Pakar UMM Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., Soroti Maraknya Industri Hiburan, Identitas Kota Malang Dipertaruhkan

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di titik persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial membentuk wajah baru kota yang semakin lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota, tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dalam perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., menilai Malang sejak lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis. Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, juga tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal, sementara ruang nonformal yang memungkinkan mahasiswa mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Situasi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Terakhir, ia menekankan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi.(*)
Pakar UMM Soroti Maraknya Industri Hiburan Malam di Kota Malang

Sketsamalang.com — Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan berada di persimpangan serius seiring pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial. Perkembangan tersebut bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap dampak sosial dan akademik di lingkungan kampus. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, M.Si., menilai perubahan wajah kota tidak hanya berdampak pada lanskap fisik, tetapi juga memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di sekitarnya. “Sejak dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Banyaknya mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah menjadikan Malang sebagai ruang sosial yang dinamis,” ujar Wahyudi. Menurutnya, mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat kota tidak hanya memiliki kebutuhan akademik, tetapi juga kebutuhan rekreatif untuk memperoleh rasa senang, nyaman, dan bahagia. Namun, apabila ruang rekreasi sepenuhnya dikuasai oleh industri berbasis pasar dan berada di luar kontrol sosial kampus, kondisi tersebut berpotensi memicu pergeseran nilai. Dalam perspektif sosiologis, Wahyudi menilai fenomena ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreasi mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Ia mengingatkan bahwa dalam jangka panjang situasi tersebut dapat menumbuhkan budaya hedonisme dan melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. “Ketika kontrol sosial melemah, ukuran baik dan buruk menjadi sangat subjektif. Mahasiswa berisiko kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut, lanjut Wahyudi, terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, mengabaikan tanggung jawab akademik, serta tidak mampu memanfaatkan kampus secara optimal sebagai pusat pengembangan kompetensi dan keilmuan. Ia juga menyoroti lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tetap penting, namun tidak boleh mengorbankan pendidikan dan nilai moral masyarakat. “Jika tidak ada penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” ujarnya. Selain itu, Wahyudi menilai minimnya ruang ekspresi rekreatif di dalam kampus turut mendorong mahasiswa mencari alternatif hiburan di luar lingkungan akademik. Aktivitas kampus yang cenderung formal dan akademis membuat ruang nonformal untuk berekspresi semakin terbatas. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang tersebut perlu dikelola dengan aturan dan pengawasan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral,” katanya. Ia menegaskan, penguatan ruang publik kampus, regulasi tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi menjadi langkah strategis untuk menjaga identitas Malang sebagai kota pendidikan. Tanpa pengendalian sosial dan dialog berkelanjutan, identitas tersebut dikhawatirkan akan terus terkikis dan bergeser menjadi kota konsumsi.
Dukung SDGs, Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Tenaga Surya

Kepekaan membaca persoalan di sekitar menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Solar Powered Automatic Irrigation System, sebuah alat irigasi tetes otomatis berbasis energi surya yang lahir dari ruang kelas dan dirancang untuk mendukung pertanian skala kecil agar lebih efisien dan berkelanjutan. Inovasi ini sekaligus menjadi wujud komitmen akademik UMM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Inovasi tersebut dikembangkan oleh Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya. Berangkat dari pengamatan terhadap praktik pertanian di Indonesia, Isti menyoroti masih banyaknya petani yang mengandalkan penyiraman manual. Metode ini tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga berpotensi menyebabkan pemborosan air. Dari persoalan sederhana tersebut, timnya merancang sistem irigasi tetes otomatis yang bekerja secara cerdas dan hemat energi. Sistem irigasi ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik utama. Energi yang dihasilkan disimpan dalam baterai dan digunakan untuk mengoperasikan sistem berbasis Arduino. Sensor kelembapan tanah menjadi komponen kunci yang menentukan kapan tanaman membutuhkan air, sehingga penyiraman hanya dilakukan saat kondisi tanah benar-benar memerlukannya. “Melalui sensor kelembapan tanah, sistem ini bisa menyesuaikan kebutuhan air tanaman secara otomatis. Penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, tetapi berdasarkan kondisi tanah,” jelas Isti 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Sebagai prototipe pembelajaran, sistem ini masih diterapkan dalam skala terbatas. Meski demikian, konsepnya dirancang fleksibel dan adaptif untuk berbagai jenis tanaman serta kondisi lahan. Penggunaan energi surya menjadi nilai tambah karena mampu mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional sekaligus menekan biaya operasional petani. Dari sisi keberlanjutan, inovasi ini tidak hanya berfokus pada efisiensi air dan energi, tetapi juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut. Ke depan, sistem irigasi ini berpotensi dikombinasikan dengan penyaluran pupuk cair, nutrisi, maupun vitamin tanaman, sehingga perawatan tanaman dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dan presisi. Bagi Isti, proyek ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Ia menilai mata kuliah P3 mendorong mahasiswa untuk berpikir sistematis, bekerja kolaboratif, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat. “Lewat proyek ini, kami belajar bahwa inovasi tidak harus rumit. Yang terpenting adalah berangkat dari masalah nyata dan menghadirkan solusi yang bisa diterapkan,” ujarnya. Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai pengembangan Solar Powered Automatic Drip Irrigation System merupakan wujud pembelajaran berbasis proyek yang mendorong mahasiswa mengintegrasikan teknologi IoT dalam sistem irigasi presisi. Inovasi ini mencakup pengendalian kelembapan tanah hingga pengaturan pemberian air dan nutrisi secara otomatis. Menurutnya, proyek tersebut tidak hanya melatih kemampuan pemecahan masalah, desain sistem, dan pengambilan keputusan berbasis data, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi smart irrigation system yang efisien, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat. “Inovasi seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” tuturnya. Capaian pada Industrial Engineering Expo 2026 UMM menjadi gambaran bagaimana pembelajaran berbasis proyek di Teknik Industri UMM mampu melahirkan inovasi yang aplikatif dan berdampak. Tak berhenti sebagai tugas perkuliahan, Solar Powered Automatic Irrigation System menunjukkan potensi mahasiswa UMM dalam berkontribusi pada pengembangan teknologi tepat guna dan pertanian berkelanjutan.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman