saputra, menjelaskan bahwa nama “ALEPO” memiliki filosofi tersendiri. Nama tersebut diambil dari salah satu kota di Suriah yang dikenal sebagai pionir pengembangan peradaban dan teknologi dunia. Filosofi ini kemudian diterjemahkan ke dalam konsep kegiatan yang menggabungkan kekuatan tradisi bahasa Arab dengan pendekatan pembelajaran modern. “Kami ingin membawa branding bahasa Arab yang tidak kaku, tetapi progresif dan dekat dengan dunia digital. Filosofi ALEPO itu kami bawa ke konsep kegiatan, mulai dari jenis lomba, sistem penilaian, hingga pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaannya,” jelas Rizki. Ia menambahkan, ALEPO 2026 dirancang bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan eksplorasi bagi generasi muda untuk melihat bahasa Arab dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, bahasa Arab tidak lagi cukup dipahami sebatas bahasa kitab atau kelas formal, melainkan juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan komunikasi global. “Melalui ALEPO, kami ingin menumbuhkan kepercayaan diri peserta bahwa bahasa Arab itu relevan, hidup, dan bisa menjadi bekal masa depan. Apalagi di era digital, peluang pengembangan bahasa Arab justru semakin terbuka,” ujarnya. Rizki juga menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa sebagai penggerak utama kegiatan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa PBA UMM mampu merespons tantangan zaman secara kreatif. Ia berharap ALEPO dapat terus berkembang dan menjadi agenda nasional yang konsisten dalam mendorong inovasi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. “Kami berharap ALEPO tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi tumbuh menjadi ekosistem yang menghubungkan pelajar, mahasiswa, dan praktisi bahasa Arab di seluruh Indonesia,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua Program Studi PBA UMM, Mochammad Firdaus, M.Ed., memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi mahasiswa dalam menyelenggarakan agenda berskala nasional tersebut. Menurutnya, ALEPO tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang aktualisasi dan apresiasi bagi pelajar tingkat menengah untuk menumbuhkan minat terhadap bahasa Arab. “Kegiatan ini sangat positif dan strategis. ALEPO mampu menghadirkan wajah pembelajaran bahasa Arab yang kreatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Firdaus. Ia menambahkan, pengangkatan tema digitalisasi pada ALEPO 2026 dinilai tepat sebagai respons atas pergeseran ekosistem pembelajaran bahasa Arab ke ranah digital. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memiliki visi jangka panjang. “Mahasiswa mampu membaca tantangan zaman. Digitalisasi ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bahasa Arab juga bisa mengikuti perkembangan teknologi,” imbuhnya. Melalui ALEPO 2026, Program Studi PBA UMM semakin mengukuhkan diri sebagai program studi yang progresif dan peduli terhadap pengembangan potensi generasi muda. Kegiatan ini diharapkan terus menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan bahasa Arab di Indonesia.(nab/faq)   Penulis: Nabila Makarim Nur Zaky | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman