Kisah Melani, Kuliah dan Jalankan Bisnis Apotek 24 Jam, Punya Staf Anak Gen Z Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2026/01/31/191236171/kisah-melani-kuliah-dan-jalankan-bisnis-apotek-24-jam-punya-staf-anak-gen-z. Membership: https://kmp.im/plus6 Download aplikasi: https://kmp.im/app6

KOMPAS.com – Kuliah full seharian saja sudah melelahkan, apalagi sambil bekerja. Sama seperti Melani Rahmabutri, di tengah jadwal kuliah yang padat dan tuntutan akademik sebagai mahasiswa semester tujuh, ia membuka apotek. Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini nekat merintis bisnis apotek 24 jam, sembari tetap menjalani perannya sebagai mahasiswa aktif. Di saat sebagian besar mahasiswa Gen Z masih berfokus menyelesaikan studi, Melani harus membagi waktu antara perkuliahan, praktikum, dan tanggung jawab mengelola usaha. Namun baginya, dunia akademik dan bisnis justru bisa berjalan beriringan. Apotek yang mulai beroperasi sejak September 2025 itu hadir dengan konsep pelayanan komprehensif dan humanis. Tak hanya melayani penjualan obat, apotek ini juga aktif melakukan edukasi kesehatan, penyuluhan ke desa-desa, hingga menyediakan layanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat. Mulai dari pemeriksaan gula darah, asam urat, kolesterol, hingga tekanan darah, semuanya dapat diakses tanpa dipungut biaya. Mahasiswa asal Kalimantan Selatan itu mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada dunia farmasi telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Ia merupakan lulusan SMK Farmasi yang kemudian melanjutkan pendidikan S1 Farmasi di UMM. Latar belakang tersebut menjadi bekal kuat sekaligus alasan di balik keberaniannya membuka apotek di usia muda. “Sejak awal memang ingin punya apotek. Dari SMK sampai kuliah saya berada di jalur farmasi, jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” ujarnya. Dalam pengelolaan usaha, Melani berperan sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA), sementara tanggung jawab kefarmasian dijalankan oleh dua apoteker resmi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh layanan berjalan sesuai regulasi dan standar profesi. “Kami selalu mengedepankan konsultasi sebelum pemberian obat. Pasien ditanya dulu kondisinya, riwayat obatnya, lalu kami jelaskan cara penggunaan dan penyimpanan agar tidak terjadi medication error,” jelasnya. Kesibukan mengelola apotek tak membuat Melani berhenti berkontribusi langsung ke masyarakat. Bersama timnya, ia rutin terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Mulai dari acara RT, desa, hingga kegiatan warga, sambil membuka layanan cek kesehatan gratis sebagai bentuk pengabdian. “Kami sering ikut kegiatan warga. Di sana kami adakan cek gula darah, asam urat, kolesterol, dan tekanan darah gratis. Ini bagian dari edukasi supaya masyarakat lebih peduli pada kesehatan,” tuturnya. Mengikuti karakter Gen Z yang akrab dengan teknologi, apotek ini juga memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai sarana edukasi sekaligus promosi. Layanan pemesanan obat daring pun terhubung langsung ke WhatsApp, lengkap dengan fasilitas antar obat gratis untuk pelanggan dalam radius dua kilometer. Dalam pengelolaan sumber daya manusia, Melani juga memberdayakan generasi muda dengan merekrut pegawai dari kalangan Gen Z. Selain memiliki latar belakang farmasi, para pegawai dilibatkan aktif dalam pembuatan konten edukasi sebagai bagian dari strategi branding. Melalui pengalamannya, Melani berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, meski di tengah kesibukan kuliah. “Jangan takut memulai. Ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah seharusnya bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.
Overwork: Budaya Bangga Gila Kerja yang Mematikan

Ilustrasi overwork alias gila kerja. Foto: Unsplash Tugumalang.id – Perkembangan zaman modern hari ini memunculkan fenomena overwork atau gila kerja. Padahal, overwork tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele karena menyangkut isu keadilan sosial tentang kualitas hidup manusia. Sebagaimana diketahui, fenomena kerja berlebihan atau overwork kian mengakar dalam keseharian masyarakat Indonesia. Jam kerja yang panjang kerap disalahartikan sebagai simbol loyalitas, dedikasi, dan etos kerja tinggi yang patut dibanggakan. Di balik glorifikasi budaya “gila kerja” tersebut, tersembunyi persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan yang perlahan menggerus kualitas hidup manusia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 25,5 persen atau sekitar 37,3 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka ini menegaskan bahwa overwork bukan lagi fenomena sporadis, melainkan persoalan sistemik. Overwork perlu dipahami secara lebih komprehensif melalui perspektif kesejahteraan sosial. Menurutnya, kesejahteraan tidak semata harus diukur dari besaran pendapatan, tapi dari sejauh mana individu mampu menjalankan fungsi sosialnya secara utuh dan seimbang. Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW menuturkan bahwa overwork tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele. ”Ini adalah isu keadilan sosial yang menyentuh langsung kualitas hidup manusia. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang benar-benar kuat dan berdaya, maka kesejahteraan individu dan keluarga harus ditempatkan sebagai prioritas utama,” ujar Eko. Eko menjelaskan bahwa bekerja melampaui batas sering kali bukanlah pilihan bebas pekerja. Dalam sistem kerja yang minim perlindungan dan jaminan sosial, banyak individu terpaksa mengorbankan waktu istirahat demi memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ini mencerminkan kegagalan sistem sosial dalam melindungi hak dasar pekerja. Ketimpangan relasi kuasa antara pemberi kerja dan pekerja pun semakin terlihat ketika lembur diposisikan sebagai kewajiban yang dianggap normal. ‘Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakan utamanya adalah well-being. Ini mencakup keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, psikologis, hingga kesehatan individu,” ungkapnya. Ia juga menekankan bahwa dampak overwork tidak berhenti di ruang kerja. Ancaman yang lebih serius justru muncul di ranah domestik. Jam kerja yang berlebihan berpotensi memicu kelelahan fisik dan mental, sekaligus melemahkan peran sosial individu dalam keluarga. Dosen Kesos itu juga menyoroti kelompok pekerja yang berada dalam posisi paling rentan, seperti pekerja sektor informal, buruh outsourcing, pekerja migran, hingga pekerja perempuan yang menghadapi beban ganda. Tanpa perlindungan dan kompensasi yang memadai, jam kerja panjang berisiko menjelma menjadi bentuk eksploitasi modern yang tersembunyi di balik tekanan ekonomi. “Negara yang kuat dibangun dari individu dan keluarga yang sehat secara psikososial. Jika beban kerja justru merusak relasi keluarga, seperti renggangnya hubungan orang tua dan anak, maka ini menjadi persoalan serius bagi masa depan bangsa,” tegasnya. Sebagai langkah konkret, Eko mendorong penguatan advokasi serta perumusan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. Menurutnya, pemerintah tidak semestinya hanya berfokus pada indikator pertumbuhan ekonomi dan produktivitas semata dalam menyusun regulasi, tetapi juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial pekerja. “Kebijakan ketenagakerjaan harusnya mampu menjamin batas kerja yang wajar, perlindungan sosial yang memadai, serta keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan keluarga agar pembangunan ekonomi tidak dibayar dengan hilangnya kualitas hidup manusia,” tegasnya.
Taman Rekreasi Sengkaling Sosialisasikan Edukasi Wisata
Taman Rekreasi Sengkaling Sosialisasikan Edukasi Wisata JTV Malang – Sabtu, 31 Januari 2026 16:13 KABUPATEN MALANG – Taman rekreasi Sengkaling Universitas Muhammadiyah Malang menggelar sosialisasi dan kemitraan program edukasi berbasis wisata. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang pengenalan layanan katering Sengkaling kuliner atau sekul. (RAFLI)
Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Steam Press Ecoprint untuk Tingkatkan Kualitas Produksi UMKM

(Doc. Istimewa) Mahasiswa Teknik Industri UMM menunjukkan alat Steam Press Ecoprint hasil inovasi untuk mendukung produksi UMKM. HARIANCENDEKIA, MALANG – Inovasi teknologi tepat guna kembali lahir dari lingkungan kampus. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan alat produksi Steam Press Ecoprint yang dinilai lebih efisien dan mampu meningkatkan kualitas warna serta detail motif ecoprint bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Alat tersebut dirancang oleh mahasiswa Teknik Industri UMM, Iqbal Rafif Yuliono (angkatan 2023), bersama timnya melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Inovasi ini dikembangkan sebagai respons atas berbagai kendala yang masih dihadapi pelaku ecoprint, terutama terkait konsistensi hasil produksi. Iqbal menjelaskan, metode ecoprint yang selama ini digunakan UMKM umumnya masih bersifat manual atau mengandalkan sistem otomatis sederhana. Cara tersebut kerap menghasilkan warna yang kurang kuat dan motif yang tidak merata, khususnya saat produksi dalam jumlah banyak. “Dari pengamatan kami, metode ecoprint yang ada sering kali menghasilkan warna yang kurang kuat dan motif tidak merata. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan sistem manual dan otomatis dengan mesin press berbasis uap,” ujarnya. Berbeda dengan metode kukus konvensional, Steam Press Ecoprint memanfaatkan kombinasi panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Sistem ini memungkinkan proses transfer warna dan motif ke kain berlangsung lebih optimal dan merata. Hasil uji coba menunjukkan, penggunaan uap bertekanan mampu menghasilkan warna yang lebih tajam serta detail motif yang lebih jelas. Selain itu, konsistensi hasil produksi dinilai lebih terjaga sehingga sesuai untuk kebutuhan UMKM. “Ketika dibandingkan dengan metode kukus biasa, warna ecoprint yang dihasilkan mesin ini jauh lebih keluar dan detail motifnya lebih jelas,” tambahnya. Steam Press Ecoprint telah diuji coba secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint di Bululawang, Kabupaten Malang. Dari pengujian tersebut, alat ini dinilai mampu meningkatkan kualitas visual kain sekaligus menjaga keseragaman hasil produksi. Meski mengusung konsep efisiensi, alat ini tidak semata-mata mengejar kecepatan produksi. Steam Press Ecoprint dirancang agar proses dapat disesuaikan dengan tingkat kerumitan motif, sehingga pelaku usaha tetap dapat menghasilkan produk bernilai jual tinggi. Selain itu, desain alat dibuat ramah bagi UMKM skala kecil dan fleksibel untuk berbagai jenis kain. Bahkan, pada beberapa material tertentu, kombinasi uap dan tekanan terbukti menghasilkan motif yang lebih maksimal. Iqbal mengakui, peran dosen pembimbing sangat penting dalam proses pengembangan inovasi tersebut, terutama dalam menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap kebutuhan masyarakat. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas lebih besar, struktur yang lebih kokoh, serta sistem pengoperasian yang semakin praktis. “Yang terpenting jangan takut mencoba. Dari proses itulah kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” katanya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi inovasi yang dihasilkan mahasiswa tersebut. Menurutnya, karya ini menjadi bukti keberhasilan pembelajaran berbasis praktik yang mendorong mahasiswa berpikir kritis dan solutif. “Kami ingin mahasiswa peka terhadap persoalan di sekitarnya dan berani menghadirkan solusi yang relevan melalui inovasi,” pungkasnya. [rin/roz]
Pelatihan Psikologi Keluarga Penggerak Posyandu Disabilitas Kerjasama UMM dan LINKSOS
MCC.MALANGKOTA – Pelatihan Psikologi Keluarga Penggerak Posyandu Disabilitas merupakan kegiatan peningkatan kapasitas yang diselenggarakan melalui kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan LINKSOS (Lingkar Sosial Indonesia). Pelatihan ini bertujuan memperkuat pemahaman dan keterampilan keluarga serta kader penggerak Posyandu Disabilitas dalam aspek psikologi keluarga, khususnya dalam mendukung tumbuh kembang, kesehatan mental, dan kesejahteraan penyandang disabilitas. Melalui pendekatan psikologi keluarga yang aplikatif dan kontekstual, peserta akan dibekali pengetahuan tentang dinamika keluarga, pola komunikasi yang sehat, pengasuhan inklusif, serta strategi menghadapi tantangan psikososial yang sering dialami keluarga penyandang disabilitas. Materi disampaikan oleh akademisi dan praktisi berpengalaman dari UMM dan LINKSOS dengan metode interaktif, diskusi kasus, dan praktik sederhana yang mudah diterapkan di lingkungan keluarga dan komunitas. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan keluarga dan kader Posyandu Disabilitas yang tangguh, empatik, dan berdaya, sehingga Posyandu Disabilitas tidak hanya menjadi ruang layanan kesehatan dasar, tetapi juga pusat dukungan psikososial dan penguatan keluarga yang inklusif dan berkelanjutan.
Kasus Percobaan Bunuh Diri Mahasiswa Berulang, BK UMM Ungkap Akar Masalah Bukan Sekadar Akademik

Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog. (Sumber: UMM) RIAUCERDAS.COM, MALANG – Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa yang terjadi berulang, bahkan di lokasi yang sama, memunculkan alarm serius tentang kesehatan mental generasi muda. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi mahasiswa tidak bisa lagi dipandang sebagai masalah individu, melainkan krisis psikologis yang memerlukan perhatian bersama, terutama bagi mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, menyebut mahasiswa rantau memiliki kerentanan tinggi karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa dukungan langsung dari keluarga. Ketika kemampuan adaptasi dan dukungan sosial rendah, risiko masalah psikologis meningkat. “Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” ujar Naning dilansir dari portal IMM. Ia mengungkapkan, berdasarkan pengalaman di ruang konseling, tekanan akademik seperti tugas kuliah atau skripsi sering kali bukan penyebab utama. Banyak kasus justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga, sementara masalah akademik hanya menjadi pemicu dari beban emosional yang telah lama menumpuk. Naning menegaskan bahwa bekal terpenting mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi ketahanan mental (resiliensi) untuk menghadapi ketidaknyamanan hidup. Tanpa resiliensi, mahasiswa cenderung berpikir sempit saat berada dalam situasi tertekan. “Tekanan akademik itu wajar dan bagian dari proses pendidikan. Dalam taraf tertentu justru penting agar mahasiswa lebih fokus. Yang menjadi dasar adalah sejauh mana seseorang memiliki ketahanan mental dan pemahaman tentang makna berjuang,” jelasnya. Terkait pemilihan lokasi yang sama dalam beberapa kasus percobaan bunuh diri, Naning menilai hal itu berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sudah terdesak. Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu dalam pikiran mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan. BK UMM mengedepankan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan, di mana mahasiswa tidak hanya diajak memahami masalahnya, tetapi juga mengenali kekuatan diri dan sumber persoalan yang dihadapi. “Kami ingin mahasiswa sadar bahwa mereka memiliki kapasitas untuk keluar dari masalah. Konselor berfungsi sebagai penguat, bukan satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Ia juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas sederhana yang disukai untuk menyalurkan emosi negatif sebelum menumpuk. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya dinilai menjadi garda terdepan pencegahan. Sikap mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta tidak menyepelekan masalah teman disebut sebagai langkah kecil yang berdampak besar. (*)
Mandiri di Semester 7, Mahasiswa UMM Ini Berani Wujudkan Apotek Impiannya

Melani Rahma Putri (umm.ac.id) INDOZONE.ID – Melani Rahma Putri, mahasiswi Program Studi Farmasi angkatan 2022 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengelola bisnis apotek 24 jam sembari tetap aktif menjalankan kewajibannya di semester tujuh. Ia berani membuat keputusan besar tersebut meskipun harus menghadapi tantangan berat dalam membagi waktu antara jadwal praktikum yang padat dan tanggung jawab manajemen usaha. Berawal dari Cita-Cita Sejak Sekolah Mahasiswi asal Kalimantan Selatan ini merupakan lulusan SMK Farmasi yang memilih untuk memperdalam ilmunya di jenjang S1 Farmasi UMM. Ketertarikannya pada dunia kesehatan sudah tertanam sejak lama, sehingga membuka apotek menjadi perwujudan dari rencana yang telah ia susun sejak masa sekolah. “Sejak awal memang ingin punya apotek. Dari SMK sampai kuliah, saya berada di jalur farmasi, jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” ungkap Melani. Apotek yang mulai beroperasi pada September 2025 itu, mengusung konsep pelayanan humanis. Melani tidak hanya fokus pada penjualan obat-obatan, tetapi juga menyediakan berbagai layanan kesehatan gratis bagi warga. Masyarakat dapat melakukan pengecekan gula darah, kolesterol, asam urat, hingga tekanan darah tanpa dipungut biaya apa pun. Selain itu, ia juga rutin mengadakan penyuluhan kesehatan hingga ke pelosok desa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat. Manajemen Profesional dan Strategi Digital Dalam menjalankan usahanya, Melani tetap mengedepankan profesionalisme dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Ia menempati posisi sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA), sementara urusan teknis kefarmasian diserahkan kepada dua apoteker resmi. “Kami selalu mengedepankan konsultasi sebelum pemberian obat. Pasien ditanya dulu kondisinya, riwayat obatnya, lalu kami jelaskan cara penggunaan dan penyimpanan agar tidak terjadi medication error,” jelasnya. Melani melakukan konsultasi sebelum pemberian obat (umm.ac.id) Melani juga membawa semangat generasi muda ke dalam bisnisnya dengan memanfaatkan teknologi digital. Inovasi yang diterapkannya, meliputi edukasi sosial, yang memanfaatkan platform TikTok dan Instagram untuk berbagi informasi kesehatan sekaligus sebagai media promosi. Ada pun layanan pemesanan melalui WhatsApp yang memudahkan pelanggan, serta fasilitas pengiriman obat tanpa ongkir untuk pelanggan yang berada dalam radius dua kilometer dari apotek. Selain itu, Melani juga melakukan pemberdayaan Gen Z melalui perekrutan karyawan dari kalangan generasi muda dan melibatkan mereka dalam pembuatan konten kreatif. Dedikasi untuk Masyarakat Meski sibuk mengelola aspek bisnis dan teknologi, Melani tetap menjaga komitmennya untuk terjun langsung ke lapangan. Ia bersama timnya sering kali hadir dalam berbagai kegiatan warga, mulai dari acara tingkat RT hingga desa, untuk memberikan layanan cek kesehatan secara gratis. Melalui pencapaiannya, Melani berharap dapat menginspirasi rekan-rekan mahasiswa lain agar tidak takut dalam memulai langkah baru meski masih berada di bangku kuliah. Baca juga:10 Ide Jualan untuk Mata Kuliah Kewirausahaan Ia meyakini bahwa ilmu akademik yang dipelajari di kelas, menjadi jauh lebih bernilai jika dapat memberikan dampak positif dan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat luas.
Kiprah Alumni UMM, Ruri KTerlibat Strategi Kebijakan di Kemendikdasmen

Miftahussururi, S.Pd., Bukti Kiprah Alumni UMM, Ruri Kini Terlibat Strategi Kebijakan di Kemendikdasmen* JATIM SATU NEWS – SAPA TOKOH: Aktivisme kampus kerap dianggap berhenti di ruang diskusi dan forum mahasiswa. Namun bagi Miftahussururi, S.Pd., semangat berorganisasi justru menjadi fondasi untuk ikut menggerakkan arah kebijakan pendidikan nasional. Alumnus Pendidikan Matematika dan Komputasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kini berperan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membawa nilai-nilai kepemimpinan yang ia bangun sejak bangku kuliah. “Saat ini saya bertugas sebagai leader Tim Kebjiakan dan Komunikasi Analis Data sekaligus membantu penyusunan dan pelaksanaan strategi komunikasi kebijakan dan program di satuan kerja saya,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Ruri sapaan akrabnya mengawali kariernya di Kementerian Pendidikan pada 2017 setelah lolos seleksi yang cukup panjang. Dalam perjalanannya, ia juga pernah bertugas di Tim Staf Khusus Menteri Bidang Pembelajaran, Ditjen GTK, serta Ditjen PAUDDasmen selama lima tahun. Hingga akhirnya, pada 2025, ia dipercaya bergabung di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Vokasi PKPLK). Lebih lanjut, pria itu mengisahkan dirinya yang merupakan mahasiswa produktif dan penuh inisiatif. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika “Matriks” (2011-2012), Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) “Raushan Fikr” FKIP (2012-2013), hingga Sekretaris Umum Koordinator Komisariat IMM UMM (2013-2014). Tidak hanya itu, ia juga dipercaya menjadi Presidium Sidang dalam Kongres Ikahimatika Indonesia. Deretan pengalaman tersebut menunjukkan konsistensinya dalam membangun kepemimpinan dan jejaring sejak bangku kuliah. Sementara itu, dalam perjalanannya sebagai mahasiswa, Ruri juga pernah mengalami struggle soal manajemen waktu. Ia sempat kesulitan membagi waktu antara tugasnya sebagai mahasiswa dan keaktifannya di organisasi. Namun Ruri tetap meyakini bahwa kesibukan dan tekanan positif justru akan membentuk karakter dan kedewasaan dalam berpikir. Ia juga menambahkan bahwa ia selalu mengingat sebuah nasehat yang pernah ia terima, “Kesibukan yang membuatmu letih lebih baik daripada waktu luang yang membuatmu terlena.” Itu lah yang membuatnya terus menjaga semangat dalam berproses. Ruri juga menambahkan bahwa perjuangan kedua orang tua nya juga menjadi sumber motivasi utamanya untuk terus berprestasi dan memberi dampak positif. “Yang membuatku punya energi dan terus berjuang adalah potret perjuangan orang tuaku yang telah mengantarkanku hingga bisa merasakan bangku kuliah. Karena itulah aku tidak ingin mengecewakannya,” ujarnya. Bagi Ruri, kebahagiaan terbesar dalam bekerja adalah ketika kontribusinya mampu memberi dampak nyata. Ia mengaku terharu saat melihat perubahan pola pikir guru-guru di berbagai daerah setelah kebijakan yang ikut disusunnya diterapkan. Menurutnya, perubahan kecil dalam dunia pendidikan dapat membawa dampak besar bagi masa depan bangsa. Ruri juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut dan merasa bingung dalam menentukan arah hidup. Ia menekankan pentingnya self-awareness, mengenali minat, bakat, serta potensi diri. “kesadaran diri (self-awareness) itu begitu penting bagi generasi muda saat ini. Perlunya mengenal diri sendiri, ‘Who am I?’, apa yang menjadi minat, bakat, kelebihan, dan kekurangan diri untuk memastikan pilihan setelah lulus sesuai dengan keinginan, kepribadian dan keahlian,” tutupnya. (ANS)
KKN Tematik UMM 2026, Sinau Budaya Setiap Hari

RRI.CO.ID, Malang – Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, menghadirkan wajah KKN yang berbeda dari umumnya. Selama hampir sepekan, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja sesuai divisi, tetapi secara konsisten mengikuti sinau budaya setiap hari bersama para budayawan Malang. Sinau budaya di KBP menghadirkan materi seputar tradisi adat istiadat, ritus kehidupan, seni, dan kebudayaan Malang, yang dipandu langsung oleh Ki Demang (Isa Wahyudi) selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen bersama Mbah Karjo, sesepuh budaya setempat. Pola pembelajaran berlangsung dialogis dan berbasis praktik budaya hidup, menjadikan kampung sebagai ruang belajar aktif, bukan sekadar lokasi pengabdian. Pada Sabtu, 31 Januari 2026, sinau budaya mengangkat tema “Model Transformasi Budaya untuk Generasi Gen-Z” yang disampaikan oleh Ary Sulistyowati, Guru Sejarah dan Sosiologi SMA Sugiyopranata Kota Pasuruan sekaligus anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. Ia menyoroti kegamangan generasi muda dalam melestarikan budaya yang lebih disebabkan oleh keterbatasan ruang pengenalan dan pengalaman, bukan karena tidak peduli. “Minimnya peran keluarga, terbatasnya pembelajaran budaya di sekolah, serta lingkungan yang kurang mendukung menjadi faktor utama keterputusan generasi muda dengan tradisinya,” jelasnya. Keseruan sinau budaya juga terasa sebelum sesi utama, saat mahasiswa KKN berlatih menari selama hampir dua jam di panggung KBP bersama ibu-ibu kampung, mempelajari tari tradisi Gambyong “Mari Kangen”. Suasana latihan berlangsung hangat, meriah, dan penuh tawa, terutama bagi peserta yang baru pertama kali menari, memperlihatkan bahwa budaya dapat dipelajari dengan cara yang menyenangkan dan inklusif. Gizela Putri Ningtyas, guru tari KBP, mengungkapkan antusiasme mahasiswa yang aktif bertanya tentang proses latihan, dinamika pengelolaan sanggar, hingga tantangan melestarikan tari tradisional. “Meski penari KBP menguasai berbagai tari topeng dan kerap tampil di banyak acara, pelestarian tari tradisi tetap menghadapi tantangan karena minimnya minat generasi muda dan kalah pamor dibanding tari kreasi yang lebih dinamis dan glamor,” jelasnya. Diskusi kritis juga muncul dari Shela Putri Retensya, mahasiswi Ilmu Komunikasi, yang mempertanyakan strategi promosi KBP agar lebih mengena ke Gen-Z. Menurutnya, konten KBP selama ini terkesan stagnan, padahal aktivitas budayanya sangat kaya. Pertanyaan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya hari ini tidak hanya bertumpu pada panggung dan ritus, tetapi juga pada kemampuan bercerita dan bertransformasi di ruang digital. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan pada malam hari dengan sinau tembang macapat yang diasuh oleh Ki Surjono dan Ki Suto, pegiat Kampung Budaya Polowijen, menegaskan bahwa pewarisan budaya di KBP dilakukan secara utuh, dari gerak, tutur, hingga tembang. (Mey)
