KKN UMM Hadir Bawa Solusi Digital Marketing Untuk Desa Yang Masih Gaptek

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Di tengah derasnya arus digitalisasi ekonomi yang menuntut pelaku usaha kecil beradaptasi cepat, UMKM desa masih kerap tertinggal dalam akses pasar dan penguasaan teknologi. Menjawab isu tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi desa lewat program pelatihan penjualan produk UMKM berbasis digital. Tidak sekadar menghadirkan sosialisasi digital marketing, mereka juga merancang skema pendampingan jangka panjang hingga menggagas pembentukan Klinik UMKM sebagai ruang konsultasi terbuka bagi warga di Desa Beji, Kota Batu. Program ini berangkat dari kuatnya potensi lokal. Desa Beji dikenal memiliki beragam produk unggulan berbasis olahan tempe, mulai dari tempe mentah, abon tempe, keripik tempe, hingga batik tempe. Selain itu, terdapat pula produk jamu, mie tempe, dan susu kedelai yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Namun, sebagian besar pelaku usaha masih memasarkan produk secara konvensional dan terbatas pada jaringan pribadi. Ketua Tim KKN Desa Beji, Muhammad Fachri, mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 2023, menegaskan bahwa penguatan digital branding menjadi fokus utama program karena dinilai mampu membuka akses pasar lebih luas. “Potensi UMKM di Desa Beji sebenarnya besar, tetapi pemasarannya masih terbatas. Karena itu kami fokus membangun fondasi dasarnya, mulai dari branding hingga pendampingan penggunaan media sosial,” ujarnya, 17 Februari lalu. Program kerja diawali melalui sosialisasi digital marketing yang melibatkan belasan pelaku UMKM. Instagram diperkenalkan sebagai media promosi yang mudah diakses dan memiliki jangkauan pasar luas. Namun sebelum optimalisasi platform, mahasiswa lebih dulu mendampingi warga dalam penguatan visual melalui pelatihan foto produk. Pelatihan tersebut mencakup teknik pengambilan gambar, pencahayaan sederhana, hingga pembuatan konten video promosi. Warga diajak memahami bahwa tampilan visual menjadi kunci membangun kepercayaan konsumen di ruang digital. Pendampingan dilakukan bertahap, mulai dari diskusi kelompok hingga kunjungan langsung ke lokasi usaha. Hingga kini, enam UMKM aktif terlibat, di antaranya produsen batik tempe, keripik tempe, tempe mentah, mie tempe, dan susu kedelai. Meski program masih berjalan, perubahan mulai terlihat dari meningkatnya antusiasme serta kesadaran pelaku usaha untuk membangun branding yang lebih profesional. Sebagai langkah keberlanjutan, mahasiswa menggagas pembentukan Klinik UMKM Desa Beji. Klinik ini dirancang sebagai ruang konsultasi pemasaran, branding, hingga pengembangan usaha yang dapat diakses warga meski masa KKN telah berakhir. “Harapan kami, UMKM Desa Beji bisa naik kelas—baik dari sisi promosi, kualitas, maupun branding. Klinik ini kami rancang agar pendampingan tetap berjalan setelah KKN selesai,” tambah Fachri. Dosen Pembimbing Lapang, Moch Fuad Nasvian, M.I.Kom., menilai pelatihan marketing online merupakan kebutuhan mendasar, terutama dalam membangun pola pikir adaptif pelaku UMKM terhadap perkembangan zaman. “Teknis digital marketing bisa dipelajari dari internet atau YouTube, tetapi membangun mindset adaptif butuh pendampingan. Alhamdulillah, teman-teman KKN berhasil memulai tahapan awalnya tahun ini,” ungkapnya. Ia juga berharap inisiatif tersebut dapat dikembangkan lebih sistematis oleh universitas, baik melalui desa binaan maupun layanan berbasis kampus. Melalui program ini, mahasiswa KKN menegaskan perannya sebagai agen transformasi sosial. Tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi menghadirkan solusi berorientasi keberlanjutan. Pelatihan penjualan online dan rintisan Klinik UMKM menjadi langkah konkret mendorong UMKM Desa Beji lebih adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan ekonomi digital.(ANS)

Malang Raya Ramai Diserbu Wisatawan: Kampung Heritage Kajoetangan dan Warna-Warni Jadi Magnet Jelang Ramadan

mureks.co, Kota Malang kembali menunjukkan pesonanya sebagai magnet pariwisata, terutama saat momen libur panjang Hari Raya Imlek 2026 yang baru saja berlalu dan menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Dua destinasi ikonik di jantung kota, Kampung Heritage Kajoetangan dan Kampung Warna-Warni Jodipan, terpantau ramai diserbu ribuan wisatawan dari berbagai daerah. Fenomena ini tak hanya menghidupkan kembali denyut ekonomi lokal, tetapi juga menandai tren baru dalam menikmati suasana kota jelang waktu berbuka puasa. Menurut data terbaru, sejak Sabtu, 14 Februari 2026, kedua kampung tematik tersebut mencatat lonjakan kunjungan signifikan, dengan sekitar 2.500 wisatawan memadati setiap harinya. Angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan hari biasa di Kampung Heritage Kajoetangan yang rata-rata hanya 600 pengunjung, dan melonjak hingga 50 persen di Kampung Warna-Warni Jodipan. Puncak keramaian terjadi pada akhir pekan, di mana banyak pelancong dari luar kota turut meramaikan suasana. Kampung Heritage Kajoetangan: Nostalgia di Tengah Kota Kampung Heritage Kajoetangan, yang dikenal sebagai ‘museum hidup’ dengan arsitektur kolonial Belanda yang terawat, menjadi primadona bagi mereka yang mencari pengalaman wisata sejarah. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kayutangan Heritage, Mila Kurniawati, mengungkapkan bahwa lonjakan ini masih di bawah periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) yang mampu menembus 4.000 pengunjung per hari. Namun, pada periode Nataru 2025/2026, kawasan ini bahkan mencatat rekor kunjungan tertinggi hingga 31.000 orang dalam sepekan (24-31 Desember 2025), dengan puncak 5.500 pengunjung pada 27 Desember 2025. Selain menikmati keindahan bangunan bersejarah, wisatawan juga dimanjakan dengan beragam kuliner khas lokal yang dijajakan oleh 254 pelaku UMKM di sepanjang gang-gang kampung. Penjualan UMKM dilaporkan meningkat signifikan, bahkan beberapa pedagang mampu menghabiskan hingga 2.000 cup dagangan dalam sehari selama masa liburan. Menjelang Ramadan 2026, kawasan ini juga diproyeksikan menjadi magnet utama untuk kegiatan ngabuburit. Untuk mengantisipasi kepadatan, Dinas Perhubungan Kota Malang telah bersiap memperketat pengawasan parkir liar, mengimbau pengunjung untuk memanfaatkan gedung parkir yang tersedia. Kampung Warna-Warni Jodipan: Transformasi Penuh Warna Tak jauh berbeda, Kampung Warna-Warni Jodipan juga menarik perhatian dengan deretan rumah yang dicat cerah dan mural artistik. Kampung yang dulunya merupakan kawasan kumuh di tepi Sungai Brantas ini bertransformasi pada tahun 2016 berkat inisiatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dan dukungan perusahaan cat. Dengan tiket masuk yang terjangkau sekitar Rp 5.000 per orang, pengunjung dapat menikmati spot foto menarik seperti jembatan kaca dan tangga pelangi. Meskipun sempat menghadapi tantangan persaingan dengan kampung tematik lain dan kurangnya dana pengecatan pada awal 2025, Kampung Warna-Warni Jodipan terus berupaya mempertahankan daya tariknya. Ketua Pokdarwis KWW, Kodar Agus, menyebut bahwa kunjungan wisatawan meningkat 50 persen dibanding hari biasa saat periode libur Imlek dan jelang Ramadan ini. Uniknya, pada awal 2025, kampung ini justru lebih banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dibandingkan domestik. Pendapatan dari tiket masuk tidak hanya untuk operasional, tetapi juga dialokasikan untuk kesejahteraan warga, termasuk pembagian sembako, bantuan medis, hingga santunan anak yatim dan kaum dhuafa. Malang Raya Siap Sambut Ramadan dengan Beragam Tradisi Secara keseluruhan, Kota Malang menargetkan 3,4 juta kunjungan wisatawan pada tahun 2026, meningkat 10 persen dari target tahun sebelumnya yang telah terlampaui. Peningkatan aksesibilitas melalui jalan tol dan rute penerbangan domestik turut mendukung pertumbuhan pariwisata di Malang Raya. Menjelang Ramadan 2026, berbagai tradisi lokal seperti megengan, prepekan pasar, dan gugur gunung mulai semarak di Malang. Selain itu, banyak tempat seperti Alun-alun Merdeka yang baru direvitalisasi, dan kafe-kafe estetik seperti Sweetheart Cafe, juga menjadi pilihan favorit untuk ngabuburit. Hotel-hotel pun turut menawarkan paket buka puasa bersama, menunjukkan kesiapan Malang menyambut bulan suci dengan semarak.

Penjelasan Ilmiah Pakar Ilmu Falak UMM soal 1 Ramadan 1447 H, Beda dengan Pemerintah

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah pada Rabu, 18 Februari 2026 oleh Muhammadiyah kembali memunculkan diskusi di tengah masyarakat. Perbedaan potensi awal puasa dengan keputusan pemerintah menjadi perbincangan hangat, terutama di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Pakar Ilmu Falak Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Drs. M. Sarif, M.Ag., memberikan penjelasan komprehensif dari sisi astronomi dan fikih. “Perbedaan penetapan awal Ramadan adalah bagian dari dinamika ijtihad umat Islam. Ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tetapi tentang metodologi yang digunakan,” ujarnya 17 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Ia menjelaskan, Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026 berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid. Dalam penetapan tersebut, Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah sistem kalender Islam berbasis hisab astronomis yang berlaku secara global. “KHGT merupakan ijtihad untuk menghadirkan kalender Islam yang lebih terpadu, memiliki kepastian jauh hari sebelumnya, dan bisa digunakan secara internasional,” jelasnya. Menurutnya, KHGT dibangun di atas Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP). Salah satu parameternya adalah terpenuhinya ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat setelah ijtimak, di mana saja di permukaan bumi. Pada Ramadan 1447 H, parameter tersebut telah terpenuhi di Alaska, Amerika Serikat. “Dalam sistem KHGT, ketika hilal sudah memenuhi parameter secara definitif di satu wilayah di bumi, maka ketetapan awal bulan berlaku global. Tidak dibatasi oleh teritorial negara,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa ijtimak atau konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC atau sekitar 19.01 WIB. Secara astronomis, ijtimak menandai berakhirnya bulan sebelumnya dan menjadi titik awal terbentuknya hilal. Setelah matahari terbenam, posisi hilal di wilayah tertentu telah memenuhi parameter KHGT, sehingga Muhammadiyah menetapkan keesokan harinya sebagai 1 Ramadan. Namun, kondisi di Indonesia berbeda. Saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026, posisi hilal di Indonesia masih berada di bawah ufuk atau bernilai negatif. Artinya, belum memenuhi kriteria imkan rukyat yang digunakan pemerintah melalui Kementerian Agama, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat di wilayah Indonesia. “Secara astronomis, hilal di Indonesia memang belum memenuhi kriteria MABIMS. Karena itu, pemerintah kemungkinan menetapkan awal Ramadan pada 19 Februari 2026 setelah proses rukyat dan sidang isbat,” paparnya. Sarif sapaan akrabnya menegaskan bahwa kedua pendekatan tersebut sama-sama memiliki dasar keilmuan. Muhammadiyah menggunakan pendekatan global berbasis hisab definitif, sementara pemerintah mengombinasikan hisab dengan verifikasi rukyat dalam batas teritorial Indonesia. “Perbedaan ini bukan perbedaan akidah ataupun esensi ibadah. Ini murni perbedaan teknis dalam implementasi metodologi falak dan cakupan keberlakuannya,” katanya. Dari sisi fikih, penerapan KHGT didasarkan pada konsep ittihad al-mathali’, yakni kesatuan matlak global. Pemahaman ini memandang bahwa jika hilal telah terbukti secara ilmiah di satu wilayah, maka umat Islam dapat mengikutinya secara bersama-sama. Sebagai akademisi, ia mengajak masyarakat untuk menyikapi perbedaan ini dengan bijak. “Yang terpenting adalah menjaga ukhuwah, menghormati keputusan otoritas masing-masing, dan tetap fokus pada kualitas ibadah Ramadan,” pungkasnya.(ANS)

UMKM Desa Masih Gaptek, Mahasiswa UMM Tawarkan Solusi Digital Marketing

KLIKMU.CO – Di tengah derasnya arus digitalisasi ekonomi yang menuntut pelaku usaha kecil beradaptasi cepat, UMKM desa masih kerap tertinggal dalam akses pasar dan penguasaan teknologi. Menjawab isu tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi desa lewat program pelatihan penjualan produk UMKM berbasis digital. Tidak sekadar menghadirkan sosialisasi digital marketing, mereka juga merancang skema pendampingan jangka panjang hingga menggagas pembentukan Klinik UMKM sebagai ruang konsultasi terbuka bagi warga di Desa Beji, Kota Batu. Program ini berangkat dari kuatnya potensi lokal. Desa Beji dikenal memiliki beragam produk unggulan berbasis olahan tempe, mulai dari tempe mentah, abon tempe, keripik tempe, hingga batik tempe. Selain itu, terdapat pula produk jamu, mie tempe, dan susu kedelai yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Namun, sebagian besar pelaku usaha masih memasarkan produk secara konvensional dan terbatas pada jaringan pribadi. Ketua Tim KKN Desa Beji, Muhammad Fachri, mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 2023, menegaskan bahwa penguatan digital branding menjadi fokus utama program karena dinilai mampu membuka akses pasar lebih luas. “Potensi UMKM di Desa Beji sebenarnya besar, tetapi pemasarannya masih terbatas. Karena itu kami fokus membangun fondasi dasarnya, mulai dari branding hingga pendampingan penggunaan media sosial,” ujarnya, Selasa (17/2/2026). Program kerja diawali melalui sosialisasi digital marketing yang melibatkan belasan pelaku UMKM. Instagram diperkenalkan sebagai media promosi yang mudah diakses dan memiliki jangkauan pasar luas. Namun sebelum optimalisasi platform, mahasiswa lebih dulu mendampingi warga dalam penguatan visual melalui pelatihan foto produk. Pelatihan tersebut mencakup teknik pengambilan gambar, pencahayaan sederhana, hingga pembuatan konten video promosi. Warga diajak memahami bahwa tampilan visual menjadi kunci membangun kepercayaan konsumen di ruang digital. Pendampingan dilakukan bertahap, mulai dari diskusi kelompok hingga kunjungan langsung ke lokasi usaha. Hingga kini, enam UMKM aktif terlibat, di antaranya produsen batik tempe, keripik tempe, tempe mentah, mie tempe, dan susu kedelai. Meski program masih berjalan, perubahan mulai terlihat dari meningkatnya antusiasme serta kesadaran pelaku usaha untuk membangun branding yang lebih profesional. Sebagai langkah keberlanjutan, mahasiswa menggagas pembentukan Klinik UMKM Desa Beji. Klinik ini dirancang sebagai ruang konsultasi pemasaran, branding, hingga pengembangan usaha yang dapat diakses warga meski masa KKN telah berakhir. “Harapan kami, UMKM Desa Beji bisa naik kelas—baik dari sisi promosi, kualitas, maupun branding. Klinik ini kami rancang agar pendampingan tetap berjalan setelah KKN selesai,” tambah Fachri. Dosen Pembimbing Lapang, Moch Fuad Nasvian MIKom, menilai pelatihan marketing online merupakan kebutuhan mendasar, terutama dalam membangun pola pikir adaptif pelaku UMKM terhadap perkembangan zaman. “Teknis digital marketing bisa dipelajari dari internet atau YouTube, tetapi membangun mindset adaptif butuh pendampingan. Alhamdulillah, teman-teman KKN berhasil memulai tahapan awalnya tahun ini,” ungkapnya. Ia juga berharap inisiatif tersebut dapat dikembangkan lebih sistematis oleh universitas, baik melalui desa binaan maupun layanan berbasis kampus. Melalui program ini, mahasiswa KKN menegaskan perannya sebagai agen transformasi sosial. Tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi menghadirkan solusi berorientasi keberlanjutan. Pelatihan penjualan online dan rintisan Klinik UMKM menjadi langkah konkret mendorong UMKM Desa Beji lebih adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan ekonomi digital. (Faqih/AS)

Dari Kumuh Menjadi Ikon Wisata Dunia: Kisah Inspiratif Kampung Warna-Warni Jodipan Malang

mureks.co, Di tengah hiruk pikuk Kota Malang, Jawa Timur, terhampar sebuah permukiman yang kini menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Kampung Jodipan, yang dulunya dikenal sebagai area kumuh di bantaran Sungai Brantas, kini telah menjelma menjadi Kampung Warna-Warni Jodipan, sebuah ikon wisata kreatif yang memukau dengan pesona visualnya yang cerah dan penuh semangat. Transformasi luar biasa ini bukan sekadar polesan cat, melainkan cerminan dari kekuatan kolaborasi dan inovasi yang membawa dampak signifikan bagi kehidupan masyarakatnya. Berawal dari Ide Mahasiswa, Mengubah Wajah Kampung Kisah perubahan Kampung Jodipan bermula pada tahun 2016, dari sebuah tugas praktikum mata kuliah ‘Event Public Relations’ yang diemban oleh delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelompok mahasiswa yang menamai diri “Guys Pro Komunikasi UMM” ini, di bawah kepemimpinan Nabila Firdausiyah, melihat potensi di balik kondisi permukiman padat yang kala itu dianggap kurang terawat, dengan rumah-rumah yang seragam dan kesadaran kebersihan sungai yang masih rendah. Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id Mereka mengusung sebuah gagasan sederhana namun revolusioner: mengubah wajah kampung dengan sentuhan warna-warni. Nabila, selaku ketua kelompok, mengungkapkan bahwa program yang mereka rancang harus menggabungkan beberapa komponen penting, yaitu partisipasi masyarakat, kebersihan, keindahan, kreativitas, dan yang terpenting, kontinuitas. Ide ini kemudian disambut baik oleh warga setempat dan mendapat dukungan dari sebuah perusahaan cat, PT Indana Paint, yang turut berpartisipasi dalam penyediaan material. Ratusan rumah warga di sepanjang bantaran sungai pun disulap menjadi kanvas raksasa, dihiasi cat warna-warni, mural artistik, hingga instalasi seni yang unik. Pada tanggal 4 September 2016, Kampung Wisata Jodipan diresmikan oleh Wali Kota Malang saat itu, H. Mochamad Anton, menandai babak baru bagi kampung ini. Daya Tarik dan Fasilitas untuk Pengunjung Kini, Kampung Warna-Warni Jodipan menjadi destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di Malang. Terletak di Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, kampung ini mudah dijangkau dan berdekatan dengan Stasiun Kota Baru Malang. Salah satu daya tarik utamanya adalah Jembatan Kaca ‘Ngalam’ yang ikonik, yang menghubungkan Kampung Warna-Warni Jodipan dengan Kampung Tridi di seberang Sungai Brantas, menawarkan pengalaman menyeberang yang mendebarkan sekaligus pemandangan panoramik yang indah. Selain itu, pengunjung dapat menemukan berbagai spot foto menarik lainnya seperti Tangga Pelangi, mural 3D, lorong payung, dan beragam instalasi seni yang tersebar di setiap sudut kampung. Kampung ini umumnya dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 atau 18.00 WIB. Untuk menikmati keindahan Kampung Warna-Warni Jodipan, pengunjung dikenakan tiket masuk sekitar Rp5.000 per orang, meskipun beberapa sumber menyebutkan harga bisa bervariasi atau mencapai Rp10.000 untuk akses ke satu kampung. Fasilitas pendukung seperti area parkir, toilet umum, serta warung-warung makan dan toko suvenir yang dikelola warga juga tersedia untuk kenyamanan wisatawan. Dampak Ekonomi dan Sosial yang Berkelanjutan Transformasi Jodipan bukan hanya sekadar estetika, tetapi juga membawa dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakatnya. Sebelumnya, sebagian besar warga bekerja sebagai buruh atau pedagang kecil, namun kini mereka memiliki sumber pendapatan tambahan dari sektor pariwisata. Banyak warga yang membuka usaha kecil seperti warung makan, toko suvenir, atau menjadi pemandu wisata lokal. Data dari pengelola menunjukkan peningkatan jumlah wirausaha di Kampung Jodipan hingga 300% sejak transformasi dilakukan, serta kenaikan nilai properti di kawasan tersebut. Secara sosial, perubahan ini juga meningkatkan interaksi antarwarga dan menumbuhkan semangat gotong royong dalam menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat kini lebih peduli terhadap lingkungan dan tidak lagi membuang sampah sembarangan di sungai. Pendapatan dari tiket masuk dikelola secara kolektif oleh pengurus untuk kesejahteraan warga, termasuk pembagian sembako dua kali setahun, bantuan dana untuk warga sakit sebesar Rp300.000, serta menanggung biaya pemakaman dan memberikan uang duka sebesar Rp500.000 bagi keluarga yang berduka. Selain itu, santunan untuk anak yatim, kaum dhuafa, dan janda tua juga rutin diadakan setiap Hari Asyura. Tantangan dan Inovasi di Era Pascapandemi Meski sukses, Kampung Warna-Warni Jodipan juga menghadapi tantangan, terutama pascapandemi COVID-19 yang sempat menyebabkan penurunan drastis jumlah pengunjung. Meskipun kunjungan kini berangsur pulih, jumlahnya belum sepenuhnya kembali ke tingkat sebelum pandemi. Menariknya, pascapandemi, kunjungan wisatawan mancanegara seringkali mendominasi pada hari kerja, bahkan mengalahkan jumlah wisatawan lokal. Banyak dari mereka mengetahui tentang Jodipan melalui internet dan YouTube. Untuk menjaga daya tarik dan keberlanjutan, inovasi terus dilakukan, seperti pengecatan ulang berkala dan penambahan mural baru. Namun, salah satu kendala adalah berhentinya dukungan dana dari sponsor awal, PT Inti Daya Guna Aneka Warna, untuk perawatan pengecatan ulang akibat dampak pandemi. Oleh karena itu, pengelola kini mengandalkan pendapatan dari tiket masuk dan berupaya mencari sponsor baru untuk memastikan eksistensi dan daya tarik Kampung Warna-Warni Jodipan tetap terjaga di masa depan.

Bukan Sekadar Bangunkan Sahur, UMM Jadikan SOTR Ruang Merawat Identitas Budaya Malang

Tabuhan kentongan bersahut-sahutan memecah sunyi dini hari di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Di antara ritme kayu yang dipukul berulang, sosok penari Topeng Malangan melangkah menyusuri gang sempit, membangunkan warga untuk sahur dengan cara yang tak biasa. Itulah wajah berbeda Sahur On The Road (SOTR) yang dihadirkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 20 Februari 2026. Jika biasanya patroli sahur identik dengan pengeras suara atau sekadar arak-arakan, kali ini UMM mengawinkannya dengan sentuhan budaya lokal. Kentongan dijadikan instrumen utama, sementara penari Topeng Malangan hadir sebagai simbol identitas kampung. Perpaduan ini membuat suasana sahur terasa lebih hidup sekaligus sarat makna tradisi. “Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi warga. Selama ini belum pernah ada keliling kampung membangunkan sahur dengan iringan penari topeng seperti ini. Ini pertama kalinya terjadi di sini,” ujar penggagas Kampung Budaya Polowijen, yang akrab disapa Ki Demang. Menurutnya, kolaborasi tersebut bukan sekadar meramaikan Ramadan, melainkan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap identitas budaya kampung. Ia menilai tradisi harus dihadirkan dalam ruang-ruang aktual agar tetap hidup dan tidak hanya menjadi tontonan seremonial. Setelah patroli keliling, kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Topeng Malangan di salah satu titik kampung yang dikenal warga sebagai Pawon. Gerakan khas dengan karakter topeng yang kuat menjadi puncak acara. Pertunjukan itu sekaligus menjadi ruang edukasi budaya bagi mahasiswa dan generasi muda setempat. “Tari Topeng Malangan bukan hanya tontonan, tetapi warisan leluhur yang menyimpan nilai karakter dan jati diri masyarakat Malang. Begitu juga kentongan, bukan sekadar dipukul untuk membangunkan sahur, tetapi alat komunikasi warga yang memiliki makna sosial. Ketika keduanya dipadukan dalam patroli sahur, ini menjadi sumbangsih yang besar,” tambah Ki Demang. Disisi lain, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom, menjelaskan bahwa konsep SOTR tahun ini memang dirancang sebagai kolaborasi sosial dan budaya. Mahasiswa KKN didorong untuk membangun kedekatan dengan masyarakat berbasis kearifan lokal, bukan hanya menjalankan agenda berbagi. “Mengangkat Tari Topeng dalam momentum sahur bukan sekadar memperkuat identitas budaya, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang menyatu. Kentongan menjadi simbol solidaritas, sementara tari topeng merepresentasikan warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya. Rangkaian kegiatan ditutup dengan santap sahur bersama yang didukung Hotel Kapal Garden dan Sengkaling Kuliner. Mahasiswa dan warga duduk berdampingan, menikmati hidangan setelah patroli dan pertunjukan usai. Suasana hangat itu menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga ruang mempererat relasi sosial. Melalui konsep ini, UMM menunjukkan bahwa gerakan sosial mahasiswa dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Patroli sahur bukan lagi sekadar tradisi membangunkan warga, melainkan medium merawat identitas lokal. Di Polowijen, kentongan dan topeng tak hanya berbunyi dan menari, keduanya menghidupkan kembali denyut kebersamaan.(vin/faq)     Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Go Halal-Thoyyib ke Desa Binaan, Kawal UKM halal dan Branding Inovasi Unggulan “Minuman-Isotonik” di Kampung Herbal Sukolelo Prigen Kabupaten Pasuruan, Jatim

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Dalam kehidupan sehari-hari memilih dan konsumsi pangan sehat merupakan hal yang sangat penting karena mempengaruhi kesehatan seseorang. Termasuk dalam memilih makanan dan oleh-oleh selama berwisata. Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan jasa. Desa Sukolilo berada di wilayah administrasi Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur, merupakan daerah pengembangan wisata, dengan jargon ‘Pasuruan City of Mountain”. Beberapa area wisata yang telah dirintis sejak tahun 2019, termasuk produk UKM di Kampung herbal Sukolelo-Prigen Pasuruan. Untuk persiapan penentuan branding produk ekowisatanya, bisa melalui pemilihan unggulan produk guna mendukung potensi wisata herbal di sana. Oleh karenanya program pengabdian bertujuan meningkatkan mutu produk UKM setempat dengan melakukan kombinasi, reformulasi produk guna meningkatkan mutu inovasi minuman sehat “isotonik”, perbaikan kemasan (labelisasi), serta dan meningkatkan daya simpan produk minuman/herbal. Dalam kegiatan pendampingan Desa Binaan ini, penerapan teknologi tepat guna akan dilaksanakan untuk mempercepat perbaikan mutu produk kampung herbal. Diharapkan diversifikasi produk dapat menambah varian oleh-oleh serta meningkatkan pendapatan dan mengembangkan usaha UKM Mitra inovatif untuk branding unggulan eduwisatanya, sebagai implementasi IPTEKS secara benar. Sesuai Visi Departemen Kesehatan itu adalah “Masyarakat yang Mandiri untuk Hidup Sehat”, Salah satu strategi untuk mencapai visi tersebut adalah menggerakan dan memberdayakan masyarakat Desa Sukolelo untuk hidup sehat, termasuk generasi muda, maka peningkatan kesadaran hidup sehat dan life skill utnuk memperbaiki ketahanan hidup, kewirausahaan dan ketrampilan kelola UKM, eduwisata ini menjadi hal yang penting untuk diprioritaskan. Pengembangan inovasi minuman sehat “Isotonik” merupakan luaran/hasil riset pengusul, yaitu ketua Prof Elfi Anis Saati, diantaranya Paten Granted, invensi : Produk sari minuman antioksidan tinggi dari ekstrak antosianin bunga mawar merah (Rosa sp) dan proses pembuatannya, IDP 000071786, dan HaKI : Teh Celup Mawar Plus Daun Tinggi Antioksidan, No EC00202408787, menjadi teknologi yang dapat diimplementasikan pada Desa Binaan ini. Produk pengusul pernah mendukung terpilihnya menjadi dosen inovatif terpuji 2020 LLDIKTI VII, https://republika.co.id/berita/qy9ge2484/profesor-umm-raih-penghargaan-dosen-inovatif-terpuji. Menjadi produk UKM kreatif/invoatif di kabupaten Pasuruan (awal tahun 2023: https://umm.ac.id/minuman-mawar-karya-dosen-umm-sukses-menangi-kompetisi-produk-kreatif/ Kegiatan Workshop pendampingan percepatan perbaikan produk UKM menuju branding minuman isotonic dilaksanakan pada hari Senin, 16 Pebruari 2026, di Balaidesa Sukolelo Prigen Pasuruan. Dihadiri oleh peserta sekitar 40 orang, yang terdiri dari para anggota UKM (yang diketua Bu Irul) dan para petani, staf/aparat Desa serta 5 orang siswa dan guru SMAN 1 Bangil Pasuruan. 30 UKM merupakan binaan sejak pendampingan sertifikasi halal tahun 2022 (https://timesindonesia.co.id/kopi-times/422822/pendampingan-ukm-dan-kolaborasi-kegiatan-inisiasi-eduwisata-bersama-kampus-umm), sedangkan siswa SMAN Bangil merupakan kelanjutan kegiatan sosialisasi peningkatan life skill pada Januari 2026 lalu agar siswa bertambah pemahaman tentang pentingnya pariwisata dan potensinya bagi peluang ekonomi pembangunan suatu desa atau wilayah. Pemateri kegiatan Workshop ada 2 dosen dan tim mahasiswa yang memandu kegiatan demo pembuatan minuman isotonik berbasis bunga lokal (mawar, rosella) plus air kelapa dan rempah/bahan sumber bioaktif yang bermanfaat bagi Kesehatan/kebutuhan tertentu (khusus, misalnya untuk penderita stroke, kekurangan asam folat, atau menambah imunitas atau kalori). Pemateri ke1, Prof Elfi Anis Saati, MP, sebagai Gubes THP/Teknologi Pangan UMM dan Kepala PS.P3-Halal UMM. Sebagai pemateri ke2 yaitu Jamroji,S.Sos, MSc. juga mempunyai keahlian dalam melakukan Branding suatu produk atau karya, seperti yang telah banyak dilakukan, antara lain kampung warna-warni, Pesmaba UMM menyala (2025);lnk: https://www.umm.ac.id/id/arsip-koran/malang-pagi/andhakara-siap-perkuat-branding-kaliandra-batu-adventure.html; serta Dr.Ir. Dian Indratmi (dosen Agroteknologi, ahli membuat biopestisida alami) membantu mengkoordinir kegiatan serta demo/praktek pembuatan minuman isotonik bersama mahasiswa Teknokogi Pangan UMM bernama Annisa Zulfia W. dkk. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini hingga mengikuti kegiatan praktek selesai. Mendengarkan dengan seksama, memfoto bahkan melakukan pengambilan video agar resep yang diberikan dipahami dengan baik. Hasilnya juga dilakukan pengujian sensoris, banyak yang berharap produk tersebut dapat dibuat selama musim bulan puasa, membuat takjil dan dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat sekitar, disamping tentunya kedepan bisa menjadi produk varian baru yang bisa menjadi produk unggulan oleh-oleh kampung herbal mereka. Bersama dengan mitra sekolah SMAN 1 Bangil akan menambah sharing dan kerjasama dalam aspek pemasaran produk bersama, syukur jika dapat diangkat menjadi produk yang bisa diterima pada sajian menu MBG/ Makan Bergizi Gratis di beberapa dapur Gizi wilayah Prigen Pasuruan, mendukung program dan anjuran BGN/Badan Gizi nasional yang berharap dapat menyerap produk dari olahan UKM lokal dengan meningkatkan pemanfaatan pangan bahan baku lokal. Juga mengajarkan generasi muda untuk lebih respek dan peduli terhadap potensi sekitarnya dan menumbuhkan jiwa pemimpin memberi peran dalam menjaga ekosistem alam, serta mengenalkan pentingnya implmentasi UU no 33/2014 tentang SJH/ Jaminan produk halal. Sesuai Amanah QS. surat Al-Anbiya ayat 107 menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Ayat ini menunjukkan bahwa ajaran Islam membawa kasih sayang, kedamaian, dan kemaslahatan bagi manusia, hewan, dan lingkungan semesta

Beda dengan Pemerintah, Begini Penjelasan Ilmiah Pakar Ilmu Falak tentang 1 Ramadan 1447 Hijriyah

KLIKMU.CO – Penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah pada Rabu, 18 Februari 2026 oleh Muhammadiyah kembali memunculkan diskusi di tengah masyarakat. Perbedaan potensi awal puasa dengan keputusan pemerintah menjadi perbincangan hangat, terutama di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Pakar Ilmu Falak Fakultas Agama Islam UMM, Drs M Sarif MAg, memberikan penjelasan komprehensif dari sisi astronomi dan fikih. “Perbedaan penetapan awal Ramadan adalah bagian dari dinamika ijtihad umat Islam. Ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tetapi tentang metodologi yang digunakan,” ujarnya pada Selasa (17/2/2026). Dia menjelaskan, Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026 berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid. Dalam penetapan tersebut, Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yakni sistem kalender Islam berbasis hisab astronomis yang berlaku secara global. “KHGT merupakan ijtihad untuk menghadirkan kalender Islam yang lebih terpadu, memiliki kepastian jauh hari sebelumnya, dan dapat digunakan secara internasional,” jelasnya. Menurutnya, KHGT dibangun di atas Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP). Salah satu parameternya adalah terpenuhinya ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat setelah ijtimak di mana saja di permukaan bumi. Pada Ramadan 1447 H, parameter tersebut telah terpenuhi di Alaska, Amerika Serikat. “Dalam sistem KHGT, ketika hilal sudah memenuhi parameter secara definitif di satu wilayah di bumi, maka ketetapan awal bulan berlaku global, tidak dibatasi oleh teritorial negara,” tegasnya. Dia menambahkan, ijtimak atau konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC atau sekitar 19.01 WIB. Secara astronomis, ijtimak menandai berakhirnya bulan sebelumnya dan menjadi titik awal terbentuknya hilal. Setelah matahari terbenam, posisi hilal di wilayah tertentu telah memenuhi parameter KHGT sehingga Muhammadiyah menetapkan keesokan harinya sebagai 1 Ramadan. Namun, kondisi di Indonesia berbeda. Saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026, posisi hilal di Indonesia masih berada di bawah ufuk atau bernilai negatif. Artinya, belum memenuhi kriteria imkan rukyat yang digunakan pemerintah melalui Kementerian Agama, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat di wilayah Indonesia. “Secara astronomis, hilal di Indonesia memang belum memenuhi kriteria MABIMS. Karena itu, pemerintah kemungkinan menetapkan awal Ramadan pada 19 Februari 2026 setelah proses rukyat dan sidang isbat,” paparnya. Sarif menegaskan bahwa kedua pendekatan tersebut sama-sama memiliki dasar keilmuan. Muhammadiyah menggunakan pendekatan global berbasis hisab definitif, sedangkan pemerintah mengombinasikan hisab dengan verifikasi rukyat dalam batas teritorial Indonesia. “Perbedaan ini bukan perbedaan akidah ataupun esensi ibadah. Ini murni perbedaan teknis dalam implementasi metodologi falak dan cakupan keberlakuannya,” katanya. Dari sisi fikih, penerapan KHGT didasarkan pada konsep ittihad al-mathali’, yakni kesatuan matlak global. Pemahaman ini memandang bahwa jika hilal telah terbukti secara ilmiah di satu wilayah, maka umat Islam dapat mengikutinya secara bersama-sama. Sebagai akademisi, ia mengajak masyarakat menyikapi perbedaan ini dengan bijak. “Yang terpenting adalah menjaga ukhuwah, menghormati keputusan otoritas masing-masing, dan tetap fokus pada kualitas ibadah Ramadan,” pungkasnya. (Faqih/AS)

Pakar UMM Dr Faizin Gagas Sosiopolitika Linguistik, Perkuat Diplomasi Bahasa Indonesia di Kancah Global

Malang (beritajatim.com) – Pakar sekaligus dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Faizin, M.Pd., memperkenalkan pendekatan Sosiopolitika Linguistik sebagai fondasi baru strategi diplomasi bahasa global. Konsep inovatif ini memadukan tiga pilar utama secara strategis, yaitu sosiologi politik, linguistik, dan kebijakan luar negeri Indonesia. Faizin menegaskan bahwa bahasa Indonesia seharusnya tidak lagi sekadar dipandang sebagai alat komunikasi biasa di kancah internasional. Ia mendorong agar bahasa menjadi objek diplomasi strategis yang berkaitan erat dengan kedaulatan serta kepentingan politik negara. Gagasan ini berawal dari keprihatinan akademik Faizin terhadap posisi Bahasa Indonesia dalam praktik diplomasi yang dinilai masih bersifat parsial. Hingga saat ini, internasionalisasi bahasa dianggap belum terintegrasi secara utuh dalam kerangka kebijakan negara yang memiliki legitimasi kuat. “Bahasa tidak cukup ditempatkan sebagai penunjang diplomasi, tetapi harus menjadi objek diplomasi itu sendiri. Selama ini internasionalisasi bahasa sering hanya dikaji dari sisi pembelajaran dan promosi, padahal tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik luar negeri suatu negara,” ujar Faizin, Kamis (19/2/2026). Penelitian ini merupakan bagian dari program hibah bergengsi dari Kementerian Dikti Saintek yang diraih melalui seleksi nasional yang sangat ketat. Fokus utamanya mencakup reformulasi diplomasi bahasa di kawasan ASEAN hingga perluasan riset ke berbagai negara di Eropa. Dalam menjalankan risetnya, Faizin memimpin tim ahli yang beranggotakan Dr. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd., serta pakar komunikasi Arif Budi Wurianto, M.Si. Tim ini melakukan analisis mendalam terhadap laporan kinerja Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) hingga kontrak kerja para duta besar. Hasil analisis menunjukkan bahwa diplomasi kebahasaan ternyata belum secara eksplisit tercantum sebagai program strategis dalam laporan resmi kementerian terkait. Hal ini mengakibatkan aktivitas kebahasaan di luar negeri seringkali hanya bersifat promosi tanpa memiliki kekuatan hukum antarnegara. “Dalam laporan capaian kementerian, diplomasi bahasa belum menjadi program prioritas yang tersurat. Akibatnya, banyak aktivitas kebahasaan di luar negeri hanya bersifat promosi, bukan diplomasi yang memiliki kekuatan hukum antarnegara,” jelas Faizin. Ketidakhadiran payung kebijakan resmi menyebabkan upaya internasionalisasi bahasa berjalan tanpa arah yang terukur dan kerangka konstitusional yang kokoh. Kondisi tersebut berdampak langsung pada lemahnya posisi tawar Bahasa Indonesia saat berhadapan dengan berbagai kepentingan global. Tim peneliti telah melakukan studi lapangan secara langsung di Vietnam, Filipina, dan Thailand untuk mengamati pola penyebaran bahasa melalui diaspora. Selain itu, mereka melakukan wawancara mendalam di Eropa, termasuk Belanda, guna melihat sejauh mana penerimaan masyarakat internasional. Faizin mencontohkan kesuksesan Korea Selatan yang sangat masif dalam memanfaatkan bahasa sebagai instrumen soft power yang sangat kuat. Melalui ekspansi budaya populer, bahasa menjadi pintu masuk pengaruh ekonomi dan teknologi yang memperkuat posisi global negara tersebut. Saat ini, riset inovatif tersebut sedang dalam proses pengajuan paten di bidang sosial-humaniora untuk melindungi hak kekayaan intelektualnya. Ke depan, tim peneliti menargetkan formulasi kebijakan konkret serta pengayaan literatur akademik mengenai hubungan antara bahasa dan politik. Ia sangat berharap adanya sinergi yang lebih erat antara Badan Bahasa, Balai Bahasa di daerah, dan kementerian terkait. Hal ini demi mengoptimalkan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. “Tanpa strategi, target, dan evaluasi yang jelas, potensi besar Bahasa Indonesia tidak akan berkembang menjadi kekuatan strategis negara. Padahal, bahasa bisa menjadi instrumen utama untuk memperkuat kerja sama internasional dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. [dan/beq]