Bahaya Gas N₂O di Balik Whipped Cream, Pakar UMM Malang: Sensasi Euforia yang Mengancam Nyawa

malangtimes, MALANG – Penggunaan gas dinitrogen oksida (N₂O) di luar kepentingan medis dan kuliner menyimpan risiko kesehatan serius yang tidak bisa dianggap sepele. Dalam dunia kedokteran, gas ini merupakan bagian dari praktik anestesi dengan pengawasan ketat. Namun belakangan, N₂O justru disalahgunakan untuk mendapatkan sensasi euforia sesaat, terutama melalui inhalasi gas dari tabung whipped cream. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI., menjelaskan bahwa N₂O dikenal sebagai gas tertawa karena kemampuannya memicu pelepasan hormon endorfin di dalam tubuh. Efek tersebut menimbulkan rasa nyaman, rileks, dan euforia ringan, yang kerap membuat penggunanya merasa aman. “Padahal sensasi itu justru menutupi risiko fisiologis yang sangat berbahaya bagi sistem pernapasan,” ujar dr. Shonif kepada Tim Humas UMM, 2 Februari lalu. Sebagai dokter anestesi dan terapi intensif di Rumah Sakit UMM, ia menegaskan bahwa dalam praktik medis, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas ini selalu dikombinasikan dengan oksigen dan anestesi lain dalam dosis terukur, serta diberikan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap fungsi pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien. Masalah serius muncul ketika N₂O dihirup murni tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan tenaga medis. Sifat N₂O yang mudah berdifusi membuat gas ini cepat memenuhi paru-paru. Saat pemakaian dihentikan, N₂O dapat kembali menumpuk di paru sehingga menghambat masuknya oksigen ke aliran darah. “Akibatnya terjadi penurunan kadar oksigen secara drastis atau desaturasi. Dalam hitungan menit, kondisi ini bisa memicu penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu dengan kelainan jantung yang belum terdeteksi,” jelasnya. Selain risiko akut, dr. Shonif juga mengingatkan adanya dampak jangka panjang akibat paparan N₂O berulang. Gas ini dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berisiko menyebabkan nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan yang muncul secara perlahan. Fenomena penyalahgunaan N₂O menunjukkan masih lemahnya literasi kesehatan publik. Gas yang dipersepsikan legal dan aman ini kerap digunakan tanpa pemahaman ilmiah yang memadai, terlebih ketika informasi yang beredar di media sosial minim narasi risiko. Dr. Shonif menegaskan bahwa kegagalan pertukaran oksigen di paru-paru, meskipun hanya berlangsung beberapa menit—terutama lebih dari empat menit—dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, penggunaan N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan pengawasan ketat. Fenomena whip pink pun menjadi peringatan serius bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang mengancam keselamatan jiwa.(*)

Mahasiswa UMM Kembangkan Bed Dryer Gabah, Solusi Panen di Tengah Cuaca Tak Menentu

Malangpariwara.com – Ketergantungan petani pada sinar matahari kerap berujung pada turunnya kualitas panen, terutama saat musim hujan ketika proses penjemuran tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer gabah. Sebuah teknologi pengeringan gabah yang dirancang lebih efektif dan stabil untuk menjaga mutu hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Bed dryer tersebut digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Melalui penelitian lapangan, Malikul melihat langsung kesulitan petani dalam mengeringkan gabah saat musim hujan. Cuaca yang tidak stabil membuat proses penjemuran tradisional menjadi kurang optimal dan berisiko menurunkan kualitas hasil panen. “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar Malikul kepada Tim Humas UMM, 1 Februari lalu. Manfaatkan Minyak Jelantah Alat ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tak hanya untuk gabah padi, bed dryer ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lainnya. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” jelas Malikul. Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Mereka harus memastikan bahan yang digunakan tepat agar hasil pengelasan optimal. “Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkapnya. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Alat bed dryer, inovasi yang digunakan untuk mengeringkan padi. (Ist) Meski demikian, prototipe tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga berada pada kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Realisasi Skala Besar Ke depan, bed dryer ini dirancang untuk direalisasikan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam. Menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi atas capaian mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi bed dryer merupakan wujud nyata kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi teknik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Saya mengapresiasi mahasiswa Capstone Design yang berhasil merancang bed dryer sebagai solusi nyata bagi permasalahan UMKM. Karya ini menunjukkan kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia juga menilai karya ini mencerminkan peran seorang engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Ke depan, ia berharap alat tersebut dapat terus dikembangkan dari berbagai aspek, mulai dari efisiensi energi, ergonomi, hingga kesiapan implementasi di lapangan. “Harapannya, karya ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM. Juga inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap digunakan secara luas,” tambahnya. Melalui inovasi bed dryer ini, mahasiswa Teknik Industri UMM tidak hanya menghasilkan karya akademik. Tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan semangat berkarya. Di mana mampu melahirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat. (Djoko W)

Berjaya, Karate UMM Borong Enam Medali di Kejurnas

RRI.CO.ID, Malang – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil memborong enam medali dalam ajang Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora. Kompetisi itu digelar di Bandung dan diikuti lebih dari 1.200 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kejuaraan tingkat nasional tersebut, kontingen UMM sukses membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu. Capaian ini diraih oleh enam atlet dari lintas program studi yang menunjukkan bahwa prestasi olahraga di UMM tumbuh seiring dengan keberagaman latar akademik mahasiswa. Adapun para peraih medali kontingen UMM antara lain Arif Tri Dermawan (Manajemen) yang berhasil meraih Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Prestasi berlanjut melalui nomor Kata Beregu Senior Putri yang sukses mengantarkan Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan) meraih Juara 2. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menyumbang medali dengan meraih Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri, serta Ilma Mazida (Teknologi Pangan) yang mengamankan Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. Miranti, salah satu peraih medali, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas hasil yang diraih tim UKM Karate UMM. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya tentang medali. Namun juga tentang proses panjang yang dilalui bersama tim. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ujarnya,” Kamis (5/1/2026). Menurut Mira, tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah menjaga fokus dan kekompakan, terutama bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas. Tekanan mental dan fisik menjadi ujian tersendiri mengingat ketatnya persaingan antar atlet dari berbagai daerah. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa kunci keberhasilan tim terletak pada disiplin latihan dan kebersamaan yang terus dijaga sejak masa persiapan. Intensitas latihan yang tinggi, termasuk latihan penuh menjelang keberangkatan, menjadi bagian dari komitmen seluruh atlet meskipun harus berbagi waktu dengan aktivitas akademik. Dukungan kampus turut berperan besar dalam pencapaian ini. UMM memberikan kemudahan izin akademik dan motivasi. Dukungan fasilitas pun disiapkan secara optimal, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kejuaraan berlangsung. Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat bertanding dengan aman, nyaman, dan fokus memberikan performa terbaik. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas prestasi UKM Karate UMM. Ia menilai capaian ini sebagai wujud nyata pembinaan kemahasiswaan yang berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran pelatih dan semangat konsisten para atlet dalam berlatih dan bertanding. Dengan capaian tersebut, UKM Karate UMM diharapkan dapat terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama kampus di level nasional hingga internasional.

Dorong Produktivitas Pertanian, Mahasiswa UMM Kembangkan Pengering Gabah

MAKLUMAT – Upaya meningkatkan kualitas produk pertanian terus dilakukan kalangan akademisi. Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi pengering gabah berbasis teknologi tepat guna untuk menjawab persoalan klasik petani saat musim hujan. Inovasi tersebut berupa bed dryer. Ini merupakan alat pengering gabah untuk mempercepat proses pengeringan gabar tidak lagi bergantung pada sinar matahari. Gagasan ini lahir dari Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri UMM angkatan 2022. Ide muncul setelah melihat langsung kesulitan petani saat menjemur gabah di musim hujan. Bukan Riset Kaleng-kaleng Pengalaman lapangan itu ia dapat bersama tim, setelah melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Saat itu, cuaca yang tidak menentu membuat proses penjemuran tradisional berjalan tidak optimal dan berisiko menurunkan mutu hasil panen. “Waktu penelitian di lapangan sedang musim hujan. Pengeringan gabah yang manual, jelas tidak efektif. Dari situ kami merancang bed dryer sebagai solusi,” kata Malikul. Pengering gabah ini memanfaatkan panas hasil pembakaran minyak jelantah, hasil kombinasi dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil sehingga pengeringan berlangsung merata dan berkelanjutan. Butuh Waktu dan Pengembangan Tak hanya untuk gabah padi, alat ini juga berpotensi untuk mengeringkan hasil pertanian lain seperti jagung dan kopi. “Dengan begitu, manfaat inovasi ini dapat dirasakan lebih luas oleh petani,” jelasnya menambahkan. Dalam proses pengembangan, tim mahasiswa UMM menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Perbedaan karakter bahan besi dan aluminium menuntut ketelitian agar alat tetap aman dan berfungsi optimal. Saat ini, bed dryer masih berupa prototipe berskala 1:10. Meski demikian, hasil uji coba menunjukkan kinerja menjanjikan. Alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga kisaran ideal 12–14 persen. Ke depan, pengering gabah dirancang berkapasitas hingga 500 kilogram gabah dalam waktu sekitar delapan jam dengan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Pentingnya Inovasi Teknologi Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., mengapresiasi inovasi tersebut. Menurutnya, bed dryer merupakan contoh nyata peran mahasiswa sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif bagi sektor pertanian. “Karya ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi kebutuhan di lapangan, merancang sistem, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” ujarnya. Ia berharap inovasi pengering gabah ini tidak berhenti sebagai proyek akademik semata, melainkan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kerja sama dengan UMKM dan petani, hingga siap digunakan secara luas.

Mahasiswa Teknik Industri UMM Gagas Teknologi Pengering Gabah Portabel

Kota Malang, Bhirawa Ketergantungan petani terhadap sinar matahari dalam proses pasca-panen seringkali menjadi kendala besar, terutama saat cuaca tidak menentu. Kondisi ini memicu penurunan kualitas gabah akibat proses pengeringan yang tidak sempurna. Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, sebuah teknologi pengeringan gabah portabel yang dirancang efektif menjaga mutu hasil panen. Inovasi ini digarap oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022, bersama timnya. Ia menceritakan bahwa ide ini lahir dari keprihatinan saat melihat langsung kesulitan petani di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang. “Kami melihat langsung saat musim hujan, pengeringan manual memakan waktu lama dan hasilnya tidak merata. Inilah yang mendorong kami menciptakan bed dryer agar petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada cuaca,” ungkap Malikul, Kamis (5/2). Salah satu keunggulan alat ini terletak pada efisiensi energinya. Bed dryer rakitan mahasiswa UMM ini memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah. Penggunaan limbah dapur ini dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media bakar untuk menghasilkan suhu yang stabil. Selain untuk padi, alat ini memiliki fleksibilitas tinggi. “Sistemnya bisa digunakan untuk komoditas biji-bijian lain, seperti jagung dan kopi. Jadi manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh pelaku UMKM pertanian,” tambahnya. Meski saat ini masih dalam bentuk prototipe berskala 1:10, hasil uji coba menunjukkan performa yang presisi. Alat ini mampu menekan kadar air gabah hingga menyentuh angka 12-14 persen, yang merupakan standar ideal kualitas gabah nasional. Dalam rancangan skala penuh, alat ini diproyeksikan mampu mengolah 500 kilogram gabah hanya dalam waktu delapan jam dengan suhu terjaga di kisaran 40°C hingga 50°C. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi tinggi terhadap karya Capstone Design ini. Menurutnya, inovasi ini membuktikan mahasiswa mampu mengintegrasikan kompetensi teknik untuk memberikan solusi nyata di masyarakat. “Mahasiswa berhasil mengidentifikasi masalah, memilih material yang tepat, hingga menguji fungsi alat. Inilah peran engineer sesungguhnya, menjadi penyelesai masalah (problem solver),” tegas Thomy. Ia berharap, karya ini tidak hanya berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat masuk ke tahap hilirisasi melalui kerja sama dengan mitra industri atau inkubasi produk. “Harapan kami ada dukungan untuk pengembangan dari sisi efisiensi energi dan ergonomi, sehingga siap digunakan secara luas oleh petani untuk mendukung ketahanan pangan kita,” pungkasnya. [mut.wwn]

Jawab Tantangan Cuaca Ekstrem, Mahasiswa UMM Ciptakan Bed Dryer untuk Pengeringan Gabah

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Cuaca yang semakin tidak menentu membuat petani kerap menghadapi kendala dalam proses pengeringan gabah. Ketergantungan pada sinar matahari, terutama saat musim hujan, sering berdampak pada menurunnya kualitas hasil panen. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi berupa bed dryer, teknologi pengering gabah yang dirancang lebih stabil dan efektif guna menjaga mutu panen di berbagai kondisi cuaca. Inovasi ini digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Berdasarkan hasil penelitian lapangan, Malikul menemukan bahwa metode penjemuran tradisional kurang optimal ketika cuaca tidak mendukung, khususnya saat musim hujan. “Saat melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kami mendapati kondisi cuaca hujan yang membuat pengeringan gabah secara manual menjadi tidak efektif. Dari situ muncul ide untuk merancang bed dryer sebagai solusi,” ungkap Malikul kepada Tim Humas UMM, 1 Februari lalu. Bed dryer ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Perpaduan tersebut mampu menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan gabah dapat berlangsung secara merata dan berkesinambungan. Tak hanya terbatas pada gabah padi, alat ini juga memiliki potensi pemanfaatan yang lebih luas. “Selain gabah, bed dryer ini dapat digunakan untuk mengeringkan komoditas lain seperti jagung dan kopi,” jelasnya. Dalam proses pengembangan alat, tim menghadapi sejumlah tantangan teknis, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Perbedaan karakter bahan, seperti besi dan aluminium, menuntut ketelitian ekstra agar hasil pengelasan tetap optimal. “Kami harus sangat berhati-hati dalam proses pengerjaan agar konstruksi alat sesuai dengan perencanaan,” tambah Malikul. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe dengan skala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, alat tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Pengujian menunjukkan bahwa bed dryer mampu menurunkan kadar air gabah hingga kisaran ideal, yaitu 12–14 persen. Ke depan, alat ini direncanakan untuk dikembangkan dalam skala penuh dengan kapasitas sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam, menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi atas inovasi yang dihasilkan mahasiswa tersebut. Menurutnya, karya ini mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan keilmuan teknik untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat. “Saya mengapresiasi mahasiswa Capstone Design yang mampu merancang bed dryer sebagai solusi konkret bagi permasalahan UMKM. Karya ini menunjukkan kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga melakukan pengujian teknis,” ujarnya. Ia juga menilai inovasi ini menggambarkan peran engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Ke depan, ia berharap pengembangan alat dapat terus dilakukan, baik dari sisi efisiensi energi, ergonomi, maupun kesiapan implementasi di lapangan. “Harapannya, inovasi ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM, proses inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar dapat dimanfaatkan secara luas,” pungkasnya. Melalui pengembangan bed dryer ini, mahasiswa Teknik Industri UMM tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa sinergi antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan kreativitas mampu melahirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat.(*)

UKM Karate UMM Tunjukkan Dominasi, Sabet Enam Medali di Kejuaraan Nasional

MALANG | JATIMSATUNEWS COM: Capaian gemilang kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM sukses mengukir prestasi dengan meraih enam medali dalam ajang Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora yang digelar di Bandung. Kejuaraan tingkat nasional ini diikuti lebih dari 1.200 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam kompetisi tersebut, kontingen UMM berhasil membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu. Enam medali tersebut diraih oleh atlet dari berbagai program studi, mencerminkan sinergi prestasi akademik dan nonakademik yang terus berkembang di lingkungan UMM. Medali perak pertama diraih Arif Tri Dermawan (Manajemen) melalui nomor Kumite Perorangan Senior Putra dengan menempati posisi Juara 2. Prestasi berikutnya datang dari nomor Kata Beregu Senior Putri yang diperkuat Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan), yang juga berhasil meraih Juara 2. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menyumbang medali dengan meraih Juara 3 pada nomor Kata Perorangan Senior Putri. Medali perunggu lainnya dipersembahkan oleh Ilma Mazida (Teknologi Pangan) melalui nomor Kumite Perorangan Senior Putri. Salah satu peraih medali, Miranti Eka Pranejia, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas hasil yang diraih UKM Karate UMM. Menurutnya, pencapaian tersebut bukan semata soal perolehan medali, tetapi juga buah dari proses panjang yang dijalani bersama tim. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena dapat mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah menjaga fokus serta kekompakan tim, terutama bagi atlet yang bertanding di lebih dari satu nomor. Persaingan yang ketat menuntut kesiapan mental dan fisik yang optimal sepanjang pertandingan. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk mampu membagi fokus, menjaga komunikasi tim, dan tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” jelas Miranti. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa disiplin latihan dan kebersamaan menjadi kunci keberhasilan tim. Intensitas latihan yang tinggi, termasuk latihan penuh menjelang keberangkatan, dijalani para atlet sebagai bentuk komitmen, meski harus menyeimbangkan dengan kewajiban akademik. Dukungan penuh dari kampus turut berkontribusi terhadap pencapaian tersebut. UMM memberikan kemudahan izin akademik, dukungan fasilitas, serta pendampingan yang optimal, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kejuaraan berlangsung. Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat bertanding dengan aman, nyaman, dan fokus. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., memberikan apresiasi atas prestasi yang diraih UKM Karate UMM. Ia menilai capaian ini sebagai hasil dari pembinaan kemahasiswaan yang berkelanjutan dan terarah. “Prestasi ini menjadi bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus menjadi ajang penjaringan atlet potensial yang dipersiapkan untuk menghadapi kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran pelatih serta konsistensi para atlet dalam menjalani latihan dan pertandingan. Dengan capaian ini, UKM Karate UMM diharapkan mampu terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama kampus di tingkat nasional hingga internasional. (*)

Mahasiswa UMM Kembangkan Bed Dryer Gabah Berbasis Minyak Jelantah, Solusi Pengeringan Stabil Saat Musim Hujan

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Ketidakpastian cuaca yang semakin sering terjadi membuat metode penjemuran gabah secara konvensional kian tidak andal. Ketergantungan penuh pada sinar matahari berisiko menurunkan kualitas hasil panen, terutama saat musim hujan ketika proses pengeringan tidak berjalan optimal. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer gabah, sebuah teknologi pengeringan yang dirancang lebih stabil, terkontrol, dan efisien untuk menjaga mutu hasil panen petani. Bed dryer ini digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Inovasi tersebut lahir dari hasil pengamatan langsung di lapangan, saat mereka melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, di tengah kondisi musim hujan. “Pengeringan manual sangat bergantung pada cuaca. Saat hujan, kadar air gabah sulit diturunkan secara optimal. Dari situ kami merancang bed dryer sebagai solusi berbasis teknologi,” ujar Malikul, dikutip dari laman resmi UMM, Kamis (5/2/2026). Sistem Pengeringan Lebih Stabil Secara teknis, bed dryer ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Perpaduan tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil dan merata, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung secara berkelanjutan tanpa fluktuasi suhu ekstrem. Sistem ini dirancang untuk menjaga suhu pengeringan pada rentang ideal 40–50 derajat Celsius, sehingga mampu menurunkan kadar air gabah hingga berada pada kisaran 12–14 persen, sesuai standar kualitas pascapanen. Tak hanya untuk gabah padi, desain bed dryer juga bersifat multifungsi. Dengan pengaturan tertentu, alat ini berpotensi digunakan untuk mengeringkan komoditas lain seperti jagung dan kopi. Tantangan Rekayasa Material Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi tantangan teknis, khususnya pada tahap pemilihan material dan pengelasan. Kombinasi bahan besi dan aluminium menuntut ketelitian tinggi agar struktur alat tetap kokoh dan aman digunakan. “Kami harus benar-benar memastikan material yang dipilih sesuai, karena kesalahan kecil pada pengelasan bisa memengaruhi kinerja alat secara keseluruhan,” jelas Malikul. Saat ini, bed dryer masih berupa prototipe berskala 1:10. Meski demikian, hasil uji coba menunjukkan performa yang menjanjikan dan membuktikan konsep kerja alat berjalan sesuai perancangan. Menuju Skala Produksi Ke depan, bed dryer ini direncanakan dikembangkan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan hingga 500 kilogram gabah dalam waktu sekitar delapan jam. Dari sisi teknis, desain tersebut diarahkan agar tetap efisien energi sekaligus mudah dioperasikan di tingkat petani maupun pelaku UMKM. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., menilai inovasi ini sebagai contoh penerapan keilmuan teknik yang tepat sasaran. “Inovasi bed dryer menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis. Ini adalah peran nyata engineer sebagai problem solver,” ujarnya. Ia berharap pengembangan selanjutnya dapat menyentuh aspek efisiensi energi, ergonomi, serta kesiapan implementasi di lapangan melalui kerja sama dengan UMKM dan proses hilirisasi riset. Melalui inovasi bed dryer ini, mahasiswa Teknik Industri UMM membuktikan bahwa teknologi tepat guna dapat menjadi solusi konkret bagi tantangan pascapanen, sekaligus memperkuat kualitas dan daya saing sektor pertanian di tengah perubahan iklim.

Rihlah Ilmiah ke UMM, Santri Al Mizan Muhammadiyah Lamongan Dapat Inspirasi dan Motivasi Masa Depan

  pwmu.co – Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan menggelar kegiatan Rihlah Ilmiah pada Jumat (6/2/2026) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri kelas VI Diniyah / kelas XII Madrasah Aliyah Muhammadiyah 9 Al Mizan Lamongan.Rombongan dipimpin langsung oleh Mudir Pondok Pesantren Al Mizan, Mujianto MPdI, didampingi jajaran pimpinan pondok serta seluruh ustadz dan ustadzah. Dalam sambutannya, Mujianto MPdI menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menuturkan bahwa rencana awal kunjungan sebenarnya dijadwalkan pada hari Sabtu, namun atas kehendak Allah SWT, rombongan justru diterima pada hari Jumat. “Manusia boleh merencanakan, tetapi Allah yang menentukan. Diterimanya kami pada hari Jumat ini adalah nikmat Allah yang luar biasa. Mudah-mudahan ini benar-benar menjadi Jumat berkah, bukan hanya sarapan, tetapi juga mendapatkan inspirasi, motivasi, dan gambaran impian masa depan anak-anak,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat kesehatan, kesempatan, dan keberkahan hidup, sekaligus menyampaikan terima kasih kepada pihak UMM yang telah menerima rombongan santri dari Lamongan. Mujianto juga memperkenalkan Pondok Pesantren Al Mizan sebagai lembaga pendidikan yang menaungi berbagai jenjang, mulai dari TK, SLB, MTs, MA hingga Pondok Pesantren. Santri yang mengikuti rihlah ini berjumlah 76 orang, terdiri dari santri putra dan putri. Ia menjelaskan bahwa kunjungan ke UMM bertujuan agar santri dapat melihat langsung suasana kampus, tidak hanya mengenalnya melalui internet atau brosur. “Kami ingin anak-anak melihat lebih dekat bagaimana lingkungan kampus, supaya tumbuh cita-cita dan harapan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Siapa tahu ada hati yang tertinggal di sini,” ungkapnya. Lebih lanjut, Mujianto juga menyampaikan bahwa Al Mizan memiliki santri dari berbagai latar belakang, termasuk santri muassasah yang dibiayai melalui dana donatur sebagai bentuk pengamalan nilai Surah Al-Ma’un. Hal ini, menurutnya, menjadi bagian dari dakwah sosial Muhammadiyah sejak Panti Asuhan Al Mizan berdiri pada tahun 1985. Di akhir sambutannya, ia menyampaikan permohonan maaf apabila kehadiran rombongan santri mengganggu aktivitas kampus. “Anak-anak kami ini berasal dari desa-desa, mungkin ramai dan banyak bertanya. Kami mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga kunjungan ini membawa manfaat dan kebaikan bagi kedua belah pihak,” pungkasnya. Kegiatan rihlah ilmiah ini diharapkan mampu membuka wawasan santri tentang dunia pendidikan tinggi serta memotivasi mereka untuk terus melanjutkan pendidikan dan berkontribusi bagi umat dan bangsa. (*)