Sinau Budaya Setiap Hari, Model Lain dari KKN Tematik UMM 2026 di Kampung Budaya Polowijen

KLIKTIMES.COM | MALANG-Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, menghadirkan wajah KKN yang berbeda dari umumnya. Selama hampir sepekan, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja sesuai divisi, tetapi secara konsisten mengikuti sinau budaya setiap hari bersama para budayawan Malang. Sinau budaya di KBP menghadirkan materi seputar tradisi adat istiadat, ritus kehidupan, seni, dan kebudayaan Malang, yang dipandu langsung oleh Ki Demang (Isa Wahyudi) selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen bersama Mbah Karjo, sesepuh budaya setempat. Pola pembelajaran berlangsung dialogis dan berbasis praktik budaya hidup, menjadikan kampung sebagai ruang belajar aktif, bukan sekadar lokasi pengabdian. Pada Sabtu, 31 Januari 2026, sinau budaya mengangkat tema “Model Transformasi Budaya untuk Generasi Gen-Z” yang disampaikan oleh Ary Sulistyowati, Guru Sejarah dan Sosiologi SMA Sugiyopranata Kota Pasuruan sekaligus anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. (HO/KLIKTIMES.COM) Pada Sabtu, 31 Januari 2026, sinau budaya mengangkat tema “Model Transformasi Budaya untuk Generasi Gen-Z” yang disampaikan oleh Ary Sulistyowati, Guru Sejarah dan Sosiologi SMA Sugiyopranata Kota Pasuruan sekaligus anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. Ia menyoroti kegamangan generasi muda dalam melestarikan budaya yang lebih disebabkan oleh keterbatasan ruang pengenalan dan pengalaman, bukan karena tidak peduli. Minimnya peran keluarga, terbatasnya pembelajaran budaya di sekolah, serta lingkungan yang kurang mendukung menjadi faktor utama keterputusan generasi muda dengan tradisinya. Keseruan sinau budaya juga terasa sebelum sesi utama, saat mahasiswa KKN berlatih menari selama hampir dua jam di panggung KBP bersama ibu-ibu kampung, mempelajari tari tradisi Gambyong “Mari Kangen”. Suasana latihan berlangsung hangat, meriah, dan penuh tawa, terutama bagi peserta yang baru pertama kali menari, memperlihatkan bahwa budaya dapat dipelajari dengan cara yang menyenangkan dan inklusif. Keseruan sinau budaya juga terasa sebelum sesi utama, saat mahasiswa KKN berlatih menari selama hampir dua jam di panggung KBP bersama ibu-ibu kampung, mempelajari tari tradisi Gambyong “Mari Kangen”. Suasana latihan berlangsung hangat, meriah, dan penuh tawa, terutama bagi peserta yang baru pertama (HO/KLIKTIMES.COM) Ad Gizela Putri Ningtyas, guru tari KBP, mengungkapkan antusiasme mahasiswa yang aktif bertanya tentang proses latihan, dinamika pengelolaan sanggar, hingga tantangan melestarikan tari tradisional. Meski penari KBP menguasai berbagai tari topeng dan kerap tampil di banyak acara, pelestarian tari tradisi tetap menghadapi tantangan karena minimnya minat generasi muda dan kalah pamor dibanding tari kreasi yang lebih dinamis dan glamor. Diskusi kritis juga muncul dari Shela Putri Retensya, mahasiswi Ilmu Komunikasi, yang mempertanyakan strategi promosi KBP agar lebih mengena ke Gen-Z. Menurutnya, konten KBP selama ini terkesan stagnan, padahal aktivitas budayanya sangat kaya. Pertanyaan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya hari ini tidak hanya bertumpu pada panggung dan ritus, tetapi juga pada kemampuan bercerita dan bertransformasi di ruang digital. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan pada malam hari dengan sinau tembang macapat yang diasuh oleh Ki Surjono dan Ki Suto, pegiat Kampung Budaya Polowijen, menegaskan bahwa pewarisan budaya di KBP dilakukan secara utuh, dari gerak, tutur, hingga tembang.