Analisis Sosiolog Soal Maraknya Kasus Pembuangan Bayi di Jatim

detik.com, Malang – Kasus pembuangan bayi kembali terjadi di sejumlah daerah. Terbaru terjadi di Mojokerto pekan lalu. Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tutik Sulistyowati menilai fenomena ini bukan peristiwa tunggal, melainkan sebuah gambaran gunung es dari berbagai persoalan sosial di masyarakat. Menurutnya, apa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari masalah yang sebenarnya jauh lebih kompleks. Mulai dari moral hingga tekanan ekonomi. “Pembuangan bayi itu bukan masalah yang berdiri sendiri. Itu puncak dari berbagai persoalan sosial, mulai dari minimnya pendidikan moral dan empati, tekanan ekonomi, atau bahkan jika itu berawal dari hubungan di luar nikah yang memunculkan rasa malu dan ketakutan sendiri bagi pelaku,” ujar Tutik kepada detikJatim, Jumat (6/2/2026). Menurutnya, anggapan bahwa membuang bayi adalah solusi dari kehamilan yang tidak diinginkan merupakan pandangan yang keliru. Tindakan tersebut justru menambah persoalan baru, baik itu secara hukum, sosial, maupun kemanusiaan. “Bayi tetap memiliki hak untuk hidup, ia sendiri tidak dapat memilih untuk dilahirkan atau tidak. Ketika bayi dibuang, itu menunjukkan rendahnya empati dan tanggung jawab pelaku terhadap hasil perbuatannya sendiri,” jelasnya. Tutik menyebut bahwa pelaku pembuangan bayi tidak hanya berasal dari mereka yang mengalami tekanan ekonomi, melainkan juga berasal dari kelompok usia remaja atau dewasa muda yang secara mental dan psikologis belum matang. “Rasa malu itu seringkali justru muncul setelah hubungan terlarang terjadi. Saat bayi lahir dan tidak bisa lagi disembunyikan, rasa panik kemudian yang mengambil alih dengan pembuangan bayi yang dianggap sebagai jalan keluar,” kata Tutik. Tutik juga menyoroti peran keluarga, khususnya orang tua. Ia menilai kurangnya perhatian dan kontrol orang tua terhadap anak menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya pergaulan bebas. “Dalam konteks Sosiologi, keluarga itu punya peran covering status. Bagaimana jika statusnya masih anak harus diproteksi. Berbeda dengan status anak yang sudah berkeluarga, orang tua tidak boleh campur tangan banyak di situ,” kata Tutik. Ketika anak tidak dibekali dengan pendidikan moral hingga tidak berada dalam pengawasan yang sehat, euforia perayaan kerap disalahartikan sebagai pembenaran untuk perilaku bebas yang berisiko. “Selama anak belum menikah, itu masih menjadi tanggung jawab orang tua. Jangan merasa anak sudah dewasa lalu dilepas begitu saja. Orang tua perlu tahu anaknya di mana, dengan siapa, dan melakukan apa,” ujarnya. Minimnya pendidikan moral juga membuat pelaku tidak menyadari beratnya konsekuensi dari tindakan tersebut. Alih-alih berpikir secara rasional, pelaku justru menggunakan sisi emosionalnya dan berpusat pada diri sendiri, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain dan masyarakat. Selain keluarga, lembaga pendidikan juga diminta berperan aktif. Sekolah dan kampus diharapkan memberikan dan memaksimalkan ruang kegiatan positif seperti ekstrakurikuler di sekolah maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus agar remaja tidak memiliki banyak waktu luang, berpotensi untuk disalahgunakan sebagaimana yang sifatnya tidak bertanggung jawab. “Apalagi anak-anak kita saat ini juga hidup di era digital. Apa yang ditonton belum tentu menjadi tuntunan, misalnya kreator yang mempromosikan pernikahan dini atau pergaulan bebas,” ujar Tutik. Tak hanya itu, Tutik juga menekankan peran aparat kepolisian dan penegak hukum untuk semakin tegas dalam menangani kasus seperti ini. Ia menyoroti bagaimana baik polisi maupun penegak hukum sudah seharusnya bekerjasama dengan pihak-pihak pengelola penginapan, terutama di daerah wisata seperti Pacet, Mojokerto. Menurutnya, kawasan wisata memiliki potensi tinggi terjadinya penyimpangan perilaku jika tidak diawasi dengan ketat. “Polisi harus tegas menertibkan hotel, penginapan, karaoke. Yang bukan pasangan sah seharusnya tidak diberi ruang. Ini harus ada bekerjasama dengan pemilik usaha,” tegasnya. Dalam hal ini, Tutik menyampaikan apresiasinya terhadap potensi perkembangan wisata di Jawa Timur dengan banyaknya destinasi wisata. Namun, di satu sisi, ia juga turut menyampaikan rasa keprihatinannya terhadap bebasnya remaja di luar pernikahan untuk mendapat akses penginapan. “Kita juga tidak bisa menyalahkan begitu saja kepada pengelola wisata. Namanya lokasi yang menjadi destinasi wisata kan pasti ramai dengan penginapan, hotel, karaoke, atau tempat hiburan lainnya. Tapi ini juga perlu mendapat perhatian lebih oleh kita semua. Ketika itu semua tersedia, efeknya adalah para remaja yang dalam konteks akhlak dan moralnya sedang rapuh, itu akan terseret kepada arus-arus yang tidak senonoh,” kata Tutik prihatin. Ia menilai sinergi semua pihak menjadi kunci untuk menekan angka pembuangan bayi yang meresahkan banyak masyarakat ini. Mulai dari orang tua, lembaga pendidikan, aparat keamanan, pengelola usaha penginapan, hingga tokoh agama dan pendakwah di media sosial. “Karena itu, penanaman iman, akhlak, dan kedewasaan moral sangat penting agar mereka punya benteng untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang berisiko,” pungkasnya. Tutik berharap masyarakat dapat lebih kritis dan berpikir sebelum bertindak. Menurutnya, tragedi pembuangan bayi seharusnya menjadi alarm bersama bahwa pengawasan, pendidikan, dan kepedulian sosial tidak boleh kendur. “Berpikir dulu sebelum melakukan, bukan melakukan dulu baru menyesal. Kalau semua pihak bergerak, kasus seperti ini seharusnya bisa ditekan. Masyarakat harus dituntut untuk kritis dan cerdas supaya hasilnya juga tidak mengecewakan dan hasilnya bisa baik untuk semuanya.” tutupnya. Ia juga menyampaikan bahwa apa yang dianggap baik oleh diri sendiri belum tentu baik dalam pandangan masyarakat. Norma sosial yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat sudah seharusnya menjadi standar yang menjadi pedoman dalam bertindak dan menyikapi segala hal. “Sekali lagi, keluarga terutama orang tua, lembaga pendidikan, agama kepolisian, harus betul-betul semuanya bergerak. Penyedia fasilitas umum, hotel penginapan karaoke juga harus betul-betul jangan hanya sekadar mencari untung, tetapi juga harus ikut berpikir bagaimana menjadikan masyarakat yang baik,” tegas Tutik. Jadi, tidak hanya berpusat pada momen Valentine saja. Pergaulan bebas yang masih menghantui remaja di Indonesia terutama di Jawa Timur ini sudah seharusnya mendapatkan sorotan dari berbagai pihak agar tidak menimbulkan tindakan kriminal yang mana berkaitan dengan pendidikan moral, sosial, dan agama. “Apa mereka senang memberikan kesempatan anak anak muda untuk hidup bebas bermalam di tempatnya tanpa ikatan perkawinan, kemudian mereka hamil, dan punya bayi, itu kan itu juga harus dipertanyakan,” pungkasnya.

Maraknya Kasus Pembuangan Bayi di Mojokerto, UMM Soroti Masalah Sosial

infonasional – Kasus pembuangan bayi kembali terjadi di Mojokerto dan sejumlah daerah lainnya. Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tutik Sulistyowati, menilai fenomena ini sebagai gambaran dari persoalan sosial yang lebih besar di masyarakat. Tutik menjelaskan bahwa pembuangan bayi bukanlah masalah tunggal. Menurutnya, hal ini merupakan puncak dari berbagai persoalan sosial yang kompleks, mulai dari moral hingga tekanan ekonomi. “Pembuangan bayi itu bukan masalah yang berdiri sendiri. Itu puncak dari berbagai persoalan sosial, mulai dari minimnya pendidikan moral dan empati, tekanan ekonomi, atau bahkan jika itu berawal dari hubungan di luar nikah yang memunculkan rasa malu dan ketakutan sendiri bagi pelaku,” ujar Tutik, Jumat (6/2/2026). Ia menambahkan bahwa anggapan membuang bayi sebagai solusi adalah pandangan yang keliru dan justru menimbulkan masalah baru. “Bayi tetap memiliki hak untuk hidup, ia sendiri tidak dapat memilih untuk dilahirkan atau tidak. Ketika bayi dibuang, itu menunjukkan rendahnya empati dan tanggung jawab pelaku terhadap hasil perbuatannya sendiri,” jelasnya. Faktor Pemicu dan Peran Keluarga Tutik menyebutkan bahwa pelaku pembuangan bayi tidak hanya berasal dari kalangan ekonomi sulit, tetapi juga dari remaja atau dewasa muda yang belum matang secara mental dan psikologis. “Rasa malu itu seringkali justru muncul setelah hubungan terlarang terjadi. Saat bayi lahir dan tidak bisa lagi disembunyikan, rasa panik kemudian yang mengambil alih dengan pembuangan bayi yang dianggap sebagai jalan keluar,” kata Tutik. Ia juga menyoroti kurangnya perhatian dan kontrol orang tua sebagai pemicu pergaulan bebas. “Dalam konteks Sosiologi, keluarga itu punya peran covering status. Bagaimana jika statusnya masih anak harus diproteksi. Berbeda dengan status anak yang sudah berkeluarga, orang tua tidak boleh campur tangan banyak di situ,” kata Tutik. Kurangnya pendidikan moral juga membuat pelaku tidak menyadari konsekuensi dari tindakan mereka. Peran Lembaga Pendidikan dan Penegak Hukum Selain keluarga, lembaga pendidikan juga memiliki peran penting. Sekolah dan kampus diharapkan dapat memaksimalkan kegiatan positif agar remaja tidak memiliki waktu luang yang berpotensi disalahgunakan. “Apalagi anak-anak kita saat ini juga hidup di era digital. Apa yang ditonton belum tentu menjadi tuntunan, misalnya kreator yang mempromosikan pernikahan dini atau pergaulan bebas,” ujar Tutik. Tutik juga menekankan peran aparat kepolisian dan penegak hukum untuk bertindak tegas dalam menangani kasus serupa, termasuk pengawasan di kawasan wisata. “Polisi harus tegas menertibkan hotel, penginapan, karaoke. Yang bukan pasangan sah seharusnya tidak diberi ruang. Ini harus ada bekerjasama dengan pemilik usaha,” tegasnya.

Cuaca Tak Menentu, Mahasiswa UMM Kembangkan Bed Dryer Pengering Gabah

Sketsamalang.com – Ketergantungan petani pada sinar matahari kerap berujung pada turunnya kualitas panen, terutama saat musim hujan ketika proses penjemuran tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, sebuah teknologi pengeringan gabah yang dirancang lebih efektif dan stabil untuk menjaga mutu hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Bed dryer tersebut digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Melalui penelitian lapangan, Malikul melihat langsung kesulitan petani dalam mengeringkan gabah saat musim hujan. Cuaca yang tidak stabil membuat proses penjemuran tradisional menjadi kurang optimal dan berisiko menurunkan kualitas hasil panen. “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar Malikul. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tak hanya untuk gabah padi, bed dryer ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lainnya. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” jelas Malikul. Bed Dryer Pengering Gabah Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Mereka harus memastikan bahan yang digunakan tepat agar hasil pengelasan optimal. “Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkapnya. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, prototipe tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga berada pada kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Ke depan, bed dryer ini dirancang untuk direalisasikan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam, menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi atas capaian mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi bed dryer merupakan wujud nyata kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi teknik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Saya mengapresiasi mahasiswa Capstone Design yang berhasil merancang bed dryer sebagai solusi nyata bagi permasalahan UMKM. Karya ini menunjukkan kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia juga menilai karya ini mencerminkan peran seorang engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Ke depan, ia berharap alat tersebut dapat terus dikembangkan dari berbagai aspek, mulai dari efisiensi energi, ergonomi, hingga kesiapan implementasi di lapangan. “Harapannya, karya ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap digunakan secara luas,” tambahnya. Melalui inovasi bed dryer ini, mahasiswa Teknik Industri UMM tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan semangat berkarya mampu melahirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat.(*)

Dosen Prodi Biologi FKIP UMM Latih Guru IPA SMP Muhammadiyah KWB Membuat Preparat Histologi

pwmu.co – Pelatihan pembuatan preparat histologi bagi guru IPA SMP Muhammadiyah Kota Wisata Batu (KWB) dilaksanakan pada Senin (2/2/2026) di Laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).Kegiatan ini bertujuan membekali guru IPA dengan keterampilan membuat preparat awetan jaringan tumbuhan dan hewan sebagai penunjang pembelajaran dan praktikum IPA di tingkat SMP. Preparat awetan jaringan tumbuhan dan hewan merupakan media penting dalam pembelajaran IPA. Namun, ketersediaannya di sekolah sering kali terbatas karena proses pembuatannya yang relatif rumit dan belum banyak dikuasai oleh guru. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian guru dalam menyediakan media praktikum yang berkualitas. Kegiatan ini pun disambut dengan antusias oleh para peserta. Sri Wahyuni, pakar histologi anatomi dari Program Studi Biologi UMM sekaligus pelaksana kegiatan, menyampaikan bahwa pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan praktikum IPA di SMP. Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan preparat meliputi penyediaan bahan sesuai spesifikasi dan metode yang digunakan. Tahapan utama mencakup fiksasi, dehidrasi, penjernihan, infiltrasi, pengeblokan, pemotongan (pada metode section), pewarnaan (staining), hingga mounting dan pelabelan. Ia menambahkan bahwa pelatihan kali ini memanfaatkan bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan morning glory yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Metode yang dilatihkan pada tahap awal meliputi metode apus (smear) darah aves serta metode whole mount pada tumbuhan. Nurwidodo menegaskan bahwa penggunaan bahan alam dalam pelatihan ini memiliki misi khusus, yakni menumbuhkan apresiasi terhadap potensi lingkungan yang selama ini kurang dimanfaatkan dalam pembelajaran IPA. Pelatihan ini mendapat respons positif dari para guru IPA SMP Muhammadiyah KWB. Cantia, guru SMP Muhammadiyah 8 KWB, mengaku sangat terbantu dengan pelatihan tersebut. Ia menilai kegiatan ini memberikan pemahaman dan keterampilan yang sangat bermanfaat, khususnya dalam mendukung peningkatan kualitas layanan laboratorium IPA yang dikelolanya. Hal senada disampaikan oleh Iin Hindun. Ia menuturkan bahwa keterampilan membuat preparat awetan sangat dibutuhkan karena preparat tersebut menjadi objek belajar penting dalam pendidikan IPA, yang menyajikan informasi faktual mengenai struktur jaringan tumbuhan dan hewan. Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah 8 Batu, Windra Rizkiana, menyampaikan bahwa kemampuan guru IPA dalam menyediakan preparat awetan secara mandiri akan membuat pembelajaran menjadi lebih efisien. Ia juga mengapresiasi hasil pelatihan yang dinilainya sangat baik, dengan tampilan preparat berwarna kontras sehingga jaringan terlihat jelas. Pelatihan ini merupakan wujud kepedulian tim pengabdian dosen Program Studi Pendidikan Biologi UMM dalam memperkuat kualitas layanan laboratorium pendidikan. Melalui kegiatan ini, sekolah diharapkan semakin berdaya dalam memenuhi kebutuhan sendiri terhadap objek dan preparat pembelajaran yang memegang peranan penting dalam pembelajaran IPA (*)

Kuliah Bahasa Arab yang Membawa Umar Faruq Keliling Dunia

KLIKMU.CO – Membekali diri dengan kompetensi bahasa dan pengalaman organisasi menjadi kunci utama bagi para lulusan perguruan tinggi untuk menembus pasar kerja global. Hal itulah yang dibuktikan oleh Umar Faruq, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini sukses meniti karier sebagai tour leader profesional perjalanan haji, umrah, dan halal tour ke berbagai negara. Bahkan, hampir setiap pekan ia bepergian ke luar negeri, mulai Arab Saudi, Tiongkok, Thailand, Turki, hingga sejumlah negara lainnya. Umar Faruq merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam (FAI) UMM angkatan 2016. Saat ini, ia memegang tanggung jawab besar dalam mendampingi dan melayani para tamu Allah untuk beribadah di Tanah Suci, sekaligus memandu wisatawan yang ingin berwisata ke luar negeri. Kesuksesan yang diraih Umar tidak datang secara instan. Semua berawal dari keputusannya memperdalam ilmu agama dan bahasa selama menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang. Dia mengungkapkan, alasannya memilih Program Studi Pendidikan Bahasa Arab di FAI UMM adalah untuk memperluas wawasan kependidikan sekaligus memperdalam bahasa Arab agar lebih memahami ajaran Islam. “Alasan saya dulu memilih Fakultas Agama Islam karena ingin menambah wawasan terkait pendidikan, khususnya di bidang pendidikan bahasa Arab, sehingga saya semakin tertarik untuk mendalami agama Islam,” ujar Umar, Jumat (6/2/2026). Selama masa studinya, alumnus asal Bekasi ini dikenal aktif menyeimbangkan aktivitas akademik dan organisasi. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Eksternal Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab. Tak hanya aktif berorganisasi, Umar Faruq juga mengasah keterampilan profesional sebelum lulus dengan bergabung di biro administrasi kampus. Ia sempat bekerja di Humas UMM sebagai penerjemah berita dan translator untuk berbagai konten yang dimuat di laman resmi universitas. Pengalaman di Humas UMM dan keterlibatannya di HMPS, diakui Umar, sangat membentuk karakter serta kesiapan dirinya menghadapi dunia kerja. Ia menilai lingkungan kampus UMM, baik dari sisi fasilitas maupun kualitas dosen, sangat mendukung pengembangan potensi mahasiswa. Menariknya, transisi karier Umar sebagai pemandu wisata internasional memiliki cerita tersendiri. Saat pertama kali menjalankan amanah sebagai tour leader, ia mengaku tidak mengalami kendala berarti. Latar belakang pendidikan yang relevan menjadi modal utama, terutama kemampuan bahasa yang diperoleh selama kuliah. “Alhamdulillah, karena memiliki dasar bahasa Arab, semuanya bisa terkendali dan berjalan lancar saat pertama kali saya membawa tamu-tamu Allah untuk umrah,” tuturnya. Ia juga menyoroti salah satu mata kuliah yang paling berkesan selama kuliah di UMM, yakni Bahasa Arab Amiyah atau bahasa Arab percakapan sehari-hari. Ilmu tersebut hingga kini menjadi bekal penting dalam berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal, khususnya di Arab Saudi. “Mata kuliah Bahasa Arab Amiyah sangat berkesan dan bermanfaat sampai sekarang bagi saya sebagai tour leader,” ujarnya. Saat ini, Umar Faruq juga tengah merintis bisnis biro perjalanan haji dan umrah miliknya sendiri. Ia berupaya menjalani profesi sekaligus menata mimpi yang memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang ingin beribadah dan berwisata dengan aman dan nyaman. Sebagai penutup, Umar menyampaikan pesan motivasi kepada mahasiswa UMM yang masih menempuh pendidikan agar terus berjuang meraih impian tanpa mudah menyerah. Ia menekankan pentingnya menyeimbangkan usaha dan doa dalam setiap langkah kehidupan. “Prinsip hidup saya, selalu libatkan Allah dalam setiap ikhtiar. Karena setiap usaha tanpa doa adalah sombong, dan setiap doa tanpa usaha adalah bohong,” pungkasnya. (Faqih/AS)

Melihat Agenda JUFOC UMM Diklat Fotografi di Pelabuhan Perikanan Pondokdadap

BERITABANGSA.ID, MALANG – Pelabuhan Perikanan Pondokdadap menyajikan sisinya yang lain bagi komunitas fotografi mahasiswa. Selain sebagai pelabuhan perikanan yang diisi oleh aktiktivitas nelayan dan pelaku usaha kelautan dan perikanan, pelabuhan perikanan Pondokdadap juga diminati oleh mahasiswa pencinta fotografi. Pada tanggal 13 dan 14 Desember 2025, komunitas fotografi yang tergabung dalam Jurnalistik Fotografi Club Universitas Muhammadiyah Malang (JUFOC-UMM) menggelar kegiatan Orientasi Dasar (Ordas) Fotografi di pelabuhan perikanan yang dikelola oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur. Orientasi dasar fotografi tersebut dilaksanakan sebagai bekal dasar teknis fotografi untuk mahasiswa baru jurusan ilmu Komunikasi FISIP – UMM. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi tentang Profile UPT PPP Pondokdadap oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Achmad Sonhaji, dilanjutkan materi fotografi dasar oleh fotografer profesinal, Fully Syafi Handoko. Selain materi pengenalan pelabuhan perikanan dan dasar-dasar fotografi, panitia juga menyampaikan materi tentang organisasi JUFOC. Ketua JUFOC, Mustafa Kamal menjelaskan, bahwa kegiatan Ordas adalah kegiatan rutin setiap penerimaan anggota baru. ”Ordas dilaksanakan sebagai dasar pengenalan fotografi bagi mahasiswa yang menjadi anggota baru JUFOC, sekaligus sebagai bagian dari program kerja tahunan organisasi JUFOC,” kata Mustafa Setelah pemaparan materi usai seluruhnya, peserta Ordas diberikan kesempatan untuk melakukan hunting foto yang berlokasi di seluruh area pelabuhan, termasuk di dermaga, di kios ikan nelayan dan tempat lain yang menjadi pusat aktifitas nelayan dan pelaku usaha. Kegiatan hunting foto berakhir pada Minggu (14/12) siang. ”Alhamdulillah, kegiatan kami berjalan lancar. Kami sampaikan banyak terima kasih atas dukungan UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadap, dimana kami diperkenankan untuk melaksanakan kegiatan Ordas di wilayah pelabuhan, serta memanfaatkan fasilitas layanan di Pondokdadap,” jelas Nazhif Wiradafa selaku Ketua Pelaksana Ordas JUFOC.

Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Cuaca Tak Menentu, Mahasiswa UMM Kembangkan Bed Dryer Pengering Gabah

MALANG POST – Ketergantungan petani pada sinar matahari kerap berujung pada turunnya kualitas panen, terutama saat musim hujan ketika proses penjemuran tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, sebuah teknologi pengeringan gabah yang dirancang lebih efektif dan stabil untuk menjaga mutu hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Bed dryer tersebut digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Melalui penelitian lapangan, Malikul melihat langsung kesulitan petani dalam mengeringkan gabah saat musim hujan. Cuaca yang tidak stabil membuat proses penjemuran tradisional menjadi kurang optimal dan berisiko menurunkan kualitas hasil panen. “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar Malikul kepada Tim Humas UMM, 1 Februari lalu. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tak hanya untuk gabah padi, bed dryer ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lainnya. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” jelas Malikul. Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Mereka harus memastikan bahan yang digunakan tepat agar hasil pengelasan optimal. “Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkapnya. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, prototipe tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga berada pada kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Ke depan, bed dryer ini dirancang untuk direalisasikan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam, menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi atas capaian mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi bed dryer merupakan wujud nyata kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi teknik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Saya mengapresiasi mahasiswa Capstone Design yang berhasil merancang bed dryer sebagai solusi nyata bagi permasalahan UMKM. Karya ini menunjukkan kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia juga menilai karya ini mencerminkan peran seorang engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Ke depan, ia berharap alat tersebut dapat terus dikembangkan dari berbagai aspek, mulai dari efisiensi energi, ergonomi, hingga kesiapan implementasi di lapangan. “Harapannya, karya ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap digunakan secara luas,” tambahnya. Melalui inovasi bed dryer ini, mahasiswa Teknik Industri UMM tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan semangat berkarya mampu melahirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Berkat Pendidikan Bahasa Arab UMM, Umar Faruq Terbang ke Luar Negeri Hampir Setiap Pekan

MALANG| JATIMSATUNEWS.COM: Kemampuan bahasa dan pengalaman organisasi menjadi bekal penting bagi lulusan perguruan tinggi untuk bersaing di kancah global. Hal tersebut dibuktikan oleh Umar Faruq, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang kini sukses meniti karier sebagai tour leader profesional perjalanan haji, umrah, dan halal tour ke berbagai negara. Hampir setiap pekan, Umar dipercaya memimpin perjalanan ke luar negeri, mulai dari Arab Saudi, Tiongkok, Thailand, Turki, hingga sejumlah negara lainnya. Umar Faruq merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam (FAI) UMM angkatan 2016. Saat ini, ia mengemban amanah besar untuk mendampingi jamaah dalam menjalankan ibadah di Tanah Suci sekaligus memandu wisatawan muslim yang ingin berlibur ke luar negeri dengan nyaman dan aman. Kesuksesan yang diraihnya saat ini tidak lepas dari keputusan Umar untuk memperdalam ilmu agama dan bahasa selama menempuh pendidikan di UMM. Ia mengungkapkan bahwa pilihannya berkuliah di Pendidikan Bahasa Arab didasari keinginannya untuk memperluas wawasan kependidikan sekaligus memperdalam pemahaman terhadap bahasa Arab sebagai kunci memahami ajaran Islam. “Alasan saya memilih Fakultas Agama Islam, khususnya Pendidikan Bahasa Arab, karena saya ingin menambah wawasan pendidikan dan memperdalam bahasa Arab agar bisa lebih memahami agama Islam,” tutur Umar. Selama masa perkuliahan, alumnus asal Bekasi ini dikenal aktif dan produktif. Selain fokus pada akademik, ia juga terlibat dalam organisasi mahasiswa. Umar tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Eksternal Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab. Tak hanya itu, Umar juga memperkaya pengalaman profesionalnya dengan bergabung di biro administrasi kampus sebelum lulus. Ia sempat bekerja di Humas UMM sebagai penerjemah berita dan translator untuk berbagai konten yang dimuat di laman resmi universitas. Menurutnya, pengalaman berorganisasi dan bekerja di lingkungan kampus sangat berperan dalam membentuk karakter, kepercayaan diri, serta kesiapan menghadapi dunia kerja. Umar menilai UMM memiliki lingkungan akademik yang kondusif, didukung fasilitas memadai dan dosen yang kompeten dalam membimbing mahasiswa. Peralihan karier Umar menjadi tour leader internasional pun memiliki kisah tersendiri. Meski pada awalnya baru pertama kali menjalankan tugas tersebut, ia mengaku tidak mengalami kendala berarti. Latar belakang pendidikan yang relevan serta penguasaan bahasa Arab menjadi modal utama dalam menjalani profesinya. “Alhamdulillah, dengan basic bahasa Arab yang saya dapatkan selama kuliah, semua bisa berjalan lancar saat pertama kali saya membawa jamaah umrah,” ungkapnya. Umar juga menyoroti salah satu mata kuliah yang paling berkesan baginya, yakni Bahasa Arab Amiyah atau bahasa Arab sehari-hari. Menurutnya, mata kuliah tersebut sangat aplikatif dan membantunya berkomunikasi langsung dengan masyarakat lokal, khususnya di Arab Saudi. “Mata kuliah Bahasa Arab Amiyah itu sangat berkesan dan sampai sekarang sangat bermanfaat bagi saya sebagai tour leader,” ujarnya. Kini, Umar Faruq juga tengah merintis bisnis biro perjalanan haji dan umrah miliknya sendiri. Ia berharap usahanya tersebut dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang ingin menjalankan ibadah maupun berwisata ke luar negeri dengan aman dan nyaman. Menutup kisahnya, Umar berpesan kepada mahasiswa UMM agar terus berjuang meraih mimpi dan tidak mudah menyerah. Ia menekankan pentingnya menyeimbangkan usaha dengan doa dalam setiap langkah kehidupan. “Prinsip hidup saya adalah selalu melibatkan Allah dalam setiap ikhtiar. Karena usaha tanpa doa adalah sombong, dan doa tanpa usaha adalah bohong,” pungkasnya. (*)

Berjaya! Karate UMM Borong Enam Medali di Kejuaraan Nasional

  pwmu.co – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil memborong enam medali dalam ajang Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora.Kompetisi itu digelar di Bandung dan diikuti lebih dari 1.200 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kejuaraan tingkat nasional tersebut, kontingen UMM sukses membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu. Capaian ini diraih oleh enam atlet dari lintas program studi yang menunjukkan bahwa prestasi olahraga di UMM tumbuh seiring dengan keberagaman latar akademik mahasiswa. Adapun para peraih medali kontingen UMM antara lain Arif Tri Dermawan (Manajemen) yang berhasil meraih Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Prestasi berlanjut melalui nomor Kata Beregu Senior Putri yang sukses mengantarkan Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan) meraih Juara 2. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menyumbang medali dengan meraih Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri, serta Ilma Mazida (Teknologi Pangan) yang mengamankan Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. Miranti, salah satu peraih medali, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas hasil yang diraih tim UKM Karate UMM. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya tentang medali. Namun juga tentang proses panjang yang dilalui bersama tim. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ujarnya. Menurut Mira, tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah menjaga fokus dan kekompakan, terutama bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas. Tekanan mental dan fisik menjadi ujian tersendiri mengingat ketatnya persaingan antar atlet dari berbagai daerah. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa kunci keberhasilan tim terletak pada disiplin latihan dan kebersamaan yang terus dijaga sejak masa persiapan. Intensitas latihan yang tinggi, termasuk latihan penuh menjelang keberangkatan, menjadi bagian dari komitmen seluruh atlet meskipun harus berbagi waktu dengan aktivitas akademik. Dukungan kampus turut berperan besar dalam pencapaian ini. UMM memberikan kemudahan izin akademik dan motivasi. Dukungan fasilitas pun disiapkan secara optimal, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kejuaraan berlangsung. Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat bertanding dengan aman, nyaman, dan fokus memberikan performa terbaik. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas prestasi UKM Karate UMM. Ia menilai capaian ini sebagai wujud nyata pembinaan kemahasiswaan yang berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran pelatih dan semangat konsisten para atlet dalam berlatih dan bertanding. Dengan capaian tersebut, UKM Karate UMM diharapkan dapat terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama kampus di level nasional hingga internasional.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim