Mahasiswa KKN UMM Sinau Budaya di KBP

Mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 sinau budaya di Kampung Budaya Polowijen, Malang (Foto: RRI/Mey) RRI.CO.ID Malang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 14 kembali melaksanakan kegiatan Sinau Budaya pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran kontekstual mahasiswa dalam mengenali, memahami, dan memaknai kekayaan seni serta budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat. Pada sesi Sinau Budaya siang hari, mahasiswa mendapatkan materi bertema “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” yang disampaikan oleh Sulaihah, S.Sos., S.Pd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional khas Malang, mulai dari teknik pembuatan, bahan yang digunakan, nilai filosofis, hingga peluang pengembangan kerajinan sebagai produk ekonomi kreatif berbasis budaya. “Ragam kerajinan tradisional di Malang sangat beragam, berakar dari budaya lokal yang kental dan keterampilan tangan pengrajin, meliputi batik, topeng, keramik, gerabah, payung kertas, wayang, kedang hingga anyaman. Dan tersebar di banyak wilayah,” jelasnya. Sulaihah menekankan bahwa kerajinan tradisional tidak sekadar benda estetik, melainkan representasi cara pandang hidup masyarakat. “Setiap kerajinan memiliki cerita, nilai kesabaran, ketekunan, dan filosofi hidup orang Jawa. Jika generasi muda memahami maknanya, maka pelestarian budaya tidak akan berhenti hanya pada bentuk, tetapi juga pada ruhnya,” ungkapnya. Mahasiswa KKN UMM mendapatkan materi dari Sulaihah, S.Sos., S.Pd, terkait ragam budaya kota Malang (Foto: RRI/Mey) Selain menyampaikan materi, Sulaihah juga membagikan kisah inspiratif perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan dan memasarkan karya kerajinan ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitasnya. Kegiatan Sinau Budaya ini turut didampingi oleh Mbah Jo, budayawan Kampung Budaya Polowijen, yang memperkaya diskusi dengan perspektif lokal. Ia menegaskan pentingnya proses sinau atau belajar langsung dari pelaku budaya. “Budaya itu tidak cukup dipelajari dari buku. Harus disentuh, dipraktikkan, dan dirasakan bersama masyarakat agar nilai-nilainya benar-benar hidup,” tutur Mbah Jo. Diskusi berlangsung interaktif. Salah satu mahasiswa KKN, Shela Putri, mengajukan pertanyaan terkait strategi pemasaran kerajinan tradisional, khususnya mengenai penentuan target pasar. Ia juga menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan tersebut. “Bu Sulaihah menyampaikan materi dengan sangat menyenangkan dan interaktif. Kami jadi paham bahwa kerajinan tradisional tidak hanya soal seni, tapi juga peluang ekonomi dan identitas budaya,” ujarnya. Selain Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga memproduksi berbagai konten budaya bertema makanan tradisional. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong, yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan. Konten ini dirancang agar dapat digunakan sebagai media edukasi budaya, khususnya menjelang momentum Hari Raya Idulfitri. Tak hanya itu, mahasiswa juga mengangkat pembuatan jajanan tradisional seperti cenil, lemet, serta aneka jajanan pasar lainnya sebagai bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional yang mulai jarang dikenal generasi muda. Konten-konten tersebut diharapkan dapat menjadi arsip digital sekaligus sarana promosi budaya berbasis media kreatif. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan atap dari alang-alang, sebagai bentuk pembelajaran langsung mengenai teknik bangunan tradisional yang ramah lingkungan dan sarat nilai kearifan lokal. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 tidak hanya sinau budaya, tetapi juga memaknai budaya sebagai identitas, pengetahuan, dan potensi masa depan. Dengan pendekatan edukasi dan konten kreatif, mahasiswa berharap dapat turut berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Malang agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi selanjutnya. (Mey)
Dari Bangku Keperawatan ke Barak Militer, Ini Kisah Alumnus UMM Jadi Perwira TNI

Perjalanan karier lulusan tenaga kesehatan tidak selalu berakhir di ruang klinis atau fasilitas pelayanan medis. Bagi sebagian alumni, ilmu dan nilai yang diperoleh selama masa perkuliahan justru membuka ruang pengabdian yang lebih luas. Hal itu tercermin dari perjalanan Letda Ckm Rizki Hasan Hafizdin, S.Kep., Ns., alumnus Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang menuntaskan studi profesi pada 2024 dan langsung mengawali pengabdian sebagai Perwira TNI. Dalam menjalankan tugas sebagai perwira, Rizki merasakan bahwa soft skill seperti komunikasi dan kepemimpinan memiliki peran yang sama pentingnya dengan kompetensi teknis keperawatan. Kemampuan public speaking yang diasah sejak masa kuliah melalui presentasi akademik dan forum organisasi menjadi salah satu keterampilan yang paling terasa manfaatnya di lapangan. Ia juga menekankan bahwa kesiapan mental, fisik, serta niat yang kuat merupakan modal utama bagi mahasiswa yang bercita-cita berkarier di TNI. Menurutnya, kemampuan teknis dapat terus diasah, tetapi karakter dasar harus dibangun melalui proses panjang sejak masa perkuliahan. “Kuncinya ada di niat, mental, dan fisik. Kalau itu sudah kuat, hal-hal lain bisa dipelajari. Kampus memberi ruang untuk proses itu, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menilai UMM bukan sekadar tempat menimba ilmu akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter yang menyiapkannya menghadapi dunia pengabdian dengan tuntutan disiplin dan ketahanan mental tinggi. Menurut Rizki, sistem pembelajaran di Program Studi Keperawatan UMM mampu menyeimbangkan penguasaan akademik dengan pembentukan sikap profesional. Dukungan dosen, lingkungan fakultas yang kondusif, serta kultur akademik yang terjaga menjadi fondasi penting dalam proses belajarnya. Ia juga menilai komitmen UMM dalam menjaga mutu pendidikan tercermin dari akreditasi program studi serta pendekatan pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja. “Selama kuliah, kami tidak hanya dituntut memahami teori keperawatan, tetapi juga dibiasakan disiplin, bertanggung jawab, dan tepat waktu. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini ternyata sangat terasa manfaatnya ketika saya masuk ke lingkungan TNI,” ujarnya. Selain aspek akademik, keterlibatan aktif dalam organisasi kemahasiswaan turut membentuk kematangan dirinya. Rizki tercatat pernah mengemban amanah sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA). Pengalaman tersebut, menurutnya, berperan besar dalam melatih kepemimpinan, komunikasi, serta kemampuan mengelola dinamika tim yang beragam. Ia menuturkan, aktivitas organisasi mengajarkannya berkomunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari sesama mahasiswa hingga pimpinan fakultas. Proses berdiskusi, menyelesaikan konflik, membangun kerja sama, hingga menjaga etika komunikasi menjadi bekal berharga yang kini relevan dengan tugasnya sebagai perwira kesehatan di lingkungan militer. “Organisasi itu mendewasakan. Kita belajar problem solving, public speaking, dan mengelola emosi. Hal-hal ini sangat terpakai, terutama ketika bekerja dalam sistem yang hierarkis dan penuh tanggung jawab seperti di TNI,” jelasnya. Terakhir, ia berpesan khususnya kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu aktif di luar kelas dan berproses secara sungguh-sungguh. Ia menilai kombinasi antara prestasi akademik dan pengalaman organisasi menjadi nilai tambah yang membentuk kesiapan lulusan menghadapi tantangan nyata di dunia kerja dan pengabdian. “UMM selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya. Itu yang membuat lulusannya siap bersaing dan berkontribusi di berbagai bidang,” tutupnya.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Industri Hiburan Ancam Marwah Kota Malang sebagai Kota Pendidikan
Lawan Polusi Plastik, Ubah Sampah Jadi Ecobrick
Dewan Perdamaian dan Nalar Publik
Dosen UMM Berdayakan Pekerja Migran di Blitar Usaha Batik Ecoprint

DETIK.COM – Blitar – Tim Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdayakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) purna kembangkan ekonomi kreatif melalui program bertajuk Pembentukan Kelompok Usaha Batik Ecoprint. Pengabdian yang berfokus pada penguatan kemandirian ekonomi masyarakat desa ini dilakukan di Balai Desa Tapakrejo, Blitar, Jawa Timur. Diketuai oleh Dosen Sosiologi UMM Tutik Sulistyowati bersama anggota tim Wehandaka Pancapalaga, pembentukan kelompok usaha Batik Ecoprint menyasar tiga dusun berbeda, yaitu Dusun Sumbermangku, Dusun Mangkurejo dan Dusun Tapakrejo Krajan. Dalam pelaksanaannya, program ini diikuti 15 orang PMI purna yang terbagi dalam tiga kelompok usaha. “Program ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi pekerja migran purna sekaligus sebagai upaya nyata untuk mendorong keberlanjutan ekonomi berbasis potensi lokal, khususnya kaum ibu,” tutur Tutik, Rabu (4/2/2026). Tutik menyebut, agenda tersebut bukan sekadar seremonial semata, melainkan sebagai pintu masuk bagi proses pemberdayaan yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Berdasarkan pengalaman empiris, Tutik menyebut bahwa usaha yang dijalankan secara individu kerap menghadapi keterbatasan, baik dari sisi modal, pemasaran, maupun keberlanjutan produksi. “Oleh karena itu, pendekatan usaha berbasis kelompok akan lebih efektif karena memungkinkan untuk bekerjasama, membagi peran, serta penguatan solidaritas sosial. Jadi, ini akan menjadi ruang untuk saling mendukung dan berkembang bersama,” jelas Tutik. Untuk mengantisipasi dalam merintis usaha agar tidak berhenti di tengah jalan, Tutik bersama timnya menerapkan model kelompok usaha sebagai sarana belajar bersama dalam pengelolaan keuangan, pengambilan keputusan, dan perencanaan usaha jangka panjang. Pemilihan usaha berupa Ecoprint itu sendiri didasari oleh karakternya yang ramah lingkungan, memanfaatkan bahan lokal, serta relatif mudah untuk dikembangkan sebagai usaha skala rumah tangga. “Ecoprint bukan sekadar produk seni, tetapi juga memiliki potensi yang menjanjikan jika dikelola secara kolektif dan berkelanjutan,” ujar Tutik. PMI yang tergabung dalam kelompok usaha ini melaksanakan sistem produksi bersama di mana pembagian tugas akan dapat dilakukan secara lebih efisien, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga pemasaran. Ke depannya, Tutik menjelaskan bahwa pengembangan usaha ini nantinya diarahkan pada pendampingan lanjutan, inovasi produk, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar. “Bagaimana pun, strategi digitalisasi ini menjadi penting agar produk batik ecoprint mampu bersaing dan menjangkau konsumen yang lebih luas,” kata ketua tim tersebut. Program pemberdayaan ini mendapatkan respons positif dari pemerintah desa dengan harapan keberadaan kelompok usaha batik ecoprint ini dapat berjalan secara konsisten dan memberikan dampak nyata. “Tentunya, dukungan desa menjadi modal sosial yang penting agar kelompok usaha ini tumbuh sebagai penggerak ekonomi lokal. Apabila dikelola dengan pendampingan berkelanjutan, kelompok usaha batik ecoprint dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat desa secara lebih luas. Jadi, tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pendapatan PMI purna saja,” Tutik menerangkan. Oleh karena itu, Tutik menegaskan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan kelompok usaha dan pelatihan ecoprint merupakan langkah awal yang strategis. Keberlanjutan program melalui pendampingan, pengembangan usaha, dan digitalisasi menjadi kunci agar tujuan pemberdayaan benar-benar tercapai serta dapat memberikan dampak sosial-ekonomi yang positif bagi PMI purna dan masyarakat desa.
Solar Powered Automatic Irrigation: Solusi Cerdas Mahasiswa UMM untuk Pertanian Masa Depan

Solar Powered Automatic Irrigation System Sketsamalang.com – Kepekaan terhadap persoalan lingkungan menjadi pemantik lahirnya inovasi di lingkungan kampus. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan Solar Powered Automatic Irrigation System, sebuah alat irigasi tetes otomatis berbasis energi surya. Inovasi yang lahir dari mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) ini dirancang untuk mendukung efisiensi pertanian skala kecil sekaligus mewujudkan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Ketua tim pengembang, Isti Rohmania menjelaskan, inovasi ini berawal dari kegelisahan terhadap metode penyiraman manual yang masih dominan di kalangan petani Indonesia. Menurut mahasiswa angkatan 2023 tersebut, penyiraman manual tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga rentan terhadap pemborosan air. “Sistem ini bekerja secara cerdas dan hemat energi. Kami memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik utama yang disimpan dalam baterai untuk mengoperasikan sistem berbasis Arduino,” ujar Isti. Cara Kerja dan Keunggulan Sistem ini mengandalkan sensor kelembapan tanah sebagai komponen kunci. Sensor tersebut mendeteksi kadar air secara real-time, sehingga penyiraman hanya akan dilakukan saat tanaman benar-benar membutuhkannya. “Melalui sensor ini, penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, melainkan menyesuaikan kondisi tanah secara otomatis. Hal ini memastikan penggunaan air menjadi sangat presisi,” tambah Isti. Meski saat ini masih dalam bentuk prototipe pembelajaran, konsep alat ini dirancang fleksibel untuk berbagai jenis tanaman dan kondisi lahan. Penggunaan energi surya menjadi nilai tambah karena mampu menekan biaya operasional petani serta mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional. Ke depannya, sistem ini diproyeksikan tidak hanya menyalurkan air, tetapi juga terintegrasi dengan pemberian pupuk cair, nutrisi, dan vitamin tanaman secara otomatis. Pembelajaran Berbasis Proyek Dosen pembimbing, Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi tinggi terhadap karya mahasiswanya. Ia menilai proyek ini merupakan wujud nyata pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) yang mendorong mahasiswa mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dalam sistem irigasi presisi. “Proyek ini melatih kemampuan pemecahan masalah, desain sistem, dan pengambilan keputusan berbasis data. Inovasi ini membuktikan mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” ungkap Amelia. Karya ini sebelumnya telah dipamerkan dalam Industrial Engineering Expo 2026 UMM. Kehadiran alat ini menegaskan komitmen Teknik Industri UMM dalam mencetak lulusan yang mampu menciptakan teknologi tepat guna bagi masyarakat.
KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen: Etalase Kerajinan Tradisional Malang dan Potensi Ekonomi Kreatif Lokal

SEKILAS MALANG – Malang – Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, kembali menjadi ruang belajar hidup bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada Selasa, 3 Februari 2026, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 melaksanakan kegiatan Sinau Budaya dengan fokus pada pengenalan ragam kerajinan tradisional khas Malang sebagai warisan budaya sekaligus peluang ekonomi kreatif berbasis lokal. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual mahasiswa untuk memahami budaya tidak hanya sebagai artefak masa lalu, tetapi sebagai identitas yang terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan zaman. Mengenal Kerajinan Tradisional Malang dari Aspek Budaya dan Ekonomi Materi bertajuk “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” disampaikan oleh Ibu Sulaihah, S.Sos., S.Pd, pelaku seni dan penggiat budaya. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional Malang, mulai dari batik Malangan, topeng Malangan, keramik Dinoyo, gerabah Betek, payung kertas, wayang, kendang, hingga anyaman bambu dan rotan. Menurutnya, setiap kerajinan lahir dari keterampilan tangan pengrajin yang diwariskan lintas generasi dan sarat nilai filosofis. Namun di sisi lain, kerajinan tradisional juga memiliki nilai jual dan daya saing jika dikemas dengan pendekatan kreatif dan strategi pemasaran yang tepat. “Kerajinan tradisional bukan hanya benda estetik, tapi cermin cara pandang hidup masyarakat. Jika generasi muda memahami maknanya, maka pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada bentuk, tetapi juga pada nilai dan ruhnya,” ujar Ibu Sulaihah. Ia juga membagikan pengalaman perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan kerajinan lokal ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal Malang mampu bersaing di pasar global tanpa kehilangan identitas aslinya. Belajar Budaya Langsung dari Pelaku Lokal Kegiatan Sinau Budaya ini turut didampingi oleh Mbah Jo, budayawan Kampung Budaya Polowijen. Ia menekankan pentingnya proses belajar budaya secara langsung bersama masyarakat. “Budaya itu tidak cukup dipelajari dari buku. Harus disentuh, dipraktikkan, dan dirasakan agar nilai-nilainya benar-benar hidup,” tutur Mbah Jo. Diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa tidak hanya mendengar materi, tetapi juga berdialog tentang tantangan regenerasi pengrajin, pemasaran produk budaya, hingga peran media digital dalam pelestarian budaya. Salah satu mahasiswa KKN, Shela Putri, menanyakan strategi penentuan target pasar untuk kerajinan tradisional di tengah persaingan produk modern. “Materi disampaikan dengan menyenangkan dan mudah dipahami. Kami jadi sadar bahwa kerajinan tradisional bukan hanya soal seni, tetapi juga peluang ekonomi dan identitas daerah,” ungkapnya. Produksi Konten Budaya dan Kuliner Tradisional Malang Selain kegiatan Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga aktif memproduksi konten budaya berbasis digital. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan, sebagai bagian dari edukasi budaya menjelang Hari Raya Idulfitri. Tak hanya itu, pembuatan jajanan tradisional seperti cenil, lemet, dan aneka jajanan pasar turut diangkat sebagai upaya mengenalkan kembali kuliner tradisional Malang yang mulai jarang dikenal generasi muda. Konten-konten tersebut diharapkan menjadi arsip digital budaya sekaligus media promosi kreatif. Belajar Kearifan Lokal Lewat Praktik Bangunan Tradisional Rangkaian kegiatan ditutup dengan praktik langsung pembuatan atap dari alang-alang, sebagai bentuk pembelajaran mengenai teknik bangunan tradisional yang ramah lingkungan dan kaya nilai kearifan lokal. Mahasiswa diajak memahami bagaimana masyarakat tradisional memanfaatkan alam secara berkelanjutan. Budaya sebagai Identitas dan Investasi Masa Depan Melalui KKN Tematik ini, mahasiswa UMM tidak hanya belajar tentang budaya Malang, tetapi juga memaknai budaya sebagai identitas, sumber pengetahuan, dan potensi ekonomi masa depan. Dengan pendekatan edukatif dan konten kreatif, mahasiswa berharap dapat berkontribusi dalam menjaga agar budaya lokal Malang tetap hidup, adaptif, dan dikenal luas oleh generasi selanjutnya. (fbr) Navigasi pos
KKN Tematik UMM Setting Kampung Budaya Polowijen Jadi Etalase Ragam Kerajinan Tradisonal Malang

Pada sesi Sinau Budaya siang hari, mahasiswa mendapatkan materi bertema “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” yang disampaikan oleh Ibu Sulaihah, S.Sos., S.Pd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional khas Malang, mulai teknik pembuatan, bahan yang digunakan (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | KOTA MALANG-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 14 kembali melaksanakan kegiatan Sinau Budaya pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran kontekstual mahasiswa dalam mengenali, memahami, dan memaknai kekayaan seni serta budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat. Pada sesi Sinau Budaya siang hari, mahasiswa mendapatkan materi bertema “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” yang disampaikan oleh Ibu Sulaihah, S.Sos., S.Pd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional khas Malang, mulai dari teknik pembuatan, bahan yang digunakan, nilai filosofis, hingga peluang pengembangan kerajinan sebagai produk ekonomi kreatif berbasis budaya. Ragam kerajinan tradisional di Malang sangat beragam, berakar dari budaya lokal yang kental dan keterampilan tangan pengrajin, meliputi batik, topeng, keramik, gerabah, payung kertas, wayang, kedang hingga anyaman. Sentra utama kerajinan ini tersebar, seperti grabah Betek, Keramik Dinoyo, batik Malangan, topeng Malangan Polowijen, dan kerajinan bambu/rotan di Kabupaten Malang, yang populer sebagai souvenir. Ibu Sulaihah menekankan bahwa kerajinan tradisional tidak sekadar benda estetik, melainkan representasi cara pandang hidup masyarakat. (HO/KLIKTIMES.COM) Ibu Sulaihah menekankan bahwa kerajinan tradisional tidak sekadar benda estetik, melainkan representasi cara pandang hidup masyarakat. “Setiap kerajinan memiliki cerita, nilai kesabaran, ketekunan, dan filosofi hidup orang Jawa. Jika generasi muda memahami maknanya, maka pelestarian budaya tidak akan berhenti hanya pada bentuk, tetapi juga pada ruhnya,” ungkapnya. Selain menyampaikan materi, Ibu Sulaihah juga membagikan kisah inspiratif perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan dan memasarkan karya kerajinan ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitasnya. Selain menyampaikan materi, Ibu Sulaihah juga membagikan kisah inspiratif perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan dan memasarkan karya kerajinan ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal memiliki potensi besar bersaing di tingkat global (HO/KLIKTIMES.COM) Kegiatan Sinau Budaya ini turut didampingi oleh Mbah Jo, budayawan Kampung Budaya Polowijen, yang memperkaya diskusi dengan perspektif lokal. Ia menegaskan pentingnya proses sinau atau belajar langsung dari pelaku budaya. “Budaya itu tidak cukup dipelajari dari buku. Harus disentuh, dipraktikkan, dan dirasakan bersama masyarakat agar nilai-nilainya benar-benar hidup,” tutur Mbah Jo. Diskusi berlangsung interaktif. Salah satu mahasiswa KKN, Shela Putri, mengajukan pertanyaan terkait strategi pemasaran kerajinan tradisional, khususnya mengenai penentuan target pasar. Ia juga menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan tersebut. “Bu Sulaihah menyampaikan materi dengan sangat menyenangkan dan interaktif. Kami jadi paham bahwa kerajinan tradisional tidak hanya soal seni, tapi juga peluang ekonomi dan identitas budaya,” ujarnya. Selain Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga memproduksi berbagai konten budaya bertema makanan tradisional. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong, yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan. (HO/KLIKTIMES.COM) Selain Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga memproduksi berbagai konten budaya bertema makanan tradisional. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong, yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan. Konten ini dirancang agar dapat digunakan sebagai media edukasi budaya, khususnya menjelang momentum Hari Raya Idulfitri. Tak hanya itu, mahasiswa juga mengangkat pembuatan jajanan tradisional seperti cenil, lemet, serta aneka jajanan pasar lainnya sebagai bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional yang mulai jarang dikenal generasi muda. Konten-konten tersebut diharapkan dapat menjadi arsip digital sekaligus sarana promosi budaya berbasis media kreatif. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan atap dari alang-alang, sebagai bentuk pembelajaran langsung mengenai teknik bangunan tradisional yang ramah lingkungan dan sarat nilai kearifan lokal. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 tidak hanya sinau budaya, tetapi juga memaknai budaya sebagai identitas, pengetahuan, dan potensi masa depan. Dengan pendekatan edukasi dan konten kreatif, mahasiswa berharap dapat turut berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Malang agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi selanjutnya.
Mahasiswa UMM Kembangkan Steam Press Ecoprint, Solusi Efisien Produksi Kain Alami

Iqbal Rafif Yuliono, mahasiswa Teknik Industri UMM mengembangkan alat produksi “Steam Press Ecoprint” (umm.ac.id) INDOZONE.ID – Inovasi canggih tak melulu dihasilkan dari ruang labotarium semata. Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), seorang mahasiswa Teknik Industri mengembangkan sebuah alat canggih mumpuni dalam membantu proses ecoprint bernama Steam Press Ecoprint. Ecoprint sendiri merupakan sebuah teknik ramah lingkungan dengan menggunakan pigmen warna alami dari daun, bunga, hungga batang tanaman yang diaplikasikan ke permukaan kain. Inovasi yang dikembangkan oleh Iqbal Rafif Yuliono bersama timnya tersebut hadir sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) Mereka menghadirkan alat ecoprint tersebut sebagai solusi dari kendala yang kerap terjadi di masyarakat, yakni terbatasnya hasil dan durasi produksi yang dihasilkan. Dilansir dari laman resmi UMM, metode konvensional yang masih digunakan oleh para pelaku usaha dinilai tidak optimal dalam menghasilkan ketajaman, kualitas, dan detail warna. “Kami melihat ecoprint itu biasanya dilakukan secara manual atau otomatis. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan keduanya dengan memanfaatkan mesin press yang dipadukan dengan sistem uap,” jelasnya. Berbeda dengan metode konvensional yang mengunakan air, alat canggih tersebut justru bekerja dengan menggabungkan panas, uap, serta tekanan yang dihasilkan oleh pelat logam yang ada di mesin press Hasilnya, warna dan motif kain yang dihasilkan mesin terlihat lebih jelas dan detail. “Ketika kami bandingkan, hasil ecoprint menggunakan uap melalui mesin press warnanya jauh lebih keluar dan motifnya lebih tegas dibandingkan metode kukus biasa,” tuturnya. Sementara itu, salah satu pelaku UMKM, Kenikir Natural Ecoprint, menilai warna yang dihasilkan oleh Steam Press Ecoprint terlihat lebih konsisten. Hadirnya inovasi itu juga tidak bisa dilepaskan dari campur tangan sang dosen pembimbing. Menurut Iqbal, dukungan dari dosen pembimbing sangat krusial, terutama dalam mendorong mahasiswa agar peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan inovasi yang aplikatif. Melalui inovasi tersebut, pihak kampus juga akan turut berkomitmen dalam mendukung segala kebutuhan mahasiswa agar dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas.