Mahasiswa UMM Kembangkan Steam Press Ecoprint, Solusi Teknologi Tepat Guna untuk UMKM

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Inovasi teknologi tepat guna kembali lahir dari lingkungan kampus. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Steam Press Ecoprint, sebuah alat produksi yang dirancang untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) meningkatkan kualitas sekaligus konsistensi produk ecoprint. Alat ini dikembangkan oleh mahasiswa Teknik Industri UMM, Iqbal Rafif Yuliono (angkatan 2023), bersama timnya melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Inovasi tersebut berangkat dari pengamatan langsung terhadap berbagai kendala yang dihadapi UMKM ecoprint, khususnya pada proses produksi yang masih didominasi metode manual. Iqbal menjelaskan, metode ecoprint konvensional maupun semiotomatis sering kali menghasilkan warna yang kurang tajam dan motif yang tidak merata, terutama ketika digunakan untuk produksi dalam jumlah besar. “Banyak pelaku UMKM masih mengandalkan metode kukus biasa. Hasilnya sering tidak konsisten, baik dari segi warna maupun detail motif,” ujar Iqbal, dikutip dari laman resmi UMM, Sabtu (31/1/2026). Menggabungkan Uap, Panas, dan Tekanan Berbeda dengan teknik kukus konvensional, Steam Press Ecoprint mengombinasikan panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Sistem ini dirancang untuk memaksimalkan proses transfer warna dan motif dari bahan alami ke kain. Hasil uji coba menunjukkan, penggunaan uap bertekanan mampu menghasilkan warna yang lebih tajam serta detail motif yang lebih jelas. Konsistensi hasil pun dinilai lebih terjaga, sehingga cocok untuk kebutuhan produksi UMKM. “Ketika dibandingkan dengan metode kukus biasa, warna yang dihasilkan jauh lebih keluar dan motifnya lebih detail,” kata Iqbal. Baca Juga: SMARISH FEST 2025: Inovasi Mahasiswa UNNES Hadirkan Belajar Seru di Malaysia Diuji Langsung di UMKM Steam Press Ecoprint telah diuji secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint di Bululawang, Kabupaten Malang. Dari hasil pengujian tersebut, alat ini dinilai mampu meningkatkan kualitas visual kain sekaligus menjaga keseragaman hasil produksi. Meski dirancang lebih efisien, alat ini tidak hanya mengejar kecepatan produksi. Proses kerja Steam Press Ecoprint dapat disesuaikan dengan tingkat kerumitan motif, sehingga pelaku usaha tetap memiliki keleluasaan untuk menghasilkan produk bernilai seni dan jual tinggi. Selain itu, desain alat dibuat ramah bagi UMKM skala kecil, fleksibel untuk berbagai jenis kain, dan menunjukkan hasil optimal pada sejumlah material tertentu berkat kombinasi uap dan tekanan. Dorong Inovasi Berbasis Kebutuhan Masyarakat Iqbal mengakui peran dosen pembimbing sangat penting dalam proses pengembangan alat ini, terutama dalam membangun kepekaan mahasiswa terhadap kebutuhan nyata di masyarakat. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas lebih besar, struktur lebih kokoh, serta sistem pengoperasian yang semakin praktis. “Yang terpenting jangan takut mencoba. Dari situ kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi inovasi mahasiswa tersebut. Ia menilai Steam Press Ecoprint menjadi bukti keberhasilan pembelajaran berbasis praktik yang mendorong mahasiswa berpikir kritis dan solutif. Menurutnya, Prodi Teknik Industri UMM terus mendorong agar karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas akademik, melainkan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya sektor UMKM. “Kami ingin mahasiswa peka terhadap persoalan di sekitarnya dan berani menghadirkan solusi yang relevan melalui inovasi,” pungkasnya. Mari berpartisipasi di Teropong Media untuk Jurnalisme Berkualitas: https://teropongmedia.id/partisipasi
KKN Tematik UMM 2025 Buka Lahan Karang Kitri dan Bikin Atap Gazebo di Kampung Budaya Polowijen

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, menunjukkan pendekatan pengabdian yang menyeluruh. (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | MALANG– Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, menunjukkan pendekatan pengabdian yang menyeluruh. Mahasiswa KKN tidak hanya fokus pada kegiatan sinau budaya, pembuatan konten dan dokumentasi budaya, serta penyusunan katalog modul dan buku budaya Malang, tetapi juga aktif terlibat dalam kehidupan sosial dan lingkungan masyarakat. Pada Minggu, 1 Februari 2026, mahasiswa KKN Tematik UMM kelompok 14 turut membersamai warga RW 02 Kelurahan Polowijen dalam kegiatan senam sehat yang rutin diselenggarakan tiap minggu pagi. Kegiatan ini menjadi ruang interaksi sosial sekaligus upaya membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Selain itu, mahasiswa bersama warga melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan dan aliran sungai yang menjadi view utama pintu masuk Kampung Budaya Polowijen. Aksi ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperkuat citra KBP sebagai kawasan budaya yang asri dan ramah pengunjung. Pada Minggu, 1 Februari 2026, mahasiswa KKN Tematik UMM kelompok 14 turut membersamai warga RW 02 Kelurahan Polowijen dalam kegiatan senam sehat yang rutin diselenggarakan tiap minggu pagi. (HO/KLIKTIMES.COM) Mahasiswa KKN bersama warga di Kampung Budaya Polowijen (KBP) juga membuka lahan karang kitri sebagai bagian dari pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Kegiatan ini menjadi upaya nyata pemanfaatan lahan kosong agar lebih produktif, hijau, dan bermanfaat bagi ketahanan pangan warga. Pembukaan lahan karang kitri dilakukan secara gotong royong di lingkungan RW 02 Kelurahan Polowijen. Lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini mulai ditata untuk ditanami berbagai tanaman pangan dan tanaman obat keluarga, sekaligus menjadi media praktik Pekarangan Pangan Lestari berbasis kelompok. Mahasiswa KKN bersama warga di Kampung Budaya Polowijen (KBP) juga membuka lahan karang kitri sebagai bagian dari pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Kegiatan ini menjadi upaya nyata pemanfaatan lahan kosong agar lebih produktif, hijau, dan bermanfaat bagi ketahanan pangan warga. (HO/KLIKTIMES.COM) Safitri Ketua PKK RW 02 Kelurahan Polowijen menegaskan pentingnya keberlanjutan program tersebut. “Pemanfaatan Kawasan Rumah Pangan Lestari ini perlu terus dikembangkan sebagai praktik kelompok Pekarangan Pangan Lestari. Harapannya, setiap lahan kosong bisa dimanfaatkan dengan membuat karang kitri agar lingkungan lebih produktif dan mendukung kebutuhan pangan keluarga,” ujarnya. Selain penguatan sektor pangan lestari, mahasiswa KKN Tematik UMM juga menghadirkan inovasi lingkungan dengan memanfaatkan rumput alang-alang sebagai bahan welid atau atap tradisional. Alang-alang yang sebelumnya dianggap limbah diolah menjadi atap gazebo dan elemen estetika kawasan Kampung Budaya Polowijen. Rangkaian kegiatan KKN Tematik UMM di KBP tidak hanya berorientasi pada program fisik, tetapi juga pada pemaknaan nilai gotong royong, kepedulian lingkungan, dan pelestarian budaya. (HO/KLIKTIMES.COM) Abu Bakar, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM asal Probolinggo, menjelaskan bahwa pemanfaatan alang-alang dipilih untuk menguatkan nuansa budaya. “Kami memanfaatkan alang-alang sebagai atap gazebo supaya tampilannya lebih alami dan berkesan tempo dulu. Material ini juga ramah lingkungan dan selaras dengan karakter Kampung Budaya Polowijen,” katanya. Rangkaian kegiatan KKN Tematik UMM di KBP tidak hanya berorientasi pada program fisik, tetapi juga pada pemaknaan nilai gotong royong, kepedulian lingkungan, dan pelestarian budaya. Melalui pembukaan lahan karang kitri dan inovasi berbasis bahan alami, mahasiswa dan warga bersama-sama membangun ruang hidup yang lestari dan berakar pada kearifan lokal.
Belajar Ritus Kehidupan Jawa, KKN Tematik UMM Dalami Tradisi Selametan dan Mocopat di Kampung Budaya Polowijen

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kelompok 14 mengikuti pembelajaran pelestarian tradisi dan ritus budaya Jawa di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, pada Jumat, 30 Januari 2026. Kegiatan ini dipandu langsung oleh budayawan Malang Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | MALANG-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kelompok 14 mengikuti pembelajaran pelestarian tradisi dan ritus budaya Jawa di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, pada Jumat, 30 Januari 2026. Kegiatan ini dipandu langsung oleh budayawan Malang Ki Demang, yang memiliki nama asli Isa Wahyudi, penggagas Kampung Budaya Polowijen. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami secara mendalam praktik tradisi masyarakat Jawa, khususnya ritus selametan yang secara umum dilaksanakan dalam tiga fase utama kehidupan, yakni kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ketiga fase ini memiliki tata adat, ritual, serta simbol-simbol yang sarat makna filosofis sebagai wujud doa, harapan, dan pengharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Ki Demang menjelaskan bahwa dalam setiap selametan, masyarakat Jawa selalu menggunakan simbol-simbol makanan ritual yang tidak sekadar bersifat konsumtif, melainkan mengandung pesan moral dan spiritual. Salah satunya adalah bubur merah putih yang dikenal sebagai jenang sengkolo, jenang palang, dan jenang poncowarno. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami secara mendalam praktik tradisi masyarakat Jawa, khususnya ritus selametan yang secara umum dilaksanakan dalam tiga fase utama kehidupan, yakni kelahiran, pernikahan, dan kematian. (HO/KLIKTIMES.COM) “Bubur merah putih melambangkan keseimbangan hidup, keberanian dan kesucian. Jenang sengkolo dimaknai sebagai penolak bala, jenang palang sebagai pembatas dari hal-hal buruk, sementara jenang poncowarno melambangkan keberagaman unsur kehidupan manusia,” terang Ki Demang. Selain jenang, selametan juga dilengkapi dengan berbagai jenis tumpeng yang masing-masing memiliki makna khusus, di antaranya 7 jenis tumpeng berdasarkan kegunaannya antara lain Tumpeng Ropoh, Tumpeng Robyong, Tumpeng Kapuranto, Tumpeng Duplak, Tumpeng Kendhit, Tumpeng Alus, Tumpeng Among-among, Rangkaian ritual selametan tersebut juga dilengkapi dengan sajen cok bakal, kinangan jangkep, serta minuman tradisional berupa wedang kopi, teh, dan air gula, yang masing-masing merepresentasikan unsur alam, kesederhanaan, dan rasa syukur atas rezeki kehidupan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik UMM tidak hanya belajar tentang bentuk-bentuk ritual, tetapi juga memahami nilai-nilai kearifan lokal, etika sosial, serta filosofi hidup masyarakat Jawa. (HO/KLIKTIMES.COM) Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik UMM tidak hanya belajar tentang bentuk-bentuk ritual, tetapi juga memahami nilai-nilai kearifan lokal, etika sosial, serta filosofi hidup masyarakat Jawa. Pembelajaran langsung di ruang budaya hidup seperti Kampung Budaya Polowijen diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya pelestarian tradisi sebagai identitas dan penopang harmoni sosial. Pada malam harinya, mahasiswa KKN Tematik UMM kelompok 14 melanjutkan pembelajaran budaya melalui kegiatan sinau tembang macapat Jawa yang dipandu oleh Ki Surjono dan Ki Suto, pegiat budaya Kampung Budaya Polowijen. Ki Surjono menjelaskan bahwa isi tembang macapat menggambarkan fase-fase kehidupan manusia, sejak kelahiran, masa remaja, kedewasaan, hingga kematian. Ia juga menuturkan bahwa pada masa lalu, selametan masyarakat Jawa umumnya diiringi dengan mocopatan, namun kini tradisi tersebut semakin jarang dilaksanakan. Pada malam harinya, mahasiswa KKN Tematik UMM kelompok 14 melanjutkan pembelajaran budaya melalui kegiatan sinau tembang macapat Jawa yang dipandu oleh Ki Surjono dan Ki Suto, pegiat budaya Kampung Budaya Polowijen. (HO/KLIKTIMES.COM) “Macapat itu bukan sekadar tembang, tapi tuntunan hidup. Dulu selametan selalu diiringi mocopatan, sekarang jarang. Karena itu penting untuk terus diajarkan agar tetap lestari dan bisa digunakan dalam berbagai acara adat maupun kegiatan sosial,” ungkap Ki Surjono. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari bentuk ritual dan kesenian tradisional, tetapi juga memahami nilai filosofis, etika hidup, serta kearifan lokal masyarakat Jawa. Kampung Budaya Polowijen menjadi ruang belajar budaya yang hidup, sekaligus jembatan pewarisan tradisi kepada generasi muda agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Mahasiswa Tingkat Akhir Hadapi Tekanan Mental yang Signifikan

MALANG POST – Kampus harus berperan aktif dalam mencegah bunuh diri, yang dilakukan mahasiswa, yang akhir-akhir ini banyak terjadi di Kota Malang. Kata Wakil Rektor Universitas Islam Malang, Dr. Erna Sulistyowati, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, mengatakan, peran kampus sangat penting untuk mencegah kasus bunuh diri mahasiswa. “Kesehatan mental merupakan pandemi selanjutnya pasca Covid-19 dan harus menjadi perhatian serius untuk perguruan tinggi,” katanya di acara yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Sabtu (31/1/2026) kemarin. Erna menyampaikan, pihaknya menyiapkan dosen wali untuk mahasiswa guna memantau akademik dan kesehatan mental. Selain itu, sebutnya, juga ada layanan konseling yang bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk bercerita. Sebagai langkah pencegahan, Erna merekomendasikan agar perguruan tinggi menyediakan layanan konseling yang mudah diakses, melakukan pemeriksaan psikologi sederhana untuk mendeteksi potensi gangguan jiwa dan memberikan edukasi kesehatan mental secara rutin. Presiden BEM Universitas Muhammadiyah Malang, Wahyuddin Fahrurrijal mengakui, mahasiswa tingkat akhir menghadapi tekanan mental yang signifikan dalam menyelesaikan studi. “Tekanan itu muncul bukan hanya dari beban akademik, tapi juga faktor lingkungan. Seperti pertemanan yang tidak suportif,” sebutnya. Wahyu menyampaikan, langkah preventif sangat penting dilakukan untuk mengurangi indikasi bunuh diri. Sementara itu Kepala LLDIKTI WIlayah 7 Jatim, Prof. Dyah Sawitri menyampaikan, saat ini perguruan tinggi memiliki regulasi dan sistem yang jelas untuk mencegah dan menangani kasus kekerasan di lingkungan kampus. Termasuk kasus bunuh diri. “Kurikulum pendidikan tinggi juga jauh fleksibel akan perubahan, dengan sejumlah alternatif penyelesaian studi. Jadi tidak harus skripsi.” “Selain itu seluruh perguruan tinggi di Indonesia sudah memiliki Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT), yang mengacu pada Undang-undang dan mengatur kewajiban kampus menyediakan layanan konseling untuk mahasiswa. Kata Dosen Psikologi Universitas Merdeka Malang, Husnul Khotimah, berdasarkan penelitian, 9,4 responden usia 18 sampai 29 tahun berada di kategori tinggi untuk bunuh diri. “Rentang usia ini termasuk usia rentan, karena individu menghadapi transisi dari fokus pendidikan ke tanggung jawab pekerjaan.” “Walaupun begitu, tidak semua mahasiswa menganggap skripsi sebagai beban. Khususnya mereka yang memiliki coping stress yang kuat,” ujarnya. (Anisa Afisunani/Ra Indrata)
Bukti Kiprah Alumni UMM, Ruri Kini Terlibat Strategi Kebijakan di Kemendikdasmen

Miftahussururi, S.Pd., Alumni UMM. Foto: Hassan/PWMU.CO pwmu.co –Aktivisme kampus kerap dianggap berhenti di ruang diskusi dan forum mahasiswa. Namun bagi Miftahussururi, S.Pd., semangat berorganisasi justru menjadi fondasi untuk ikut menggerakkan arah kebijakan pendidikan nasional. Alumnus Pendidikan Matematika dan Komputasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kini berperan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membawa nilai-nilai kepemimpinan yang ia bangun sejak bangku kuliah. “Saat ini saya bertugas sebagai leader Tim Kebjiakan dan Komunikasi Analis Data sekaligus membantu penyusunan dan pelaksanaan strategi komunikasi kebijakan dan program di satuan kerja saya,” ujarnya (30/01/2026) lalu pada Tim Humas UMM. Ruri sapaan akrabnya mengawali kariernya di Kementerian Pendidikan pada 2017 setelah lolos seleksi yang cukup panjang. Dalam perjalanannya, ia juga pernah bertugas di Tim Staf Khusus Menteri Bidang Pembelajaran, Ditjen GTK, serta Ditjen PAUDDasmen selama lima tahun. Hingga akhirnya, pada 2025, ia dipercaya bergabung di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Vokasi PKPLK). Lebih lanjut, pria itu mengisahkan dirinya yang merupakan mahasiswa produktif dan penuh inisiatif. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika “Matriks” (2011-2012), Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) “Raushan Fikr” FKIP (2012-2013), hingga Sekretaris Umum Koordinator Komisariat IMM UMM (2013-2014). Tidak hanya itu, ia juga dipercaya menjadi Presidium Sidang dalam Kongres Ikahimatika Indonesia. Deretan pengalaman tersebut menunjukkan konsistensinya dalam membangun kepemimpinan dan jejaring sejak bangku kuliah. Sementara itu, dalam perjalanannya sebagai mahasiswa, Ruri juga pernah mengalami struggle soal manajemen waktu. Ia sempat kesulitan membagi waktu antara tugasnya sebagai mahasiswa dan keaktifannya di organisasi. Namun Ruri tetap meyakini bahwa kesibukan dan tekanan positif justru akan membentuk karakter dan kedewasaan dalam berpikir. Ia juga menambahkan bahwa ia selalu mengingat sebuah nasehat yang pernah ia terima, “Kesibukan yang membuatmu letih lebih baik daripada waktu luang yang membuatmu terlena.” Itu lah yang membuatnya terus menjaga semangat dalam berproses. Ruri juga menambahkan bahwa perjuangan kedua orang tua nya juga menjadi sumber motivasi utamanya untuk terus berprestasi dan memberi dampak positif. “Yang membuatku punya energi dan terus berjuang adalah potret perjuangan orang tuaku yang telah mengantarkanku hingga bisa merasakan bangku kuliah. Karena itulah aku tidak ingin mengecewakannya,” ujarnya. Bagi Ruri, kebahagiaan terbesar dalam bekerja adalah ketika kontribusinya mampu memberi dampak nyata. Ia mengaku terharu saat melihat perubahan pola pikir guru-guru di berbagai daerah setelah kebijakan yang ikut disusunnya diterapkan. Menurutnya, perubahan kecil dalam dunia pendidikan dapat membawa dampak besar bagi masa depan bangsa. Ruri juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut dan merasa bingung dalam menentukan arah hidup. Ia menekankan pentingnya self-awareness, mengenali minat, bakat, serta potensi diri. “kesadaran diri (self-awareness) itu begitu penting bagi generasi muda saat ini. Perlunya mengenal diri sendiri, ‘Who am I?’, apa yang menjadi minat, bakat, kelebihan, dan kekurangan diri untuk memastikan pilihan setelah lulus sesuai dengan keinginan, kepribadian dan keahlian,” tutupnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan
35 Kampus Negeri dan Swasta Terbaik di Indonesia Versi THE WUR 2026, Mana Pilihan Kamu?

JAKARTA, KalderaNews.com – Inilah daftar 35 kampus negeri dan swasta terbaik di Indonesia versi Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2026. Bagi kamu yang sedang mencari pilihan kampus, daftar berikut bisa menjadi salah satu pertimbangan sebelum menentukan pilihan. Yuk cek mana saja kampus pilihan kamu! Indikator pemeringkatan THE WUR 2026 Pemeringkatan THE WUR menggunakan 18 indikator kinerja yang dikalibrasi secara cermat untuk memberikan perbandingan yang paling komprehensif dan seimbang, serta dipercaya oleh mahasiswa, akademisi, pemimpin universitas, industri, dan pemerintah. Ada 5 pilar evaluasi utama yang dipakai, yakni: Pengajaran (lingkungan belajar) Lingkungan penelitian (volume, pendapatan, dan reputasi) Kualitas penelitian (dampak sitasi, kekuatan penelitian, keunggulan penelitian, dan pengaruh penelitian) Pandangan internasional (staf, mahasiswa, dan penelitian) Industri (pendapatan dan paten) 35 kampus terbaik di Indonesia Nah, dari hasil studi THE WUR, inilah daftar secara berurutan kampus terbaik di Indonesia yang bisa menjadi pilihan kamu: Universitas Indonesia (UI) Universitas Sebelas Maret Solo Binus University Institut Teknologi Bandung (ITB) Universitas Airlangga Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Universitas Padjadjaran (Unpad) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta Universitas Diponegoro (Undip) Universitas Halu Oleo Universitas Hasanuddin (Unhas) Institut Teknologi Sepuluh November IPB University Universitas Islam Indonesia (UII) Universitas Jember Universitas Negeri Islam Sunan Gunung Djati Bandung Universitas Negeri Malang Telkom University Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Universitas Andalas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Universitas Negeri Padang Universitas Negeri Semarang Universitas Negeri Surabaya Universitas Negeri Yogyakarta Universitas Pendidikan Indonesia Universitas Sriwijaya Universitas Sumatera Utara (USU) Unviersitas Syiah Kuala Universitas Brawijaya Universitas Lampung Universitas Mataram
Kolaborasi dengan UMM Malang, SMAMUSIX Sukses Gelar Ujian Akhir Prodistik Berbasis IT

SMAMUSIX melaksanakan Ujian Akhir Prodistik Berbasis IT bagi siswa kelas XII program Olympiade di UMM pada Sabtu (31/01/2026). (Jamal Wahyudi/PWMU.CO). pwmu.co – SMA Muhamadiyah 6 Paciran (SMAMUSIX) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi digital peserta didik. Hal itu tercermin melalui pelaksanaan Ujian Akhir Prodistik Berbasis IT bagi siswa kelas XII program Olympiade, Sabtu (31/01/2026).Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan berlangsung dengan lancar serta tertib di lingkungan kampus UMM, Malang. Ujian akhir Prodistik ini menjadi tahap penting bagi siswa kelas XII Olympiade SMAMUSIX sebagai bentuk evaluasi akhir atas pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang telah ditempuh selama mengikuti program Prodistik. Materi ujian mencakup berbagai kompetensi berbasis IT. Seperti presentasi cara pembuatan robot, pemanfaatan teknologi digital, hingga pemahaman dasar sistem informasi yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan dan kerja saat ini. Langkah Strategis SMAMUSIX Kepala SMAMUSIX, Siswati, menyampaikan apresiasi dan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan ini dengan baik. Ia menegaskan bahwa kerja sama dengan UMM Malang merupakan langkah strategis sekolah dalam menyiapkan lulusan yang unggul dan berdaya saing di era digital. “Ujian akhir Prodistik ini bukan sekadar penilaian akademik, tetapi juga upaya sekolah dalam membekali siswa dengan keterampilan IT yang aplikatif” tutur Siswati. “Kami sangat berterima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang atas kolaborasi dan fasilitas yang diberikan, sehingga siswa dapat merasakan suasana ujian berbasis perguruan tinggi” tambahnya. Lebih lanjut, ia berharap program Prodistik dapat menjadi nilai tambah bagi siswa SMAMUSIX. Baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun untuk menghadapi tantangan di dunia kerja. Menurutnya, penguasaan teknologi informasi menjadi salah satu kunci utama kesuksesan generasi muda di masa depan. Testimoni Peserta Ujian Salah satu peserta ujian, Nawwaf Dzia’ul Haq, turut menyampaikan kesannya terhadap pelaksanaan ujian akhir Prodistik ini. Ia mengaku senang dan termotivasi karena dapat mengikuti ujian langsung di lingkungan kampus UMM Malang. “Ujian Prodistik ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Selain menguji kemampuan IT yang sudah dipelajari, kami juga bisa merasakan suasana akademik di kampus” tegas Nawwaf. “Ini menambah semangat dan kepercayaan diri untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi” ungkap siswa kelas XII Olympiade IT tersebut. Dengan suksesnya pelaksanaan ujian akhir Prodistik berbasis IT ini, SMAMUSIX berharap program Prodistik dapat terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi siswa. Semoga kolaborasi dengan UMM Malang juga dapat terus berlanjut sebagai bentuk sinergi antara sekolah menengah dan perguruan tinggi dalam mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi perkembangan teknologi di masa depan. *) Penulis : Jamal Wahyudi | Editor : Danar Trivasya Fikri
Suicide di Kalangan Mahasiswa, Kepala BK UMM: Tanpa Resiliensi Rentan Terjebak Pola Pikir Sempit

MALANG POST – Rentetan kasus percobaan bunuh diri (suicide) di kalangan mahasiswa kembali mengusik ruang publik. Beberapa di antaranya bahkan terjadi di lokasi yang sama, memunculkan kegelisahan sekaligus keprihatinan mendalam terhadap kondisi psikologis mahasiswa saat ini. Peristiwa tersebut tidak dapat dipandang semata sebagai kejadian individual, melainkan sebagai gambaran persoalan kesehatan mental yang lebih kompleks, khususnya yang dialami mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, yang akrab disapa Naning, menjelaskan. Bahwa mahasiswa rantau secara alamiah memiliki kerentanan terkait masalah adaptasi. Perpindahan dari lingkungan rumah ke tanah perantauan menuntut kemampuan adaptasi yang tidak ringan. Jika tidak dibarengi dengan dukungan sosial yang kuat, kerentanan ini dapat memicu berbagai masalah psikologis. “Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” jelas Naning kepada Tim Humas UMM, 27 Januari 2026. Menariknya, meski tekanan akademik kerap dituding sebagai biang keladi, Naning mengungkapkan fakta lain dari ruang konseling. Banyak kasus yang ditangani justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga. Masalah pendidikan atau skripsi sering kali hanya menjadi “pemicu” dari tumpukan beban emosional yang telah dibawa mahasiswa dari rumah. Menurutnya, bekal utama seorang mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan mental yang terlatih untuk berjuang dan menghadapi ketidakenakan hidup. Tanpa “senjata” berupa ketahanan mental (resiliensi), mahasiswa cenderung terjebak dalam cara berpikir yang sempit ketika menghadapi persoalan. “Pada dasarnya, tekanan akademik merupakan hal yang wajar dan tidak terpisahkan dari proses pendidikan. Tekanan dalam taraf wajar justru penting agar mahasiswa belajar menjadi lebih fokus.” “Namun, yang menjadi landasan utama adalah sejauh mana seseorang telah dibekali ketahanan mental, memahami makna berjuang, serta terbiasa menghadapi proses jatuh bangun dalam kehidupan,” tambahnya. Fenomena pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri juga menjadi perhatian. Menurut Naning, hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sudah berada dalam situasi terdesak dan berpikir sempit. Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu di benak mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan. Pada titik ini, peran lingkungan menjadi sangat krusial. BK UMM menekankan pendekatan konseling yang berorientasi pada pemberdayaan. Mahasiswa tidak sekadar dibantu memahami masalahnya, tetapi juga diajak mengenali kekuatan diri serta sumber persoalan yang dihadapi. “Kami berharap mahasiswa dapat menyadari bahwa mereka memiliki kapasitas dan potensi untuk menghadapi serta keluar dari permasalahannya. Dengan demikian, pendampingan konselor berfungsi sebagai penguat, bukan sebagai satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Naning juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, yakni cara individu melepaskan emosi negatif sebelum menumpuk dan meledak (blow up). Hal-hal sederhana seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai, misalnya sekadar menikmati makanan favorit dapat menjadi saluran emosi yang efektif jika dilakukan dengan penuh penghayatan. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan. Mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta menghindari sikap menyepelekan atau menertawakan masalah teman merupakan langkah sederhana, tetapi berdampak besar. Kesalahan kecil seperti membocorkan cerita pribadi justru dapat memperparah kondisi psikologis seseorang. Melalui pendekatan preventif dan promotif, BK UMM berharap mahasiswa mampu mengenali kondisi psikologisnya sejak dini. Sebab, pada akhirnya, setiap masalah selalu memiliki jalan keluar meskipun tidak selalu ideal selama pikiran tidak dibiarkan tertutup oleh kabut keputusasaan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Inovasi Tak Selalu Lahir dari Lab Canggih: Mahasiswa UMM Ciptakan Steam Press Ecoprint

MALANG POST – Inovasi teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih atau proyek berskala besar. Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), solusi bagi pelaku UMKM justru dirancang dari ruang kelas. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri UMM menghadirkan Steam Press Ecoprint, sebuah alat produksi yang menawarkan efisiensi sekaligus peningkatan kualitas pada proses ecoprint. Inovasi tersebut dikembangkan oleh Iqbal Rafif Yuliono, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2023, bersama timnya. Gagasan ini berangkat dari pengamatan langsung terhadap praktik ecoprint di lapangan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama pada konsistensi hasil dan durasi produksi. Iqbal menuturkan bahwa proses ecoprint yang umum digunakan pelaku usaha masih mengandalkan metode manual atau sistem otomatis sederhana. Keduanya dinilai belum mampu menghasilkan kualitas warna dan detail motif yang optimal. Dari persoalan itulah, ide untuk menggabungkan sistem manual dan otomatis mulai dirumuskan. “Kami melihat ecoprint itu biasanya dilakukan secara manual atau otomatis. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan keduanya dengan memanfaatkan mesin press yang dipadukan dengan sistem uap,” ujar Iqbal saat diwawancara Tim Humas UMM, 27 Januari lalu. Steam Press Ecoprint bekerja dengan mengintegrasikan panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Pendekatan ini berbeda dari metode kukus konvensional yang menggunakan air secara langsung dan kerap menghasilkan warna yang kurang tajam serta motif yang tidak merata. Berdasarkan hasil uji coba, penggunaan uap bertekanan terbukti mampu memunculkan warna kain yang lebih kuat dan detail motif yang lebih jelas. Metode ini juga membantu menjaga konsistensi hasil, terutama pada produksi dalam jumlah lebih banyak. “Ketika kami bandingkan, hasil ecoprint menggunakan uap melalui mesin press warnanya jauh lebih keluar dan motifnya lebih tegas dibandingkan metode kukus biasa,” tambahnya. Alat ini telah diuji coba secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint yang berlokasi di Bululawang, Kabupaten Malang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Steam Press Ecoprint mampu menghasilkan warna yang lebih konsisten, sekaligus meningkatkan kualitas visual kain ecoprint. Dari sisi efisiensi, Steam Press Ecoprint tidak semata-mata mengejar kecepatan produksi. Alat ini justru dirancang untuk menyesuaikan proses dengan tingkat detail motif yang diinginkan. Dengan demikian, pelaku usaha tetap dapat menghasilkan kain ecoprint yang presisi dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Steam Press Ecoprint juga dirancang agar ramah bagi UMKM skala kecil. Alat ini fleksibel digunakan pada berbagai jenis kain, bahkan beberapa material dengan tekstur tertentu menunjukkan hasil motif yang lebih maksimal ketika diproses menggunakan sistem uap dan tekanan. Dalam proses perancangannya, Iqbal mengakui peran dosen pembimbing sangat krusial, terutama dalam mendorong mahasiswa agar peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan inovasi yang aplikatif. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar, struktur yang lebih kuat, serta sistem pengoperasian yang semakin sederhana. “Jangan takut mencoba. Mulai saja dulu, karena dari proses itulah kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” pesannya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi karya mahasiswa tersebut sebagai bukti nyata keberhasilan pembelajaran berbasis praktik. Menurutnya, inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis, mengolah ide, dan menerapkan konsep perkuliahan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Ia berharap karya tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi. Prodi Teknik Industri UMM, lanjutnya, berkomitmen mendorong pengembangan karya mahasiswa agar tidak berhenti sebagai tugas akademik semata, melainkan mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa berani mencoba, peka terhadap masalah di sekitarnya, dan mampu menghadirkan solusi yang relevan melalui karya-karya inovatif,” tutupnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Bahasa Arab Masuk Era Digital, PBA UMM Gelar Festival Skala Nasional

PBA UMM Gelar Festival Skala Nasional, Bahasa Arab Masuk Era Digital.(Ist) Malangpariwara.com – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak pengembangan bahasa Arab di Indonesia melalui Al Arabiyah Festival Expo (ALEPO) 2026. Ajang kejuaraan nasional yang digelar pada 30–31 Januari 2026 ini menghadirkan lima cabang lomba bahasa Arab yang kompetitif, yakni Kitabah, Ghina Arabi, Qiraatul Kutub, dan Olimpiade Bahasa Arab untuk siswa SMA/MA sederajat, serta debat bahasa Arab untuk kategori mahasiswa, sekaligus menegaskan inovasi pembelajaran bahasa Arab berbasis digital. Ketua Pelaksana ALEPO 2026, Rizki Saputra saat memaparkan materi(ist) Ketua Pelaksana ALEPO 2026, Rizki Saputra, menjelaskan bahwa nama “ALEPO” memiliki filosofi tersendiri. Nama tersebut diambil dari salah satu kota di Suriah yang dikenal sebagai pionir pengembangan peradaban dan teknologi dunia. Filosofi ini kemudian diterjemahkan ke dalam konsep kegiatan yang menggabungkan kekuatan tradisi bahasa Arab dengan pendekatan pembelajaran modern. “Kami ingin membawa branding bahasa Arab yang tidak kaku, tetapi progresif dan dekat dengan dunia digital. Filosofi ALEPO itu kami bawa ke konsep kegiatan, mulai dari jenis lomba, sistem penilaian, hingga pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaannya,” jelas Rizki. Ia menambahkan, ALEPO 2026 dirancang bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan eksplorasi bagi generasi muda untuk melihat bahasa Arab dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, bahasa Arab tidak lagi cukup dipahami sebatas bahasa kitab atau kelas formal, melainkan juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan komunikasi global. “Melalui ALEPO, kami ingin menumbuhkan kepercayaan diri peserta bahwa bahasa Arab itu relevan, hidup, dan bisa menjadi bekal masa depan. Apalagi di era digital, peluang pengembangan bahasa Arab justru semakin terbuka,” ujarnya. Rizki juga menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa sebagai penggerak utama kegiatan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa PBA UMM mampu merespons tantangan zaman secara kreatif. Ia berharap ALEPO dapat terus berkembang dan menjadi agenda nasional yang konsisten dalam mendorong inovasi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. “Kami berharap ALEPO tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi tumbuh menjadi ekosistem yang menghubungkan pelajar, mahasiswa, dan praktisi bahasa Arab di seluruh Indonesia,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua Program Studi PBA UMM, Mochammad Firdaus, M.Ed., memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi mahasiswa dalam menyelenggarakan agenda berskala nasional tersebut. Menurutnya, ALEPO tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang aktualisasi dan apresiasi bagi pelajar tingkat menengah untuk menumbuhkan minat terhadap bahasa Arab. “Kegiatan ini sangat positif dan strategis. ALEPO mampu menghadirkan wajah pembelajaran bahasa Arab yang kreatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Firdaus. Ia menambahkan, pengangkatan tema digitalisasi pada ALEPO 2026 dinilai tepat sebagai respons atas pergeseran ekosistem pembelajaran bahasa Arab ke ranah digital. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memiliki visi jangka panjang. “Mahasiswa mampu membaca tantangan zaman. Digitalisasi ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bahasa Arab juga bisa mengikuti perkembangan teknologi,” imbuhnya. Melalui ALEPO 2026, Program Studi PBA UMM semakin mengukuhkan diri sebagai program studi yang progresif dan peduli terhadap pengembangan potensi generasi muda. Kegiatan ini diharapkan terus menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan bahasa Arab di Indonesia.(Djoko W)