Tapak Suci UMM Gelar Ujian Kenaikan Tingkat, Perkuat Ideologi dan Karakter Dosen-Karyawan

UKT Tapak Suci Dosen dan Karyawan Universitas Muhammadiyah Malang. Foto: Mujiono/PWMU.CO. pwmu.co –Tapak Suci Putera Muhammadiyah Dosen-Karyawan Cabang Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) sebagai bagian dari program pembinaan berkelanjutan bagi para anggotanya. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (30/1/2026), mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula BAU UMM, dan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., MM., CA. UKT ini bukan sekadar agenda teknis bela diri, tetapi memiliki misi yang lebih luas. Salah satu pelatih yang terlibat, Muhammad Taufik, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi sarana penguatan peran dosen dan karyawan dalam organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah. “Tujuan utama kegiatan ini adalah mendorong dosen dan karyawan untuk aktif dalam ortom. Selain melatih keterampilan bela diri, UKT juga bertujuan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran. Tidak kalah penting, kegiatan ini juga menanamkan ideologi Muhammadiyah sekaligus menguatkan nilai-nilai keislaman,” ujarnya. Tapak Suci dikenal sebagai perguruan seni bela diri yang berlandaskan ajaran Islam dan nilai-nilai Muhammadiyah. Di lingkungan UMM, pembinaan ini ditujukan kepada dosen dan tenaga kependidikan sehingga UKT menjadi momentum penting untuk menilai kesiapan fisik, mental, maupun spiritual para peserta. Menurut kader Tapak Suci UMM, Mujiono, proses UKT menilai peserta secara menyeluruh. “Penilaian tidak hanya mencakup teknik jurus dan kondisi fisik, tetapi juga sikap, kedisiplinan, serta komitmen terhadap nilai-nilai keislaman dan Kemuhammadiyahan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa keberadaan Tapak Suci di kampus tidak hanya memperkuat budaya hidup sehat, tetapi juga mempererat silaturahmi antarpegawai lintas unit. Didukung Pelatih dan Kader Pelaksanaan UKT melibatkan jajaran pendekar dan pelatih berpengalaman, antara lain Muhammad Taufik, Robby Harmono, Kusmadiyono, Bintal Yudana, dan Syaful. Kegiatan ini juga didukung oleh kader Tapak Suci UMM, yakni Hasyim, Mujiono, dan Irfan yang membantu proses teknis serta pembinaan peserta selama masa persiapan. Kolaborasi antara pelatih dan kader menunjukkan bahwa pembinaan Tapak Suci di UMM berjalan secara sistematis dan terstruktur. Di tengah padatnya aktivitas akademik dan administrasi kampus, latihan Tapak Suci menjadi sarana menjaga kebugaran jasmani. Lebih dari itu, UKT berfungsi sebagai wahana pembentukan karakter peserta. Taufik juga menjelaskan bahwa Tapak Suci bukan sekadar olahraga, melainkan juga merupakan dakwah melalui pembinaan pribadi “Tapak Suci bukan sekadar olahraga, melainkan juga dakwah melalui pembinaan pribadi. Dosen dan karyawan yang aktif di sini diharapkan menjadi teladan dalam kedisiplinan, etika, dan semangat keislaman,” paparnya. Pembina Tapak Suci Dosen-Karyawan UMM, Ahmad Zakaria, menegaskan bahwa Tapak Suci di kampus bukan hanya wadah latihan fisik, tetapi juga sarana pembinaan karakter. “Kami ingin dosen dan karyawan UMM memiliki ketangguhan jasmani, ketenangan mental, serta komitmen ideologis yang kuat terhadap nilai-nilai Muhammadiyah. Tapak Suci menjadi ruang untuk menempa diri, agar kader persyarikatan tetap sehat, berakhlak mulia, dan siap berdakwah di mana pun berada,” ungkapnya. Dengan demikian, UKT tidak hanya menandai peningkatan kemampuan keilmuan, tetapi juga penguatan komitmen moral dan ideologis peserta terhadap Muhammadiyah. Keberadaan Tapak Suci Dosen-Karyawan UMM dinilai memberikan kontribusi positif terhadap atmosfer kampus karena menciptakan ruang interaksi yang lebih cair di luar rutinitas pekerjaan formal. (*) *) Penulis : Alexs Mac | Editor : Ni’matul Faizah
Bukti Kiprah Alumni UMM, Ruri Kini Terlibat Strategi Kebijakan di Kemendikdasmen

Aktivisme kampus kerap dianggap berhenti di ruang diskusi dan forum mahasiswa. Namun bagi Miftahussururi, S.Pd., semangat berorganisasi justru menjadi fondasi untuk ikut menggerakkan arah kebijakan pendidikan nasional. Alumnus Pendidikan Matematika dan Komputasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kini berperan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membawa nilai-nilai kepemimpinan yang ia bangun sejak bangku kuliah. “Saat ini saya bertugas sebagai leader Tim Kebjiakan dan Komunikasi Analis Data sekaligus membantu penyusunan dan pelaksanaan strategi komunikasi kebijakan dan program di satuan kerja saya,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Ruri sapaan akrabnya mengawali kariernya di Kementerian Pendidikan pada 2017 setelah lolos seleksi yang cukup panjang. Dalam perjalanannya, ia juga pernah bertugas di Tim Staf Khusus Menteri Bidang Pembelajaran, Ditjen GTK, serta Ditjen PAUDDasmen selama lima tahun. Hingga akhirnya, pada 2025, ia dipercaya bergabung di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Vokasi PKPLK). Lebih lanjut, pria itu mengisahkan dirinya yang merupakan mahasiswa produktif dan penuh inisiatif. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika “Matriks” (2011-2012), Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) “Raushan Fikr” FKIP (2012-2013), hingga Sekretaris Umum Koordinator Komisariat IMM UMM (2013-2014). Tidak hanya itu, ia juga dipercaya menjadi Presidium Sidang dalam Kongres Ikahimatika Indonesia. Deretan pengalaman tersebut menunjukkan konsistensinya dalam membangun kepemimpinan dan jejaring sejak bangku kuliah. Sementara itu, dalam perjalanannya sebagai mahasiswa, Ruri juga pernah mengalami struggle soal manajemen waktu. Ia sempat kesulitan membagi waktu antara tugasnya sebagai mahasiswa dan keaktifannya di organisasi. Namun Ruri tetap meyakini bahwa kesibukan dan tekanan positif justru akan membentuk karakter dan kedewasaan dalam berpikir. Ia juga menambahkan bahwa ia selalu mengingat sebuah nasehat yang pernah ia terima, “Kesibukan yang membuatmu letih lebih baik daripada waktu luang yang membuatmu terlena.” Itu lah yang membuatnya terus menjaga semangat dalam berproses. Ruri juga menambahkan bahwa perjuangan kedua orang tua nya juga menjadi sumber motivasi utamanya untuk terus berprestasi dan memberi dampak positif. “Yang membuatku punya energi dan terus berjuang adalah potret perjuangan orang tuaku yang telah mengantarkanku hingga bisa merasakan bangku kuliah. Karena itulah aku tidak ingin mengecewakannya,” ujarnya. Bagi Ruri, kebahagiaan terbesar dalam bekerja adalah ketika kontribusinya mampu memberi dampak nyata. Ia mengaku terharu saat melihat perubahan pola pikir guru-guru di berbagai daerah setelah kebijakan yang ikut disusunnya diterapkan. Menurutnya, perubahan kecil dalam dunia pendidikan dapat membawa dampak besar bagi masa depan bangsa. Ruri juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut dan merasa bingung dalam menentukan arah hidup. Ia menekankan pentingnya self-awareness, mengenali minat, bakat, serta potensi diri. “kesadaran diri (self-awareness) itu begitu penting bagi generasi muda saat ini. Perlunya mengenal diri sendiri, ‘Who am I?’, apa yang menjadi minat, bakat, kelebihan, dan kekurangan diri untuk memastikan pilihan setelah lulus sesuai dengan keinginan, kepribadian dan keahlian,” tutupnya. (rik/faq) Penulis; Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Pakar UMM Soroti Maraknya Industri Hiburan, Identitas Kota Malang Dipertaruhkan

Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di titik persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial membentuk wajah baru kota yang semakin lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota, tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dalam perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., menilai Malang sejak lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis. Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, juga tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal, sementara ruang nonformal yang memungkinkan mahasiswa mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Situasi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Terakhir, ia menekankan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi. (rik/faq) Penulis: Raudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Mahasiswa UMM Dorong SDGs Lewat Gerakan Ecobrick

Sampah plastik bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, melainkan ancaman nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Tumpukan plastik yang sulit terurai terus menekan kualitas ekosistem daratan dan perairan, terutama di kawasan permukiman. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan aksi nyata bertajuk “Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik” di Desa Dadaprejo, Kota Batu, Senin (26/1/2026). Kegiatan ini dipusatkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kecamatan Junrejo. Program tersebut merupakan implementasi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan yang secara langsung mendorong peran mahasiswa dalam mendukung agenda pembangunan global berbasis lingkungan. Sebanyak 16 mahasiswa Akuakultur UMM angkatan 2025 terjun ke lapangan dan berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat untuk menangani timbulan sampah rumah tangga yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Ketua Pelaksana kegiatan, Daffa Rayhan Zaky, menegaskan bahwa aksi ini dirancang sebagai kontribusi konkret mahasiswa terhadap pencapaian SDGs. “Fokus kegiatan kami selaras dengan SDGs poin 15 tentang perlindungan ekosistem daratan. Pengelolaan sampah plastik yang buruk berdampak langsung pada kualitas tanah dan air. Karena itu, kami mendorong solusi sederhana namun berkelanjutan melalui ecobrick,” jelasnya. Metode ecobrick dilakukan dengan memadatkan sampah plastik kering yang telah dipilah ke dalam botol plastik bekas hingga membentuk material yang kuat menyerupai bata atau balok. Inovasi ini tidak hanya mencegah plastik tercecer ke lingkungan, tetapi juga memberikan nilai guna baru. Ecobrick dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, elemen estetika, maupun fasilitas pendukung di area TPST, sekaligus menekan volume sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, M.P., menilai kehadiran mahasiswa di TPST memiliki dampak strategis, terutama dalam aspek edukasi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa tidak berhenti pada tataran akademik. Melalui kegiatan ini, mereka belajar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, sekaligus membantu meringankan beban kerja rutin petugas TPST,” ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat merupakan kunci dalam mewujudkan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Upaya ini diharapkan menjadi langkah jangka panjang untuk menciptakan lingkungan permukiman di Kota Batu yang lebih sehat, bersih, dan lestari. Melalui aksi tersebut, mahasiswa Akuakultur UMM menegaskan bahwa kontribusi terhadap SDGs harus dilakukan secara menyeluruh. Perlindungan ekosistem daratan menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas ekosistem perairan, sejalan dengan fokus keilmuan akuakultur yang mereka tekuni.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman