Rektor UMM Apresiasi Layanan RSI Muhammadiyah Sumberrejo
Mentari.or.id- Bojonegoro I Rumah Sakit Islam (RSI) Muhammadiyah Sumberrejo menerima kunjungan kehormatan dari Prof. Dr. Nazarudin, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pada Ahad, 1 Februari 2026. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda silaturahmi sekaligus penguatan sinergi antar-Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang kesehatan dan pendidikan. Prof. Nazarudin disambut langsung oleh Wakil Direktur RSI Muhammadiyah Sumberrejo, dr. Megi Munindra, bersama Ketua PCM Sumberrejo, Ustaz H. Adib Susilo, serta jajaran pimpinan rumah sakit dan unsur Persyarikatan Muhammadiyah setempat. Dalam suasana penuh keakraban, Rektor UMM berkesempatan meninjau sejumlah fasilitas pelayanan RSI Muhammadiyah Sumberrejo. Ia juga berdialog dengan pimpinan rumah sakit mengenai pengembangan mutu layanan kesehatan yang profesional, humanis, dan berkemajuan, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam. Pada kesempatan tersebut, Prof. Nazarudin menyampaikan apresiasi atas komitmen RSI Muhammadiyah Sumberrejo dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Menurutnya, rumah sakit Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai bagian dari dakwah Persyarikatan, khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara rumah sakit dan perguruan tinggi Muhammadiyah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pengembangan riset, serta penguatan program pengabdian kepada masyarakat. Sementara itu, Wakil Direktur RSI Muhammadiyah Sumberrejo, dr. Megi Munindra, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi motivasi bagi seluruh jajaran rumah sakit untuk terus meningkatkan mutu layanan dan memperkuat peran RSI Muhammadiyah Sumberrejo sebagai rumah sakit Islam yang unggul dan berkemajuan. Kunjungan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen untuk terus mempererat sinergi antar-AUM Muhammadiyah demi kemajuan umat. Kontributor: Hermin Puji Astutik
Dari Pawon ke Buku Sejarah: Kampung Budaya Polowijen dan KKN Tematik UMM Merawat Tradisi di Era Digital

KLIKTIMES.XOM | KOTA MALANG–Kampung Budaya Polowijen (KBP) bersama Mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan rangkaian kegiatan kebudayaan pada Rabu, 29 Januari 2026, yang menggabungkan kerja perawatan ruang tradisi dengan penguatan literasi penulisan sejarah dan budaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses penyusunan buku Transformasi Budaya: dari Tradisi, Modernitas, hingga Dunia Digital. Kegiatan diawali dengan beres-beres pawon dan galeri Kampung Budaya Polowijen. Pawon dan galeri tidak hanya dirawat sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai pusat aktivitas budaya, dokumentasi, dan pembelajaran. Dari ruang inilah berbagai praktik budaya—mulai dari kuliner tradisional, selametan, hingga diskusi kebudayaan—terus hidup dan diwariskan. Pada siang hingga sore hari, mahasiswa mengikuti agenda Sinau Budaya bertema Teknik dan Strategi Penulisan Sejarah dan Budaya. Kegiatan ini menghadirkan Hariani, S.AP sebagai pemateri dengan Aura Tsania sebagai moderator. Diskusi membahas cara menulis sejarah dan budaya secara sistematis dan kritis, sekaligus menjadi bekal awal bagi mahasiswa yang terlibat dalam proses pendokumentasian budaya Kampung Budaya Polowijen. Kampung Budaya Polowijen (KBP) bersama Mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan rangkaian kegiatan kebudayaan pada Rabu, 29 Januari 2026, yang menggabungkan kerja perawatan ruang tradisi dengan penguatan literasi penulisan sejarah dan budaya. (HO/KLIKTIMES.COM) Materi Sinau Budaya ini sejalan dengan substansi buku yang tengah disusun, yang merangkum transformasi budaya Malangan meliputi busana dan atribut tradisional, ritual dan tradisi, seni pertunjukan rakyat, musik dan bunyi tradisional, kerajinan dan peralatan, senjata tradisional, kuliner dan selametan, serta permainan dan tembang rakyat. Seluruhnya dibaca dalam konteks perubahan zaman, modernitas, dan ruang digital. Salah satu mahasiswa KKN UMM, Shela, menanyakan teknik penulisan sejarah untuk kebutuhan skripsi. Pertanyaan tersebut dijawab secara komprehensif oleh pemateri, memberi gambaran praktis tentang pengolahan sumber, penyusunan narasi, dan tanggung jawab akademik dalam penulisan sejarah budaya. Sinau Budaya bertema Teknik dan Strategi Penulisan Sejarah dan Budaya. Kegiatan ini menghadirkan Hariani, S.AP sebagai pemateri dengan Aura Tsania sebagai moderator. (HO/KLIKTIMES.COM) Rangkaian kegiatan ditutup dengan kembali membersihkan pawon sebagai simbol konsistensi merawat ruang tradisi. Kolaborasi antara Kampung Budaya Polowijen dan Mahasiswa KKN Tematik UMM ini menegaskan bahwa pawon bukan sekadar ruang memasak, tetapi juga ruang lahirnya pengetahuan, sejarah, dan upaya pelestarian budaya di tengah dunia yang terus berubah.
Pelatihan Psikologi Keluarga Penggerak Posyandu Disabilitas Kerjasama UMM dan LINKSOS
Pelatihan Psikologi Keluarga Penggerak Posyandu Disabilitas merupakan kegiatan peningkatan kapasitas yang diselenggarakan melalui kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan LINKSOS (Lingkar Sosial Indonesia). Pelatihan ini bertujuan memperkuat pemahaman dan keterampilan keluarga serta kader penggerak Posyandu Disabilitas dalam aspek psikologi keluarga, khususnya dalam mendukung tumbuh kembang, kesehatan mental, dan kesejahteraan penyandang disabilitas. Melalui pendekatan psikologi keluarga yang aplikatif dan kontekstual, peserta akan dibekali pengetahuan tentang dinamika keluarga, pola komunikasi yang sehat, pengasuhan inklusif, serta strategi menghadapi tantangan psikososial yang sering dialami keluarga penyandang disabilitas. Materi disampaikan oleh akademisi dan praktisi berpengalaman dari UMM dan LINKSOS dengan metode interaktif, diskusi kasus, dan praktik sederhana yang mudah diterapkan di lingkungan keluarga dan komunitas. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan keluarga dan kader Posyandu Disabilitas yang tangguh, empatik, dan berdaya, sehingga Posyandu Disabilitas tidak hanya menjadi ruang layanan kesehatan dasar, tetapi juga pusat dukungan psikososial dan penguatan keluarga yang inklusif dan berkelanjutan.
Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM Selenggarakan Kuliah Tamu Internasional bersama Adab Youth Garage

Reporter: harianjatim Malang-harianjatim.com. Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan kuliah tamu internasional bekerja sama dengan NGO Adab Youth Garage (AYG) dari Malaysia. Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat My Dormy UMM sebagai bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi pembelajaran dan pengalaman mahasiswa dalam bidang pekerjaan sosial pada Kamis (29/1/2026). Dalam acara tersebut menghadirkan perwakilan dari Adab Youth Garage, sebuah organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang pengembangan komunitas, pemberdayaan anak dan remaja, serta pembangunan kapasitas pemuda di lingkungan urban di Malaysia. AYG merupakan platform komunitas yang memberikan ruang kegiatan positif bagi anak-anak dan remaja untuk berkembang secara sosial, moral, dan akademik melalui berbagai program kegiatan komunitas. Kegiatan kuliah tamu tersebut merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dengan mitra internasional seperti Universiti Kebangsaan Malaysia dan lembaga-lembaga sosial mitra lainnya. Dalam kerja sama tersebut, AYG diundang untuk berbagi wawasan praktik sosial dan pengalaman komunitas lintas negara yang menjadi referensi penting bagi mahasiswa dalam memahami dinamika kesejahteraan sosial di konteks global. Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM Hutri Agustino menyampaikan, bahwa kuliah tamu internasional ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif profesional dan kompetensi sosialnya, sekaligus memotivasi civitas akademika untuk terus membangun jejaring global dalam bidang kesejahteraan sosial. Menurutnya, kegiatan ini juga mendukung program internasionalisasi yang dijalankan prodi sekaligus menguatkan sinergi antara akademik dan praktik profesional di layanan masyarakat, khususnya dalam pemberdayaan komunitas anak dan remaja serta pendekatan kerja sosial berbasis komunitas. “Apalagi kata dia sejak tahun lalu, prodi Kesejahteraan Sosial UMM sudah terakreditasi oleh lembaga internasional (FIBAA) yang bermarkas di Jerman,” jelas dia. Lebih lanjut, Hutri menyampaikan bahwa jalinan kerjasama antara prodi dengan AYG sudah berlangsung sejak tiga tahun lalu dan telah dilaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari sharing sessions tematik, kerjasama dalam pelaksanaan program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat sampai pada penempatan mahasiswa praktikum. Adapun materi yang disampaikan Adab Youth Garage juga dinilai sangat relevan bagi mahasiswa Kesejahteraan Sosial UMM karena memperkuat keterkaitan antara teori dan praktik, memperluas perspektif internasional, serta meningkatkan kompetensi profesional calon pekerja sosial “Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM menunjukkan komitmen kuat dalam membangun internasionalisasi yang produktif dan berkelanjutan melalui pengembangan jejaring akademik dan praktik profesional lintas negara,” ungkap dia. Internasionalisasi dipandang tidak hanya sebagai pemenuhan indikator kinerja, tetapi sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan, relevansi keilmuan, dan daya saing lulusan di tingkat global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan akademik internasional yang berkelanjutan, seperti kuliah tamu internasional, international webinar, dan joint academic activities dengan mitra luar negeri. Kegiatan ini memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh perspektif global, memperkaya pemahaman terhadap isu kesejahteraan sosial, serta membandingkan praktik kerja sosial di berbagai konteks budaya dan kebijakan. Selain itu, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM secara aktif membangun dan memelihara kerja sama kelembagaan dengan universitas dan organisasi sosial internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Kerja sama tersebut diarahkan pada kegiatan yang bersifat aplikatif dan berdampak, seperti pertukaran pengetahuan, kolaborasi riset, pengabdian masyarakat internasional, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Dalam aspek kurikulum dan pembelajaran, internasionalisasi diintegrasikan melalui pengayaan materi perkuliahan berbasis isu global, penggunaan referensi internasional, serta penguatan kompetensi multikultural dan etika kerja sosial internasional. Hal ini bertujuan menyiapkan lulusan yang adaptif, berwawasan global, dan mampu bekerja secara profesional di lingkungan multikultural. Dengan pendekatan yang terencana, kolaboratif, dan berorientasi keberlanjutan, Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan komitmennya untuk menjadikan internasionalisasi sebagai proses jangka panjang yang produktif, bermakna, dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu dan praktik kesejahteraan sosial.
Pakar UMM: Malang Terancam Kehilangan Identitas Kota Pendidikan Gegara Hiburan Malam

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi. (Foto: laman resmi UMM) SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan disebut sedang menghadapi tantangan besar. Pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam, kafe, hingga ruang rekreasi komersial dinilai mulai menggeser wajah Malang yang selama ini lekat dengan atmosfer akademik. Fenomena tersebut bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan kampus dan fasilitas pendidikan. Dampaknya bukan hanya mengubah lanskap kota, tetapi juga memunculkan konsekuensi sosial yang ikut memengaruhi kehidupan mahasiswa. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi, menilai Malang sejak lama memang dikenal sebagai kota dengan identitas yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis. Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UMM, Senin (2/2/2026). Namun, Wahyudi mengingatkan bahwa dalam jangka panjang, maraknya ruang hiburan yang sepenuhnya dikelola logika pasar dapat memicu budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Menurutnya, ketika ruang rekreasi mahasiswa lebih banyak berada di luar kampus dan tanpa pengawasan sosial yang memadai, standar perilaku pun menjadi semakin subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Wahyudi menyebut pergeseran ini dapat berujung pada penurunan kualitas akademik. Mahasiswa yang terlalu larut dalam budaya hiburan dikhawatirkan kehilangan fokus belajar, lupa waktu, hingga mengabaikan tanggung jawab kampus. Akibatnya, kampus tidak lagi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan. Ia juga menyoroti lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Selain faktor eksternal, Wahyudi menilai kampus juga memiliki peran besar. Ia menyoroti semakin terbatasnya ruang ekspresi nonformal bagi mahasiswa di lingkungan kampus. Aktivitas mahasiswa dinilai terlalu terpusat pada hal-hal akademik dan formal, sementara ruang santai untuk berekspresi semakin menyempit. Hal itu membuat mahasiswa mencari alternatif di luar kampus, yang justru disediakan industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Di akhir, Wahyudi menegaskan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang lebih tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi untuk menjaga Malang tetap sebagai kota pendidikan. Tanpa pengendalian sosial dan dialog berkelanjutan, ia khawatir identitas Malang akan terus terkikis dan bergeser menjadi kota konsumsi semata.
Bahasa Arab Masuk Era Digital, PBA UMM Gelar Festival Berskala Nasional

KLIKMU.CO – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak pengembangan bahasa Arab di Indonesia melalui Al Arabiyah Festival Expo (ALEPO) 2026. Ajang berskala nasional yang digelar pada 30–31 Januari 2026 ini menghadirkan lima cabang lomba bahasa Arab yang kompetitif, yakni Kitabah, Ghina Arabi, Qiraatul Kutub, Olimpiade Bahasa Arab untuk siswa SMA/MA sederajat, serta debat bahasa Arab untuk kategori mahasiswa. Kegiatan ini sekaligus menegaskan inovasi pembelajaran bahasa Arab berbasis digital. Ketua Pelaksana ALEPO 2026 Rizki Saputra menjelaskan bahwa nama “ALEPO” memiliki filosofi khusus. Nama tersebut diambil dari salah satu kota di Suriah yang dikenal sebagai pionir pengembangan peradaban dan teknologi dunia. Filosofi ini diterjemahkan ke dalam konsep kegiatan yang menggabungkan kekuatan tradisi bahasa Arab dengan pendekatan pembelajaran modern. “Kami ingin menghadirkan branding bahasa Arab yang tidak kaku, tetapi progresif dan dekat dengan dunia digital. Filosofi ALEPO kami bawa ke konsep kegiatan, mulai dari jenis lomba, sistem penilaian, hingga pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaannya,” jelas Rizki. Dia menambahkan, ALEPO 2026 dirancang bukan sekadar sebagai ajang kompetisi, tetapi juga ruang edukasi dan eksplorasi bagi generasi muda untuk melihat bahasa Arab dari perspektif lebih luas. Menurutnya, bahasa Arab tidak lagi cukup dipahami sebatas bahasa kitab atau kelas formal, tetapi juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan komunikasi global. “Melalui ALEPO, kami ingin menumbuhkan kepercayaan diri peserta bahwa bahasa Arab relevan, hidup, dan menjadi bekal masa depan. Apalagi di era digital, peluang pengembangan bahasa Arab justru semakin terbuka,” ujarnya. Rizki juga menekankan keterlibatan mahasiswa sebagai penggerak utama kegiatan ini sebagai bukti bahwa mahasiswa PBA UMM mampu merespons tantangan zaman secara kreatif. Ia berharap ALEPO dapat terus berkembang dan menjadi agenda nasional yang konsisten dalam mendorong inovasi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. “Kami berharap ALEPO tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi tumbuh menjadi ekosistem yang menghubungkan pelajar, mahasiswa, dan praktisi bahasa Arab di seluruh Indonesia,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua Program Studi PBA UMM Mochammad Firdaus MEd memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan berskala nasional tersebut. Menurutnya, ALEPO bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga ruang aktualisasi dan apresiasi bagi pelajar menengah untuk menumbuhkan minat terhadap bahasa Arab. “Kegiatan ini sangat positif dan strategis. ALEPO mampu menghadirkan wajah pembelajaran bahasa Arab yang kreatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Firdaus. Dia menambahkan, pengangkatan tema digitalisasi pada ALEPO 2026 tepat sebagai respons terhadap pergeseran ekosistem pembelajaran bahasa Arab ke ranah digital. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya seremonial, tetapi juga memiliki visi jangka panjang. “Mahasiswa mampu membaca tantangan zaman. Digitalisasi ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bahasa Arab juga bisa mengikuti perkembangan teknologi,” imbuhnya. Melalui ALEPO 2026, Program Studi PBA UMM semakin mengukuhkan diri sebagai program studi progresif yang peduli terhadap pengembangan potensi generasi muda. Kegiatan ini diharapkan terus menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan bahasa Arab di Indonesia. (Faqih/AS)
Kessos UMM Gelar Kuliah Tamu Internasional bersama AYG Malaysia

pwmu.co –Program Studi (Prodi) Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali menegaskan komitmennya dalam membangun pembelajaran berwawasan global.Hal tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional bekerja sama dengan NGO asal Malaysia, Adab Youth Garage (AYG), pada Kamis (29/1/2026) di ruang rapat My Dormy UMM. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis prodi dalam memperkuat internasionalisasi pembelajaran sekaligus memperkaya pengalaman mahasiswa di bidang pekerjaan sosial berbasis komunitas lintas negara. Dalam kuliah tamu tersebut, perwakilan Adab Youth Garage hadir untuk berbagi pengalaman praktik sosial di Malaysia, khususnya dalam pengembangan komunitas urban. AYG dikenal sebagai organisasi non-pemerintah yang fokus pada pemberdayaan anak dan remaja serta pembangunan kapasitas pemuda. Melalui berbagai program komunitas, AYG menyediakan ruang kegiatan positif bagi anak-anak dan remaja untuk berkembang secara sosial, moral, dan akademik. Pendekatan yang mereka lakukan berbasis komunitas, dengan menekankan partisipasi aktif masyarakat dan penguatan kapasitas generasi muda. Bagi mahasiswa Kesejahteraan Sosial UMM, paparan tersebut menjadi referensi penting untuk memahami dinamika kesejahteraan sosial dalam konteks global, sekaligus membandingkan praktik kerja sosial di Indonesia dan Malaysia. Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM, Hutri Agustino, menyampaikan bahwa kuliah tamu ini bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri. Kerja sama antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dan Adab Youth Garage telah terjalin selama tiga tahun terakhir. “Kolaborasi ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif profesional dan kompetensi sosialnya. Ini juga menjadi motivasi bagi civitas akademika untuk terus membangun jejaring global dalam bidang kesejahteraan sosial,” ujarnya. Mahasiswa UMM memberi paparan dalam kuliah tamu internasional. Foto: Istimewa Selama tiga tahun tersebut, berbagai kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari sharing session tematik, kolaborasi dalam pelaksanaan program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat, hingga penempatan mahasiswa dalam program praktikum. Selain dengan AYG, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM juga menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra internasional lainnya, termasuk Universiti Kebangsaan Malaysia dan berbagai lembaga sosial di kawasan Asia Tenggara. Hutri menambahkan, materi yang disampaikan AYG sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Selain memperluas wawasan internasional, kuliah tamu ini juga memperkuat keterkaitan antara teori yang dipelajari di kelas dengan praktik nyata di lapangan. “Apalagi, sejak tahun lalu Prodi Kesejahteraan Sosial UMM telah meraih akreditasi internasional dari Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA) yang berbasis di Jerman,” ungkapnya. Pencapaian tersebu, timpal dia,, semakin mendorong prodi untuk menghadirkan pembelajaran yang berstandar global. “Internasionalisasi bukan sekadar pemenuhan indikator kinerja, tetapi bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan dan daya saing lulusan,” tegas Hutri. Ditambahkan Hatri, Komitmen internasionalisasi Prodi Kesejahteraan Sosial UMM diwujudkan melalui pendekatan yang terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan. Berbagai kegiatan akademik internasional rutin diselenggarakan, seperti kuliah tamu internasional, international webinar, hingga joint academic activities dengan mitra luar negeri. “Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh perspektif global, memperkaya pemahaman terhadap isu kesejahteraan sosial, serta membandingkan praktik kerja sosial dalam berbagai konteks budaya dan kebijakan,” jelasnya. Dalam aspek kurikulum, katanya, internasionalisasi juga diintegrasikan melalui pengayaan materi berbasis isu global, penggunaan referensi internasional, serta penguatan kompetensi multikultural dan etika kerja sosial internasional. Tujuannya untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, berwawasan global, dan mampu bekerja secara profesional di lingkungan multikultural. “Selain itu, kerja sama kelembagaan dengan universitas dan organisasi sosial internasional diarahkan pada kegiatan yang aplikatif dan berdampak nyata, seperti kolaborasi riset, pengabdian masyarakat internasional, pertukaran pengetahuan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia,” tutup Hutri. (*) *) Penulis : Abdus Salam *) Editor : Agus Wahyudi
Rektor UMM Apresiasi Mutu Layanan RSI Muhammadiyah Sumberrejo, Dorong Sinergi Kesehatan dan Pendidikan

pwmu.co –Rumah Sakit Islam (RSI) Muhammadiyah Sumberrejo, Bojonegoro menerima kunjungan kehormatan dari Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, Ahad (1/2/2026).Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat silaturahmi sekaligus meneguhkan sinergi antar Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan. Selain Prof Nazar, begitu panggilan karibnya, hadir pula Wakil Ketua Pimpinan Wiayah Muhammadiyah (PWM) Jarim H. Khoirul Abduh, M.Si. Kehadiran mereka disambut Wakil Direktur RSI Muhammadiyah Sumberrejo, dr. Megi Munindra, bersama Ketua PCM Sumberrejo, Ustaz H. Adib Susilo, serta jajaran pimpinan rumah sakit dan unsur Persyarikatan Muhammadiyah setempat. Suasana keakraban dan kekeluargaan terasa sejak awal pertemuan, mencerminkan semangat ukhuwah yang menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah. Dalam kunjungannya, Prof. Nazar berkesempatan meninjau sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan RSI Muhammadiyah Sumberrejo. Dia juga berdialog dengan pimpinan rumah sakit mengenai berbagai upaya pengembangan mutu layanan, mulai dari peningkatan profesionalisme tenaga medis hingga penguatan pendekatan pelayanan yang humanis dan berorientasi pada nilai-nilai Islam. “Rumah sakit Muhammadiyah memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pusat layanan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian dari dakwah Persyarikatan yang menghadirkan Islam berkemajuan di tengah masyarakat,” kata pria yang juga menjabat wakil ketua PWM Jatim ini. Pada kesempatan tersebut, Prof. Nazar menyampaikan apresiasi atas komitmen RSI Muhammadiyah Sumberrejo dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berkeadilan bagi masyarakat. “Keberadaan rumah sakit Muhammadiyah di daerah memiliki kontribusi besar dalam memperluas akses layanan kesehatan sekaligus memperkuat misi sosial keumatan,” tegasnya. Prof. Nazar menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara rumah sakit dan perguruan tinggi Muhammadiyah. Sinergi tersebut, menurutnya, dapat diwujudkan melalui pengembangan sumber daya manusia, riset kesehatan, hingga program pengabdian masyarakat yang berdampak luas. “Kolaborasi AUM kesehatan dan pendidikan adalah kekuatan besar Muhammadiyah. Jika dikelola dengan baik, ini akan melahirkan layanan yang unggul sekaligus memberi manfaat nyata bagi umat,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Direktur RSI Muhammadiyah Sumberrejo, dr. Megi Munindra, menyampaikan bahwa kunjungan Rektor UMM menjadi suntikan semangat bagi seluruh jajaran rumah sakit. Dia menegaskan komitmen RSI Muhammadiyah Sumberrejo untuk terus meningkatkan mutu layanan dan memperkuat posisinya sebagai rumah sakit Islam yang unggul dan berkemajuan. “Kunjungan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbenah, meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperkuat peran RSI Muhammadiyah Sumberrejo sebagai bagian dari dakwah dan pelayanan Muhammadiyah,” ujarnya. Rangkaian kunjungan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen bersama untuk terus mempererat sinergi antar Amal Usaha Muhammadiyah. Harapannya, kerja sama yang terjalin dapat semakin memperkuat kontribusi Muhammadiyah dalam membangun kesehatan masyarakat dan kemajuan umat secara berkelanjutan. (*) *) Penulis : Hermin Puji Astutik *) Editor : Agus Wahyudi
Industri Hiburan Kian Marak, Pakar UMM Ingatkan Identitas Kota Pendidikan Malang Terancam

Malangpariwara.com -Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di titik persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial. Di mana hal tersebut membentuk wajah baru kota yang semakin lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota. Tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dalam perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara banyak kepentingan. Layaknya ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Perkembangan Kota Malang dalam Lensa Sosiologi Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., menilai Malang sejak lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. “Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik. Melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” tambahnya. Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan. Dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak Berkelanjutan Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, juga tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah. Yakni dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Sempitnya Ruang Ekspresi di Kampus Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal. Sementara ruang nonformal yang memungkinkan mahasiswa mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Situasi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah. Tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas. Agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Terakhir, ia menekankan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang tegas dari pemerintah daerah. Serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan. Identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi. (Djoko W)
Mahasiswa Akuakultur UMM Wujudkan SDGs melalui Gerakan Ecobrick di Kota Batu

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Sampah plastik bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, melainkan ancaman nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Tumpukan plastik yang sulit terurai terus menekan kualitas ekosistem daratan dan perairan, terutama di kawasan permukiman. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan aksi nyata bertajuk “Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik” di Desa Dadaprejo, Kota Batu, Senin (26/1/2026). Kegiatan ini dipusatkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kecamatan Junrejo. Program tersebut merupakan implementasi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan yang secara langsung mendorong peran mahasiswa dalam mendukung agenda pembangunan global berbasis lingkungan. Sebanyak 16 mahasiswa Akuakultur UMM angkatan 2025 terjun ke lapangan dan berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat untuk menangani timbulan sampah rumah tangga yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Ketua Pelaksana kegiatan, Daffa Rayhan Zaky, menegaskan bahwa aksi ini dirancang sebagai kontribusi konkret mahasiswa terhadap pencapaian SDGs. “Fokus kegiatan kami selaras dengan SDGs poin 15 tentang perlindungan ekosistem daratan. Pengelolaan sampah plastik yang buruk berdampak langsung pada kualitas tanah dan air. Karena itu, kami mendorong solusi sederhana namun berkelanjutan melalui ecobrick,” jelasnya. Metode ecobrick dilakukan dengan memadatkan sampah plastik kering yang telah dipilah ke dalam botol plastik bekas hingga membentuk material yang kuat menyerupai bata atau balok. Inovasi ini tidak hanya mencegah plastik tercecer ke lingkungan, tetapi juga memberikan nilai guna baru. Ecobrick dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, elemen estetika, maupun fasilitas pendukung di area TPST, sekaligus menekan volume sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, M.P., menilai kehadiran mahasiswa di TPST memiliki dampak strategis, terutama dalam aspek edukasi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa tidak berhenti pada tataran akademik. Melalui kegiatan ini, mereka belajar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, sekaligus membantu meringankan beban kerja rutin petugas TPST,” ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat merupakan kunci dalam mewujudkan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Upaya ini diharapkan menjadi langkah jangka panjang untuk menciptakan lingkungan permukiman di Kota Batu yang lebih sehat, bersih, dan lestari. Melalui aksi tersebut, mahasiswa Akuakultur UMM menegaskan bahwa kontribusi terhadap SDGs harus dilakukan secara menyeluruh. Perlindungan ekosistem daratan menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas ekosistem perairan, sejalan dengan fokus keilmuan akuakultur yang mereka tekuni.(*)