Bed Dryer Karya Mahasiswa UMM Jaga Mutu Gabah di Tengah Cuaca Tak Menentu

Kota Malang, Tagarjatim.id – Ketergantungan petani pada sinar matahari dalam proses pengeringan gabah kerap menjadi persoalan serius, terutama saat musim hujan. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, alat pengering gabah yang dirancang lebih efektif untuk menjaga kualitas hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Inovasi bed dryer ini digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri UMM angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Gagasan tersebut berangkat dari hasil penelitian lapangan yang dilakukan di Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, saat musim hujan. Malikul menuturkan, proses penjemuran gabah secara manual menjadi kurang optimal ketika intensitas hujan tinggi. Kondisi tersebut berisiko menurunkan mutu gabah karena kadar air sulit dikendalikan. “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ terlihat bahwa pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Karena itu, kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar beberapa waktu lalu. Bed dryer ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil sehingga proses pengeringan gabah dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tak hanya diperuntukkan bagi gabah padi, alat ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan hasil pertanian lain. “Selain gabah, bed dryer ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh petani,” jelas Malikul. Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah kendala, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Kombinasi antara besi dan aluminium menuntut ketelitian ekstra agar hasil pengelasan tetap optimal dan aman digunakan. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, hasil uji coba menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Ke depan, bed dryer tersebut dirancang untuk dikembangkan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam pada suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, mengapresiasi inovasi tersebut. Menurutnya, bed dryer menjadi contoh nyata peran mahasiswa sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif bagi masyarakat. “Inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia berharap karya tersebut tidak berhenti pada tahap prototipe akademik, melainkan dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap diterapkan secara luas. (*)
Efisiensi Air Irigasi dan Energi
UKM Karate UMM Borong Enam Medali di Piala Kemenpora 2026

Sketsamalang.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil memborong enam medali dalam ajang Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora. Yang digelar di Bandung dan diikuti lebih dari 1.200 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kejuaraan tingkat nasional tersebut, kontingen UMM sukses membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu. Capaian ini diraih oleh enam atlet dari lintas program studi yang menunjukkan bahwa prestasi olahraga di UMM tumbuh seiring dengan keberagaman latar akademik mahasiswa. Adapun para peraih medali kontingen UMM antara lain Arif Tri Dermawan (Manajemen) yang berhasil meraih Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Prestasi berlanjut melalui nomor Kata Beregu Senior Putri yang sukses mengantarkan Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan) meraih Juara 2. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menyumbang medali dengan meraih Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri, serta Ilma Mazida (Teknologi Pangan) yang mengamankan Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. Miranti, salah satu peraih medali, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas hasil yang diraih tim UKM Karate UMM. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya tentang medali. Namun juga tentang proses panjang yang dilalui bersama tim. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ujarnya. Menurut Mira, tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah menjaga fokus dan kekompakan, terutama bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas. Tekanan mental dan fisik menjadi ujian tersendiri mengingat ketatnya persaingan antar atlet dari berbagai daerah. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa kunci keberhasilan tim terletak pada disiplin latihan dan kebersamaan yang terus dijaga sejak masa persiapan. Intensitas latihan yang tinggi, termasuk latihan penuh menjelang keberangkatan, menjadi bagian dari komitmen seluruh atlet meskipun harus berbagi waktu dengan aktivitas akademik. Dukungan kampus turut berperan besar dalam pencapaian ini. UMM memberikan kemudahan izin akademik dan motivasi. Dukungan fasilitas pun disiapkan secara optimal, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kejuaraan berlangsung. Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat bertanding dengan aman, nyaman, dan fokus memberikan performa terbaik. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas prestasi UKM Karate UMM. Ia menilai capaian ini sebagai wujud nyata pembinaan kemahasiswaan yang berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran pelatih dan semangat konsisten para atlet dalam berlatih dan bertanding. Dengan capaian tersebut, UKM Karate UMM diharapkan dapat terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama kampus di level nasional hingga internasional. (*)
Tim UKM Karate UMM Boyong 6 Medali Kejuaraan Piala Menpora 2026

www.majelistabligh.id – Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil memborong enam medali dalam ajang Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora. Kompetisi itu digelar di Bandung dan diikuti lebih dari 1.200 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kejuaraan tingkat nasional tersebut, kontingen UMM sukses membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu. Capaian ini diraih oleh enam atlet dari lintas program studi yang menunjukkan bahwa prestasi olahraga di UMM tumbuh seiring dengan keberagaman latar akademik mahasiswa. Adapun para peraih medali kontingen UMM adalah: Arif Tri Dermawan (Manajemen) yang berhasil meraih Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan) meraih Juara 2 nomor Kata Beregu Senior Putri. Miranti Eka Pranejia, Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri. Ilma Mazida (Teknologi Pangan) Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. Miranti, salah satu peraih medali, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas hasil yang diraih tim UKM Karate UMM. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya tentang medali. Namun juga tentang proses panjang yang dilalui bersama tim. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ujarnya. Menurut Mira, tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah menjaga fokus dan kekompakan, terutama bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas. Tekanan mental dan fisik menjadi ujian tersendiri mengingat ketatnya persaingan antar atlet dari berbagai daerah. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa kunci keberhasilan tim terletak pada disiplin latihan dan kebersamaan yang terus dijaga sejak masa persiapan. Intensitas latihan yang tinggi, termasuk latihan penuh menjelang keberangkatan, menjadi bagian dari komitmen seluruh atlet meskipun harus berbagi waktu dengan aktivitas akademik. Dukungan kampus turut berperan besar dalam pencapaian ini. UMM memberikan kemudahan izin akademik dan motivasi. Dukungan fasilitas pun disiapkan secara optimal, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kejuaraan berlangsung. Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat bertanding dengan aman, nyaman, dan fokus memberikan performa terbaik. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas prestasi UKM Karate UMM. Ia menilai capaian ini sebagai wujud nyata pembinaan kemahasiswaan yang berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” tuturnya. (*/tim)
Efisiensi Air dan Energi, Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Tenaga Surya

MALANG POST – Kepekaan membaca persoalan di sekitar menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Solar Powered Automatic Irrigation System. Sebuah alat irigasi tetes otomatis berbasis energi surya yang lahir dari ruang kelas dan dirancang untuk mendukung pertanian skala kecil agar lebih efisien dan berkelanjutan. Inovasi ini sekaligus menjadi wujud komitmen akademik UMM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Inovasi tersebut dikembangkan oleh Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya. Berangkat dari pengamatan terhadap praktik pertanian di Indonesia, Isti menyoroti masih banyaknya petani yang mengandalkan penyiraman manual. Metode ini tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga berpotensi menyebabkan pemborosan air. Dari persoalan sederhana tersebut, timnya merancang sistem irigasi tetes otomatis yang bekerja secara cerdas dan hemat energi. Sistem irigasi ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik utama. Energi yang dihasilkan disimpan dalam baterai dan digunakan untuk mengoperasikan sistem berbasis Arduino. Sensor kelembaban tanah menjadi komponen kunci yang menentukan kapan tanaman membutuhkan air, sehingga penyiraman hanya dilakukan saat kondisi tanah benar-benar memerlukannya. “Melalui sensor kelembapan tanah, sistem ini bisa menyesuaikan kebutuhan air tanaman secara otomatis. Penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, tetapi berdasarkan kondisi tanah,” jelas Isti 30 Januari 2026 kepada Tim Humas UMM yang diteruskan ke Malang Post. Sebagai prototipe pembelajaran, sistem ini masih diterapkan dalam skala terbatas. Meski demikian, konsepnya dirancang fleksibel dan adaptif untuk berbagai jenis tanaman serta kondisi lahan. Penggunaan energi surya menjadi nilai tambah karena mampu mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional sekaligus menekan biaya operasional petani. Dari sisi keberlanjutan, inovasi ini tidak hanya berfokus pada efisiensi air dan energi, tetapi juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut. Ke depan, sistem irigasi ini berpotensi dikombinasikan dengan penyaluran pupuk cair, nutrisi, maupun vitamin tanaman, sehingga perawatan tanaman dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dan presisi. Bagi Isti, proyek ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Ia menilai mata kuliah P3 mendorong mahasiswa untuk berpikir sistematis, bekerja kolaboratif, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat. “Lewat proyek ini, kami belajar bahwa inovasi tidak harus rumit. Yang terpenting adalah berangkat dari masalah nyata dan menghadirkan solusi yang bisa diterapkan,” ujarnya. Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai pengembangan Solar Powered Automatic Drip Irrigation System merupakan wujud pembelajaran berbasis proyek yang mendorong mahasiswa mengintegrasikan teknologi IoT dalam sistem irigasi presisi. Inovasi ini mencakup pengendalian kelembapan tanah hingga pengaturan pemberian air dan nutrisi secara otomatis. Menurutnya, proyek tersebut tidak hanya melatih kemampuan pemecahan masalah, desain sistem, dan pengambilan keputusan berbasis data, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi smart irrigation system yang efisien, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat. “Inovasi seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” tuturnya. Capaian pada Industrial Engineering Expo 2026 UMM menjadi gambaran bagaimana pembelajaran berbasis proyek di Teknik Industri UMM mampu melahirkan inovasi yang aplikatif dan berdampak. Tak berhenti sebagai tugas perkuliahan, Solar Powered Automatic Irrigation System menunjukkan potensi mahasiswa UMM dalam berkontribusi pada pengembangan teknologi tepat guna dan pertanian berkelanjutan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Whipped Cream Gunakan Dinitrogen Oksida, Dokter UMM: Menyimpan Risiko Kesehatan Serius

MALANG POST – Penggunaan gas Dinitrogen Oksida (N₂O) diluar kepentingan medis dan kuliner dalam pembuatan whipped cream menyimpan risiko kesehatan serius yang tidak bisa dianggap ringan. Dalam dunia medis, gas ini sejatinya merupakan bagian dari praktik anestesi yang penggunaannya dibatasi secara ketat, namun belakangan justru disalahgunakan untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Tanpa pengawasan dokter, N₂O dapat mengganggu proses pertukaran oksigen di paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hipoksia, yakni kekurangan oksigen dalam tubuh yang dapat berujung pada gangguan pernapasan hingga kematian mendadak. “Kandungan dalam gas pembuat whipped cream itu sebenarnya adalah N₂O, yang di medis dikenal sebagai gas tertawa, tetapi efeknya tidak sesederhana tertawa saja. N₂O memicu pelepasan hormon endorfin di dalam tubuh, hormon yang efeknya menyerupai morfin.” “Efek ini menimbulkan sensasi nyaman, rileks, dan euforia ringan, sehingga sering kali membuat penggunanya merasa aman. Padahal, sensasi tersebut justru menutupi risiko fisiologis yang berbahaya bagi sistem pernapasan,” ujar dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI., Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Tim Humas UMM yang dilanjutkan ke Malang Post, 2 Februari 2026. Pria yang juga dokter anestesi dan terapi intensif Rumah Sakit UMM itu menjelaskan. Bahwa dalam praktik kedokteran, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas ini selalu dikombinasikan dengan oksigen serta anestesi lain dalam dosis terukur untuk menekan efek samping dan menjaga keselamatan pasien. Fungsinya adalah sebagai analgesik untuk meredakan nyeri dan ansiolitik untuk memberikan efek menenangkan, bukan sebagai zat rekreasional. Seluruh proses penggunaannya dilakukan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap fungsi pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien. Ia mengatakan jika masalah besar muncul ketika N₂O dihirup 100 persen tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan dokter. “N₂O memiliki sifat mudah berdifusi dan cepat mengisi ruang kosong contohnya di paru, sehingga saat menggunakan N20 dan penggunaannya N2O dihentikan, N2O yang sudah berada di dalam tubuh akan cepat berdifusi ke keluar tubuh dan menumpuk di paru.” “Akibatnya oksigen gagal masuk ke dalam aliran darah melalui paru yang penuh dengan N2O. Ketika pertukaran oksigen terganggu, kadar oksigen dalam darah akan turun drastis atau mengalami desaturasi. Dalam hitungan menit, kondisi ini dapat memicu penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu dengan kelainan jantung yang belum terdeteksi sebelumnya,” ujarnya. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana informasi kesehatan kerap tereduksi ketika berpindah ke ruang publik dan media sosial. Gas N₂O yang belum beredar luas di masyarakat tetap berpotensi disalahgunakan ketika dipersepsikan sebagai barang aman dan legal tanpa pemahaman ilmiah yang memadai. Ketiadaan narasi risiko yang kuat membuat praktik ini tampak tidak berbahaya, padahal dampaknya bisa fatal. Kondisi ini memperlihatkan celah besar dalam edukasi kesehatan publik, khususnya terkait zat medis yang penggunaannya sangat spesifik. “Selain risiko jangka pendek, penyalahgunaan N₂O juga berdampak pada kesehatan jangka panjang. Paparan berulang dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. Akibatnya, pengguna berisiko mengalami gangguan neurologis seperti nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan secara perlahan.” “Dampak ini sering tidak disadari karena muncul dalam jangka waktu lama dan tidak langsung terasa, sehingga banyak pengguna tidak mengaitkan keluhan fisik dengan riwayat paparan gas tersebut,” ujarnya. Dokter anestesi tersebut menegaskan bahwa penggunaan gas seperti N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan pengawasan ketat dan dukungan alat bantu pernapasan. Ia mengingatkan bahwa kegagalan pertukaran oksigen di paru-paru, meskipun hanya berlangsung beberapa menit terutama lebih dari empat menit dapat berakibat fatal.” “Terlebih pada individu dengan gangguan jantung atau pernapasan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Karena itu, fenomena whip pink menjadi peringatan penting bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang mengancam keselamatan jiwa.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Mahasiswa UMM Rancang Bed Dryer Pengering Gabah

timsindonesia, MALANG – Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan bed dryer, teknologi pengering gabah yang dirancang lebih efektif dan stabil untuk menjaga mutu hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Inovasi bed dryer tersebut digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Melalui penelitian lapangan, Malikul melihat secara langsung kesulitan petani dalam mengeringkan gabah saat musim hujan. Cuaca yang tidak stabil membuat metode penjemuran tradisional menjadi kurang efektif dan berisiko menurunkan kualitas panen. “Ketika kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ terlihat bahwa pengeringan gabah secara manual kurang optimal. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar Malikul, Sabtu (1/2/2026). Bed dryer ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tidak hanya untuk gabah padi, alat ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lain. “Selain gabah, bed dryer ini dapat dimanfaatkan untuk biji-bijian seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” jelas Malikul. Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Kombinasi bahan besi dan aluminium menuntut ketelitian tinggi agar hasil pengelasan tetap optimal. “Kami sempat mengalami kesulitan karena perbedaan karakter material, sehingga proses pengerjaan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkapnya. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, prototipe tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Ke depan, bed dryer ini dirancang untuk direalisasikan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam, menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., menilai inovasi bed dryer merupakan wujud nyata kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi teknik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Karya ini menunjukkan kemampuan mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia menilai karya tersebut mencerminkan peran engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Thomy berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan, baik dari sisi efisiensi energi, ergonomi, maupun kesiapan implementasi di lapangan. “Harapannya, karya ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap digunakan secara luas,” tambahnya. (*)
Mahasiswa UMM Ciptakan Bed Dryer Pengering Gabah Berbasis Minyak Jelantah

Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi teknologi tepat guna berupa Bed Dryer. Alat pengering gabah ini dirancang untuk menjaga kualitas hasil panen tetap stabil meski tanpa sinar matahari. Inovasi ini lahir dari ide Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022, bersama rekan timnya. Ide tersebut muncul setelah mereka melakukan observasi mendalam terhadap keresahan petani di daerah Malang Raya yang sering merugi akibat gabah yang membusuk atau menurun kualitasnya saat musim penghujan. Selama ini, mayoritas petani di Indonesia masih mengandalkan metode penjemuran konvensional di bawah sinar matahari. Namun, metode ini sangat berisiko ketika cuaca tidak menentu. “Saat kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Kami melihat langsung betapa tidak efektifnya pengeringan manual dalam kondisi tersebut. Itulah yang memicu kami merancang bed dryer sebagai solusi konkret bagi petani,” ujar Malikul Arifin pada Kamis (5/2/2026). Salah satu keunggulan utama dari bed dryer buatan mahasiswa UMM ini adalah sumber energinya yang ekonomis dan ramah lingkungan. Alat ini memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pematik. Kombinasi material ini diklaim mampu menghasilkan suhu panas yang lebih stabil dibandingkan bahan bakar lainnya. Dengan panas yang konsisten, proses penguapan kadar air dalam gabah dapat berlangsung lebih merata dan berkelanjutan tanpa merusak struktur biji padi. Tidak terbatas pada gabah padi, Malikul menjelaskan bahwa alat ini memiliki multifungsi untuk komoditas pertanian lainnya. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk mengeringkan biji-bijian lain seperti jagung hingga kopi. Jadi, cakupan manfaatnya bagi sektor pertanian lebih luas,” imbuhnya. Meski saat ini masih dalam bentuk prototipe berskala 1:10, hasil uji coba teknis menunjukkan angka yang sangat menjanjikan. Berdasarkan data pengujian, alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga mencapai angka ideal, yaitu 12–14 persen. Keunggulan teknis rencana realisasi skala penuh alat ini meliputi kapasitasnya yang mampu menampung sekitar 500 kilogram gabah, proses pengeringan tuntas dalam waktu kurang lebih 8 jam, dan mampu menjaga suhu di kisaran 40–50 derajat Celsius (suhu paling aman untuk menjaga mutu pangan). Namun, proses pengerjaannya bukan tanpa hambatan. Tim harus bekerja ekstra teliti pada tahap pengelasan karena adanya kombinasi material besi dan aluminium yang memerlukan teknik khusus agar alat tetap kokoh dan presisi. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi tinggi terhadap proyek Capstone Design ini. Menurutnya, karya ini adalah bukti nyata bahwa mahasiswa UMM mampu menjadi problem solver bagi permasalahan di masyarakat dan UMKM. “Karya ini menunjukkan kemampuan teknis yang lengkap, mulai dari identifikasi kebutuhan pengguna, pemilihan material, hingga pengujian fungsi. Saya berharap ini tidak berhenti di level prototipe akademik saja,” tegas Thomy. Ia mendorong adanya langkah lebih lanjut berupa kerja sama dengan pihak industri atau inkubasi produk agar teknologi ini bisa segera dihilirisasi. “Dengan begitu, teknologi bed dryer ini bisa digunakan secara massal oleh kelompok tani di berbagai daerah untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional,” kata Thomy menutup. (dan/ted)
UMM Perkuat Kerja Sama Internasional dengan IIUM dan UiTM Malaysia, Siapkan Pendirian Magister Fisioterapi

Malang, JurnalPost.com — Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat jejaring internasional dengan menjalin dan melanjutkan kerja sama strategis bersama International Islamic University Malaysia (IIUM) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Kolaborasi yang telah terjalin sejak lama ini menjadi langkah awal sekaligus bentuk komitmen bersama dalam mempersiapkan pendirian Program Studi Magister Fisioterapi yang direncanakan dibuka pada tahun depan. Kerja sama antara Fisioterapi UMM dengan IIUM dan UiTM mencakup berbagai bidang, mulai dari pengembangan akademik, riset kolaboratif, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga penguatan kurikulum berbasis internasional. Hubungan yang berkesinambungan ini dinilai menjadi fondasi kuat dalam meningkatkan kualitas pendidikan fisioterapi di tingkat regional Asia Tenggara. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM Dimas Sondang Irawan, PhD menyampaikan bahwa kolaborasi internasional tersebut bukan sekadar kerja sama formal, melainkan kemitraan akademik yang saling menguatkan. “Hubungan yang sudah terbangun lama dengan IIUM dan UiTM menjadi modal penting bagi kami untuk melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu pendirian Program Studi Magister Fisioterapi,” ujarnya. Melalui kerja sama ini, Fisioterapi UMM berkomitmen mengadopsi praktik terbaik (best practices) dari mitra internasional, khususnya dalam pengembangan kurikulum magister yang adaptif terhadap kebutuhan global, berbasis evidence-based practice, serta relevan dengan tantangan kesehatan masyarakat modern. Sementara itu, pihak IIUM dan UiTM menyambut baik rencana pengembangan Magister Fisioterapi UMM. Keduanya menilai UMM memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan fisioterapi di Indonesia, didukung oleh sumber daya akademik, pengalaman riset, serta rekam jejak kerja sama internasional yang konsisten. Rencana pendirian Program Studi Magister Fisioterapi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas akademik dosen dan lulusan, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan keilmuan fisioterapi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ke depan, UMM menargetkan program magister ini menjadi ruang kolaborasi lintas negara dalam riset, inovasi layanan fisioterapi, dan penguatan peran fisioterapis di masyarakat. Dengan langkah strategis ini, Universitas Muhammadiyah Malang menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi global, progresif, dan berkomitmen pada pengembangan pendidikan kesehatan yang berkualitas.
Ramai Disalahgunakan, Dokter Anestesi Peringatkan Risiko Fatal Gas N2O

Bisnis.com, MALANG — Penggunaan gas Dinitrogen Oksida (N₂O) diluar kepentingan medis dan kuliner dalam pembuatan whipped cream menyimpan risiko kesehatan serius yang tidak bisa dianggap ringan. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Shonif Akbar, mengatakan dalam dunia medis, gas ini sejatinya merupakan bagian dari praktik anestesi yang penggunaannya dibatasi secara ketat, namun belakangan justru disalahgunakan untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Tanpa pengawasan dokter, N₂O dapat mengganggu proses pertukaran oksigen di paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hipoksia, yakni kekurangan oksigen dalam tubuh yang dapat berujung pada gangguan pernapasan hingga kematian mendadak. “Kandungan dalam gas pembuat whipped cream itu sebenarnya adalah N₂O, yang di medis dikenal sebagai gas tertawa, tetapi efeknya tidak sesederhana tertawa saja. N₂O memicu pelepasan hormon endorfin di dalam tubuh, hormon yang efeknya menyerupai morfin. Efek ini menimbulkan sensasi nyaman, rileks, dan euforia ringan, sehingga sering kali membuat penggunanya merasa aman. Padahal, sensasi tersebut justru menutupi risiko fisiologis yang berbahaya bagi sistem pernapasan,” ujarnya dikutip Rabu (4/2/2026). Pria yang juga dokter anestesi dan terapi intensif Rumah Sakit UMM itu menjelaskan bahwa dalam praktik kedokteran, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas ini selalu dikombinasikan dengan oksigen serta anestesi lain dalam dosis terukur untuk menekan efek samping dan menjaga keselamatan pasien. Fungsinya adalah sebagai analgesik untuk meredakan nyeri dan ansiolitik untuk memberikan efek menenangkan, bukan sebagai zat rekreasional. Seluruh proses penggunaannya dilakukan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap fungsi pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien. Dia mengatakan, jika masalah besar muncul ketika N₂O dihirup 100 persen tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan dokter. “N₂O memiliki sifat mudah berdifusi dan cepat mengisi ruang kosong contohnya di paru, sehingga saat menggunakan N20 dan penggunaannya N2O dihentikan, N2O yang sudah berada di dalam tubuh akan cepat berdifusi ke keluar tubuh dan menumpuk di paru,” ujarnya. Akibatnya oksigen gagal masuk ke dalam aliran darah melalui paru yang penuh dengan N2O. Ketika pertukaran oksigen terganggu, kadar oksigen dalam darah akan turun drastis atau mengalami desaturasi. Dalam hitungan menit, kondisi ini dapat memicu penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu dengan kelainan jantung yang belum terdeteksi sebelumnya. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana informasi kesehatan kerap tereduksi ketika berpindah ke ruang publik dan media sosial. Gas N₂O yang belum beredar luas di masyarakat tetap berpotensi disalahgunakan ketika dipersepsikan sebagai barang aman dan legal tanpa pemahaman ilmiah yang memadai. Ketiadaan narasi risiko yang kuat membuat praktik ini tampak tidak berbahaya, padahal dampaknya bisa fatal. Kondisi ini memperlihatkan celah besar dalam edukasi kesehatan publik, khususnya terkait zat medis yang penggunaannya sangat spesifik. “Selain risiko jangka pendek, penyalahgunaan N₂O juga berdampak pada kesehatan jangka panjang. Paparan berulang dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. Akibatnya, pengguna berisiko mengalami gangguan neurologis seperti nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan secara perlahan. Dampak ini sering tidak disadari karena muncul dalam jangka waktu lama dan tidak langsung terasa, sehingga banyak pengguna tidak mengaitkan keluhan fisik dengan riwayat paparan gas tersebut,” ujarnya. Dokter anestesi tersebut menegaskan bahwa penggunaan gas seperti N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan pengawasan ketat dan dukungan alat bantu pernapasan. Dia mengingatkan, kegagalan pertukaran oksigen di paru-paru, meskipun hanya berlangsung beberapa menit terutama lebih dari empat menit dapat berakibat fatal, terlebih pada individu dengan gangguan jantung atau pernapasan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Karena itu, dia menegaskan, fenomena whip pink menjadi peringatan penting bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang mengancam keselamatan jiwa. (K24)